
Abi memeluk Nina dari belakang, membuat wanita yang tengah membereskan pakaian di walk in closet itu terjengit. Baru dua jam suaminya berangkat ke kantor tapi sekarang sudah pulang kembali.
Nina ingin membalikkan tubuhnya, namun Abi menahannya. Dia justru mengeratkan pelukannya di perut Nina. Dagunya diletakkan di ceruk leher Nina lalu menciumi beberapa kali. Abi menurunkan tali dress lalu mengecupi bahu Nina yang terbuka. Dia lalu membalik tubuh Nina hingga berhadapan dengannya.
“Mas.. ada ap mmpphh..”
Abi langsung membungkam bibir Nina hingga tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Dengan rakus dia memagut dan me**mat bibir sang istri. Nina membalas ciuman Abi. Dia memilih mengikuti apa yang suaminya lakukan. Walau hatinya bertanya-tanya, tapi memuaskan suami adalah prioritasnya.
Abi menggendong Nina bak koala menggendong anaknya sambil tak melepaskan pagutannya. Perlahan dibaringkan tubuh Nina di atas kasur. Abi melepaskan dasi yang terasa mencekik lehernya, lalu dengan tergesa membuka kemeja. Nina membantu melepaskan kemeja dari tubuh sang suami.
Abi kembali menciumi Nina, seluruh wajah, leher dan bahu tak luput dari bibirnya. Ciuman Abi begitu tergesa dan sedikit kasar. Pria itu menegakkan tubuhnya lalu melucuti semua pakaian yang menempel di tubuhnya lalu melepaskan pakaian Nina dengan tergesa. Dia kembali menciumi tubuh Nina dan meninggalkan jejak kemerahan di beberapa tempat. Beberapa kali Nina mendesis ketika Abi meremat bulatan kenyalnya sedikit kencang.
Nina terpekik pelan ketika Abi mulai bermain di area bawahnya. Tubuhnya menggelinjang hebat akibat permainan lidah dan bibir Abi. Beberapa kali dada Nina membusung disusul dongakkan kepalanya. Permainan Abi di bawah sana begitu liar hingga membuatnya membuatnya menggila. Nina meremat rambut Abi erat saat gelombang hangat mneghantam dirinya.
Tubuh Nina terkulai lemas setelah mendapatkan pelapasannya. Namun baru dirinya beristirahat sebentar, Abi kembali merangkak naik ke atas tubuhnya. Pria itu kembali mencumbui istrinya. Tangan dan bibirnya tak henti bekerja. Tak butuh waktu lama, Nina sudah dibuat on fire olehnya.
Abi memulai penyatuannya. Pria itu menggerakkan tubuhnya di atas Nina. Hentakan dan hujamannya membuat sang istri melambung tinggi. Abi berguling ke samping kemudian mengangkat tubuh Nina menjadi di atasnya. Nina mulai bergerak di atas Abi, lelaki itu juga menggerakkan tubuhnya dari bawah membuat Nina ingin meledak. Tak lama tubuh wanita itu jatuh terkulai di atas Abi setelah mendapatkan pelepasan keduanya.
Abi bangun lalu kembali menyatukan miliknya dari belakang. Tangan Nina meremat erat seprai. Entah mengapa dia merasakan permainan Abi semakin liar dan menggila. Seperti ada kemarahan dalam setiap hentakannya. Berulang kali dia merubah gaya bercinta, menguras habis tenaganya.
Abi menyesap kencang punggung Nina saat menggapai kepuasannya. Tubuhnya lalu jatuh terkulai di belakang sang istri. Ditariknya tubuh Nina ke dalam pelukannya. Nafasnya masih memburu, hembusannya terasa di tengkuk Nina. Wanita itu memejamkan matanya, tubuhnya benar-benar lelah. Sayup-sayup telinga menangkap ungkapan terima kasih dan cinta dari bibir Abi. Setelah itu dirinya masuk ke alam mimpi.
☘️☘️☘️
Nina terbangun, matanya langsung tertuju pada jam yang terpajang di dinding. Waktu menunjukkan pukul satu siang. Berarti hampir dua jam dia tertidur. Bahkan saking lelahnya, mereka sampai tak menutupi tubuh dengan selimut. Abi masih tertidur di sampingnya. Tangannya masih memeluk erat perutnya. Pelan-pelan Nina melepaskan pelukan Abi lalu turun dari ranjang.
Nina bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum suaminya bangun. Jika sampai Abi meminta mandi bersama, bisa kacau. Bukan tidak mungkin suaminya itu akan menerkamnya kembali.
Nina mengeringkan tubuhnya sambil berdiri di depan cermin. mulutnya menganga melihat leher, dada dan perutnya penuh dengan bercak kemerahan. Dia bergegas berpakaian lalu berwudhu.
Saat Nina keluar dari kamar mandi, Abi masih belum terbangun. Nina membangunkan Abi dengan menepuk-nepuk bahunya. terdengar lenguhan Abi disusul dengan matanya yang terbuka setengah.
“Mas bangun.. udah setengah dua. Mas belum shalat, belum makan. Ayo bangun mas, mandi dulu.”
Abi bangun lalu duduk menyandar di headboard ranjang. Nina mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tubuh sang suami masih polos seperti bayi baru lahir. Setelah nyawanya terkumpul, Abi beranjak menuju kamar mandi. Nina bergegas menuju mushola yang ada di dekat ruang keluarga lalu menunaikan shalat dzuhur.
“Masak apa sayang?”
Abi memeluk Nina dari belakang ketika wanita itu tengah menyelesaikan masakannya. Nina mematikan kompor kemudian membalikkan badannya. Dia menangkup wajah Abi dengan kedua tangannya.
“Masak udang saos tiram, cah kangkung sama perkedel jagung. Mas suka?”
“Apa aja yang kamu masak, mas suka.”
Abi memegang tangan Nina yang ada di wajahnya kemudian mengecup bibir yang sudah menjadi candu baginya beberapa kali.
__ADS_1
“Mas tolong ambilkan mangkok.”
Abi mengambil mangkok lalu memberikannya pada sang istri. Nina memindahkan masakannya ke dalam mangkok lalu membawanya ke meja makan. Semua menu sudah lengkap tersedia di meja. Ditariknya tangan Abi untuk duduk di kursi. Dengan cekatan Nina mengambilkan makanan untuk suaminya.
Selesai makan siang yang terlambat, Abi mengajak Nina bersantai di halaman belakang. Mereka duduk berdua di kursi gantung. Nina menyandarkan dadanya di dada Abi lalu menarik tangan Abi agar melingkari perutnya.
“Mas.. ada yang mau mas ceritakan?”
“Yang.. apa mas orang yang sangat menyebalkan?”
“Maksud mas apa?”
“Apa kamu menyesal menikah dengan mas?”
Nina melepaskan tangan Abi kemudian membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan sang suami. Wajah Abi terlihat sedih, pancaran matanya juga sarat dengan kekecewaan. Nina memeluk leher Abi.
“Aku bersyukur memiliki suami sepertimu. Tak peduli apa kata orang, tapi bagiku, mas adalah suami sempurna,” Nina mengecup bibir Abi.
“Ada apa mas? Apa yang mengganggu pikiranmu?”
“Mano... aku sudah mengetahuinya.”
“Oh ya? Siapa mas? Mas kenal sama dia?”
“Siapa dia mas?”
“Nama lengkapnya Jovan Romano, mas dan Cakra biasa memanggilnya Jojo. Dia sahabat mas sejak kecil, sama seperti Cakra.”
Wajah Abi tiba-tiba berubah sendu ketika membicarakan Jojo alias Mano. Abi, Cakra dan Jojo bersahabat sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Tak ada rahasia antara mereka. Ketiganya kerap berbagi suka dan duka bersama. Bahkan Abi dan Cakra setia menemani dan menyemangati Jojo saat sang ayah meninggal dunia. Jojo mempunyai saudara kembar perempuan bernama Jovanka, yang biasa dipanggil Anka.
Seiring kedekatan saudara kembarnya, Anka juga mulai dekat dengan Abi dan Cakra. Lambat laun tumbuh perasaan cinta di hati Anka untuk Abi. Tapi sayang, pria itu tak memiliki perasaan yang sama. Setahun sebelum Abi menikah dengan Fahira, Anka meninggal bunuh diri. Jojo yang terpukul memilih pindah ke Singapura, mengikuti ayah tirinya.
“Kenapa semua orang yang kukenal dan kusayangi mengkhianatiku? Apa salahku? Fahira, Vicko dan sekarang Jojo, semua mengkhianatiku.”
Nina berpindah duduk. Dia naik ke pangkuan Abi. Nina menangkupkan kedua tangannya ke wajah Abi. Kemudian dia mulai menciumi wajah sang suami. Mulai dari kening, mata, hidung, pipi dan bibir.
“Itu bukan salahmu mas. Mereka berkhianat bukan karena mas bukan orang baik. Tapi mereka yang tidak bisa dipercaya. Mereka tidak bisa menjaga kepercayaanmu. Dan tidak semua orang seperti mereka. Mas lihat Cakra, dia menyayangimu seperti saudara sendiri. Lihat Anfa, betapa dia sangat mengagumi dan menyayangimu. Rayi, walau mas selalu mengganggunya, tapi dia juga menyayangimu. Lalu aku, aku mencintaimu dan akan selalu berada di sampingmu dalam suka maupun duka. Tidak usah menghabiskan energi memikirkan orang yang membencimu. Fokus saja pada orang-orang yang menyayangimu. Ada aku di sini.”
Abi sungguh terharu mendengar kata-kata Nina. Di tengah rasa kecewa dan marahnya, Nina mampu memberikan kesejukan, membuatnya percaya kalau masih banyak di luar sana orang yang menyayanginya. Nampak ujung mata pria itu sedikit menggenang.
“Terima kasih sayang.”
“Aku mencintaimu mas,” Nina mengusap sudut mata Abi yang basah kemudian mengecup keningnya cukup lama.
Di tengah keharuan mereka, tiba-tiba ponsel Abi bergetar. Tertera nama Sekar di layar ponsel. Dengan cepat Abi menjawab panggilan.
__ADS_1
“Halo.”
“Halo kak. Kak, cepet susul bang Cakra.”
“Kenapa sama Cakra?”
“Aku ngga tau kak. Tadi abis dari ruangan kak Abi, bang Cakra kaya yang marah gitu terus pergi dari kantor. Aku takut kak, aku ngga pernah lihat bang Cakra semarah itu.”
“Se.. kamu susul Cakra ke apartemen Jojo. Kamu masih inget kan?”
“Iya kak.”
“Cepetan! Kakak pergi sekarang.”
Abi mengakhiri panggilan. Dia menurunkan Nina dari pangkuan kemudian berdiri. Nina mengikuti langkah Abi yang nampak tergesa.
“Mas.. ada apa?”
“Cakra.. sepertinya dia udah tahu kalau orang yang ada dibalik Ruby adalah Jojo. Aku harus ke apartemen Jojo sekarang. Cakra pasti sedang ke sana.”
“Aku ikut mas.”
“Ayo.”
☘️☘️☘️
Cakra turun dari mobil seraya membanting pintu mobil. Hati dan otaknya sudah dikuasai amarah. Saat menaruh laporan ke ruangan Abi, secara tidak sengaja melihat laporan anak buah Agung yang ditugaskan untuk memata-matai Mano. Ternyata orang yang berada dibalik Ruby adalah Jojo, sahabatnya sendiri.
Setengah berlari Cakra memasuki gedung apartemen. Dia langsung memasuki lift yang akan membawanya ke lantai tempat unit Jojo berada. Lift berhenti di lantai 15, dengan cepat Cakra keluar lalu menuju unit paling ujung. Dengan tidak sabar dia memencet bel bahkan menggedor-gedor pintu.
Tak lama pintu terbuka, muncul Jojo dari baliknya. Senyumnya mereka melihat kedatangan sang sahabat. Namun tanpa disangka-sangka Cakra malah melayangkan tinjunya ke wajah Jojo.
BUGH
☘️☘️☘️
**Ternyata Cakra bisa marah juga ya😱
Siapa kemarin yang nebak Jojo🙋
Selamat kalian benar👏👏👏
Kalian luar biasa👍
Maaf ya hari ini up siang banget. Ada trouble dengan perangkat yg mamake gunakan, hampir ngga bisa up karena data ngga bisa dipindah ke hp. Alhamdulillah setelah ulik² bisa juga up nya**.
__ADS_1