KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Bebegig Sawah


__ADS_3

Di sudut lain, Rahma sedari tadi tak henti-hentinya mengenalkan Nina pada teman-teman dan rekan bisnisnya. Sambutan mereka tentu saja baik, karena yang mereka lihat Rahma, bukan Nina. Siapa juga yang mau cari perkara dengan istri dari Teddy Hikmat. Semua tersenyum ramah pada Nina, ada yang benar tulus tersenyum atau sekedar hiasan wajah saja.


“Kenalkan ini calon mantu saya, Nina.”


Rahma kembali mengenalkan Nina pada salah satu wanita yang mengenakan gaun mahal keluaran desainer terkenal. Di sampingnya berdiri seorang gadis muda, wajah mereka terlihat mirip. Sepertinya itu adalah anaknya. Nina mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Nina dengan tersenyum, namun matanya mendelik tak suka. Pun dengan gadis di sebelahnya.


“Cantik ya jeng. Siapa namanya? Nina ya? Usaha orang tuamu bergerak di bidang apa?”


“Kenapa jeng nanya-nanya orang tua Nina? Ngga penting orang tua Nina siapa, karena yang akan menikah dengan Abi itu Nina, bukan orang tuanya.”


Mulut wanita itu langsung terbungkam. Dia hanya bisa memandang kesal Nina yang terus berjalan mengikuti Rahma. Pupus sudah harapannya menjodohkan anaknya dengan Abi.


Dari jarak yang agak jauh Abi terus memperhatikan sang mama yang terus membawa Nina berkeliling sambil mengenalkannya. Tatapan iri wanita dan pandangan memuja kaum adam pada Nina tak luput dari perhatiannya.


Abi mengakhiri pembicaraannya dengan rekan bisnisnya. Sudah cukup dia melihat pemandangan yang membuat hatinya panas. Para lelaki terus saja melihat ke arah Nina. Bukan hanya wajah Nina yang begitu cantik malam ini, namun kebaya modern yang dikenakan memperlihatkan lekukan tubuhnya dengan jelas. Belum lagi bagian atas dibuat melebar hingga tulang selangka Nina terekspos bebas. Ditambah dengan gaya rambutnya yang dicepol sederhana memperlihatkan leher jenjangnya. Cantik dan seksi, itu yang tergambar dari sosok Nina saat ini.


“Ma, cukup perkenalannya.”


Abi menghentikan Rahma yang hendak mengenalkan Nina pada rekan bisnisnya yang lain. Tanpa menunggu persetujuan Rahma, Abi menarik tangan Nina lalu membawanya ke salah satu balkon yang cukup sepi. Dia melepaskan tangan Nina, lalu memperhatikan gadis itu dengan berkacak pinggang.


“Kenapa kamu pakai kebaya seperti itu? Biar kelihatan seksi, iya?”


“Mas kenapa sih? Ngga ada angin ngga ada hujan langsung marah-marah. Kurang sajen ya,” jawab Nina tak kalah ketus.


“Ini... seneng ya lihat bahu kamu dilihat banyak orang,” Abi menyentuh tulang selangka Nina.


“Ini kebaya mama yang pilihin. Kalau mas mau protes, protes aja ke mama.”


Abi melepaskan tuxedonya lalu memberikannya pada Nina. Gadis itu hanya dia memandang ke arahnya dengan tatapan tak mengerti.


“Pake ini, cepet.”


“Jangan aneh-aneh deh mas. Ngga mau.”


Kesal Nina tak menuruti keingiannya, Abi mendekat lalu menarik lengan kebaya yang dikenakan Nina.


BRETT


Seketika kedua lengan kebaya Nina robek.


“Mas!”


“Pakai ini atau aku robek lagi di bagian lain,” ancam Abi.

__ADS_1


Dengan kesal memakai tuxedo milik Abi. Tuxedo itu menjuntai sampai ke dekat lutut Nina. Jemari tangannya bahkan tak terlihat karena panjang lengan tuxedo melebihi panjang tangannya. Abi mengancingkan tuxedo hingga bahu Nina tertutup sempurna, lalu melipat di bagian lengan hingga ke pergelangan tangan.


“Mas Abi iih.. aku jadi kaya bebegig sawah gini.”


“Biarin.. kamu cuma boleh keliatan cantik dan seksi di depanku bukan di depan orang lain, ngerti.”


Nina memanyunkan bibirnya. Dibalik kekesalannya, terselip rasa bahagia. Abi cemburu padanya, yang artinya lelaki itu benar-benar mencintainya. Tak rela hanya penampilannya yang rusak, Nina juga merubah penampilan Abi. Dilipatnya lengan kemeja pria itu hingga ke siku lalu mengacak-acak rambut calon suaminya. Nina memandangi Abi sejenak.


Dih.. kenapa dia jadi tambah ganteng dan seksi sih.. aduh salah strategi nih gue.


“Udah puas? Mana lagi yang mau kamu acak-acak?” tantang Abi.


“Au ah.. kenapa mas Abi malah kelihatan tambah ganteng sih.”


Nina menutup mulut dengan tangannya, sadar telah keceplosan. Dia buru-buru membalikkan tubuhnya. Abi tersenyum lalu memeluknya dari belakang.


“Jadi aku tambah ganteng nih?”


“Ngga... biasa aja tuh.”


“Ok.. kalau gitu aku mau tanya ke cewek-cewek di sana aja.”


“Awas aja kalau berani!”


Abi tergelak lalu melepas pelukannya. Dia menggenggam tangan Nina kemudian membawanya masuk kembali ke ruangan. terlihat Teddy melambaikan tangannya ke arah Abi, memintanya mendekat.


“Mas duluan, aku haus.”


Abi mengangguk lalu melepaskan tangan Nina. Dia berjalan ke arah Teddy, sedang Nina menuju meja yang menyediakan minuman. Diambilnya segelas air mineral lalu meneguknya hingga habis. Tak dipedulikannya pandangan aneh orang-orang di sekitarnya yang melihat gaya busananya. Saat akan beranjak menuju Abi, tak sengaja telinganya menangkap percakapan beberapa pria di dekatnya.


“Katanya si Abi mau nikah lagi?”


“Iya, tadi gue dikenalin sama tante Rahma. Gila cantik banget calonnya Abi, seksi lagi.”


“Si Abi pinter banget kalau milih cewek. Dulu Fahira, sekarang Nina, cantik dua-duanya. Tapi kata gue sih cantikan Nina.”


“Percuma cantik kalau ngga setia. Lo tahu kan kasusnya dulu, si Fahira selingkuh sama si Vicko. Padahal secara fisik dia jauh di bawah Abi, soal duit apalagi. Tapi Fahira malah milih Vicko. Gue curiga si Abi letoy di ranjang hahaha...”


Gelak tawa langsung terdengar menyambut ucapan pria yang berambut ikal. Nina begitu geram mendengarnya. Disambarnya gelas berisi orange juice kemudian berjalan menuju pria yang tadi meledek Abi. dengan sengaja Nina menyenggol tubuh pria itu lalu menumpahkan orange juice tepat di bagian se**ngkangannya, hingga celana basah persis seperti orang mengompol.


“Ooopss sorry..” ucap Nina dengan wajah tanpa dosa.


Pria itu terkejut melihat celananya basah. Teman-temannya terbahak melihat bagian yang basah. Dengan geram tangan pria itu mencengkeram tangan Nina. Abi yang melihatnya dari kejauhan, bergegas menghampiri.

__ADS_1


“Heh! Punya mata ngga lo! Lihat nih celana gue sampai basah!”


“Kan tadi udah minta maaf. Ngga sengaja juga. Gue ganti deh celananya.”


Lelaki itu memandangi Nina yang berpakaian cukup aneh menurutnya. Melihat kecantikan Nina, dia mencoba mendapatkan keuntungan.


“Lo tahu harga celana gue berapa?”


“Berapa sih, coba sebutin. Gue beliin yang baru kalau perlu sama isi di dalemnya sekalian,” tantang Nina.


“Kurang ajar banget lo jadi cewe.”


Lelaki itu mencengkeram tangan Nina lebih kencang, membuat gadis itu meringis kesakitan. Seorang temannya yang mengenali Nina, mencoba mengingatkan lelaki itu namun terlambat.


“Ada apa ini?!”


Lelaki itu sontak melepaskan pegangannya. Nina berlari ke arah Abi lalu memeluk tangan calon suaminya itu. Wajahnya dibuat sememelas mungkin, seperti anak kucing yang membutuhkan perlindungan.


“Mas.. tolong aku. Dia kasar banget, padahal aku udah minta maaf sama dia. Dia marah gara-gara aku numpahin minuman ke celananya.”


Nina menunjuk bagian yang basah. Abi hampir saja tertawa, tapi segera ditahannya. Matanya menatap tajam pada pria yang merupakan anak salah satu rekan bisnis Teddy.


“Sekali lagi lo berani nyentuh calon istri gue, gue habisin lo!”


“Gue ngga akan nyentuh calon istri lo. Tapi pastikan sesudah nikah, lo puasin dia di ranjang, supaya dia ngga selingkuh seperti Fahira.”


Abi mengepalkan tangannya keras. Tubuhnya baru akan maju tapi segera ditahan oleh Nina. Gadis itu berjalan mendekat pada lelaki tadi. Nina bergerak cepat menekuk lututnya lalu menendang tongkat sakti lelaki itu.


“Aww.. brengsek.”


Wajah lelaki itu memerah menahan rasa sakit di bagian intinya. Tubuhnya sampai membungkuk ketika tongkatnya berdenyut nyeri.


“Sekali lagi gue denger lo hina calon suami gue, bakal gue bikin burung lo ngga bangun lagi selamanya.”


Lelaki itu tak menanggapi ucapan Nina. Dia masih saja memegangi miliknya yang terasa sakit. Teman-temannya pun tak ada yang berani bersuara. Ternyata kali ini Abi mendapatkan pasangan yang galaknya seperti macan betina. Nina berlalu meninggalkan para lelaki itu kemudian memeluk lengan Abi.


“Ayo pulang mas. Aku males lama-lama di sini.”


“Ayo.”


Abi menggandeng tangan Nina lalu keluar dari ballroom. Mereka langsung menuju mobil untuk pulang ke rumah. Selama dalam perjalanan tak ada pembicaraan, hanya gerak tubuh mereka saja yang berbicara. Tangan Abi terus menggenggam tangan Nina, sesekali kecupan didaratkan ke punggung tangannya.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Nina sangar juga, good job Nina😁


BTW ada yang tahu Bebegig sawah?


__ADS_2