KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
ART plus plus


__ADS_3

Adinda menarik nafas dalam-dalam ketika melangkahkan kakinya memasuki gedung apartemen. Semalam saat Abi dan Nina menjenguk sang nenek, pria itu mengatakan kalau dirinya harus bekerja sebagai asisten rumah tangga di apartemen Jojo. Gadis itu tak kuasa menolak karena Radix telah menceritakan kalau orang yang telah membayar biaya perawatan neneknya adalah Abi.


TING


Dentingan lift terdengar disusul dengan terbukanya kotak besi tersebut. Dengan dada berdebar Adinda keluar dari lift. Kakinya terus melangkah menuju unit paling ujung. Adinda berdiri di depan pintu unit Jojo. Beberapa kali terdengar tarikan nafas panjangnya. Setelah merapalkan doa dalam hati, jari Adinda bergerak memijit tombol bel yang terletak di pinggir pintu.


Adinda menunggu sebentar namun pintu belum juga terbuka. Saat tangannya terangkat hendak memijit bel untuk yang kedua kalinya, pintu terbuka. Jojo terkejut melihat gadis yang mengganggu tidurnya semalam sudah berdiri di depan pintu unitnya.


“Pagi om,” sapa Adinda.


“Kamu ngapain di sini?”


“Aku disuruh kak Abi ke sini. Katanya om butuh asisten rumah tangga.”


“Jadi kamu orang yang disuruh Abi kerja di sini?”


“Iya om.”


“Ayo masuk.”


Adinda menghembuskan nafas lega, ternyata tanggapan Jojo tidak semengerikan yang dibayangkan. Jojo menutup pintu, hatinya bersorak senang karena Adinda yang dikirim Abi untuk bekerja dengannya. Rasanya dia ingin memberikan banyak ciuman pada sahabatnya itu.


Gue cium si beruang kutub? Hoek! Najis!!


Jojo buru-buru menghalau pikirannya yang ingin menyampaikan rasa terima kasih pada sang sahabat dengan menciumnya.


Mending juga nyium si blewah. Haaiissshh apaan sih lo, Jo.


“Aku harus ngerjain apa aja om?”


Suara Adinda sukses membuyarkan lamunan Jojo. Untuk sesaat pria itu tergagap, namun dapat menguasai dirinya dengan cepat.


“Tugasmu bersih-bersih semua ruangan di sini, nyuci baju, nyetrika dan juga masak. Kamu bisa pake mesin cuci ngga?”


“Belum bisa om, hehehe.”


“Nanti saya ajarin. Tapi ada beberapa baju yang harus dicuci pakai tangan. Terus untuk jas, biar kirim ke laundry aja.”


“Siap om. Mesin cucinya di mana?”


“Sekarang kamu buatin saya sarapan aja dulu. Itu dapurnya.”


Jojo menunjuk sebuah ruangan yang terletak di sudut. Adinda melangkahkan kakinya ke sana. Hal pertama yang dilihatnya adalah isi kulkas. Tapi ternyata isinya hanya beberapa botol air mineral saja. Adinda kembali menghampiri Jojo.


“Om, mau pergi jam berapa?”


“Setengah sembilan, kenapa?”


Adinda melihat jam di dinding, waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Berarti dia masih punya waktu dua jam untuk menyiapkan sarapan.


“Aku mau belanja dulu. Di kulkas ngga ada apa-apa, om.”


“Ya udah ayo aku antar biar cepat. Ble..”


“Om, jangan panggil Ble dong.”


“Nama kamu siapa sih?”


“Adinda Puspita Muharani. Panggil Dinda aja om.”


“Ngga mau. Saya penganut anti mainstream.”


Jojo menuju kamarnya kemudiaan kembali lagi dengan kunci mobil dan ponsel di tangannya.


“Ayo Muh...”


“Muh?”


“Nama belakang kamu Muharani kan?”


“Iya.”


“Berarti ngga salah dong kalau saya panggil Muh. Ayo cepetan.”


Adinda memajukan bibirnya. Gadis itu tak habis pikir dengan tiga orang pria yang bersahabat karib itu. Ketiganya memanggil dirinya dengan sebutan berbeda. Cakra memanggilnya Ble, Abi memanggil Pus, terakhir Jojo memberikan panggilan baru, Muh.


Jojo membawa Adinda ke pasar tradisional yang jaraknya tidak begitu jauh dari apartemennya. Gadis itu mulai membeli bahan makanan untuk stok selama seminggu. Jojo mengikuti saja dari belakang. Tugasnya hanya membayar belanjaan saja. Soal memilih belanjaan diserahkan pada Adinda.


Setengah jam kemudian, mereka selesai berbelanja. Jojo membantu membawakan kantung belanjaan yang lumayan banyak. Dimasukkannya kantung belanjaan tersebut ke dalam mobil kemudian dia menarik tangan Adinda menuju deretan tenda yang menjual aneka makanan.


“Kita sarapan di sini aja. Kayanya ngga akan keburu kalau masak. Kamu mau sarapan apa?”


“Aku udah sarapan om.”


“Makan lagi! Saya ngga mau makan sendirian,” paksa Jojo.


Adinda tak punya pilihan selain menuruti kemauan Jojo. Dia memesan bubur setengah porsi. Jojo juga ikutan memesan bubur. Keduanya duduk berhadapan di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Adinda langsung menyantap bubur di depannya. Jojo juga menikmati bubur ayam tersebut sambil sesekali mencuri pandang pada Adinda.


“Muh.. nanti siang kirimin makan siang ke kantor ya.”

__ADS_1


“Iya om.”


“Kamu juga makan sekalian di kantor, temenin saya.”


“Iya.”


Suasana kembali hening. Keduanya menghabiskan buburnya tanpa berbicara lagi. Usai menikmati sarapan, keduanya kembali ke apartemen. Sebelum pergi kerja, Jojo harus mengajari Adinda menggunakan mesin cuci lebih dulu.


☘️☘️☘️


Siang harinya Dinda telah siap membawakan makanan siang untuk Jojo. Sesuai permintaan, gadis itu membawakan dua porsi makan siang. Satu untuk Jojo, satu untuk dirinya.


Begitu memasuki gedung J & J Entertainment, sang resepsionis langsung mempersilahkan Adinda naik ke lantai 7 karena tadi Jojo telah menitipkan pesan. Sesampainya di lantai 7, Adinda dikejutkan dengan penyambutan Syakira.


“Eh.. eh.. eh.. maauh khemaanaah khamuuh?”


“Mau nganter makan siang buat pak Jojo, tante.”


“Thanteh? Enhaakh ajaah akhuuh diphanggil thanteh. Siniiih akhuh ajaah yang kaasiihh.”


Syakira hendak menyambar kotak bekal di tangan Adinda, namun gadis itu dengan cepat berkelit. Dia menyembunyikan kotak bekal di belakang punggungnya.


“Khaamuuhh syiapaah siihhh?” kesal Syakira.


“Thanteehh maauuhh taaauuuhh ajaaahhh,” Adinda mengikuti gaya bicara Syakira.


Nirmala tak dapat menahan tawanya melihat perdebatan antara Syakira dengan Adinda. Kini keduanya berputar-putar saling merebut dan mempertahankan kotak bekal. Syakira terus saja berusaha mengambil kotak bekal dari tangan Adinda. Karena kesal, Adinda menundukkan kepalanya dengan rambut terurai ke depan kemudian dengan cepat mengangkat kepalanya sambil berteriak ala hard core.


“BLEWAAAHHH!!!”


Syakira hampir saja terjengkang saking kagetnya. Tawa Nirmala pecah seketika. Fandy yang ada di ruangan dekat perang bubut terjadi, terkejut mendengar teriakan Adinda. Dengan cepat Adinda berlari menuju ruangan Jojo. Setelah mengetuk, gadis itu segera masuk ke dalam, mengagetkan Jojo yang tengah mempelajari skenario baru.


“Astaghfirullah. Muh! Ngagetin aja kamu.”


“Hehehe.. maaf om. Abisnya aku di luar digangguin kuntilanak. Kalau biasanya kuntinya ketawa hihihi.. kalau yang ini mendesssaaaahhhh.”


Jojo tergelak mendengarnya. Sudah pasti kunti yang dimaksud Adinda adalah Syakira. Wanita itu memang sering nongrong di depan ruang Jojo, sudah seperti satpam saja. Adinda terpaku melihat Jojo tertawa, ini kali pertama dia melihat lelaki itu tertawa di depannya.


Weh si om bisa ketawa juga. Kirain bisanya marah-marah doang.


Adinda menaruh kotak bekal di meja. Jojo yang memang sudah lapar segera mencuci tangannya lalu duduk di sofa. Adinda membuka kotak bekal lalu menatanya di meja. Jojo menelan ludahnya melihat makanan yang tersaji, ayam rica-rica, cah brokoli dan perkedel jagung.


“Ini semua kamu yang masak?”


“Iyalah om. Aku kan bukan pak Tarno yang bisa sulap. TRING langsung jadi semua masakan.”


Baru saja Jojo akan menyuapkan makanan ke mulutnya. Pintu ruangan terbuka. Luna masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu kemudian duduk di samping Jojo. Tanpa malu dia langsung memeluk lengan pria itu. Adinda sedikit terkejut melihatnya.


“Wah, pesen makanan di mana mas?”


“Lepas Lun,” Jojo menggerakkan tangannya hingga Luna melepaskan pelukannya.


“Satu lagi buat aku ya? Makasih mas Jo.”


CUP


Luna mencium pipi Jojo. Adinda terbengong melihat Luna dengan beraninya mencium pipi Jojo di hadapannya. Mata Jojo membulat, sontak dia melihat tak suka ke arah Luna. Tanpa mempedulikan tatapan protes Jojo dan keterkejutan Adinda, Luna segera mengambil makanan di depannya.


“Eh itu buat si Muh,” seru Jojo.


“Ngga apa-apa om. Makanannya buat kak Luna aja. Aku pulang ya om.”


“Tunggu bentar, biar saya antar.”


“Ngga usah om. Kang radix udah janji mau jemput kok. Aku pulang dulu, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Adinda bergegas keluar dari ruangan. Dia tak mau lagi melihat adegan yang bisa merusak mata batinnya. Sungguh dirinya tak menyangka kalau Luna, salah satu selebrity yang diidolakannya ternyata sangat agresif. Gadis itu bergidik membayangkan jika Luna dan Jojo hanya berdua saja. Saat masih ada dirinya, Luna sudah berani mencium pipi Jojo.


Iiihhh ngeri kalau ngebayangin mereka cuma berdua aja.


Adinda memijit tombol turun. Tak lama pintu lift terbuka. Namun saat akan melangkah masuk, tiba-tiba Adinda teringat pesan Abi padanya tadi malam.


Inget ya Pus, kamu bukan cuma jadi ART nya Jojo aja. Tapi kamu harus jadi bodyguard-nya juga. Jangan sampe Jojo dideketin sama duo ulet bulu, Syakira sama Luna. Lakukan apapun biar mereka ngga bisa nempel-nempel sama Jojo.


Adinda menepuk keningnya, kenapa juga dia bisa lupa pesan keramat itu. Kalau Abi tahu dirinya membiarkan Jojo berduaan dengan Luna, bisa-bisa terkena jurus sentilan maut bertubi-tubi. Adinda akhirnya kembali ke ruangan Jojo. Setelah mengetuk pintu ruangan, gadis itu masuk ke dalam.


“Kenapa balik lagi?” tanya Luna.


“Om, aku nunggu kang Radix-nya di sini aja ya.”


“Ya udah. Sini duduk.”


Jojo menepuk ruang kosong di sebelahnya. Adinda menurut saja, dia mendaratkan bokongnya di samping Jojo. Kini Jojo sudah seperti raja minyak saja, diapit oleh dua wanita cantik.


“Kamu mau makan ngga? Berdua aja sama saya.”


“Ngga usah om. Barusan kang Radix wa, ngajakin makan siang bareng.”

__ADS_1


Adinda terpaksa berbohong. Dia takut Jojo tidak akan kenyang kalau harus berbagi makanan dengannya. Lain dengan Jojo, mendengar jawaban Adinda membuat hatinya dongkol. Selalu saja nama Radix terselip dalam ucapan Adinda.


“Kamu pacaran ya sama Radix?” terka Luna.


“Ng... ngga kak. Aku juga baru kenal sama kang Radix.”


“Waktu bukan ukuran Din. Contohnya aku, walau baru kenal sama mas Jo tapi udah nge-klik, ya kan mas?”


“Kamu aja kali,” jawab Jojo asal.


Dirinya masih kesal pada Luna yang tiba-tiba datang mengganggu kebersamaannya dengan Adinda. Wajah Luna sontak memerah menahan malu atas ucapan frontal Jojo. Adinda sebisa mungkin menahan tawanya.


“Ish mas Jo suka gitu. Kita kan udah sepakat menjalin hubungan.”


“Kapan aku pernah bilang gitu?”


Adinda memalingkan wajahnya ke arah samping. Ingin rasanya dia terbahak, tapi takut dosa. Wajah Luna lagi-lagi memerah, sikap Jojo benar-benar sudah menjatuhkan harga dirinya di hadapan Adinda. Luna segera mengakhiri makannya lalu mencuci tangan.


“Aku pergi dulu ya mas Jo, masih harus training anak-anak. Makasih ya Dinda buat makanannya, sayang rasanya ngga enak.”


Adinda melirik bekas makan Luna yang tidak bersisa sedikit pun. Dia berdecih dalam hati. Sepertinya Luna mulai menunjukkan ketidaksukaan pada dirinya.


“Sama-sama kak Luna. Ngga enak aja sampe habis makanannya. Apalagi kalau enak, bisa-bisa sama tempatnya digerogotin juga.”


Skak mat, Adinda berhasil membalas Luna dengan telak. Tawa Jojo seketika membahana membuat Luna bertambah kesal dan keki. Sambil menghentakkan kaki, dia segera keluar dari ruangan.


Jojo telah menyelesaikan makannya, pria itu berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Adinda tersenyum puas melihat kotak bekal yang dibawanya bersih tak bersisa. Dengan cepat dia membereskan kotak tersebut. Jojo kembali ke dekat Adinda.


“Muh.. nanti aku pulang cepat. Aku mau makan laksa Singapura, buatin ya.”


“Jam berapa om kira-kira?”


“Jam 5 aku udah di apartemen.”


“Siap om.”


“Kamu bisa ngga sih jangan panggil om. Berasa kaya om-om senang dipanggil kaya gitu,” keluh Jojo yang hanya dibalas kekehan Adinda.


“Asal om mau panggil aku Dinda, aku berhenti panggil om.”


“Ngga mau. Itu udah paten panggilannya.”


“Ya udah, panggilan aku juga udah paten. Udah didaftar ke BPOM sama kantor catatan sipil.”


Adinda menjulurkan lidahnya ke arah Jojo kemudian pamit pergi. jojo tersenyum tipis melihat kelakuan Adinda yang terlihat menggemaskan di matanya. Ingin rasanya mencubit pipinya dan me**mat bibir ranum Adinda.


Astaghfirullah.. sadar Jo, otak lo mesum mulu sama si Dinda. Tapi emang tuh anak gemesin banget. Tapi masa gue suka sama bocil sih? Aduh ngga beres nih otak gue.


Jojo terus bermonolog dalam hati. Bayang-bayang Adinda tak berhenti menari-nari di kepalanya. Dia memilih kembali ke meja kerjanya. Namun dirinya tetap tak bisa berkonsentrasi. Wajah dan suara gadis itu seperti enggan keluar dari kepalanya.


☘️☘️☘️


🎶 **Inikah rasanya cinta? Oh inikah cinta? Cinta pada jumpa pertama. Inikah rasanya cinta? Oh inikah cinta? Cinta pada jumpa pertama, dengan dirinya🎶


Haaaaaiiii.. mamake up 2x nih, so jangan males buat komen ya😘🤗


Promo lagi aaahhhh.


Mampir yuk ke karya baru mamake di akun sebelah, tapi masih di NT juga. Ketik aja judul novelnya. Ceritanya ngga kalah seru kok😉**



**Atau mampir juga ke cerita mamake yg udah tamat. Cerita tentang kisah cinta 4 musim. Setiap season-nya kurleb cuma 70 episode aja.


SEASON 1 : DEAR UNCLE


Ily & Dimas


Cinta terhalang restu


SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE


Rain & Akhtar


Cinta pengantin pengganti


SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY


Elang & Azkia


Jodoh takkan lari kemana


SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE


Reyhan & Ayunda


Cinta segitiga bikin galau**


__ADS_1


__ADS_2