
PLAK!!
PLAK!!
Astri terkejut mendapat dua tamparan beruntun dari Nina. Bukan hanya wanita itu, tapi semua yang ada di ruangan itu ikut terkejut melihatnya kecuali Abi. Dalam hati, pria itu berharap sang istri melakukan yang lebih lagi, karena tak mungkin dia harus memukul wanita. Kalau dalang pengeroyokan Kenan adalah Damar, Abi pasti akan menghajarnya sampai sekarat. Sayang pelakunya adalah sepasang ibu dan anak.
“Kenapa kamu menampar saya?” tanya Astri seraya memegangi pipinya.
“Lalu saya harus berterima kasih karena kamu sudah membuat anak saya celaka!!!”
“Ini fitnah!”
Kesal karena Astri terus saja mengelak, Nina mengeluarkan sebuah rekaman kemudian memperdengarkannya. Astri juga Chika terkejut mendengar rekaman suara mereka saat menyuruh Lucky untuk menghajar Kenan.
Saya akan membayar berapa pun asal kamu bisa memberi pelajaran pada adiknya Kenzie. Patahkan semua tulang-tulang di tubuhnya, kalau perlu buat dia cacat seumur hidup. Lebih baik lagi jika anak itu terbaring koma, hidup tidak, mati pun tidak. (Astri)
Tambah satu lagi, potong lidahnya supaya dia tidak bisa berbicara lagi. (Chika)
Kali ini Freya yang dibuat geram setelah mendengar rekaman tersebut. Ditariknya rambut Chika hingga kepalanya terdongak ke belakang. Sebelah tangannya dipelintir ke belakang. Chika menjerit kesakitan. Astri yang melihat itu mencoba membantu, namun Nina menghalangi. Dia membelenggu kedua tangan Astri.
“Ini bukan hukuman, ini hanya awalnya saja. Karena kamu sudah berani menyentuh anakku, kamu harus siap menerima hukuman dariku.”
Nina mendorong tubuh Astri hingga terjatuh ke lantai, begitu juga dengan Freya. Ingin rasanya dia mencakar wajah Chika karena sudah membuat adiknya celaka. Dion dan satu rekannya segera mengamankan Chika juga Astri. Di saat bersamaan, Damar datang. Melihat kedatangan suaminya, Astri melepaskan diri dari Dion lalu menghampiri Damar.
“Mas.. lihat.. dia sudah berani menyakitiku juga anak kita,” Astri menunjuk ke arah Nina juga Freya.
“Diamlah!!”
Astri terkejut mendengar teriakan Damar padanya. Sorot mata suaminya juga nampak berbeda. sikap Damar begitu dingin padanya. Semarah-marahnya pria itu padanya, Damar tidak akan pernah bersikap dingin apalagi kasar. Karena pria itu tahu keluarga Astri yang menyokong perusahaannya.
“Mas.. ada apa denganmu? Beraninya kamu bersikap kasar padaku?”
“Karena kamu tidak pantas diperlakukan lemah lembut, dasar wanita iblis!”
“Papa..”
Chika menatap tak percaya pada papanya yang tega memanggil mamanya dengan sebutan seperti itu. Namun gadis itu langsung menundukkan pandangannya ketika Damar menatapnya tajam.
“Lihat anak kita. Hasil didikanmu sudah membuatnya menjadi orang yang kejam. Apa tidak cukup kamu menjual Tari, menelantarkan anak-anaknya. Anak yang kamu buang ke jalanan itu anakku!! Aku tidak percaya bisa terpedaya oleh akal bulusmu.”
“Mas..”
“Iya.. aku tahu semuanya. Aku akan menebus semua kesalahanku pada Tari juga anak-anakku, dan untukmu, pengacaraku sudah mengajukan gugatan cerai. Dengan semua bukti kejahatanmu, proses perceraian kita akan lebih mudah. Mulai sekarang Chika menjadi tanggung jawabku, jangan pernah menunjukkan lagi wajahmu di depanku dan Chika.”
Sebelum menikah dengan Astri, Damar sudah menikah dengan Tari dan dikaruniai dua orang anak. Saat Damar dikirim ayahnya untuk mengurus perusahaan yang ada di Filipina, Astri menculik Tari dan kedua anaknya. Astri mengatakan kalau Tari kabur membawa kedua anaknya dengan selingkuhannya. Cerita Astri disertai bukti dan saksi kuat, membuat Damar percaya. Setahun setelahnya Damar menikah dengan Astri.
Sedangkan Tari dijual ke luar negeri untuk dijadikan wanita penghibur, beruntung ada yang menyelamatkannya. Saat berusaha kabur, Tari mengalami kecelakaan sampai kehilangan ingatannya. Begitu ingatannya kembali, wanita itu depresi karena kehilangan anak-anaknya sampai harus dirawat di pusat rehabilitasi. Tiga tahun belakangan, kondisinya sudah membaik dan diperbolehkan kembali ke keluarga. Setahun yang lalu Damar berhasil menemukannya.
Kedua anak Damar yang ditelantarkan Astri di jalanan, ditemukan oleh sepasang suami istri. Mereka memutuskan merawat Ananda dan Hafiz karena tak kunjung dikaruniai anak. Keduanya tumbuh baik sampai Abi menemukannya. Damar memang meminta bantuan pria itu untuk membantu menemukan keluarganya.
Damar memberi tanda pada Dion untuk membawa Astri pergi. Wanita itu berteriak kencang sambil berusaha melepaskan diri. Tak ingin membuat kegaduhan, Dion memukul tengkuk wanita itu sampai pingsan kemudian membawanya pergi. Damar kemudian menghampiri Abi.
“Pak Abi.. atas nama Chika saya meminta maaf. Saya tahu perbuatan anak itu sudah keterlaluan. Tapi saya mohon biarkan saya sendiri yang menghukumnya. Dia menjadi seperti ini juga kesalahan saya yang terlalu mempercayakan semuanya pada Astri. Tanpa saya tahu seperti apa wanita itu sebenarnya.”
“Chika sudah dua kali bermain-main dengan kami, apa pak Damar tahu itu?”
“Iya, saya tahu. Sekali lagi saya minta maaf. Saya pastikan dia akan menerima hukuman yang setimpal. Saya juga ingin mendidiknya kembali.”
“Baiklah.. tapi saya akan tetap mengawasi. Kalau ternyata bapak tidak berhasil, saya yang akan mengambil alih Chika.”
“Silahkan. Dan soal Astri, saya tidak akan ikut campur. Lakukan apa yang mau bapak lakukan padanya. Keluarga Astri juga tidak akan ikut campur. Sepertinya mereka lebih rela kehilangan wanita itu dari pada harta bendanya.”
Abi hanya tersenyum tipis. Tadi siang Abi memberikan goncangan kecil pada perusahaan keluarga Astri. Harga sahamnya merosot tajam, mereka berada di ambang kebangkrutan. Kalau saja kakak Astri tidak datang memohon padanya dan berjanji melepaskan adiknya, mungkin Abi sudah membuat perusahaan tersebut gulung tikar dan semua keluarga tinggal di jalanan.
“Saya juga berterima kasih karena bapak sudah membantu saya menemukan anak-anak saya dan membantu saya bertemu dengan Tari.”
“Apa bapak akan kembali padanya?”
“Tentu saja. Dia istri saya, Ananda dan Hafiz adalah anak-anak saya. Kami akan membangun kembali keluarga yang porak poranda akibat ulah Astri. Sekali lagi , saya ucapkan terima kasih.”
“Sama-sama.”
“Apa saya boleh membawa Chika?”
“Silahkan.”
Damar berjabat tangan dengan Abi kemudian menghampiri anaknya. Pengawal Abi melepaskan gadis itu. Pelan-pelan Chika menghampiri papanya dengan wajah tertunduk. Damar menghela nafas panjang melihat anaknya.
“Kamu akan tinggal dengan bibi Susan."
“Ngga pa.. aku ngga mau.”
“Kamu harus mau. Atau papa kasih kamu pilihan, tinggal bersama bibi Susan atau kamu diasingkan ke pulau terpencil. Kebetulan sekali om Abi sudah membangun penjara di sana. Dan sepertinya itu cocok untukmu.”
“Aku mau tinggal sama bi Susan.”
“Bagus. Ayo kita pergi.”
Chika segera menyusul langkah papanya. Dia terpaksa menerima hukuman tinggal bersama adik sepupu dari papanya. Bibi Susan tidak seperti mamanya yang selalu memanjakannya. Susan adalah perempuan yang keras, tegas dan tak segan-segan memberi hukuman walau itu anaknya sendiri. Dia tinggal di desa kecil yang jauh dari perkotaan. Damar sengaja mengirim anaknya ke sana. Supaya Chika bisa belajar hidup mandiri, bisa menghargai orang lain dan belajar bekerja keras.
Abi menghampiri Nina lalu memeluknya erat. Wanita itu kembali bersedih mengingat Kenan yang masih belum tersadar dari komanya. Barra yang sedari tadi duduk diam melihat pertunjukkan di depannya, berbisik pelan pada sahabatnya.
“Baek-baek lo Vin, punya istri ama mertua macan,” Barra terkekeh pelan. Dengan kesal Ravin menoyor kepala sahabatnya ini.
☘️☘️☘️
Mobil yang dikendarai Septa tiba di rumah sakit. Pria itu senang sebentar lagi pekerjaannya selesai. Dia keluar dari mobil bersamaan dengan Kenzie. Kemudian bersama dengan atasannya itu, Septa berjalan memasuki lobi rumah sakit. Di depan lobi, nampak Duta, Jamal dan Dion tengah berkumpul. Semua menundukkan kepalanya, tanda hormat pada Kenzie.
“Bagaimana Chika dengan ibunya?” tanya Kenzie pada Dion.
“Ibu Astri sudah dibawa ke markas. Besok dia akan langsung dibawa ke pulau A. Pak Abi memberinya hukuman 20 tahun melakukan pengabdian masyarakat di sana.”
“Pulau A itu dekat dengan lokasi penangkaran buaya kan?”
“Iya pak. Bu Astri juga punya tugas tambahan ngasih makan buaya tiap harinya,” Dion sebisa mungkin menahan tawanya.
“Lucky, Veruca sama Mela bagaimana?”
“Lucky akan dikirim ke pulau B. Dia akan dikirimkan dengan para begal dan genk motor yang kemarin tertangkap polisi. Di sana mereka bertugas menggarap lahan kosong untuk dijadikan perkebunan. Veruca dikirim ke pulau C. Selama 3 bulan dia akan diisolasi, tinggal di rumah isolasi tanpa akses apapun. Setelah 3 bulan ditarik untuk membantu menyiapkan konsumsi bagi para tahanan koruptor. Kalau Mela, pak Juna sendiri yang akan memberikan hukuman untuknya.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan adiknya Veruca?”
“Dia sudah sadar dan sedang dalam perawatan di rumah sakit. Saya juga sudah menjelaskan apa yang terjadi dengan Veruca. Saya menawarkannya untuk bertemu tapi dia tidak mau.”
“Kalau keadaannya sudah membaik bawa dia untuk menemui kakaknya. Walau yang dilakukan Veruca tidaklah baik, tapi dia melakukan itu untuk adiknya.”
“Iya pak.”
“Septa..”
“Iya pak.”
Kenzie mengambil amplop putih dari saku jasnya kemudian memberikannya pada Septa. Pria itu membuka amplop tersebut. Dia terkejut sekaligus senang melihat dua buah tiket pulang pergi ke Singapura.
“Itu hadiah bulan madu dariku. Maaf sudah mengganggu waktu bulan madumu. Saya juga sudah menyewa kamar hotel untukmu dan istri di Marina Bay Sands. Uang saku untuk bulan madu kalian akan saya transfer besok. Selamat berbulan madu dan terima kasih.”
Kenzie menepuk punggung Septa pelan kemudian melanjutkan langkahnya menuju lift. Dion, Jamal dan Duta mengeluarkan komentar-komentar yang menunjukkan betapa irinya mereka. Septa hanya mengendikkan bahunya saja.
“Makanya buruan nikah,” seru Septa jumawa.
“Gue balik dulu ya. Siska.. i’m coming honey..”
“Eeeiii.. tunggu dulu bentar.”
Duta menarik koas baju Septa ketika pria berbalik hendak pergi. Jamal yang tahu apa yang akan ditanyakan Duta pada mereka juga hendak pergi, tapi Duta berhasil menahannya.
“Darah apa yang lo pake buat gue waktu itu?”
“Darah gue.. kan gue abis donor di rumah sakit,” jawab Septa asal.
“Ngga percaya gue. Sumpah baunya ngga enak banget. Darah apa?”
Duta menahan kedua temannya dengan mengalungkan kedua tangannya di leher kedua pria itu. Dion hanya terkekeh saja melihatnya karena dia tahu darah apa yang digunakan kedua orang itu saat drama penembakan Duta tempo hari.
“Lepas Dut.. Dut.. sakit tahu,” seru Septa.
“Lo ngga bakalan ketemu sama Siska kalau belum bilang.”
“Iya.. iya.. gue pake darah tikus yang mati keracunan.”
“Astaga.”
“Hahahaha..”
Dion tak dapat menahan tawanya melihat wajah Duta yang nampak terkejut. Hal ini dimanfaatkan Septa dan Jamal melepaskan diri darinya. Namun kedua orang itu juga tak bisa menahan tawanya mengingat bagaimana mereka mengumpulkan enam buah tikus kemudian mengeluarkan darahnya demi totalitas akting.
“Bangk* lo! Pantesan gue udah bolak balik mandi sampe sepuluh kali baunya masih aja nempel.”
“Huahahaha... itu idenya Jamal,” Septa menunjuk pada pria yang usianya berbeda setahun darinya.
“Pak Ken ngasih skenarionya dadakan, jadi gue ambil yan paling cepet aja. Sorry Dut.. Dut.. hahaha...”
Dut... Dut.. memang panggilan ketiga orang itu untuk Duta. Dion, Duta, Septa dan Jamal adalah teman baik. Mereka tumbuh bersama di panti asuhan Meniti Harapan, panti tempat di mana dulu Nina tinggal. Bukan Abi yang merekrut mereka namun mereka sendiri yang datang dan mengajukan diri menjadi bagian keamanan keluarga Hikmat. Itu sebagai wujud terima kasih mereka karena keluarga Hikmat telah menyokong kehidupan mereka di panti, bahkan mereka mendapatkan pendidikan yang baik.
Abi menyambut baik permintaan mereka. Dia juga menawarkan diri untuk mencari keberadaan orang tua mereka, namun ditolaknya. Baginya cukup pengurus panti dan keluarga Hikmat yang dianggap orang tua oleh mereka. Mereka mulai ditempa menjadi anggota keamanan keluarga Hikmat, namun Abi juga meminta mereka tetap melanjutkan pendidikan minimal sampai sarjana S1. Karena tak selamanya mereka harus mengandalkan tenaga untuk mencari nafkah. Mereka juga harus punya bekal ilmu yang cukup.
Kini kehidupan empat orang itu sudah semakin baik. Dion yang paling tua di antara yang lain, usianya sama dengan Kenzie. Hidupnya sudah mapan namun masih betah dengan status jomblonya. Duta dan dan Septa seumuran, 23 tahun. Septa memutuskan menikah muda, sedang Duta masih betah berpacaran dengan Sari. Jamal yang paling muda, 22 tahun. Seperti halnya Dion, pemuda ini juga masih jomblo. Saat masuk tim keamanan, Dendi memberi keduanya dua pilihan. Dion dan Duta memilih berada di tim utama, sedang Septa dan Jamal di tim bayangan.
“Sep..” panggil Dion.
“Paan?”
“Celana lo kenapa basah gitu? Abis ngompol ya?” ledek Dion.
Septa sontak melihat ke bagian bawah celananya. Hari ini dia memang memakai celana bahan, bukan jeans. Terdengar umpatan kecilnya ketika melihat celana yang dikenakannya basah gara-gara melakukan video call dengan sang istri. Kedatangan Kenzie yang mendadak membuat dia memasukkan asal ular cobranya. Alhasil bisanya berhamburan di celana yang dikenakannya.
“Baunya kaya bau apa ya?” Dion terus saja mengolok.
"Pesing bukan?" tanya Jamal.
“Bayclin!!” seru Duta yang disusul tawa ketiganya. Septa buru-buru pergi meninggalkan ketiga temannya.
☘️☘️☘️
Kenzie sampai di lantai tempat Kenan dirawat. Sambil menundukkan kepalanya dia menghampiri kedua orang tuanya. Nina menghambur ke arah Kenzie lalu memeluknya. Sambil menangis wanita itu mengatakan kondisi Kenan yang belum sadarkan diri. Kenzie meneguk ludahnya kasar melihat tatapan tajam Abi padanya.
Seorang dokter keluar dari ruang perawatan Kenan. Dokter itu masih muda usianya, dia adalah teman Kenzie saat sekolah dulu. Nina melepaskan diri dari Kenzie kemudian menghampiri dokter tersebut.
“Dokter.. bagaimana keadaan anak saya? Apa saya boleh melihatnya?”
“Semoga saja Kenan cepat sadar. Silahkan kalau kalian ingin melihat. Tidak usah mengenakan pakaian steril, karena kondisinya sudah cukup membaik.”
Dokter tersebut melihat ke arah Kenzie kemudian berlalu seraya menepuk bahunya. Mendengar jawaban dokter muda tersebut, Nina dan Freya segera masuk ke dalam ruang perawatan. Masker oksigen sudah dilepaskan dari Kenan, keadaan pemuda itu sudah membaik hanya masih belum sadar.
Tangis Freya pecah melihat kondisi sang adik. Kepalanya terbalut perban begitu juga kaki dan tangannya. dia memeluk Kenan sambil terus menangis. Nina berdiri di samping Freya. Diraihnya tangan Kenan kemudian membawa ke pipinya. Kenzie berjalan memasuki kamar lalu berdiri di sisi lainnya. Matanya terus menatap ke arah Kenan yang masih terbaring lemah.
“Nan.. bangun sayang.. ini mama nak. Jangan buat mama sedih. Mama tahu kamu anak yang kuat. Bangun sayang.”
“Nan.. bangun Nan.. please bangun. Gue kangen denger kompor mledug lo hiks.. hiks..”
“HATCHI!!”
Freya terkejut saat Kenan bersin, apalagi tangannya terkena semburan hujan lokal dari mulut Kenan. Bukan hanya Freya, Nina juga terkejut. Mata Kenzie membulat, dia melihat ke arah Kenan dengan kesal.
“HATCHI!!”
“Naaannn!!!” teriak Freya kesal karena lagi-lagi terkena semburan ludah adiknya.
Kenan membuka matanya kemudian mengusak-ngusak hidungnya yang terasa gatal. Dia lalu menegakkan tubuhnya. Dengan cengiran khasnya dia melihat ke arah Kenzie.
“Bang.. sorry bang.. hidung gue gatel kena rambutnya kak Frey.”
Kenzie kembali membulatkan matanya. Ingin rasanya dia menyumpal mulut adiknya. Nina yang curiga dengan interaksi kedua anak lelakinya melihat tajam ke arah Kenzie. Begitu pula Freya, gadis itu mencium aroma persekongkolan dari kakak dan adiknya.
“Nan.. kamu ngga apa-apa?” tanya Nina.
“Iya ma.. mama jangan nangis lagi. Aku baik-baik aja. Aku anak sehat, tubuhku kuat,” Kenan malah bernyanyi sambil memperlihatkan otot di lengannya.
“Keterlaluan ya kamu udah bikin orang tua panik,” Nina dengan kesal menjewer telinga anaknya.
__ADS_1
“Aaaawwww sakit ma.. jahat banget deh mama, kaya ibu tiri aja.”
“Biarin,” Nina terus memukuli punggung Kenan dengan kesal.
“Aduh sakit.. ibu tiri.. hanya cinta kepada ayahku saja...” Kenan kembali bernyanyi.
“Lo tuh emang nyebelin ya Nan,” Freya membekap mulut Kenan agar berhenti menyanyi. Kenan menyemburkan ludahnya ke telapak tangan Freya, membuat gadis itu melepaskan bekapannya. Dia mengusapkan saliva Kenan ke rambut adiknya itu seraya menjambak rambutnya.
“Aduhh.. buset lo galak banget udah kaya kakak tiri.. kakak tiri.. hanya cinta kepada ayahku saja...”
Kenzie yang kesal melihat Kenan menggagalkan skenario yang sudah disusunnya menjitak kepala adiknya ini. Abi yang melihat anak bungsunya tengah menerima penyiksaan bergegas masuk. Dia tahu kalau sandiwara sang anak telah terbongkar.
“Aduh sakit bang.. dasar abang tiri. Abang tiri...”
“Nyanyi lagi, gue sumpel mulut lo pake sedotan WC!”
“Huaaaa... mama tolong bang Ken jahat. Padahal dia yang nyuruh aku ma. Suer ma.. aku diancem kalau ngga mau ikut rencananya mau disuruh ngangon komodo.”
Mata Kenzie membulat, padahal ini adalah ide mereka berdua. Kini dengan santainya Kenan cuci tangan dan melimpahkan semua kesalahan padanya. Nina menatap tajam pada anak sulungnya. Otak Kenzie berputar keras agar selamat dari amukan sang mama. Kemudian sudut matanya menangkap Abi yang berjalan masuk ke ruangan.
“Maaf ma.. maaf.. tapi aku udah bilang sama papa dan papa udah setuju. Aku ngga akan berani bikin mama sedih kaya gini kalau ngga dapet acc dari papa.”
Langkah Abi terhenti begitu Kenzie menyebut dirinya ikut dalam persekongkolan kedua anaknya. Padahal dia mengetahui drama ICU ini dari dokter yang memeriksa Kenan. Tentu saja dengan memberikan sedikit intimidasi, dokter itu mau membingkar konspirasi ini. Perasaannya langsung tak enak melihat cara Nina memandangnya.
“Jadi mas tahu soal ini?”
“Ngga Yang. Mas juga kaget Nan dibawa ke rumah sakit. Mereka ngga ada bilang soal rencana ini,” Abi melihat kesal ke arah Kenzie.
“Intinya mas tau ngga?” Nina tak percaya kalau suaminya sampai terpedaya oleh kedua anaknya.
“I.. iya mas tahu dari dokternya, itu juga pas mas udah paksa.”
“Kenapa mas ngga kasih tahu aku?”
“Ya.. biar kamu bisa ngehajar si Astri. Ngga mungkin kan mas yang jambak rambutnya,” Abi berargumen.
Kenzie dan Kenan menganggukkan kepalanya bersamaan. Mereka memang sengaja membuat sandiwara ini agar Nina turun tangan memberi pelajaran pada Astri. Tak mungkin mereka yang melakukannya, karena selain wanita, Astri juga sudah berumur. Mereka tak mau menyakiti wanita secara fisik, apalagi wanita yang seumuran ibunya. Cara teraman adalah melibatkan Nina.
“Alasan!”
Nina bergegas keluar dari ruangan. Dia masih menunjukkan kemarahannya. Kini giliran suami dan kedua anaknya yang harus merasakan pembalasannya. Abi bergegas menyusul istrinya, kesejahteraan jam malamnya terancam kalau Nina sampai marah padanya. Sebelum keluar dia melihat ke arah Kenzie dan Kenan.
“Kalian.. kalau buat mama menangis lagi, papa akan hukum kalian!!”
“Iya pa,” jawab Kenzie dan Kenan bersamaan. Abi langsung keluar setelah mendengar jawaban anaknya.
“Bang Ravin tau juga soal rencana ini?” tanya Freya.
“Iyalah,” dengan cepat Kenan langsung menjawab. Dia tak rela calon kakak iparnya itu selamat dengan mudahnya. Bergegas Freya keluar dari ruangan.
“Siapin mental ya bang hahaha..” Kenzie ikut tersenyum mendengarnya.
Perasaan Ravin langsung tak enak begitu melihat Freya keluar dari ruangan. Mata gadis itu seperti hendak meloncat keluar ketika melihat ke arahnya. Barra, Ravin dan Haikal langsung melarikan diri begitu melihat alarm tanda bahaya. Sebelum calon istrinya itu menyemburkan bisanya, Ravin buru-buru mengajak Freya pergi dari sana.
Juna dan yang lain masih bertahan di sana. mereka masih menunggu Abi yang tengah membujuk Nina. Azra berpamitan pada sang ayah untuk pulang. Dia mau melihat keadaan Alisha di rumah. Viren bangun dari duduknya lalu menghampiri Juna.
“Om.. Al gimana keadaannya?”
“Alisha baik-baik aja. Dia di rumah sama Ezra dan Anya. Makasih ya Vir, udah nolong Al.”
“Sama-sama om. Pa, om.. aku pulang dulu.”
Kevin hanya menganggukkan kepalanya saja. setelah itu Viren beranjak pergi. Di dekat lift dia berpapasan dengan Abi yang baru selesai membujuk Nina. Untung saja wanita itu tak marah berkepanjangan. Melihat sang papa kembali, Kenzie keluar dari ruangan. Kenan tak ikut, walau tak terluka parah, tapi dia harus mendapatkan perawatan atas luka-lukanya.
“Pa.. Lucky cuma kasih nama Prima Wibowo yang udah nyuruh dia. Tapi dia ngga tahu apa-apa soal laki-laki itu.”
“Biar itu jadi urusan papa. Kamu fokus saja pada pernikahanmu.”
“Iya pa. Aku pulang dulu.”
“Ken.. makasih ya kamu udah jaga Nara,” seru Jojo.
“Nara calon istriku, sudah jadi kewajibanku menjaganya.”
Sekali lagi Kenzie berpamitan pada kelima lelaki tersebut kemudian beranjak pergi. Abi mendudukkan diri di samping Juna. Dia perlu membicarakan langkah selanjutnya untuk menangkap pelaku utama. Kini gilirannya harus bertindak.
“Bi.. kamu tahu siapa orang yang dibilang Ken tadi?” tanya Juna.
“Iya. Kecurigaanku bener. Memang dia pelakunya. Setelah pernikahan Ken, kita tangkap dia. Mela gimana kak?”
“Anak itu.. sifatnya buruk sekali. Dengki, iri dan pendendam.”
“Kakak mau kasih hukuman apa ke dia?”
“Kamu bilang desa di dekat pulau A terkena wabah penyakit.”
“Iya. Itu juga desa tertinggal, aku rencananya mau mengembangkan desa itu biar kehidupan mereka lebih baik.”
“Kirim saja dia ke sana. Biar dia lihat kalau banyak orang yang lebih susah darinya. Suruh dia bantu merawat warga yang sakit dan libatkan dia untuk pekerjaan membangun desa di sana. Siapa tahu itu bisa merubah sifatnya sedikit demi sedikit. Sekalian bawa Erlangga ke sana.”
“Ok.”
Semuanya terdiam sejenak. Perasaan mereka terutama Jojo sedikit lega, karena orang yang mengganggu keutuhan keluarganya sudah tertangkap. Hanya tinggal menunggu sang dalang keluar.
“Jo.. lo punya masalah apa sih sama perusahaan bis?” tanya Cakra.
“Bis apaan? Gue ngga pernah ada urusan sama perusahaan transportasi.”
“Lah musuh lo semuanya bis AKAP, Lorena, Prima Jasa.”
“Prima Wibowo woii,” Cakra tergelak mendengarnya.
“Jangan-jangan lo pernah sewa bis terus lupa bayar,” sambung Juna.
“Atau ketahuan nyelup di dalem bis hahaha..” celetuk Kevin.
Jojo mendengus kesal, sampai saat ini dirinya masih saja menjadi bulan-bulanan keempat sahabatnya. Untungnya pria itu sudah kebal, jadi tak pernah mempedulikan celotehan absurd mereka.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Mamake ucapkan terima kasih buat kalian semua yang sangat antusias dengan kisah ini. Terima kasih untuk dukungannya, like, komen, vote, gift, tips.. Makasih all.. Semoga sehat selalu, berkah selalu dan diberikan rejeki berlimpah, aamiin..
Love you all😘😘🤗