KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Dating


__ADS_3

Kevin mengajak Rindu ke rumah sakit untuk menengok Delia. Mamanya itu sudah dipindahkan ke ruang perawatan setelah menjalani operasi amandel. Setibanya mereka di sana ternyata Delia masih dalam pengaruh obat bius. Wanita paruh baya itu masih tertidur.


Setelah sekitar setengah jam menunggu, Delia belum bangun juga. Akhirnya Kevin memutuskan untuk pergi ke toko perhiasan lebih dulu. Papanya yang baru datang meminta mereka pergi. Hitung-hitung sebagai ajang pendekatan karena pernikahan mereka yang terbilang mendadak.


Kevin memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Tak ada pembicaraan dari keduanya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hanya terkadang mereka saling melirik satu sama lain. Tak berapa lama mereka tiba di toko perhiasan.


Sepasang pengantin baru memasuki toko perhiasan. Kedatangan mereka disambut langsung oleh pemilik toko. Kevin menyerahkan cincin pernikahan Rindu yang terlalu, meminta ditukar dengan yang baru. Pemilik toko itu segera mengeluarkan beberapa koleksi terbarunya.


“Kamu mau yang mana?”


Rindu memperhatikan satu per satu cincin yang terpajang. Tangannya kemudian meraih sebuah cincin dengan model sederhana. Dicobanya cincin tersebut yang ternyata pas dengan ukuran jarinya.


“Ini aja bang.”


“Ngga terlalu simple itu modelnya?”


“Aku suka yang kaya gini.”


“Ya udah, saya ambil yang ini nci..”


Wanita itu mengangguk lalu memproses pembayaran yang harganya sedikit lebih mahal dari cincin yang pertama. Kevin meminta Rindu memakai langsung cincin tersebut saat akan dimasukkan ke dalam kotak.


“Makasih ya mas Kevin.”


“Sama-sama nci. Ayo.”


Kevin mengajak Rindu keluar dari toko. Mereka kembali masuk ke dalam mobil. Rindu memandangi cincin pernikahan di jari manisnya. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri. Kevin melirik ke arahnya.


“Kamu kesambet ya senyum-senyum sendiri.”


“Iya kesambet penunggu kulkas di rumah bang Ke.”


“Oh, kirain kesambet jin tempat beras.”


Rindu mendelik sebal ke arah suaminya itu. Ada saja kata-kata yang keluar dari mulut siletnya itu untuk membalas ucapannya.


“Sekarang mau kemana?”


“Ngga tau, terserah bang Ke aja.”


“Mau nonton? Salah satu kegiatan orang kencan kan nonton.”


“Hmm.. boleh deh. Udah lama aku ngga nonton di bioskop.”


“Kamu suka film apa?”


“Aku suka komedi dan horor.”


“Hmm..”


Kevin mengarahkan kendaraannya menuju salah satu mall terbesar yang ada di kota Bandung. Pusat perbelanjaan itu baru saja buka sejam lalu ketika mereka tiba di sana. Kevin segera mengajak Rindu menuju bioskop yang berada di lantai paling atas. Lobi bioskop sudah dipenuhi pengunjung, yang rata-rata ABG.


Rindu mengajak Kevin melihat deretan poster film yang tayang hari ini. Kebetulan sekali ada film horor baru dari negeri gajah putih yang sedang tayang hari ini. Rindu menunjuk film tersebut.


“Nonton ini aja ya bang.”


“Emangnya kamu berani?”


“Berani dong. Ya.. nonton ini aja.”


“Terserah. Sana beli tiketnya.”


Kevin menyerahkan atm miliknya. Lalu bergegas menuju loket untuk membeli tiket. Gadis itu memilih kursi di bagian tengah agar lebih leluasa ketika menonton. Dia menyerahkan kartu atm di tangannya.


“Silahkan masukan pinnya.”


Petugas tiket itu memasangkan kartu ke mesin EDC lalu menyorongkannya ke arah Rindu. Gadis itu tertegun sejenak, Kevin tadi tidak memberitahukan pinnya. Rindu menoleh ke belakang, mencari keberadaan suaminya. Matanya berkeliling menyapu lobi bioskop. Tiba-tiba saja Kevin sudah berdiri di sampingnya lalu menekan pin.


“Bang Ke ngagetin aja.”


“Ini kartunya, makasih pak.”


Kevin mengambil kartu tersebut tanpa membalas sapaan petugas apalagi membalas senyumannya. Dia menarik lengan blouse Rindu, mengajak sang istri menuju booth makanan dan minuman. Rindu memesan dua minuman dingin, popcorn dan beberapa camilan lainnya.


“Kamu mau nonton apa mau numpang makan di studio?”


“Nonton film horor itu butuh energi bang. Makanya aku perlu amunisi banyak sebagai bekal nonton.”


“Bilang aja rewog, ngeles mulu kaya bajaj.”


Rindu tak membalas ucapan Kevin. Percuma juga beradu mulut dengan pemilik mulut silet ini, dirinya tidak akan pernah bisa menang. Kevin mengajak Rindu untuk langsung masuk ke dalam studio yang memang sudah dibuka. Saat melintasi gerombolan abg, telinga Rindu menangkap pembicaraan mereka.


“Ya ampun lihat deh si om ganteng banget. Tapi di sebelahnya siapa tuh?”


“Ngga serasi banget ya. Udah kaya angka satu ama koma,” para abg itu terkikik geli.


Dasar abg labil, seenaknya aja lo bilang gue kaya koma. Lah elo kalau deket suami gue udah kaya upil nempel di tiang listrik.


Rindu langsung menggaet tangan Kevin. Digamitnya lengan suaminya dengan mesra. Kevin melihat pada Rindu seraya menaikkan alisnya.


“Kamu ketempelan siluman ulet bulu ya?”


“Iya, biar bang Ke kaligata!”


Kevin melepaskan tangan Rindu dari lengannya kemudian merangkul bahu istrinya itu. Rindu cukup terkejut, tak menyangka si kulkas berjalan akan melakukan hal tersebut. Tapi Rindu membiarkannya saja, dia melirik penuh kemenangan pada para abg yang ternganga melihat aksi om ganteng tersebut. Kevin tersenyum tipis melihat reaksi Rindu, sebenarnya dia juga tadi mendengar bisik-bisik tetangga cabe-cabean itu.


Lampu studio masih menyala ketika pengantin baru itu masuk ke dalamnya. Dengan mudah Rindu dapat menemukan tempat duduk mereka. Di barisan depannya duduk sepasang kekasih yang asik mengobrol sambil menunggu film tayang. Rindu duduk di kursi yang sesuai dengan tiket, disusul Kevin di sebelahnya.

__ADS_1


Film masih belum mulai namun buket popcorn sudah habis setengahnya. Sedari tadi Rindu tak berhenti menyuapkan camilan dari jagung itu ke dalam mulutnya. Lalu tangannya meraih camilan lain dan memakannya juga.


“Film belum mulai, makanan udah abis duluan.”


“Berisik! Bang Ke kalau mau makan aja.”


Tak lama lampu studio mulai padam. Layar lebar di depan sudah menyala dan mulai menayangkan iklan juga cuplikan film yang akan tayang. Tak lama film pun dimulai, adegan awal disuguhi dengan backsound yang cukup mencekam. Belum apa-apa Rindu sudah tegang sendiri.


Film sudah memasuki pertengahan durasi. Adegan makin lama makin bertambah tegang. Rindu terkadang harus menutupi wajahnya dengan buket popcorn. Berbeda dengan Kevin yang sejak beberapa menit lalu terganggu dengan aktivitas dua penonton di depannya. Di tengah adegan yang mencekam, kedua orang itu malah asik berciuman.


Di deretan seberang nampak dua abg yang curi-curi pandang pada aktivitas penonton tersebut. Kevin mengambil popcorn dari buket lalu melemparkannya pada kedua penonton di depannya. Awalnya mereka tak mempedulikannya, namun karena Kevin terus saja melempar, sang pria pun menoleh dengan wajah kesalnya.


“Cari ribut lo! Maksud lo apa lempar-lempar gue?”


“Kalau mau mesum, sana di hotel bukan di sini!”


“Suka-suka gue dong.”


“Gue yang ngga suka!!”


Penonton lain yang merasa terganggu dengan keributan Kevin dengan penonton itu mulai protes, ada pula yang hanya berdehem. Rindu menarik-narik lengan kemeja Kevin, meminta suaminya itu berhenti berdebat.


“Ribet banget hidup lo. Urus aja urusan lo sendiri!”


“Lo keluar atau gue lempar keluar dari sini?!”


Dengan kesal lelaki itu menarik tangan kekasihnya lalu keluar dari studio. Sepeninggal mereka, suasana studio menjadi tenang kembali. Kevin kembali mengarahkan perhatiannya ke layar lebar di depannya.


Mata Rindu tak berkedip menonton adegan demi adegan yang disuguhkan. Nafasnya tertahan ketika adegan tegang sedang berlangsung. Lalu tiba-tiba hantu yang menakutkan muncul memenuhi layar besar di depannya. Dia berteriak seraya mengangkat kedua kakinya naik ke kursi. Posisi Rindu kini berjongkok dengan menghadap ke arah Kevin. Kepalanya menempel ke lengan Kevin, namun sesekali dia masih melihat ke arah depan.


“Ck.. kalau takut kenapa milih nonton ini sih.”


“Biarin.”


“Duduk yang bener udah kaya orang lagi BAB aja.”


“Takut bang, enak gini nontonnya.”


“Duduk yang bener!”


Rindu menurunkan kembali kedua kakinya. Namun dia masih belum berani menatap lurus ke arah layar. Duduknya kini menyerong ke arah suaminya. Kevin melihat ke arah Rindu yang ketakutan tapi masih penasaran menonton.


“Sini.”


“Apa bang?”


“Pindah duduknya.”


“Sama aja bang, di situ juga jelas kelihatan hantunya.”


Akhirnya ketegangan selama sembilan puluh menit berlalu sudah. Lampu studio kembali menyala, Rindu buru-buru turun dari pangkuan Kevin. Untuk menghilangkan kegugupannya, dia bergegas menuju pintu keluar tanpa menuggu Kevin. Dengan santai pria itu menuruni tangga. Diam-diam dia tersenyum mengingat adegan pangku memangku tadi.


Rindu menunggu Kevin di dekat pintu keluar bioskop. Matanya menatap satu per satu pengunjung yang keluar. Tapi bukannya Kevin yang muncul, malah sahabat durjana yang menghampirinya.


“Weh ada sugar baby, mana sugar daddymu? Atau jangan-jangan kamu udah dibuang ya. Kasihan udah hilang gadisnya terus dibuang ke tong sampah.”


“Eh lo belum pernah ngerasain keselek tong sampah ya? Mau coba?”


Rindu memegang tong sampah yang ada di dekatnya. Mantan sahabatnya itu hanya menyunggingkan senyum sinisnya saja.


“Kang..”


Rindu menoleh ketika Kevin memanggilnya. Rindu segera mendekati Kevin lalu memeluk lengannya sambil matanya menatap ke arah sang sahabat. Tanpa berkata-kata lagi, Rindu mengajak Kevin untuk pergi.


Kalau dilihat-lihat ganteng juga tuh sugar daddy-nya si Rindu. Gue penasaran, siapa sih tuh orang.


Pulang dari mall, Kevin mengajak Rindu kembali ke rumah sakit untuk menengok Delia. Saat masuk ke ruang perawatan nampak wanita itu tengah berbincang dengan Anya sambil memakan es krim. Rindu menghampiri lalu mencium punggung tangannya, disusul oleh Kevin.


“Sehat ma? Gimana operasinya lancar?” sindir Kevin.


“Alhamdulillah, lancar dong. Apalagi kamu udah nikah, jadi mama tenang mau operasi juga.”


“Lebay... operasi amandel aja banyak banget dramanya,” kelutus Kevin. Delia hanya terkikik geli melihat raut kesal anak bungsunya.


“Kalian habis dari mana?”


“Abis pacaran ma mereka,” sambar Anya.


“Terus ngapain ke sini? Terusin aja sana pacarannya. Mama kan udah ada Anya yang jagain. Besok juga udah boleh pulang. Sana pergi hush.. hush..”


“Tega bener punya ibu. Udah bela-belain nengok malah diusir.”


“Mama bisa kambuh lagi amandelnya kalo lihat muka kamu yang kaya gitu. Udah sana pergi bawa Rindu makan di luar.”


Karena terus diusir oleh Delia, akhirnya Kevin membawa Rindu pergi. Delia tersenyum senang. Wanita itu berdiskusi dengan anak perempuannya, menyusun rencana bagaimana agar Kevin bisa cepat membuat perut Rindu kembung.


Dari rumah sakit Kevin melajukan kendaraannya menuju jalan Asia Afrika. Dia ingin mewujudkan kencan impian Rindu, berjalan-jalan sambil mencicipi jajanan pinggir jalan. Kevin memarkirkan Toyota Fortunernya di dekat kantor PLN lalu mengajak Rindu berjalan menuju gedung Merdeka.


Suasana sudah ramai oleh pengunjung, pedagang dan juga artis jalanan. Kevin meraih tangan Rindu lalu menggenggamnya. Rindu menoleh ke arah suaminya itu, diam-diam dia tersenyum senang. Jari keduanya saling menaut erat. Sesekali Rindu merapatkan tubuhnya ketika artis jalanan yang berdandan ala kuntilanak, pocong, Valak atau suster ngesot mendekatinya.


Kevin menukar posisi tubuhnya agar Rindu tidak diganggu oleh mereka lalu mengarahkan kaki menuju deretan pedagang dadakan yang berjualan di sepanjang sisi sungai Cikapundung.


“Kamu mau makan apa?”


“Semuanya, aku mau cobain semuanya.”


“Dasar rewog.”

__ADS_1


“Biarin wlee..”


Rindu menulurkan lidahnya ke arah Kevin yang hanya dibalas senyum tipisnya. Rindu terpana melihat senyum suaminya, walaupun tipis tapi mampu menambah kadar kegantengannya sebanyak 50%.


Demi menyenangkan hati sang istri, Kevin mampir di setiap stand yang ada. Mereka mencicipi aneka hidangan yang dibuat. Sesekali mereka saling menyuapi, walau Rindu harus sedikit berjinjit ketika hendak menyuapi suaminya. Puas mencicipi makanan dan berjalan-jalan, mereka memutuskan pulang karena hari sudah malam.


Sesampainya di rumah, keadaannya sudah sepi. Papanya menginap di rumah sakit menemani istri tercinta. Anya dan kedua anaknya sudah tidur, begitu pula dengan Ivan dan Kumala. Kevin juga Rindu langsung masuk ke dalam kamar. Kevin menghempaskan tubuhnya di kasur untuk meluruskan punggungnya.


Rindu mengambil baju tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi. Namun gadis itu kembali keluar dengan piyama di tangannya. Dia menghampiri Kevin yang tengah memeriksa e-mail dengan ponselnya.


“Bang..”


“Hmm..”


“Aku mau ganti baju tapi takut ke kamar mandinya.”


“Kenapa?” Kevin mengalihkan pandangannya ke arah sang istri.


“Aku masih kebayang film tadi.”


“Ck.. makanya kalau penakut ngga usah sok-sokan nonton horor. Ya udah ganti baju di sini aja.”


“Tapi abang jangan ngintip.”


“Mau ngintip atau melotot juga sah-sah aja. Kita kan udah nikah.”


“Tapi aku malu bang.”


“Ya kalau malu ganti bajunya di kamar mandi sana, gitu aja kok repot.”


“Takuut.”


Kevin menghembuskan nafasnya kesal. Diambilnya bantal lalu ditutupi wajahnya dengan bantal tersebut. Rindu bergegas mengganti pakaiannya. Selesai mengenakan piyama, dia mendekati Kevin lalu menepuk-nepuk lengannya.


“Apa??”


“Udah selesai.”


Kevin mengangkat bantal dari wajahnya. Terlihat Rindu berdiri di dekatnya sambil cengar-cengir. Dari tatapan wajahnya sudah pasti ada hal lain yang diinginkannya.


“Apa??”


“Sekarang temenin ke kamar mandi. Aku mau cuci muka sama gosok gigi.”


“Astaga.”


Kevin bangun dari tidurnya. Sebelum masuk ke kamar mandi, dia mengambil kaos oblong dan bokser dari dalam lemari lalu melangkah masuk diikuti oleh Rindu dari belakang. Gadis itu bergegas menuju wastafel untuk mencuci muka dan menggosok gigi, begitu pula dengan Kevin.


“Sana keluar, aku mau ganti baju.”


“Aku takut bang di luar sendirian.”


“Ya udah kalau gitu.”


Dengan santainya Kevin membuka kemeja lalu kaosnya. Mata Rindu membulat, dengan cepat dia membalik tubuhnya membelakangi sang suami. Namun sudut matanya melirik ke arah cermin. Jantungnya berdetak kencang melihat tubuh tegap Kevin. Saat suaminya itu membuka celananya, Rindu langsung memejamkan matanya. Jantungnya berdetak lebih cepat lagi.


“Ayo.”


Rindu terlonjak ketika mendengar suara Kevin. Buru-buru dikejarnya Kevin yang telah keluar dari kamar mandi. Rindu merangkak naik ke atas kasur. Kevin berjalan mendekati stop kontak yang terpasang di dekat lemari pakaian.


“Jangan dimatiin lampunya bang.”


“Aku ngga bisa tidur kalau lampunya dimatiin.”


“Kemarin bisa tidur, nyenyak banget malah sampe ngorok. Kenapa sekarang ngga bisa?”


“Ish aku ngga ngorok.”


“Mana ada orang ngorok sadar.”


“Pokoknya lampunya jangan dimatiin, aku ta...”


KLIK


Belum selesai Rindu menyelesaikan kalimatnya, Kevin telah mematikan lampu. Gadis itu segera menarik selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya. Kevin naik ke atas kasur lalu berbaring di samping sang istri. Namun dia tak bisa menutup matanya karena Rindu terus saja bergerak. Istrinya terus saja membolak balikkan tubuhnya, mengganggu ketenangannya.


“Kang.. bisa diem ngga sih.”


“Aku takut bang.”


Rindu membalikkan tubuhnya menghadap Kevin. Dia berusaha memejamkan matanya namun adegan meyeramkan di film tadi terus saja terbayang. Ditariknya selimut hingga menutupi kepalanya, tapi tak berapa lama dibukanya kembali karena sulit bernfas.


Kevin menghembuskan nafas panjang. Ditariknya tubuh Rindu hingga merapat padanya. Diangkatnya kepala Rindu sedikit lalu merentangkan lengannya kemudian merebahkan kepala Rindu di lengannya. Kevin memeluk punggung Rindu, tangan satunya lagi menarik tangan Rindu agar memeluk pinggangnya.


“Tidur.”


Awalnya Rindu masih bingung dengan semua ini. Tapi rasa aman dan nyaman dirasakannya saat berdekatan dengan sang suami membuat Rindu berani untuk mengeratkan pelukannya. Dibenamkan kepalanya ke dada Kevin. Tak lama gadis itu mulai terpejam.


Kevin memperhatikan Rindu yang ada dalam pelukannya. Nafas istrinya itu mulai teratur pertanda tidurnya sudah mulai lelap. Kevin menjauhkan kepalanya sedikit lalu mencium kening Rindu dengan lembut. Tangannya mendekap tubuh mungil itu lebih erat lagi kemudian mulai memejamkan matanya.


☘️☘️☘️


**Gimana bang Ke udah romantis belum?


Buat yang nunggu kisahnya Cakra - Sekar, jodohnya Jojo, Juna - Nadia, Ruby - Agung, Rayi - Anfa atau keuwuan Abi - Nina, sabaaaaarrr. Semua ada waktunya karena mamake udah buat alurnya. Perlu dipahami alur yg mamake buat adalah alur maju bukan kodok loncat atau maju mundur cantik ala Syahrini. Jadi harap bersabar ya, mereka akan muncul pada waktunya nanti. Untuk sekarang nikmati aja dulu kisah bang Ke dan Kang Pur😉


Terima kasih buat semua komen kalian. Walau ngga bisa bales komen satu² tapi like mamake selalu mendarat. Kalau komen kalian ngga di-like berarti komen kalian ngga bisa dibuka😭 Kadang NT suka error**'.

__ADS_1


__ADS_2