KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Bonchap : Gelombang Besar


__ADS_3

Lima tahun berlalu semenjak kepergian Teddy dan Rahma. Kehidupan keluarga Hikmat terus berjalan seperti biasanya. Sesuai amanat terakhir Rahma, semua keluarga tetap saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. Begitu pula dengan Jojo dan Adinda. Keduanya memang sudah tidak memiliki keluarga lagi, jadi hanya keluarga Hikmat keluarga mereka satu-satunya.


Hal yang sama juga berlaku pada Kevin dan Rindu. Setelah kedua orang tua dan mertuanya meninggal, hanya kakak-kakaknya dan keluarga Hikmat saja keluarganya. Keduanya kerap mengikuti kumpulan rutin semua keluarga Hikmat yang diadakan setiap sebulan sekali. Untuk tempat pertemuan, mereka memilih kediaman Teddy dan Rahma yang sekarang ditempati oleh Anfa beserta keluarganya.


Semua cucu pasangan itu telah tumbuh besar. Kenzie sekarang sudah berusia 18 tahun dan sudah terdaftar sebagai mahasiswa tingkat dua. Dia memilih kampus yang sama tempat sang papa menimba ilmu. Selain menempuh pendidikan formal, Abi juga menggembleng pemuda itu di rumah. Dia mengajarkan pada Kenzie bagaimana cara mengelola perusahaan, berhadapan dengan klien, negosiasi dan mengambil keputusan di saat genting. Tak lupa Abi juga mengajarkan untuk selalu peka menganalisis situasi di sekitarnya, termasuk bagaimana menghadapi orang yang mungkin akan menjadi musuhnya.


Terkadang Nina sering memprotes suaminya. Dia merasa Abi terlalu memberikan beban berlebih pada anak sulungnya itu. Sebagai seorang ibu, dia ingin Kenzie menjalani masa mudanya seperti anak lainnya. Tidak melulu berkutat dengan pelajaran atau perusahaan. Nina takut Kenzie terlalu enjoy dengan kegiatannya hingga melupakan bagaimana caranya bersenang-senang, termasuk menjalin hubungan dengan lawan jenis.


Kenzie sendiri tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan Abi padanya. Dia sadar sebagai anak sulung, pastinya memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keluarga dan mengurus perusahaan nantinya. Sebenarnya Abi juga memberikan kebebasan padanya untuk bergaul dengan siapa pun, termasuk menjalin hubungan dengan perempuan. Asalkan pemuda itu tetap bertanggung jawab dan tidak melanggar norma agama atau susila.


Tapi Kenzie sendiri masih enggan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, walau banyak perempuan yang berlomba-lomba ingin menjadi kekasihnya. Baginya saat ini berpacaran bukan sesuatu yang penting untuk dilakukan. Dia juga belum menemukan perempuan yang bisa membuat hatinya bergetar.


Pagi ini, Nina baru saja membereskan baju-baju yang akan dibawa Abi. Pria itu akan melakukan meninjau proyek yang sedang dalam tahap pengerjaan. Lokasi proyek sendiri berada di luar pulau Jawa, hingga akan memakan waktu cukup lama untuk meninjaunya. Setelah memasukkan pakaian ke dalam koper dan memastikan tidak ada yang terlewat, Nina menghampiri sang suami yang tengah berpakaian. Nina membenarkan kerah kaos yang dikenakan Abi.


“Kira-kira berapa lama mas pergi?”


“Paling lama seminggu.”


“Aku pasti bakal kangen sama mas,” Nina memeluk pinggang suaminya.


“Mas juga,” Abi mencium puncak kepala sang istri.


“Mas hati-hati ya selama di sana.”


“Iya sayang. Kamu juga hati-hati, mas titip anak-anak sama kamu. Kalau ada apa-apa cepat hubungi kak Juna, Cakra atau Anfa.”


“Iya mas.”


“Sepulang mas nanti, kita liburan bareng anak-anak.”


Nina menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mengurai pelukannya, lalu menatap wajah suaminya yang walau sudah tak muda lagi namun tetap tampan di matanya. Entah mengapa dia merasa berat sekali melepas kepergian suaminya kali ini. Abi mendekatkan wajahnya kemudian mendaratkan ciuman di bibir istrinya. untuk sesaat keduanya larut dalam ciuman lembut yang sarat akan cinta.


Abi mengakhiri ciumannya kemudian keluar dari kamar bersama dengan Nina. Tangan kirinya menggeret koper sedang tangan kanannya memeluk pinggang sang istri. Pak Dadang, supir keluarganya, segera mengambil koper dari Abi untuk dimasukkan ke dalam mobil. Sedang keduanya terus berjalan menuju ruang makan.


Di meja makan, Kenzie, Freya dan Kenan sudah menunggu. Mereka juga sudah siap untuk pergi ke tujuannya masing-masing. Kenzie akan pergi ke kampus, Freya dan Kenan ke sekolah. Freya sekarang sudah kelas 1 SMU sedang Kenan kelas 1 SMP. Abi dan Nina segera bergabung di meja makan.


“Papa mau pergi kemana?” tanya Freya. Kebiasaan anak itu sejak kecil tak berubah. Dia selalu saja bertanya kemana sang ayah pergi jika bukan ke kantor.


“Ke pulau Padar. Papa mau ninjau proyek di sana.”


“Pulau Padar itu di mana pa?” tanya Kenan.


“Di NTT, tetangganya pulau Komodo.”


“Wah berarti banyak komodo juga di sana?”


“Ngga.. ngga ada komodo di sana. Cuma pulau kosong aja. Papa dapat hak untuk pengelolaan pulau di sana supaya pulau Padar tambah cantik dan jadi destinasi wisata dunia.”


“Kapan-kapan aku mau ke sana ya pa,” seru Kenan lagi.


“Boleh. Nanti kalau berbagai fasilitas sudah dibangun di sana, termasuk kemudahan akses untuk menjangkau tempat-tempat indah di sana sudah terbangun, kita liburan ke sana.”


“Asik,” seru Kenan senang.


Abi hanya tersenyum melihat kelakuan anak bungsunya yang secara wajah begitu mirip dengannya. Namun kepribadian Kenan lebih hangat dibanding Kenzie yang cenderung dingin. Namun ucapan yang keluar dari mulutnya kadang tak kalah pedas dari sang kakak.


“Ken.. papa titip mama sama adik-adik kamu ya,” Abi melihat pada Kenzie yang sedari tadi hanya diam menikmati sarapannya.


“Hmm..”


“Ham.. hem.. ham.. hem.. yang jelas kalau ngomong,” sindir Freya namun tak digubris oleh Kenzie.


“Ngga usah heran kak. Yang ada di kepala abang tuh cuma tiga kata, hmm.. ck... sama apa,” cerocos Kenan. Kenzie langsung melihat ke arah adik bungsunya itu.

__ADS_1


“Biasa aja lihatnya. Gue colok juga tuh mata,” sewot Kenan.


“Nan.. ayo habiskan sarapanmu,” tegur Nina.


Kenan kembali memakan sarapannya. Abi hanya menggelengkan kepalanya saja. Ketiga anaknya memang sering sekali berdebat. Apalagi Kenan, dia yang paling usil di antara yang lain. Ada saja ucapan atau ulahnya yang sering membuat kedua kakaknya kesal.


Abi bersiap untuk pergi setelah menghabiskan sarapannya. Sebelum menuju bandara, dia akan mengantarkan kedua anaknya terlebih dulu. Freya dan Kenan bersekolah di tempat yang sama. Sedang Kenzie pergi ke kampus menggunakan motor sport kesayangannya.


Nina mengantar anak-anak dan suaminya sampai ke teras rumah. Ketiga anaknya mencium punggung tangannya bergantian. Kemudian Kenzie mencium punggung Abi. Tanpa banyak bicara, pemuda itu segera naik ke atas sepeda motornya kemudian melesat pergi. Freya dan Kenan segera naik ke mobil, memberikan waktu pada kedua orang tuanya untuk mengucapkan perpisahan.


Abi memeluk sang istri sebentar, kemudian mencium keningnya dengan mesra. Nina masih melingkarkan tangannya di pinggang sang suami. Rasanya enggan melepaskan suaminya pergi. Abi mengusap pipi Nina pelan. Mungkin karena jarak perjalanan yang jauh, Nina seperti berat melepasnya pergi.


“Mas pergi dulu ya.”


“Jangan lama-lama perginya mas.”


“Mas usahakan hanya tiga hari saja di sana.”


“Hati-hati mas.”


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Abi kembali mencium kening Nina lalu mencium sekilas bibirnya. Setelah itu dia segera masuk ke dalam mobil. Kenan mengeluarkan kepalanya melalui jendela mobil kemudian melambaikan tangan ke arah mamanya. Nina membalas lambaian tangan anaknya. Dalam hatinya terus berdoa menitipkan keselamatan sang suami pada sang Maha Kuasa.


☘️☘️☘️


Abi sibuk mengabadikan pemandangan indah di pulau Padar dari ketinggian. Pulau Padar berada di kawasan Taman Nasional Komodo, letaknya bersebelahan dengan pulau Komodo, hanya dibatasi oleh selat Lintah. Pulau Padar merupakan salah satu destinasi wisata yang sering dikunjungi wisatawan dalam negeri maupun luar negeri.


Pulau ini menyuguhkan eksotisme alam yang tak kalah indah dari pulau-pulau lain di Indonesia. Bagi penyuka hiking, pulau ini dapat dijadikan rekomendasi. Karena topografi pulau ini terjal dengan gunung-gunung vulkanik dalam laut yang curam dam bukit-bukit yang berhadapan dengan teluk laut yang dalam.




Perusahaannya ditunjuk oleh pemerintah setempat untuk menambah fasilitas serta akses jalan yang memudahkan pengunjung menjelajah pulau tersebut. Untuk pengelolaan sendiri, nantinya akan menjadi pengelolaan bersama dengan pemerintah setempat. Pastinya juga akan membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk sekitar.


Abi terus berjalan menuju puncak bukit Padar. Jalan menuju puncak yang kemiringannya hampir mencapai 45 derajat merupakan tantangan tersendiri untuk sampai ke sana. Walaupun sudah dibangun anak tangga untuk memudahkan, tetap saja dibutuhkan effort lebih untuk menikmati pemandangan dari atas bukit.


Sudah tiga hari lamanya Abi berada di pulau ini. Setiap harinya dia harus menempuh perjalanan dari Labuan Bajo menggunakan kapal cepat yang memakan waktu sekitar tiga jam lamanya. Melihat proses pembangunan pulau berlangsung lancar, Abi memutuskan untuk kembali ke Bandung dan menyerahkan pengawasan pada salah satu karyawannya yang memang bertanggung jawab atas proyek ini.


Fadil yang mendampingi Abi selama peninjauan proyek menghampiri atasannya yang tengah duduk memandangi langit yang beranjak sore. Dia melaporkan kalau kapal yang akan membawa mereka ke Labuan Bajo telah tiba. Bersama dengan Fadil, pria itu menuruni anak tangga.


Angin bertiup cukup kencang ketika Abi juga Fadil naik ke atas kapal cepat. Setelah semua naik ke atas kapal. Nakhoda pun mulai menyalakan mesin. Perlahan kapal bergerak meninggalkan pulau Padar.


Abi berdiri di dek sambil memandangi langit yang terlihat mendung. Angin berhembus cukup kencang dan gelombang air nampak mulai meninggi. Salah satu kru kapal meminta Abi masuk ke dalam karena cuaca sepertinya mulai tak bersahabat. Apalagi mereka baru saja menempuh setengah perjalanan.


Semakin lama angin berhembus semakin kencang. Air laut pun ikut bergelombang. Fadil memegangi perutnya yang terasa mual karena kapal terombang-ambing ke sana kemari. Di bagian luar kapal, nampak dek sudah basah terkena hempasan air laut yang mulai meninggi ombaknya.


Sang nakhoda berusaha sekuat tenaga agar kapal yang dikemudikannya tak kehilangan keseimbangan. Beberapa kru memberikan life jacket kepada penumpang demi menjaga hal buruk yang mungkin terjadi. Dengan cepat Abi juga Fadil mengenakan life jacket di tubuhnya.


Gelombang air semakin tinggi dan besar membuat kapal yang ditumpangi Abi semakin terombang-ambing. Air bahkan telah masuk ke dalam kabin. Nakhoda kapal terus berusaha menahan kapal dalam kondisi stabil. Namun tiba-tiba sebuah gelombang besar terjadi kemudian menghantam kapal, gulungan air membuat kapal masuk dalam gelombang air.


Kuatnya hantaman air membuat kaca-kaca jendela pecah. Air mulai menyembur masuk. Tubuh penumpang terpelanting saat kapal berada dalam posisi terbalik. Tubuh mereka terlempar keluar dari kapal, termasuk Abi dan Fadil. Teriakan minta tolong terdengar dari mulut mereka yang kini berada di tengah lautan. Namun suara mereka tertelan oleh derasnya arus air.


Nampak seorang kru masih terjebak di dalam kapal. Dia berusaha keluar namun tak berhasil. Tubuhnya tenggelam bersama kapal yang ditumpanginya. Abi berusaha meraih serpihan kapal untuk menopang tubuhnya. Begitu pula dengan yang lain, mereka meraih apapun yang ada di dekat mereka.


Abi melihat ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari orang-orang yang tadi bersamanya. Posisi mereka satu sama lain memang cukup berjauhan. Pria itu berusaha menghampiri Fadil yang beberapa meter terpisah darinya. Melihat Abi yang tengah berusaha ke arahnya, Fadil juga melakukan hal sama. Di tengah kuatnya gelombang air, keduanya berusaha mendekat.


Hanya tinggal sedikit lagi Abi bisa mencapai Fadil, tiba-tiba gelombang besar kembali datang menghantam. Ombak besar itu menggulung apapun yang dilaluinya. Abi berusaha menghindari ombak yang sebentar lagi sampai ke tempatnya.


“Pak ABIIIII!!!!!”

__ADS_1


Teriakan kencang Fadil terdengar ketika tubuh Abi tersapu ombak dan terbawa gulungan air. Fadil yang hanya terkena hempasan ombak kecil berusaha mendekat. Namun ketika ombak mereda, tubuh Abi menghilang. Pria itu menengok ke kanan dan kiri sambil terus meneriakkan nama Abi namun sosok Abi hilang entah kemana.


☘️☘️☘️


PRANG!!!


Gelas yang ada di tangan Nina tiba-tiba saja terjatuh. Dewi yang tengah menyetrika pakaian, bergegas menghampiri Nina. Nampak majikannya itu tengah memunguti pecahan gelas yang berserakan di lantai.


“Kenapa bu?”


“Ngga apa-apa Dew, aduh,” jari Nina tergores saat mengambil salah satu pecahan beling.


“Sudah bu, biar sama saya aja.”


Dewi segera mengambil alih pekerjaan. Nina membersihkan lukanya di pancuran air kemudian menghisap darah yang masih keluar. Bergegas dia mengambil kotak obat lalu membalut lukanya dengan plester.


Usai mengobati lukanya, Nina mencari ponselnya yang berada di kamar. Sekilas dia melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Biasanya di jam seperti ini Abi sudah menghubunginya. Suaminya itu selalu menelponnya ketika sudah sampai kembali di Labuan Bajo. Perbedaan waktu Bandung dengan Labuan Bajo adalah satu jam. Artinya saat ini di sana sudah pukul lima sore.


Nina mengusap layar ponselnya lalu segera melakukan panggilan pada suaminya. Namun panggilannya terhubung pada kotak suara. Kembali Nina menghubungi Abi tapi tetap tak tersambung. Dia kembali meletakkan ponselnya, pikirnya Abi masih dalam perjalanan pulang dari pulau Padar. Dia memilih kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Sejam berlalu, Nina kembali menghubungi suaminya. Hasilnya tak berubah, panggilannya hanya terhubung pada kotak suara. Hatinya mulai cemas, namun Nina tetap berusaha berpikir positif. Dia lalu mencoba menghubungi Fadil, tapi ternyata ponsel sekretaris suaminya itu juga tidak aktif. Nina mulai tidak enak hati.


Freya yang baru saja menuruni anak tangga melihat bingung ke arah mamanya yang berjalan mondar-mandir seperti setrikaan saja. Gadis itu hampir saja terjatuh ketika tiba-tiba Kenan mengejutkannya dari arah belakang. Dengan kesal dia menjitak kepala adiknya itu.


“Ma..” tegur Kenan.


“Iya Nan,” jawab Nina.


“Setrikaan rusak ya ma?”


“Hah? Maksudnya?”


“Itu mama jalan mondar-mandir udah kaya setrikaan. Emang setrikaan yang biasa dipake bi Dewi rusak?”


TOK


Sebuah jitakan kembali mendarat di kepala anak itu. Kenan menatap kesal ke arah sang kakak yang sudah dua kali mengahadiahi kepalanya dengan jurus getokan maut. Anak itu bergegas menuju ruang tengah kemudian menyalakan televisi. Freya menyusul duduk di dekat adiknya itu. Adegan rebutan remote pun segera terjadi.


Nina tak mempedulikan perdebatan kedua anaknya yang tengah berebut remote. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada sang suami. Tak kunjung terhubung pada ponsel Abi juga Fadil, Nina memutuskan menghubungi Beno. Dia meminta pria itu melacak nomor ponsel sang suami.


Sepuluh menit kemudian Nina mendapat kabar dari Beno kalau terakhir ponsel Abi terlacak berada di selat Sape. Perasaan Nina semakin tak tenang, dia mencari tahu kondisi terakhir di sekitar Labuan Bajo atau kepulauan Komodo. Tubuh Nina menegang ketika melihat sebuah postingan berita yang baru saja masuk. Postingan tersebut memberitakan tentang gelombang besar yang tiba-tiba saja terjadi di selat Sape.


Perasaan Nina bertambah gundah ketika melihat Juna, Cakra juga Anfa datang bersamaan ke rumahnya. Wajah mereka menunjukkan ketegangan. Dengan cepat Nina menghampiri ketiganya saat baru memasuki teras rumah.


“Mas Abi ngga ada kabar. Apa kalian tahu sesuatu?”


“Nin...”


Juna tak meneruskan kata-katanya, dia bingung harus bagaimana menyampaikan berita mengejutkan yang baru saja diterimanya. Salah satu bawahan Abi yang ada di Labuan Bajo baru saja menyampaikan kalau kapal yang ditumpangi Abi terkena gelombang besar. Hanya Fadil dan beberapa orang yang berhasil ditemukan anggota SAR. Sedang Abi, menurut pengakuan Fadil hilang saat tersapu ombak.


“Kak.. mas Abi, di mana dia?” tanya Nina lagi. Belum sempat Juna membuka suaranya, tiba-tiba terdengar teriakan Freya dari arah ruang tengah.


“Mama!!!”


Mendengar teriakan Freya, Nina bergegas menghampiri diikuti yang lain. Nampak Freya tengah berdiri, tangannya menunjuk ke arah televisi. Airmata mengalir dari kedua matanya. Pandangan Nina beralih ke televisi yang tengah menayangkan breaking news. Nyawa Nina seakan melayang ketika membaca teks yang tertera di layar.


GELOMBANG BESAR MENGHANTAM SELAT SAPE, MENENGGELAMKAN KAPAL YANG TENGAH MELINTAS. CEO METRO EAST DIKABARKAN HILANG TERSAPU OMBAK.


“Mas ABI!!!!!”


☘️☘️☘️


**Mohon maaf kalau kemarin mamake udah buat kalian nangis berjamaah. Sama, mamake juga ikutan nangis pas ngetiknya😭

__ADS_1


Dan kali ini maaf kalau kalian harus tahan nafas dulu ya. Seperti kehidupan nyata, ngga selamanya manis, lucu, tapi ada kalanya sedih juga tegang. Mamake cuma mau buat Bonchap ini masih berasa nano². Hope you'll enjoy it🙏**


__ADS_2