KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Pasangan-pasangan Cinta


__ADS_3

Usai menikmati makan siang, Kenan mengajak Zahra berjalan-jalan di sekeliling hotel. Di hotel ini terdapat taman bunga yang cukup luas dan cantik. Kenan mengajak Zahra ke sana lalu duduk di salah satu kursi. Udara siang yang panas, sedikit tereliminisir dengan adanya pepohonan rindang dan hamparan tanaman bunga.


“Za.. nanti malem kamu tampil lagi kan?”


“Iya.”


“Duet, yuk. Kita udah lama ngga nyanyi duet.”


“Boleh. Mau nyanyi apa?”


“Bentar.”


Kenan mengeluarkan ponselnya, kemudian mencari-cari lagu yang cocok dinyanyikan secara duet. Dia menunjukkan ponsel ke arah gadis di sebelahnya, sedang tangan satunya terentang dan mendarat di bahu Zahra. Pelan-pelan ditariknya bahu itu hingga posisi duduk mereka merapat.


“Kalau lagu ini gimana? Kayanya asik kalau kita nyanyiin.”


“Hmm.. boleh juga.”


“Nanti malem ajak adek sama mama kamu juga ya ke resepsi.”


“Ngapain? Kan mamaku ngga diundang. Malu tahu.”


“Ya ngga apa-apa. Anggap kenalan sama besan.”


“Iih.. kamu tuh. Aku malu tahu tadi, sama mama, papa kamu, sama kakak kamu, temen kamu.”


“Kenapa mesti malu? Kamu ngga suka ya aku kenalin jadi calon makmum?”


“Bukan gitu. Aku malu aja. Baru sekali ketemu langsung dikenalin jadi calon makmum.”


“Ya kan selalu ada yang pertama untuk sesuatu.”


Kenan menjawil hidung mancung Zahra saking gemasnya. Kalau tak ingat dirinya belum sah menjadi pasangan gadis itu, mungkin sudah habis diciumnya bibir ranum kemerahan yang begitu menggoda.


“Nan.. kamu serius mau nikah sama aku?”


“Iya aku serius. Kamu ngga mau?”


“Bukan gitu, Nan. Aku cuma takut aja. Jujur, kehidupan keluargaku ngga semanis dan seindah keluargamu. Aku tumbuh tanpa kasih sayang papa, karena orang tuaku bercerai sejak aku kecil.”


“Itulah gunanya pernikahan, Za. Kita saling melengkapi ketidaksempurnaan yang kita miliki. Aku juga bukan laki-laki sempurna, dan aku mencoba menyempurnakan hidupku dengan bersamamu. Karena aku yakin kamu bisa menutupi semua kekuranganku.”


Zahra tertegun mendengar ucapan Kenan yang terkesan begitu bijak. Ternyata dibalik sikapnya yang terkadang urakan, mulutnya yang kerap mengeluarkan celotehan absurd dan gombalan receh, pemuda itu bisa juga bersikap dewasa.


“Nan.. aku harap kamu ngga mainin perasaan aku. Kamu laki-laki pertama yang buat aku ngalahin rasa takut untuk membuka hati. Jangan khianatin aku ya.”


Kenan memandangi Zahra lekat-lekat. Mata wanita itu nampak berkaca-kaca. Dia segera menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap lembut rambut panjang Zahra.


“Satu hal yang papaku ajarkan. Jangan pernah menyia-nyiakan wanita yang kamu cintai dan kamu pilih untuk menjadi pendamping hidupmu. Karena wanita itu yang akan menjadi kebahagiaanmu. Jika kamu menyakitinya, maka kamu harus bersiap untuk kehilangannya. Kamu akan merasakan kerugian besar pada akhirnya nanti. Dan aku ngga mau mengalami kerugian seperti itu. Karena mendapatkanmu itu bukan hal yang mudah dan ngga akan aku lepas begitu saja dengan mudahnya.”


Airmata Zahra mengalir mendengar kata-kata indah dari bibir pemuda itu. Tangannya memeluk pinggang Kenan erat dan membenamkan wajahnya yang sudah bersimbah airmata ke dada bidang Kenan.


☘️☘️☘️


Malam harinya resepsi pernikahan Azra dan Fathan digelar, masih di tempat yang sama pastinya. Walau tamu undangan tak banyak yang berubah, namun tak menyurutkan kemeriahan pesta. Para tamu undangan dibawa masuk ke dalam dunia yang berbeda setiap malamnya, karena tiap pasangan pengantin memiliki konsep yang berbeda. Bahkan makanan yang disajikan pun berbeda setiap harinya. Itulah yang membuat mereka tak jenuh untuk datang.


Di atas pelaminan, Azra dan Fathan tak henti mengumbar senyuman saat menerima ucapan selamat dari tamu yang datang. Demikian pula dengan Juna dan Nadia, keduanya menampilkan wajah berseri. Di sisi lain, Agung dan Ruby juga merasakan hal yang sama. Tak pernah ada dalam benak mereka sebelumnya bisa berbesan dengan salah satu anggota keluarga Hikmat.


Barra yang sudah diterima lamarannya, tak pernah melepaskan Hanna sedetik pun dari genggaman tangannya. Jika saat akad nikah, dia bisa bersantai melepaskan Hanna bersama yang lain, tidak saat acara resepsi. Menurutnya kemungkinan bahaya melepaskan Hanna di malam resepsi ini lebih besar. Bukan tidak mungkin jika salah satu tamu yang datang kepincut kecantikan anak sulung Anfa itu.


Bersama dengan Hanna, Barra berkumpul dengan para sahabatnya. Dia sudah percaya diri sekarang ini, karena bisa turut membawa pasangan. Di meja yang berukuran besar, berkumpul para pasangan, baik yang sudah halal maupun belum. Dilara yang sudah resmi menjalin hubungan dengan Ezra, juga ikut serta dalam lingkaran tersebut. Hanya sebagai anggota termuda, dia lebih banyak menyimak.


“Kira-kira malam ini ada drama apalagi di panggung?” celetuk Ezra.


“Bener nih, gue panasaran. Malam pertama drama pasangan ngga bisa move on, drama malam kedua, cinta matinya Aric juga gagal move on,” seru Barra.


“Kampret lo, bukan cinta mati, yang ada bencana!” sewot Aric yang hanya dibalas kekehan oleh Barra.


“Itu ceritanya si Syaiful itu gimana sih? Ngga tertangkap radar tapi tiba-tiba muncul terus viral gitu,” Hanna terkikik geli.


“Jadi, si Syaiful tuh terkenal di kantor kalau emang sukanya ama batang. Nah, bang Aric kan sering main ke kantor, dia tuh naksir dari pas pertama ketemu. Ya, aku awalnya ngira dia cuma bercanda doang. Tapi ternyata kata teman yang satu kost-an sama dia, di kamarnya penuh foto bang Aric hahaha..” Naya tak bisa menahan tawanya.


“Serius, Yang?” tanya Aric tak percaya.


Naya hanya mampu menganggukkan kepalanya karena tak sanggup menahan tawanya. Aric langsung bergidik membayangkan itu. Sontak saja para sahabatnya yang lain langsung menjadikannya bulan-bulanan.

__ADS_1


“Ngga nyangka gue, ternyata pesona lo sampe juga ke habitat Nancy hahaha..” Barra.


“Kamu ngga cemburu Nay sama Syaiful?” tanya Ravin.


“Idih, ngapain juga cemburu sama laki tulang lunak hahaha..”


“Mas Aric ter.. la.. lu..” ujar Ezra seraya menirukan suara Syaiful.


“Anak papi Cakra emang hebat semua. Si Aric digemari kaum hawa dan kaum Nancy. Si Nyi Loreng digemari makhluk astral hahaha…”


Kenzie tak bisa menahan tawanya. Walau kesal, tak ayal Aric ikut tertawa mendengar penuturan sepupu sekaligus sahabatnya itu. Naya yang tak berhenti tertawa sampai menyusut sudut matanya yang berair.


“Tapi, dari pada soal drama di atas panggung pelaminan, gue lebih penasaran sama malam pertamanya si Fathan,” celetuk Ravin.


“Emang kenapa?” tanya Nara penasaran.


“Fathan kan pasif, kalau ngedate aja banyakan Azra yang berinisiatif, dia mah ngikut doang,” jelas Ezra. Pria itu tahu karena beberapa kali Azra sering curhat padanya perihal Fathan yang cenderung pasif.


“Ngga kebayang gue, pas malam pertama si Azra jalan-jalan di depan Fathan pake lingerie sambil ngomong ‘bang.. malam pertama yuk’ hahahaha..” Barra menirukan suara perempuan saat mengucapkan kalimat ajakan.


“Kampret lo, adek gue tuh!” Ezra melempar sahabatnya itu gelas air mineral kosong.


"Hahahaha..."


“Makanya nanti abis resepsi tuh orang perlu ditatar biar ngga malu-maluin,” celetuk Kenzie.


“Setuju.. setuju,” jawab Barra.


“Apaan ikutan setuju, lo sama Ezra kaga usah ikutan. Kaya udah punya pengalaman jebol gawang aja,” balas Aric.


“Monyong!” dengus Barra kesal. Kembali gelak tawa terdengar di meja mereka, membuat beberapa tamu yang ada di sekitar mereka menolehkan kepala.


Sementara di dekat panggung pelaminan, Jafar beserta anak dan istrinya bersiap untuk naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat. Setelah peringatan yang diberikan Fathan, pria itu memang tidak melakukan apa-apa lagi untuk mengganggu Azra. Pria itu sadar resiko yang akan diterimanya jika mengusik keluarga Hikmat. Namun tetap dalam pikirannya, Agung tidaklah pantas menjadi bagian keluarga Himat.


Bersama Amran dan istrinya, pria itu naik ke atas panggung. Mengantri di belakang tamu lain yang lebih dulu naik. Agung tersenyum seraya mengulurkan tangannya yang disambut oleh Amran dan ibunya, namun Jafar hanya melengos begitu saja tanpa keinginan menyalami Agung atau Ruby, bahkan melirik pun tidak. Agung hanya menghembuskan nafas panjang melihat tingkah pria itu. Ruby mengusap punggung sang suami yang terlihat kesal.


Sesampainya di depan pasangan pengantin, Amran menggenggam tangan Fathan seraya mengucapkan selamat pada pria itu dengan tulus. Fathan pun menyambutnya dengan baik. Amran kemudian menuju Azra. Sejenak pria itu memandangi Azra yang terlihat begitu cantik dalam balutan pakaian pengantin. Rasa cintanya pada Azra memang tulus tumbuh dari dalam hatinya, bukan karena desakan orang tua atau latar belakang Azra.


“Selamat ya, Zra. Semoga rumah tangga kalian sakinah mawaddah warohmah,” ucap Amran tulus.


“Aamiin.. makasih Zra.”


Seraya melemparkan senyuman, Amran berlalu kemudian menyalami Juna dan Nadia disusul oleh sang mama. Di belakang mereka, Jafar sudah sampai di depan pasangan pengantin. Seperti halnya tadi, pria itu sama sekali tidak melirik ke arah Fathan atau memberikan selamat. Dia hanya menyalami Azra tanpa berkata apapun, dan hal itu tertangkap oleh Juna.


“Selamat pak Juna. Semoga bapak tidak salah memilih menantu.”


“Terima kasih. Saya tidak mungkin salah memilih menantu, tapi mungkin saya salah memilih teman. Saya ingatkan pak Jafar, jika anda tidak bersikap sopan pada menantu dan besan saya, jangan harap saya bersikap sopan pada anda,” tegas Juna.


Jafar hanya berdehem saja. Setelah menyalami Nadia, pria itu bergegas turun dari panggung pelaminan. Dia segera mengajak anak dan istrinya pulang tanpa ada niatan untuk menikmati hidangan. Apalagi setelah dia mendapat tatapan tajam dari Abi juga Cakra. Pesta resepsi ini terasa seperti sebuah neraka untuknya.


Di sudut lain, Anya duduk dengan kepala direbahkan di atas meja, menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan. Wajah gadis itu terlihat lelah, bukan karena banyak melakukan aktivitas tetapi karena tidak bisa tidur nyenyak. Irvin datang membawakan makanan untuk kekasihnya itu kemudian mendudukkan diri di sampingnya.


“Nya.. makan dulu,” Irvin meletakkan piring di dekat Anya.


“Aku ngga laper, bang. Aku ngantuk.”


“Kamu ngga bisa tidur lagi?”


“Iya.”


“Kamu nginep di sini sendiri?”


“Ngga, sekamar sama kak Hanna. Tapi tetap ngga bisa tidur. Aku ngerasa ada yang ikutin aku terus dan tidur di samping aku. Aku takut bang.”


Irvin mengusap puncak kepala Anya. Dia prihatin melihat mata Anya yang terlihat sayu. Lingkaran hitam nampak menggelayut di bawah kelopak matanya.


“Kamu makan dulu, ya. Nanti abang antar ke kamar.”


“Ngga mau, aku takut bang. Apalagi kak Hanna masih di sini.”


“Kamu tidur sama abang, ya.”


Anya mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara Aric, di sampingnya juga sudah berdiri Naya. Gadis itu langsung menegakkan tubuhnya melihat kedatangan kakak dan kakak iparnya.


“Ish.. abang mah ada-ada aja. Masa aku tidur di kamar pengantin. Nanti kalau kalian kikuk-kikuk gimana?” tanya Anya dengan polosnya dan langsung mendapat sentilan di keningnya.

__ADS_1


“Kamu tidur sama kita ya, Nya. Ngga apa-apa kok. Aku ngga tega lihat kamu kaya gini,” sambung Naya.


“Ngga usah kak. Aku ngga enak ganggu kalian jadinya. Biar aku tidur sama mami, papi aja.”


“Ya udah, ayo abang antar ke kamar papi. Abang temenin kamu sampai tidur dan mami, papi ke kamar.”


Anya menganggukkan kepalanya. Aric bergegas menghampiri Cakra untuk meminta kunci kamar kemudian bersama dengan Naya, dia mengantar adiknya itu ke kamar orang tuanya. Sepeninggal Anya, Irvin segera mencari keberadaan kedua orang tuanya. Ada hal penting yang harus segera dibicarakan malam ini juga.


Sementara itu, sesampainya di kamar Cakra, Anya langsung membaringkan tubuhnya di kasur tanpa mengganti pakaian lagi. Matanya sudah terlanjur tak bisa dikompromi. Aric melepaskan sepatu dan jas yang dikenakannya kemudian menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Usai berwudhu, dia duduk di sisi ranjang. Seperti biasa dia akan melakukan ruqyah mandiri untuk sang adik. Naya hanya memperhatikan apa yang dilakukan suaminya itu. Melihat apa yang dilakukan Aric pada Anya, membuat perasaan cintanya pada pria itu semakin dalam. Tak salah dirinya memilih pria yang lembut dan penuh kasih sayang seperti Aric.


“Nay.. abang titip Anya, ya. Abang mau ngobrol sebentar sama papi.”


“Iya, bang.”


“Nanti abang ke sini lagi.”


Aric mendaratkan ciuman di pipi sang istri sebelum meninggalkan kamar orang tuanya. Naya naik ke atas kasur lalu duduk bersandar ke headboard ranjang sambil memainkan ponselnya.


Setibanya di ballroom kembali, Aric segera mencari keberadaan ayahnya. Cakra tampak masih berbincang dengan Abi, Jojo dan Kevin. Dia langsung menghampiri meja mereka. Aric menarik kursi di samping Cakra.


“Gimana Anya?”


“Udah tidur, pi. Lagi ditemenin Naya.”


“Mami juga udah ke kamar.”


“Ada apa sama Anya?” tanya Abi.


Akhirnya Cakra menceritakan perihal Anya pada para sahabatnya. Kondisi anak bungsunya akhir-akhir ini nampak tidak baik, apalagi menjelang ulang tahunnya yang ke 21, dua minggu lagi.


“Emang solusinya cuma nikah?” tanya Jojo.


“Anya itu penakut. Kondisinya juga ngga sekuat gue, dulu. Jadi, ya salah satu solusi terbaik dan tercepat dia harus nikah. Tapi Anya sendiri ngga mau nikah sebelum kuliahnya beres. Lagian dia juga masih muda, rasanya ngga rela aja ngelepas dia nikah semuda itu.”


“Sekarang yang harus dipikirin, resiko yang harus diambil Anya lebih besar mana. Membiarkannya dengan kondisi seperti ini sampai dia siap nikah atau menikahkan dia di usia muda. Keselamatan Anya harus jadi prioritas utama,” ujar Abi.


Cakra hanya diam saja. Dia tahu kemana arah pembicaraan kakak iparnya itu. Namun jauh di lubuk hatinya, pria itu belum siap melepaskan tanggung jawabnya akan anak bungsunya pada lelaki lain. Lamunan Cakra terhenti ketika Irvin datang bersama dengan Radix. Keduanya segera duduk bergabung.


“Maaf bang, mungkin sekarang waktunya ngga tepat untuk mengatakan ini. Tapi Irvin mendesak aku karena masalahnya juga mendesak. Irvin serius ingin menikahi Anya, kalau abang setuju, sepulang Aric bulan madu, aku beserta istri akan melamar Anya secara resmi.”


Cakra dan yang lainnya cukup terkejut mendengar penuturan Radix. Dia menatap lekat ke arah Irvin. Anak dari sahabat Sekar itu memang pernah menyatakan niatnya hendak melamar Anya, namun tak menyangka ternyata Irvin benar-benar ingin mewujudkannya dalam waktu dekat.


“Maaf om, kalau aku lancang. Tapi aku benar sayang Anya. Kalau om, mengijinkan aku menikah dengan Anya, aku akan sangat bersyukur dan akan berusaha menjaga Anya sebaik mungkin. Kalau om masih belum bisa berpisah dari Anya, aku tidak akan membawa Anya pergi dari rumah. Biar bagaimana pun juga, om adalah ayah dari Anya.”


Semua hanya terdiam menunggu keputusan dari Cakra. Abi memandangi Irvin lekat-lekat. Dia memang tidak terlalu akrab dengan Irvin, namun cukup kagum dengan keberanian yang dimiliki pria itu.


“Biar om bicarakan dulu dengan Anya. Kalau dia setuju, kalian bisa melamarnya setelah Aric pulang berbulan madu. Tapi kalau dia ngga setuju, om harap kamu mau menunggunya sampai lulus kuliah.”


“Iya, om. Apapun keputusan Anya, aku akan menerimanya. Terima kasih sebelumnya, om.”


Cakra menganggukkan kepalanya seraya menepuk bahu Irvin pelan. Melihat keseriusan Irvin, perasaan Cakra sedikit tenang. Setidaknya sang anak telah mempunyai calon imam yang akan menjaganya dengan baik nanti.


Acara resepsi terus berlanjut. Suasana pesta semakin meriah dengan penampilan The Myth. Sudah dua lagu yang dinyanyikan Kenan. Suara merdunya berhasil menyihir tamu yang datang, terutama kaum hawa. Zahra harus menahan perasaannya, ternyata banyak yang melihat Kenan dengan pandangan penuh memuja.


“Ok.. untuk lagu ketiga. Ijinkan saya memanggil teman duet yang cantik untuk menemani saya bernyanyi. Nona Zahra, silahkan naik ke atas panggung.”


Senyum terpancar di wajah Zahra. Dengan langkah pelan dia menuju ke atas pentas. Bisa dirasakan banyak pasang mata tertuju padanya. Seketika dirinya bangga menjadi wanita pilihan hati Kenan. Posisi yang sangat diinginkan banyak kaum hawa. Kenan menyambut dirinya dengan menggenggam tangannya, karuan terdengar beberapa teriakan para tamu. Tanpa mempedulikan itu semua, Kenan memberikan mic. Keduanya bersiap untuk menyanyi bersama.


Kenan mulai menyanyikan bait pertamanya. Lagu yang mengisahkan perjuangan cinta antara pria dan wanita. Di mana sang pria begitu yakin akan hubungan mereka, sedang sang wanita masih ragu dan merasa mereka tidak ditakdirkan bersama karena banyaknya halangan.


Setelah bernyanyi sampai ke reffrain, bait selanjutnya giliran Zahra yang bernyanyi sampai ke reffrain dan bait selanjutnya mereka nyanyikan secara bersama.


“All I want is to fly with you. All I want is to fall with you. So just give me all of you. It feels impossible. [It’s not impossible]. Is it impossible? Say that it’s possible (Yang aku inginkan terbang bersamamu. Yang kuinginkan jatuh bersamamu. Jadi berikan saja seluruh dirimu padaku, itu terasa mustahil. [Itu tidak mustahil]. Apakah itu mustahil? Katakan bahwa itu mungkin terjadi).”


Keduanya menyanyikan lagu Re-write The Stars milik James Arthur dan Anne Marry dengan penuh penghayatan. Karena memang lagu ini menggambarkan hubungan mereka sebelum menyatu seperti sekarang. Karena penghayatan mereka, para tamu yang melihatnya pun turut terbawa suasana dan tanpa sadar ikut bernyanyi bersama mereka.


“How do we re-write the stars? So you were made to be mine. And nothing could keep us apart. Cause you are the one, I was meant to find. It’s up to you. And it’s up to me. No one can say what we get to be. And why don’t we re-write the stars? Changing the world to be ours. (Bagaimana cara kita menulis ulang bintang-bintang? Menulis kalau kamu tercipta hanya untuk menjadi milikku. Dan tidak ada yang memisahkan kita. Karena engkaulah orang yang ditakdirkan untuk aku temukan. Itu terserah padamu. Dan terserah padaku. Dan mengapa tidak kita tulis ulang bintang-bintang. Tidak ada yang bisa menentukan hubungan kita).”


Kenan dan Zahra menyanyikan part reffrain dengan tangan saling menggenggam dan mata menatap satu sama lain. Rasa cinta jelas terpancar dari mata keduanya. Bait terakhir dinyanyikan Zahra tanpa iringan musik dan mata melihat ke arah netra Kenan dengan lekat. Sebuah kecupan didaratkan Kenan di punggung tangannya ketika lagu berakhir. Gemuruh tepuk tangan langsung terdengar diiringi pandangan iri melihat pasangan mesra tersebut.


☘️☘️☘️


**Tinggal MP pengantin estafet #3 ya. Bentar mamake cari ilham dulu🤣

__ADS_1


Untuk ke depannya, mamake mohon maaf kalau ngga bisa up setiap hari. Karena kesibukan di RL dan deadline pekerjaan, sepertinya mamake cuma bisa up 2 hari sekali. Mohon maaf sebelumnya. Tapi apalah daya, pekerjaan di RL juga menuntut konsentrasi tinggi🙏**


__ADS_2