KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Double Date


__ADS_3

TOK


TOK


TOK


“Masuk!”


Kenzie membuka pintu ruangan Abi. Dia langsung menuju meja kerja Abi kemudian duduk di depannya. Dengan sabar Kenzie menunggu ayahnya menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu. Tak berapa lama, Abi menaruh berkas di tangannya ke meja lalu menatap ke arah sang anak.


Tatapan tajam Abi cukup membuat Kenzie bergidik juga. Tak ada istilah anak dan ayah selama di kantor. Saat ini mereka adalah atasan dan bawahan. Dan Kenzie siap menerima konsekuensi atas keputusannya membatalkan Cheryl sebagai brand ambassador produk apparel terbaru yang akan dikeluarkan Metro East.


Abi tetaplah Abi. Sebagai atasan dia akan bersikap tegas pada semua karyawannya, termasuk Kenzie. Pilihan mengambil Cheryl sebagai brand ambassador adalah keputusan dari tim Kenzie. Pria itu tak pernah ikut campur karena yakin dengan keputusan yang diambil sang anak. Namun di saat waktu peluncuran semakin dekat, tiba-tiba saja Kenzie membatalkannya. Hal ini saja membuatnya bertanya-tanya.


“Kamu pasti sudah tahu alasan saya memanggilmu.”


“Iya pak.”


“Lalu apa yang menjadi alasanmu membatalkan penandatanganan kontrak dengan Cheryl? Apa kamu sadar waktu launching semakin dekat? Menemukan model yang tepat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apa kamu sadar itu?”


Kenzie terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa yang tepat untuk diberikan pada atasannya. Sejak di jalan tadi, dia masih belum menemukan alasan yang tepat. Abi menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, matanya tetap menatap ke arah Kenzie yang masih terdiam.


“Kenapa diam? Tidak bisa memberikan jawaban?”


“Bukan begitu pak.”


“Lalu apa? Apa kamu pikir saya tidak punya pekerjaan sampai harus mendengar rengekan Cheryl soal pembatalan kontrak!”


Abi menepuk berkas di atas meja dengan kuat hingga menimbulkan bunyi kencang. Kenzie menarik nafas panjang lalu memberanikan diri menatap ke arah sang ayah sekaligus atasannya. Walaupun dia tahu alasan yang akan diungkapkannya lebih bersifat pribadi, namun dia tak punya pilihan lain.


“Secara atittude, Cheryl tidak memenuhi kriteria sebagai brand ambassador kita, pak. Saya mohon maaf karena tidak mencari tahu lebih banyak tentang dia sebelum menyetujui usulan divis PR.”


“Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!”


“Selama ini Metro East tak banyak menggunakan brand ambassador untuk produk apparel kita. Setiap yang terpilih sudah sesuai dengan kriteria yang diinginkan pihak kita dan tidak pernah bermasalah sebelum atau saat menjadi brand ambassador. Tapi untuk kali ini kami, khususnya saya melakukan kesalahan. Cheryl tidak bisa menjaga ucapan dan sikapnya.”


“Dari mana kamu tahu? Apa dia pernah bersikap kurang ajar atau berkata kasar padamu?”


“Bukan pada saya pak, tapi pada sekretaris saya, Nara.”


Tanpa menjelaskan lebih lanjut Abi sudah tahu apa alasan sebenarnya Kenzie melakukan pembatalan penandatanganan kontrak dengan Cheryl. Anaknya itu pasti melakukannya untuk membalas perbuatan Cheryl pada Nara. Dan secara tidak langsung menunjukkan bagaimana perasaan Kenzie yang sebenarnya pada Nara. Namun Abi tetap tidak melepaskan sang anak dengan mudah.


“Dia menghina Nara sebagai sekretarismu atau sebagai pribadi?”


“Sebagai pribadi.”


“Kalau begitu itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kamu tahu betul dalam bekerja kamu harus profesional, memisahkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Apa yang kamu lakukan apa sudah profesional? Kamu mempertaruhkan proyek kita hanya demi kepentingan pribadimu. Apa itu tindakan yang layak untuk seorang wakil CEO?!”


“Maaf pak, sekali lagi saya minta maaf. Tapi saya tetap tidak bisa menjadikan Cheryl brand ambassador kita. Saya yang akan bertanggung jawab, mencari pengganti secepatnya dan juga menemukan alasan yang tepat untuk pembatalan kontrak. Alasan yang akan menguatkan keputusan saya.”


“Saya kasih kamu waktu 1x24 jam! Kalau kamu tidak bisa memberikan alasan yang tepat, maka lakukan penandatanganan kontrak dengan Cheryl sesuai rencana semula.”


“Baik pak. Kalau begitu, saya permisi dulu.”


Kanzie berdiri dari duduknya. Pria itu menundukkan kepalanya sejenak ke arah Abi kemudian keluar dari ruangan atasannya itu. Abi mengangkat gagang telepon di sebelahnya kemudian menghubungi Fadil untuk memanggil Fathan menghadapnya.


Lima menit kemudian Fathan tiba di ruangan. Abi mempersilahkan asisten anaknya itu untuk duduk. Melihat raut wajah Abi yang tidak bersahabat, Fathan cukup ketar-ketir juga.


“Apa yang Kenzie minta akhir-akhir ini?”


“Maksud bapak?”


“Apa dia minta dicarikan informasi tentang seseorang?”


“Kenzie meminta saya mencari informasi tentang Lucky juga Veruca. Keduanya adalah sahabat Naya. Lalu kemarin malam dia juga minta dicarikan informasi tentang Chika, semua info detil tentang Chika termasuk jika gadis itu telah melakukan kesalahan fatal.”


“Apa kamu sudah mendapatkannya?”


“Sudah pak. Untuk info Lucky dan Veruca sudah saya berikan pada Kenzie, untuk Chika masih ada di saya pak.”


“Berikan semuanya pada saya.”


“Baik pak.”


“Tetap awasi Kenzie.”


“Baik pak.”


Fathan bangun dari duduknya kemudian bergegas keluar ruangan. Pria itu menghembuskan nafas lega begitu sampai di luar. Fadil tersenyum tipis melihat wajah Fathan yang nampak tegang.


☘️☘️☘️


Sudah setengah jam lamanya Kenzie mondar-mandir di ruangannya. Otaknya terus berputar mencari celah untuk bisa menggagalkan kontrak Cheryl. Bagaimana pun juga, dia tidak akan membiarkan gadis itu menjadi brand ambassador. Bisa-bisa Cheryl semakin semena-mena terhadap Nara jika mendapatkan posisi itu.


Kenzie lalu mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Dia masih belum bisa fokus pada tumpukan berkas yang ada di atas mejanya. Pria itu malah memutar-mutar kursi kerjanya. Putaran kursinya berhenti saat melihat amplop coklat yang tadi diantarkan oleh Fathan. Dengan cepat pria itu membukanya.


Dengan teliti dibacanya satu per satu informasi yang diberikan Fathan tentang Chika. Kemudian perhatiannya tertuju pada keberhasilan Chika meraih gelar ratu kecantikan dua tahun lalu. Saat itu dikabarkan kalau saja Ferina, salah satu pesaingnya tak mengundurkan diri, maka wanita itu yang akan meraih gelar tersebut.


Penasaran dengan hal itu, Kenzie mencari pemberitaan terkait tentang Ferina. Alasan apa yang membuatnya mengundurkan dari kompetisi tersebut. Kenzie terus membaca artikel satu per satu. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah artikel dari penulis tak dikenal yang mengatakan kalau alasan Ferina mengundurkan diri karena wajahnya terkena iritasi saat mencoba sebuah merk kosmetik.


Kenzie kemudian mencari-cari foto saat kompetisi tersebut berlangsung. Mulai dari awal sampai waktu penobatan. Kemudian mata Kenzie menangkap sosok Cheryl berdiri di belakang Chika. Cheryl dan Chika memang bersahabat baik. Cheryl selalu ada jika Chika mengikuti kompetisi atau pemotretan. Karena dia yang bertanggung jawab untuk riasan sahabatnya itu.


Kenzie lalu meneliti kembali berkas yang diberikan oleh Fathan. Tak banyak informasi yang didapat dan tak ada satu pun informasi tentang keburukan gadis itu. Namun Kenzie yakin ada sesuatu yang bisa dia dapat dari kompetisi ratu kecantikan tersebut. Firasatnya mengatakan ada persekongkolan untuk menjatuhkan Ferina dan membuat Chika menjadi juaranya.


Pria itu mengambil ponselnya lalu menghubungi Duta, salah seorang anggota keamanan keluarganya yang saat ini menjadi asisten Dendi. Kenzie meminta Duta mencari informasi tentang Ferina, khususnya saat kejadian dua tahun lalu. Dia yakin sekali kalau ada keterlibatan Cheryl dan Chika atas pengunduran diri wanita tersebut.


☘️☘️☘️


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Freya, membuat gadis itu menjeda sejenak pekerjaannya. Senyumnya mengembang ketika melihat sebuah pesan dari Ravin yang mengajaknya nonton di bisokop usai jam kerja. Dengan cepat dia membalas pesan Ravin dan mengiyakan ajakannya.


Freya membaca kembali laporan yang baru saja rampung. Setelah tak ada yang kurang, gadis itu memberikan laporan tersebut pada sang atasan. Namun atasannya meminta Freya memberikannya langsung pada Ravin. Tentu saja dengan senang hati gadis itu melakukannya.


Dengan langkah penuh semangat, Freya memasuki lift yang akan membawanya ke lantai tempat di mana ruangan Ravin berada. Setelah mengetuk pintu, gadis itu langsung masuk ke dalam. Senyumnya seketika luntur ketika melihat Adel telah lebih dulu ada di sana. Hatinya bertambah panas melihat Ravin berbicara sambil melemparkan senyuman ke arah rivalnya itu.

__ADS_1


Freya mendekat lalu memberikan laporan di tangannya. Ravin tak langsung membaca laporan tersebut, hanya meletakkan di atas meja kerjanya. Freya melirik ke arah Adel yang duduk di depan meja kerja Ravin. Adel pun melakukan hal yang sama. Untuk sejenak mata keduanya bertemu. Tatapan mereka penuh dengan aroma persaingan.


Acara tatap-tatapan kedua wanita itu berakhir ketika seseorang masuk ke dalam ruangan. Kali ini Remy yang datang memberikan draft kontrak dengan salah satu klien yang akan menggunakan jasa hotel Arjuna. Ravin mempersilahkan semua duduk di sofa. Dia pun ikut menyusul duduk di sana.


Adel langsung menarik lengan Ravin agar duduk di sisinya begitu melihat pria itu mendekat. Hal tersebut sukses membuat Freya meradang. Berbeda dengan Remy, dia malah menggeser tubuhnya agar bisa duduk berdekatan dengan Freya. Ravin menatap kesal ke arah pria di hadapannya.


“Sebentar lagi jam makan siang. Gimana kalau kita makan bareng?” ajak Adel.


“Aku ngga bisa. Ada meeting dengan pak Ezra,” jawab Ravin.


“Makan bareng kita aja, Del. Kita mau makan di mana Frey?” tanya Remy pada Freya.


“Maaf aku lagi puasa. Kalian berdua aja yang makan.”


“Oh...”


Diam-diam Ravin tersenyum mendengar jawaban Freya. Dia bersyukur gadis itu menolak ajakan Remy. Sebenarnya alasan meeting hanya karangan Ravin saja. Dia tak mau Freya salah paham kalau dirinya menerima ajakan makan siang Adel.


“Eh besok kan libur. Gimana kalau nanti pulang kerja kita nonton?” Adel masih terus berusaha.


“Nah bener tuh. Abis buka puasa kita nonton aja Frey, gimana? Double date gitu asik kayanya,” Remy mengedipkan matanya ke arah Adel.


“Hmm.. boleh juga, Rem. Mau ya pak Ravin.”


Ravin melihat sejenak ke arah Freya. Tak ada reaksi apapun dari gadis itu. Akhirnya Ravin menganggukkan kepalanya. Terdengar sorakan gembira Adel, akhirnya dia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Ravin. Tak apa Freya ikut bersama dengan mereka, toh Remy akan membuatnya sibuk.


“Maaf pak, sudah jam istirahat. Saya permisi dulu, mau shalat.”


Freya bangun dari duduknya lalu keluar dari ruangan tanpa menunggu jawaban dari Ravin. Gadis itu masuk ke dalam lift. Dia tak kembali ke ruangannya melainkan menuju lantai atas. Freya memilih mendinginkan hati dan kepala di ruangan Ezra. Setidaknya di sana dia bisa tiduran di kamar pribadi sang direktur.


Kedatangan Freya yang tanpa permisi mengejutkan Ezra yang tengah menikmati makan siang bersama dengan Dilara. Tak ingin menjadi obat nyamuk tak berasap, Freya memilih masuk ke dalam kamar lalu membaringkan tubuhnya di kasur. Hatinya masih kesal melihat kedekatan Ravin dengan Adel. Bahkan pria itu bisa tersenyum lebar dan tertawa lepas dengan Adel. Ezra masuk ke dalam kamar lalu duduk di sisi ranjang.


“Frey.. makan dulu yuk.”


“Belum laper. Udah sana kakak makan aja. Kasihan Dila ditinggalin.”


“Kamu kenapa mukanya bete gitu?”


“Ngga apa-apa. Lagi gabut aja.”


“Shalat dulu sana biar ngga galau.”


“Gabut kakak, bukan galau.”


“Beda tipis. Udah sana shalat abis itu makan. Kakak tunggu di luar. Mukenanya ada di lemari.”


“Emang kak Ezra kalau shalat pake mukena juga?”


Sebuah toyoran mendarat di kepala Freya. Gadis itu terkekeh geli. Di tengah kekesalannya, dia masih bisa menggoda kakak sepupunya itu. Freya mengangkat tubuhnya dari kasur sepeninggal Ezra lalu masuk ke kamar mandi untuk berwudhu.


Selesai shalat suasana hati Freya sedikit membaik. Gadis itu kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Tak berapa lama dia merasakan sisi ranjangnya bergerak, tanda ada orang yang duduk di sana. Namun Freya tak mempedulikannya. Dipikirnya Ezra yang datang dan mengajaknya makan.


“Frey.. makan dulu yuk.”


“Makan yuk.”


“Puasa.”


“Bohong.”


“Ngga laper.”


KRIUK


Freya mengutuk perutnya yang tanpa permisi berbunyi. Senyum Ravin terkulum mendengar suara demo cacing dalam perut Freya. Dia menarik tangan Freya lalu mengajaknya keluar kamar. Ternyata Ezra dan Dilara sudah tak ada di sana. Ravin mengajak Freya duduk bersebelahan dengannya di sofa.


“Kak Ez mana?”


“Lagi nganter Dila ke bawah.”


“Aku mau titip es krim.”


“Udah aku bilang tadi. Nanti dia beliin buat kamu.”


“Dari mana abang tahu aku mau es krim?”


“Apa sih yang aku ngga tahu soal kamu Frey? Kamu kan selalu makan es krim kalau lagi bete. Kamu bete kenapa sih?” Ravin menjawil hidung Freya.


“Siapa juga yang bete.”


“Itu bibirnya manyun-manyun kaya bebek. Kalau ngga bete apa namanya?”


Freya mendelik kesal ke arah Ravin. Pria itu hanya terkekeh geli melihat sikap kekanakkan Freya. Namun itu salah satu hal yang disukai dari gadis itu. Dia lalu menyodorkan kotak makanan ke arah Freya.


“Makan dulu. Nanti keburu dingin, ngga enak steaknya. Apa mau aku suapin?”


“Emang aku anak kecil. Suapin aja Adel sana. Dia pasti seneng kalau disuapin abang.”


“Kok Adel sih? Aku kan maunya nyuapin kamu.”


“Dasar playboy buluk,” gerutu Freya pelan namun masih bisa tertangkap oleh telinga Ravin.


“Kamu kenapa sih marah-marah ngga jelas kaya gini. Kamu cemburu ya sama Adel?”


“Mana ada!”


Freya membalikkan tubuhnya membelakangi Ravin dengan dua tangan terlipat di depan dada. Senyum Ravin terkulum kembalu. Dia senang sekaligus gemas melihat tingkah Freya. Ternyata usulan Ezra agar dirinya bersikap manis pada Adel setiap ada Freya membuahkan hasil. Reaksi Freya memperlihatkan kalau gadis itu tengah cemburu.


“Makan dulu Frey.. kasihan cacing kamu perlu asupan gizi.”


“Ish.. nyuruh makan buat ngasih gizi ke cacing.”


“Hahaha.. udah dong ngambeknya. Sekarang makan dulu, ngambek juga perlu tenaga sayang.”

__ADS_1


BLUSH


Wajah Freya memerah mendengar kata sayang keluar dari mulut Ravin. Gadis itu semakin tak ingin berhadapan dengan Ravin. Malu kalau sampai sang general manager melihat pipinya yang seperti udang rebus.


Freya dapat menghembuskan nafas lega begitu Ezra datang. Dia meluruskan kembali posisi duduknya lalu membuka kotak makanan yang dibelikan Ravin untuknya. Cacing di perutnya kembali berbunyi begitu melihat beef wellington kesukaannya. Dengan lahap dia menyantap makanannya.


“Pelan-pelan Frey makannya. Tadi katanya ngga laper,” sindir Ezra.


“Bukan dia yang laper tapi cacingnya,” timpal Ravin.


Tanpa mempedulikan ocehan kedua pria di dekatnya, Freya menghabiskan makanan miliknya. Steak daging sapi yang dilapisi pate dan duxelles lalu dibungkus parma ham dan puff pastry kemudian dipanggang memang selalu menjadi makanan favoritnya. Dalam hatinya gadis itu bahagia, ternyata Ravin mengingat makanan kesukaannya.


“Frey, esnya aku simpen di kulkas. Aku keluar dulu.”


Ezra memasukkan es krim pesanan Freya ke dalam freezer kulkas berukuran mini yang ada di ruangannya. Kemudian pria itu keluar dari ruangan. Dia ingin memantau langsung para pegawainya menyiapkan convention hall yang ada di samping gedung hotel. Rencananya besok malam akan ada pertunjukkan musik dari salah satu musisi negara tirai bambu.


“Frey.. nanti jadi kan nonton?”


“Ngga.”


“Loh kok ngga jadi?”


“Kan abang mau nonton sama Adel.”


“Iya kamu ikut juga. Kan judulnya double date.”


“Ogah, males banget nonton bareng Remy. Abang sih enak bisa dua-duaan sama Adel.”


“Kita nonton bareng film yang sama, di studio yang sama. Tapi kalau kamu ngga mau ya ngga apa-apa. Aku nonton bareng Adel aja berdua.”


“Aku ikut! Kan abang ngajak aku duluan kenapa jadi perginya sama Adel.”


“Ya makanya kamu ikut. Ada film horor baru, pemainnya favorit kamu.”


“Masa?”


“Iya.”


Ravin mengambil tisu lalu mengusap sudut bibir Freya yang terkena saos. Dada Freya berdebar kencang saat tanpa sengaja ibu jari Ravin menyentuh bibirnya. Refleks dia menundukkan kepala untuk menyembunyikan semburat merah di wajahnya.


☘️☘️☘️


Sepulang kerja Freya bergegas menuju basement. Sesuai janji mereka tadi, dia juga Ravin akan pergi nonton bersama dengan Adel juga Remy. Lagi-lagi Freya dibuat kesal saat melihat Adel sudah duduk manis di kursi depan mobil milik Ravin. Sekali lagi dia kalah cepat dari wanita itu.


Demi membalas Ravin yang membiarkan Adel mengambil tempat miliknya, gadis itu memilih pergi dengan Remy. Ravin terus memandangi Freya yang menaiki mobil Remy. Jelas saja dia kesal melihat wanita pujaannya lebih memilih pergi bersama Rivalnya. Namun saat ini dia harus bisa menahan diri sampai dirinya benar-benar yakin akan perasaan Freya padanya.


Iringan kendaraan milik Ravin dan Remy memasuki basement Andhara mall. Setelah memarkirkan mobil, Remy mengajak Freya ke salah satu cafe untuk membatalkan puasanya. Gadis itu terpaksa menurut karena sudah terlanjur berbohong pada Remy. Freya hanya memesan satu slice cheese cake dan lemon tea. Sedang yang lain hanya memesan minuman.


Tak banyak waktu yang dihabiskan Freya di cafe. Dengan cepat dia menyantap kuenya karena mengejar waktu maghrib yang begitu singkat. Ravin mengajak untuk menunaikan shalat maghrib lebih dulu sebelum menuju bioskop. Walau malas, tapi demi mendapat nilai plus dari Freya, Remy mengikuti ajakan Ravin.


Menjelang akhir pekan, suasan bioskop sudah mulai ramai oleh pengunjung. Apalagi hari ini ada tiga film baru yang tayang. Semuanya film yang ditunggu-tunggu penayangannya. Remy langsung mengantri membeli tiket untuk film horor. Awalnya Adel menolak dan mengajak Ravin menonton film lain, namun pria itu menolaknya. Akhirnya dengan sangat terpaksa, Adel mengikuti kemauan pria itu walau dia tak suka film bergenre horor.


Ravin menuju stand yang menjual makanan dan minuman. Dia membeli empat buket popcorn dan empat minuman dingin. Dua buah popcorn dan minuman diberikan pada Adel. Sedang dua lagi dia yang akan membawanya.


“Aku ke toilet dulu ya. Kamu masuk duluan aja, Rem. Nanti aku nyusul.” seru Freya. Remy menganggukkan kepalanya lalu mengajak Adel juga Ravin masuk.


“Duluan aja, gue masih nunggu kembalian,” elak Ravin.


Remy dan Adel masuk lebih dulu, mereka memang ingin mengatur posisi duduk lebih dulu. Pada penjaga tiket pria itu berpesan kalau kedua temannya akan masuk belakangan. Dan dia menyerahkan tiket lebih dulu pada petugas. Keduanya lalu menuju kursi di deretan ketiga dari atas. Remy duduk di kursi sebelum ujung. Sedang Adel berada di sebelahnya. Dia sengaja mengatur agar Freya dan Ravin tak duduk berdekatan.


Sekembalinya dari toilet, Freya langsung menuju studio. Ravin telah menunggunya di depan pintu studio. Pria itu menyerahkan buket popcorn di tangannya pada Freya. Kemudian keduanya masuk ke dalam studio. Karena lampu studio masih menyala, mereka bisa melihat dengan jelas di mana Remy dan Adel duduk.


Remy melambaikan tangannya ke arah Ravin. Satu persatu, mereka menapaki anak tangga. Freya terjengit ketika Ravin menghela pinggangnya kemudian membawanya ke deretan kursi di seberang deretan kursi yang Remy pilih.


“Kok di sini bang?”


“Kita duduk di sini aja. Ngga usah bareng sama mereka."


“Nanti kalau yang punya kursi dateng gimana?”


“Ini kursi kita. Aku udah pesan tiket buat kita tadi siang.”


“Adel ngga akan marah?


“Kenapa harus marah? Kan double date. Aku ngedate sama kamu. Remy sama Adel.”


“Ish abang bisa aja nikungnya.”


“Yang nikung itu dia. Aku duluan yang ngajak kamu nonton. Seenaknya aja dia mau nyalip.”


“Ngga nyesel nih ngga duduk deket Adel?


“Udah diem. Filmnya bentar lagi mau mulai.”


“Itu Adel liatin kita mulu, bang. Kayanya dia cemburu deh. Ciee.. ada yang panas nih, fans berat abang.”


“Frey bisa diem ngga?”


“Kalau ngga gimana?”


“Aku sumpel mulut kamu pake bibirku, mau?”


Freya langsung mengatupkan mulutnya. Dia menatap serius ke arah layar lebar di depannya. Ancaman Ravin sukses membuat dadanya berdebar kencang. Lampu studio mulai meredup kemudian padam karena pertunjukkan akan dimulai. Ravin masih memandangi wajah cantik Freya dalam kegelapan. Hanya pantulan cahaya dari layar putih yang memperjelas pandangannya.


Di sisi lain Adel tengah dilanda kekesalan, karena Ravin dan Freya memilih duduk terpisah. Remy juga tak kalah gondok. Kali ini Ravin berhasil mengelabuinya. Tadinya dia sudah membayangkan Freya akan memeluk lengannya saat adegan seram dipertontonkan. Kini justru Adel yang ada di dekatnya. Beberapa kali dia harus mengorek telinganya yang terasa pengang mendengar teriakan Adel. Belum lagi lengannya yang terus dicengkeran hingga kuku gadis itu menancap di kulitnya.


Ketegangan terus berlangsung. Walau sang hantu tak menampakkan diri secara langsung, visual suasana mencekam ditunjang suara backsound cukup membuat bulu kuduk berdiri. Freya berteriak ketika hantu dengan wajah menyeramkan muncul tiba-tiba memenuhi layar besar di depannya. Refleks dia membenamkan wajahnya ke lengan Ravin.


Adegan demi adegan yang memacu adrenalin akhirnya berakhir sudah. Saat layar lebar menayangkan credit titlle pemain beserta crew yang bertugas, lampu studio kembali menyala. Dengan cepat Ravin berdiri lalu menggandeng tangan Freya. Keduanya berjalan menuruni tangga menuju pintu keluar. Tanpa berpamitan mereka meninggalkan Adel dan Remy begitu saja. Kedua orang itu juga tak bisa menyusul pasangan tersebut karena tertahan penonton lain. Adel juga Remy hanya bisa memendam kekesalan dalam hati saja.


☘️☘️☘️


**Mas Abi udah tua masih aja galak🙈

__ADS_1


Kalau cemburu bilang aja Frey, ngga ada yg ngelarang kok. Buruan lamar Freya nya bang Ravin.Jangan sampai kena tikung loh**.


__ADS_2