
“Ehem!!”
Jojo berdehem kencang. Cakra langsung menutup mata Sekar dengan tangannya melihat adegan mesum suami istri itu. Takut jiwa polos sang istri terkontaminasi dan memintanya beradegan seperti itu.
Abi menghentikan ciumannya ketika mendengar suara deheman. Dia langsung menoleh ke arah suara. Jojo melipat kedua tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Cakra masih menutup mata Sekar yang segera ditepis oleh gadis itu. Sekar langsung menghambur ke arah Nina.
“Kak Abi turun. Emangnya kak Nina guling, dipelukin mulu.”
“Ck.. ganggu aja. Dasar tamu ngga diundang.”
Dengan enggan Abi turun dari bed. Cakra dan Jojo menghampiri bed Nina. Jojo tersenyum kikuk ke arah istri dari sahabatnya itu. Ada perasaan malu yang menderanya.
“Hai Nin..”
“Hai.. aku harus panggil apa? Mano atau Jojo?”
“Hehehe.. Jojo aja.”
“Cih.. ngga usah sok imut lo ama bini gue!” sembur Abi.
“Santai keles, ngga usah ngegas.”
“Dah gue bilangin, dia udah bucin ama Nina. Sekarang sok jadi Mr. Possesive dia,” bisik Cakra.
“Sono duduk di sofa, jangan deket-deket istri gue!”
Abi menendang bokong kedua sahabatnya. Cakra dan Jojo segera menuju sofa, disusul oleh Abi. Pria itu menghempaskan bokongnya di samping Jojo.
“Ngapain pada ke sini?”
“Nengokin Nina lah, pake nanya lagi. Dasar kang cendol,” sewot Cakra.
“Nengokin bawa tangan kosong doang. Ngga niat banget.”
“Tadinya gue mau bawain makanan sekontainer tapi berhubung lo udah ngilangin sepatu limited edition gue, males gue jadinya.”
“Ah elah, masih kesel aja soal sepatu. Tar gue beliin sepatu limited edition yang baru. Merk Adinda yang ada logo daun singkongnya tiga biji.”
“Lo kata gue mertuanya kang Emus.”
Nina tak dapat menahan senyumnya melihat perdebatan unfaedah antara suaminya dengan Jojo. Bahagia rasanya melihat sang suami yang sudah kembali ceria bahkan bisa berkelakar dengan sang sahabat.
“Emang mereka kalo ketemu kaya gitu ya Se?”
“Iya, emang kaya gitu. Kak Abi sama bang Jojo tuh debat mulu, nah bang Cakra yang jadi penengahnya.”
“Hihihi.. lucu ya mereka.”
“Iya kak. Mereka tuh kalau ngumpul persis kaya trio bajaj,” Sekar terkikik geli.
“Yang.. abang denger ya,” seru Cakra yang hanya dibalas Sekar dengan juluran lidahnya.
Pintu ruangan kembali terbuka. Rahma, Teddy, Juna juga Nadia masuk ke dalam. Rahma langsung menghambur ke arah Nina kemudian memeluknya. Akhirnya keinginannya menggendong cucu akan segera terkabul.
“Nina... selamat ya sayang, mama seneng banget.”
Rahma menciumi menantunya itu sambil tak melepaskan pelukannya. Nadia juga menghampiri Nina, dengan tulus wanita itu mengucapkan selamat walaupun hatinya sedih karena dirinya belum diberi kesempatan untuk hamil.
“Kak, sorry ya,” Abi mengangkat sebelah tangannya seraya menaik turunkan alisnya. Juna hanya berdecak sebal melihat ledekan sang adik.
“Ck.. emang kalau duda mah ngga ada lawan,” balas Juna.
“Yoi.. duda selalu di depan,” timpal Cakra.
“Sirik aja kalian kalau ternyata rudal gue lebih tepat sasaran hahaha...”
Teddy mengeplak kepala anak keduanya ini yang berbicara tanpa saringan. Dia lalu menghampiri Jojo. Dengan kikuk Jojo berdiri lalu menghampiri pria yang dulu sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri.
“Pa.. maafin Jojo pa.”
Jojo mencium punggung tangan Teddy. Pria itu memeluk Jojo seraya menepuk punggungnya. Tak ada dendam dalam hatinya, karena dia juga tahu kehidupan Jojo setelah kepergian Anka tidaklah mudah.
Teddy mengurai pelukannya tepat saat Rahma datang menghampiri. Jojo mendekat pada Rahma. Wanita yang biasanya bersikap lemah lembut itu hanya melihatnya dengan tatapan dingin.
“Maafin Jojo ma.”
Jojo meraih tangan Rahma hendak mencium punggung tangannya, namun segera ditepis oleh wanita itu. Semua yang ada di sana cukup terkejut melihat sikap Rahma. Jojo hanya menundukkan kepalanya. Wajar saja kalau Rahma marah bahkan membencinya karena apa yang dilakukannya sudah di luar batas.
“Sesudah kamu melakukan banyak hal yang membuat Abi menderita, apa bisa dengan mudahnya saya menerima maafmu?”
“Ma,” seru Abi.
“Tidak semudah itu Bulgoso!”
“Aaaaaaa.... ampun maaaa...”
__ADS_1
Jojo berteriak kesakitan ketika Rahma menjewer dengan kencang telinganya. Suasana yang semula tegang berubah menjadi santai. Bahkan mereka tertawa melihat Rahma yang terus menjewer telinga Jojo bergantian kanan dan kiri. Tak selesai sampai di situ, Rahma mengambil tas kerja Juna lalu memukulkannya ke bokong Jojo beberapa kali.
“Ampun maaa.. ampuuuunn..”
“Ini hukumannya karena udah bandel.”
Rahma menghentikan pukulannya lalu memeluk Jojo, kasih sayangnya pada Jojo sama besarnya pada Cakra. Jojo memeluk erat Rahma lalu menangis tersedu. Jojo menumpahkan kesedihannya dalam pelukan Rahma.
“Harusnya dulu kamu datang pada mama. Ceritakan semua yang dikatakan Anka, dan kita cari tahu kebenarannya sama-sama, bukannya menghilang begitu saja,” ujar Rahma begitu melepas pelukannya.
“Maaf ma.. maaf.”
“Jangan ulangi lagi. Jadikan peristiwa kemarin sebagai pelajaran. Ke depannya kamu harus lebih hati-hati dan berpikir jernih.”
“Iya ma,” Rahma menepuk pelan rahang Jojo.
“Sama aku ngga mau minta maaf?”
Semua yang ada di ruangan mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Anfa juga Rayi baru saja datang. Jojo mendekat pada Rayi lalu mengulurkan tangannya.
“Maaf ya.”
“Udah gitu doang minta maafnya? Ngga inget waktu nodongin senjata ke sini,” Rayi menunjuk pelipisnya.
“Maaf.. kamu boleh ngelakuin apa aja. Aku terima dengan ikhlas.”
“Cariin aku 10 klien baru aku maafin.”
“Klien apa?”
“Pasangan yang mau nikah.”
“Ngga usah maruk! Urus aja dulu nikahannya Sekar. Tuh klien yang dari aku juga belum kamu urus, udah minta klien baru.”
“Ish kak Abi bisa ngga sih ngomongnya enakan dikit.”
“Muka kamu tuh ngga enak dilihat makanya kesel aja bawaannya kalo ngomong sama kamu.”
“Eleh.. kak Abi. Padahal sayang kan sama aku. Buktinya kemarin mau berkorban buat aku,” Rayi bertekad bagaimana pun juga kali ini jangan sampai kalah beradu mulut dengan si pemilik mulut bon cabe.
“Aku berkorban demi Anfa. Kalau kamu bukan pacarnya Anfa, ogah banget. Malah aku bakal bantuin Jojo cemplungin kamu ke kali Cikapundung.”
“Kak Abiii... ayang, bantuin kek diem aja, pacarnya dianiaya.”
“Cih aduan kaya anak kecil aja. Fa.. kamu cari cewek lain aja.”
“Tenang aja Ray, aku bakal bantuin kamu kalau tuh orang ngebully kamu,” Jojo merangkul bahu Rayi.
“Ehem!!!”
Jojo terjengit mendengar deheman keras di belakangnya. Sontak dia langsung melepaskan rangkulannya dari bahu Rayi setelah melihat tatapan horor Anfa. Jojo memilih kembali duduk di samping Abi.
Suasana ruang rawat Nina seketika menjadi ramai. Perbincangan hangat langsung terjadi di antara mereka. Para wanita berkumpul di dekat bed Nina sedang kaum Adam duduk di sofa.
Menjelang sore, mereka kembali kedatangan tamu. Kali ini Kevin ditemani Rindu datang berkunjung. Rindu meletakkan buah tangan yang dibeli Kevin di atas nakas dekat bed Nina. Senyumnya merekah saat melihat Jojo di dekat Abi.
“Eh ada bang Jojo. Apa kabar bang?”
“Ngga usah sok imut!”
Seru Kevin seraya menoyor kepala Rindu dari arah belakang. Rindu menolehkan kepalanya ke belakang, matanya mendelik ke arah Kevin. Dengan satu tangannya Kevin memutar kepala Rindu agar kembali melihat ke depan. Dia terus menaruh tangan besarnya di atas kepala Rindu.
“Gimana Rin, betah jadi sekretaris Kevin?” tanya Teddy.
“Menderita lahir batin, om.”
“Eh kirain bahagia lahir batin,” goda Cakra.
“Kata mama kamu, kemarin kamu ngenalin Rindu calon istri kamu,” cecar Rahma.
“Terpaksa tan,” jawab Kevin datar.
“Aku juga terpaksa, emang bang Ke aja,” sungut Rindu.
“Jadi kapan resminya bang? Kan udah dibayar tunai,” goda Sekar. Rindu melotot ke arah Sekar. Wajahnya sudah memerah menahan malu. Tapi Kevin masih terlihat cuek, tak peduli dengan godaan orang-orang di sekitarnya.
“Serius Vin, kamu mau nikahin Rindu?” tanya Juna.
“Bisa bobol keuangan kalau jadiin dia istri.”
“Emang kenapa?”
“Makannya porsi kuli.”
“Bang Keeeeeee!!!”
__ADS_1
Semua tergelak melihat interaksi Kevin dan Rindu yang terlihat menggemaskan di mata mereka. Sekar tak henti menggoda sahabatnya itu yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus saja. Sesekali Rindu melirik ke arah Kevin yang tetap mempertahankan wajah datarnya.
☘️☘️☘️
Juna masuk ke dalam kamar. Dia terkejut melihat sang istri masih berdiri di teras kamar yang menghadap ke taman. Nadia nampak termenung, beberapa kali terdengar helaan nafas beratnya. Juna mendekat lalu memeluk sang istri dari belakang.
“Kenapa belum tidur?”
“Belum ngantuk mas.”
Juna membalikkan tubuh Nadia menghadap ke arahnya. Sejak pulang dari rumah sakit, Nadia terlihat murung. Juna menyentuh pipi Nadia dengan tangannya, menatap dalam ke netra coklat istrinya.
“Ada apa?”
“Ngga ada apa-apa.”
“Jangan bohong. Kamu terlihat murung sejak kita pulang dari rumah sakit. Apa kehamilan Nina mengganggumu.”
“Mas..”
Nadia memeluk tubuh suaminya. Tebakan Juna benar adanya. Nadia bukan tak menyukai kehamilan Nina, hanya saja dia sedih karena sampai saat ini dirinya belum juga mengandung. Juna memeluk punggung Nadia kemudian mengusapnya perlahan. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya ini.
Seminggu yang lalu Nadia mengajaknya memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dokter mengatakan tak ada masalah dengan dirinya atau Nadia. Tapi istrinya itu selalu dilanda ketakutan. Takut kalau dirinya tidak bisa menjadi wanita sempurna.
“Sayang.. kita sudah bicarakan masalah ini. Apa lagi yang mengganggu pikiranmu?”
“Apa hasil pemeriksaan dokter itu salah mas? Apa jangan-jangan ada yang salah denganku.”
“Hei kenapa berpikir seperti itu.”
Juna menguraikan pelukannya, ditangkupnya wajah sang istri lalu menciumi wajahnya penuh kelembutan.
“Pernikahan kita baru berjalan empat bulan sayang. Kenapa kamu sudah berpikir seperti itu. Aku percaya pada waktunya nanti kamu akan mengandung anakku. Anggap saja sekarang ini adalah masa bulan madu kita. Kita manfaatkan saja waktu kita untuk berduaan sambil mempersiapkan diri menjadi orang tua.”
“Bagaimana kalau ternyata aku ngga bisa memberikan keturunan untukmu?”
“Apa tujuan kita hanya untuk memiliki keturunan? Kita menikah untuk menyempurnakan setengah perjalanan ibadah kita, apa yang kita lakukan setiap harinya dihitung sebagai ibadah untuk bekal kita nanti. Anak adalah bonus yang Allah berikan pada kita. Kalau pun mas tidak bisa memiliki keturunan darimu, kita bisa mengangkat anak sebagai gantinya.”
“Bener? Mas ngga akan nikah lagi kan?”
Juna tergelak mendengar pertanyaan sang istri. Dengan gemas dia mencium bibir sang istri kemudian membawa ke pelukannya.
“Banyak perempuan cantik dan seksi di luar sana. Tapi cuma kamu yang mas inginkan. Cuma kamu yang bisa menerima mas apa adanya. Sekarang mas tanya, kalau ternyata mas yang bermasalah, mas yang tidak bisa memberikan keturunan untukmu, apa kamu akan meninggalkan mas dan mencari laki-laki lain?”
“Tentu aja ngga. Aku ngga cukup gila ya meninggalkan mas dan membiarkan perempuan lain menggantikan posisiku.”
“Begitu juga mas, sayang.”
Juna meraih dagu Nadia lalu mendekatkan wajahnya. Bibir Juna mendarat sempurna di bibir Nadia. Dengan gerakan pelan nan lembut dicecapnya bibir yang sedari mengeluarkan kata-kata yang membuatnya gemas.
“Dari pada kamu ngoceh yang ngga jelas. Gimana kalau kita ngadon aja? Siapa tahu adonan sekarang berhasil.”
“Ish.. kaya bikin kue aja bahasanya.”
Juna terkekeh. Digendongnya Nadia ala bridal style kemudian membawanya ke kasur. Bibirnya mulai menciumi wajah, leher dan bahu sang istri. Tangannya bergerak menurunkan tali lingeri kemudian mengeluarkannya dari tangan Nadia. Sekali tarik, baju tidur berbahan tipis itu sudah lepas dari tubuh sang istri.
Juna menyusuri tubuh Nadia dengan bibirnya. Mengecup dan menyesapnya pelan, membuat sang empu men**sah. Tubuh Nadia bergerak-gerak saat tangan Juna menyentuh titik-titik sensitifnya. Cukup lama Juna menciumi perut Nadia yang masih datar, berharap akan tumbuh embrio di dalam sana yang akan berkembang menjadi calon anaknya.
Juna terus bergerak turun ke bawah. Dengan perlahan dilepaskannya kain terakhir yang membalut tubuh sang istri. De**han Nadia kembali terdengar ketika Juna bermain di area intinya. Suaminya itu selalu bisa membuatnya melayang dan membuatnya ingin merasakan yang lebih lagi.
Juna melucuti semua pakaiannya. Mata Nadia yang sayu memandangi tubuh sempurna sang suami. Juna merangkak naik lalu mengurung dirinya di bawah kungkungannya. Juna kembali mencumbu Nadia. Tak lama kemudian dia mulai menyatukan miliknya. Kepala Nadia mendongak saat merasakan milik suaminya masuk sempurna ke dalam miliknya.
Juna mulai menggerakkan pinggulnya. Nadia pun mengeluarkan suara-suara yang membuat dirinya semakin terbakar gairah. Malam ini Juna akan membuat istrinya meneriakkan namanya berkali-kali dan melupakan kegundahan yang melanda hatinya. Juna tersenyum saat Nadia mengeluarkan teriakan manjanya. Dia semakin mempercepat gerakannya yang membuat Nadia terus saja berteriak keenakan.
Tubuh Nadia terkulai lemas setelah beberapa kali mengeluarkan cairan hangatnya. Juna juga baru saja sampai di puncaknya. Dia tersenyum puas berhasil menyemburkan ratusan benih ke dalam rahim sang istri. Berharap salah satu dari mereka dapat berbuah dan memberikan kebahagian untuknya.
“I love you, my sexy wife,” bisik Juna.
“I love you hubby.”
Juna me**mat bibir Nadia. Tangannya menelusup ke belakang tengkuk sang istri, menariknya untuk memperdalam ciumannya. Lidahnya masuk ke rongga mulut Nadia, menarik dan membelit lidahnya.
“One more time honey.”
“Masss...”
Juna tak mempedulikan rengekan istrinya. Dia kembali memberikan cumbuan yang membangkitkan kembali hasrat Nadia. Jika tadi Juna bermain lembut, tidak dengan sekarang. Kini permainan Juna menjadi lebih liar, membuat Nadia semakin menggila.
☘️☘️☘️
**Astaga Juna🙈
Kamu tega ya siang² gini bikin emak² traveling.
Yang kangen Bang Ke sama Kang Pur, mereka udah nongol ya walaupun cuma nyempil kaya upil😂
__ADS_1
Berdasarkan hasil terbanyak akhirnya mamake putuskan semua pasangan dibuatkan bonchapnya. Hanya urutannya disesuaikan dengan alur ceritanya ya gaaeess**.