KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Entrapment


__ADS_3

H-3 sebelum penyerangan Lucky


Lokasi : Cafe


Naya masuk ke dalam cafe bergaya milenial. Dia langsung berjalan menuju meja kasir. Gadis itu berbincang sebentar dengan pemilik cafe yang merupakan teman kuliahnya. Temannya itu hanya menganggukkan kepala saja tanda setuju dengan semua yang dikatakan Naya.


Selesai berbincang, Naya berjalan menuju meja yang terletak di depan jendela besar yang menghadap ke jalan. Dia membuka tasnya lalu mengeluarkan alat penyadap yang didapatnya dari Aric. Naya menaruh alat tersebut di bawah meja, kemudian menghubungkan ke ponselnya.


Setelah selesai memasang alat penyadap, Naya kembali ke meja kasir. Lagi-lagi dia membuka tasnya kemudian memberikan sebuah botol kecil ke salah seorang pegawai cafe. Itu adalah obat pencahar dosis rendah yang juga didapatnya dari Aric.


“Nanti kasih satu tetes aja ke makanan tamuku. Masukkan obat ini di pesanan terakhir mereka, kalau aku sudah datang.”


“Baik mba.”


Naya mengeluarkan amplop putih dari dalam tasnya lalu memberikan pada pelayan pria itu.


“Ini uang mukanya. Kalau pekerjaan kamu selesai, aku tambah bayarannya.”


“Makasih mba.”


“Sama-sama.”


Naya bergegas keluar dari cafe dan langsung menuju mobilnya. Dia mengendarai mobil keluar dari cafe kemudian berhenti di sebuah jalan yang sepi. Tempat berhentinya tidak jauh dari cafe temannya itu.


Tak lama dia melihat kendaraan Lucky melintas kemudian masuk ke area cafe. Kedua sahabat durjananya itu masuk ke dalam cafe. Naya segera memasang ear phone ke telinganya agar bisa mendengar percakapan lebih jelas. Kemudian dia mengirimkan pesan pada Veruca dan mengatakan kalau akan datang sedikit terlambat.


Tangan Naya mengepal erat begitu mendengar rencana busuk Lucky. Beberapa kali gadis itu memukul setir di depannya demi melampiaskan kekesalan. Naya menyalakan mesin mobilnya ketika Lucky mulai menanyakan dirinya. Tak butuh waktu lama baginya mencapai cafe. Setelah memarkirkan kendaraannya Naya masuk ke dalam cafe.


Naya menyeruput milkshake-nya dengan tenang. Sudut bibirnya terangkat melihat Veruca dan Lucky yang bolak-balik masuk ke toilet. Setelah memastikan kedua pecundang itu pergi, Naya mengambil alat penyadap dari bawah meja. Dia memasukkan alat penyadap kemudian mengambil ponselnya. Jari Naya bergerak mengirimkan file berupa rekaman suara Lucky dan Veruca kepada Aric.


☘️☘️☘️


Lokasi : Studio musik Kenan


Kenan beserta para sahabatnya yang baru selesai berlatih, segera turun ke bawah begitu mendengar kegaduhan di lantai bawah. Mereka langsung bergabung dengan para seniornya dan ikut mendengarkan pembicaraan.


Di tengah pembicaraan, ponsel Aric bergetar. Pria itu merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan benda pipih miliknya. Sebuah pesan suara dari Naya masuk. Aric memberi kode pada yang lainnya untuk berhenti berbicara. Kemudian dia memutar rekaman suara tersebut.


Barra menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar rencana busuk Lucky. Ezra nampak gusar karena pria itu melibatkan Alisha di dalam aksinya. Terlebih ketika mendengar Mela juga ikut dalam rencananya. Kenan hanya berdecih ketika Chika dan ibunya menjadikan dirinya target sasaran untuk membalas dendam pada sang kakak. Fathan melirik pada Kenzie yang tak mengeluarkan sepatah kata pun. Rahang pria itu nampak mengeras.


“Brengsek nih si Lucky,” umpat Barra begitu rekaman suara selesai.


“Jadi gimana?” tanya Ravin.


“Dia jual, kita beli. Kita ikuti permainannya,” cetus Kenzie.


“Gue setuju,” timpal Kenan.


Semuanya mengangguk setuju akan keputusan Kenzie untuk mengikuti semua permainan Lucky. Di otak Kenzie sudah terbayang apa yang akan dilakukannya. Pastinya, pria itu tidak akan melepaskan dengan mudah lelaki tersebut.


“Lo punya rencana apa Ken?” tanya Aric.


“Kita bagi-bagi tugas buat back up Nan sama Al,” sahut Kenzie.


“Biar Ezra sama gue yang back up Al,” seru Fathan.


“Gue sama Barra back up Nan,” sambung Ravin.


“Gue urus bis AKAP,” seru Aric.


“Siapa bis AKAP?” tanya Revan bingung.


“Veruca.”


“Emang ada bis AKAP judulnya Veruca?” tanya Revan lagi.


“Nama aslinya Lorena,” jelas Aric.


“Huahaha... Lorena, gelay... kenapa ngga sekalian Deborah hahaha...”


Ucapan Revan langsung disambut gelak tawa Kenan dan yang lainnya. Suasana semakin riuh ketika Haikal juga ikut menimpali dengan celotehan konyolnya. Tawa mereka berhenti ketika Kenzie berdehem keras.


“Kalian mau back up siapa?” tanya Kenzie pada Viren, Ravin dan Haikal.


“Nan,” jawab Revan dan Haikal berbarengan.


“Lo?” tanya Ravin pada adiknya.


“Ya jelas si kompor lah.”


“Thanks bro.”


Kenan mengepalkan tangannya kemudian mengulurkannya pada Viren. Adik dari Ravin itu segera membalasnya. Setelah masing-masing menentukan posisinya, mereka membubarkan diri.


☘️☘️☘️


Pagi hari sebelum penyerangan


Dengan tergopoh Dendi masuk ke kediaman Abi. Nina langsung menyuruh pria yang kini menjabat sebagai wakil kepala keamanan keluarga Hikmat untuk menuju ruang kerja pribadi suaminya. Di sana Abi tengah berbincang dengan Juna. Setelah mengetuk pintu, Dendi masuk ke ruangan.


Abi terkejut melihat orang kepercayaannya pagi-pagi sudah datang ke rumahnya. Keningnya semakin berkerut melihat wajah pria itu nampak tegang. Dia lalu memperlihatkan Dendi untuk duduk.


“Ada apa?” tanya Abi.


“Duta pak.”


“Kenapa dengan Duta?”


“Rencananya terbongkar. Septa dan Jamal berkhianat, mereka membongkar semua rencana kita. Mereka juga menyebutkan semua alat pengaman yang terpasang di semua keluarga Hikmat. Mereka menangkap Duta dan menyiksanya. Salah satu anak biah kita menemukan Duta tertembak. Pelakunya bisa dipastikan Septa. Saat ini Septa dan Jamal sudah resmi membelot pada Lucky.”


“Bagaimana dengan Duta? Apa dia selamat?”


“Ngga pak. Duta tertangkap oleh Jamal dan Toni, dia dibawa ke hadapan Lucky dan Septa mengeksekusinya. Duta tewas ditembak oleh Septa. Itu rencana tambahan dari Kenzie. Untuk penyerangan Kenan, ada Ravin dan Barra yang memback up. Untuk Alisha ada Ezra dan Fathan. Pak Beno dan pak Agung juga sudah tahu semua rencana ini.”


Suasana sepi sejenak. Baik Abi maupun Juna tak mengatakan apapun. Keduanya hanya saling berpandangan. Tak lama terdengar gelak tawa keduanya. Dendi sendiri tak bisa menahan senyumnya.


“Ampun si Ken, berasa jadi sutradara film Hollywood aja,” cetus Juna.


“Bakat terpendam kak,” timpal Abi sambil terkekeh.


“Saya masih agak khawatir dengan Alisha, apa kamu bisa kasih back up tambahan? Apalagi anak itu ngga tahu soal rencana ini kan?”


“Pak Agung yang akan memimpin yang lain untuk membekuk Mela. Pak Beno juga turun untuk membantu Kenan.”

__ADS_1


“Syukurlah.”


“Berapa banyak kekuatan kita di timnya Lucky?”


“Dari 50 orang yang direkrut Lucky, Septa berhasil menyusupkan 12 orang pak. Kedua belas orang itu akan dibagi sesuai rencana penyerangan. Septa dan Jamal sendiri akan berada di lokasi penyekapan Nara. Semua sudah direncanakan oleh Kenzie.”


“Ya sudah jalankan semua sesuai intruksi Ken. Berhati-hatilah, jangan sampai kecolongan, apalagi Alisha. Dan Mela... jangan sampai lolos.”


“Baik pak.”


“Nara.. dia dijadikan umpan oleh Ken. Apa Nara tahu?”


“Ngga pak.”


“Ck.. anak itu. Kalau begitu kamu saja yang menemani Nara. Jangan lepaskan Nara terlalu jauh dari jangkauan.”


“Siap pak.”


“Siapa yang mendampingi Ken?”


“Duta.”


“Bilang pada Duta untuk mengawasi Ken. Jangan sampai dia kehilangan kendali. Kalau anak itu sudah emosi, nyawa Lucky dalam bahaya.”


“Baik pak. Masih ada lagi pak?”


“Cukup. Kamu boleh pergi.”


Karena tak ada yang harus disampaikan lagi, Dendi berpamitan. Dia harus melakukan apapun itu untuk mencegah Lucky menjalankan rencananya. Bukan hanya menggagalkan, dia juga harus mencari tahu siapa dalang dibalik aksi Lucky serta Veruca.


☘️☘️☘️


PENYERANGAN PERTAMA


Kenan terjatuh ke rerumputan dengan kaki tertindih bodi motor. Sadar akan bahaya yang mengincarnya, Kenan berusaha melepaskan diri dari tindihan motor. Sementara orang-orang itu semakin mendekat. Dengan sekuat tenaga Kenan berusaha melepaskan diri. Salah seorang mendekat, dengan tongkat baseball di tangannya dia merangsek maju kemudian memukulkan benda tumpul itu ke tubuh Kenan.


Refleks Kenan menggerakkan tangannya menutupi bagian dadanya agar tidak terkena hantaman. Dia akhirnya bisa meloloskan diri dari himpitan bodi motor. Tapi para penyerangnya terlanjur mendekat. Tanpa ampun mereka menyerang pemuda itu. Pukulan dari tongkat baseball, juga tendangan sukses mendarat di tubuh Kenan.


“OII!!!”


Teriakan kencang Barra menghentikan aksi para preman bayaran tersebut. Orang yang tadi pertama memukul Kenan tertawa sinis begitu melihat hanya ada Barra dan Ravin saja. Tak lama para sahabat Kenan muncul, jumlah mereka sedikit imbang. Pria yang memegang tongkat baseball memberi tanda pada yang lain untuk menyerang. Perkelahian pun terjadi.


Revan berlari mendekati Kenan yang masih terkapar. Dibantu Haikal, mereka mengangkat tubuh Kenan kemudian membawanya ke mobil. Revan segera menjalankan mobil dan membawa Kenan ke rumah sakit.


Sementara itu perkelahian terus terjadi. Para penyerang Kenan tambah terdesak karena di antara mereka ada penyusup. Dari 12 orang, empat orang ternyata anak buah Dendi. Ditambah dengan kedatangan Beno bersama empat orang lainnya. Delapan preman bayaran Lucky akhirnya dapat dibekuk. Mereka semua langsung dibawa ke markas.


☘️☘️☘️


PENYERANGAN KEDUA


Sambil berteriak, Alisha mencoba melawan mereka semua. Dia berlari menuju tempat yang agak luas. Keadaannya semakin terdesak, beberapa pukulan mengenai punggung dan lengannya, namun Alisha mencoba untuk bertahan. Saat gadis itu terdesak, tiba-tiba lima orang yang menyerangnya berbalik membantunya.


Perkelahian terus berlanjut dengan keadaan yang masih belum seimbang. Saat salah satu penyerang mencoba menendang Alisha dari belakang, Ezra datang lalu menghajar pria itu sampai terkapar. Alisha terkejut melihat kedatangan kakaknya juga Fathan.


“Kak Ez..”


“Kamu ngga apa-apa?”


“Iya kak.”


Seorang pria duduk tenang di atas tunggangannya. Dari balik helm full vest-nya, pria itu memperhatikan perkelahian yang terjadi. Agung dan beberapa anak buahnya datang membantu Ezra dan Fathan. Sementara itu, ketiga orang titahan Lucky membawa Alisha masuk ke dalam mobil. Sekali tancap, mobil tersebut segera melesat.


Melihat itu, pria yang berada di atas motor segera menjalankan kendaraannya. Dengan cepat dia mengejar mobil yang membawa Alisha. Di belakangnya, Agung bersama dengan Ezra ikut mengejar. Fathan dan beberapa anak buah sang ayah membekuk penyerang yang tersisa kemudian membawanya ke markas.


Pengemudi motor itu menghentikan kendaraannya di belakang mobil yang membawa Alisha. Dia membuka helm full vest-nya kemudian berlari memasuki bangunan yang terbengkalai. Sambil menutupi kepalanya dengan hodie, pria tersebut menuruni tangga yang membawanya ke ruang bawah tanah. Dia menghentikan langkahnya ketika mendengar suara seorang perempuan.


“Kalau dulu lo masih bisa dapet cahaya dari jendela. Sekarang ngga bisa lagi, sayang. Karena gue udah tutup jendela itu. Jadi, selamat menikmati dunia gelapmu.”


Bertepatan dengan itu lampu di ruangan dan sekitarnya padam. Alisha tak bisa melihat apapun, hanya terdengar suara pintu tertutup. Langkah kaki Mela dan orang-orang yang tadi menangkapnya terdengar semakin menjauh.


Mela baru saja akan menaiki anak tangga ketika sebuah tangan memukul tengkuknya. Seketika gadis itu jatuh pingsan. Kemudian dengan cepat pria itu menghajar ketiga pria yang ada di belakang Mela. Perkelahian berlangsung, namun tak lama karena pria berhodie itu berhasil melumpuhkan ketiga orang tersebut.


Melihat lawannya sudah terkapar tak berdaya, pria tersebut segera menuju ruangan tempat Alisha disekap. Tangannya bergerak menekan saklar yang ada di tembok dekat ruangan. Seketika ruangan menjadi terang. Pria itu mengambil sebuah batu yang ada di dekatnya kemudian memukulkannya ke gembok yang terkunci.


Sekali pukul, gembok terlepas. Dibuangnya batu tersebut kemudian dengan cepat masuk ke dalam ruangan. Dia segera menghampiri Alisha yang masih terikat tangan dan kakinya. Melihat seorang pria yang wajahnya tertutup hodie, Alisha beringsut mundur. Sadar gadis itu ketakutan, pria tersebut membuka hodienya.


“Bang Viren...”


“Kamu ngga apa-apa?”


Alisha hanya mengangguk. Dengan cepat Viren membuka ikatan di tangan dan kaki gadis itu kemudian membantunya berdiri. Baru saja Viren memapahnya, tiba-tiba tubuh Alisha ambruk. Dengan sigap Viren menangkap tubuh gadis itu kemudian membopongnya keluar.


Ezra yang baru saja tiba dengan Agung bergegas menghampiri. Seketika dirinya dilanda kecemasan melihat tubuh Alisha terkulai lemah dalam gendongan Viren.


“Al kenapa?”


“Dia cuma shock aja.”


Ezra mengambil Alisha dari gendongan Viren kemudian membawanya keluar dari ruang bawah tanah. Fathan yang baru saja tiba langsung membukakan pintu mobil. Dengan cepat dia kembali masuk kemudian menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi.


Viren membantu Agung membawa tiga preman dan Mela keluar dari ruang bawah tanah. Dua orang anak buah Agung datang membantu. Viren kembali ke sepeda motornya kemudian melajukan kendaraan roda duanya itu menuju rumah sakit tempat Kenan dirawat.


Awalnya Viren memang akan membantu Kenan, namun begitu Septa mengatakan komposisi penyerang yang ditempatkan Lucky untuk menculik Alisha, Viren mengubah haluan. Dia memilih membantu Alisha, apalagi sang ayah pernah menceritakan tentang penculikan yang menimpa gadis itu. Dan ternyata pilihannya tepat, Alisha dapat dengan cepat diselamatkan.


☘️☘️☘️


PENYERANGAN KETIGA


Setelah dua puluh menit berjalan, mobil yang dikendarai Septa berhenti di dekat sebuah jembatan. Lucky turun kemudian mengeluarkan Nara dari dalam mobil. Sambil menarik lengan gadis itu, Lucky bersama dengan Septa menyusuri jalan setapak. Mereka terus berjalan memasuki hutan sampai akhirnya tiba di sebuah kabin yang terbuat dari kayu. Jamal dan Toni telah menunggu kedatangan mereka.


Jamal membukakan pintu kabin untuk Lucky. Pria itu kembali menyeret Nara masuk. Dia mendorong tubuh Naya memasuki kabin yang gelap kemudian menyusul masuk. Ketakutan Nara sudah sampai di puncaknya. Setelah membawanya ke tengah hutan, Lucky memasukkanya ke dalam kabin yang gelap. Nara mulai menangis.


Gadis itu terjengit ketika mendengar pintu tertutup. Kemudian terdengar langkah kaki semakin mendekat ke arahnya. Airmata Nara semakin deras bercucuran, menandakan ketakutannya bertambah besar.


“Jangan takut sayang... kita akan bersenang-senang di sini,” bisik Lucky tepat di telinga Nara.


Lucky meraba tembok di belakangnya, tangannya kemudian bergerak menekan tombol saklar. Ruangan yang tadinya gelap berubah menjadi terang. Pria itu terkesiap melihat Kenzie tengah duduk tenang di salah satu kursi, matanya menatap tajam ke arah pria itu. Nara terkejut sekaligus senang melihat keberadaan calon suaminya. Dengan cepat dia menghambur ke arah Kenzie.


Kenzie bangun dari duduknya kemudian menangkap Nara. Tubuh calon istrinya nampak bergetar hebat. Pelan-pelan Kenzie membuka lakban yang menutup mulut Nara lalu membuka belitan lakban di tangannya. Nara langsung melingkarkan tangannya di pinggang Kenzie.


Nyali Lucky seketika ciut melihat Kenzie yang terus menatap ke arahnya. Aura pria itu berhasil mengintimidasi dirinya. Baru saja dia akan keluar ketika pintu kabin terbuka. Lagi-lagi dia dibuat terkejut ketika melihat Duta yang datang. Refleks dia berjalan mundur.


“Ka.. ka.. kamu bukannya sudah mati?”

__ADS_1


“Oh yang semalam itu kloningan gue,” jawab Duta dengan santai.


Pintu kabin kembali terbuka, kini Septa dan Jamal yang masuk ke dalam kabin. Kedua orang itu menundukkan kepalanya ke arah Kenzie tanda penghormatan. Lucky sadar kalau dia telah dipermainkan oleh anak sulung dari Abimanyu Hikmat.


“Duta, bawa Nara kembali ke mobil.”


“Ngga.. aku mau di sini aja.”


“Kamu tunggu di mobil aja, sayang. Ada yang mau mas bicarakan dengan Lucky.”


Nara terus menggelengkan kepalanya. Namun Kenzie terus membujuknya hingga akhirnya gadis itu setuju. Septa berjalan mendekat untuk mengawal Nara. Kenzie mencium kening Nara lalu menyerahkannya pada Septa.


“Kenapa kamu masih di sini? Antarkan Nara,” seru Kenzie pada Duta yang bergeming di tempatnya.


“Maaf pak. Saya dapat perintah dari pak Abi untuk terus bersama bapak.”


Mendengar nama sang ayah, Kenzie membiarkan Duta tetap berada di dalam kabin. Pria itu kemudian berjalan menghampiri Lucky. Walau hatinya ketar-ketir, Lucky berusaha untuk tetap tampil berani di hadapan Kenzie. Kemudian dia teringat pistol yang ada diselipkan di belakang pinggangnya. Dengan cepat dia mengambil pistol kemudian menodongkannya ke arah Kenzie.


“Seriously? Lo mau tembak gue pake itu?”


“Jangan mendekat. Atau gue tembak!”


“Itu pistol pemberian Septa kan? Itu pistol mainan.”


“Lo salah.. ini pistol yang gue beli sendiri. Diam di sana!!” Lucky kembali mengarahkan pistol ke arah Kenzie.


“Yakin Septa belum menukarnya dengan yang palsu?”


Perhatian Lucky teralihkan, dia melihat ke arah pistol di tangannya, memastikan apakah itu pistolnya atau bukan. Dengan cepat Kenzie menendang tangan pria itu membuat pistol di tangannya jatuh ke lantai. Dengan cepat Duta mengambil pistol tersebut. Dia bernafas lega karena Kenzie berhasil mengecoh Lucky. Pistol yang dipegang Lucky memang pistol sungguhan.


Kehilangan senjatanya, keadaan Lucky semakin terdesak. Dia terus berputar-putar menghindari Kenzie yang berjalan mendekat ke arahnya.


“Lucky atau Handoko Atmodjo, anak bungsu dari Priyo Atmodjo. Ayahmu adalah pengrajin batik di kota Solo. Bisnis ayahmu bangkrut karena anak bungsunya yang gemar berfoya-foya. Ayahmu meninggal terkena serangan jantung dan sejak itu kamu diusir keluar dari rumah oleh kakak-kakakmu.”


Lucky atau Handoko terkejut Kenzie mengetahui latar belakangnya yang selama ini dia sembunyikan. Dengan langkah pelan, Kenzie berjalan mendekati pria itu. Dia berhenti tepat di depan Lucky yang sudah terpojok.


“Katakan siapa yang menyuruhmu.”


“Nenek moyangmu.”


BUGH


“Wrong answer.”


Lucky mengusap sudut bibirnya yang terluka akibat pukulan keras Kenzie. Dia berusaha menghindari Kenzie yang terus mendekatinya.


“Kenapa kamu menculik Nara?”


“Untuk menikmati tubuhnya.”


BUGH


BUGH


Dua pukulan beruntun kembali mengenai wajah Lucky. Bukan itu saja, Kenzie juga melayangkan tendangannya hingga tubuh Lucky terpental kemudian menabrak dinding kabin dan jatuh ke lantai. Duta sedikit meringis melihat apa yang dilakukan Kenzie. Yang lebih menakutkan, pria itu melakukannya dengan wajah tanpa ekspresi.


“Kamu boleh memukuliku sampai mati, aku tidak peduli. Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu tahu siapa orang yang ada di belakangku. Orang yang sangat ingin membuat Nara menderita.”


Lucky terus memancing emosi Kenzie, baginya sudah kepalang tanggung juga. Pria itu cukup percaya diri kalau Kenzie tidak akan membunuhnya. Dia hanya harus bertahan saja. Tak apa menerima beberapa pukulan dan tendangan, asalkan bos yang selama ini menyokong hidupnya tetap aman.


Kenzie yang sedari tadi berusaha untuk sabar, mulai kehilangan kendali. Dengan cepat dia merangsek menuju Lucky. Tanpa bertanya lagi, pria itu langsung melayangkan pukulan dan tendangan pada Lucky. Duta bergerak cepat menghentikan Kenzie ketika melihat Lucky sudah tidak berdaya.


“Cukup pak. Dia bisa mati.”


“Biarkan saja dia mati!! Dia bilang tidak takut mati. Bawa dia masuk lebih dalam ke hutan lalu ikat tubuhnya di pohon. Lepaskan juga harimau dan singa yang kamu bawa tadi. Biarkan dia menjadi santapan hewan itu.”


Setelah mengeluarkan titahnya, Kenzie beranjak pergi. Mendengar ucapan pria itu, Lucky dengan sisa-sisa tenaganya berusaha menyusulnya. Sambil merayap, dia menangkap kaki Kenzie, membuat pria itu menghentikan langkahnya.


“Jangan.. jangan tinggalkan aku di hutan.. tolong.”


“Bukankah kamu tidak takut mati? Buatku ngga masalah melenyapkan orang sepertimu. Tidak akan ada yang mencarimu, termasuk bos yang kamu lindungi. Duta, bawa dia!”


“Prima!! Prima.. dia yang menyuruhku.”


“Prima siapa? Prima Jasa?”


“Prima Wibowo. Aku ngga tahu siapa dia. Aku hanya tahu namanya tapi aku sama sekali ngga tahu soal kehidupannya. Aku berani sumpah, hanya itu yang kutahu.”


“Bawa dia ke markas.”


“Baik pak.”


Duta mendekati Lucky kemudian membantu pria itu berdiri. Sedang Kenzie bergegas keluar dari kabin. Dia segera menuju mobilnya yang terpakir di belakang kabin. Melihat atasannya sudah datang, Septa dengan cepat membukakan pintu. Kenzie naik ke kursi belakang. Setelah menutup pintu Septa naik ke belakang kemudi, lalu menjalankan kendaraan roda empat tersebut.


Nara tak mau melepaskan pelukannya di tubuh Kenzie. Gadis itu baru merasa tenang setelah calon suaminya ada bersamanya. Kenzie mengeratkan pelukannya di bahu Nara. Beberapa kali dia mendaratkan ciuman di puncak kepala Nara.


“Maaf.. sudah membuatmu ketakutan.”


Tak ada jawaban dari Nara, dia membenamkan kepalanya di dada bidang Kenzie. Tadi Septa sudah menceritakan semua kalau apa yang terjadi barusan adalah bagian dari rencana Kenzie. Awalnya Nara merasa kesal tapi begitu tahu, Kenzie melakukannya demi bisa menangkap orang yang hendak mencelakakan keluarganya, rasa kesal Nara seketika hilang.


“Mas..”


“Hmm..”


“Terima kasih. Kamu melakukan ini untuk keluargaku.”


“Karena kamu calon istriku.”


“I love you.”


“Love you much sweet heart. Tidurlah, kamu pasti lelah.”


Nara menelusupkan kepalanya di dada Kenzie. Ketegangan yang dirasakannya tadi memang membuat tubuhnya lelah. Menghirup aroma parfum yang bercampur dengan aroma tubuh Kenzie, membuat gadis itu merasa tenang. Perlahan rasa kantuk menderanya. Nara memejamkan matanya dan mulai tertidur.


☘️☘️☘️


**Gimana? Mamake udah cocok belum bikin novel genre action?🤭


Sekali² ngga apa²lah bikin tegang. Itung² latihan biar bisa kaya Ian Flemmings, penulis sekaligus pencipta tokoh 007 alias James Bond.


Yang udah pernah baca novel mamake yang lain harusnya udah kebal ya, soalnya part tegang kaya gini selalu mamake sisipkan. Karena sekali lagi, ngarep jadi Ian Flemmings or Agatha Christie wkwkwk...


Septa : Buat yang udah hujat gue, nyumpahin gue, marah² ngga jelas ama gue, gue tunggu permintaan maafnya ya. Kalau ngga, gue bikin jadi es goyobod🏃🏃🏃

__ADS_1


Part tegangnya udahan? Ngga janji wkwkwkwk... kabooorrr🚴🚴🚴**


__ADS_2