
“Abang kenapa tiba-tiba nikahin aku?”
“Kamu nyesel?”
“Ngga, bang. Cuma kaget aja. Kemarin papa bilang abang mau ngelamar, tapi tiba-tiba sekarang langsung ijab kabul.”
Viren tak langsung menjawab pertanyaan Alisha. Seperti biasa pria itu selalu terlihat tenang dan tanpa ekspresi. Namun siapa yang tahu perasaannya saat ini. Melihat wajah Alisha yang cantik, ditambah dengan pakaian tidur yang dikenakan membuat jantung pria itu berdetak-detak tak karuan. Pakaian tidur yang membalut tubuh Alisha masih masuk kategori sopan, hanya saja bahannya sedikit tipis dan warnanya putih, membuatnya samar-samar bisa melihat dal*man istrinya itu.
“Bang, kok bengong,” suara Alisha membuyarkan lamunan Viren.
“Ehm.. kan kamu sendiri yang bilang mau nikah muda. Kamu juga bilang belum ada calonnya, ya udah abang maju aja eh langsung diterima sama ayah.”
Dalam hati Viren merutuki dirinya sendiri, kenapa justru jawaban itu yang keluar dari mulutnya. Sungguh rasa grogi bisa membuat orang tiba-tiba menjadi bodoh. Dia semakin menyesal begitu melihat gurat kekecewaan di wajah Alisha.
“Selain itu, aku juga mau menjaga dan melindungi kamu. Reymond punya niat jahat sama kamu. Dan aku ngga bisa biarin dia melakukan itu.”
Alasan kedua yang dilontarkan Viren, tidaklah sepenuhnya salah. Dari hasil pengintaiannya, diketahui Reymond tengah mencari beberapa ahli hypnotherapy untuk membantunya mendapatkan Alisha. Bahkan pria itu juga sudah menyiapkan beberapa cara untuk membangkitkan trauma Alisha, walau tak ada Lisda lagi yang membantunya.
Tak ingin ribet berhadapan dengan aksi Reymond nanti, Viren memutuskan untuk melamar Alisha. Siapa sangka kalau Juna malah menyuruhnya langsung menikah. Usulan Juna disambut baik oleh sang papa, dan akhirnya mereka pun sepakat langsung menikahkan kedua anak mereka. Selain itu, Viren juga tak mau ambil resiko Alisha akan jatuh ke dalam pesona Reymond. Jika sudah mendapat hak sebagai suami Alisha, Viren bebas melakukan apapun pada pria itu untuk melindungi sang istri.
“Udah gitu aja, bang? Ngga ada alasan lain?”
“Sama ini..”
Viren mendekat lalu memegang belakang kepala Alisha, bibirnya mendarat di bibir Alisha. Bibir mereka hanya menempel saja, namun sukses membuat jantung mereka berdetak lebih cepat dari semestinya. Dia sengaja melakukan ini karena takut salah bicara lagi. Viren mengakhiri penyatuan bibir yang hanya terjadi beberapa detik saja. Pria itu bisa melihat rona wajah Alisha yang kemerahan setelahnya.
“Apa kamu mencintaiku, Al?”
Terkejut mendengar pertanyaan Viren, Alisha hanya diam tergugu. Tak mungkin dia menjawab iya, sedangkan dirinya juga belum tahu bagaimana perasaan Viren padanya. Melihat sang istri yang hanya diam membisu, Viren sadar kalau sudah melontarkan pertanyaan yang salah. Pelan-pelan pria itu menarik pinggang Alisha hingga tubuh mereka semakin tak berjarak.
“Aku harap kamu mencintaiku, Al. Karena aku.. mencintaimu.”
Viren mengakhiri pernyataan cintanya dengan ciuman di bibir Alisha. Kali ini pria itu tidak hanya menempelkan bibir saja, namun sudah memberikan lum*tan dan pagutan yang masih terasa kaku, karena ini pertama kalinya dia mencium seorang wanita. Namun instingnya sebagai pria bekerja cepat. Pagutan dan lum*tan yang diberikannya semakin lama semakin dalam dan liar. Dia mengakhiri ciumannya saat menyadari sang istri mulai kehabisan oksigen.
“Aku mencintaimu,” Viren mencium kening Alisha lembut.
“Abang bener cinta sama aku?”
“Hmm..”
Tangan Viren merengkuh punggung Alisha lalu memeluknya, membenamkan kepala gadis itu di dadanya, agar bisa mendengar debaran jantungnya yang semakin cepat akibat aksinya tadi. Senyum Alisha mengembang saat mengetahui detakan jantung sang suami sama cepat seperti dirinya. Tangannya mulai bergerak melingkari pinggang Viren.
“Aku juga cinta sama abang.”
Segurat senyum yang sangat jarang menghiasi wajah Viren muncul ketika mendengar pernyataan cinta istrinya. Perlahan dia mengurai pelukannya kemudian mengajak Alisha menuju ranjang.
“Sudah malem, Al. kamu ngga ngantuk?”
“Belum.”
“Ngobrolnya lanjut sambil tiduran aja, ya.”
Melihat anggukan kepala sang istri, Viren membawa Alisha naik ke atas ranjang. Dia membaringkan tubuh seraya merentangkan lengannya lalu membawa kepala Alisha rebah di atasnya. Pria itu kemudian mengubah posisi berbaringnya mengarah ke samping, begitu pula dengan sang istri. Dengan punggung tangannya, dia mengusap pipi halus Alisha.
“Kamu cantik, Al. Aku bersykur laki-laki yang kamu cintai itu aku.”
“Sejak kapan abang suka sama aku?”
“Sejak kita di Singapura, waktu Lisda datang menemui kamu. Sejak saat itu, aku ngga bisa berhenti memikirkan kamu dan ingin menjadi orang yang bisa menjagamu.”
“Aku pikir abang sukanya sama Anya.”
“Anya itu teman yang baik. Dia selalu bisa buat aku tersenyum dengan tingkahnya yang konyol. Tau sendiri kan kaya apa tuh nyi ronggeng. Tapi aku cuma anggap dia teman dan adik, ngga lebih. Sedang kamu, aku ngga bisa menganggapmu seperti itu. Karena perasaanku padamu, lebih dari itu.”
Sebuah ciuman kembali diberikan Viren. Kali ini telapak tangannya mulai bergerak menyusuri tubuh sang isti. Dimulai dari punggung, bergerak turun sampai menyentuh paha. Sedang bibirnya masih memberikan lum*tan, bahkan pria itu sudah berani melesakkan lidahnya ke dalam mulut Alisha, menarik dan membelit lidah istrinya itu, membuat mereka bertukar saliva.
Berada berdua saja di dalam kamar dengan diterangi lampu tidur yang remang-remang, ditambah dengan posisi tubuh yang intim, membuat hasrat Viren mulai bangkit. Ciumannya semakin dalam dan menuntut. Bahkan kini posisi tubuhnya sudah sedikit naik, membuat Alisha berada dalam kungkungannya. Masih terus memagut bibir sang istri, jemari pria itu mulai membuka kancing pakaian tidur Alisha.
Viren mengakhiri ciumannya, kemudian pandangannya tertuju pada pakaian tidur istrinya yang semua kancingnya sudah terbuka. Dadanya berdebar melihat kain berenda warna putih yang menutup bulatan kenyal Alisha yang ukurannya tidak terlalu besar tapi sepertinya pas berada dalam genggamannya. Menyadari arah pandang Viren, wajah Alisha berubah merah.
Alisha terjengit ketika Viren mendaratkan bibirnya di leher putih miliknya. Tubuh gadis itu seperti tersengat aliran listrik ribuan volt, saat bibir kenyal suaminya mulai menelusuri permukaan kulitnya. Tanpa sadar dia mengeluarkan des*han dan membuat Viren semakin bersemangat menciumi tubuhnya. Gerakan bibir Viren berhenti saat berada di antara dua bukit kembarnya yang masih tertutup rapih. Kepalanya terdongak ke atas ketika Viren meremat pelan salah satunya.
Merasakan suhu tubuhnya naik dengan cepat, Viren menegakkan diri lalu membuka kaos yang dikenakan. Wajah Alisha semakin memerah melihat dada bidang di depannya. Berikutnya, gadis itu hanya pasrah ketika Viren meloloskan pakaian tidurnya. Pria itu menelan ludahnya kelat melihat pemandangan indah di bawahnya. Jakunnya bergerak naik turun disertai miliknya yang mulai menegang dan mengeras.
“Al.. boleh?”
Gadis itu hanya mengangguk pasrah, dia pun ingin juga merasakan yang lebih lagi. Toh hubungan mereka sudah halal. Tak ada larangan bagi keduanya melakukan lebih dari itu. Viren kembali melanjutkan cumbuannya. Mereka semakin terbawa suasana dan masing-masing sudah tak dapat menahan gairahnya lagi. Entah sejak kapan sisa pakaian yang membalut tubuh mereka sudah berpindah ke lantai. Kini Viren bersiap mencetak gol ke gawang sang istri untuk pertama kalinya.
Jari Viren bergerak mengusap buliran bening yang mengalir di wajah cantik Alisha ketika dirinya berhasil menerobos benteng pertahanan istrinya itu. Demi mengurangi rasa sakit, dia kembali mencumbu istrinya. Mel*mat bibir Alisha yang sudah menjadi candu untuknya. Itu adalah salah satu cara untuk membuat sang istri kembali terbuai. Kira-kira begitulah ajaran sang ayah mertua. Juna sedikit memberikan kuliah singkat padanya sebelum masuk ke dalam kamar.
Rasa sakit dan perih kembali dirasakan Alisha ketika Viren mulai menggerakkan pinggulnya. Namun tak berselang lama, rasa perih itu berganti dengan sesuatu yang sangat nikmat. Sesuatu yang baru dirasakan seumur hidupnya. Pasangan pengantin yang baru merasakan surga dunia, terus bergelung dengan kenikmatan. Diiringi deru nafas dan balutan keringat, Viren berusaha memberikan kepuasan sekaligus memuaskan dirinya sendiri.
Rintihan Alisha terdengar begitu seksi di telinga Viren, semangat pria itu semakin terbakar untuk terus memacu dirinya. Peluh mulai membasahi tubuh keduanya. Alisha merasakan miliknya mulai berkedut, setelahnya dia merasakan gelombang hangat menghantamnya. Tubuh wanita itu mengejang beberapa kali seraya memeluk leher sang suami. Menyusul kemudian, Viren yang berhasil menggapai puncaknya, melepaskan cairan kentalnya ke rahim Alisha.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Alisha masih duduk bersandar di atas kasur. Sehabis shalat shubuh sampai waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, wanita itu belum mau turun dari kasur. Bagian bawahnya terasa perih dan sakit jika dibawa berjalan. Viren yang baru selesai berolahraga masuk ke dalam kamar kemudian duduk di sisi ranjang.
Peluh yang mengucur di pelipis Viren serta kaosnya yang basah oleh keringat semakin membuat pria itu terlihat seksi. Alisha tak melepaskan pandangan dari suaminya itu, tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya. Viren meraih tangan sang istri kemudian mencium punggung tangannya.
“Sebentar lagi sarapan siap, abang mau mandi dulu.”
Kembali Alisha dibuat terpana ketika Viren mengganti panggilannya dari aku menjadi abang. Setelah pergulatan mereka semalam, sikap Viren sudah tidak kaku lagi padanya. Tanpa malu pria itu menunjukkan rasa cintanya.
“Aku mau sarapan di kamar aja, bang. Ini masih sakit kalau dibawa jalan,” ujar Alisha malu-malu.
“Nanti abang bawain sarapannya. Abang mandu dulu, ya.”
Viren mencium kening sang istri kemudian beranjak menuju kamar mandi. Senyuman tercetak di wajah Alisha mengingat sikap manis suaminya. Begini rasanya cinta berbalas, begitu manis dan indah.
Tak butuh waktu lama bagi Viren menyelesaikan rutinitas mandinya. Alisha semakin dibuat cenat-cenut saat melihat sang suami keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk saja yang melilit di pinggangnya. Kemudian tanpa malu Viren melepaskan handuk tersebut. Dengan santainya dia mengenakan pakaian di depan istrinya. Alisha menundukkan kepalanya. Walau semalam mereka telah berbagi peluh dan kenikmatan, tetap saja merasa malu.
“Abang ambil sarapan dulu.”
Alisha hanya menganggukkan kepalanya, diikuti dengan ekor matanya yang terus mengikuti langkah sang suami keluar dari kamar. Satu demi satu anak tangga dituruni oleh Viren. Hari pertama di rumah mertua, tentu saja membuat pria itu canggung. Tapi sikap hangat Juna dan Ezra saat mereka gym bareng, sudah mulai membuatnya merasa nyaman.
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan. Nampak Nadia sedang mengambilkan makanan untuk suaminya. Menu sarapan hari adalah nasi uduk lengkap dengan lauknya. Menurut Nadia, nasi uduk Betawi adalah menu sarapan favorit Alisha. Jadi wanita itu sengaja membuatkan sarapan favorit anak bungsunya itu.
“Alnya mana, Vir?” tanya Nadia menyambut kedatangan menantunya.
“Al mau sarapan di kamar aja, ma.”
“Loh kenapa?”
“Enngg.. itu ma.. katanya.. sakit kalau jalan,” Viren mengecilkan volume suaranya. Nadia dan Juna mengulum senyuman mendengar jawaban sang menantu, pria itu jadi malu sendiri.
“Emang habis main berapa ronde?” celetuk Juna.
Uhuk.. uhuk..
Sontak pertanyaan Juna membuat Viren terbatuk. Nadia mendendang kaki suaminya karena tak memakai saringan saat bertanya. Diam-diam Ezra dan Azra tersenyum, mereka paham betul kemana arah pertanyaan sang ayah. Nadia segera berdiri kemudian menyiapkan sarapan untuk anak dan menantunya.
Viren menerima nampan berisi dua piring nasi uduk dan dua gelas orange juice. Tanpa menunggu lama, dia bergegas naik ke lantai atas. Takut kalau sang mertua kembali menggodanya.
“Emang kalau laki-laki bisa main berapa ronde, yah?” seru Azra.
Uhuk.. uhuk..
Kini giliran Juna yang terbatuk mendengar pertanyaan anaknya. Ezra menjitak kepala adik kembarnya ini. Pagi-pagi sudah melontarkan pertanyaan yang membuat otak traveling. Nadia meledek suaminya yang terkena batunya mendapat serangan juga dari anaknya.
“Waktu dulu pas malam pertama, ayah main berapa ronde, bun?”
Uhuk.. uhuk..
“Ngapain lo, nanya-nanya? Buat persiapan sama Fathan ya, hahaha,” sahut Ezra.
“Ish.. bukaaan. Aku kan sering baca di novel, kalau bisa berkali-kali gitu. Tapi kata temenku yang udah nikah, baru main sekali aja udah tumbang tuh suaminya.”
“Hahahaha..” Juna tak bisa menahan tawanya, begitu pun Nadia.
“Nih gue kasih tau. Kondisi orang tuh beda-beda, jadi ngga bisa disama ratain. Kalo lo mau tau yang di novel-novel bener apa ngga, lo buktiin nanti pas malem pertama sama Fathan. Berapa kali tuh dia kuat main hahahaha..”
“Asem,” gerutu Azra.
“Az.. apa pak Jafar masih ganggu kamu?” Juna mencoba mengalihkan pembicaran.
“Udah ngga, yah. Tapi dua hari lalu Amran ngajak ketemu dan kita ngobrol banyak. Intinya dia minta maaf atas sikap papanya.
“Kamu ketemu berdua aja sama Amran?” tanya Nadia.
“Ya ngga, ma. Aku ketemu bareng bang Fathan. Bisa ngamuk dia kalau aku ketemuan berdua aja.”
“Ya bagus deh.”
“Kamu ke hotel hari ini?”
“Iya, yah. Ravin sengaja aku kasih libur. Dia pasti repot ngurus pernikahannya. Frey juga aku liburin, biar mereka punya waktu buat persiapan pernikahan.”
“Kok abang gue ngga dikasih libur?” protes Azra.
"Ya, elo protesnya ama Ken, jangan ama gue. Calon imam lo kan asistennya si naga kutub.”
“Oh iya, lupa gue. Ah gue mau telepon Ken, mumpung dia lagi bahagia mau jadi calon bapak. Sapa tau bang Fathan dikasih libur sampe hari pernikahan terus lanjut bulan madu.”
“Ngarep!”
Azra tak mempedulikan tanggapan sang kakak. Setelah menghabiskan sarapan, dia langsung menghubungi Kenzie. Berharap sepupunya itu mau meliburkan calon suaminya lebih cepat dari jadwal yang diberikan.
Sementara itu di dalam kamar, pasangan pengantin baru masih menikmati sarapannya. Mereka makan di balkon kamar, seraya menikmati semilir angin pagi sambil berbincang ringan.
“Hari ini mau jalan-jalan ngga?” tawar Viren.
__ADS_1
“Ngga bang, aku mau di rumah aja. Padahal kemarin tuh cuma akad aja ya. Tapi kok cape, apa kabar yang resepsi juga.”
“Kapan kamu mau adain resepi?”
“Harus ya? Jujur, aku sih ngga minat, bang. Buatku yang penting kita udah sah secara hukum dan agama, itu udah cukup. Uang buat resepsinya mending buat biaya hidup kita aja.”
“Kalau itu maumu, abang ikut aja. Lagian abang juga males mejeng di pelaminan lama-lama. Bisa kram muka kalau senyum mulu.”
Alisha terkikik mendengar jawaban suamiya. Untuk orang yang jarang senyum seperti Viren, pasti menyiksa sekali kalau harus duduk di pelaminan hampir tiga jam lamanya sambil mengumbar senyum. Pasti itu lebih melelahkan dibanding bekerja Rodi.
“Ehmm.. bang. Gimana caranya abang nyingkirin bu Lisda?”
“Aku ancam aja.”
“Bohong. Bu Lisda itu ngga mempan sama ancaman. Pasti ada yang lain. Terus kenapa bu Lisda sampe mau sekongkol sama Reymond.”
“Bu Lisda tuh punya banyak utang. Dia dijanjiin Reymond bakal dilunasin semua hutangnya asal bantu dia supaya bisa sama kamu.”
"Terus?"
"Ya abang kasih uang ke dia buat bayar utang. Tapi sebelumnya ada perjanjian hitam di atas putih supaya dia ngga ganggu kamu lagi."
"Abang kasih berapa?"
"Seratus juta."
"Ya ampun. Abang kasih itu pake duit abang sendiri?"
Viren menganggukkan kepalanya. Alisha melihat penuh haru pada sang suami.
“Tapi kok Reymond minta bantuan bu Lisda? Kan tahu aku benci banget sama perempuan itu.”
“Karena dia tahu soal itu, makanya dia manfaatin bu Lisda buat ganggu kamu. Nanti dia yang bakal datang nyelamatin kamu dari bu Lisda. Biar kamu jatuh cinta sama dia.”
“Oh ya ampun pengen jadi satria berkuda ya maksudnya. Tapi sayangnya aku udah dapet pangerang berkuda putih yang nyelametin aku.”
“Siapa?”
“Ya abang. Waktu abang selamatin aku pas Mela nyulik aku lagi. Sejak saat itu, aku mulai suka sama abang.”
“Kalau abang tahu kamu suka sama aku udah lama, abang bakalan lamar kamu lebih cepat.”
Viren merangkum wajah Alisha kemudian mencium bibir itu penuh kelembutan. Disesapnya bibir atas dan bawah sang istri bergantian. Tangannya kemudian mengangkat tubuh Alisha dan mendudukkan di pangkuannya. Ciuman keduanya terus berlajut, semakin intens dan menggairahkan.
Alisha melingkarkan kakinya ke pinggang Viren sambil terus melanjutkan pagutan mereka. Dapat dirasakan milik suaminya sudah mulai menegang kembali. Tangan Alisha meremat rambut Viren, saat pria itu menyesap lehernya sedikit kencang hingga meninggalkan tanda kepemilikan.
Sebuah des*han lolos dari bibir Alisha ketika merasakan cumbuan sang suami semakin membuainya. Tak ingin menyiakan waktu dan kesempatan, Viren berdiri seraya menggendong sang istri kemudian membawanya ke kasur. Cumbuan pria itu semakin liar saja, membuat tubuh Alisha menggelinjang merasakan rasa geli bercampur nikmat.
Netra Alisha menatap sayu ke arah Viren. Keduanya sudah sama-sama dibuai hasrat yang membuncah. Viren menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuh mereka. Dia bersiap untuk mendayung nirwana untuk kedua kali. Memasuki gua lembab sang istri sudah menjadi candu untuknya. Lenguhan Alisha terdengar mengiringi penyatuan mereka. Pergulatan panas di pagi hari kembali dimulai.
☘️☘️☘️
Viren dan Alisha masih betah berbaring di atas ranjang setelah aktivitas melelahkan namun begitu nikmat. Tubuh polos mereka hanya terbalut selimut. Viren memeluk tubuh sang istri sambil sesekali mendaratkan ciuman di kening atau puncak kepala istrinya. Tangan Alisha memeluk pinggang suaminya dengan kepala direbahkan di atas dada.
“Ternyata seperti ini rasanya bercinta. Pantas teman-teman abang ketagihan setelah melakukanya.”
“Teman yang mana bang?”
“Teman kuliah, bukan personil The Myth. Kalau mereka tahunya main game online.”
Alisha mengulum senyumnya. Wanita itu semakin menyurukkan kepala ke dada sang suami. Akhirnya dia bisa merasakan bagaimana memilki seseorang di sampingnya. Seseorang yang tulus mencintainya. Hidup berdampingan saling menyayangi dan menjaga. Seperti yang dilihatnya melalui figur orang tua dan para paman dan bibinya. Bebas melakukan apapun karena mereka telah terikat hubungan halal.
“Al.. bagaimana soal anak? Kalau kamu belum siap, kita bisa menundanya dulu. Apalagi kamu masih kuliah.”
“Aku sedikasihnya aja bang. Kalau memang aku dipercaya lebih cepat untuk punya anak, alhamdulillah. Ngebayanginnya asik aja ya pergi kuliah dengan perut buncit,” Alisha tersenyum membayangkannya.
“Pernikahan kita kan cuma dihadiri keluarga dekat aja. Orang-orang belum tahu soal pernikahan kita. Apalagi kamu ngga mau ada resepsi. Abang takut kamu jadi bahan gunjingan kalau kamu hamil.”
“Kita kan bisa upload status kita di medsos, bang. Bang Ravin udah ngirimin foto pernikahan kita kemarin belum?”
“Bentar abang minta dulu.”
Viren meraih ponselnya di atas nakas lalu mengirimkan pesan pada sang kakak. Tak butuh waktu lama bagi Ravin mengirimkan foto pernikahan sang adik. Viren meneruskan foto-foto tersebut ke ponsel Alisha.
Alisha meraih tangan Viren yang terdapat cincin pernikahan mereka. Kedua tangan mereka saling menggenggam kemudian mengabadikannya melalui ponsel Alisha.
Wanita itu mengupload foto yang tadi diambilnya ditambah dengan foto-foto kiriman Ravin. Tak lupa dia memberikan caption ‘Alhamdulillah Sah’. Dalam waktu singkat, postingan tersebut telah dilihat banyak pengikutnya. Tanda like dan ucapan selamat langsung memenuhi laman IG-nya.
Tangan Viren meraih ponsel di tangan sang istri kemudian menaruh di atas nakas. Dil*matnya bibir Alisha sesaat, sebelum merapatkan tubuh mereka. Daripada menanggapi pertanyaan seputar pernikahannya, lebih baik mereka beristirahat. Siapa yang tahu, siang atau sore nanti dia akan kembali mengunjungi gua lembab istrinya.
☘️☘️☘️
**Gimana puasss???
__ADS_1
Readersku sayang, tenang aja, biar selingkuh mamake tetap beresin KPA dan Nick sesuai alur yang udah disusun🤗**