
Anfa memandangi wajah cantik istrinya. perlahan Dia mendekatkan dirinya. Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Bahkan Rayi dapat merasakan hembusan nafas suaminya. Jantungnya semakin berdebar kencang. Anfa semakin mendekatkan wajahnya dan....
“Ray.. tidur yuk. Ngantuk,” bisik Afa di telinga Rayi.
“Tidur di mana?”
“Ya di sini emangnya mau di mana?”
“Berdua aja?”
“Ya iya. Emang kamu mau ajak mbah putri tidur bareng kita? Aaauuwww..”
Anfa menjerit saat cubitan Rayi mendarat di lengannya. Kemudian Rayi langsung berbaring seraya menarik selimut sampai ke batas leher. Anfa pun ikut berbaring di sampingnya. Keduanya mengambil posisi telentang.
Untuk beberapa saat, baik Rayi dan Anfa mencoba memejamkan mata. Namun Anfa kembali membuka matanya karena entah mengapa, tiba-tiba rasa kantuknya hilang. Dia melirik ke arah Rayi yang tengah terpejam.
“Ray..”
“Hmm..”
“Belum tidur?”
“Belum, kenapa?” Rayi membuka matanya.
“Aku ngga bisa tidur.”
“Sama.”
“Enaknya ngapain ya?”
Rayi hanya terdiam saja untuk beberapa saat. Begitu pula dengan Anfa, ini kali pertama dirinya tidur satu ranjang bersama perempuan. Walau itu Rayi, perempuan yang telah empat tahun menjadi kekasihnya dan kini sudah menjadi istrinya, tetap saja kegugupan melanda.
Anfa merubah posisinya menjadi miring menghadap ke arah Rayi. Tak lama Rayi pun mengubah posisi berbaringnya. Kedua mata mereka saling memandang dan mengunci. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Anfa mengusap lembut pipi Rayi. Dia mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinga Rayi. Gadis itu mengangguk setuju atas apa yang dikatakan Anfa.
Sepuluh menit berlalu, suasana kamar yang semula sepi, kini mulai dipenuhi suara sepasang pengantin tersebut. Suara keduanya terdengar saling bersahutan.
“Fa.. cepet dong.”
“Bentar Ray, dikit lagi ini.”
“Aku udah ngga kuat Fa.”
“Sabar napa... eeuughh susah amat sih,” gerutu Anfa.
“Langsung masuk aja.”
“Bentar Ray, susah ini.”
“Cepetan!”
“Bentar, tanggung ini.”
“Tuh kan Faaaa...”
Rayi menggerutu kesal karena permainannya berakhir. Karakter yang dimainkannya terbunuh oleh para zombie yang mengepungnya. Keduanya memang tengah bermain game online bersama. Kegiatan yang sering mereka lakukan sejak masih di bangku kuliah. Anfa terkekeh geli melihat wajah cemberut istrinya.
“Udah jangan ngambek, ayo main lagi.”
“Awas aja kaya tadi.”
“Ayo, mulai.”
Rayi dan Anfa kembali sibuk dengan ponselnya. Mereka kembali memainkan game yang sama. Teriakan Rayi dan umpatan Anfa terdengar saking seriusnya mereka bermain. Tanpa mereka sadari malam mulai merangkak menuju dini hari. Tapi pasangan pengantin baru itu tetap asik dengan permainannya.
☘️☘️☘️
Pagi harinya, semua keluarga Hikmat juga keluarga Rayi sudah berkumpul di meeting room yang disiapkan Rahma untuk menggelar sarapan bersama. Bukan hanya keluarga, tapi Rahma juga mengundang sahabat anak-anaknya. Kevin, Jojo, Radix dan Gurit juga datang dengan membawa pasangannya masing-masing.
“Syelaamaatthh paggiihhh syemuaaaaahhh,” sapa Syakira.
Teddy dan Rahma menganggukkan kepalanya pada Syakira. Pasangan itu sudah terbiasa mendengar suara de**han Syakira, jadi telinga mereka sudah kebal. Begitu pula dengan yang lain. Tapi berbeda dengan Wisnu juga Astuti, ini pertama kali mereka mendengar orang berbicara dengan cara men**sah seperti itu.
Karena semalam saat memberikan ucapan selamat, Syakira hanya tersenyum saja tanpa mengeluarkan suara mautnya.
Gurit menarik kursi untuk kekasihnya itu. Dan ternyata orang yang duduk di samping Syakira adalah Rahayu. Syakira cukup terkejut melihat Rahayu, begitu pula dengan wanita itu.
“Eeehhh.. adaaahhh tanteeehhh jugaaaahhh yaaaahhhh. Maaafff yaaahh tantehhh soaallhh yhaangh syemaleemmhh.”
“Haaahh.. haaaahh..”
Rahayu tak bisa membalas ucapan Syakira, hanya suara nafasnya saja yang terdengar terengah, asmanya kembali kambuh. Retno buru-buru mengambilkan inhaler dari dalam tas Rahayu lalu memberikan padanya. semua yang ada di sana cukup terkejut melihat Rahayu yang sampai kambuh asmanya saat mendengar suara Syakira, kecuali Sekar dan Gurit yang tampak menahan tawanya.
“Bu Rahayu ngga apa-apa?” tanya Rahma.
“Tanteeehhh kenaaappaaahhh?”
“Wess kamu nda usah ngomong. Asma mbak yu ku kumat denger kamu ngomong,” jawab Retno.
Semua yang ada di sana berusaha menahan tawa mereka. Ada yang memalingkan wajahnya, ada yang menunduk, ada juga yang menutup mulut dengan tangan. Sekar dan Rindu bahkan sampai berjongkok karena sudah tak bisa menahan tawa.
Rahma segera mempersilahkan semua untuk menikmati sarapan ala prasmanan yang telah tersedia. Satu per satu mulai mengambil makanan dari meja prasmanan. Rahma mengedarkan pandangannya, mencari pasangan pengantin baru yang belum kelihatan batang hidungnya.
“Rayi sama Anfa belum ke sini?” tanya Rahma.
“Ah mama kaya ngga pernah ngalamin jadi pengantin baru. Masih keramas kali mereka,” Sekar terkikik geli.
“Mungkin Rayi ngga bisa jalan juga,” celetuk Rindu.
“Bisa jadi lagi nambah,” lanjut Nadia.
“Ampun, adikku sebuas itukah?”
Gelak tawa langsung terdengar mendengar perkataan para istri. Jika biasanya para suami yang kerap mengeluarkan kalimat absurd, kini giliran istri mereka yang bersuara. Wisnu tak berhenti tertawa mendengar candaan mereka. Ternyata suasana di keluarga Hikmat tak sekaku perkiraannya.
__ADS_1
Dari arah lift, nampak pasangan pengantin keluar dengan tergesa. Karena drama mencari baju, pasangan tersebut terlambat untuk sarapan bersama. Anfa harus berkeliling kamar, mencari keberadaan koper Rayi yang disembunyikan oleh Sekar. Dan ternyata kopernya ada di kamar mereka sendiri. Hanya saja Sekar menyembunyikannya di balkon.
Kedatangan mereka disambut deheman dan juga tatapan penuh menggoda. Mereka semakin bersemangat menggoda ketika melihat kantung mata di wajah keduanya. Mereka langsung berpikiran kalau semalam telah terjadi pertempuran dahsyat nan panjang.
“Kenapa baru datang ini pengantin baru?” tanya Rahma.
“Maaf ma, tadi nyari koper dulu. Ada yang jahil ngumpetin koper Rayi,” Anfa melirik ke arah Sekar. Namun ibu hamil itu hanya mengendikkan bahunya tanpa dosa.
Suasana ruangan menjadi ramai. Perbincangan dan gelak tawa mengiringi acara sarapan mereka. Wisnu beserta keluarga tak menyangka kalau keluarga Hikmat sudah berkumpul bisa sehangat ini. Pembicaraan tidak melulu soal bisnis, tapi juga soal kehidupan sehari-hari. Astuti, Rahayu serta Retno hanya menjadi penonton saja, menyaksikan keakraban dan kebersamaan keluarga besan. Mereka sedikit malu hati melihat kekompakan dan kehangatan keluarga itu. Walau masuk dalam jajaran orang terkaya, namun sikap mereka sama sekali tak menunjukkan kesombongan.
Jenar menikmati sarapannya dalam diam. Mata dan telinganya terus menangkap interaksi orang-orang di sana. Matanya kemudian menangkap sosok Abi yang tidak banyak bicara. Pria itu asik bersama bayi kecilnya. Sesekali Nina menyuapi suaminya itu, kemesraan begitu nampak pada pasangan tersebut.
“Oommhh maauuhh kopiiihh?” tawar Syakira pada Teddy juga Wisnu.
“Boleh Syaki,” jawab Teddy.
“Oommhh Teddyyyyhhh kopiiihh pahhiitthh. Khalaauuhh oommhh apaaahh?”
Syakira melihat ke arah Wisnu yang masih saja ternganga setiap mendengar Syakira berbicara. Bagian bawahnya selalu terasa cenat-cenut saat mendengar de**han Syakira dalam setiap ucapannya.
“Apaaahhh ajaaahh.”
Tanpa sadar Wisnu ikut men**sah saat menjawab pertanyaan Syakira. Teddy memalingkan wajahnya, sekuat tenaga pria itu menahan tawa yang hendak meledak. Wisnu terus memandangi Syakira yang tengah membuatkan kopi. Tanpa pria itu sadari, mata istrinya hampir keluar melihat sang suami yang tengah asik memandangi Syakira tanpa berkedip.
“Kenapa bu?” tegur Rahma.
“Eeh.. nda apa-apa.”
Astuti malu sendiri saat terpergok Rahma tengah memandangi suaminya juga Syakira. Rahma tersenyum tipis melihatnya. Dia memang sengaja mengundang Syakira sarapan bersama. Setidaknya dia bisa terhibur melihat reaksi keluarga Rayi saat bertemu Syakira. Seperti asma Rahayu yang tiba-tiba kambuh setiap mendengar Syakira bicara.
“Maklumin aja bu, laki-laki emang begitu. Ngga bisa lihat, wajah cantik, bahenol langsung tuh mata mau loncat,” Rahma mulai memanasi.
“Itu sopo toh bu?”
“Itu Syakira, pacarnya Gurit, sahabatnya Sekar.”
“Ngomong’e emang begitu yo gayane?”
“Hahaha.. iya bu. Unik kan bu?”
“Unik opo. Mbak ku sampe kambuh asmane. Lah itu si bapak malah anteng lihatin dia.”
“Namanya juga laki-laki bu.”
“Tapi pak Teddy yo biasa ae.”
“Karena dia ngga bisa berpaling ke wanita lain kecuali saya. Makanya bu, suami itu harus diservis luar dalam. Jangan disembur pake mulut aja, tapi juga dengan servis memuaskan, termasuk perkataan yang baik dan menyejukkan hati” sindir Rahma.
Astuti hanya terdiam saja. Hatinya cukup tertohok mendengar penuturan Rahma. Puas bermain dengan Astuti, kini Rahma mendekati Rahayu yang tengah duduk sendiri. Inhaler tak lepas dari genggamannya. Selama Syakira bersama mereka, selama itu pula dia membutuhkan inhaler.
“Sudah baikan bu?” tegur Rahma.
“Ya begitulah bu. Ini saya masih megang inhaler. Takut dia ngomong lagi, sesek nafasku.”
“Iyo bu. Anak saya sudah menikah semua, suami juga sudah meninggal. Astuti minta saya tinggal bersamanya. Alhamdulillah, Wisnu juga nda keberatan karena rumahnya bakalan ramai. Apalagi Anfa juga Rayi bakalan tinggal di sana juga.”
“Anfa dan Rayi akan tinggal bersama saya bu. Saya perlu mendidik dan membimbing Rayi agar bisa menjadi pendamping yang kuat untuk Anfa. Nantinya akan banyak orang yang berusaha mengganggu rumah tangga mereka. Rayi dan Anfa itu masih muda, mereka masih membutuhkan bimbingan, nasehat yang baik bukan doktrin yang dipanasin pake kompor ya bu.”
Rahayu terdiam, kata-kata Rahma terdengar menyindirnya. Walau kesal tapi wanita itu tak berani melawan nyonya Teddy Hikmat ini. Dirinya ingat ucapan Abi soal pulau terpencil juga rumah sakit jiwa.
“Saya harap bu Rahayu bisa memberikan nasehat yang baik juga untuk Anfa. Apalagi sekarang Anfa sudah menjadi bagian keluarga kalian juga kan. Saya berharap kalian bisa menyayangi anak saya dengan tulus. Kalau saya dengar ibu memberikan nasehat yang menyesatkan atau memperlakukan Anfa dengan buruk, saya tak segan-segan menempatkan ibu serumah dengan Syakira.”
Rahma beranjak menjauh dari Rahayu setelah puas menyemburkan kekesalan yang ditahannya. Rahayu hanya mematung di tempatnya. Setelah sang anak, sekarang ibunya yang menebarkan ancaman. Membayangkan tinggal serumah dengan Syakira sungguh sesuatu yang mengerikan. Bisa-bisa perjumpaannya dengan Sang Khalik dipercepat karena sesak nafas yang dirasakannya.
☘️☘️☘️
Usai sarapan, perkumpulan masih terus berlanjut. Hanya saja terbagi ke dalam tiga kubu. Kubu orang tua tetap berada di dalam ruangan. Kubu para lelaki memilih berbincang di area kolam renang. Sedang para wanita berkumpul di kamar Rayi. Syakira dan Nabila memilih duduk menunggu di coffee shop yang ada di lobi hotel. Keduanya masih sungkan bergabung dengan para istri.
Di dalam kamar suite room yang ditempati pengantin baru, para istri duduk berkumpul di sofa. Mereka bersiap mendengarkan cerita malam pertama pengantin baru. Apakah sama dengan kisah mereka dulu.
“Ray.. gimana rasanya malam pertama?” Sekar membuka pertanyaan.
“Orang aku ngga ngapa-ngapain sama Anfa.”
“Lah katanya kalian begadang, ngapain aja? Main gundu?”
“Mabar kita. Main game online yang zombie itu loh.”
Semua menepuk jidat masing-masing mendengar ucapan Rayi, termasuk Nina yang tengah menyusui anaknya. Padahal mereka sudah siap pasang telinga mendengarkan prosesi malam pertama pasangan pengantin. Ternyata peristiwa pembobolan gawang masih belum terjadi.
“Ya ampun, gue kira si Anfa udah bikin hattrick,” seru Sekar.
“Gue juga udah bayangin tuh lingerie Rayi ngga berbentuk lagi, sobek sana sini,” lanjut Rindu.
“Emangnya elo Rin? Saking ganasnya bang Ke, kancing baju lo sampe berserakan,” Sekar dan Rindu terkikik geli.
“Jadi semaleman kamu ngga diapa-apain sama Anfa?” Nina mulai penasaran.
“Iya kak. Asli kita mabar sampe jam 2.”
“Ya ampun, Anfa tuh polos apa oon sih.”
Gelak tawa langsung terdengar mendengar celetukan Nina. Rayi hanya menunduk malu. Nina tak berhenti menggelengkan kepalanya mengetahui malam pertama sang adik. Sepertinya hanya pasangan Anfa dan Rayi yang menghabiskan malam pertama dengan mabar.
“Emang kamu ngga mau gitu disentuh-sentuh ama Anfa,” Sekar terus mencecar Rayi.
“Iya Ray, secip*k dua cip*k masa kaga dikasih Anfa sih. Kamu aja yang nyosor kalo si Anfa ngga ada inisiatifnya,” cerocos Rindu.
“Bentar.. ini si Anfa normal ngga sih? Masa sekamar bahkan seranjang ama cewek bisa cuek gitu,” Nadia kini mulai bersuara.
“Ya ampun kak Nadia, adik aku ituuuuu.”
“Hahaha...”
__ADS_1
Gelak tawa kembali terdengar, tak ayal Nina juga ikut tertawa. Kenzie yang berada dalam gendongannya sempat terusik dari tidurnya, tapi kemudian kembali terpejam. Percakapan pun terus berlanjut.
“Udah Ray, kalo masih belum ada aksi dari Anfa, kamu aja yang mulai,” Rindu mulai jadi kompor.
“Ngga mau, malu aku. Tar disangka agresif,” Rayi menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Iya jangan Ray. Kan kalo nanti ada berita ‘Saat malam pertama, seorang pria direnggut paksa keperjakaannya oleh sang istri’ terus viral bahaya hahahaha,” Sekar tergelak mendengar ucapannya sendiri.
“Jangan Ray, kamu harus tahan gengsi. Tapi goda aja si Anfa, lihat kamu pake lingerie tipis bangun ngga otongnya,” Nadia terkikik geli.
Nina terus saja tertawa mendengar ocehan adik dan kakak iparnya tentang adiknya. Sebagai kakak, dia juga tidak habis pikir dengan sang adik. Apa mungkin rasa trauma hendak dilecehkan Angela membekas dalam dirinya.
“Kayanya si Anfa harus dapat pencerahan dan penataran dari suami-suami kita nih,” seru Nadia.
“Bahaya kalau Anfa sampe dapet pencerahan dan penataran dari suami kita. Bisa-bisa besoknya Rayi ngga bisa jalan hahaha...”
Rindu tertawa sambil memegangi perutnya. Tak lama dia bangun lalu menuju kamar mandi. Karena tak berhenti tertawa, membuat dirinya tak bisa menahan desakan dari dalam untuk segera dikeluarkan. Rayi menyusut sudut matanya yang basah karena tak berhenti tertawa.
☘️☘️☘️
Lain di dalam kamar, lain pula suasana di sekitar kolam renang. Delapan pria tengah berkumpul di salah satu tenda payung yang ada di sana. Seperti halnya para wanita, kaum adam ini juga penasaran dengan apa yang terjadi pada malam pertama Anfa. Gelak tawa langsung terdengar begitu mendengar cerita Anfa tentang malam pertama. Gurit sampai terbatuk karena terlalu banyak tertawa.
“Astaga gue baru denger ada yang malam pertamanya mabar huahahaha,” Gurit tak berhenti tertawa.
“Fa.. lo normal kan? Gue aja yang belum nikah udah travelotak kalo denger malem pertama. Nah elo yang ngalamin malah mabar, buset dah hahaha,” sambung Radix.
“Fa.. emang kamu ngga pengen gitu ehem-ehem,” selidik Jojo.
“Mau bang, tapi aku malu. Aku juga takut kalau Rayi belum siap.”
“Siap ngga siap hajar aja. Emang otong kamu ngga pengen apa?” celetuk Cakra.
“Makanya aku ajakin mabar, soalnya udah cenat-cenut aku.”
“Hahahaha...”
Jawaban polos Anfa kembali menyulut tawa mereka. Beberapa tamu hotel yang tengah berada di sana beberapa kali menolehkan pandangannya pada mereka. Juna mengusak puncak kepala Anfa seraya menggelengkan kepalanya.
“Bi.. parah lo, nih adek ipar bukannya diajarin belah duren. Dasar kakak ipar ngga guna lo,” ledek Kevin.
“Emangnya gue doang kakaknya. Fa, kamu harusnya nanya dulu ama kak Juna, otak ngeresnya tuh level 100 dia.”
“Udah.. udah.. Anfa biar gue yang ngajarin. Secara gue ini kan mantan casanova yang sudah pernah mencicipi beberapa apem.”
Toyoran Cakra dan tepakan Kevin langsung mendarat di kepala Jojo. Juna terus saja terpingkal, sedang Abi hanya mencibir ke arah sahabatnya itu.
“Percuma casanova kalau belum bisa bikin b*nting si Pus,” ledek Abi.
“Cebongnya kopong,” sambar Kevin.
“Kaga bisa nembak dia, makanya cebongnya salah masuk mulu,” lanjut Cakra.
“Wajar sih, biasanya buang ke sarung, ini langsung ke wadah. Jadinya awur-awuran,” sambung Juna.
“Hahaha..”
Kali ini Anfa yang tertawa kencang, senang rasanya bola panas malah bergulir ke arah Jojo, membuat pria itu keki. Radix dan Gurit sampai terduduk di lantai saking tak bisa berhenti tertawa. Ternyata sesenang ini berkumpul dengan para pria beristri yang otaknya bocor kemana-mana.
“Ngga usah dengerin mereka, Fa. Sebagai bukti kasih sayang, aku bakalan kasih kamu jurus-jurus pertarungan di atas ranjang.”
Jojo merangkul Anfa, kemudian mulai memberikan kuliah 6 SKS nya tentang bagaimana cara membobol gawang. Cakra dan Juna juga turut menimpali, memberikan pelajaran tambahan versi mereka. Gurit dan Radix hanya menyimak saja, otak mereka bekerja merekam semua s*x education tingkat tinggi ini.
“Ck.. kebanyakan bacot kalian. Teori doang, udah kasih langsung aja videonya, beres,” celetuk Abi.
“Wah bener tuh. Rit, mana video yang kamu kasih ke Sekar waktu itu?”
Gurit terkejut mendengarnya, pemuda itu hanya cengengesan seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Malah nyengir, mana?” tagih Cakra lagi.
“Hehehe.. gue kasih link-nya ke hp lo aja ya Fa.”
Gurit mengambil ponselnya lalu mengirimkan link private video pada Anfa. Tak lama terdengar notifikasi di ponsel Anfa. Pria itu mengeluarkan ponselnya, namun segera diambil oleh Cakra. Suami Sekar itu segera mendownlod link yang dikirimkan Gurit, kemudian mulai membuka video yang ada di sana.
“Rit, kamu sering nonton ya?” selidik Kevin.
“Sekali doang bang, sumpah.”
“Ngga mau ikutan nonton?” tawar Juna.
“Ngga ah. Denger suara Syakira aja udah bikin cenat-cenut, apalagi tambah nonton video uh ah, bisa-bisa aku kawin duluan.”
“Hahaha...”
Anfa menelan ludahnya kelat melihat adegan demi adegan yang disuguhkan ponselnya. Bukan hanya Anfa, Cakra dan Jojo yang mengapit pengantin baru itu juga mulai dibuat gerah. Gurit dan Radix pun memilih pulang karena takut khilaf, biar tak menonton, tapi suara dari video cukup membuat mereka tak enak diam. Kevin, Juna dan Abi yang tak ikutan menonton juga mulai menegang.
Abi segera beranjak dari duduknya, dia memilih kembali ke kamar. Gara-gara idenya menyuruh Anfa menonton film dewasa, dirinya jadi tersiksa. Apalagi saat ini Nina sedang tidak bisa dijamah. Juna dan Kevin juga ikutan pergi, keduanya bermaksud kembali pada istri mereka.
Cakra menyerahkan ponsel di tangannya pada Anfa. dia juga bermaksud pergi, Jojo juga melakukan hal sama. Mereka bermaksud mencari lawan demi mengendurkan ketegangan yang dirasakan. Anfa yang sudah merasa panas dan juga mulai menegang, bergegas kembali ke kamarnya.
☘️☘️☘️
Rayi berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Baru lima menit lalu, para wanita membubarkan diri. Sekar mendapat telepon dari Cakra kalau Anfa akan kembali ke kamar. Kini tinggallah Rayi yang tengah resah menunggu sang suami. Selain wawancara, kumpulan para istri juga memberikan wejangan padanya seputar bobol membobol gawang. Bahkan Sekar sempat memutarkan film dewasa untuknya.
Wanita itu terjengit ketika mendengar suara bel di pintu. Bergegas dia menuju pintu, tak lama muncul Anfa dari baliknya. Untuk sesaat keduanya hanya berdiri terpaku, memandang satu sama lain. Di otak mereka tergambar adegan film yang tadi ditontonnya. Anfa berjalan mendekati Rayi, kemudian meraih tengkuk istrinya itu.
☘️☘️☘️
CUT!!!
Udah mau maghrib ternyata, mamake mau siap² dulu ya bye
Kabooorrr🏃🏿♂️🏃🏿♂️🏃🏿♂️🏃🏿♂️🏃🏿♂️🏃🏿♂️
__ADS_1