KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Tikungan Tajam


__ADS_3

Resepsi pernikahan Rindu dan Kevin esok harinya digelar dengan meriah. Pukul delapan acara dimulai. Acara dibuka dengan pemberian sambutan dari sang pemilik hajat, abah langsung yang menjadi juru bicaranya. Acara dilanjut dengan pemberian tausyiah oleh dai kondang yang terkenal seantero Kawalu.


Pukul sepuluh kedua pengantin bersama para orang tua naik ke pelaminan. Mereka bersiap menerima ucapan dari warga sekitar. Abah memang tidak membatasi undangan yang datang. Siapa saja boleh datang menikmati hidangan dan tidak diwajibkan membawa kado atau memberi amplop. Anggap ini adalah syukuran karena anak keduanya berhasil mendapatkan jodoh yang baik, tampan dan mapan.


Keluarga dan kerabat Kevin dari Bandung pun mulai berdatangan. Begitu pula sahabat-sahabatnya, kecuali Juna dan Nadia yang masih berada di Jepang. Namun mereka sempat melalukan video call tadi pagi.


Semua sahabatnya datang dengan membawa pasangan masing-masing, tak terkecuali Jojo. Dia membawa Adinda bersamanya, bahkan pria itu tak mengijinkan gadis itu menjauh sedikit saja darinya. Dia takut Radix akan menyabotase. Sementara itu rivalnya, Radix memandang kesal ke arah Jojo. Bisa-bisanya lelaki tua itu menikungnya untuk mengajak Adinda.


Kedua orang tua Abi tidak bisa datang karena menemani Juna dan Nadia di Jepang. Kedatangannya diwakili oleh Abi dan Sekar. Anfa juga datang bersama dengan Rayi. Berhubung Abi tidak ingin terganggu melakukan perjalanan dengan sang istri, dia menyuruh Anfa membawa kendaraan sendiri. Tentu saja Anfa senang sekali, akhir-akhir ini dia jarang menikmati waktu berdua dengan kekasihnya.


“Fa.. kapan kita mejeng kaya mereka?”


“Sabar.. tunggu sampe aku beres S2 ya. Jujur aja, akhir-akhir ini aku sibuk banget Ray. Makanya kita jarang punya waktu berdua.”


Anfa mengusak puncak kepala Rayi. Untung saja kekasihnya itu bukan tipe wanita yang menuntut perhatian lebih. Rayi cukup mengerti kesibukannya, terlebih dia juga tengah sibuk dengan membludaknya klien yang memakai jasa WO di tempatnya bekerja. Mrs. Anne juga memberikan kepercayaan lebih banyak padanya.


“Fa, sekarang kamu kerjanya di bagian apa?”


“Aku jadi sekretaris merangkap asistennya bang Cakra. Nanti kalau bang Cakra udah resmi pegang perusahaan yang di Jepang, aku bakal gantiin posisi dia. Makanya aku harus kerja keras Ray. Aku ngga mau sia-siain kepercayaan yang udah kak Abi kasih ke aku.”


“Nanti kamu punya sekretaris sendiri dong kalau gantiin posisi bang Cakra.”


“Iya.”


“Sekretarisnya laki-laki aja ya. Kalau mau perempuan, yang udah nikah atau yang udah berumur.”


“Emang kenapa?”


“Aku takut kamu kepincut sama sekretaris kamu. Kan banyak kejadian kaya gitu. Jangan jauh-jauh, kak Juna sama kak Nadia kan awalnya dari bos sama sekretarisnya.”


Anfa tergelak mendengar ucapan Rayi. Sepertinya kekasihnya itu terlalu sering membaca novel tentang CEO yang jatuh cinta sama sekretarisnya sendiri. Atau genre orang ketiga, sang suami kepincut pada sang sekretaris.


“Kak Juna dan kak Nadia itu udah lama saling suka. Dari jaman kak Nadia masih kuliah, mereka udah sama-sama. Makanya jangan kebanyakan baca novel, jadinya ngehalu sendiri.”


“Pokoknya jangan lama-lama ya Fa ke pelaminannya. Aku tuh lebih tua dari Sekar sama Rindu, tapi mereka duluan yang nikah. Jangan sampe si Dinda ngelangkahin aku juga, tar judulnya aku jadi ******.”


“Apaan ******?”


“Golongan karunghal.”


“Hahaha... lagian si Dinda mau ngelangkahin kamu sama siapa? Radix? Tuh anak juga belum beres kuliahnya.”


“Bukan sama si upil dino tapi sama kak Jo. Ngga lihat apa dari tadi kak Jo sama si Dinda udah kaya truk gandeng. Kemana-mana berdua mulu.”


Anfa menolehkan kepalanya ke arah Jojo dan Adinda yang tengah mengambil makanan. Kemana Jojo pergi, Adinda memang selalu mengikutinya. Kemudian Anfa melihat ke arah Radix yang tengah memandang pasangan itu dengan tatapan sengit. Seperti ada kepulan asap di atas kepalanya.


“Kamu udah kaya kak Abi, manggil si Radix upil dino. Udah mulai ketularan mulut bon cabenya ya.”


“Walau ngeselin tapi kak Abi kalau ngasih julukan ke orang tuh kocak banget hihihi.”


Acara resepsi terjeda oleh waktu shalat dzuhur. Keluarga pengantin kembali ke rumah untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur. Pasangan pengantin juga kembali ke rumah. Mereka memutuskan untuk shalat sekaligus mengganti pakaian. Selepas dzuhur, keduanya memilih berbaur dengan para tamu saja.


Setelah break kurang lebih setengah jam, resepsi dilanjutkan kembali. Kalau tadi warga dihibur dengan penampilan grup marawis. Kini mereka menikmati suguhan pentas dangdut. Band pengiring serta dua vocalis wanita berpakaian seksi tengah bersiap-siap di atas panggung.


Kevin dan Rindu kembali ke tempat acara. Kevin memilih berbaur bersama para sahabatnya. Begitu juga Rindu yang duduk bersama dengan sahabat somplaknya. Anfa dan Rayi ikut bergabung dengan Sekar dan kawan-kawan.


Jojo nampak kesal, sepulang dari masjid, dia melihat Adinda sudah dibajak oleh Radix. Dan kini tengah duduk sambil berbincang santai dengan komplotan somplak. Cakra merangkul bahu Jojo lalu mengajaknya duduk bersama. Perhatian mereka langsung teralihkan ke panggung hiburan begitu mendengar alunan musik dari sound system.


“Gue ngga nyangka ada dangdutan di nikahan elo,” ledek Jojo.


“Lupa lo, kan lo juga dangdutan pas akad gue,” balas Kevin.


Jojo auto mingkem. Dia teringat kejadian memalukan saat akad nikah Kevin. Gara-gara keinginan ibu hamil, dirinya harus berduet dengan Syakira. Sejak saat itu pula Syakira menempel padanya layaknya ulet bulu.


“Syelamaatthh ssiaaanggghh syemuuaaaahhh.”


Para pria yang tengah mengobrol sontak melayangkan pandangannya ke arah panggung begitu mendengar suara mendesah yang tak asing lagi. Nampak di atas panggung Syakira berdiri sambil memegang mic, bersiap untuk menyanyi. Tubuhnya terbalut dress panjang dengan belahan sampai ke paha dan bagian atas dengan model kemben membuat bukit kembarnya yang besar sedikit menyembul.


“Vin.. tuh ulet bulu napa nyasar ke sini?” tanya Cakra.


“Mana gue tahu. Lo yang bawa ya Jo?”


“Sembarangan! Gue ngga ngajak dia!”


“Lah terus dia kok bisa sampe sini?”

__ADS_1


Keterkejutan juga terjadi di kubu Sekar dan kawan-kawan. Mereka tak menyangka melihat wanita yang gaya bicaranya bikin orang yang mendengarnya sesak nafas bisa menjadi bintang tamu di acara resepsi sahabatnya.


“Kok si tukang seuhah ikutan di mari?” tanya Sekar.


“Iya.. buset.. alamat basah celana gue,” celetuk Gurit yang langsung mendapat toyoran dari sahabat-sahabatnya.


“Ternyata si seuhah itu keponakannya pak Lurah. Kemarin malem pak Lurah dateng ke rumah ngasih kado buat gue terus cerita kalau punya ponakan yang lagi merintis karir jadi artis. Doi juga bilang kalau ponakannya bakalan nyumbang suara di acara dangdutan. Ternyata ponakannya si seuhah.”


Gurit dan Radix tak mempedulikan penjelasan panjang lebar Rindu. Keduanya melihat tak berkedip ke arah panggung. Tubuh seksi Syakira telah menghipnotis keduanya. Rayi menutup mata Anfa dengan scarf. Dia tak rela mata sang kekasih ternoda melihat kemolekan tubuh artis seuhah itu.


“Basyaaahh.. basyaaahh... basyaaaahhh... syeluurruuhhh tuuubuuuhhh.. aaahhh... aaahhh... aaahhhh.... menyentuuhh kalbuuhhh. Manisshhh.. manissshh... manissshh.. syemanissshh maaduuuhh aaahhh... aaahh.. aaahh... menyentuhhh syahhhduuuhhh..”


Para kaum adam yang ada di sana spontan naik ke atas panggung. Mereka bergoyang mengikuti irama lagu, sambil tangannya memegang lebaran uang. Panggung hampir penuh dengan banyaknya lelaki yang ikut bergoyang. Dari yang muda sampai yang tua berada di sana.


Kevin tak dapat berkata-kata melihat pemandangan di depannya. Dan yang lebih membuatnya menganga, abah juga Rano, kakak Rindu ikut-ikutan berjoged di atas panggung. Untung saja papanya tidak tergoda ikut naik ke panggung. Kemudian dia melirik ke arah Devan dan Ivan, kedua kakaknya itu memandangi Syakira tanpa berkedip.


Tepukan tangan terdengar begitu Syakira selesai membawakan lagu sang ratu dangdut yang sampai saat ini masih sering diputar. Para pria di sana enggan turun dari panggung, mereka kembali meminta wanita itu membawakan lagu lain. Dua penyanyi bawaan orkes musik yang disewa abah menatap kesal pada Syakira, mereka kalah saing dengan kehadiran artis ulet bulu itu. Suaranya bukan hanya bisa membuat kaum adam bergoyang tapi juga membuat celana mereka terasa sesak.


☘️☘️☘️


Jojo berjalan menjauh dari area panggung begitu melihat panggilan di ponselnya. Tampak wajahnya menegang saat mendengarkan ucapan orang yang menelponnya. Setelah panggilan berakhir, dia bergegas kembali ke tempatnya.


“Vin.. gue balik duluan ya.”


“Lo mau kemana?”


“Barusan tante Jeny telepon, om Richard kena serangan jantung. Gue harus ke Singapura malam ini.”


“Innalillahi.. ya udah cepet sana pergi. Salam buat tante Jeny sama Linda,” seru Cakra.


“Bi.. gue titip si Muh ya. jangan sampe pulang sama Radix. Eninnya ngga ngijinin dia pergi jauh-jauh pake motor.”


“Biar Anfa yang anter dia pulang. Lo ngomong aja ama anaknya.”


Jojo mengangguk kemudian dia melangkah menghampiri Adinda yang tengah berkumpul bersama Sekar dan teman-temannya. Jojo menarik tangan Adinda, keduanya berjalan menjauh. Jojo berhenti di tempat yang agak jauh dari panggung.


“Muh.. nanti kamu pulang bareng Anfa ya. Aku harus pergi sekarang. Kamu juga ngga usah ke apartemen dulu.”


“Kenapa om?”


“Aku berangkat ke Singapura malam ini, dan ngga tahu berapa hari di sana. Omku kena serangan jantung.”


“Inget, pulangnya sama Anfa ya,” Jojo mengusap puncak kepala Adinda.


“Iya om.”


“Mana dompet kamu?”


“Buat apa om?”


“Udah keluarin aja.”


Adinda mengeluarkan dompet dari dalam tas lalu memberikannya pada Jojo. Begitu pula dengan Jojo, pria itu mengeluarkan dompetnya lalu mengambil semua uang yang ada di dalam dompet kemudian memasukkannya ke dompet Adinda. Gadis itu ternganga melihatnya.


“Om, kok....”


“Takutnya kamu butuh sesuatu selama aku ngga ada. Kalau enin harus ke rumah sakit dan kamu ngga pegang uang, kamu hubungi aja Nina. Jangan pergi-pergian sama Radix, mending jagain enin di rumah. Hp kamu harus selalu on, biar aku gampang hubungi kamu, ngerti?”


“Iya om.”


“Ya udah, aku pergi ya.”


Jojo mengusap puncak kepala Adinda kemudian melangkah pergi. Tapi baru saja beberapa langkah, dia kembali berbalik lalu berlari menghampiri Adinda. Ditariknya tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


“Hati-hati selama aku pergi.”


Jojo mengurai pelukannya, matanya menatap intens pada netra Adinda. Ibu jarinya mengusap lembut pipi gadis itu, kemudian dia mendaratkan ciuman di kening dan puncak kepala Adinda. Setelah itu bergegas pergi menuju mobilnya.


Adinda terpaku di tempatnya berdiri. Matanya mengerjap menyadari apa yang baru saja terjadi. Adegan yang hanya berlangsung beberapa detik itu sukses membuat jantungnya berdebar. Dia meraba kening yang tadi dicium oleh Jojo kemudian beralih ke dadanya. Ini kali pertama jantungnya berdegup begitu kencang. Wajahnya seketika memanas dan entah mengapa dia menyukai apa yang dilakukan Jojo barusan.


“Din..”


Lamunan Adinda terhenti ketika mendengar sebuah suara memanggilnya. Radix yang sedari tadi memperhatikan interaksi Jojo dan Adinda, memilih untuk mendatangi gadis tersebut. Jangan ditanya bagaimana panas hatinya melihat adegan Jojo mencium Adinda.


“Ikut aku jalan-jalan yuk.”

__ADS_1


“Kemana kang?”


“Di seputar sini aja. Suntuk dari tadi lihat si ratu seuhah goyang mulu.”


Adinda terkikik, dia mulai mengikuti langkah Radix yang berjalan di sampingnya. Menjelang sore, tamu yang datang tidak berhenti bahkan semakin banyak. Mungkin karena acara dangdutan yang digelar. Radix mengajak Adinda duduk di bawah sebuah pohon besar yang rindang.


“Din.. apa hubungan kamu sama kak Jo?”


“Bos sama pegawainya.”


“Yakin cuma itu?”


“Iya, emangnya mau ada hubungan apa gitu?”


“Masa bos pake acara peluk dan cium kening segala pas pamit pergi.”


Adinda terdiam merenugi ucapan Radix. Karena terkejut, dia sampai tidak berpikir sejauh itu. Gadis itu mulai menerka-nerka mengapa Jojo memeluk dan menciumnya.


“Dia juga ngga suka lihat aku deket sama kamu, kaya orang cemburu gitu.”


“Iiih kang Radix mah ngaco. Ngapain juga om Jojo cemburu. Kan om Jojo tuh pacaran sama kak Luna.”


“Kata siapa?”


“Kak Luna pernah bilang kalau dia pacarnya om Jojo.”


“Dianya aja kali yang ngaku-ngaku. Kak Jo mah dari dulu modelannya emang kaya gitu, ramah sama siapa aja terutama ke kaum hawa. Awas kamu jangan sampai kena modusnya.”


“Ngga lah. Kayanya om Jojo baik sama aku karena kasihan aja. Nasib aku sama dia kan sama, sama-sama udah ngga punya orang tua. Makanya dia baik ke aku.”


Kali ini giliran Radix yang terdiam. Dalam hati dia berharap apa yang dikatakan Adinda benar adanya. Namun instingnya sebagai laki-laki mengatakan kalau sikap Jojo bukan menunjukkan rasa iba tapi cinta.


“Din.. kamu udah punya pacar belum?”


“Aku ngga punya pacar bang. Boro-boro mikirin pacaran, yang aku pikirin sekarang gimana caranya kerja, nyari uang buat pengobatan enin.”


“Tenang aja, bentar lagi aku jadi artis. Nanti aku bakal bantuin kamu buat pengobatan enin.”


“Makasih kang. Tapi dari pada buat bantu aku, mending uangnya akang ditabung atau kasih ke orang tua akang.”


“Kalau buat mereka sih, ngga usah kamu suruh juga aku pasti bakal sisihin.”


Radix kembali terdiam, begitu pula dengan Adinda. Gadis itu nampak menikmati semilir angin yang memainkan rambutnya. Radix melirik ke arah Adinda, hatinya berperang apa harus mengungkapkan apa yang selama ini dirasakannya. Apakah sekarang waktu yang tepat untuk menyatakan cinta. Tapi mumpung Jojo sedang tidak ada, seharusnya dia memanfaatkan waktu sekarang.


“Hmm.. Din..”


“Iya kang.”


“Kamu mau ngga jadi pacar aku?”


Adinda menoleh ke arah Radix. Ada keterkejutan di wajahnya mendengar kalimat yang keluar dari mulut lelaki di sebelahnya. Radix menatap Adinda dalam, seakan ingin menguatkan melalui sorot matanya kalau apa yang dikatakannya tadi serius dari lubuk hatinya yang paling dalam.


“Kang Radix bercanda nih.”


“Ngga. Aku cinta sama kamu Din. Dari awal kita ketemu, aku udah suka sama kamu.”


Radix meraih tangan Adinda kemudian menggenggamnya erat. Matanya menatap lurus ke manik hitam gadis itu.


“Aku cinta kamu, Din. Kamu mau jadi pacar aku?”


Adinda ternganga, ternyata Radix serius dengan ucapannya. Ini pertama kalinya ada lelaki yang menyatakan cinta padanya. Mendadak Adinda menjadi gugup lalu menarik tangannya.


“Kamu ngga harus jawab sekarang kok. Kamu bisa pikirin dulu. Tapi jangan lama-lama ya, nanti aku keburu lumutan,” kelakar Radix yang hanya dibalas senyum kikuk Adinda.


“Balik yuk kang, takutnya nanti dicariin.”


Adinda tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. Gadis itu segera bangun kemudian berjalan cepat, kembali ke arah panggung. Radix mengikuti dari belakang. Walau tipis kemungkinan, namun dia berharap Adinda mau menerima ungkapan cintanya barusan.


☘️☘️☘️


**Weh Radix nikung di pertikungan tajam, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kira² jawaban neng blewah apa ya?


Kemarin rame banget komen visual mamake, makasih ya atas semua pujiannya. Nanti kalau mamake ke Korsel, mamake sampaikan pujian kalian sama Kim So Hyun😁


Kemarin caption di bawah visual mamake ngga kebawa. Harusnya ada kata² ini:

__ADS_1


INI VISUAL MAMAKE SETELAH OPLAS🤣🤣🏃🏃🏃🏃🏃


Canda aja ya gaaaeesss yg kemarin dipajang artis Korea favorit mamake. Kalau wajah asli mamake lebih cantik dari doi😎 kata ayah sama anak²🤣🤣🤣**


__ADS_2