
“Ada apa sayang?”
“Ngga apa-apa.”
“Kamu pikir mas percaya?”
Nara menolehkan kepalanya ke arah Kenzie. Matanya kembali memanas dan buliran kembali luruh dari kedua matanya. Kenzie menghapus airmata yang sedari tadi terus keluar hingga membuat mata istrinya membengkak.
“Papa.. aku baru tahu soal papa dan papa Abi. Aku malu bertemu papa Abi. Aku juga malu melihat mas. Apa yang dilakukan papa….”
“Sssttt.. itu hanyalah masa lalu. Kita hidup bukan untuk menatap masa lalu, tapi masa depan. Lagi pula papa sudah melupakan itu semua. Kamu lihat, bagaimana hubungan mereka sekarang. Bahkan kita menikah karena usulan keduanya. Apalagi yang membebanimu? Jangan bersedih, papa juga ngga suka melihatmu seperti ini. Semua masa lalu, sayang. Aku yakin papaJo juga sudah menyesalinya.”
“Papa terlalu baik. Kalau terjadi sesuatu pada papa karena papaku, mungkin aku bisa mati, mas.”
“Ssstt… jangan bilang begitu. Semuanya baik-baik saja sekarang. Kalau situasinya dibalik, papaJo pasti akan melakukan hal yang sama. Jangan dipikirkan lagi, semuanya baik-baik saja.”
Kenzie memeluk Nara sejenak, kemudian mengurai pelukannya. Tanganya merangkum wajah Nara lalu memberikan l*matan lembut di bibir. Nara memejamkan matanya, ciuman Kenzie sedikit banyak mampu menenangkan hatinya.
☘️☘️☘️
Keadaan Abi membaik, pria itu bisa menikmati makan malam bersama dengan keluarganya. Mungkin juga doa dan kata-kata yang diucapkan anak dan menantunya yang membuatnya cepat pulih. Ditambah Nina yang selalu ada di sampingnya. Ravin juga ada di antara mereka. Mendengar Freya menjawab panggilannya sambil menangis, tentu saja membuatnya cemas dan bergegas mendatanginya.
Usai makan malam, mereka berkumpul di ruang tengah. Abi bermaksud menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Jojo di masa lalu. Dia tak ingin ada kesalahahpahaman di antara anak-anak mereka. Apalagi tadi Nara terlihat begitu terpukul. Beberapa kali menantunya itu menghindari bertatapan dengannya.
Semua sudah hadir di ruang tengah, termasuk Ravin. Seperti biasa, Nina selalu berada di samping Abi dan kini pria itu memanggil Nara untuk duduk di sampingnya. Awalnya wanita itu sempat ragu, namun Kenzie meyakinkannya. Akhirnya dia berpindah duduk di samping papa mertuanya.
“Keadaan papa sudah baikan?” tanya Ravin membuka percakapan.
“Alhamdulillah sudah.”
“Papa jangan sedih lagi,” sambung Freya.
“Iya sayang. Ada mama dan kalian di samping papa sebagai penyemangat papa.”
Nina mengusap lengan suaminya lalu menyandarkan kepala di sana. Dia tahu suaminya lelah dengan semua yang terjadi belakangan ini. Namun seperti biasa, pria itu selalu nampak tegar.
“Kalian pasti mendengar apa yang dikatakan om Vito saat di rooftop. Papa hanya ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bukan maksud papa atau yang lainnya menyembunyikan hal ini, hanya saja itu semua adalah masa lalu. Kesalahan kami di masa muda, yang sudah kami sesali dan bukan sesuatu yang harus selalu dikenang. Kejadian itu tak lebih hanya sebagai pengingat saja, kalau kami telah melakukan itu dan jangan sampai anak cucu kami melakukan kesalahan yang sama.”
Abi menjeda ucapannya sejenak. Sungguh dia enggan untuk kembali mengingat masa kelamnya dulu. Masa yang benar-benar ingin dilupakan. Menceritakan tentang Jojo sudah pasti dia akan menyeret nama Fahira ke dalamnya. Walau sudah memaafkannya, namun tak dapat dipungkiri masih tersisa kebencian di hatinya untuk wanita itu. Bagaimana pun juga, dia adalah manusia biasa.
Mulailah mengalir cerita masa kelam Abi, dimulai dari persahabatannya dengan Jojo dan Cakra, mengenal Anka sampai bertemu dengan Fahira. Cinta segitiga antara dirinya dengan Jojo dan Fahira yang tidak diketahuinya sampai meninggalnya Anka. Semenjak itu Jojo mulai menjauh dan memilih pindah ke Singapura bersama dengan Ronald, papa tirinya.
Cerita bersambung ke pernikahannya dengan Fahira. Betapa tersiksanya dia dengan pernikahan itu dan pengkhianatan demi pengkhianatan yang dilakukan wanita itu, hingga akhirnya semua terbongkar dan diakhiri dengan kecelakaan tragis yang menimpanya, Fahira juga Vicko.
Semua yang mendengar, menahan nafasnya. Freya dan Nan yang baru mendengar cerita ini hanya tergugu. Tak menyangka istri pertama sang papa begitu keji menyiksa batinnya. Kenzie yang sudah pernah mendengarnya pun tak bisa menahan kekesalan dan amarahnya. Walau terlihat tenang, namun raut wajahnya menunjukkan perubahan.
Isak Nara terdengar. Baik Abi maupun papanya ternyata mengalami masa sulit dengan versinya masing-masing. Airmatanya bertambah deras ketika Abi mulai menceritakan perseteruannya dengan Jojo yang mulai melibatkan Nina di dalamnya. Abi melihat sejenak ke arah Nara lalu merengkuh bahunya.
Pria itu terus bercerita bagaimana konflik terus berlanjut hingga dirinya dan Cakra dapat memberikan bukti atas tuduhan Jojo padanya. Hubungan yang akhirnya membaik sampai sekarang, namun ternyata masih menyisakan dendam di hati Aswan yang kemudian menurun pada Vito.
“Jadikan apa yang menimpa kami sebagai pelajaran untuk kalian. Jangan lihat cerita ini dari sisi buruknya saja. Tapi lihatlah bagaimana perjuangan kami mempertahankan sebuah hubungan. bagaimana konflik akhirnya mendewasakan kami, menumbuhkan ikatan yang lebih kuat lagi. Papa harap kalian pun seperti itu. Saling mengingatkan, saling membantu di saat yang lain kesusahan. Pupuklah apa yang telah kami tanam, hingga ikatan ini tidak akan pernah berakhir kecuali maut yang memisahkan.”
Semua terdiam mendengar nasehat yang diberikan oleh Abi. Nina menyusut genangan air di sudut matanya. Walau sudah lama berlalu, namun kisah itu selalu sukses memancing airmatanya keluar. Abi mendaratkan ciuman di puncak kepala Nina. Wanita yang telah menariknya dari keterpurukan dan terus berada di sampingnya sampai sekarang, memberikan cinta yang begitu besar sekaligus kekuatan untuknya. Pria itu kemudian melihat pada Nara yang masih menangis.
“Nara.. jangan merasa bersalah atau berkecil hati. Papamu orang baik, banyak penderitaan yang dialaminya. Dia harus kehilangan adik kembarnya dengan cara yang tragis. Jangan hanya melihat kesalahannya saja, tapi lihat juga bagaimana papamu berjuang keluar dari arus dendam yang menyeretnya, bagaimana dia mau berlapang dada mengakui kesalahannya dan meminta maaf, bagaimana dia akhirnya mau memaafkan kesalahan opa Ronald. Tidak semua orang bisa kuat menghadapi cobaan yang menimpanya. Tapi dia berhasil. Dia bisa melalui itu semua dengan baik dan kembali pada pribadinya yang dulu bahkan menjadi lebih baik lagi.”
Nara menganggukkan kepalanya. Tangannya mengusap buliran bening yang masih keluar dari kedua matanya. Kenzie menatap dalam ke arah istrinya, kemudian beralih pada Abi dan Nina bergantian. Jika kedua orang tuanya tidak menanamkan kebaikan pada dirinya, bisa jadi dia juga akan terseret arus dendam seperti pamannya, Vito.
“Udah sedih-sedihnya, sekarang gimana kalau kita makan yang manis-manis dulu.”
Nina bangun dari duduknya lalu beranjak ke dapur. Freya juga ikut bangun, bukan untuk membantu Nina, tapi menggantikan sang mama duduk di samping Abi. Dipeluknya pinggang papanya seraya membenamkan kepala ke dada Abi.
“Aku sayang papa.”
“Papa juga sayang kamu,” Abi mencium puncak kepala Freya.
“Dan kamu,” lanjut Abi seraya mencium puncak kepala Nara.
“Pa.. jangan cium-cium istriku. Nara, sini pindah. Suamimu itu mas, bukan papa.”
“Kamu juga Frey, yang harus dipeluk tuh di sini,” seru Ravin seraya menunjuk dadanya.
“Belum sah, elo mah,” Kenzie menoyor kepala Ravin.
Freya dan Nara malah mengeratkan pelukannya di pinggang Abi, melihat kecemburuan para lelakinya. Abi tergelak melihat tingkah anak-anaknya. Hanya Kenan yang masih diam. Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalnya.
“Bucin lo pada. Masa cemburu sama papa yang udah tua,” akhirnya keluar juga komentarnya.
“Jangan salah, biar tua, papa tetap mempesona,” balas Abi tak mau kalah.
“Narsis,” desis Kenan.
“Pa.. kita ke rumah sakit Permata Medika, yuk besok. Ke IGD nya aja, pa. Di sana ada suster cantik, namanya Zahra. Coba papa godain, yakin dia bakalan tertarik sama papa,” celetuk Ravin.
“Jangaaaaannnn… gebetan gue oii!”teriak Kenan.
__ADS_1
“Napa panik? Kata lo, papa udah tua. Ngga pede lo saingan ama papa?” Ravin mulai memanasi.
“Ya pasti dia ngga akan pede. Kalah saing dia ama papa. Kalau gue jadi Zahra, gue pasti milih papa,” timpal Freya.
“Dibanding papa, si Nan itu ngga ada apa-apanya. Kelebihan dia cuma satu, mulutnya yang kaya kompor meleduk,” sambung Kenzie yang langsung disambut gelak tawa lainnya.
“Eh jangan salah. Gue tuh jauh lebih ramah dari pada papa yang kalau lihat orang udah kaya mau makan tuh orang, belum lagi mulut bon cabenya. Mending gue, udah ganteng, masih muda, murah senyum. Cewek banyak yang klepek-klepek sama gue.”
“Lupa lo kenapa dikasih julukan kompor mledug? Itu karena kalo ngomong lo tuh ngga pernah pake saringan. Loss dol udah kaya kentut yang ngga bisa ketahan, keluar sama ampasnya,” sahut Ravin.
“Hahahaha…”
Gelak tawa kembali pecah memenuhi seisi ruangan. Kenan mendengus kesal, dia benar-benar mati kutu menerima serangan dari delapan penjuru angin. Nina datang dari dapur membawa pudding buah yang tadi sore dibuatnya. Ditaruhnya pudding di atas meja, lalu wanita itu menatap tajam ke arah Freya dan Nara yang masih memeluk Abi erar.
“Astaga kalian masih aja peluk-peluk suami mama. Sana jauh-jauh, mau jadi pelakor kalian.”
“Mampus!! Hajar ma!” teriak Kenan.
“Wadaw istri tua ngamuk, kaboooorrr..”
Freya segera melepaskan pelukan di pinggang Abi. Diciumnya dulu pipi sang papa sebelum berpindah duduk di samping Ravin. Begitu pula Nara yang langsung kembali ke sisi Kenzie. Nina dengan gaya elegan duduk di samping suaminya seraya memeluk lengan Abi.
“Lebay,” ledek Freya.
“Dasar drama queen,” timpal Kenan.
“Udah pada tua juga,” sambung Kenzie.
Nina dan Abi hanya tergelak mendengar ledekan anak-anaknya. Tanpa malu Abi mengecup bibir sang istri di depan anak-anaknya. Kemudian dia berdiri seraya menarik tangan Nina.
“Ayo sayang, kita kasih mereka adek.”
“Tidaaaaaaakkkkk!!!” teriak Kenzie, Freya dan Kenan bersamaan. Nara dan Ravin terpingkal melihatnya.
Setelah Nina dan Abi masuk ke dalam kamar, Ravin berpamitan karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Freya mengantarkan calon suaminya itu sampai ke depan mobil lalu masuk ke dalam kamarnya. Kenan juga memilih masuk ke dalam kamar. hanya tersisa Nara dan Kenzie saja di ruang tengah.
“Sayang.. kamu mau ke rumah papaJo?”
“Boleh mas?”
“Boleh sayang. Kamu siapin baju mas, ya. Kita nginep di sana malam ini.”
“Makasih mas.”
“Mas tuh…”
“Ssstt.. mas cium lagi nih kalau masih ngomong,” Nara langsung mengatupkan mulutnya.
“Sana beresin baju. Mas mau siapin mobil.”
Tanpa menunggu lama, Nara segera menuju kamarnya. Dia memasukkan pakaian kerja yang akan digunakan suaminya besok juga pakaian tidur. Tak lupa dia memasukkan alat-alat kosmetiknya. Setelah tak ada yang dirasa kurang. Wanita itu bergegas turun ke bawah, Kenzie sudah menunggu di dalam mobil.
☘️☘️☘️
Di kediaman Jojo suasana menjadi serius ketika Jojo menceritakan semua masa lalu kelamnya pada ketiga anaknya. Tadi dia sempat menangkap kekecewaan di wajah Barra ketika mendengar ucapan Vito. Pria itu perlu menceritakan apa yang pernah terjadi di masa lalu.
“Papa sudah melakukan banyak kesalahan. Tapi om Abi, om Juna dan om Cakra masih berbaik hati memaafkan semua kesalahan papa. Begitu juga dengan oma Rahma dan opa Teddy. Mereka semua yang telah menuntun papa kembali ke jalan yang benar. Maaf sudah membuat kalian kecewa. Papa memang tidak sebaik yang kalian pikirkan.”
Tutur Jojo mengakhiri ceritanya. Pria itu menyusut genangan air di sudut matanya. Adinda yang sedari tadi ada di samping suaminya, terus memberi dukungan dengan mengusap punggung suaminya.
Suasana menjadi hening setelah Jojo bercerita panjang lebar tentang masa lalunya. Pria itu berdiri dari duduknya. Dia bermaksud kembali ke kamarnya. Tak sanggup rasanya mendengar komentar kekecewaan dari anak-anaknya. Naya berdiri kemudian menghambur ke arah sang ayah. Dipeluknya pinggang Jojo erat.
“Buatku, papa tetap yang terbaik. Aku sayang papa.”
“Aku juga sayang papa. Aku percaya papa sudah menyesalinya. Papa jangan sedih lagi,” sambung Dilara.
Dilara menyusul ikut memeluk ayahnya. Rasa haru tak dapat tertahankan oleh Jojo. Dipelukanya erat kedua putrinya seraya mendaratkan ciuman di puncak kepalanya. Perlahan Barra bangun dari duduknya lalu menghampiri sang papa. Jojo menguraikan pelukannya saat melihat anak sulungnya mendekat.
“Itu semua masa lalu, pa. Aku tahu papa juga menderita. Kehilangan tante Anka pasti berat untuk papa. Aku bersyukur papa bisa kembali setelah tersesat jauh. Papa tetap orang tua terbaik yang kami miliki. Papa memberikan kami kasih sayang tanpa membedakan satu sama lain. Aku bangga menjadi anak papa.”
“Terima kasih, Barra. Terima kasih.”
Jojo menarik Barra ke dalam pelukannya. Untuk sesaat kedua pria berbeda generasi itu saling berpelukan sambil berderai airmata. Naya dan Dilara mendekati Adinda lalu memeluk mamanya yang juga ikut menangis.
“Papa..”
Pelukan Jojo terurai ketika sebuah suara memanggilnya. Nara dan Kenzie baru saja tiba. Mata Nara berkaca-kaca melihat pemandangan haru di depannya. Dia segera menghambur ke arah Jojo lalu memeluknya erat.
“Nara..”
“Papa..”
“Kamu pasti kecewa sama papa.”
“Ngga pa. Aku ngga kecewa. Aku tetap sayang papa. Bagiku papa tetap yang terbaik. Aku sayang papa dan papa Abi. Kalian berdua adalah pria hebat panutanku.”
__ADS_1
“Terima kasih sayang.”
Jojo memperat pelukannya lalu menciumi puncak kepala dan kening putrinya. Matanya kemudian tertuju pada Kenzie. Sambil mendekap Nara, pria itu mendekati menantunya.
“Maafin papa, Ken. Maaf atas perbuatan buruk papa pada papamu.”
“Itu semua terjadi sebelum aku ada. Setelah aku lahir dan tumbuh besar, yang aku tahu papaJo adalah orang yang baik. Masa lalu itu tidak mengubah penilaianku akan papa. Aku tetap sayang papa, dulu, sekarang dan selamanya.”
“Terima kasih, Ken. Kamu benar-benar anak yang baik, seperti papamu.”
Jojo memeluk Kenzie erat. Airmata kembali merembes di kedua pipinya. Tapi kali ini airmata kebahagiaan yang dikeluarkannya. Setelah kejadian menegangkan tadi siang, semuanya berakhir dengan kebahagiaan.
☘️☘️☘️
Suasana makan pagi di kediaman Jojo bertambah ramai dengan adanya Nara dan Kenzie. Sejak menikah, ini pertama kalinya Kenzie menginap di rumah mertuanya. Adinda menyiapkan aneka hidangan untuk menantunya ini, tentu saja dibantu oleh Nara. Semua anggota keluarga menikmati sarapan sambil berbincang santai.
Di antara mereka hanya Naya yang terlihat lesu. Kesedihan masih menggelayuti hatinya, karena Aric sama sekali tak menanyakan kabarnya. Aric bahkan tak muncul di rumah sakit setelah Cakra mengabarkan perihal usaha bunuh dirinya. Walau pun itu hanya sekedar akting, Naya juga ingin Aric merasa cemas padanya. Namun nyatanya tidak, dan hal tersebut meninggalkan kesedihan di hati gadis itu.
Adinda memandangi Naya yang nampak tak bersemangat menikmati sarapannya. Wajahnya juga sedikit pucat. Nara juga menyadari apa yang terjadi dengan saudara kembarnya ini. Tangannya bergerak menyentuh kening Naya, tubuh Naya sedikit panas.
“Kamu sakit Nay,” ujar Nara.
“Cuma ngga enak badan aja.”
“Kamu ngga usah ke kantor, istirahat aja di rumah,” seru Barra yang hanya dibalas anggukan pelan oleh Naya.
“Masih belum ada kabar dari Aric?”
“Belum, pa.”
“Sabar Nay, beri Aric waktu untuk berpikir. Kalau memang dia jodohmu, dia pasti akan kembali padamu,” Naya hanya mengangguk seraya tersenyum tipis mendengar ucapan mamanya.
“Tenang aja, Nay. Kalau kamu ngga berjodoh sama Aric, nanti abang cariin jodoh yang lebih baik dari tuh kunyuk,” seru Barra.
“Jangan mau Nay. Dia aja jomblo, mana bisa nyariin calon buat kamu,” celetuk Kenzie.
“Eh diem lo, Ken. Jadi adek ipar sopan dikit ya.”
“Nyesel gue.”
“Nyesel kenapa? Lo nyesel nikahin adek gue?”
“Gue nyesel kenapa elo yang harus jadi kakak ipar gue? Pa, bisa ngga Barra dituker tambah sama siapa gitu. Pokoknya yang bagusan dikit buat dijadiin kakak ipar.”
“Sue lo.. dasar adik ipar durjana,” kelutus Jojo.
“Hahaha..”
Jojo tak bisa berhenti tertawa mendengar perdebatan unfaedah Barra dan Kenzie. Dilara sampai tersedak, tak menyangka Kenzie yang biasanya terlihat diam bisa juga mengeluarkan kata-kata absurd yang mengundang tawa. Hebatnya dia mengatakan itu semua dengan wajah tanpa ekspresi. Naya mengulum senyumnya juga melihat Barra dan Kenzie yang sudah seperti Tom and Jerry.
“Kalian berdua ribut terus. Hati-hati, dari benci bisa tumbuh benih-benih cinta,” seloroh Adinda.
“Amit-amit jabang bayi. Kalau pun aku jadi g*y, aku ngga bakalan suka sama laki modelan dia, udah ngga pernah senyum, muka kaku kaya kanebo kering, mulutnya isinya cabe setan semua pula. Bikin bengek, ma. Kalo si Nara kan kelainan, makanya bisa kuat sama si naga kutub,” Barra meringis kesakitan saat Nara menjejak kakinya.
“Lo kan emang ngga suka tipe cowok keren kaya gue. Tipe lo tuh yang modelan Nancy dan kawan-kawan,” balas Kenzie.
“Buset beneran ngajak ribut, lo.”
“Ck.. baek-baek lo sama gue. Inget, saingan lo berat, mantan terindah. Kalau mau gue bantuin, harus banyak-banyak kasih sajen ama gue.”
“Tar gue kirimin apel jin satu kontainer buat elo!”
“Hahaha..”
Gelak tawa kembali tedengar memenuhi ruangan makan. Kali ini Naya pun tak bisa menahan tawanya. Diam-diam Barra dan Kenzie tersenyum, usaha mereka berhasil membuat Naya melupakan kesedihannya sejenak.
“Kak.. jadi kan mau hunting perabotan?” tanya Dilara pada Nara.
“Jadi dong.”
“Nay.. mama harus ke rumah om Rian buat bantu acara tahlilan nanti malam. Kamu ngga apa-apa kan mama tinggal?”
“Iya, ma. Aku kan bukan anak kecil lagi.”
“Habis sarapan kamu minum obat terus istirahat ya. Tidur aja.”
“Iya, ma.”
Tak lama kemudian acara sarapan berakhir. Jojo, Barra dan Kenzie berangkat menuju kantor masing-masing, Nara dan Dilara juga bersiap untuk pergi. Sebelumnya Nara akan mengantar Adinda ke rumah Rian. Tinggalah Naya sendiri, setelah meminum obat, gadis itu kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
☘️☘️☘️
Ada yang kangen papa Abi katanya. Ayo ngaku siapa🙋
__ADS_1