
“Perkenalkan nama saya, Sandi Putra.”
Kenzie menjabat tangan Sandi lengkap dengan sikap dingin dan wajah tanpa ekspresinya. Dalam hati Fathan tertawa, bagaimana kalau pria di depannya ini tahu Kenzie adalah kakak dari Kenan.
“Silahkan dimulai presentsinya,” ujar Kenzie.
Sandi menganggukkan kepalanya. Dia meminta anak buahnya untuk menyiapkan file presentasi. Beberapa kali dia menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara di depan orang nomor dua di Metro East.
Selama hampir lima belas menit Sandi menjelaskan penawaran pada mereka, termasuk perihal untung dan rugi serta penalty yang harus ditanggung kedua belah pihak jika kerjasama mereka terputus di tengah jalan. Kenzie masih belum berkomentar apapun, dia masih setia dengan sikap diamnya.
“Bagaimana pak Kenzie? Apa ada yang mau ditanyakan atau ditambah dengan perjanjian ini?” tanya Sandi di akhir presentasinya.
“Proyek ini bukan hanya menyangkut Bank Artha Buana dan Metro East saja. Tapi tujuan diadakannya proyek ini adalah untuk memberikan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar pulau Padar. Harusnya anda masukkan juga benefits apa yang akan mereka terima, termasuk resiko yang harus ditanggung oleh mereka jika mereka tidak menjalankan program dengan sungguh-sungguh. Metro East yang memfasilitasi, bank ini yang mendanai dan masyarakat yang menjalankan, tapi kenapa masalah pihak ketiga tidak ada dalam proposal ini? Bukankah itu harus menjadi satu kesatuan?”
Sandi menelan ludahnya kelat, dia memang lupa memasukkan poin penting dalam berkas tersebut. Dan Abimanyu langsung setuju saja dengan proposal yang dikirimkan, dia menyangka pria itu menyetujui karena hubungan dekat dengan Darmawan. Tapi ternyata justru waklinya yang menunjukkan kelalaiannya.
Dalam hati Kenzie tersenyum melihat wajah Sandi yang nampak panik. Sejak awal proposal itu diberikan, Abi sudah tahu ada kekurangan di dalamnya, namun pria itu membiarkannya saja. Sepertinya sang ayah sengaja memberi peluang padanya untuk memberi pelajaran pada pria itu.
“Maaf pak, sepertinya anggota tim saya lupa memasukkan poin tersebut ke dalam proposal,” kilah Sandi.
“Anda pimpinan timnya bukan?”
“Iya.”
“Kalau begitu, sebelum anda memberikan proposal ini, harusnya anda mengeceknya lebih dulu. Jangan lemparkan kesalahan pada anak buah anda. Anda yang bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan anggota tim.”
“Maaf, pak.”
“Saya minta revisinya sekarang!”
“Ba… baik.”
Sandi bergegas meminta anak buahnya untuk segera melengkapi proposal tersebut. Saat anggota timnya masih memperbaiki proposal, Sandi malah menghampiri Kenzie dan Fathan yang masih menunggu di ruang meeting. Dia ingin melakukan pendekatan personal pada wakil CEO Metro East tersebut.
“Saya sungguh tidak menyangka, pak Kenzie sendiri yang datang ke sini. Harusnya bapak memanggil saya ke kantor,” Sandi mulai berbasa-basi.
Kenzie yang tengah mempelajari e-mail yang baru masuk ke ponselnya, melihat ke arah Sandi. Pria itu melayangkan senyum kepadanya dan tangannya bergerak menarik kursi, hendak duduk di sampingnya. Namun gerakannya terhenti saat mendengar ucapan Kenzie.
“Apa yang anda lakukan di sini? Harusnya anda membantu anggota tim supaya tidak melakukan kesalahan yang sama.”
“Oh iya, pak.”
Sandi tak jadi beramah tamah dengan Kenzie dan kembali pada anak buahnya. Fathan hanya terkekeh saja. Sepertinya sahabatnya itu memang tengah membalaskan dendam sang adik.
Setelah setengah jam berjibaku memperbaiki proposal, akhirnya Sandi dapat kembali ke hadapan Kenzie dengan proposal baru di tangannya. Dengan bangga dia menyerahkan berkas tersebut. Kenzie membacanya dengan seksama kemudian dengan kencang meletakkannya kembali ke atas meja.
“Kenapa program yang telah kami susun tidak ada di sini?” Kenzie mengetuk-ngetuk kertas dengan kencang.
“Sebentar, pak.”
Sandi kembali mengambil proposal tersebut, kemudian membawanya untuk diperbaiki lagi. Lima belas menit kemudian, Sandi kembali tapi lagi-lagi Kenzie menolaknya. Masih ada poin yang kurang. Dengan perasaan sedikit dongkol, Sandi memperbaiki kembali. Dan itu terus berlangsung selama dua jam. Sandi sudah seperti setrikaan saja, bolak-balik dari ruang meeting ke ruang divisinya.
“Ken.. buset lo mau sampe jam berapa di sini?” tegur Fathan.
“Berisik lo. Udah sana balik ke kantor. Gue masih mau di sini.”
“Lo mau ngerjain berapa lama lagi? Lagian, bisa aja lo nemu kesalahan mereka.”
“Salah mereka kerja ngga teliti. Untung bukan anak buah gue, kalau ngga, udah gue tendang.”
“Beneran nih gue tinggal. Masih banyak kerjaan, gue.”
“Udah sono. Eh suruh si Nan ke sini.”
“Lo mau ngapain nyuruh tuh bocah ke sini?”
“Bawain gue makan siang.”
Fathan tak menanggpai ucapan sahabatnya itu. Sudah pasti pria itu menrencanakan hal lain dengan memanggil si kompor mledug. Dengan cepat Fathan menyambar jasnya yang tersampir di kursi kemudian segera keluar dari ruangan meeting tersebut. Saat melintasi divisi Sandi, pria itu langsung mengejar Fathan.
“Pak Fathan mau kemana?”
“Saya harus kembali ke kantor.”
“Kalau pak Kenzie?”
“Dia masih ada di meeting room.”
Sandi terus mengikuti Fathan sampai ke depan lift. Kebetulan sekali lift masih bergerak naik. Dia menggunakan kesempatan ini untuk melakukan pendekatan pada Fathan, untuk mencari tahu seperti apa Kenzie. Siapa tahu ada informasi yang digunakan untuk menaklukkan hati pria dingin itu.
“Maaf pak, kalau pak Ken memang seperti itu? Maksud saya soal pekerjaan."
__ADS_1
“Iya, dia itu tipe perfeksionis. Sebelum anda dan tim merivisi proposal seperti keinginannya, maka siap-siap saja kerja lembur sampai tengah malam.”
“Kami akan berusaha sebaik mungkin. Apa ada makanan yang pak Kenzie suka? Sebentar lagi jam makan siang.”
“Ada asistennya nanti yang bawain dia makan siang. Oh ya, tolong bersikap sopan pada asistennya. Pak Kenzie itu paling tidak suka kalau karyawannya diperlakukan tidak sopan. Bisa-bisa bapak nanti…”
Fathan tak melanjutkan ucapannya, hanya mengarahkan tangan ke lehernya dengan gerakan seperti menebas. Karuan saja Sandi menelan ludah kelat mendengarnya. Pria itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Melihat pintu lift sudah terbuka, Fathan bergegas masuk ke dalamnya. Dia malas harus berbincang dengan Sandi yang terkesan tengah mencari muka padanya.
☘️☘️☘️
Sesuai perintah sang kakak, saat jam makan siang Kenan mendatangi kantor Artha Buana dengan membawa makan siang untuk Kenzie dan dirinya. Setelah mengatakan tujuannya pada petugas keamanan, Kenan diarahkan untuk menuju lantai 10. Dengan santai pemuda itu memasuki lift yang terletak di sisi kirinya.
Begitu Kenan melangkahkan kakinya keluar dari lift, dia berpapasan dengan Sandi yang hendak memasuki kotak besi tersebut. Kening pria itu berkerut melihat kekasih anaknya ada di hadapannya.
“Siang, om,” sapa Kenan.
“Mau apa kamu ke sini?”
“Anterin makan, om,” Kenan mengangkat kotak makanan di tangannya.
“Dari mana kamu tahu kantor saya, hah? Bawa kembali makananmu. Saya ngga sudi makan dari pemberianmu. Jangan-jangan ada peletnya.”
“Nan!!” baik Sandi maupun Kenan segera menolehkan kepala ke arah datangnya suara.
“Siap pak. Ini makan siangnya.”
Kenan segera berlari menuju Kenzie. Keduanya segera masuk ke dalam ruangan meeting. Sandi menelan ludahnya kelat, bagaimana kalau Kenan mengadukan sikapnya tadi pada Kenzie. Dia lupa kalau tadi Fathan sudah mewanti-wantinya.
Di dalam ruangan meeting, Kenzie dan Kenan tengah makan siang sambil berbincang santai. Mereka sepakat akan berlaku seperti atasan dan bawahan saat di depan Sandi. Setelah makan, Kenzie membantu Kenan untuk melakukan presentasi besok.
“Besok pas presentasi, jangan terlalu sempurna. Lo kasih celah buat Sandi kasih pertanyaan. Jawaban awal jangan bikin dia puas, kalau dia tanya lagi, jawab tapi sisain lubang buat dia jatuhin elo, begitu dia tergiring ke pertanyaan yang pengen lo denger dari dia, hajar. Jangan kasih dia peluang buat ngoceh lagi. Buat seolah-olah dia di atas angin dulu, abis itu lo bikin dia mingkem.”
“Sip pak bos. Makasih buat ilmunya.”
Pembicaraan terus berlanjut, Kenzie memberi di mana Kenan harus memasang jebakan agar Sandi menanyakan hal yang sudah diprediksinya. Dengan seksama Kenan mendengarkan masukan dari sang kakak. Memang benar kalau kakak sulungnya ini berotak encer. Sepertinya kecerdasan Abi memang menurun padanya.
Usai jam makan siang, Sandi ke ruangan meeting. Hatinya berdecih kesal melihat Kenan masih bertahan di sana. Dia segera menyerahkan hasil revisi yang ke sekian kalinya. Kenzie membaca kembali proposal tersebut kemudian melihat pada Sandi.
“Saya datang ke sini sejak jam Sembilan pagi. Sampai setelah jam makan siang, proposal yang direvisi masih terdapat kekurangan. Apa saya yang kurang pandai menjelaskan atau anda yang tidak mampu mengerjakannya?”
“Ma.. maaf pak, bagian mana lagi yang harus direvisi?”
Kenzie mengambil kertas kosong dan pulpen di depannya, lalu menuliskan poin apa saja yang masih belum terdapat dalam proposal yang direvisi oleh Sandi dan tim. Kenan hanya memperhatikan saja apa yang dilakukan oleh kakaknya. Kenzie sukses membuat Sandi mati kutu dan malu di hadapannya. Dan dia tahu kalau sang kakak sengaja menjatuhkan pria itu di hadapannya.
“Ja.. jangan pak. Saya janji akan merevisinya sesuai keinginan bapak.”
“Baik, paling lambat jam dua siang proposal harus sudah ada di meja saya. Ayo, Nan.”
“Siap, pak.”
Kenan segera berdiri begitu melihat Kenzie berdiri. Dengan cepat dia mengikuti langkah Kenzie keluar dari ruangan. Sepeninggal kakak beradik tersebut, Sandi terduduk lunglai di salah satu kursi. Berhadapan dengan Kenzie ternyata cukup menguras tenaga. Pria yang benar-benar perfeksionis dan tanpa ampun.
☘️☘️☘️
Keesokan harinya Kenan kembali mendatangi kantor Bank Artha Buana. Kali ini dia akan mempresentasikan proyek baru yang akan digarap oleh Metro East dan Artha Buana. Darmawan sendiri sebenarnya sudah setuju dengan usulan rekan bisnisnya, namun Abi sengaja meminta Kenan untuk melakukan presentasi, sebagai bentuk penggemblengan untuknya.
Kenan langsung diantar oleh salah satu pegawai ke meeting room tempat dirinya akan melakukan presentasi. Kedatangannya langsung disambut oleh Darmawan, pemilik sekaligus pemegang saham terbesar di bank swasta besar ini. Sandi kembali dibuat terkejut melihat orang yang dikirimkan Metro East untuk presentasi ternyata Kenan. Dan yang lebih mengejutkan, sang atasan menyambut hangat kedatangan pemuda itu.
Darmawan langsung mempersilahkan Kenan untuk memulai presentasinya. Selain Darmawan, hadir juga Sandi dan juga dua orang lainnya untuk mendengarkan presentasinya. Sandi memperhatikan penampilan Kenan yang lain dari biasanya. Tubuhnya terbalut celana bahan berwarna biru dongker, kemeja tangan panjang berwarna biru langit, lengkap dengan dasi dengan warna yang sesuai dengan outfit yang dikenakannya. Penampilannya bertambah kinclong dengan jas yang menempel di tubuhnya. Tentu saja itu adalah hasil karya sang mama yang mendandani Kenan layaknya eksekutif muda.
Sebelum memasuki ruangan meeting, Sandi sempat mendengar celotehan beberapa pegawai wanita yang memuji Kenan. Bahkan ada juga yang terang-terangan mengatakan ingin menjadi kekasihnya. Pria itu hanya berdecih mendengar banyaknya pujian pada Kenan. Walau dalam hati kecilnya juga mengakui, melihat penampilan Kenan yang sekarang rasanya Jay kalah jauh di banding pemuda itu.
Sesuai intruski Kenzie, melakukan presentasi dengan meninggalkan celah di sana sini dan membuat Sandi tepancing dan menanyakan pertanyaan yang sudah diprediksi sebelumnya. Terlihat sekali kalau pria itu begitu bernafsu untuk menjatuhkan Kenan. Namun Kenan dapat menjawab semua pertanyaan dengan jelas. Karuan saja itu semakin membuat Sandi dongkol.
Darmawan hanya tersenyum saja melihat interaksi bawahannya dengan anak bungsu rekan bisnisnya itu. Abi sudah mewanti-wantinya untuk tidak membuka identitas Kenan pada Sandi. Dia ingin anak bungsunya itu bisa menghadapi Sandi tanpa marga keluarga di belakang namanya. Melihat pertunjukkan di depannya, jujur saja pria itu merasa terhibur. Dalam hatinya memuji cara Abi membesarkan dan mendidik anak-anaknya menjadi sosok yang kuat dan mandiri.
“Kamu bisa presentasi atau tidak. Kenapa masalah promo hanya dijelaskan sedikit. Bentuk promo seperti apa harusnya kamu jelaskan!” lagi Sandi mencecar Kenan.
“Sebenarnya untuk masalah promo sudah ada di proposal yang bapak pegang. Coba bapak buka halaman 14. Di sana sudah tertera dengan jelas bentuk-bentuk promonya. Saya hanya menjelaskan secara global saja. Tapi kalau bapak belum puas atau belum mengerti, saya akan menjelaskannya lagi.”
Sandi semakin dongkol mendengar perkataan Kenan. Beberapa kali dia berdehem demi menghilangkan kedongkolannya, apalagi dua rekannya plus Darmawan nampak tertawa mendengar ucapan Kenan barusan.
“Bagaimana pak Sandi? Sudah cukup jelas dengan presentasi saya? Atau masih ada yang perlu ditanyakan lagi?” tanya Kenan pada Sandi. Karena selama presentasi hanya pria itu yang bertanya padanya.
“Cukup,” jawabnya malas.
“Sudah cukup, Kenan. Terima kasih atas presentasinya, saya puas dengan hasilnya. Sepertinya pak Abi sudah menggemblengmu dengan baik.”
“Terima kasih atas pujiannya, pak. Tapi saya masih harus banyak belajar lagi.”
“Kalau begitu, tinggal penandatanganan kontrak saja. Biar nanti saya yang menghubungi pak Abi,” tutup Darmawan.
__ADS_1
Dua rekan Sandi segera keluar dari ruang meeting begitu presentasi selesai, sedang Sandi masih bertahan di sana. Darmawan bangun dari tempatnya duduk kemudian menghampiri Kenan. Ditepuknya pelan pundak pemuda itu.
“Kerja bagus, Nan. Ngga salah pak Abi menjadikanmu sekretaris penggatinya. Terus belajar, nanti kamu juga bisa sehebat kakakmu.”
Kenan membulatkan matanya. Sandi langsung melihat curiga padanya. Dan Darmawan terdiam, begitu menyadari kalau dia baru saja keceplosan.
“Kakak?” tanya Sandi.
“Eh.. iya pak. Kakak saya juga pegawai di Metro East,” jawab Kenan seraya melemparkan cengiran khasnya.
“Iya, kakaknya Kenan itu pegawai di Metro East,” sambung Darmawan.
“Kalau begitu, saya pamit, pak.”
Kenan menjabat tangan Darmawan, dia memilih segera pergi daripada Darmawan kembali keceplosan. Sandi juga ikut keluar ruangan bersama dengannya.
“Cih.. ternyata kamu bisa magang di Metro East karena bantuan kakakmu. Nepotisme,” cibir Sandi.
“Nepotisme sah aja, pak. Asal orang yang direkomendasikan memang orang yang kompeten dan layak. Presiden milih menterinya, ada nepotismenya juga. Yang ngga bener tuh nepotisme yang tidak pada tempatnya. Menempatkan orang yang tidak mempunyai kompetensi untuk menjabat kedudukan penting,” balas Kenan tak mau kalah.
“Oh ya, pak. Saya disuruh pak Kenzie menanyakan proposal yang kemarin, apa sudah siap?”
“Kenapa?”
“Kata pak Ken, kasihkan ke saya aja. Hari ini pak Ken ada meeting di luar, jadi ngga ada di kantor. Pak Abi juga tidak ada di kantor.”
“Ya sudah.”
Kenan berhasil mencegah Sandi datang ke kantor. Jika dia bertemu dengan Abi sekarang, maka penyamarannya akan langsung terbongkar. Tidak mungkin pria itu tidak menyadari kemiripan wajahnya dengan sang ayah. Sandi masuk ke dalam ruangan dan tak lama kemudian keluar dengan berkas di tangannya. Diberikannya berkas tersebut pada Kenan.
“Udah masuk jam makan siang. Bapak mau makan siang bareng saya, ngga?” tawar Kenan.
“Emang kamu punya uang buat ngajak saya makan siang?” wajah Sandi nampak meremehkannya.
“Punya dong, pak. Tabungan hasil ngamen saya banyak. Bentar lagi juga bonus dari pak Abi masuk, karena saya sudah berhasil presentasi.”
“Kamu beneran jadi sekretarisnya pak Abi? Katanya kamu kerjanya cuma fotocopy berkas aja,” tanya Sandi curiga.
“Awalnya gitu, pak. Tapi sekretaris pak Abi lagi ditugasin ngurus kantor cabang di Jakarta, jadi posisinya kosong. Atasan di divisi saya nyuruh saya yang maju soalnya ngga ada yang mau dan berani jadi sekretaris pak Abi. Saya awalnya juga takut, tapi beraniin ajalah. Alhamdulillah, sejauh ini sih masih aman, asal ngga ngelakuin kesalahan aja.”
Mendengar Kenan cukup mengenal Abimanyu, Sandi mau menerima tawaran makan siang pemuda itu. Dalam benaknya, siapa tahu Kenan bisa mengantarkannya lebih cepat untuk mengenal bos Metro East itu dan masuk ke dalam lingkarannya. Keduanya kemudian keluar dari gedung kantor.
Sandi terus mengikuti langkah Kenan yang menyusuri area parker bawah tanah. Dia tercengang melihat Kenan berhenti di depan sebuah mobil sport merk ternama keluaran terbaru. Kenan menepuk keningnya, dia lupa kalau hari ini pergi menggunakan mobil, bukan motor.
“Ini mobil siapa?”
“Yang jelas bukan mobil saya, pak. Ini mobil pak Ken. Tadi saya dipinjemin mobilnya. Pak Ken perginya bareng pak Fathan,” elak Kenan.
Sandi mempercayai begitu saja perkataan Kenan. Dipikirnya dapat uang dari mana pemuda itu membeli mobil yang harganya mencapai 10 digit. Kenan membukakan pintu untuk Sandi kemudian dengan cepat memutari bodi mobil. Tak berapa lama kendaraan roda empat pabrikan Jerman itu meluncur keluar dari parkiran basement.
Kenan memarkirkan kendaraannya di bahu jalan. Sandi melihat ke kanan dan kiri, tak ada restoran atau café di sana. Hanya ada sederetan penjaja kaki lima saja. Dengan ragu Sandi turun dari mobil kemudian mengikuti Kenan memasuki warung tenda yang ada di sana.
“Bu.. nasi gudeg komplitnya dua, ya. Satu lagi dibungkus. Minumnya es teh manis dua,” ujar Kenan pada sang penjual. Kemudian menghampiri Sandi yang sudah duduk lebih dulu.
“Saya kirain kamu mau ngajakin makan di restoran atau café.”
“Saya bisa aja ajak om makan di resto atau café. Tapi sekarang saya lagi pengen makan nasi gudegnya mbok Nah. Biar jualannya di kaki lima, tapi rasanya mantul loh, om.”
“Ck… gimana kamu bisa bergaul sama kalangan atas kalau seleramu receh begini. Kasihan Zahra ngga bisa ngerasain makan enak dan mewah kalau nikahnya sama kamu.”
“Oh kalau soal itu, om ngga usah khawatir. Jangankan makanan mewah. Saya juga sanggup bawa dia liburan ke luar negeri.”
“Cih..”
Perdebatan mereka terhenti ketika mbok Nah, nama sang penjual nasi gudeg memberikan pesanan Kenan. Dua porsi nasi gudeg komplit dan dua gelas es teh manis sudah tersaji di meja kecil beralaskan tikar. Konsep makan di sini adalah lesehan.
“Mbok Nah itu janda dengan anak tiga, om,” ujar Kenan dengan suara berbisik.
“Dia berjuang sendirian membesarkan ketiga anaknya setelah suaminya meninggal karena kecelakaan. Jadi, kalau kita makan di sini, bukan cuma untuk menikmati rasa masakannya yang lezat, tapi juga bisa membantu dia memenuhi kebutuhan keluarganya. Dibanding pemilik resto ternama yang sudah memiliki pelanggan tetap dari kalangan atas, mbok Nah lebih membutuhkan banyak pembeli untuk membuatnya tetap bisa melanjutkan usahanya demi kelangsungan hidup keluarganya. Jadi, secara ngga langsung, kita juga ikut membantunya, om,” lanjut Kenan.
Sandi menghentikan makannya sejenak. Dia sempat terkejut, pria muda yang biasanya mengeluarkan ucapan yang membuat darah tingginya kumat, kini bisa mengeluarkan kata-kata bijak.
“Tumben kamu ngomongnya bener.”
“Saya lagi mode para sufi, om. Hehehe..”
Sandi memilih melanjutkan makannya daripada menanggapi ucapan pemuda itu barusan. Baru saja dipuji, celotehannya kembali membuat kepalanya pening. Keduanya melanjutkan acara makan diselingi dengan ocehan Kenan. Sebisa mungkin Sandi menguatkan telinganya mendengar cerocosan pemuda yang bersikeras ingin menjadi menantunya.
☘️☘️☘️
**Maaf ya, kemarin ngga bisa up. Otak nge hang jadi ide buat nulis mandeg. Perlu healing untuk menormalkan kinerja otak lagi😌
__ADS_1
Buat yg masih nanya kenapa sekarang jarang up, itu karena ada kesibukan di RL. Aku harus bagi waktu antara kejar deadline dengan up novel. So.. harap maklum🙏**