KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Kenyataan Pahit


__ADS_3

“Saya terima nikah dan kawinnya Anita Rahmalia binti Agus Suparman dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan satu set perhiasan sebesar 50 gram dibayar tunai!”


“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya penghulu pada para saksi.


“SAH!” jawab Abi dan Juna bersamaan. Kakak beradik itu memang diminta menjadi saksi pernikahan Darmawan dengan Nita.


Semua yang hadir langsung mengucapkan syukur. Prosesi akad nikah berjalan dengan lancar dan khidmat. Pria itu sengaja melangsungkan akad pada sore hari, hingga tidak ada jeda terlalu lama untuk resepsi. Awalnya Nita menolak diadakan resepsi, namun Darmawan memaksa. Dia mendengar dari Zahra kalau dulu sama menikah kedua orang tuanya hanya mengadakan akad saja dengan dihadiri dua keluarga tanpa ada resepsi.


Nita tak pernah menyangka di pernikahan keduanya ini, dirinya diperlakukan bak ratu saja. Impiannya memiliki kenangan pesta pernikahan, bersanding bersama sang suami di atas pelaminan diwujudkan oleh Darmawan. Pria itu bukan hanya berkata dan bersikap lembut padanya, tapi juga terlihat begitu menyayanginya.


Fikri dan Mentari langsung menghampiri Darmawan. Kedua anaknya itu memberikan ucapan selamat sekaligus doa untuk sang papa tercinta. Begitu pula dengan Zahra dan Silva, keduanya menghampiri Nita. Tangis Zahra tak bisa dibendung saat memeluk ibunya. Bukan tangis sedih tapi tangis bahagia. Gadis itu bersyukur, akhirnya sang mama bisa merasakan kebahagiaan, setelah bertahun-tahun hidup dalam penderitaan.


Usai memberi ucapan pada orang tua masing-masing, mereka bertukar tempat. Fikri dan Mentari menghampiri Nita. Keduanya mencium punggung tangan ibu sambungnya itu bergantian. Mentari memeluk erat Nita, dalam hatinya bersyukur, di usia senjanya sang papa bisa mendapatkan pendamping yang baik.


“Ma.. aku titip papa, ya. Kalau mama ada keluhan atau kesal dengan sikap papa, bilang aja sama aku, ma. In Syaa Allah, aku akan jadi jembatan untuk kalian. Terima kasih sudah mau menjadi pendamping untuk menemani hari-hari sepi papa.”


“Mama juga berterima kasih, kamu dan Fikri bisa menerima mama yang seperti ini. Semoga mama bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk kalian. Jangan sungkan untuk mengadu jika kalian memiliki masalah. Mama akan berusaha membantu sebisa mungkin dan pastinya akan mendoakan kalian yang terbaik.”


“Aamiin.. makasih, ma.”


“Mulai sekarang mama punya anak laki-laki. Selain papa, aku juga akan menjaga mama juga Zahra dan Silva. Karena mereka sekarang adik-adikku juga.”


Ucapan Fikri sukses membuat genangan air yang sedari tadi sudah menggelayut luruh juga ke pipinya. Betapa Nita terharu mendengar perkataan anak sambungnya ini. Fikri berjalan mendekat kemudian memeluk Nita. Pria itu seperti merasakan kembali pelukan hangat seorang ibu yang tak pernah dirasakannya lagi semenjak ibunya meninggal dunia.


Di sisi lain, Zahra dan Silva juga tengah bersama Darmawan. Silva tak dapat berkata apa-apa. Gadis belia itu hanya bisa menangis bahagia. Kasih sayang seorang ayah yang tak pernah dia dapatkan, akhirnya bisa diperoleh dari Darmawan. Begitu pula dengan Zahra yang merasakan keharuan begitu dalam.


“Zahra.. Silva.. sekarang kalian adalah anak-anak papa. Jangan ragu dan sungkan untuk mengatakan atau meminta apapun. Fikri dan Mentari juga kakak kalian. Kita adalah satu keluarga utuh mulai sekarang. Semoga papa bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian.”


“Terima kasih, pa. Terima kasih papa sudah mau menerima kami. Aku titip mama, pa. Tolong bahagiakan mama,” airmata Zahra luruh saat mengatakan itu semua. Darmawan hanya menganggukkan kepalanya seraya menarik kedua gadis itu ke dalam pelukannya.


Semua yang ada di sana ikut terharu menyaksikan keharmonisan keluarga Darmawan dan Nita yang baru saja disatukan dalam ikatan suci pernikahan beberapa menit yang lalu. Nina menyeka sudut matanya berair, idenya menjodohkan Darmawan dengan Nita akhirnya terwujud juga. Abi memeluk bahu istrinya kemudian mengecup puncak kepalanya dengan mesra.


“Semua berkatmu, sayang,” ujar Abi yang hanya dibalas Nina dengan pelukan di pinggang suaminya itu.


Setelah melewati serangkaian acara yang mengharu biru. Para tamu yang hadir menyaksikan janji suci itu dipersilahkan untuk menikmati hidangan. Masih tersisa waktu dua jam sebelum acara resepsi digelar. Masing-masing mengambil tempat untuk menikmati hidangan yang tersedia.


Kenan menarik tangan Zahra kemudian membawanya keluar dari ballroom. Pemuda itu terus melangkahkan kakinya menuju taman yang ada di dekat kolam renang dengan tangan sang kekasih dalam genggamannya. Sesampainya di sana, dia melepaskan genggamannya kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya.


“Za..”


Kenan memperlihatkan benda yang ada di tangannya. Sebuah kalung dengan liontin lumba-lumba bermata di kedua sisinya. Zahra hanya terpaku saja melihat pemberian Kenan. Pemuda itu lalu memasangkan kalung tersebut ke leher sang kekasih.


“Lumba-lumba adalah salah satu hewan yang setia. Kalung dengan liontin ini menggambarkan kesetiaanku padamu.”


Kenan merapihkan kembali rambut Zahra setelah memasangkan kalung tersebut. Pemuda itu nampak bingung melihat Zahra yang masih bergeming, bahkan mata gadis itu nampak berkaca-kaca.


“Za.. kenapa? Kamu ngga suka?”


Alih-alih menjawab pertanyaan Kenan, Zahra menghambur ke arah pemuda itu lalu memeluk pinggangnya erat. Tangan Kenan bergerak mengusap punggung Zahra saat tahu kekasihnya itu tengah menangis.


“Kenapa Za?”


“Aku bahagia, Nan,” jawab Zahra di sela tangisnya.


“Bertemu denganmu membawa kebahagiaan, bukan hanya untukku tapi juga untuk mama dan Silva. Terima kasih,” lanjutnya.


Perlahan Zahra mengurai pelukannya. Kenan menghapus sisa airmata di wajah cantik kekasihnya. Pemuda itu membungkukkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan Zahra lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


“Kamu juga angerah terindah yang datang dalam hidupku. Kita berdua dipertemukan untuk saling mengisi dan melengkapi.”


Senyum Zahra terbit mendengar ucapan pria di depannya. Setelah sah bertunangan, ucapan absurd Kenan berubah menjadi kebucinan yang hakiki. Tak jarang wajah Zahra bersemu merah tiap mendengar gombalan pemuda itu.


Melihat senyum Zahra, tak ayal membuat pria itu tersenyum. Netranya yang semula memandang mata sang kekasih beralih ke arah bibir. Jantungnya berdegup kencang saat membayangkan dirinya mel*mat bibir ranum itu. Perlahan Kenan mendekatkan wajahnya, Zahra yang tahu maksud sang kekasih, refleks memejamkan matanya. Semakin lama jarak di antara keduanya semakin dekat dan


MEONG!!


Keduanya terkejut ketika tiba-tiba seekor kucing bergerak cepat melintasi sela-sela kaki mereka, membuat Zahra beringsut mundur. Kenan menghembuskan nafasnya kasar, kucing belang itu menggagalkan usahanya merasakan bibir kenyal kekasihnya. Tak ingin kembali khilaf, pemuda itu mengajak Zahra kembali ke ballroom.


☘️☘️☘️


Pesta resepsi mulai digelar. Satu per satu tamu undangan mulai berdatangan. Beberapa kolega Darmawan cukup terkejut mendengar pernikahan pria itu yang terkesan mendadak. Namun mereka maklum, mungkin saja Darmawan tengah mengejar waktu sebelum anak gadisnya naik ke pelaminan.


Mobil yang dikendarai Sandi dan Risma nampak memasuki pelataran parkir hotel Arjuna. Mereka berputar-putar sebentar untuk mencari tempat parkir yang kosong. Setelah menemukan tempat kosong, Sandi segera memarkirkan kendaraannya. Tak lama keduanya turun dari kendaraan roda empat tersebut. Sambil menggamit tangan Sandi, Risma berjalan memasuki lobi hotel.

__ADS_1


Suara wedding singer langsung terdengar ketika pasangan suami istri itu memasuki ballroom. Ternyata sudah banyak tamu undangan yang hadir. Mata Sandi berkeliling, mencoba mencari sosok mantan istrinya.


“Mas, ayo langsung ke pelaminan aja,” ajak Risma.


“Bentar, ma.”


Sandi masih saja melihat sekeliling, berharap Nita juga hadir di sana. Beberapa hari terakhir, pria itu kerap memikirkan mantan istrinya itu. Melihat penampilan terakhir Nita, membuat dada Sandi kembali bergetar saat bertatapan dengan matanya. Tiba-tiba ada keinginan untuk kembali pada mantannya itu.


“Pa.. ayo,” ajak Risma.


Belum keduanya melangkah ke pelaminan, tiba-tiba mereka dihadang oleh tiga orang wanita berusia lanjut. Mata Risma membulat melihat ketiga wanita tua yang kerap membuat kepalanya pusing setiap menjadi sukarelawan di panti jompo ternyata datang ke resepsi malam ini.


“Kalian mau ngapain ke sini?” tanya Risma.


“Ya kita-kita diundang,” jawab Sri.


“Kita kan bestie sama pengantin wanitanya,” timpal Rita.


“Friend you know,” lanjut Dina.


“Oh ya ampun, gantengnya. Mirip seperti mantanku,” Sri melihat ke arah Sandi kemudian mendorong Risma. Dia segera menggantikan posisi Risma, menggamit lengan Sandi dengan mesra.


“Eh.. jangan seenaknya peluk-peluk suami orang.”


Risma yang hendak menjauhkan Sri dari suaminya, segera ditarik menjauh oleh Dina. Sandi berusaha melepaskan diri dari pelukan Sri, namun wanita itu malah semakin erat memeluk lengannya. Ditambah Rita ikutan mendekat, lalu dengan santainya mencubit kedua pipinya.


“Ya ampun, gantengnya… utuk.. utuk… utuk.. beneran mirip mantanmu, Sri?”


“Iyo.. mirip pake banget. Jangan-jangan kamu anaknya ya?”


“Anak siapa?” tanya Sandi bingung.


“Tarjo, mantan pacarku dulu sebelum aku nikah sama Toyib. Bapakmu Tarjo bukan?”


“Bukan,” jawab Sandi kesal. Beberapa kali dia mencoba melepaskan diri, namun pelukan Sri begitu erat di lengannya.


“Lepasin suami saya, dong. Kita mau kasih ucapan selamat sama pasangan pengantin,” kesal Risma.


Risma memutar bola matanya malas. Namun demi bisa lepas dari ketiga wanita tua ini, dia terpaksa menyetujuinya. Wajah Sri nampak sumringah, otaknya mulai berpikir mencari pertanyaan yang sulit dijawab oleh Risma.


“Ada ayam empat, yang lari tiga, tinggal berapa?”


“Ya satu, lah.”


“Salah.”


“Bu Sri ngga bisa hitung? Empat dikurang tiga ya satu.”


“Tapi salah jawabanmu.”


“Ya terus berapa jawabannya?”


“Yakin nyerah? Kalo nyerah, bayarannya aku cium pipi suamimu.”


Sandi langsung menggelengkan kepalanya dengan kencang. Posisi pria itu juga tengah terjepit di antara Sri juga Rita. Dan Dina berjaga di depannya. Dengan pasrah Risma menganggukkan kepalanya. Mata Sandi membulat melihatnya.


“Jawabannya ya tetap empat.”


“Kok bisa?”


“Ya bisa. Kan yang tiga cuma lari di tempat,” Sri terkikik geli. Tanpa menunggu aba-aba, Rita segera mendaratkan ciuman di pipi kanan Sandi.


“Pertanyaan kedua. Kenapa mayat dibungkus pake kain kafan warna putih?”


Risma berpikir sejenak, dia tak ingin terkena jebakan lagi. Namun setelah lima menit berlalu, Risma masih belum bisa menemukan jawabannya. Akhirnya dengan pasrah wanita itu menggelengkan kepalanya.


“Kalau dibungkus daun pisang, nanti disangkanya lemper, hihihi..”


Risma hanya bisa mendengus kesal mendengarnya. Sandi pasrah saja saat Sri mencium pipi kirinya. Mimpi apa dia semalam mendapatkan ciuman berturut-turut dari para manula ini. Melihat wajah Risma yang cemberut membuat Sri semakin bersemangat.


“Pertanyaan terakhir. Kenapa becak rodanya tiga?”


“Ya kalau dua, namanya motor.”

__ADS_1


“Salah.”


“Kalau bannya empat, jadinya mobil,” celetuk Sandi.


“Salah.”


“Biar penumpangnya bisa duduk enak,” jawab Risma lagi asal.


“Salah.”


“Terus apa?”


“Mana kutahu, mikirin hidupku sendiri udah mumet, ngapain juga aku mikirin kenapa becak rodanya tiga.”


Baik Risma maupun Sandi melongo sekaligus geram mendengar jawaban Sri. Dina menyunggingkan senyuman semanis madu saat mendekati Sandi. Dia mengusap bibirnya dengan saliva. Dipegangnya kepala Sandi dengan kedua tangannya kemudian mendaratkan ciuman di kening pria itu lengkap dengan salivanya.


Sandi langsung mengambil sapu tangan dari saku jasnya setelah pegangan Sri dan Rita terlepas. Segera diusapnya bekas saliva Dina yang menempel di keningnya. Risma segera mendekati suaminya. Ketika mereka hendak pergi, kembali ditahan oleh Charlie’s Angels tersebut.


“Apalagi?” ketus Risma.


“Selfie dulu,” ujar Sri.


“Minggir dulu,” Dina kembali menarik Risma menjauh dari Sandi.


“Kamu fotoin, yo.”


Sri menyerahkan ponselnya ke tangan Risma. Kemudian dengan cepat ketiga wanita itu mengelilingi Sandi. Pria itu hanya pasrah saja mereka berpose seakan dirinya adalah sultan yang dikelilingi tiga wanita. Kalau bukan para manula yang berfoto dengannya, pasti Sandi akan senang sekali. Namun apa daya, yang menempel ternyata tiga orang wanita cantik pada masanya dulu.


Setelah memenuhi semua keinginan trio lansia tersebut, akhirnya Sandi dan Risma berhasil melepaskan diri. Mereka berjalan menuju panggung pelaminan yang sudah tidak dipenuhi tamu undangan. Kening keduanya berkerut melihat di atas panggung pelaminan hanya nampak Darmawan dan seorang wanita yang belum bisa mereka lihat wajahnya. Sandi menghentikan salah satu anak buahnya yang baru saja selesai memberikan ucapan selamat.


“Siapa yang nikah?”


“Pak Darmawan.”


“Hah? Sama siapa?” tanya Risma.


“Ngga tau, bu. Ngga kenal saya. Misi, pak, bu.”


Pria itu bergegas meninggalkan Sandi dan Risma. Diliputi penuh tanda tanya, pasangan itu mulai menapaki tangga menuju panggung pelaminan. Mereka semakin mendekati Darmawan, dan pengantin wanita yang tengah membelakangi mereka. Dia sedang berbincang dengan Mentari.


“Pak Darma, selamat. Maaf, saya kira Mentari yang akan menikah,” ujar Sandi.


“Tidak apa-apa. Mohon maaf karena mendadak, saya tidak bisa menyebar undangan. Terima kasih atas kedatangannya.”


“Selamat pak Darma, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah,” ujar Risma.


“Aamiin.. terima kasih untuk doanya, bu Risma. Oh iya, kenalkan ini istri saya. Sayang..”


Sang pengantin wanita yang tak lain adalah Nita membalikkan tubuhnya. Seketika Sandi dan Risma diam membeku di tempatnya. Mata Sandi menatap tak berkedip pada mantan istrinya. Entah mengapa ada rasa sakit sekaligus perih menjalari hatinya begitu tahu wanita yang dinikahi atasannya adalah sang mantan.


Berbeda dengan Sandi, seketika Risma merasakan pasokan oksigen di sekitarnya menipis. Dadanya terasa sesak dan paru-parunya seperti berhenti bekerja. Sambil mengangkat jarinya ke arah Nita, tangan sebelahnya memegangi dadanya.


“Ka.. ka.. kamu.. Nit…a.”


Usai mengatakan itu, tubuh Risma jatuh terkulai di panggung pelaminan. Sandi yang masih terbengong baru sadar ketika mendengar Darmawan memanggil nama istrinya. Dengan cepat pria itu berjongkok lalu meraih tubuh istrinya. Ditepuk-tepuknya pelan pipi istrinya itu seraya memanggil namanya.


“Ris.. Risma.. sadar Ris.. Risma.”


☘️☘️☘️


Terima kasih mamake ucapkan untuk semua doanya, alhamdulillah keadaan mulai membaik. Terima kasih atas bantuan kalian semua. Perlahan rate mulai merangkak naik🙏


Kalau tidak merepotkan, ditoel lagi ya habis baca nanti🙏


Yang masih belum tahu caranya, lihat gambar di bawah ini 👇 klik yg mamake lingkari ya



Untuk pembaca My Hot Guys di rumah sebelah, mohon maaf semalam ada kesalahan up. Silahkan dicek ulang ya🙏


Mamake juga sudah up novel baru di sana, ceritanya lebih ringan dari novel sebelumnya. Kisah scandal yang dialami Arland, Tessa, Raisya dan Keysha. Ketik aja judulnya di kolom pencarian. Ini covernya👇


__ADS_1


__ADS_2