KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Pengantin Baru Stok Lama


__ADS_3

Kelopak mata Risma bergerak-gerak, kemudian terbuka. Bau obat-obatan menerobos masuk ke dalam indra penciuman wanita itu. Dia menolehkan kepalanya ke arah Sandi yang duduk di sisi blankar.


“Mas..” panggilnya.


“Kamu sudah sadar.”


“Aku kenapa mas?”


“Kamu pingsan tadi.”


“Ooh..”


Risma mencoba bangun, dengan sigap Sandi membantu istrinya itu lalu menyandarkan punggungnya ke dinding di belakangnya. Wanita itu memegangi kepalanya yang masih terasa pening.


“Anak-anak di mana mas?”


“Di rumah.”


“Aku habis mimpi buruk, mas.”


“Mimpi apa?”


“Aku mimpi Nita menikah dengan pak Darmawan.”


Sandi memandangi sang istri seraya menghembuskan nafas panjang. Sepertinya saat jatuh tadi kepala Risma tak membentur apapun, tapi mengapa tiba-tiba wanita itu kehilangan ingatannya.


“Itu bukan mimpi. Pak Darmawan memang menikah dengan Nita. Dan kamu pingsan di panggung pelaminan pas mau kasih ucapan selamat, malu-maluin.”


“Hah??”


Ingatan Risma seakan dipaksa kembali begitu mendengar penuturan suaminya. Di kepalanya kembali berputar kejadian yang menimpanya sesaat sebelum kehilangan kesadaran.


“Ngga!”


“Ngga apa?”


“Itu Nita kenapa bisa nikah sama pak Darmawan. Ngga bener ini, mas. Bisa-bisa perempuan itu besar kepala jadi nyonya Darmawan hiks.. hiks..”


Risma mulai menangis, Sandi tak merespon apapun. Seperti halnya sang istri, dia juga terkejut mengetahui kalau wanita yang dinikahi atasannya adalah Nita, mantan istri yang dulu pernah disia-siakannya. Harapannya untuk bisa kembali bersama wanita itu kini musnah sudah. Dia juga tidak berani mengganggu Nita lagi. Jika nekad, bisa dipastikan dirinya akan kehilangan pekerjaan.


☘️☘️☘️


Setelah pesta resepsi usai, pasangan pengantin segera masuk ke dalam kamar pengantin yang berada di hotel yang sama tempat berlangsungnya resepsi. Nita masuk lebih dulu ke dalam kamar suite room itu, sedang Darmawan masih berbincang dengan Abi juga Juna. Wanita itu segera menuju ruang tidur.


Dengan cepat Nita membersihkan make up dan melepas gaun pengantinnya. Untung saja dia memilih gaun yang simple hingga tak perlu bantuan orang untuk melepasnya. Setelah menggantungkan gaun pengantin, wanita itu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Nita tak berlama-lama di kamar mandi. Tak kurang dari lima belas menit, dia sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Pakaian tidur berwarna putih dengan panjang selutut telah terpasang di tubuhnya. Wanita itu keluar dari ruang tidur begitu mendengar suara pintu terbuka.


Darmawan masuk ke dalam kamar sehabis berbincang dengan Abi dan Juna. Nita membantu melepaskan tuxedo yang dikenakan oleh pria yang sudah sah menjadi suaminya. Sebenarnya dia merasa gugup juga. Bertahun-tahun hidup sendiri, dan kini berada satu ruangan dengan lawan jenis. Tak ayal membuat jantungnya berdegup kencang juga.


“Terima kasih,” ucap Darmawan begitu Nita selesai membantunya melepaskan tuxedo berikut dasi kupu-kupu yang dikenakannya.


“Mas mandi dulu. Aku buatkan minuman.”


“Iya.”


Nita mengambil handuk dari dalam lemari lalu memberikannya pada Darmawan. Begitu suaminya itu masuk ke kamar mandi, dia menyiapkan pakaian tidur. Setelahnya dia bergegas menuju pantry untuk membuatkan minuman hangat.


Jantung Nita berdegup kencang ketika hidungnya mengendus aroma wangi sabun. Darmawan yang sudah selesai mandi menghampiri istrinya yang menunggunya di pantry. Pria itu menarik kursi di samping Nita.


“Tehnya, mas.”

__ADS_1


“Terima kasih.”


Darmawan mengambil cangkir kemudian menyesapnya perlahan. Rasa teh buatan Nita terasa pas di lidahnya, tidak terlalu manis tapi juga tidak pahit. Akhirnya pria itu mengalami kembali bagaimana rasanya dilayani oleh seorang istri. Hal yang sudah hilang dari dirinya sejak tujuh tahun lalu.


“Ehm.. mas.. Risma, bagaimana kabarnya?”


“Tidak tahu. Heran juga kenapa dia tiba-tiba pingsan.”


Darmawan pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi pada bawahannya itu. Padahal Nina sudah menceritakan semuanya perihal Risma juga Sandi. Bagaimana Risma selalu merendahkan Nita, padahal posisi Risma adalah perusak rumah tangga Nita dengan Sandi. Mendengar itu semua Darmawan merasa geram juga, namun dia masih menunggu waktu yang tepat untuk membalas pasangan suami istri itu.


“Sudah malam, apa kamu tidak mengantuk?”


“Eh.. iya mas. Habiskan dulu tehnya.”


Darmawan menyesap habis tehnya. Dia melarang Nita yang hendak mencuci cangkir bekasnya. Pria itu menarik tangan Nita masuk ke ruang tidur. Jantung Nita kembali berdegup kencang ketika Darmawan menutup pintu kamar. Dengan langkah pelan dia berjalan menuju ranjang lalu mendudukkan diri di sisinya.


Pria itu meraih tangan Nita kemudian mencium punggung tangannya dengan lembut. Dada Nita semakin berdesir dibuatnya. Lepas mencium punggung tangan, Darmawan mendaratkan ciuman di kening, kedua kelopak mata, kedua pipi dan terakhir menyentuh bibir Nita dengan bibirnya.


Mata Nita terus terpejam saat sang suami melakukan itu semua. Bukan hanya jantungnya yang bertalu-talu lebih cepat, namun bulu-bulu di tubuhnya meremang saat tangan Darmawan mulai menelusuri tubuhnya. Dimulai dari usapan punggung, berpindah ke lengan. Seiring dengan itu, dia mulai mel*mat bibir Nita dengan lembut.


Raga Nita seakan melayang ketika sentuhan bibir Darmawan menyentuh lehernya. Kecupan-kecupan kecil diberikan pria itu di sana. Kemudian perlahan jemarinya mulai membuka kancing depan pakaian tidur yang dikenakan sang istri. Nita masih belum berani membuka matanya. Dadanya naik turun menahan gejolak yang dirasakannya.


Dengan gerakan pelan Darmawan membaringkan Nita di atas kasur. Pria itu ikut merangkak naik dan kembali melanjutkan cumbuannya. Kini tangannya sudah berani meremat bulatan kenyal milik istrinya. Bukan hanya Nita, tapi jantung Darmawan pun tak kalah kencang iramanya. Tujuh tahun menahan diri untuk tidak menyentuh wanita dan kini dia bisa melampiaskan hasratnya.


Tangannya menelusup masuk ke dalam pakaian tidur Nita, semakin membuat wanita itu tak enak diam ketika telapak tangan Darmawan meraba perut Nita. Tak dapat ditahan, sebuah des*han lolos dari bibir wanita itu. Darmawan kemudian menyingkap pakaian tidur berwarna putih dan meloloskannya.


Darmawan meneguk ludahnya kasar melihat pemandangan indah di bawahnya. Dia menghentikan aksinya sejenak untuk melepaskan kaos yang dikenakannya. Merasa tak ada pergerakan lagi dari sang suami, Nita memberanikan diri membuka matanya. Dia terkejut saat melihat Darmawan sudah melepas pakaian bagian atasnya. Dan kini sedang membuka celana yang dikenakannya.


Tak butuh waktu lama bagi pengantin baru stok lama itu untuk memulai ritual malam pertama. Walau sudah menduda selama tujuh tahun, Darmawan tetap tak kehilangan kemampuan untuk membuat istrinya mendesah, menikmati semua sentuhannya. Di awal dia sempat kesulitan untuk membobol gawang Nita yang sudah lama tak dimasuki batangan kenyal.


Udara panas seketika menguar di sekitar mereka ketika tempo permainan semakin cepat. Air conditioner yang menyejukkan ruang tidur itu terasa tak berfungsi. Titik-titik keringat mulai membasahi punggung Darmawan saat terus memacu dirinya di atas istrinya. Nita dapat merasakan dirinya sebentar lagi akan sampai di puncaknya. Darmawan menautkan tangan mereka dan saat bersamaan Nita mencapai pelepasannya.


Demikian halnya Nita, Darmawan pun sudah hampir sampai ke ujungnya. Dia mempercepat gerakannya, memaju mundurkan pinggulnya. Deru nafasnya semakin memburu, tautan tangannya semakin erat dan tak lama kemudian terdengar erangannya saat berhasil menggapai kepuasannya.


☘️☘️☘️


Dengan bertelanjang kaki, Darmawan dan Nita menyusuri bibir pantai Karang Potong dengan tangan saling bertautan. Sehari setelah resepsi, mereka langsung berbulan madu. Nita memang sengaja ingin menghabiskan masa bulan madu dengan mengunjungi tempat wisata yang tidak terlalu jauh dari kota Bandung. Dan mereka memutuskan untuk mengunjungi tempat wisata Karang Potong Ocean View yang ada di Cianjur.


Selain pemandangan pantai yang indah. Di lepas pantai juga dibangun resort yang konsepnya membuat pengunjung serasa berada di Bali dan Santorini. Selain pantai, ada objek wisata lain yang bisa dikunjungi di sini.


Semilir angin memainkan rambut Nita hingga beberapa helainya menutupi wajahnya. Darmawan menghentikan langkahnya kemudian merapihkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya. Dia lalu mengajak Nita duduk di atas pasir. Sebentar lagi waktu sunset tiba, dan mereka ingin menikmati momen syahdu tersebut berdua.


“Nita.. apa kamu tidak menyesal menikah denganku?”


“Kenapa aku harus menyesal? Mas adalah lelaki yang baik, mas juga menyayangi anak-anakku dengan tulus. Berkat mas, mereka bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang tak pernah mereka dapatkan. Aku bersyukur menikah denganmu.”


“Begitu pula denganku. Aku beruntung bisa memilikimu. Fikri dan Mentari juga bahagia bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu lagi. Bolehkan aku berterima kasih pada Sandi karena sudah melepaskan wanita sebaik dirimu, hingga aku bisa memilikimu.”


Senyum di wajah Nita terbit mendengar rangkaian kalimat yang terdengar begitu manis di telinga dan menghangatkan hatinya. Darmawan juga memperlakukannya dengan lemah lembut, Nita merasa begitu dimanjakan oleh pria itu.


“Apa kamu sudah memikirkan apa yang ingin kamu lakukan untuk mengisi waktu?”


“Hmm.. kalau mas tidak keberatan, aku ingin menanam bunga di taman yang ada di rumah. Aku juga ingin berpartisipasi menjadi sukarelawan di panti jompo yang sering dikunjungi bu Nina.”


“Silahkan saja sayang. Lakukan apapun yang membuat dirimu senang. Sudah waktunya kamu merasakan kebahagiaan. Dan tugasku memastikan dirimu tidak kekurangan apapun, baik materi, perhatian maupun kasih sayang.”


“Kenapa mulutmu manis sekali mas?”


“Entahlah, sepertinya lidahku hanya bisa mengucapkan kata-kata manis jika di depanmu.”


“Gombal.”

__ADS_1


Nita tersipu malu mendengar gombalan suaminya. Wanita itu menundukkan kepalanya untuk menutupi rona merah di pipinya. Darmawan merengkuh bahu Nita kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


Hari semakin senja, semburat kemerahan mulai terlihat di langit. Dua pasang insan yang tengah menikmati indahnya kebahagiaan dan manisnya cinta, menikmati pergerakan sang surya yang tengah kembali ke peraduannya. Sesekali Darmawan mendaratkan kecupan di puncak kepala dan punggung tangan istrinya, membuat suasana semakin romantis.


☘️☘️☘️


Gonjang-ganjing akan adanya mutasi dan PHK di kantor Artha Buana semakin santer terdengar. Satu minggu setelah pernikahannya, Darmawan segera merealisasikan rencananya itu. Dikarenakan ada pemberlakukan sistem baru di perusahaan, mau tak mau membuat pria itu mengambil langkah ini.


Ada beberapa karyawan yang terpaksa dirumahkan karena tenaga mereka sudah tergantikan oleh sistem. Pemilihan karyawan yang dirumahkan berdasarkan usia dan berapa lama mereka mendedikasikan diri pada perusahaan. Karyawan tersebut nantinya akan diberikan uang pesangon sebanyak 20x gaji pokok.


Satu per satu karyawan yang dirumahkan, dimutasi atau dipromosikan menghadap Darmawan di ruangan kerjanya. Pria itu sendiri yang memutuskan memberi kabar pada mereka. Sedari tadi sudah beberapa orang yang keluar masuk ruangan direktur utama tersebut.


Dada Risma berdebar saat namanya termasuk salah satu yang diminta untuk masuk ke ruangan Darmawan. Setelah mengetuk pintu, wanita itu langsung menghadap Darmawan. Pria itu mempersilahkan Risma untuk duduk.


“Ibu Risma. Saya sangat berterima kasih atas semua kontribusi dan dedikasi anda selama ini. Seperti yang ibu Risma tahu, divisi ibu yang terkena dampak langsung akan penerapan sistem baru di kantor ini. Dengan berat hati saya menyampaikan kalau kami terpaksa mengakhiri kebersamaan kita.”


Risma hanya ternganga mendengar itu semua. Mimpi apa dirinya semalam sampai mendapat kabar seperti ini. Sungguh dia tak menyangka menjadi salah satu karyawan yang dirumahkan. Dengan langkah gontai, wanita itu keluar dari ruangan Darmawan.


Sekeluarnya dari ruangan, dia berpapasan dengan Sandi yang ternyata juga dipanggil. Hati Risma cemas kalau sampai suaminya juga mengalami hal yang sama. Risma ingin mengajak Sandi berbicara, tetapi suaminya itu memilih segera masuk ke dalam ruangan. Dirinya sudah tak sabar mendengar apa yang akan dikatakan Darmawan padanya.


“Siang pak Darma,” sapa Sandi seraya mendudukkan bokongnya di kursi.


“Siang pak Sandi.”


Darmawan mengambil sebuah amplop putih dari dalam laci meja kerjanya. Dia tetap menahan amplop tersebut di tangannya. Sebelum memberikannya, dia ingin menyampaikan langsung isi dari surat yang ada di dalam amplop.


“Saya ucapkan selamat pada pak Sandi. Bapak adalah salah satu orang yang mendapatkan promosi jabatan.”


“Terima kasih, pak.”


Senyum lebar tercetak di wajah Sandi. Dirinya sudah menduga kalau Darmawan akan memberikan promosi kenaikan jabatan pada dirinya. Dia sudah tak sabar menanti jabatan baru apa yang akan dipegangnya nanti.


“Seperti pak Sandi ketahui, kalau perusahaan kita sedang menjalin kerjasama dengan Metro East. Kami memutuskan membangun beberapa kantor bersama di tempat-tempat yang menjadi lokasi pembangunan proyek. Saya menunjuk pak Sandi untuk mengurus kantor bersama kita. Nantinya bapak yang akan bertanggung jawab atas operasionalisasi kantor tersebut. Singkatnya jabatan bapak naik sebagai kepala cabang kantor bersama.”


“Suatu kehormatan bagi saya, bapak mempercayakan jabatan itu kepada saya. Terima kasih banyak, pak.”


“Baiklah. Mulai minggu depan, pak Sandi akan mulai aktif bekerja di kantor cabang bersama.”


“Di mana saya ditugaskan, pak?”


“Bapak bertugas mengurus kantor bersama di pulau Rinca.”


Senyum di wajah Sandi menghilang begitu mendengar lokasi dirinya ditempatkan. Sebuah tempat yang jauh dan tak pernah terlintas di benaknya. Walau pulau Rinca terkenal karena habitat komodonya, namun tetap saja pria itu merasa sangat terpukul. Dirinya seakan tengah terkena hukuman alih-alih promosi jabatan.


☘️☘️☘️


**Mudah²an bisa nongol malam ini ya..


Sekali lagi mamake ucapkan terima kasih atas semua dukungannya.


Readers kece.. ada apa dengan kalian? Kenapa kalian begitu tega tertawa di atas penderitaan Risma?🤧🏃🏃🏃🏃


Seperti biasa Jumat mamake libur🙏 Tapi kalau bab ini nongolnya Jumat, apalah daya. Salam sayang dan sehat² terus ya😘😘😘


Oh iya, ini visual pengantin baru stok lama versi mamake😉


Mama Nita**



Papa Darmawan

__ADS_1



Yang tidak suka dengan visualnya mohon maaf. Ini semata² hanya kehaluan mamake saja. Silahkan cari visual versi masing² jika tidak berkenan🙏


__ADS_2