
Suasana panas yang meliputi hati Ravin juga terjadi pada pasangan yang tengah berbicara di lobi. Naya dan Aric sedari tadi terlibat perbincangan serius. Pria itu menegaskan kembali niatnya untuk menunda pernikahan walau Naya menentang habis-habisan ide itu.
“Kenapa harus ditunda sampai waktu yang ngga ditentukan? Apa masalahnya?”
“Kamu masalahnya.”
“Aku?”
“Ya, kamu. Apa kamu ngga sadar kalau kamu sudah banyak berubah akhir-akhir ini? Dan perubahan yang terjadi bukanlah perubahan yang baik. Apa kamu ngga sadar Nay?”
“Apa yang berubah dariku?”
“Kamu jadi egois, arogan, mau menang sendiri, lebih mementingkan popularitas dan satu lagi, kamu sekarang kasar sama Nara.”
“Nara lagi..”
Terdengar tawa sumbang Naya begitu Aric menyebut nama Nara. Entah mengapa akhir-akhir ini dia selalu kesal jika menyangkut segala hal yang berkaitan dengan saudara kembarnya.
“Abang suka sama Nara?”
“Kenapa kamu nanyanya gitu?”
“Aku ngga boleh nanya seperti itu? Apa abang sadar kalau akhir-akhir ini abang tuh selalu memuji Nara. Nara beginilah, Nara begitulah. Abang juga kelihatan senang kalau sedang bicara dengan Nara. Bahkan malam ini abang lebih senang berbagi meja dengan dia dari pada aku, tunangan abang sendiri.”
“Karena Nara ngga menyebalkan seperti kamu.”
Kalimat singkat Aric sukses menohok perasaan Naya. Jika orang lain yang mengatakannya, dia tidak akan semarah ini. Tapi yang mengatakannya adalah Aric, tunangannya sendiri.
“Bisa-bisanya abang bilang gitu. Abang beneran suka sama Nara, iya?”
“Kamu cemburu sama Nara?”
“Iya, aku cemburu. Aku ngga suka abang selalu memujinya, aku ngga suka abang tertawa bareng dia, aku ngga suka abang ngobrol sama dia. Bahkan aku ngga suka abang berbagi udara yang sama dengan dia.”
“Naya!!”
Naya terkesiap mendengar teriakan Aric. Bukan hanya dirinya, namun orang-orang yang ada di sekitar lobi langsung mengarahkan pandangan ke arah mereka. Hampir saja gadis itu menangis kalau tak mengingat dirinya tengah berada di tempat umum.
“Aku ngga ngerti kenapa akhir-akhir ini kamu selalu memusuhi Nara. Apa ngga cukup kamu melihat dia banyak dihujat oleh haters, dibandingkan denganmu dan dikomentari buruk setiap bersanding denganmu? Dia itu adikmu, saudara kembarmu, harusnya kamu lebih peduli padanya, menjaga perasaannya bukan menambah garam pada lukanya. Apa kamu pikir dia ngga sedih dengan semua itu?”
“Luka? Sedih? Itu ngga ada dalam kamus Nara.”
“Dia itu manusia yang memiliki hati, sama sepertimu. Dia tersenyum dan tertawa bukan berarti dia ngga merasa sedih dan terluka. Biasanya saudara kembar itu memiliki ikatan batin yang kuat, tapi ngga dengan kalian. Itu karena kamu terlalu egois, kamu terlena dengan semua pujian yang datang padamu hingga mengabaikan perasaan orang-orang di sekitarmu. Sepertinya keputusanku menunda pernikahan ini sudah tepat. Aku ngga mau punya istri yang tidak memiliki empati sama sekali. Kalau kamu masih mau melanjutkan rencana pernikahan kita, maka ubah dulu sikapmu yang menyebalkan ini.”
Tanpa menunggu jawaban Naya, Aric segera berlalu pergi. Berbicara dengan tunangannya ini hanya membuat moodnya bertambah buruk. Memang benar apa yang dikatakan kedua orang tua dan juga para sahabatnya, dia perlu bersikap tegas pada Naya. Selama ini Aric selalu mencoba bersabar dan mengalah terhadap Naya. Tapi tidak sekarang, pria itu harus menunjukkan ketegasannya.
Naya menghempaskan punggungnya di sofa sepeninggal Aric. Bukan hanya kesal, gadis itu marah, sangat marah. Bukan hanya pada Aric tapi juga pada penyebab pertengkaran mereka, Nara.
Dari arah timur nampak dua orang wanita keluar dari lift. Mereka adalah Chika dan Cheryl, keduanya adalah teman baik Naya. Melihat Naya duduk seorang diri di lobi, mereka datang menghampiri.
“Ngapain lo sendirian di sini?” tegur Chika.
“Sebel gue. Tadi gue abis berantem sama bang Aric.”
“Ya wajar sih. Kalau menjelang pernikahan, pertengkaran tuh sering banget terjadi,” sahut Cheryl.
“Kalau masalahnya cuma urusan pernikahan gue sih ngga masalah. Tapi masalahnya tuh bikin gue kesel, gondok.. uugghh.. pokoknya bikin emosi jiwa.”
“Emang apa sih masalahnya?”
“Nara.”
Chika dan Cheryl saling berpandangan. Bukan hanya Naya, tapi kedua gadis itu juga tak menyukai kembaran temannya ini. Bagi mereka Nara hanyalah gadis urakan yang tak selevel dengannya. Tapi ternyata gadis urakan itu justru menjadi kesayangan para pria di keluarga Hikmat.
“Nara lagi. Cih apa hebatnya sih tuh cewek,” cibir Chika.
“Tau, kesel gue. Tadi di kantor Metro East, si Kenzie ngomong ketus sama gue gara-gara si Nara. Dan yang lebih ngeselin, tadi mereka dateng bareng dong. Pake acara peluk-pelukan tangan segala.”
“WHAT???!!” teriak Chika.
“Jadi dia ngehalangin gue ketemu sama Ken di kantor karena dia pengen nikung Ken. Ngga bisa dibiarin, tuh cewek harus dikasih pelajaran. Tenang aja Nay, biar gue yang bales sakit hati lo.”
“Gue ikut,” sahut Cheryl.
Dengan gemuruh di dada, Chika melangkahkan kakinya memasuki ballroom. Matanya berkeliling mencari sosok wanita yang begitu dibencinya. Matanya kemudian menangkap Nara tengah duduk sendiri di salah satu meja. Dengan langkah lebar dia menuju meja tersebut diikuti Cheryl dari belakang.
“Nara!”
Nara menolehkan wajahnya ketika terdengar sebuah suara memanggilnya. Nampak Chika dan Chery sudah berada di sampingnya. Gadis itu memutar bola matanya malas, sudah bisa dipastikan kehadiran dua wanita itu hanya untuk merecokinya saja. Dengan kasar Chika menarik kursi di samping Nara. Sedang Cheryl hanya berdiri sambil bersedekap.
“Berani-beraninya lo dateng ke acara ini bareng Ken,” sembur Chika.
“Masalah buat lo?” Nara menanggapi dengan santai.
“Lo ngga tau apa pura-pura ngga tau kalau gue itu calonnya Ken.”
__ADS_1
“Masa? Kok bang Ken ngga bilang apa-apa ya,” Nara mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagunya seperti tengah berpikir.
“Dasar perempuan murahan. Lo dandan kaya gini pasti buat narik perhatian Ken.”
“Kalau iya kenapa? Takut bersaing sama gue?”
Chika semakin bertambah geram melihat Nara yang terlihat santai menanggapi ucapannya. Kalau dirinya tak berada di sebuah acara penting, ingin rasanya menjambak rambut gadis itu atau merusak wajahnya. Cheryl juga nampak mengepalkan tangannya dengan erat. Walau tak berani mengatakannya secara langsung pada Chika, namun gadis itu juga cemburu pada Nara karena dia pun menginginkan Kenzie sebagai pendampingnya.
“Apa ngga cukup lo ngegoda Aric, tunangan kembaran lo sendiri? Sekarang lo juga ngegoda Ken. Apa lo mau dibilang perempuan penakluk lelaki Hikmat?”
Walau terkejut bercampur sedih mendengar tuduhan Chika, Nara tetap berusaha tenang. Gadis itu melihat ke arah Chika dan Cheryl bergantian. Ketidaksukaan bahkan kebencian jelas terpancar pada sorot mata mereka. Hati Nara miris melihatnya, entah kesalahan apa yang diperbuat sampai teman saudaranya begitu membencinya.
“Gue ngga ada hubungan apa-apa sama bang Aric. Apa salah kalau gue bersikap baik sama calon kakak ipar gue? Dan soal bang Ken, sekarang dia atasan gue. Menghadiri acara ini juga bagian dari pekerjaan gue, terus apa yang salah? Kalau kalian marah karena ngga diajak sama bang Ken, protesnya sama dia jangan gue.”
“Karena elo udah godain Ken sampai dia mau jalan sama elo.”
“Sorry dori mori ya, gue bukan elo yang kegatelan tiap hari dateng ke kantor bang Ken. Udah ditolak masih aja dateng, dasar muka tembok,” balas Nara.
“Brengsek lo!”
Chika mengangkat tangannya, hendak menampar Nara, namun Cheryl segera menahan tangan temannya itu. Chika melepaskan tangannya dengan kesal.
“Denger ya Ra. Jangan karena bang Ken ngajak lo ke sini terus lo merasa istimewa. Seperti yang lo bilang kalau lo tuh kerja sama dia, lo cuma sekretarisnya, ngga lebih. Jadi jalankan aja tugas lo dengan baik, jangan ngarep ketinggian, jangan jadi punguk yang merindukan bulan. Lo sama bang Ken itu ibarat bumi dan langit. Lo mungkin anak dari Jovan Romano, pemilik J&J Entertainment, tapi secara pribadi lo tuh ngga ada bagus-bagusnya. Coba lo ngaca, bandingkan diri lo sama Naya and Dila. Lo ngga ada seujung kukunya dibanding mereka. Gue curiga, jangan-jangan pas lahiran, kembaran Naya yang sebenernya ketuker sama elo. Atau jangan-jangan lo tuh anak pungut yang diaku kembaran Naya sama ortu lo. Inget, jauhi Ken kalau lo mau hidup lo damai dan tenteram.”
Setelah mengeluarkan kata-kata beracun nan tajam, Cheryl menarik tangan Chika kemudian pergi meninggalkan gadis itu. Nara memejamkan matanya, mencoba menekan kemarahan dan kesedihan jauh ke alam bawah sadarnya. Tangannya mengepal erat, mencoba menahan airmata yang mendesak keluar.
Nara menarik nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan diri. Setelah itu dia bangun dari duduknya. Diambilnya high heels yang tadi dikenakannya. Dengan langkah terpincang, gadis itu berjalan menuju pintu keluar. Tak dipedulikannya pandangan orang lain yang melihatnya dengan berbagai ekspresi. Barra yang tengah sibuk berbicara dengan Hanna tak memperhatikan keadaan adiknya itu.
Jangan nangis Ra.. lo harus kuat.. lo udah biasa dihina seperti ini. Please jangan nangis, airmata lo terlalu berharga untuk dua cewek rese itu. Lo anak mama dan papa, jangan termakan omongan mereka. Ada kak Barra juga yang sayang sama elo. Lo harus kuat, please jangan nangis.
Nara tak henti menguatkan dirinya. Dengan langkah terseok dia terus berjalan meninggalkan keramaian pesta. Saat dirinya akan mencapai pintu, gadis itu dikejutkan dengan kehadiran Kenzie yang sudah ada di sampingnya. Saat berbicara dengan rekan bisnisnya, sudut mata Kenzie menangkap kepergian Nara. Bergegas pria itu menyusulnya.
“Mau kemana?”
“Pulang bang. Kakiku sakit banget,” Nara beralasan.
“Aku antar.”
“Ngga usah bang. Acaranya belum selesai. Ngga enak sama yang punya acara kalau abang ikutan pulang sekarang.”
Nara hampir saja menjerit ketika tiba-tiba Kenzie mengangkat tubuhnya. Pria itu keluar dari ballroom sambil membopong Nara. Refleks Nara melingkarkan tangannya keleher Kenzie sebagai pegangan. Dadanya berdebar kencang saat wajah mereka begitu dekat. Kenzie terus berjalan sampai ke depan lobi.
Seorang petuga vallet bergerak cepat mengambilkan kendaraan Kenzie. Dia lalu membukakan pintu penumpang di bagian depan. Perlahan Kenzie mendudukkan Nara di sana. Setelah menutup pintu mobil, Kenzie bergegas masuk dan menjalankan kendaraannya.
Tak lama setelah Nara pulang, Freya pun memutuskan untuk pulang. Gadis itu kesal karena Adel sedari tadi terus menempel pada Ravin. Adel bahkan tak memberikan kesempatan untuk Ravin mendekati Freya. Melihat gadis incarannya berjalan keluar dari ballroom, Remy bergegas menyusulnya.
“Aduh!!”
Teriakan Adel tidak hanya mengejutkan Ravin tapi juga menarik perhatian Freya dan Remy yang memang berada tak jauh dari wanita itu. Buru-buru Ravin membantu Adel berdiri. Wanita itu nampak kesakitan seraya memegangi kepalanya.
“Kamu ngga apa-apa?”
“Aduh.. kepalaku sakit mas. Pusing..”
“Maaf Del, aku ngga sengaja.”
“Tolong anterin aku pulang mas. Kepalaku sakit banget.”
“Ayo.”
Ravin membimbing Adel berjalan menuju depan lobi. Hati Freya meradang melihat Adel berjalan seraya menyandarkan kepalanya di dada Ravin. Keduanya lalu berhenti di dekat gadis itu.
“Frey.. kamu mau pulang?” tanya Ravin.
“Iya.”
“Ayo aku antar. Sekalian aku antar Adel.”
“Ngga usah. Aku pulang bareng Remy aja. Ayo, Rem.”
Freya menarik tangan Remy menjauh dari Ravin. Keduanya berjalan menuju tempat Remy memarkirkan mobilnya. Ravin hanya memandangi kepergian mereka dengan perasaan kesal. Kalau saja Adel tidak terluka karena dirinya, mungkin dia sudah membawa Freya pergi dari Remy.
Dengan sangat terpaksa Ravin membimbing Adel menuju kendaraannya. Segurat senyum tipis menghiasi wajah Adel. Usaha pertamanya memisahkan Freya dan Ravin berhasil malam ini. Seterusnya dia akan memastikan Freya tak memiliki kesempatan bersama dengan Ravin.
Ezra yang sedari tadi memandangi drama Ravin dan Freya mengulum senyumnya. Aric yang sejak tadi juga ikut menyaksikan, menatap curiga ke arah sepupunya ini. Sorot mata Ezra menunjukkan bau-bau siasat licik.
“Napa lo senyum-senyum? Gue curiga lo yang udah ngatur drama Korea kaya tadi.”
“Emang iya,” kekeh Ezra.
“Wah parah lo. Kemarin Barra sekarang Remy, lo ngga kasihan apa sama si Ravin?”
“Ck.. gini nih kalo pikiran orang standar. Kalau mau buat mereka jadian harus berpikir out of the box.”
“Gaya lo.”
__ADS_1
Aric menoyor kepala Ezra lalu berjalan menuju kursi yang ada di sana. Pria itu menghempaskan bokongnya di kursi. Ezra mengikuti Aric lalu ikut duduk di sampingnya.
“Gue sengaja kasih tahu Adel kalau cewek yang disukai Ravin itu Frey. Dan gue sengaja bilang sama Remy kalau Frey jomblo dan sekarang lagi cari calon suami karena ortunya nyuruh dia nikah cepet-cepet.”
“Kok gitu?”
“Selama ini Frey selalu merasa di posisi aman, karena Ravin cinta mati sama dia. Sekarang dia harus tahu kalau ada perempuan lain yang ngotot banget pengen sama Ravin. Biar dia sadar kalau Ravin bisa aja teralihkan perasaannya sama Adel. Di situ dia bakal berjuang buat mempertahan Ravin supaya terus ada di sampingnya.”
Ezra menjeda ucapannya sejenak untuk mengetahui reaksi Aric. Namun sepupunya itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja tanpa ada keinginan untuk berkomentar. Akhirnya Ezra melanjutkan pembicaraan.
“Buat Ravin, selama ini kan dia tuh slow motion deketin Frey. Itu karena Barra saingannya, dia ngga enak hati juga kalau harus bersaing sama sahabat sendiri. Kerjaannya tuh cuma nunggu bola, kalo bola ke arah dia baru diterima kalau ngga ya nunggu sampe dapet. Tapi sekarang saingannya tuh Remy, playboy kelas kakap yang sudah diakui kepiawaiannya menjerat hati cewek. Jadi dia harus usaha lebih keras, dia harus jemput bola mulai sekarang kalau ngga mau keduluan Remy. Anggap aja ini stimulus buat mereka berdua.”
“Bagus-bagus.. gue ngga nyangka lo punya ide tokcer juga. Gue kirain kepala lo isinya cuma gombalan doang,” Aric mengetuk kepala Ezra dengan jarinya.
“Hehehe.. itu sebenernya idenya si Ken.”
“Heleh.. pantes. Cuma dia yang punya otak licik di antara kita. Tapi dia tega juga sama si Frey.”
“Karena Ken tau kalo sebenernya si Frey ada hati sama Ravin.”
“Serius?”
“Iya. Kata si Ken, dulu kalo si Ravin ngajak jalan, Frey tuh seneng banget.”
“Kalo si Barra yang ngajak?”
“Ogah-ogahan dia. Bawaannya males tapi ngga enak juga mau nolak.”
“Asem tuh anak!”
Ezra dan Aric terkejut mendengar suara yang begitu familiar di belakang mereka. Barra yang sedari tadi ada di dekat mereka sengaja tak ikut bergabung karena ingin menguping pembicaraan. Siapa tahu mereka membicarakan Hanna, dan bisa menjadi informasi tambahan untuknya.
“Jadi si Frey dari dulu males jalan sama gue?”
“Yoi.”
“Asem.. gara-gara bokap nih cekokin kepala gue soal Frey mulu.”
Terdengar kekehan dari mulut Ezra dan Aric. Sebenarnya mereka juga heran dengan Barra. Sahabatnya ini tidak menyadari perasaannya sendiri pada Freya seperti apa. Aric berdiri lalu berhadapan dengan Barra. Dia memegang kedua bahu sahabatnya. Mata menatap ke arah netra Barra lekat-lekat.
“Tatap mata saya. Kamu suka sama Freya, kamu harus jadian sama Freya.”
“Bangke lo!” Barra menoyor kepala Aric. Ezra sampai terpingkal melihatnya.
“Itu ilustrasi pas bokap lo hipnotis elo biar ngejar si Frey,” Aric terkekeh.
“Diem bisa ngga? Gue berasa jadi orang oon sedunia kalo inget itu.”
“Hahaha....”
Ezra dan Aric tak bisa menahan tawanya lagi. Beberapa orang yang ada di sana sampai menolehkan kepala ke arah keduanya saking kerasnya suara tawa mereka. Barra hanya mendengus kesal melihat sahabatnya yang tertawa di atas kebodohannya.
“Kalau sekarang gimana?” tanya Aric.
“Apaan?”
“Lo sama Hanna. Itu beneran lo yang suka apa sugesti dari bokap lo lagi?’
“Gue ngga ada apa-apa sama Hanna.”
“Fix.. kalo ngeles gini berarti dia yang beneran suka,” sahut Ezra.
“Tapi berat kalo yang ini,” Aric menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Emang kenapa?” akhirnya Barra terpancing juga.
“Karena saingan lo sekarang bukan sahabat lo sendiri. Tapi mantan terindah.”
“Udah indah, ganteng lagi. Dan yang lebih nyakitin dia itu mantan. Artinya dia lebih dulu datang dan menetap di hati Hanna. Perjuanganmu berat mas bro... gue cuma bisa mendoakan,” Aric menepuk bahu Barra pelan.
“Tenang aja bro.. gue tetep dukung lo. Kalau cinta lo ditolak, gue punya referensi dukun buat buat melet Hanna,” timpal Ezra.
“Kunyuk lo pada. Au ah.. gue mau balik. Bergaul sama lo berdua bikin hidup gue suram tau ngga.”
Ezra dan Aric kembali terpingkal melihat kedongkolan di wajah sahabatnya. Tapi kemudian tawa mereka berubah menjadi sorakan saat melihat Barra mengajak Hanna pulang bersamanya. Tangan Barra melingkar dengan santainya di bahu Hanna.
“Woi.. jaga jarak belum halal!” teriak Ezra.
“Han, jangan lupa sampai rumah baju langsung dicuci. Badan kamu dibersihin pake sanitizer, si Barra bawa virus tuh,” timpal Aric.
“Virus bucin!!”
Barra mempercepat langkahnya membawa Hanna pergi dari dua sahabat laknatnya. Tawa kecil Hanna terdengar melihat kelakuan dua sepupunya yang kurang kerjaan.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Alhamdulillah akhirnya bisa up juga di hari fitri ini. Selamat merayakan hari kemenangan. Mamake beserta keluarga besar KPA mengucapkan Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin🙏