
Mata Nadia mulai terbuka, nuansa putih serta bau disinfektan mulai memasuki indranya. Juna yang terus berada di samping sang istri segera bangun dari duduknya, begitu pula dengan Rahma dan Teddy. Nadia menoleh ke arah Juna.
“Mas.. aku di mana?”
“Kamu di rumah sakit sayang.”
“Kenapa aku bisa ada di rumah sakit. Apa yang...”
Ucapan Nadia menggantung ketika mengingat kejadian terakhir sebelum dirinya pingsan. Sontak Nadia mengarahkan tangannya ke arah perut. Kemudian dengan pandangan cemas melihat ke arah sang suami.
“Anak kita, dia baik-baik aja kan mas?”
“Maaf sayang...”
“Maaf kenapa? Anakku kenapa?”
Juna tak sanggup menjawab pertanyaan Nadia. Segera diraihnya tubuh Nadia ke dalam pelukannya. Nadia terus bertanya tentang anak dalam kandungannya. Juna terus mengatakan maaf sambil memeluk erat istrinya.
“Anakku baik-baik aja mas, jawab mas!”
“Kita kehilangan dia sayang..”
“Ngga!! Ngga mungkin!! Anakku baik-baik aja, dia ngga mungkin pergi!! Aaagggghhhh!!!”
Nadia menangis histeris dalam pelukan Juna. Rahma yang tak sanggup melihat kesedihan Nadia, hanya menangis dalam pelukan suaminya.
“Kembalikan anakku!! Kembalikan!!”
“Sayang... sabar sayang.. istighfar sayang... semua sudah kehendak Allah.”
“Kembalikan anakku! Kembalikaaaaannn!!!!”
Nadia semakin histeris, dia memberontak mencoba melepaskan diri dari Juna. Namun suaminya itu semakin mengeratkan pelukannya sambil berusaha untuk terus menenangkannya.
Pintu ruangan terbuka, dokter dan suster masuk ke dalamnya. Melihat kedatangan sang dokter, Nadia kembali bertanya tentang keberadaan anaknya.
“Dokter anakku baik-baika aja kan? Suamiku bohong kan dok?”
“Maaf bu Nadia, kami tidak bisa menyelamatkannya.”
“BOHONG!!! Kalian semua bohong!!! Anakku baik-baik saja!!”
Nadia semakin histeris. Dokter memberikan isyarat pada suster. Perawat itu keluar sebentar kemudian kembali dengan membawa satu ampul obat penenang. Setelah memindahkan cairan diazepam ke dalam suntikan. Sang dokter segera menyuntikkan cairan tersebut ke dalam tubuh Nadia.
Untuk sesaat Nadia masih terus memberontak sambil berteriak histeris. Namun tak lama kemudian pergerakan tubuhnya semakin melemah. Wanita itu pun jatuh terkulai dalam pelukan suaminya. Juna membaringkan tubuh Nadia di atas bed.
“Istri saya baik-baik saja kan dok?”
“Dalam kasus keguguran, mental pasien yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Semua tergantung dari pribadi masing-masing dan juga dukungan keluarga. Sebagai suami, bapak harus lebih perhatian dan sabar lagi. Dukungan penuh seorang suami akan mempercepat pemulihan mentalnya.”
“Iya dok, terima kasih.”
Dokter itu hanya menganggukkan kepalanya, kemudian pamit pergi. Rahma mendekati Juna lalu merangkul bahu anak sulungnya itu.
“Sabar Jun. Kamu harus bisa menenangkan Nadia dan memberikan pengertian padanya. Kamu juga harus selalu berada di sisinya.”
“Iya ma.”
Juna mengarahkan pandangannya pada Nadia. Istrinya itu kembali tertidur setelah diberi obat penenang. Pria itu kembali duduk di samping sambil memegang tangan sang istri. Beberapa kali dia mengecup punggung tangan Nadia.
☘️☘️☘️
Sementara itu, Wira yang telah sampai di kediaman Juna segera mencari keberadaan sang istri. Entah mengapa dia yakin betul kalau keguguran yang menimpa Nadia disebabkan oleh istrinya itu. Wira memanggil bi Murni yang juga baru tiba setelah mengantar Nadia ke rumah sakit tadi.
“Bi.. sebenarnya apa yang terjadi tadi?”
“Saya juga ngga tau pak. Tadi ibu Ratih sarapan sendirian. Terus mba Nadia datang untuk minum susu. Saya tinggal ke dapur, ngga lama kemudian kejadian itu pak.”
Mendengar penuturan bi Murni, Wira semakin yakin saja. Dia lalu menuju kamar tamu, tempat di mana dirinya juga Ratih tidur. Karena cemas, bi Murni mengikuti langkah Wira dari belakang.
Dengan kasar Wira membuka pintu kamar. Nampak Ratih tengah berdiri di depan jendela yang menghadap ke halaman belakang. Wajah wanita paruh baya itu nampak tersenyum. Dengan kasar Wira membalikkan tubuh istrinya itu.
“Kamu kan?!” tuduh Wira.
“Ada apa pak?”
“Ngga usah pura-pura. Kamu kan yang udah buat Nadia keguguran!”
“Nadia keguguran??”
Ratih menunjukkan keterkejutannya. Matanya membelalak tak percaya mendengar ucapan suaminya. Namun sedetik kemudian ekpresinya berubah menjadi senyum penuh kemenangan. Lalu terdengar tawanya membahana memenuhi seisi kamar. Bi Murni yang hanya melihat dari dekat pintu terkejut melihat tingkah wanita tersebut.
__ADS_1
“Hahahaha... Nadia keguguran? Hahahaha... itu ganjaran setimpal untuknya. Dia harus merasakan apa yang kurasakan hahaha...”
“Dasar wanita gila!!”
Wira mencengkeram kedua tangan Ratih lalu menarik tubuh wanita itu. Didorongnya tubuh Ratih hingga punggungnya menempel pada tembok. Menyaksikan itu semua, bi Murni bergegas memanggil security yang bertugas di depan rumah.
“Nadia tidak bersalah atas keguguran yang kamu alami. Dasar wanita gila!!”
“Dia bersalah!! Karenanya aku kehilangan anakku!! Karena dia aku tidak bisa memiliki anak lagi!! Aku harap dia juga tak akan bisa memiliki anak selamanya!!”
“Keguguran yang kamu alami adalah kesalahanmu sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan Nadia. Wanita sialan!! Kalau bukan karena permintaan mendiang Susan, aku tidak akan mau menikahimu!!”
“Aku sudah mengabdikan hidupku untukmu. Anggap saja apa yang terjadi pada Nadia adalah bayaran untuk semua yang kulakukan untukmu.”
“Dasar wanita gila!!”
Wira melepas cengkeraman tangannya. Kini tangannya beralih ke leher Ratih. Pria itu benar-benar telah dikuasai emosi. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah melenyapkan Ratih dari hidupnya juga Nadia. Ratih mencoba melepaskan diri dari cekikan Wira, tangannya terus berusaha melepaskan cengekaraman di lehernya.
Dua orang security datang lalu mencoba menghentikan perbuatan Wira. Dengan susah payah keduanya menarik tubuh Wira menjauh. Lepas dari cengkeram Wira, tubuh Ratih merosot jatuh. Tangannya memegangi leher yang terasa nyeri diiringi suara batuk. Wira memberontak, mencoba melepaskan diri dari kedua security yang menahannya.
“Lepaskan!! Lepas!! Wanita itu harus kubunuh!!”
Suasana semakin tegang saja. Ratih justru tertawa melihat Wira yang tengah kalap. Dia mendekatkan dirinya pada Wira, menantang pria itu untuk kembali mencekiknya. Sontak saja Wira bertambah kalap. Tubuhnya terus bergerak mencoba melepaskan diri. Melihat situasi yang semakin kacau, bi Murni memutuskan untuk menghubungi Abi.
Wira mengerahkan semua tenaganya untuk lepas dari pegangan security dan akhirnya berhasil. Pria itu kembali merangsek maju mendekati Ratih. Didorongnya tubuh Ratih hingga terhempas ke atas kasur lalu dia mendekat dan kembali mencengrekam leher Ratih. Kedua security lagi-lagi harus melepaskan cengkeraman Wira yang semakin kuat mencekik leher Ratih.
Nafas Ratih mulai tersengal, wajahnya memerah, tenaganya untuk menahan tangan Wira semakin melemah. Lidah wanita itu sudah menjulur keluar dan pupil hitamnya hampir tak terlihat lagi. Saat dunianya mulai menggelap tiba-tiba cengkeram tangan Wira mulai mengendur kemudian lepas dari lehernya.
“Istighfar pak! Jangan seperti ini, ingat Nadia!!”
Abi datang di saat yang tepat. Dia membantu melepaskan cengkeraman tangan Wira. Membawa pria itu keluar dari kamar agar menjauh dari Ratih.
“Dia pantas mati, biarkan bapak membunuhnya!”
“Lalu bagaimana dengan Nadia pak? Apa bapak ngga memikirkan perasaannya?”
Wira tersadar ketika Abi menyebut nama anaknya. Tubuh laki-laki itu merosot jatuh ke lantai. Tangisnya mulai pecah, kemarahan dan kesedihan bercampur menjadi satu. Abi mendudukkan diri di samping pria itu.
“Semua salah bapak. Seandainya sedari dulu bapak mengirimkan perempuan itu ke rumah sakit jiwa, pasti tidak akan ada kejadian seperti ini. Nadia... dia pasti terpukul kehilangan anak yang sangat diinginkannya.”
“In Syaa Allah Nadia akan baik-baik saja pak. Tapi bapak harus tetap mendampinginya, memberikannya kekuatan. Jika bapak bersikap seperti ini, hanya akan membuatnya bertambah sedih saja.”
“Iya pak. Saya yang akan mengurusnya.”
Wira mengangguk kemudian bangun dari duduknya. Dia memilih kembali ke rumah sakit untuk menemani sang anak untuk memberikan dukungan moral. Abi mengambil ponselnya kemudian menghubungi Beno. Dia juga memerintahkah security untuk mengamankan Ratih.
Selang beberapa menit Beno datang. Pria itu langsung menemui Abi yang telah menunggunya di halaman belakang.
“Ada apa mas?”
“Tolong urus masalah bu Ratih. Pastikan dia mendekam selamanya di rumah sakit jiwa. Jangan biarkan ada pihak keluarganya yang membawanya pulang. Dia hanya boleh dijenguk setahun sekali oleh keluarganya. Pasangkan juga gelang pendeteksi lokasi, untuk berjaga-jaga kalau wanita itu kabur.”
“Baik mas.”
Beno segera menjalankan perintah Abi. Dia membawa Ratih yang kedua tangannya sudah diikat oleh tali. Dua orang anak Beno segera memasukkan wanita itu ke dalam mobil. Tak lama kemudian Ratih sudah dibawa menuju rumah sakit jiwa yang ada di kota Bandung.
☘️☘️☘️
Nadia masih terisak dalam pelukan Juna. Setelah terbangun dari tidurnya, kondisinya mulai sedikit tenang. Rahma, Teddy juga Wira masih terus di sana untuk memberikan dukungan. Juna tak hentinya menenangkan sang istri yang masih terlihat shock.
Mendengar kabar keguguran Nadia, Kevin dan Rindu pun datang untuk menjenguk. Sekar juga memutuskan datang kembali ke rumah sakit karena mengkhawatirkan keadaan sang kakak ipar.
Nadia menatap nanar ke arah Rindu. Hatinya menjerit melihat wanita lain masih bisa mempertahankan kandungannya, sedangkan dirinya tidak. Calon anak yang dinantikannya harus pergi sebelum sempat melihat dunia. Airmatanya kembali mengalir.
“Udah sayang, jangan nangis terus.”
“Iya Nad. Kamu masih muda, masih banyak kesempatan untuk memiliki anak lagi,” hibur Rahma. Namun itu semua tak mampu meredakan rasa sakit yang mendera hatinya.
Sekar menundukkan kepalanya. Seharusnya dia bisa membagikan kabar bahagia tentang kehamilannya. Namun keguguran yang dialami kakak ipar, membuatnya harus menutup mulutnya sementara waktu sampai kondisi Nadia sedikit membaik. Dia juga tak bisa memberi tahu Cakra. Begitu suaminya tahu, maka semua keluarganya pasti akan tahu.
“Kak Nadia yang sabar ya,” hibur Rindu.
Nadia tak merespon ucapan Rindu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Juna sedikit tak enak hati melihat sikap Nadia pada Rindu. Namun Kevin juga Rindu terlihat santai. Mereka paham apa yang tengah dialami oleh wanita itu.
“Ibu mana pak?” tanya Nadia.
“Abi sudah mengurusnya. Dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Bapak minta maaf Nadia, karena dia kamu jadi seperti ini. Bapak juga sudah menceraikannya, hanya tinggal mengurus proses hukumnya.”
“Bagaimana kalau benar aku tidak akan bisa punya anak lagi seperti yang dikatakan ibu?”
“Sayang.. jangan dipikirkan. Yang penting sekarang kamu harus memulihkan diri dulu. Nanti kita bisa konsultasi ke dokter soal itu.”
__ADS_1
“Aku takut mas.”
“Jangan merasa takut untuk hal yang belum tentu terjadi. Ada mas di sini. Apapun yang terjadi nanti, kita akan hadapi bersama.”
Juna menarik Nadia ke dalam pelukannya. Melalui dekapan dan usapan tangannya berharap akan sedikit meredakan kegundahan hati istrinya itu.
☘️☘️☘️
Seminggu pasca keguguran, Nadia mulai bisa beraktivitas seperti biasa. Bahkan sejak tiga hari lalu sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Namun wanita itu lebih banyak mengurung diri di kamar. Hatinya masih sedih setiap mengingat keguguran yang dialaminya.
Setiap hari, Rahma selalu mengunjungi menantunya itu. Memasakkan makanan kesukaannya. Begitu pula dengan Sekar, adik iparnya itu tak pernah absen mengunjunginya setiap hari. Di tengah kesusahannya mengalami morning sick setiap hari, Sekar selalu berusaha menemui Nadia.
Jojo yang mendengar kabar tak mengenakkan itu juga memercepat kepulangannya ke tanah air. Setelah berbulan madu, pasangan pengantin baru itu menetap sebentar di Singapura. Jojo membantu Charlie mengurus perusahaan sampai kondisi Richard stabil. Kini Jojo sudah kembali ke tanah air. Tanpa membuang waktu, mereka segera mengunjungi Nadia.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Bi Murni menyambut kedatangan Jojo dan Adinda kemudian membawa mereka menuju halaman belakang. Di sana Nadia dan Sekar tengah berbincang sambil merangkai bunga. Kedatangan Adinda disambut suka cita oleh Sekar. Wanita itu memeluk Adinda untuk menumpahkan rasa rindunya.
“Ya ampun pengantin baru lama amat bulan madunya. Kirain bakal terus tinggal di kapal pesiar,” goda Sekar.
“Iih kak Sekar mah. Aku mabok tau kalau lama-lama naik kapal laut.”
Adinda terkikik geli mengingat selama bulan madu dia selalu saja muntah setiap harinya karena belum terbiasa naik kapal laut. Niat Jojo yang ingin menggarap Adinda selama bulan madu justru berganti dengan kegiatan memijat sang istri yang terus saja mual dan muntah. Sontak saja Sekar juga Nadia tertawa mendengarnya.
“Nad.. kondisi lo sekarang gimana? Udah baikan?”
“Alhamdulillah Jo.”
“Tenang aja, nanti juga lo bakal hamil lagi kok. Lo masih muda, kak Juna juga masih kuat kan main sama elo di ranjang.”
Jojo mengaduh ketika sebuah cubitan mendarat di pinggangnya. Pelakunya tak lain adalah sang istri. Adinda gemas saja melihat sang suami yang tak pernah absen berbicara hal mesum pasca menikah.
“Assalamu’alaikum..”
Semua yang ada di halaman belakang langsung menoleh ke arah datangnya suara. Nampak Nina mendekat ke arah mereka dengan membawa kotak bekal di tangannya. Dia baru saja membuat bimbimbap dan tempura untuk dimakan bersama dengan Nadia juga Sekar.
“Ngapain kamu ke sini?!”
DEG
Langkah Nina seketika terhenti mendengar ucapan ketus Nadia. Ibu hamil tersebut cukup terkejut melihat sikap Nadia yang jauh dari kata ramah. Bukan hanya Nina, namun semua yang ada di sana pun terkejut.
“Aku bawakan makanan buat kakak.”
“Bawa kembali! Aku ngga butuh makanan darimu!”
“Nad, lo kenapa sih?” tegur Jojo.
“Iya kak Nadia kenapa? Maksud kak Nina baik kok,” sambung Sekar.
“Baik? Dia ke sini cuma mau pamer kehamilannya sama aku. Kamu senang kan Nin, sekarang perhatian semua orang hanya akan tertuju padamu. Mama dan papa juga senang karena akan memperoleh cucu darimu.”
“Astaghfirullah.. kenapa kakak ngomong seperti itu? Kasih sayang mama dan papa sama kok ke aku, kak Nadia atau Sekar.”
“Cih..”
Nadia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sejak keguguran, Nadia tak senang bertemu dengan Nina juga Rindu. Batinnya menjerit kenapa hanya dia yang harus kehilangan calon anaknya. Sementara wanita lain masih bisa menjalani kehamilan dengan baik. Bukan maksud dirinya membenci Nina, hanya saja perasaan iri begitu menguasai hatinya saat ini.
Sementara Nina mencoba tak mengambil hati ucapan iparnya itu. Dia berusaha memaklumi apa yang tengah terjadi pada Nadia. Diletakkan kotak bekal di atas meja lalu Nina mendekati Nadia. Baru saja ibu hamil itu hendak menyentuh Nadia, namun tak disangka Nadia bergerak menghadapnya kemudian mendorong tubuh Nina agar menjauh darinya. Beruntung Jojo sigap menahan tubuh Nina hingga tidak terjatuh.
“NADIA!!!”
☘️☘️☘️
**OMG Nadia tega nian kau😱
Kira² siapa yang teriak?
a. Juna
b. Abi
c. Kang cendol🤣🤣🤣
Akhir bulan penyakit mak emak adalah kehabisan uang belanja. Jadi untuk mengatasi itu, mamake cari tambahan jualan gantungan baju😎🏃🏃🏃
Eh lupa... Mampir yuk ke novel salah satu othor muda berbakat yang ngakunya ganteng dunia akhirat. Cerita tentang Sean dan Tasya yang harus menerima perjodohan kedua orang tua mereka. Yang suka dengan cerita abegeh, cuss kepoin aja. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.. maacih readers tercintaku😘😘😘**
__ADS_1