KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Disturbing


__ADS_3

Pesta masih terus berlangsung. Para tamu masih banya yang berdatangan. Waktu resepsi memang masih tersisa satu jam lagi. Di salah satu meja, Kenan bersama para sahabatnya tengah bersiap untuk tampil. Band-nya ini memang dijadwal untuk mengisi acara hiburan saat resepsi. Sang MC kembali memegang mic-nya ketika para wedding singer selesai menyanyikan lagu.


“Selamat datang bagi para tamu undangan yang baru saja tiba. Silahkan mencicipi hidangan yang kami sediakan. Dan untuk menemani bapak dan ibu sekalian, kami panggilkan kumpulan anak muda berbakat yang tergabung dalam sebuah band untuk menghibur kalian semua. Please welcome, The Myth!”


“Sumpah ya Nan, nama band lo ngga banget. Ganti napa,” gerutu Anya.


“Keren artinya,” kilah Kenan.


“Iya gue tahu. Tapi itu kalau didenger di kuping ngga enak. The Myth yang lo maksud kan pake bahasa Inggris, tapi kalo dalam bahasa Indonesia kedengarannya demit tau ngga?”


“Ah elah ribet amat lo, Nya,” timpal Revan.


“Tapi ngga usah diganti deh. Nama itu cocok buat kalian. Lo pada kan emang jelmaan setan semua hahaha..”


“Dan elo kuntinya,” sambar Viren.


Pria itu lalu mengalungkan sebelah lengannya di leher Anya, membawa gadis itu menuju ke panggung, menyusul langkah Kenan. Di belakang mereka, Revan dan Haikal mengekor. Anya berusaha melepaskan diri dari Viren tapi pria itu malah berjalan semakin cepat, membuat Anya terseok.


Alisha yang duduk di dekat panggung menatap kedekatan Viren dan Anya tanpa ekspresi. Semenjak aksi penyelamatan Viren tempo hari, cara gadis itu memandang adik dari Ravin tersebut menjadi berbeda. Tak jarang jantungnya berdegup kencang ketika berdekatan dengan pria itu.


Gadis itu terjengit ketika tiba-tiba Irvin duduk di dekatnya. Pria bertubuh jangkung itu memperhatikan Alisha sejenak. Terngiang kembali ucapan sang papa yang memintanya melakukan pendekatan pada Alisha. Sepertinya orang tuanya juga orang tua Alisha berusaha menjodohkan dirinya dengan gadis itu.


Lamunan Irvin buyar ketika mendengar suara drum yang ditabuh oleh Viren. Seketika suasana ballroom dipenuhi oleh musik yang cukup menghentak. Kenan bersiap di depan stand mic dengan gitar tersampir di bahunya. Suara merdu pemuda itu terdengar ketika menyanyikan lagu milik Van Halen, I can’t stop loving you.


Zahra tertegun melihat aksi Kenan di atas panggung. Harus diakui pemuda itu memang memiliki daya tarik tersendiri, wajah tampan, suara merdu dan gaya yang keren saat tampil di atas panggung. Hanya saja gadis itu tak tahan dengan kepedean pemuda itu ditambah dengan gombalan receh plus mulutnya yang tak berhenti mengoceh seperti ember bocor.


Di lain tempat, Jihan juga tengah menikmati wajah tampan dan suara merdu pria yang diam-diam sudah dicintainya. Gadis itu membayangkan Kenan menyanyikan lagu bergenre rock namun sarat akan pesan cinta padanya. Tanpa sadar Jihan menyunggingkan senyuman. Tangannya terus merekam aksi Kenan lewat ponselnya.


Dua orang pemuda melintasi meja yang ditempati Aric, Ezra, Barra, Ravin dan Fathan. Melihat kendang yang dibawa kedua orang tersebut membuat Aric curiga. Apalagi dia melihat Anya naik ke atas panggung setelah Kenan menyelesaikan lagu pertamanya. Pemuda yang tadi membawa kendang juga ikut naik ke atas panggung lalu mengambil posisi di sisi kanan dan kiri Viren.


“Kok feeling gue ngga enak ya,” celetuk Aric.


“Kenan ama Anya ada di atas panggung. Udah pasti ada hal luar binasa hahaha,” sahut Ezra yang sudah tahu watak kedua sepupunya ini.


“Bakalan ada hobah ini,” timpal Fathan.


“Sama serr,” sambung Ravin.


“Siap-siap jempol digoyang,” lanjut Barra yang langsung disambut gelak tawa lainnya.


Melihat dua orang yang diundangnya sudah siap di posisinya masing-masing, dengan isyarat kepala, Kenan meminta Anya untuk mendekat. Anya mengambil mic lalu berdiri di dekat Kenan. Kali ini mereka akan bernyanyi duet.


“Selamat malam semuanya. Apa kalian terhibur?” tanya Kenan.


“Yuhuuuu... tambah bro!” celetuk salah satu tamu yang hadir.


“Oke.. selanjutnya kami akan menyanyikan sebuah lagi yang sangat terkenal pada masanya. Musik!!”


Haikal mulai memainkan bassnya yang kemudian disusul oleh suara gitar Ravin. Kenan menyampirkan gitar ke belakang punggungnya. Kali ini dia hanya akan fokus bernyanyi saja tanpa memainkan gitarnya. Mendengar alunan lagu senorita, sontak tamu undangan yang berasal dari kalangan muda menggerakkan tubuhnya mengikuti irama lagu.


Anya memulai nyanyiannya, mengambil part Camila Cabelo. Suara merdu Cakra dan Sekar memang menurun pada anak bungsunya itu. Kenan menyambung lagu dengan menyanyikan part Shawn Mendes. Para gadis yang ada di ballroom menjerit histeris melihat Kenan yang nampak seksi ketika menyanyikan lagu tersebut.


Part reffrain dinyanyikan duet oleh Anya dan Kenan. Bukan itu saja, mereka juga menunjukkan bahasa tubuh yang seakan mencerminkan keduanya adalah pasangan yang dimabuk cinta. Tangan Anya tersampir di pundak Kenan dengan mata saling memandang.


“Cih.. dasar playboy,” cibir Zahra melihat aksi romantis Anya dan Kenan.


Sementara itu, Jihan semakin bergulung dengan kecemburuannya. Hatinya terus membenarkan dugaan kalau antara Kenan dan Anya memiliki hubungan khusus, selain hubungan persaudaraan. Bukan hanya Jihan, semua orang yang tak tahu hubungan Kenan dan Anya pasti akan menyangka kalau kedua orang itu adalah pasangan kekasih.


Kenan dan Anya masih menyanyikan part lagu secara bersama dengan gaya berdansa. Namun kemudian irama musik mulai berubah. Pemuda yang baru saja bergabung mulai menabuh kendangnya. Seketika lagu senorita berubah genre menjadi koplo. Anya dan Kenan langsung merubah gaya berjoged mereka menjadi style dangdut.


“I love it when you call me señorita..."

__ADS_1


“Ayo semuanya digoyang!!”


Teriak Kenan seraya mengangkat kedua jempolnya ke udara diikuti oleh Anya. Keduanya lalu mulai meliuk-liukkan tubuhnya bergerak mengikuti irama koplo. Bahkan beberapa kali Anya memperagakan goyangan gergaji dan juga patah-patah, membuat para pria yang menonton menyorakkan suaranya.


Aric hanya mampu menepuk keningnya melihat kelakuan sang adik. Barra dan yang lainnya juga tak berhenti terpingkal. Abi menyembunyikan wajahnya di belakang punggung sang istri. Anak bungsunya benar-benar memberikan hiburan yang mengejutkan.


Tak berbeda dengan Abi, Kenzie menundukkan kepalanya seraya menutupi wajah dengan sebelah tangannya. Lain lagi dengan Nara yang terlihat begitu menikmati penampilan Kenan dan Anya. Kalau tidak melihat suaminya, mungkin dirinya sudah naik ke atas panggung dan berjoged bersama adik iparnya. Diam-diam gadis itu menggerakkan tangannya mengikuti irama lagu.


Usai menyanyikan senorita, Kenan dan Anya kembali menyanyikan lagu dengan genre koplo. Suasana pesta resepsi semakin terasa riuh dengan penampilan Kenan beserta band-nya. Mereka turun dari panggung setelah menyuguhkan empat lagu lalu kembali ke mejanya semula.


Mata Alisha kembali mengawasi pergerakan Anya dan Viren. Keduanya duduk bersebelahan dan terlihat asik mengobrol. Viren adalah tipe pria yang irit bicara, namun tidak jika bersama dengan Anya. Gadis itu selalu saja mempunyai cara untuk membuat Viren mengoceh.


Dada Alisha berdesir ketika Viren melihat ke arahnya. Sesaat pandangan mereka bertemu, namun Alisha langsung membuang pandangannya ke arah lain. Dilihatnya Irvin yang tengah sibuk berbalas pesan, entah dengan siapa. Alisha bangun dari duduknya lalu berjalan keluar ballroom. Gadis itu berjalan menuju toilet yang ada di samping kanan ballroom.


Setelah menuntaskan hajatnya, Alisha berdiri di depan wastafel untuk mencuci tangan serta merapihkan rambutnya sebentar. Diambilnya lipsik dari dalam tas lalu memoleskan lagi ke bibirnya. Selesai merapihkan diri, Alisha keluar dari toilet. Sedikit lagi dirinya sampai ke ballroom, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. Alisha terdiam sejenak, gadis itu tak berani menolehkan kepalanya mendengar suara yang begitu dikenalnya.


“Al..” panggil orang itu lagi. Alisha memejamkan matanya sejenak. Sambil mengepalkan kedua tangannya gadis itu membalikkan tubuhnya. Dihadapannya berdiri seseorang yang tak ingin ditemuinya lagi.


“Al.. apa kabarmu?”


“Mau apa kamu ke sini?”


“Apa aku tidak boleh bertemu denganmu?”


“Mau apa kamu ke sini?!” Alisha mengulangi pertanyaannya. Kali ini dengan suara yang sedikit meninggi.


“Ada apa denganmu, Al? Kenapa kamu kasar seperti ini? Kemana Alisha yang lemah lembut.”


“Haaahh.. Alisha yang lugu dan lemah lembut itu sudah lama hilang. Apa kamu lupa siapa yang membuatku seperti ini?”


Alisha menatap nanar ke arah Lisda. Pengasuh yang dulu begitu disayanginya namun menusuknya dari belakang hingga menimbulkan luka yang cukup dalam untuknya. Gadis itu tak pernah menyangka, Lisda masih punya nyali untuk menemuinya. Padahal jelas-jelas Juna telah melarangnya secara tegas.


“Al..”


Tangan Alisha terentang ke depan, menghentikan langkah Lisda yang berusaha mendekatinya. Namun wanita itu tak mempedulikan larangan gadis itu. Dia tetap melangkah mendekat membuat Alisha beringsut mundur. Saat jarak Lisda semakin dekat, seseorang menghalangi langkahnya.


“Apa telingamu tuli? Dia bilang jangan mendekat!”


Lisda meneguk ludahnya kasar melihat Viren yang berdiri di depannya sambil menatap tajam ke arahnya. Tak ingin menimbulkan masalah, wanita itu bergegas pergi. Viren segera membalikkan tubuhnya ke arah Alisha.


“Kamu ngga apa-apa?”


“I.. iya bang.”


Melihat wajah Alisha yang sedikit pucat, Viren mendekat lalu membimbing Alisha masuk kembali ke dalam ballroom. Dia mengantarkan gadis itu ke meja yang ditempati Ezra. Pria itu terkejut melihat keadaan adiknya.


“Al.. kamu kenapa?”


“Bu Lis..da, dia tadi ke sini kak.”


“Mau apa dia?” geram Ezra.


Tak ingin Alisha bertambah panik, Ezra meminta adiknya itu duduk di sampingnya. Dipeluknya Alisha yang masih terlihat shock. Gadis itu masih memiliki trauma mendalam akan sosok Lisda.


Aric, Fathan, Barra dan Ravin beranjak dari duduknya lalu bergegas keluar ballroom. Setelah beberapa saat mencari, mereka tak menemukan sosok Lisda. Keempatnya kembali ke ballroom. Saat akan menuju mejanya, mata Aric menatap Naya yang tengah melihat ke arah pelaminan. Pria itu terdiam sejenak menatap sang kekasih dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemudian kembali melangkah menuju mejanya.


☘️☘️☘️


Waktu menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh menit. Resepsi pernikahan Kenzie dan Nara sudah berakhir dua puluh menit yang lalu. Para tamu sudah pulang, anggota keluarga juga sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Di ballroom hanya menyisakan para pegawai hotel dan staf WO yang membereskan sisa-sisa pesta.


Dengan langkah panjang Kenzie kembali ke kamarnya. Tadi, pria itu berbincang sebentar dengan para sahabatnya di lobi hotel. Kini waktunya untuk bertemu san istri dan melanjutkan sesuatu yang tertunda tadi. Dengan kunci akses yang dimilikinya, Kenzie masuk ke dalam kamar pengantinnya yang bertipe suite room.

__ADS_1


Pria itu terkejut meilhat Nina dan Adinda masih ada di ruangan depan. Mereka asik berbincang dengan Nara. Kenzie memilih langsung ke kamar lalu membaringkan tubuhnya di kasur tanpa melepas sepatunya. Sepuluh menit berlalu, namun belum ada tanda-tanda mama dan mama mertuanya akan pergi.


Kenzie menegakkan tubuhnya lalu turun dari ranjang. Dibukanya tuxedo yang masih melekat di tubuhnya, disusul dengan sepatunya. Tanpa suara pria itu melangkah keluar kamar lalu mengintip. Nampak Nina, Adinda dan Nara masih asik berbincang. Dia menghembuskan nafasnya kasar.


Beberapa kali Kenzie mondar-mandir di kamarnya. Dia menggerutu kesal karena para mama masih bertahan di kamarnya tanpa mempedulikan dirinya yang sudah hampir di ambang batas. Ingin rasanya dia menarik kedua wanita itu keluar dari kamar, namun tak berani. Dia tak mau menjadi anak durhaka. Akhirnya pria itu mengambil langkah akhir. Dirogohnya saku celana untuk mengambil ponselnya. Dengan cepat Kenzie mengirimkan pesan pada papa dan papa mertuanya.


To Big Boss :


Pa.. tolong jemput istri papa. Emang papa ngga mau cepet punya cucu apa?


To PapaJo :


Pa.. tolong jemput mamaDi, ya. Aku mau istirahat.


Kenzie meletakkan ponsel di atas meja rias lalu melepaskan kemeja dan celana panjang yang melekat di tubuhnya. Kemudian pria itu masuk ke kamar mandi. Dia memilih membersihkan tubuh lebih dulu. Berharap setelah ritual mandinya selesai, para mama telah kembali ke habitatnya masing-masing.


Di ruang depan, pembicaraan tiga orang wanita masih berlanjut. Nina dan Adinda memang sengaja menemui Nara. Keduanya memberikan nasehat seputar pernikahan. Selain itu, keduanya juga mengedukasi anak dan menantunya tentang bagaimana memuaskan sang suami. Beberapa kali wajah Nara nampak merona mendengarkan tips-tips yang diberikan kedua mamanya.


Pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar suara bel. Nina beranjak dari duduknya lalu membukakan pintu. Nampak suaminya juga Jojo berdiri di depan pintu. Dengan isyarat kepala, Abi mengajak Nina pergi.


“Ra.. mama tinggal ya, papa udah jemput. Din.. pandamu juga udah jemput,” seru Nina.


Adinda memeluk anaknya kemudian berdiri dari duduknya. Wanita segera menyusul Nina yang sudah lebih dulu keluar kamar. Di depan pintu Jojo langsung menyambutnya. Direngkuhnya pinggang sang istri lalu membawanya pergi.


“Kamu ngapain lama-lama di kamar Nara?”


“Ngobrol aja, panda.”


“Sekarang bukan waktunya ngobrol buat Nara. Dia harus siap-siap nyicil cucu buat kita.”


Adinda mencubit pinggang suaminya. Keduanya berjalan menuju kamar mereka yang berselang lima kamar dari kamar pengantin. Begitu pula dengan Abi, pria itu menarik tangan sang istri masuk ke kamar yang ada di seberang kamar pengantin. Setelah menutup pintu, Abi langsung menarik pinggang Nina hingga tubuh mereka tak berjarak.


“Ngapain lama-lama di sana hmm?”


“Cuma kasih kiat-kiat bercinta sama Nara,” Nina terkikik geli.


“Kamu ngga tahu anakmu sudah ngga sabar mau cetak gol?”


“Ck.. justru aku harus kasih edukasi sama Nara. Kan hasilnya juga Ken yang nikmatin. Anak itu ngga sabaran banget. Persis kaya bapaknya. Aaaaa...”


Nina menjerit ketika tiba-tiba Nina mengangkat tubuhnya lalu membawanya ke atas ranjang. Bukan hanya Kenzie yang ingin mencetak gol, tapi pria itu juga ingin mengulang bulan madu untuk yang ke sekian kalinya.


☘️☘️☘️


Nara memunguti pakaian yang berceceran di lantai lalu menaruhnya di keranjang pakaian kotor. Sedangkan tuxedo digantungkan di lemari dan sepatu ditaruh di sisi lemari. Gadis itu lalu berdiri di depan meja rias, menatap pantulan dirinya dari cermin. Lingerie tipis berwarna maroon membalut tubuhnya. Dia sedikit malu melihat dirinya memakai pakaian kekurangan bahan ini.


Mata Nara melihat ke arah kamar mandi. Kenzie masih belum selesai dengan mandinya. Gadis itu lalu mendudukkan diri di sisi ranjang. Jujur saja, dia cukup gugup menghadapi malam pertamanya. Jantungnya berdegup kencang ketika terdengar pintu kamar mandi terbuka. Kenzie keluar hanya mengenakan handuk yang menutupi pinggangnya.


Nara menelan ludahnya kelat. Tubuh suaminya yang tegap, dada bidang, perut kotak-kotak plus tetesan air dari rambutnya yang masih basah sungguh membuatnya terlihat semakin seksi. Degup jantungnya semakin tak beraturan ketika otaknya berkelana begitu saja. Membayangkan tubuh tegap itu mengungkung dirinya.


“Mama udah pergi?” pertanyaan Kenzie membuyarkan lamunan Nara.


“I.. iya mas. Hmm.. mas mau pakai baju apa? Aku ambilin.”


Nara bangun dari duduknya lalu berjalan menuju lemari. Namun langkahnya tertahan ketika Kenzie memeluknya dari belakang. Harum aroma sabun yang menguar dari tubuh suaminya semakin membuat pikiran Nara berkelana. Kenzie meletakkan dagunya di ceruk leher Nara, lalu bibirnya mulai menelusuri leher putih itu.


"Ngga perlu pakai baju," bisik Kenzie.


Kecupan-kecupan kecil Kenzie berikan pada sang istri. Tangannya bergerak menurunkan tali linegrie lalu mengecupi bahu Nara. Tangan Kenzie bergerak ke atas, mengusap kemudian meremat bulatan kenyal yang membuatnya penasaran tadi sore. Sebuah lenguhan keluar dari bibir Nara begitu kedua tangan Kenzie meremat bukit kembarnya.


“Siap sayang?”

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2