
“Ngga bisa!”
Semua mata langsung tertuju pada Barra begitu mendengar ucapan pria itu. Kenzie menatap kesal pada sahabatnya. Pasti Barra berusaha menjahili dirinya. Kalau tak mencintai Nara, Kenzie juga tak ingin memiliki kakak ipar sahabat durjana seperti Barra.
“Apa yang ngga bisa, Bar?” tanya Jojo.
“Ngga bisa ini, main pilih tanggal aja. Ken, lo kan mau nikahin adek gue, yang artinya lo bakalan jadi adek ipar gue. Nah sebagai kakak, gue ngga bisa ngelepas Nara begitu aja ke elo. Yang mau nikah kan elo, kenapa yang ngelamar om Abi. Coba gue pengen lihat lo langsung ngelamar Nara. Live! Sekarang!”
Barra terkekeh dalam hati melihat muka Kenzie yang sudah siap menabuh genderang perang. Walau dia tahu, si naga kutub itu pasti tidak akan mengabulkan keinginannya, namun apa salahnya mencoba.
“Jadi kakak ipar juga belum, udah ngelunjak. Lo mau lihat gue ngelamar Nara biar lo bisa nyontek kan buat ngelamar Hanna. Ide jebot lo udah kebaca ama gue.”
“Mana ada. Kalau urusan cewek, gue lebih kreatif ya dibanding elo,” balas Barra tak mau kalah.
“Eh ini kenapa jadi ribut ngga jelas kaya gini. Fokus.. fokus..”
Adinda menepuk tangannya dua kali. Barra langsung terdiam begitu mendengar ucapan sang mama. Bisa gawat kalau tidak menurut, maka musibah setelah acara lamaran akan langsung menimpanya.
“Kamu mau mahar apa, Ra?” tanya Nina.
“Ma.. soal mahar, hantaran pernikahan, biar aku bicarakan secara pribadi aja sama Nara,” potong Kenzie.
“Ya sudah kalau maumu begitu. Jadi, kapan rencana pernikahannya?”
“Bagaimana kalau bulan depan?” usul Jojo. Setelah berpikir sejenak, para orang tua termasuk Kenzie dan Nara menganggukkan kepalanya.
“Aku ngga setuju,” ujar Naya.
“Kenapa ngga setuju?” tanya Barra.
“Nara itu adikku, harusnya aku yang nikah duluan. Lagian kan aku duluan yang tunangan. Masa kalian duluan yang nikah.”
“Masalah buat kamu?” Kenzie menatap tajam pada Naya.
“Bukan.. ngga begitu bang. Aku bukannya ngga setuju kalian menikah. Tapi kalau bisa kalian menikah sesudah aku. Setidaknya tolong bantu bujuk bang Aric agar mau segera menikahiku.”
“Itu masalah kamu, derita kamu. Siapa suruh kamu bikin ulah. Kalau kamu mau menikah secepatnya dengan Aric, turuti apa kemauannya bukannya merengek padaku.”
Jojo berdehem menginterupsi perdebatan Kenzie dan Naya. Kalau tidak segera dihentikan, bisa-bisa Nara menyetujui permintaan saudaranya untuk menunda pernikahan sampai Naya menikah dengan Aric. Sedang Jojo ingin segera melepas Nara pada Kenzie, supaya pria itu bisa menjaga Nara. Setidaknya itu akan mengurangi bebannya saat ini.
Jojo curiga ada orang yang berusaha merusak keluarganya. Sekarang dia harus fokus menjaga istri dan anak-anaknya sambil mencari tahu siapa orang yang tengah berusaha menghancurkan keluarganya.
“Naya.. papa nanti yang akan bicara dengan Aric. Tapi jangan berharap banyak kalau Aric akan merubah keputusannya. Apa yang Ken katakan benar. Cara membujuk Aric dimulai dari dirimu sendiri. Sekarang kamu bisa diam? Kami harus melanjutkan pembicaraan ini. Kalau tidak, kamu lebih baik masuk ke kamar.”
Naya tak berani membantah ucapan Jojo. Jika papanya sudah bertindak tegas, tak ada satu pun yang berani melawannya. Naya memilih diam agar bisa bertahan di ruangan. Dia ingin tahu kapan pernikahan Nara dilangsungkan. Setuju atau tidak, rela atau tidak, Naya pasrah menerima keputusan jika Nara yang lebih dulu menikah.
“Jadi sudah sepakat, pernikahan akan dilaksanakan bulan depan. Ken, kamu siap?” tanya Jojo.
“In Syaa Allah, om.”
“Ck.. masih aja panggil om. Panggil pamer dong.”
“Lebay,” celetuk Abi, membuat Jojo terpingkal.
“Ok, waktunya sudah fix. Kalian berdua tidak perlu terjun langsung. Nanti ada WO yang mengurus semua. Kalian hanya perlu mengatakan konsep pernikahan seperti apa yang nanti akan digelar. Urusan mahar, hantaran pernikahan dan cincin kawin, mama serahkan pada kalian berdua ya,” tutur Nina.
“Iya ma,” jawab Kenzie dan Nara bersamaan.
“Jangan lupa, hadiah buat gue, denda karena ngerunghal,” seru Barra.
“Tar gue pesen boneka yang mirip Hanna buat elo. Kalau orangnya ngga dapet, minimal bonekanya bisa buat pengganti.”
“Sue lo!”
Semua tergelak mendengar perdebatan unfaedah kedua sahabat itu. Adinda segera mengajak tamunya untuk makan malam bersama. Sudah banyak makanan yang dibuatnya khusus untuk acara malam ini. Adinda tidak menyiapkannya sedirian, Nara juga ikut membantu.
“Bang.. jadi sekarang lo ngincer Hanna ya,” tanya Kenan pada Barra usai acara makan malam mereka.
“Anak kecil dilarang kepo.”
“Gue udah gede bang. Udah bisa bikin anak juga kalau udah ada partner halalnya.”
“Sayangnya ngga ada cewek yang mau sama kompor mledug model elo,” Barra menoyor kepala Kenan sambil berlalu menuju teras. Dia hendak menelpon Hanna. Kebiasaan baru Barra, menelpon Hanna sesuai resep dokter tiga kali sehari.
Gagal menggoda Barra, Kenan mengganti target. Dia berjalan menuju meja makan, menghampiri Nara yang tengah membereskan piring-piring kotor. Sambil bersender di pinggiran meja, Kenan memulai aksinya.
“Kak.. yakin mau nikah sama bang Ken?”
“Kok gitu nanyanya?”
“Cuma mau meyakinkan aja. Abang gue emang ganteng, keren, pinter tapi dia tuh sisi kemanusiaannya kurang. Gue takut setelah jadi istrinya, kakak berpotensi kena penyakit berbahaya.”
“Kaya apa? Panu, kadas, kurap, rorombeheun plus kekeongeun ya hahaha...”
“Iya bener itu. Ngga banget kan kalau istri wakil CEO Metro East rorombeheun huahahaha..”
“Masih mending sih, Nan. Dari pada jadi istri kamu.”
“Emang gue kenapa?”
“Aku khawatir yang jadi istri kamu nanti harus bolak balik ke THT gara-gara bacot kamu yang kaya kompor mledug,” Nara terkikik geli.
“Itu pesona gue kak.”
“Hilih pesona apaan. Yang ada bikin bengek, kadang kamu kalo ngomong kan ngga kalah merconnya sama abang kamu.”
“Tapi gue ganteng kak.”
“Gantengan juga bang Ken.”
“Cieeee yang udah bucin.”
Wajah Nara merona mendengar godaan Kenan. Buru-buru gadis itu membawa piring kotor yang sudah disusunnya ke dapur. Kenan tentu saja tidak akan dengan mudah melepaskan target kejahilannya. Dengan cepat dia menyusul Nara ke dapur. Tapi belum juga sampai, sebuah tangan menjewer telinganya dan menyeretnya menjauh dari dapur.
“Aduuhh.. aduuhh.. sakit bang..”
Kenzie melepaskan jewerannya di telinga sang adik begitu mereka sudah menjauh dari dapur. Kenan mengusap-ngusap telinganya yang terasa panas. Namun penderitaannya masih belum berakhir, karena sebuah jitakan ikut mendarat di kepalanya.
“Sakit bang. Buset punya kakak sadis amat. Tega nyiksa adek sendiri. Gue aduin ke komnas HAM lo,” gerutu Kenan.
“Berhenti gangguin Nara kalau ngga mau mulut lo gue sumpel pake cabe satu ton. Sana buruan ke mobil. Papa ngajakin pulang.”
__ADS_1
“Iye.. iye.. dasar Hitler.”
Kenan bergegas pergi begitu melihat Abi, Nina dan Freya berjalan keluar. Kenzie memilih menghampiri Nara lebih dulu. Dia mendekati Nara yang sedang membantu bi Dian membereskan peralatan kotor.
“Ra..”
Melihat Kenzie, Nara mengeringkan tangannya yang basah kemudian mendekatinya. Kenzie mengajak Nara keluar dari dapur. Keduanya terus berjalan keluar rumah. Mereka berhenti di depan mobil Kenzie.
“Besok dan lusa kamu ngga usah ke kantor. Karena persiapan pernikahan kita cuma sebentar waktunya, besok kamu belanja hantaran nikah aja. Tapi maaf aku ngga bisa nganter. Dua hari ini aku banyak kerjaan dan semuanya di luar kantor. Kamu bisa ajak Azra atau siapa buat nemenin kamu belanja.”
“Iya bang, ngga apa-apa.”
“Beli apa aja yang kamu suka.”
Kenzie mengambil dompetnya lalu mengeluarkan kartu sakti miliknya dan memberikannya pada Nara. Kartu tipis berwarna hitam itu sudah berpindah ke tangan Nara.
“Aku pulang dulu.”
Kenzie mengusap puncak kepala Nara kemudian masuk ke dalam mobilnya. Kenan yang sudah lebih dulu berada di dalam mobil langsung berkicau begitu Kenzie mendudukkan diri di belakang kemudi.
“Jiaahh masa sama calon istri begitu doang. Abang pikir kak Nara anjing pudel apa yang seneng kepalanya dielus-elus. Minimal kasih stempel kek, kalau ngga di bibir, di jidat gitu. Abang gue bener-bener deh aahh.. kaga ada romantisnya. Kasihan gue ama kak Nara dapet suami model naga kutub yang kakunya kaya kanebo kering.”
Kenzie yang baru saja akan memakai sabuk pengamannya, panas juga mendengar ocehan adiknya. Dia membuka pintu mobil lalu keluar. Dihampirinya Nara yang masih bertahan di tempatnya tadi. Gadis itu bingung melihat Kenzie yang kembali padanya.
“Kenapa bang? Ada yang lupa?”
“Iya.”
Kenzie meraih kepala Nara kemudian mendaratkan ciuman di keningnya. Bukan hanya Nara, tapi Jojo dan Dinda yang masih ada di depan rumah juga terkejut melihat aksi calon menantunya. Kenan tertawa puas melihat sang kakak melakukan apa yang dikatakannya tadi.
“Aku pulang.”
Dengan langkah panjang Kenzie kembali ke mobilnya. Pria itu yakin aksinya tadi selain disaksikan oleh calon mertuanya, juga dilihat oleh kedua orang tua dan adiknya yang ada di mobil depan. Dia merutuki dirinya yang termakan kompor mledug Kenan. Tapi nasi sudah menjadi bubur, lagi pula tak ada salahnya mencium calon istri sendiri.
Kenzie menutup pintu mobil dengan kencang. Tangannya bergerak menarik sabuk pengaman lalu memakaikan ke tubuhnya. Tak ada keinginan melirik ke arah Kenan yang terus melihat ke arahnya dengan tatapan menggoda. Jarinya menekan tombol start, seketika suara mesin mobil berbunyi.
“Ciee.. gimana rasanya bang?”
“Diem!!”
“Sekarang jidat dulu ye.. besok-besok baru deh ngerasain yang dingin-dingin empuk.”
“Banyak bacot lo!”
Terdengar gelak tawa Kenan. Kalau saja pria yang digodanya bukan sejenis naga kutub, pasti wajahnya sudah memerah. Tapi itu bukan gaya Kenzie. Walau seribu rasa malu menyerang, pria itu tetap mempertahankan wajah dingin dan tanpa ekspresinya. Tangan Kenan terulur menyalakan audio mobil. Kebetulan sekali lagu yang diputar itu bertema cinta. Langsung saja terdengar suara merdu pemuda itu mengiringi roda mobil Kenzie yang mulai berputar.
“Habibi albi. Let me lo-lo-lo-lo-lo love you like you need. You deserve somebody to treat you like a queen, oh-oh. Ana, ana, ana, bahlan fiki ana. Habibi albi. Let me lo-lo-lo-lo-lo love you like you need. Oh-oh habibi albi.”
Nara yang masih terkejut dengan apa yang dilakukan Kenzie, masih terpaku di tempatnya. Tangannya bergerak memegang keningnya yang terkena bibir Kenzie. Membayangkan kembali bagaimana calon suaminya itu menciumnya tadi membuat pipinya bersemu merah.
“Kayanya bakalan ada yang ngga cuci muka seminggu nih.”
Nara tersentak dari lamunannya begitu mendengar suara Jojo. Bergegas gadis itu masuk ke dalam rumah. Tak dipedulikannya tatapan penuh menggoda dari kedua orang tuanya. Sambil berlari dia menaiki anak tangga. Sebelum masuk ke kamarnya, Nara hendak menemui Dilara lebih dulu. Setelah mengetuk pintu, dia masuk ke dalam kamar.
“Dil.. besok kamu ada kuliah ngga?” tanya Nara seraya menghempaskan bokongnya di atas kasur.
“Ada satu matkul kak. Pagi sampe jam sepuluh aja sih. Emang kenapa kak?”
“Emang atm sama kartu kredit kakak udah dikembaliin?”
“Belum. Tapi aku dikasih kartunya bang Ken,” Nara memperlihatkan black card pemberian Kenzie.
“Widih ajib dikasih black card. Boleh kak, aku ngga ada kerjaan kok abis kuliah.”
“Kamu ngga usah bawa mobil. Berangkat kuliahnya aku anter nanti pulangnya aku jemput.”
“Idih kaya jelangkung aja. Kakak jemput aja, nanti perginya aku nebeng sama bang Barra.”
“Ok deh. Thank you incess.”
Nara mengusak puncak kepala Dilara kemudian bangun dari duduknya. Sambil bersenandung kecil dia keluar lalu masuk ke dalam kamarnya. Hatinya dipenuhi kebahagiaan malam ini. Kenzie melamarnya lalu memberinya kejutan dengan ciuman singkatnya. Dan sikap Dilara yang sudah kembali seperti dulu.
☘️☘️☘️
Sambil berlari kecil Dilara menuju mobil Nara yang terparkir di dekat gerbang kampusnya. Gadis itu masuk lalu melemparkan beberapa buku di tangannya ke jok belakang. Tangannya lalu menarik seat belt dan memakaikan ke tubuhnya. Nara langsung menekan pedal gas begitu Dilara selesai dengan sabuk pengamannya.
Gadis itu langsung mengarahkan kendaraannya menuju Andhara mall. Dia sengaja memilih mall tersebut karena bisa mendaptkan semua kebutuhannya di sana. Andhara mall merupakan pusat perbelanjaan terbesar di kota Bandung ini. Semua barang dari branded ternama sampai KW ada di sana.
“Rencananya kita mau beli apa aja kak?”
“Buat hantaran pernikahan biasanya apa aja?”
“Baju, sepatu, tas, kosmetik, mukena, pakaian dalem, lingerie biar kakak tampil seksi,” Dilara mengerling ke arah Nara.
“Hahaha.. anak kecil udah tahu begituan.”
“Ish aku udah gede keles. Udah paham juga yang begituan.”
“Begituan apaan nih?”
“Au ah..”
Nara terkekeh melihat Dilara yang memanyunkan bibirnya. Hatinya senang bisa bercengkarama seperti dulu lagi dengan adik bungsunya ini. Dilara melihat ke arah sang kakak, sejak semalam ada hal yang ingin ditanyakan padanya.
“Kak..”
“Hmm..”
“Kak Naya curhat katanya dua hari yang lalu bang Aric jalan sama cewek ke mall.”
“Sehari sebelum lamaran kakak maksudnya?”
“Iya. Katanya bang Aric makan siang sama cewek cantik bin seksi. Terus mereka lanjut ke hotel, ngga tau mau ngapain.”
“Naya tahu dari mana?”
“Dari kak Veruca katanya.”
“Ngga bener itu. Dua hari yang lalu, bang Aric ke kantor. Kita meeting sampai jam tiga sore ngebahas soal proyek bersama Metro East dan Maeswara Dunia. Abis itu bang Ken sama bang Aric survey lokasi proyek sama-sama.”
“Berarti kak Ve bohong dong. Tapi kenapa? Apa jangan-jangan kak Ve naksir bang Aric?”
__ADS_1
Nara tak langsung menjawab pertanyaan sang adik. Gadis itu nampak berpikir sejenak. Dia mencoba mengingat-ingat kapan sikap Naya mulai berubah padanya. Naya mulai mencemburui bahkan memusuhi dirinya setahun yang lalu. Saat itu Naya memang sudah berteman dekat dengan Veruca. Bukan hanya Naya, Dilara juga.
“Terus kamu sendiri kenapa?”
“Aku?”
“Iya, kamu tuh cemburu sama kakak kalau lihat kakak ngobrol sama kak Ezra.”
“Oh itu...”
Dilara menundukkan kepalanya. Rasanya malu juga sudah menuduh sang kakak tanpa dasar. Diakui kalau dirinya juga sempat termakan hasutan Veruca. Tapi gadis itu mulai mencurigai Veruca saat Naya banyak bercerita padanya tentang hubungannya dengan Aric. Ada ketidaksingkronan antara informasi yang didapat Naya dari Veruca dengan informasi yang didapat dirinya dari Anya juga Ezra.
Gadis itu membuka tasnya kemudian mengambil ponsel dari dalamnya. Dia membuka folder galeri lalu menunjukkan foto-foto yang diterimanya dari nomor tak dikenal. Foto-foto yang menunjukkan kebersamaan Nara dengan Ezra. Sudah tiga bulan lamanya dia gencar menerima pesan dari nomor tak dikenal itu.
Setiap Dilara mencoba menghubungi nomor itu hanya terhubung pada mailbox. Nomor tersebut kemudian mengirimkan pesan ‘Jangan hubungi saya. Cukup kamu tahu saja kebusukan kakakmu itu’. Itulah yang membuat Dilara sempat memusuhi Nara.
Nara menepikan kendaraannya untuk melihat lebih jelas foto yang ditunjukkan oleh Dilara. Dia cukup heran melihat banyaknya foto dirinya bersama dengan Ezra. Foto yang menunjukkan betapa seringnya gadis itu menghabiskan waktu bersama Ezra. Padahal semua itu hanya pertemuan biasa di tempat umum.
“Iya, kakak emang sering ketemu kak Ezra akhir-akhir ini. Tapi ngga berdua aja, Dil. Ada yang lagi menghadiri acara, atau pas kakak lagi ke hotelnya. Dan ini, ini foto di butik Azra, masa kamu ngga ngeh sih.”
“Iya kak, maaf. Aku cemburu, makanya ngga lihat dengan teliti. Maaf ya kak, aku udah cemburu dan marah-marah ngga jelas sama kakak. Semua gara-gara kak Ve yang suka ngomporin sama nomer sialan ini. Aku mau blok aja.”
“Jangan.. biarin aja. Kayanya ada orang yang sengaja mau adu domba kita. Biarin aja Dil, kita lihat aksi mereka sampai di mana. Kamu pura-pura aja masih terhasut sama mereka. Saat ini mereka tuh lagi menyembunyikan dirinya rapat-rapat. Tapi kalau mereka tahu kalau target sasaran sudah jatuh ke dalam perangkap, bisa jadi mereka lengah dan menunjukkan jati dirinya. Sini kakak save nomernya. Nanti kakak minta bang Ken cari tahu soal nomer ini.”
Dengan cepat Nara menyimpan nomor misterius tersebut. Dia juga meminta Dilara mengirimkan foto-foto itu ke ponselnya. Nara perlu memperlihatkan foto tersebut pada Kenzie juga Aric.
“Kamu sekarang jadi mata-mata Veruca. Tempel terus Naya. Kalau Naya mau ketemu sama Veruca, kamu sebisa mungkin harus ikut. Kakak curiga sama tuh orang.”
“Iya kak. Asal kakak tahu, orang yang udah ngehasut kak Naya manggil media buat ngeliput pertunangannya tuh kak Ve. Padahal kak Naya udah nolak karena tau aturan keluarga Hikmat. Tapi kak Ve terus aja ngebujuk dengan berbagai alasan sampai akhirnya kak Naya setuju.”
“Kamu tau dari mana?”
“Kan aku lagi sama mereka. Kak Ve tuh bisa banget deh ngomongnya, pinter ngasih bermacam-macam alasan. Tapi semenjak pertunangan kak Naya, aku mulai curiga sama dia. Apalagi aku pernah mergokin dia beberapa kali coba deketin bang Aric.”
“Aku bakal bilang ke bang Ken. Biar nanti dia yang bilang ke bang Aric.”
“Kenapa ngga langsung ke bang Aric aja?”
“Nanti Naya marah lagi sama aku. Disangkanya aku ngerebut bang Aric dari dia.”
“Oh iya,” Dilara menepuk keningnya.
Nara kembali melajukan kendaraannya. Terjawab sudah apa dan siapa yang menyebabkan sikap adik dan kakak kembarnya berubah padanya. Kalau bisa, dia ingin menangkap Veruca lalu menginterogasi wanita itu.
☘️☘️☘️
Setelah hampir tiga jam berburu hantaran pernikahan, akhirnya semua barang yang dibutuhkan terbeli sudah. Nara meminta semua toko yang dikunjunginya mengirimkan langsung barang-barang ke kediaman Kenzie, sesuai amanat pria itu. Kini dia juga Dilara tengah menikmati makan siang di salah satu cafe yang ada di mall ini.
“Kak, apa sih resepnya?”
“Resep apa?”
“Resep bisa naklukkin bang Ken, hihihi..” Dilara terkikik.
“Ngga tau. Perasaan di kantor kita biasa aja deh. Ngga ada angin ngga ada hujan, tiba-tiba dia ngelamar, kaget aja.”
“Tapi seneng kan?”
“Iya sih..” Nara tersipu malu.
“Selamet loh. Jujur, dari lubuk hati aku yang paling dalem, aku seneng loh kakak bakalan nikah sama bang Ken.”
“Biar ngga ada yang godain kak Ezra lagi, itu kan maksud kamu.”
“Ish ngga.”
Dilara menyeruput minumannya sampai habis begitu selesai menghabiskan makanannya. Nara hanya terkekeh melihat sang adik yang terlihat salah tingkah. Dia beranjak dari duduknya untuk mencuci tangan. Tak berapa lama dia kembali.
“Besok kamu libur Dil?”
“Iya kak. Kenapa? mau ngajak shopping lagi? Hayu aja aku mah.”
“Shopping mulu. Sebagai ucapan terima kasih, aku mau masakin makan siang buat kamu bawa ke kak Ezra, gimana?”
“Wah boleh tuh. By the way, boleh ngga kalau aku bilang yang masak itu aku?”
“Boleh asal dia percaya aja.”
“Ish..”
Dilara menyebikkan bibirnya ke arah Nara. Sudah pasti Ezra tidak akan percaya kalau dirinya bisa membuat makanan lezat. Menggoreng ceplok telor saja gosong, apalagi memasak menu dengan berbagai macam bahan dan bumbu.
“Kamu bantuin kakak aja. Sekalian kamu belajar masak. Cinta itu kan dari perut naik ke hati, kalau kata mama, hihihi..”
“Iya ya. jangan-jangan bang Ken juga gitu. Ngelamar kakak karena pengen terus makan masakan buatan kakak, eaa.. eaa..”
“Idiihh..”
Adik dari Nara itu terpingkal melihat wajah sang kakak yang memerah. Senang rasanya melihat Nara yang biasanya selalu bertingkah somplak tiba-tiba berubah menjadi marmut yang imut. Tawa gadis itu terhenti ketika merasakan ponselnya bergetar. Senyumnya mengembang begitu membaca pesan yang dikirimkan oleh Ezra.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?”
“Kak Ezra ngajakin nonton.”
“Sekarang?”
“Iya, aku disuruh ke hotel.”
“Cieee yang mau kencan. Ayo kakak anter.”
“Ayo kak.”
Nara dan Dilara mengambil tas mereka kemudian berjalan menuju meja kasir. Setelah melakukan pembayaran, keduanya keluar dari cafe. Wajah Dilara terus saja tersenyum membayangkan sebentar lagi akan berkencan dengan Ezra. Akhir-akhir ini mereka jarang pergi berdua karena kesibukan calon pacarnya itu. Ya, status mereka masih calon pacar karena Ezra belum menyatakan cinta dan mengajaknya menjalin hubungan serius.
☘️☘️☘️
**Selamat readers..
Kalian semua tertipuuuuu🤣🤣🤣
Eh mamake mau promo lagi ya. Kali aja ada yang belum baca The Nick's Life, ayo tengok karya mamake ya. Bukan di akun ini tapi akun D'adrianz. Ketik aja nama othornya atau judul novelnya. Ceritanya dijamin ngga kalah seru. Buat yang suka baca marathon, sekarang udah 66 bab dan lagi seru²nya. Yang udah mampir ikuti terus kelanjutannya, buat yang belum, ayo mampir. Banyak cogan juga di sana😉**
__ADS_1