
Tanpa menunggu instruksi yang kedua kali, pasukan Anto yang berjumlah dua puluh orang itu langsung menyerang Kenzie. Pria itu berlari menuju area yang lebih luas, menggiring para penyerangnya sedikit menjauh dari mobilnya. Bergantian kedua puluh orang tersebut menyerang Kenzie.
Tubuh Kenzie bergerak cepat menangkis dan balik memukul lawan-lawannya. Pergerakan pria itu begitu cepat, tubuhnya meliuk-liuk melayani serangan yang bertubi-tubi. Perasaan Nara was-was melihat suaminya menghadapi musuh yang begitu banyak. Entah sudah berapa banyak pesan yang dikirimkan pada Fathan. Dia juga mengirimkan sinyal darurat pada Duta.
BRAK
Nara terkejut ketika melihat tubuh Kenzie terjerembab di atas kap mobil saat dirinya lengah dan lawan berhasil menendangnya. Tangan Nara bergerak hendak membuka pintu mobil, tapi urung dilakukan begitu melihat gelengan kepala suaminya. Wanita itu terpekik ketika melihat seorang pria hendak menghajar Kenzie, namun pria itu bergerak cepat menghindari serangan.
Kemampuan bela diri Kenzie memang patut diacungi jempol. Pria itu mampu melayani serangan dua puluh orang sekaligus, walau beberapa kali sempat terkena pukulan dan tendangan juga. Menyadari pria yang dihadapi bukanlah lawan yang mudah, salah seorang penyerang mengambil pisau lipat dari saku celananya. Pria itu lalu bergerak mendekati Kenzie dari belakang.
Anto yang hanya duduk di atas kap mobilnya, memperhatikan jalannya perkelahian. Dia tersenyum senang saat mengetahui salah seorang temannya hendak menusuk Kenzie. Namun kemudian senyumnya hilang saat melihat dua buah motor melaju kencang ke arah mereka. Salah satu pengendara motor menendang pria yang memegang pisau hingga jatuh tersungkur ke aspal.
Kenan menghentikan motornya. Dengan cepat pemuda itu membuka helm lalu membantu sang kakak menghajar para penyerangnya. Revan dan Haikal yang ikut bersamanya juga turut membantu. Tak lama empat buah mobil datang berturut-turut. Semuanya segera turun dari mobil dan ikut membantu Kenzie.
Keadaan menjadi berbalik, kini anak buah Anto yang keteteran menghadapi para sahabat Kenzie. Beberapa di antara mereka sudah terkapar tak berdaya. Anto terlonjak dari duduknya, hanya tersisa beberapa orang anak buahnya saja yang masih bertahan. Sadar posisinya berada dalam bahaya, pria itu hendak kabur. Tapi belum sempat dia mencapai pintu mobil, sebuah tendangan mendarat di punggungnya. Tubuh Anto menabrak bodi mobil.
“Ampun!”
Seru Anto ketika melihat Kenzie sudah bersiap menghajarnya. Seakan menulikan telinganya, Kenzie melayangkan pukulan ke wajah dan tubuh Anto bertubi-tubi. Darah sudah mengucur keluar dari hidung dan juga bibirnya. Salahnya sudah membangunkan singa tidur. Fathan bergegas menghampiri Kenzie, menghentikan amukan pria itu.
“Ken, udah.. bisa mati dia!”
Kenan datang membantu Fathan. Pemuda itu tahu betul jika sang kakak sudah mengamuk, maka akan sulit menghentikannya. Kenan menahan tubuh Kenzie, sedang Fathan segera membawa Anto menjauh dari sahabatnya. Barra, Irvin, Aric, Ezra, Ravin, dibantu Revan dan Haikal mengumpulkan semua anak buah Anto. Terakhir Fathan mendorong Anto bergabung dengan komplotannya.
Sebuah pick up dan truk berukuran sedang berhenti di dekat lokasi perkelahian. Duta dan Dion turun dari mobil, kemudian menggiring semua penyerang Kenzie ke atas pick up. Dibantu dua temannya yang lain, mereka mengangkat motor ke atas truk. Setelah semua terangkut Dion memberi tanda untuk sang supir menjalankan kendaraannya. Duta berjalan menuju mobil Anto, lalu membawanya ke markas.
Nara segera keluar dari mobil setelah keadaan aman lalu menghambur ke arah suaminya. Tangannya memeluk erat pinggang Kenzie. Kemudian kepalanya mendongak, jarinya mengusap sudut bibir sang suami yang terluka.
“Mas ngga apa-apa?”
“Aku baik-baik aja, sayang,” Kenzie mencium puncak kepala sang istri berkali-kali kemudian menyatukan kening mereka. Sebuah ciuman lembut kembali di daratkan pria itu di kening Nara, tanpa mempedulikan sekitar.
“BUBAR.. BUBAR.. BUBAR.. YANG MASIH JOMBLO ATAU YANG LAGI NUNGGU KETEMU PENGHULU BUBAR… APALAGI YANG LAGI DIGANTUNG!!”
Sebuah toyoran mendarat di kepala Kenan, pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah Barra. Dia yang merasa paling tersindir oleh celotehan si kompor mledug. Namun sang pelaku tak mempedulikannya.
“Lo ngga apa-apa, Ken?” tanya Ezra.
“Ngga.”
“Syukur deh. Gue takut aja muka lo bonyok. Kan ngga lucu nanti di nikahan gue, muka lo diperban semua kaya mummy,” celetuk Aric.
“Masih mending diperban kaya mummy, gimana kalau bentuknya jadi ngga jelas kaya squidward hahaha,” Barra melampiaskan kekesalannya gara-gara masalah gantung pada Kenzie.
“Ngga usah ketawa, Nyuk,” kesal Kenzie.
“Weh kakak ipar nih. Yang sopan lo!”
“Ngegas mulu, PMS lo,” sembur Ravin.
“Emang yang lagi digantung, sensinya melebihi emak-emak yang kekurangan uang belanja,” balas Kenzie. Barra hanya mendengus kesal mendengar celotehan sahabat durjananya. Perasaannya bertambah dongkol melihat Kenan yang terpingkal sambil memegangi perutnya.
“Ya udah gue mau balik ke kantor,” seru Fathan.
“Gue jugalah,” sambung Aric.
Para sahabat Kenzie pergi lebih dulu. Mereka menuju mobilnya masing-masing kemudian meluncur pergi, meninggalkan Kenzi, Nara serta Kenan and the gank. Revan dan Haikal juga bersiap untuk pergi, berbeda dengan Kenan yang menghampiri Kenzie.
“Abis dari sini mau kemana, bang?"
“Ke rumah sakit.”
“Ke rumah sakit mana? Permata Medika ya? Gue ikut dong.”
“Ngga! Lo pasti mau ngerusuh kan, di sana.”
“Pokoknya gue ikut. Eh bang, hajar gue dong.”
“Ngapain?”
“Ah elah, bikin gue memar dikit biar gue bisa ke IGD. Tapi dua kali aja, jangan sampe muka ganteng gue bonyok.”
“Jedotin aja kepala lo ke pohon.”
“Ah elah, kaga bisa diajak kerjasama nih abang gue.”
Kenan melihat ke sekitar, kemudian matanya melihat pisau lipat yang tergeletak di dekat ban mobil. Pemuda itu segera mengambil pisau tersebut kemudian menggoreskannya ke telapak tangan bagian kiri. Hanya goresan tipis saja namun sudah cukup untuk mengeluarkan darah.
“Huaaaa.. tangan gue luka. Tolong bang, bawa gue ke rumah sakit. Nanti gue bisa kehabisan darah.”
“Lebay!!”
Kenzie menoyor kepala sang adik. Nara terkikik geli melihat aksi Kenan yang rela melukai dirinya demi bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Kenan meminta Haikal membawa motornya, karena pemuda itu akan pergi ke rumah sakit bersama Kenzie. Sebelum sang kakak naik ke mobil, dia sudah mendahului masuk ke kursi belakang.
☘️☘️☘️
Tak tahan dengan mulut bawel Kenan, akhirnya Kenzie menyetujui masuk ke rumah sakit melalui IGD. Sambil memegangi pergelangan tangan kirinya Kenan menghampiri Zahra yang sedang berbincang dengan rekannya di depan meja perawat.
“Suster!! Tolong tangan saya luka parah!!”
Zahra terkejut mendengar teriakan Kenan. Kenzie segera menarik tangan Nara keluar dari IGD. Jangan sampai orang-orang yang ada di sana mengenalinya sebagai kakak dari Kenan. Zahra menghampiri Kenan, disangkanya pemuda itu hanya berpura-pura seperti biasanya, namun melihat darah di telapak tangan Kenan, dia terkejut juga. Gadis itu segera menarik Kenan ke salah satu blankar.
Perawat magang itu lalu menuju ruang penyimpanan obat dan peralatan medis, lalu kembali membawa peralatan yang dibutuhkan. Tak lama kemudian seorang dokter jaga ikut menyusul menuju blankar di mana Kenan berada.
Zahra segera membersihkan darah yang ada di telapak tangan Kenan. Setelah darah dibersihkan, nampak kalau luka ternyata tidaklah dalam, hanya sebuah goresan panjang saja. Dokter jaga yang bernama Putra itu menyerahkan pengobatan pada Zahra, sedang dia hanya mengawasi.
“Dok.. saya harus diopname ngga?” tanya Kenan.
“Ngapain diopname, luka kecil kaya gini,” ketus Zahra.
“Biar kecil tapi darahnya banyak yang keluar. Ada seliter kali, makanya badanku lemes banget. Kayanya aku harus diopname dok, harus diinfus juga sama transfusi darah.”
__ADS_1
Dokter Putra hanya tertawa mendengar cerocosan Kenan. Kebetulan sekali dia adalah dokter yang berjaga di IGD saat Kenan membuat keonaran beberapa waktu lalu. Dokter muda itu paham betul kalau drama Kenan dilakukan hanya untuk Zahra seorang.
“Dokter malah ketawa, ini ada pasien kritis begini.”
“Dok, dia bener. Keadaannya kritis, kayanya harus dirujuk,” seru Zahra.
“Dirujuk kemana sus?” tanya Kenan.
“Rumah sakit jiwa!”
Dokter Putra tak bisa menahan tawanya lagi. Dia memilih pergi meninggalkan Tom and Jerry versi manusia. Untung saja keadaan IGD sepi dan entah mengapa Kenan selalu datang di waktu yang tepat, saat IGD tak menerima banyak pasien.
“Sus.. kira-kira saya mau dimasukkin ke kamar mana?”
“Ngga usah lebay, deh. Bangun! Pengobatannya gratis, sana pulang.”
“Ngga mau. Aku mau diopname. Ayo dong masukin aku ke kamar.”
“Kamar mayat mau?”
Tak mempedulikan jawaban Zahra, Kenan membaringkan tubuhnya di atas blankar. Zahra melihat kesal ke arah pemuda itu. Bisa dipastikan ulahnya kali ini akan membuat dirinya kembali menjadi bahan bulan-bulanan rekan kerjanya.
“Astaga.. kamu kenapa sih? Mau bikin malu lagi?”
“Ngga.. aku cuma mau jadi cumi kamu aja.”
“Apaan cumi?”
“Calon suami,” Kenan menaikturunkan alisnya. Zahra memutar bola matanya, baru saja dua hari dirinya tenang tak mendapat teror dari Kenan, kini pemuda itu kembali berulah di tempat kerjanya.
“Nan.. please jangan bikin ribut di sini. Aku malu tahu.”
“Ya udah, demi kamu aku rela ngga diopname. Tapi ngga gratis, ya.”
“Iya. Apa bayarannya? Cilok?”
“Ngga lah. Kamu besok kerja jam berapa?”
“Aku libur.”
“Cakep. Kalo gitu besok kita jalan seharian.”
“Harus gitu?”
“Harus pake banget. Kalau ngga aku bakalan ngerusuh lagi di sini."
“Iya-iya, aku mau.”
"Besok aku jemput jam 10, ok. Dandan yang cantik."
"Iya, bawel. Udah sana pulang!"
“Ngga mau. Aku mau nungguin kamu sampe shift kamu beres.”
Zahra terjengit mendengar suara di belakangnya. Begitu membalikkan badan, terlihat Kenzie berdiri sambil memeluk pinggang Nara. Gadis itu mengenali pasangan di depannya, karena dulu dia yang menjadi wedding singer di resepsi pernikahan mereka.
“Abang duluan aja. Aku lagi nunggu keputusan diopname apa ngga.”
“Pulang atau gue bikin lo masuk ICU!”
Kenan langsung bangun dan turun dari blankar. Zahra diam-diam tersenyum, ternyata ada juga orang yang disegani oleh pasien rese ini. Nara melemparkan senyumnya ke arah Zahra saat Kenzie menghela pinggangnya dan membawanya pergi. Kenan bergegas menyusul sang kakak. Namun tak lupa dia melemparkan fly kiss bertubi-tubi pada Zahra.
☘️☘️☘️
Malam harinya, suasana kediaman Abi diliputi kebahagiaan. Kenzie memutuskan pulang ke kediaman orang tuanya dan menginap di sana sepulang dari rumah sakit. Nara juga tak lupa mengabarkan pada kedua orang tuanya perihal kehamilannya. Jojo dan Adinda langsung berkunjung ke rumah sang besan.
Nina dan Adinda duduk mengapit Nara. Kedua wanita bahagia, sebentar lagi akan menyandang gelar nenek. Begitu pula dengan Abi dan Jojo, tak sabar rasanya untuk segera menimang cucu. Senyum juga tak lepas dari wajah Kenzie. Pria yang sehari-harinya irit senyum itu, kini justru selalu menebar senyuman.
“Debay masih di dalem perut aja udah bisa bikin bang Ken senyum-senyum. Kebayang kalau udah brojol,” celetuk Freya.
“Kalo anaknya udah brojol, bang Ken masuk jadi anggota simulat hahaha..”
Kenzie menepak belakang kepala Kenan, namun dengan senyum di wajahnya. Justru itu membuat Kenan bergidik. Ravin yang juga ikut datang tak kalah terkejutnya melihat sahabatnya yang jadi murah senyum. Ternyata efek menjadi calon ayah benar-benar dahsyat untuk seorang Kenzie.
“Dari dulu napa bang, senyum. Kan tuh muka tambah ganteng,” ujar Freya.
“Karyawan lo ngga bakalan sawan kalau lo senyum kaya gini,” sambung Ravin.
“Sekarang lo tau kan, bang. Apa resep gue punya banyak penggemar? Senyum, bang. Mulai sekarang banyakin senyum, biar muka ngga kenceng terus bawaannya,” timpal Kenan.
“Jangaaaaann. Kalau mas Ken banyak senyum, nanti yang ada daftar pelakor tambah banyak. Mas Ken senyumnya buat aku aja,” protes Nara.
“Tenang kak Nara. Biar bang Ken senyum ke semua orang, tapi hatinya cuma buat kakak. Eaaa… udah kaya lau dangdut hahaha..” Kenan tergelak sendiri.
Celetukan Kenan sontak membuat wajah Nara memerah, apalagi Kenzie terus memandangi dengan sorot mata penuh cinta. Sikap Kenzie padanya juga bertambah manis berkali-kali lipat sejak menerima kabar bahagia.
“Kira-kira cucu kita perempuan apa laki-laki ya?” tanya Jojo.
“Kembar, laki-laki dan perempuan. Jadi kita langsung punya sepasang,” jawab Abi.
“Nah bener tuh,” sambung Jojo.
“Tapi kalau kembar, kasihan Ken,” celetuk Ravin.
“Kenapa?” tanya Ken bingung.
“Tar lo ngga kebagian gunung kembar hahahaha…”
Sebuah keplakan mendarat di kepala Ravin, sahabatnya itu malah semakin terpingkal saja. Freya ikutan mencubit pinggang calon suaminya. Bukan hanya Nara yang merasa malu, tapi dia juga ikutan malu mendengar celotehan mesum calon suaminya. Abi dan Jojo ikut tertawa, terutama Jojo. Dulu juga dia kesulitan kalau ingin bermain dengan bukit kembar kesukaannya saat Adinda melahirkan Naya dan Nara.
“Nan.. itu tangan kamu kenapa?” Adinda mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Cedera, tante.”
“Masa ngelawan geng motor kamu sampe luka kaya gitu, malu-maluin,” sahut Abi.
“Heleh, lebay dia, pa. Itu luka dia yang buat, cuma digores doang tapi bikin heboh satu IGD,” ujar Kenzie.
“Iya pa, minta diopname segala,” sambung Nara.
“Buset gue dapet serangan combo. Awas ya kak, kalo lo ngidam macem-macem, gue ngga mau bantuin.”
“Mas.. kita pindah rumah sakit aja kalau berobat,” Nina yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suaranya juga.
“Emang kenapa ma?” tanya Kenan.
“Malu mama, kamu suka bikin onar di sana.”
“Hahahaha…”
Kenan hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya mengeluarkan cengiran khasnya. Jangan sampai sang mama merealisasikan ancamannya, kalau sampai terjadi, maka sebuah kerugian besar untuknya.
“Emang cantik ya, suster kesayangannya Nan?” tanya Adinda.
“Cantik banget, tante. Kak Freya aja lewat,” jawab Kenan yang langsung mendapat hadiah jitakan dari Freya dan Ravin.
“Cantik mana sama mama?” tanya Abi.
“Cantikan mama dong, pa. Tapi dulu hahaha…”
Kenan langsung kabur setelahnya. Jangan sampai dia terkena semburan sang mama dan sentilan maut papanya. Sambil terus tertawa pemuda itu naik ke lantai atas.
☘️☘️☘️
Nara membaringkan tubuh di kasur setelah acara kumpul keluarga usai. Tubuhnya memang terasa lelah, padahal hari ini tak banyak melakukan aktivitas. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan, ditambah tadi siang baru mengalami kejadian menegangkan.
Kenzie yang baru selesai berganti pakaian, ikut naik ke atas kasur. Pria itu duduk di samping istrinya lalu menyingkapkan pakaian tidur yang dikenakan Nara. Dia kemudian menciumi perut sang istri yang masih terlihat rata, mengusapnya lembut dan penuh kasih sayang.
Rasa haru menerpa Nara. Kebahagiaan diberikan kepercayaan memiliki momongan sekaligus dicintai begitu besar oleh suaminya. Tangan Nara bergerak mengusap puncak kepala sang suami. Namun kini, tangan Kenzie mulai merayap meraba bagian lain, yang kemudian berhenti di bukit kembar, merematnya pelan hingga terdengar lenguhan Nara.
Kenzie merubah posisi mejadi berbaring di samping Nara, lalu menciumi wajah cantik sang istri. Netra Nara memperhatikan wajah Kenzie yang sedikit terdapat lebam di dekat rahangnya. Kemudian meraba sudut bibirnya yang terluka.
“Sakit mas?”
“Ngga.. habis diusap sama kamu.”
“Aku nanya serius.”
“Sakitnya udah hilang.”
“Tapi ini masih luka,” Nara kembali meraba sudut bibir yang terluka.
“Lukanya kecil. Aku masih bisa cium kamu.”
Tangan Kenzie menarik tengkuk Nara kemudian membenamkan bibirnya. Dengan gerakan pelan dil*matnya bibir yang selalu membuatnya candu. Nara memejamkan mata seraya membalas ciuman suaminya. Dia tak berani terlalu kencang menyesap, takut akan menyakitinya. Kenzie mengakhiri ciumannya, kemudian menarik Nara ke dalam pelukannya.
“Mas.. gimana nasib Anto sama yang lain?”
“Mereka akan dikirim ke pulau khusus begal dan gank motor. Ternyata beberapa dari mereka juga sudah jadi incaran polisi.”
“Anto sendiri gimana? Dia ikut dihukum kan?”
“Tentu saja. Sekarang ayahnya tidak bisa melindunginya lagi. Kamu tenang aja, dia akan dapat ganjaran yang setimpal. Tapi untuk sekarang dia masih dirawat di rumah sakit.”
“Eh.. apa lukanya parah?”
“Ngga.. Cuma beberapa tulangnya patah,” jawab Kenzie santai.
Sejenak Nara tercenung. Dia teringat Kenzie pernah mengatakan akan mematahkan semua tulang Anto jika berani mengganggunya. Ternyata apa yang dikatakannya tempo hari bukan bualan semata. Nara memeluk erat punggung suaminya.
“Mas..”
“Hmm..”
“Aku laper.”
“Mau makan apa?”
“Pengen martabak telor.”
“Ya udah, mas beliin. Tapi kamu tunggu di rumah aja, ya.”
“Aku mau Nan yang beli.”
“Hah?”
“Beli martabaknya yang di jalan Pungkur. Ada tulisan di gerobaknya, Martabak Akang Ewok. Telornya empat, pake telor bebek jangan ayam, terus sekalian beliin susu murni juga. Tempatnya ngga jauh dari tempat martabak. Mau sumur yang rasa melon.”
Kenzie menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sudah bisa dibayangkan adik bungsunya itu pasti akan merepet seperti petasan. Tapi demi istri tercinta, dia rela menebalkan telinga. Kenzie turun dari kasur kemudian keluar dari kamar. Tujuannya sudah pasti kamar Kenan yang kebetulan lampunya masih menyala.
☘️☘️☘️
Kenan misah misuh sendiri mendengar permintaan kakak iparnya. Padahal tadi dia sudah bersiap ke alam mimpi. Siapa tahu, sang pujaan hati bersedia meet up di dalam mimpi. Tapi untuk menolak titah kakak tertuanya juga Kenan tak berani. Akhirnya di sinilah dia berada, berdiri mengantri demi mendapatkan pesanan martabak Nara.
Ternyata untuk membeli martabak Akang Ewok diperlukan perjuangan juga. Walau waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, namun pembelinya yang mengantri masih banyak. Bahkan Kenan sampai harus mengambil nomor antrian. Martabak ini memang sedang viral, selain karena rasanya enak tapi penjualnya juga berwajah cukup tampan dan yang pastinya berewokan, sesuai merk daganganya,Martabak Akang Ewok.
Kenan duduk tenang di atas sepeda motornya, memperhatikan kang Ewok yang sibuk melebarkan adonan martabak. Gerakan tangan pria itu cukup cepat, dalam waktu singkat adonan tersebut sudah masuk ke dalam penggorengan. Kemudian tak sengaja mata Kenan melihat ke arah pembeli yang baru saja datang. Dia bergegas turun dari motor lalu mendekati pembeli tersebut yang baru mengambil nomor antrian.
☘️☘️☘️
**Sapa ya???
Maaf kemarin ngga up, tetiba badan ngedrop ditambah dapet notif ngga enak dari si anu🤧
__ADS_1
Level KPA diturunkan dari 10 ke 8😤
Oh iya buat yang baca My Hot Guys, mulai bulan ini aku up malam, di atas jam 7. Buat yang belum baca, cuss ke rumah sebelah ya, tau kan dimana. Kenapa kemarin aku up di sana tapi di sini ngga? Karena di sini udah bikin aku BT kemarin🤧 Jangan salahkan daku selingkuh kalau dirimu tak membuatku nyaman, eaaa... Aku udah resmi selingkuh ya dari sini🙈. Kalau bisa intip karyaku juga di sana ya, maacih🤗😘😘😘**