KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Dukungan Wisnu


__ADS_3

“Bisa kita bicara Fa?”


“Ini udah malam Ray, ngapain kamu ke sini.”


“Kita harus bicara Fa.”


Anfa menganggukkan kepalanya lalu membawa Rayi duduk di sofa. Sejenak dipandangi wajah kekasihnya itu. Mata Rayi nampak sembab, sepertinya gadis itu banyak menangis hari ini.


“Fa.. apa aku ngga artinya dalam hidupmu?”


“Maksudmu apa Ray? Aku sayang kamu dan kamu tahu itu.”


“Tapi kenapa aku selalu jadi orang terakhir yang tahu tentangmu. Dulu masalah identitasmu, kamu ngga pernah cerita sedikit pun. Sekarang masalah hubungan kita juga seperti itu. Apa menurutmu aku ngga cukup layak untuk berbagi duka denganmu?”


“Maaf Ray.. ngga ada niatku untuk menyembunyikan semua ini.”


“Lalu apa Fa? Kamu sukses membuatku menjadi orang bodoh. Selama ini aku selalu mengira kalau kak Abi yang menunda pernikahan kita. Aku sempat kecewa karena kamu lebih memilih mengikuti perkataannya dari pada mengabulkan keinginanku untuk menikah secepatnya. Tapi ternyata mamaku sendiri yang menjadi penghalang pernikahan kita.”


“Lalu aku harus bagaimana? Mengatakan kalau mamamu yang berusaha menunda pernikahan kita? Aku ngga mau menjadi jurang pemisah antara kamu dengan mamamu. Biar bagaimana pun kamu anaknya, aku ngga mau kamu sedih dan berada dalam dilema.”


Rayi mulai menangis, masalah ini benar-benar membuat dadanya sesak. Di satu sisi dia kecewa pada Anfa yang tak jujur padanya. Namun di sisi lain, dia juga mengerti mengapa kekasihnya itu mengambil sikap seperti itu.


Anfa hanya mampu terdiam melihat kekasihnya menangis. Hatinya pun tak kalah sedihnya. Pikirannya buntu, masih belum bisa menebak apakah hubungannya dengan Rayi akan berlanjut atau berhenti di tengah jalan. Kata-kata Astuti tadi siang sukses menorehkan luka yang cukup dalam untuknya juga Nina. Pemuda itu tak berani melangkah maju jika hubungannya nanti hanya akan menyakiti hati sang kakak.


“Lalu bagaimana dengan hubungan kita? Apa kamu mau kita berhenti sampai di sini?”


“Untuk saat ini aku ngga tau Ray. Jujur hatiku sakit saat pertemuan tadi. Bukan karena hinaan mamamu padaku tapi melihat kak Nina menangis karena kata-kata mamamu. Di saat kak Abi berusaha keras membahagiakannya, aku malah membuatnya menangis. Aku malu sama kak Abi.”


“Maafin mamaku Fa.. maaf.. ini juga salahku, harusnya aku menceritakan semua tentangmu. Aku ngga nyangka kalau tante Wina akan meracuni pikiran mama seperti itu.”


“Sudahlah Ray, semua sudah terjadi. Lebih baik kita berdua menenangkan diri lebih dulu. Untuk sementara kita menjaga jarak. Kalau kita berjodoh, kita pasti akan bersatu juga.”


“Kamu menyerah Fa? Kamu menyerah atas hubungan kita?”


“Aku ngga menyerah Ray. Aku hanya butuh waktu untuk memulihkan keadaan. Aku juga butuh waktu untuk memenuhi semua permintaan mamamu. Aku ngga mau dipandang sebelah mata jika kita menikah nanti. Aku laki-laki Ray, aku punya harga diri dan aku ngga mau diriku direndahkan lagi.”


Mulut Rayi terbungkam mendengar perkataan Anfa. Semua yang dikatakan pria itu benar adanya. Ucapan sang mama memang sudah keterlaluan. Tapi Rayi juga tak ingin hubungannya berakhir begitu saja. Empat tahun yang dijalani bersama dengan Anfa bukanlah waktu yang sebentar. Banyak suka dan duka yang telah mereka lewati bersama.


“Sudah malam Ray. Ayo aku antar pulang.”


Anfa berdiri dari duduknya kemudian menuju meja kerjanya untuk mematikan laptop dan mengambil tas kerjanya. Diraihnya jas yang tergantung di capstok kemudian kembali menghampiri kekasihnya. Melihat Anfa telah bersiap pulang, mau tak mau Rayi pun berdiri dan mengikuti pria itu keluar dari ruangan.


☘️☘️☘️


Astuti berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun putrinya masih belum pulang ke rumah. Wisnu yang tengah menonton televisi, melirik sekilas ke arah sang istri. Tadi Rayi telah meminta ijin untuk bertemu dengan Anfa, oleh karenanya pria paruh baya itu tak terlalu cemas. Dia percaya, Anfa akan mengantarkan anaknya kembali ke rumah dengan selamat.


“Pak.. Rayi kemana sih? Kenapa belum pulang juga sampai sekarang? Ini bapak kok tenang-tenang aja sih, anak gadisnya belum pulang.”


“Tadi dia ijin mau ketemu Anfa.”


“Anfa lagi Anfa lagi. Ibu nda suka Rayi masih berhubungan dengannya.”


“Sebenarnya apa sih yang buat ibu nda suka sama anak itu? Dulu ibu setuju Rayi dengan Anfa, kenapa sekarang melarang?”


“Dia itu anak durhaka. Bisa-bisanya dia membuang orang tua yang sudah mengurusnya begitu saja. Bagaimana dengan anak kita nanti kalau menikah dengannya?”


“Astaghfirullah.. ibu kenapa koyo anak kecil. Itu informasi dari Wina mbok ya jangan ditelen bulet-bulet. Tanya dulu kebenarannya sama Anfa atau Rayi. Nanti kalau ternyata ibu salah tuduh, malu sendiri. Anfa itu anak baik, bapak bisa jamin itu.”


“Tetap aja pak nda merubah kenyataan kalau dia itu nda punya apa-apa. Bagaimana nanti dia menghidupi anak kita? Apa bapak mau dia mendompleng hidup sama kita?”


“Lah kita buat usaha untuk anak cucu kita. Kalau Anfa mau mengurus bisnis sembako kita, bapak senang saja. Bapak percaya, kalau Anfa bisa menyenangkan Rayi, dia itu pekerja keras. Sekarang saja dia sudah bekerja di perusahaan besar, bahkan sedang menyelesaikan S2-nya. Kriteria seperti apa lagi yang ibu inginkan.”


Astuti memandang kesal pada suaminya. bukan tanpa alasan wanita keturunan Solo itu menentang hubungan Rayi dengan Anfa. Selain informasi sepihak yang didengarnya dari Wina, dia juga ragu dengan asal usul Anfa. Sejatinya dia berharap memperoleh menantu dari kalangan berada dan juga status sosial yang baik. Sehingga dirinya bisa membanggakan sang anak yang berhasil mendapatkan suami dengan kualitas terbaik.


Sejak dulu Astuti selalu diledek oleh adik sepupunya. Dia kesal selalu dihina karena suaminya berasal dari kalangan biasa, bukan berdarah biru sepertinya dan sukses menjadikan dirinya sebagai bulan-bulanan. Maka untuk kali ini, dia tak ingin jadi bahan olokan lagi. Jika adik sepupunya tahu kalau menantunya hanyalah seorang yatim piatu yang tak memiliki apa-apa maka dirinya akan kembali dihina habis-habisan.


“Aku nda mau si Retno hina aku lagi yo. Cukup dulu dia hina bapak, jangan sampai sekarang dia ikutan ngehina Rayi.”

__ADS_1


“Halah ibu ini... si mulut kaleng rombeng yo didengerin. Biarkan saja dia mau bilang apa, yang penting anak kita bahagia, cukup. Buat apa punya menantu kaya, berasal dari keluarga terpandang kalau ternyata menyakiti anak kita. Pokoknya ibu setuju atau nda, bapak akan tetap menikahkan Rayi dengan Anfa.”


“Yo nda bisa gitu pak. Ibu nda setuju! Ibu akan carikan laki-laki lain yang pantas buat Rayi. Anak kita itu cuantik loh pak.”


“Anfa juga guanteng,” Wisnu tak mau kalah dari sang istri.


“Buat apa ganteng kalau kere.”


“Terserah ibu lah. Pokoknya bapak tetap setuju dengan Anfa.”


“Ibu nda setuju!”


“Yang menikahkan Rayi itu bapak bukan ibu. Jadi manut ae lah.”


Astuti mencubit lengan suaminya dengan kencang. Wanita itu kesal karena suaminya sama keras kepalanya dengan sang anak. Wisnu mengusap lengannya yang terasa panas akibat cubitan sang istri.


“Awas aja bapak berani nikahin Rayi sama Anfa. Ibu nda bakalan kasih jatah malam lagi.”


“Ra popo, wong pinggangku suka encok kalau tiap malam dikasih jatah.”


“Bapaaaaaakkkkk!!!”


☘️☘️☘️


Honda Civic yang dikendarai Anfa terus melaju, membelah jalanan kota Bandung yang basah akibat diguyur hujan sore tadi. Tak ada pembicaraan selama perjalanan. Suasana mobil hanya dipenuhi oleh lagu yang diputar melalui audio mobil. Kedua insan itu terus saja bungkam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Anfa sampai di depan rumah Rayi. Gadis itu masih bergeming di tempatnya. Anfa mematikan mesin kendaraan kemudian melepaskan seat beltnya. Kepalanya menyandar ke jok mobil seraya memejamkan mata. Perlahan Rayi membuka sabuk pengamannya kemudian melihat ke arah Anfa.


“Fa.. aku ngga akan menyerah dengan hubungan kita. Aku akan berjuang meluluhkan hati mama untuk kita.”


Anfa membuka matanya kemudian menoleh ke arah Rayi. Gadis itu mengubah posisi duduknya menghadap ke arah kekasihnya.


“Selama ini kamu berjuang sendirian demi memenuhi keinginan mama. Sekarang ijinkan aku yang berjuang, membantumu memperoleh restunya.”


“Apa kamu ngga menyesal dengan keputusanmu?”


“Aku akan menyesal kalau tidak bisa mendapatkan lelaki baik sepertimu. Aku sungguh berharap perasaanmu ngga berubah padaku.”


“Kalau begitu jangan menyerah Fa. Ayo kita berjuang bersama. Tak peduli berapa lama waktu yang kamu butuhkan agar kita bisa bersama, aku akan menunggumu.”


“Mamamu...”


“Biarkan itu menjadi urusanku. Kamu fokuslah untuk membuktikan pada mama kalau hanya kamu yang pantas untuk mendampingiku.”


Anfa menatap dalam netra Rayi, kemudian tangannya bergerak menarik tengkuk gadis itu. Rayi menutup matanya saat bibir Anfa menyentuh bibirnya. Sebuah lu**tan lembut diberikan pria itu. Bibir Anfa terus begerak, menyesap, mencecap dan memagut bibir Rayi yang baru dua kali diciumnya.


Ciuman panjang mereka bertambah dalam ketika Rayi mulai berani membalas ciuman pria itu. Kini kedua tangannya sudah bertengger cantik di leher Anfa. Sebelah tangan Anfa menarik pinggang Rayi hingga tubuh keduanya tak berjarak. Saat merasakan oksigen sudah mulai menipis, Anfa mengakhiri ciumannya kemudian menyatukan kening mereka.


“Kamu benar mau menungguku?”


“Aku akan menunggumu. No matter how long it takes, I’ll wait for you (tak peduli berapa lamanya aku akan menunggumu).”


Anfa membawa Rayi ke dalam dekapannya. Tangan Rayi semakin erat memeluk leher Anfa. Keduanya hanyut dalam perasaan cinta yang begitu dalam. Perlahan Anfa mengurai pelukannya kemudian mencium kembali bibir Rayi yang mulai menjadi candu untuknya.


“Ayo turun, biar aku antar.”


“Ngga usah, cukup lihat aku dari sini.”


Rayi memegang rahang Anfa kemudian mendaratkan kecupan di sana. Tangannya bergerak membuka pintu mobil. Gadis itu berjalan memasuki pekarangan rumahnya sambil sesekali melihat ke arah mobil. Begitu pula dengan Anfa yang tak melepaskan pandangannya dari Rayi. Setelah kekasihnya masuk ke dalam rumah, dia mulai menjalankan kendaraannya.


“Dari mana?!” sembur Astuti begitu Rayi masuk ke dalam rumah.


“Habis bertemu Anfa,” jawab Rayi santai.


“Mulai besok kamu nda boleh bertemu Anfa lagi.”


“Maaf ma, aku ngga bisa. Anfa itu calon suamiku, aku akan tetap menikah dengannya dengan atau tanpa ijin mama.”

__ADS_1


“Sudah mulai berani ya kamu melawan mama.”


“Karena kali ini mama salah. Mama sudah salah menilai Anfa. Dia ngga seperti yang tante Wina bilang. Bahkan tante Wina itu yang jahat, dia menyiksa Anfa, membuatnya hidup sebagai Gean. Apa mama tahu kalau tante Wina pernah menjodohkan Anfa sama perempuan ngga benar hanya untuk membuat hidupnya ngga bahagia? Pasti mama ngga tahu karena cuma kebohongan dan racun yang tante Wina katakan pada mama.


Dan soal persyaratan yang mama minta, Anfa akan memenuhi semuanya. Rumah mewah, mobil mewah, bahkan kalau perlu dia akan membuat 1000 toko sembako buat mama. Tunggu saja tanggal mainnya ma.”


Rayi segera masuk ke dalam kamarnya tanpa memberikan kesempatan pada sang mama untuk membalas semua ucapannya. Wisnu tersenyum melihat Rayi sudah berani mengutarakan keinginannya. Selama ini sang istri memang terlalu dominan mengatur hidup anaknya.


“Bagus Rayi, semangat! Bapak akan tetap mendukungmu! Kalau perlu besok bapak nikahkan kamu dengan Anfa!”


“Bapaaakk!!”


“Opo?”


“Awas aja kalau bela Anfa lagi. Malam ini bapak tidur di luar!!”


“Ra popo, bapak malah bisa tidur pulas malam ini karena nda dengar suara ngorok bue.”


Astuti benar-benar kesal mendengar jawaban sang suami. Dia segera masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu dengan keras. Terdengar suara pintu dikunci, namun Wisnu tetap terlihat santai. Pria itu merebahkan tubuh di sofa sambil terus menonton pertandingan bola di televisi.


☘️☘️☘️


Abi nampak termenung di halaman rumah orang tuanya. Setelah berlari keliling kompleks, calon ayah itu memutuskan mampir ke kediaman orang tuanya. Juna yang juga baru selesai berlari, memutuskan mampir begitu melihat sang adik tengah melamun. Sebuah tepukan di bahu Abi menyadarkan pria itu dari lamunannya.


“Kenapa Bi?”


Abi menoleh ke arah Juna namun tak langsung menjawab pertanyaan sang kakak. Dia kembali melayangkan pandangannya ke arah depan. Sesekali terdengar helaan nafasnya. Masalah Anfa membuatnya serba salah dan tidak bisa bertindak tegas. Kalau saja Astuti itu bukan ibu dari wanita yang dicintai Anfa, mungkin dia sudah menyeret perempuan itu dan mengirimkannya ke pulau tak berpenghuni karena sudah berani membuat istrinya menangis.


“Bi..”


“Anfa kak.”


“Ada apa dengan Anfa? Apa dia masih ribut dengan Rayi?”


“Bukan dengan Rayi tapi dengan wewe gombel penunggu gentong air.”


“Hahahaha...”


Juna tak dapat menahan tawanya mendengar julukan sang adik entah untuk siapa. Dirangkulnya bahu Abi yang masih menatap lurus ke depan.


“Masa kamu ngga bisa ngusir tuh wewe gombel. Kamu kan ditakuti para makhluk astral hahaha...”


“Wewe gombel yang satu ini limited edition dan ngga bisa dibasmi. Pengennya sih aku lelepin ke sungai Amazon biar dimakan anaconda, tapi sayang dia itu ibunya Rayi. Kalau ngga, habis dia,” geram Abi.


“Ibunya Rayi?”


Abi mengangguk pelan. Kemudian dia mulai menceritakan semua yang terjadi dua hari lalu, termasuk keputusannya yang melarang Anfa menikah sebelum menyelesaikan studi masternya. Juna menghembuskan nafas panjang mendengar cerita sang adik. Jangankan Abi, dirinya pun dibuat kesal dan gemas mendengar tentang Astuti.


“Pantas Anfa terlihat murung akhir-akhir ini. Ternyata itu penyebabnya.”


Baik Abi maupun Juna dibuat terkejut mendengar suara Rahma yang telah berada di belakang mereka. Sedari tadi wanita itu menguping pembicaraan sang anak. Sebagai seorang ibu, dia sudah merasa curiga melihat sikap Anfa akhir-akhir ini. Namun anak itu masih belum menceritakan apapun padanya. Rahma menghampiri kedua anaknya.


“Serahkan semuanya pada mama. Biar mama yang akan memberikan pelajaran pada perempuan itu. Seenaknya saja dia sudah menghina Anfa dan membuat menantu mama menangis.”


“Mama mau ngapain?” suara Juna terdengar sedikit cemas.


“Tunggu saja tanggal mainnya. Terkadang untuk mengalahkan musuh, kita tidak perlu menggunakan kekerasan, cukup bermain lembut dan cantik. Lihat saja apa yang mami rencanakan, pastinya mama akan memberikan kejutan buat perempuan itu. Kalian harus membantu mama.”


“Siap ma. Apapun yang mama butuhkan, aku akan bantu asalkan mama bisa kasih pelajaran sama tuh wewe gombel.”


“Tenang aja.”


Rahma melipat kedua tangannya, sebuah senyuman licik tercetak di wajahnya. Di kepalanya sudah tergambar apa saja yang akan dilakukannya untuk memberikan Astuti pelajaran. Otak liciknya sudah mulai bekerja.


☘️☘️☘️


Wah kira² apa ya rencana mama Rahma?

__ADS_1


Kayanya seru tuh Rahma vs Astuti.


Kalian ada di tim mana?🙋


__ADS_2