
Nina berjalan sendirian memasuki area mall. Rencanya hari ini dia akan berbelanja untuk hantaran pernikahan dengan Rahma. Tapi ternyata calon mertuanya itu ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan.
Nina memasuki toko perhiasan tempatnya memesan cincin pernikahan. Pelayan yang bertugas segera mengantarkan cincin yang telah jadi. Rahma memilihkan cincin emas putih bermatakan dua buah berlian berukuran kecil di tengahnya, melambangkan dua hati menjadi satu. Sedang untuk Abi dibuatkan cincin berbahan titanium.
Setelah mengucapkan terima kasih, Nina keluar dari toko dengan membawa cincin tersebut. Dimasukkan cincin ke dalam tas, lalu dia melangkah menyusuri deretan tenant. Saat sedang berjalan, tanpa sengaja dia menabrak seorang pria. Seketika paper bag di tangan pria tersebut terjatuh. Nina berinisiatif mengambilkan tas yang terjatuh.
“Maaf..”
“It’s okay.”
Pria tersebut mengambil tas dari tangan Nina. Matanya menatap tak berkedip pada gadis itu. Tiba-tiba jantungnya berdegup lebih kencang ketika bersitatap dengan manik coklat Nina.
Setelah menyerahkan paper bag, Nina kembali berjalan melintasi pria itu begitu saja. Pandangan pria tersebut terus mengikuti Nina. Tanpa sadar kakinya melangkah mengikuti gadis itu. Dia mengikuti Nina masuk ke dalam toko tas. Saat sedang memperhatikan Nina, ponselnya berdering. Melihat siapa yang memanggil, pria tersebut keluar dari toko lalu menjawab panggilan.
“Halo..”
“...”
“Terus kamu nyerah begitu aja?”
“...”
“Aku ngga mau tahu. Sudah kubilang kalau kamu tidak bisa menaklukkannya, maka habisi dia. Dengan posisimu sekarang, kamu bisa lebih leluasa menyingkirkan Abi. Ingat, jangan sampai gagal. Dia adalah orang yang sudah membunuh kakakmu.”
Pria tersebut memutuskan panggilan kemudian kembali masuk ke dalam toko. Nina masih melihat-lihat tas yang terpajang. Dia bermaksud membelikan Lidya tas sebagai hadiah ulang tahun wanita itu minggu depan.
Nina menunjuk tas yang menarik perhatiannya. Sebuah tas berwarna putih susu dengan tali keemasan. Diam-diam pria yang memperhatikan Nina mendekat. Dengan gerakan cepat, dia mengambil pisau lipat dari saku celananya lalu menyayat bagian pinggir tas.
Nina mengembalikan tas setelah melihat harga yang tertera. Dia bermaksud mencari tas lain yang harganya lebih terjangkau. Saat kakinya hendak melangkah keluar toko, pelayan yang tadi melayaninya memanggil.
“Kak maaf..”
“Ya..”
“Ini.. kenapa tasnya jadi rusak mba?”
Nina terkejut, diambilnya tas dari tangan pelayan itu. Mulutnya menganga melihat pinggiran tas tersayat hingga tembus ke dalam tas.
“Aduh maaf mba.. bukan saya loh,” elak Nina.
“Tapi tadi waktu saya kasih tas ini ke kakak dalam keadaan baik kok. Tolong kak jangan seperti ini. Saya bisa dipecat kalau begini.”
“Tapi memang bukan saya mba..”
“Ada apa ini?”
Sebuah suara menyela perdebatan mereka. Laki-laki yang sedari tadi mengikuti Nina sudah ada di antara mereka. Pelayan tersebut langsung menunduk hormat pada lelaki tersebut.
“Ada apa?” tanyanya lagi.
“Maaf pak Mano, mba ini sudah merusak tas tapi tidak mau ganti rugi.”
“Karena saya ngga melakukannya. Mungkin aja tas itu memang sudah rusak sebelum saya melihatnya,” sangkal Nina tak mau kalah.
“Bisa saya lihat tasnya?”
Pria yang dipanggil Mano itu mengambil tas dari tangan pegawainya. Dia melihat bagian tas yang rusak karena ulahnya sendiri. Dia lalu melihat ke arah Nina.
“Kerusakannya parah mba. Ini tidak mudah diperbaiki. Kalaup pun saya kembalikan, kami tetap akan rugi 50%.”
“Tapi memang bukan saya yang merusaknya.”
“Begini saja. Saya akan membebaskan mba membayar kerusakan ini asal mba mau menemani saya makan malam.”
Nina memandangi lelaki di hadapannya. Tak ada yang salah dengannya, wajah tampan, tubuhnya juga atletis, bicaranya ramah tapi Nina tak menyukainya. Dia memandang dengan penuh curiga.
__ADS_1
“Kalau saya ngga mau?”
“Maka mba harus mengganti rugi kerusakan tasnya. Oh ya maaf atas ketidaksopanan saya. Perkenalkan saya Romano, biasa dipanggil Mano,” Mano mengulurkan tangannya pada Nina. Dengan asal Nina membalas uluran tangan pria itu sambil bergumam pelan.
“Kirain Manohara namanya.”
“Namanya siapa mba?”
“Anas,” jawab Nina asal. Dia tak berbohong, namanya memang Karenina Anastasia. Jadi tak salah kalau menyebut nama Anas.
“Anis maksudnya?”
“Anas.. daya pendengarannya kurang ya?”
Mano tertawa, dia semakin tertarik pada Nina. Gadis ini tidak mudah jatuh dalam pesonanya. Sikapnya yang nyeleneh dan sedikit bar-bar membuatnya semakin ingin mengenalnya.
“Jadi bagaimana? Mau makan malam dengan saya?”
Nina berpikir keras. Harga tas yang harus dia bayar sebesar seratus dua puluh lima juta rupiah. Sedangkan uang yang ada di atm-nya tak lebih dari lima puluh juta. Dari mana dia mendapat sisanya. Lalu Nina teringat akan atm yang diberikan Abi padanya.
“Saya mau ke atm dulu ya. Di mana atm terdekat?”
“Di lantai bawah kak.”
“Ok kalau begitu saya ke atm dulu.”
“Tapi..”
“Kenapa? Kamu takut saya kabur? Kalau gitu mba ikut aja sama saya.”
Pelayan itu melihat ke arah Mano. Pria itu mengangguk pelan. Akhirnya pelayan itu memilih menemani Nina menuju mesin atm. Sepanjang menuju anjungan tunai itu, Nina terus berdoa agar saldo yang ada di atm milik Abi cukup untuk membayar tas yang rusak.
Nina memasukkan kartu ke dalam mesin. Ditekannya enam digit nomor pin yang merupakan tanggal lahirnya. Dadanya berdebar menunggu tampilan saldo di layar. Mata Nina membelalak melihat saldo yang tertera. Dia menghitung angka nol yang terpampang di layar.
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. What lima ratus juta isinya. Oh mas Abi, I love you so much.”
“Bisa bayar pake kartu debet kan?”
“Bisa kak.”
“Ok.”
Nina dan pelayan tadi kembali ke toko. Dia lebih baik kehilangan uang ratusan juta dari pada harus makan malam dengan laki-laki yang tak dikenalnya. Semenjak menyandang status calon istri Abi, Nina senantiasa berhati-hati dalam bersikap. Tak ingin menyakiti hati laki-laki yang dicintainya.
Terlihat raut wajah kecewa dari Mano saat pelayannya menggesekkan kartu atm Nina untuk membayar tas yang dirusaknya. Pelayan itu membungkus tas yang rusak kemudian memberikannya pada Nina.
“Terima kasih kak. Silahkan berkunjung kembali.”
“Ogah.”
Nina langsung keluar dari toko tersebut. Mano terus memperhatikannya sampai punggung Nina tak terlihat lagi. Dalam hatinya bertekad untuk mendekati gadis itu bagaimana pun caranya. Hanya dalam satu kali pertemuan, gadis itu telah berhasil mencuri hatinya. Mano masuk ke dalam toko untuk mengambil gambar cctv. Dia harus mencari tahu semua tentang Nina.
☘️☘️☘️
Nina melangkahkan kakinya memasuki gedung perkantoran milik calon suaminya. Setelah insiden tas, dia memilih untuk segera menemui Abi. Dia bergegas menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai 19. Selama di dalam lift, Nina terus berpikir bagaimana caranya menyampaikan pada Abi kalau dia baru saja menghabiskan uang ratusan juta.
TING
Pintu lift terbuka. Suasana di lantai 19 begitu lengang. Nina melirik ke arah ruangan Cakra. Sayup-sayup terdengar suara Cakra sedang berbicara dengan seseorang. Nina terus berjalan hingga dia bertemu dengan Ruby di depan ruangan Abi.
“Selamat siang, mau bertemu siapa?”
Ruby sebenarnya mengenali Nina. Dia pernah melihat gadis itu datang ke kantor dan Abi bersikap mesra padanya.
“Saya mau ketemu pak Abi.”
__ADS_1
“Apa sudah buat janji?”
“Saya ngga perlu buat janji untuk ketemu pak Abi.”
“Maaf, tapi pak Abinya sedang sibuk. Tadi bapak berpesan untuk tidak menerima tamu satu pun juga. Silahkan kembali lain waktu,” usir Ruby.
Nina memandang Ruby sejenak. Dia lalu merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Jarinya menekan tombol satu cukup lama kemudian ponselnya langsung menghubungi Abi. Dengan sengaja dia me-loud speak panggilannya.
“Halo.”
“Halo mas. Aku lagi di depan kantormu, tapi sekretarismu bilang mas lagi sibuk. Aku pulang aja ya.”
“Jangan.”
Abi memutuskan panggilannya, tak lama kemudian pintu ruangannya terbuka. Abi keluar dari dalamnya. Nina tersenyum penuh kemenangan. Ruby hanya menundukkan kepalanya melihat aura Abi yang menakutkan.
“Ruby.. dengarkan saya. Nina adalah calon istri saya. Dia berhak masuk ke ruangan saya kapanpun dia mau, mengerti?”
“I.. iya pak.”
“Ayo sayang.”
Abi menggandenga tangan Nina lalu masuk ke dalam ruangan. Dia membawa Nina ke sofa. Mereka mendudukkan diri di sofa.
“Bagaimana belanjanya? Sudah selesai?”
“Ngga jadi mas. Mama mendadak ada acara, jadi tadi aku cuma ambil cincin pernikahan kita aja.”
Abi hanya manggut-manggut saja. Dia berdiri lalu berjalan menuju chiler. Diambilnya dua botol minuman dingin lalu memberikannya satu pada Nina. Abi kembali duduk di samping calon istrinya itu.
“Mas..”
“Hmm...”
“Ng.. aku.. minta maaf ya mas.”
“Minta maaf? Buat apa?”
“A.. aku udah pake uang di atm yang mas kasih.”
“Itu kan memang aku kasih ke kamu. Kenapa harus minta maaf hmm..”
“Aku abis pake banyak mas. Aku pake buat bayar tas yang rusak.”
Abi mengernyitkan keningnya. Nina menarik nafas panjang sejenak, lalu dia mulai menceritakan kejadian tak mengenakkan yang menimpanya. Tak lupa dia juga menceritakan tentang tawaran Mano padanya. Nina memilih untuk jujur dari pada Abi tahu dari orang lain nantinya.
“Emang berapa harga tasnya?”
“Seratus dua puluh lima juta mas. Maaf ya..”
Nina menangkupkan kedua tangannya. Abi menangkap kedua tangan Nina lalu membawa ke bibirnya. Dikecupnya punggung tangan kekasihnya itu.
“Kamu ngga perlu minta maaf. Terima kasih karena kamu sudah nolak ajakan laki-laki itu. Aku lebih rela kehilangan semua hartaku dari pada melihatmu bersama laki-laki lain.”
“Makasih mas..”
Abi menarik Nina ke dalam pelukannya. Nina balas memeluk pinggang Abi dan membenamkan wajahnya di dada bidang calon suaminya itu. Dihirupnya dalam-dalam aroma yang begitu disukainya. Aroma yang selalu membuatnya tenang dan merasa terlindungi.
Ruby membuka sedikit pintu untuk mengintip Abi dan Nina. Dadanya bergemuruh hebat melihat pasangan itu tengah berpelukan mesra. Dia mengepalkan tangannya dengan kencang. Rasa cemburu berbalut amarah terus meliputi hatinya.
Secepat itu kamu melupakan kakakku. Belum genap dua tahun dia pergi tapi kamu sudah beralih ke pelukan perempuan lain. Lihat saja Abi, aku akan membuatmu menderita, aku akan membuatmu menangis darah. Kamu harus mendapatkan balasan atas perbuatanmu pada kakakku.
☘️☘️☘️
Ada apa Antara Mano dengan Ruby? Dendam apa yang dimiliki Mano pada Abi?
__ADS_1
Sabar ya.. kita halalin aja dulu Abi sama Nina, gimana?