KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Seratus Kali


__ADS_3

Di tengah acara sarapan keluarga Hikmat, bi Sari datang membawakan satu pitcher susu murni, oleh-oleh pak Tatan sehabis mudik. Wanita paruh baya itu menuangkan susu ke dalam beberapa gelas kemudian memberikannya pada semua yang ada di meja makan.


“Bi.. Anfa ngga minum susu,” ucap Nina ketika bi Sari menaruh gelas susu di dekat Anfa.


“Ngga apa-apa kak. Sini aku minum.”


Anfa hendak mengambil gelas susu namun segera ditahan oleh Nina. Diteguknya sampai habis susu yang hendak diambil Anfa.


“Kak..”


“Yang suka susu itu Gean bukan Anfa. Perutmu selalu sakit kalau minum susu sapi. Sudah cukup mereka memaksamu menelan makanan dan minuman yang tidak kamu sukai. Berhenti Fa.. tanamkan dalam pikiranmu kalau sekarang kamu Anfa bukan Gean.”


“Iya kak.”


“Berikan waktu pada Anfa, Nin. Danu dan Wina sudah mendoktrin adikmu selama bertahun-tahun. Alam bawah sadarnya sudah merekam apa yang biasa dia lakukan selama sepuluh tahun ini.”


“Iya pa.”


“Anfa, kamu mau kan konsultasi dengan psikiater?” tawar Teddy dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan pemuda itu.


“Kalau memang itu bisa membantu, aku mau pa.”


“Baguslah, nanti papa akan hubungi teman papa yang seorang psikiater.”


Teddy menyunggingkan senyumnya. Dia paham betul bagaimana kondisi Anfa saat ini. Selama sepuluh tahun anak itu terus dipaksa menjadi pribadi lain, dipaksa menyukai hal yang disukai orang lain. Ketika dia kembali menjadi dirinya sendiri, akan cukup sulit baginya beradaptasi. Alam bawah sadarnya sudah terkontaminasi, hingga tanpa sadar dirinya akan terus melakukan hal yang telah biasa dilakukannya.


Anfa menghabiskan sarapannya lalu bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia berdiri memandangi Kawasaki Ninja 300 berwarna putih yang terparkir di pekarangan rumah. Motor ini baru tiba kemarin sore dan tidak tahu siapa pemilik motor ini. Perkiraaannya kalau tidak Juna, ya Abi. Tidak mungkin Sekar pemiliknya.


“Kamu suka?”


Pertanyaan Abi disertai tepukan tangannya di bahu Anfa, sukses membuyarkan lamunan pemuda itu yang tengah membayangkan dirinya mengendarai kuda besi tersebut.


“Siapa yang ngga suka sama motor keren kaya gini.”


Abi merogoh saku celananya lalu mengeluarkan kunci motor dari dalamnya. Diserahkannya kunci tersebut pada Anfa. Pemuda itu hanya diam menatap Abi dengan pandangan bingung.


“Itu motormu. Ini kuncinya.”


“I.. itu buatku kak?”


“Hmm.. kamu lebih senang mengendarai motor dari pada mobil kan?”


“Iya sih kak, tapi...” Anfa merasa sungkan menerima hadiah ini dari calon kakak iparnya.


“Itu milikmu. Bayar dengan kerja kerasmu di kantor.”


“Siap bos.”


Anfa menaruh telapak tangannya di pelipis seperti sedang menghormat bendera. Abi hanya tersenyum tipis. Dia berjalan menuju mobilnya. Tak lama Nina menyusul di belakangnya sambil membawakan tas kerjanya. Mata Anfa terus mengikuti langkah sang kakak yang mengikuti Abi.


“Mas.. nanti madam Lee ke sini. Baju pengantinnya sudah selesai.”


“Hmm.. nanti aku pulang sekalian makan siang di rumah.”


“Ngga usah mas, nanti mas cape.”

__ADS_1


Nina berusaha mencegah Abi melihatnya mencoba gaun pengantin. Dia tak mau Abi kembali meributkan gaun yang akan dikenakannya.


“Aku pasti datang.”


Abi mencium pipi Nina kemudian masuk ke dalam mobil. Gadis itu hanya terpaku, Abi dengan berani menciumnya di saat ada Anfa di dekat mereka. Suara klakson mobil mengejutkan Nina ketika mobil yang dikendarai Abi meninggalkan pekarangan rumah.


“Kak.. aku pergi dulu ya.”


“Iya Fa, hati-hati. Nanti kamu makan siang di rumah ya.”


“Boleh kak. Aku juga mau lihat kakak nyoba gaun pengantin.”


“Ok.. kakak juga mau panggil Rayi sekalian bicarain foto pre wed besok.”


Anfa hanya mengangguk. Dia mengambil helm lalu memakainya. Dengan hati riang dinaikinya tunggangan barunya. Dilambaikan tangannya ke arah sang kakak sebelum pemuda itu memacu kendaraannya.


☘️☘️☘️


Madam Lee baru saja selesai membantu Nina mengenakan gaun pengantin. Madam Lee memang bukan desainer kaleng-kaleng. Wanita keturunan Tionghoa itu berhasil membuat gaun pernikahan indah ini hanya dalam waktu tiga hari. Bukan hanya model dan bahan gaun disesuaikan dengan keinginan Abi. Namun gaun juga dihiasi batu swarovski di bagian atas dan bawahnya.


Butuh tenaga ekstra bagi Nina mengenakan gaun pengantin ini. Maklum saja bobot gaun pengantin ini lumayan berat juga. Rayi memandang kagum pada Nina yang terlihat bak putri kerajaan. Madam Lee mencepol rambut Nina seadanya lalu dia memasangkan tiara di kepala Nina.


“Selesai sudah. Ayo kita keluar, sepertinya Abi sudah tidak sabar ingin melihatmu.”


Nina tersipu malu. Dengan dibantu Rayi, Nina berjalan keluar dari kamar. Mereka menuju ruang tengah. Abi, Rahma, Teddy juga Anfa sudah menunggu di sana. Abi tertegun melihat Nina dalam balutan gaun pengantin. Rahma berdiri kemudian berjalan mengelilingi calon menantunya.


“Perfect!” puji Rahma.


“Gimana Bi, Nina cantik kan? Gaunnya sudah sesuai keinginan kamu?”


Abi tak menjawab, hanya matanya saja yang terus memandang Nina tanpa berkedip. Wajah gadis itu bersemu merah ditatap begitu dalam oleh calon suaminya. Anfa juga menatap Nina tanpa berkedip. Dia begitu kagum melihat sang kakak yang seperti putri kerajaan saja.


“Cari mati kamu Fa,” balas Abi. Anfa terkekeh mendengarnya.


“Kak Na cantik. Gaunnya juga bagus. Tapi aku baru lihat gaun pengantin model turtle neck gitu.”


“Tanya orang di sebelahmu Fa,” jawab Nina.


“Bagus begitu, biar laki-laki ngga ada yang lihat leher kamu.”


“Leher ngga kelihatan tapi wajahnya kak Na tetap bisa dinikmati kak. Mendingan kak Na dipakein cadar deh.”


“Anfaaaaa jangan kasih ide aneh-aneh ya,” geram Nina. Anfa hanya tergelak saja. Senang sekali dia menggoda calon pengantin ini.


“Boleh juga idenya. Madam, bisa buatin cadarnya sekalian.”


“Maaaaasss awas ya.. Kalau aku pake cadar, mas juga harus pake masker!!!”


Semua yang ada di sana tak dapat menahan tawanya mendengar perdebatan calon pengantin ini. Madam Lee membawa Nina kembali ke kamar dibantu oleh asistennya untuk melepaskan gaun.


“Ge.. besok mau ikut foto pre wedding ngga?” tanya Rayi begitu mendudukkan diri di samping kekasihnya.


“Eh manggil apa kamu tadi?” tanya Abi dengan nada ketusnya.


“Hehehe.. salah lidah kak.”

__ADS_1


“Inget.. mulai sekarang kamu harus panggil dia Anfa.. Aaannfaaa.”


“Iya kak iya. Tapi ini otak sama lidah udah ke-setting lama manggil Gean. Jadi masih terbiasa, masih suka keseleo,” Rayi mencoba membela diri.


“Makanya dari sekarang biasain manggil Anfa. Ayo sekarang setting ulang otak sama lidah kamu. Sebut nama Anfa.”


“Anfa.”


“Lagi.”


“Anfa.”


“Terus.”


“Anfa.”


“Bagus.. sebut terus sampai seratus kali.”


“Anfa.. Anfa.. Anfa..”


Rayi terus saja menyebutkan kata Anfa berkali-kali seusia perintah Abi. Anfa sebisa mungkin menahan tawanya melihat tingkah absurd dua orang di dekatnya. Sebenarnya di antara mereka mana yang bodoh? Yang memberi perintah atau yang menuruti perintah. Entahlah, yang jelas Anfa terhibur dengan tingkah mereka berdua.


“Udah kak,” ucap Rayi begitu selesai melafalkan nama Anfa seratus kali.


“Emang udah seratus?”


“Udah. Emang kakak ngga ngitung tadi?”


“Kaya kurang kerjaan aja ngitungin yang begituan.”


“Hahahaha...”


Anfa sudah tidak dapat menahan tawanya lagi. Rayi mendelik sebal pada lelaki di sampingnya ini. Bukannya membela ketika dirinya dibully, Anfa justru menertawakannya sepenuh hati.


“Jangan berhenti ya sebutin nama Anfa. Setiap hari kaya tadi. Kalau sampai hari pernikahan saya kamu masih manggil dia Gean, saya bakal cariin dia perempuan yang lebih cantik dan lebih pintar dari kamu,” ancam Abi.


Rayi hanya menyebikkan bibirnya ke arah pria menyebalkan itu. Anfa menutup mulutnya dengan tangan terkepal. Rayi mencubit perut Anfa, membuat tawa pemuda itu berubah menjadi ringisan.


Nina yang telah selesai berganti pakaian bergabung dengan adik dan calon suaminya di ruangan tengah. Setelah Nina datang, Rayi bersiap untuk menerangkan konsep foto pre wedding yang dilakukan besok.


“Buat foto pre wedding besok...”


“Sebentar.. foto pre wedding akan dilakukan malam ini.”


“Hah.. mana bisa kak? Kan besok janjiannya.”


“Konsep yang kamu ajuin itu terlalu biasa. Pokoknya malam ini kita take fotonya. Lokasinya di The Cliff. Untuk kostumnya dan fotografernya udah disiapin juga.”


“Terus buat besok ngga jadi nih? Padahal aku udah bayar fotografer sama biaya sewa tempatnya kak, kan sayang.”


“Biar pak Kamal sama bi Murni yang foto pre wedding di sana,” jawab Abi enteng.


“Haahhh???”


☘️☘️☘️

__ADS_1


Astaga Rayi mau aja dikerjain sama Abi, ngewirid nama Anfa🤣


Cieee pak Kamal Ama bi Murni mau foto pre wed, suuiit swwiiw...


__ADS_2