
Mobil yang dikendarai Kenzie memasuki kompleks town house. Mobil itu terus bergerak menuju rumah yang paling ujung. Di town house ini hanya terdapat 20 unit rumah saja dan rumah milik Kenzie yang paling besar. Setelah memarkirkan kendaraannya, pasangan suami itu turun bersamaan kemudian masuk ke dalam rumah. Sudah dua minggu lamanya mereka pindah ke rumah baru ini.
Kenzie masuk ke dalam kamar lalu menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia masih ingin meluruskan punggungnya dulu. Seharian duduk di kursi kebesarannya membuat punggungnya terasa kaku. Pria itu menarik Nara yang tengah berdiri di dekat ranjang. Seketika tubuh istrinya itu jatuh menimpanya. Tangan Kenzie langsung mengunci tubuh Nara dengan kedua tangannya.
“Mas.. ngga mandi dulu?”
“Sebentar lagi, mandi bareng ya.”
“Ngga mau. Malah lama mandinya nanti.”
Kenzie tak mempedulikan jawaban Nara, dia semakin mengeratkan pelukannya. Dengan cepat pria itu membalikkan tubuhnya hingga sang istri kini berada di bawahnya. Bibirnya langsung mencecap bibir Nara, memagut dan mel*matnya dalam. Nara membalas ciuman suaminya, mengikuti permainan bibir Kenzie yang tak pernah bisa ditolaknya.
“Siapa lelaki tadi?” tanya Kenzie setelah mengakhiri ciuman panjangnya.
“Itu.. Anto. Senior di SMA. Mas masih ingat cerita soal temanku, Wendy?”
“Yang meninggal setelah dikeroyok gank motor?”
“Iya. Senior yang merencanakan pengeroyokan itu, Anto. Karena papanya pejabat, dia tidak dihukum dengan alasan masih di bawah umur juga. Setelah lulus dia dipindahkan keluar negeri. Baru tadi aku ketemu dia lagi.”
“Sepertinya dia menyukaimu.”
“Aku ngga peduli.”
“Tapi mas peduli. Mas tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu dari mas, termasuk Anto.”
“Kalau dia berusaha mendapatkanku bagaimana?”
“Mas akan membuat semua tulang di tubuhnya patah, bagaimana?”
“Hmm.. boleh juga habis itu kirim ke pulau Rinca, suruh mandiin sama nyikatin gigi komodo hihihi,” Nara terkikik geli.
Dengan gerakan lembut, Kenzie mengusap pipi sang istri. Bibirnya terbenam sempurna di bibir Nara. Pertautan bibir mereka kembali terjadi, bahkan lidah keduanya sudah saling menarik dan membelit. Perlahan bibir Kenzie menelusuri leher hingga ke bahu Nara, membuat wanita itu mendongakkan kepalanya, memberi akses lebih pada sang suami untuk mengeksplor leher jenjangnya.
“Ma..ss man..di dulu.”
“Mandi bareng, sayang.”
Kenzie mengangkat tubuhnya kemudian membopong sang istri, membawanya ke kamar mandi. Pria itu menurunkan Nara di dekat bath tub, kemudian menyambar bibir istrinya lagi. Kedua tangannya sibuk melucuti pakaian yang melekat di tubuh Nara lalu membawanya ke bath tub. Kini gilirannya membuka seluruh pakaian dan menyusul masuk ke bath tub.
Tangan Kenzie memutar kran bath tub, mengatur suhunya menjadi hangat. Sambil menunggu air penuh, pria itu kembali mencumbui sang istri. Beberapa kali kepala Nara terdongak ke atas saat merasakan sentuhan suaminya. Kenzie selalu bisa membuatnya melayang. Baru sedikit air yang memenuhi bath tub, namun Kenzie telah mematikannya. Dia merebahkan Nara di sana dan bersiap memulai percintaannya. Udara di sekitar mereka tiba-tiba saja menghangat seiring dengan pergulatan mereka.
Suara des*han dan lenguhan Nara bergema di kamar mandi saat suaminya terus memberikan kenikmatan untuknya. Deru nafas Kenzie pun mulai terdengar tak beraturan ketika dirinya bergerak semakin cepat, mencoba menggapai kepuasan yang lebih dulu telah didapat sang istri. Beberapa menit berselang, erangan Kenzie terdengar saat lahar panasnya berhasil masuk ke rahim sang istri. Berharap kali ini ada yang sudi berbuah menjadi penerus keturunannya.
☘️☘️☘️
Dengan serius Abi, Cakra, Kevin dan Jojo mendengarkan rekaman suara Jafar saat mengancam Azra kemarin. Keempat pria itu sengaja datang ke kantor Juna setelah pria itu meminta mereka berkumpul. Tangan Abi mengepal kencang, tak terima keponakannya diintimidasi seperti itu. Begitu pula dengan Cakra.
“Berani banget tuh orang, habisin aja kak,” seru Jojo geram.
“Fathan sudah bergerak,” ujar Abi.
“Kita lihat dulu bagaimana reaksinya. Kalau dia mengirim serangan balasan, aku akan melayaninya,” ujar Juna.
“Soal Arcapada Group bagaimana? Mau sekalian dibuat perkedel?” tanya Kevin.
“Jangan dulu. Sepertinya Baskara tidak tahu perbuatan anaknya. Tapi kalau dia ikut campur, baru kita ambil tindakan.”
“Resiko itu kak, punya anak gadis cantik,” celetuk Jojo.
“Jadi anak lo ngga cantik ya, Jo,” sambar Kevin.
“Weh sembarangan lo. Anak gue udah sold out semua kalo lo lupa. Tinggal Dilara aja yang tunggu tanggal tayangnya sama Ezra.”
Jojo melihat pada Juna. Pria bersahaja itu hanya menyunggingkan senyumnya saja. Ezra memang sudah mengatakan padanya serius menjalin hubungan dengan Dilara dan akan menikahinya saat dirinya sudah resmi bergabung dengan Blue Sky. Rencananya tahun depan Ezra akan mulai bekerja di Blue Sky, menggantikan direktur perencanaan yang akan pensiun.
"Tapi Barra masih jomblo tuh," ujar Kevin lagi.
"Kan sama Hanna...."
"Digantung hahahaha..." suara tawa langsung terdengar menyambut celetukan Cakra. Jojo mendengus kesal. Dia selalu dibuat mati kutu jika sudah membahas hubungan Barra dan Hanna.
“Oh ya, soal Alisha, tahu dari mana?” lanjut Cakra.
“Anak gue, dong,” bangga Kevin.
“Viren?” tanya Jojo.
“Hem..” jawab Kevin.
“Bagus deh, si Viren ngga kaya bapaknya yang ngga peka,” kekeh Jojo.
“Eh, Vin, pulangin anak gadis gue. Belum dibayar tunai udah dikekepin aja di rumah lo,” celetuk Abi.
“Pinjem dua hari doang, Bi. Pelit amat lo.”
“Ngga ada. Nanti juga dia bakalan tinggal di rumah lo abis nikah. Sekarang waktunya gue ngabisin banyak waktu sama Frey,” sewot Abi.
Juna, Cakra dan Jojo hanya terpingkal saja melihat dua calon besan yang tengah berdebat. Rasanya baru kemarin mereka berteman, kini anak-anak mereka sudah besar dan siap menempuh hidup baru. Menguatkan persahabatan mereka dengan jalinan pernikahan, tanpa paksaan namun karena cinta yang datang dan tumbuh karena terbiasa bersama sejak kecil.
“Kak, Alisha masih pengen nikah?” tanya Abi.
__ADS_1
“Iya. Apalagi Lisda akhir-akhir ini sering datengin Al lagi.”
“Tuh orang maunya apa sih?” kesal Cakra.
“Udah biar aku yang urus,” celetuk Abi.
“Ngga usah, Bi. Ada yang sanggup ngatasin soal Lisda.”
“Siapa?”
“Viren.”
“Widih kulkas dua pintu junior boleh juga tuh. Jodohin aja sekalian sama Al,” usul Jojo.
“Lo setuju ngga, Vin?” tanya Cakra.
“Ngga usah ditanya dia mah. Muka aja datar, padahal diem-diem, loncat-loncat tuh jantungnya hahahaha…”
Kevin hanya mendelik ke arah Jojo. Namun ucapan sahabatnya itu tak sepenuhnya salah. Kalau memang Viren bersedia dijodohkan dengan Alisha, tentu saja dia akan merasa senang bisa berbesan dengan sahabat baiknya. Tapi pria itu juga masih belum tahu bagaimana isi hati anaknya.
“Viren bukannya sama Anya?” tanya Abi.
“Eh iya juga. Viren kan deket banget sama Anya,” Jojo membenarkan.
“Ngga tau gue, tuh anak susah ditebak,” jawab Kevin.
“Huahahaha.. bapaknya aja kaga tau gimana kita,” Jojo terpingkal.
“Tapi akhir-akhir ini Irvin rajin dateng ke rumah. Gue curiga dia suka sama Anya,” sahut Cakra.
“Nah loh! Ribet dah ribet kalo gini urusannya hahaha…”
“Cinta segi banyak namanya.”
“Segi tak beraturan.”
Gelak tawa kembali memenuhi seisi ruangan. Hanya Juna yang menanggapinya dengan senyum tipis. Pikirannya tertuju pada ucapan Abi yang menebak Viren menyukai Anya. Tadi malam, Alisha baru mengakui perasaannya pada Nadia juga dirinya. Anak bungsunya itu menyukai Viren. Kalau memang benar Viren menyukai Anya, entah apa yang akan terjadi.
☘️☘️☘️
Dibantu beberapa staf resto dari hotel Arjuna, Alisha membawa kotak-kotak berisi makanan berat dan juga snack. Gadis itu menata kotak makanan di meja yang ada di dekat pintu masuk ruangan yang dijadikan tempat sidang Viren. Untuk sidang tesis Viren memang diadakan terbuka. Kurang lebih ada lima puluh orang yang akan menyaksikan langsung pria itu mempresentasikan hasil penelitiannya.
Selesai menata kotak makanan di meja, datang Kenan, Revan dan Haikal menghampiri. Mereka juga ingin ikut menyaksikan sahabatnya mendapatkan gelar master. Anya tak ikut serta. Gadis itu sengaja menghilang hari itu agar Alisha yang berperan penuh membantu Viren. Dia berharap hal tersebut bisa membuat hubungan Viren dan Alisha bertambah dekat.
Viren datang dengan membawa beberapa eksemplar hasil tesisnya. Setelah meletakkan di atas meja, pria itu merapihkan jas yang sedikit kusut. Alisha mendekati Viren begitu melihat dasi yang dikenakan miring.
“Bang, dasinya miring. Sini aku betulin.”
“Makasih.”
“Sama-sama, bang.”
Dosen pembimbing, dosen penguji dan juga dua orang perwakilan dari jurusan hadir sudah memasuki ruangan. Begitu pula dengan teman-teman Viren yang diundang untuk menyaksikan sidang tesisnya. Kenan, Revan dan Haikal ikutan masuk dan mengambil tempat di bagian paling belakang.
Viren menyampirkan tas ranselnya ke bahu lalu membawa lembaran tesisnya ke dalam. Alisha memilih menunggu di luar saja, menyambut undangan yang belum semuanya tiba. Viren masuk lalu menuju meja yang telah disediakan untuknya di depan. Para dosen sudah duduk di tempatnya masing-masing. Setelah memberikan hasil tesis pada semua penguji, Viren mengeluarkan laptop lalu menyambungkannya ke in focus yang ada di sana.
Dosen pembimbing yang sedari tadi memperhatikan Viren, memberi tanda pada pria itu untuk memulai presentasinya. Usai berdoa dalam hati, Viren memulai presentasinya. Mendengar suara Viren, Alisha mendekat ke pintu dan melihat pria pujaan hatinya dari sana. Kekagumannya pada Viren semakin bertambah melihat gaya Viren berbicara di depan orang banyak dengan penuh percaya diri.
Tujuh puluh menit berlalu, sidang tesis pun selesai. Viren memperoleh nilai memuaskan dan mendapat predikat cum laude. Alisha yang mendengarnya juga merasa bangga atas keberhasilan pria itu. Lamunannya buyar saat satu per satu undangan keluar ruangan. Dia pun mulai sibuk membagikan konsumsi. Tak lama kemudian Kenan, Revan dan Haikal keluar. Mereka ikut membantu memberikan makanan serta bingkisan pada para dosen.
“Al.. makasih ya buat bantuannya,” ujar Viren setelah acara sidang selesai.
“Sama-sama, kak.”
“Ini masih ada sisa kotak makanan, mau dikasih siapa kak?”
“Buat bagian kebersihan, security sama tukang parkir aja.”
“Boleh bang.”
“Ayo.”
Viren membantu Alisha membawa kotak makanan yang tersisa. Matanya mencari keberadaan Kenan, Revan dan Haikal, namun ketiga orang itu entah menghilang kemana. Akhirnya hanya dirinya dan Alisha saja yang membagikan kotak makanan.
“Kamu masih ada kuliah?” tanya Viren.
“Ngga bang. Hari ini aku libur.”
“Kita jalan-jalan yuk.”
“Kemana bang?”
“Terserah kamu maunya kemana. Anggap aja ini ucapan terima kasihku.”
“Kita ke mall aja yuk, bang. Aku lagi pengen main di gamespace nih.”
“Kaya anak kecil aja.”
“Ya udah, aku sendiri aja,” wajah Alisha langsung cemberut. Gadis itu segera meninggalkan Viren.
“Gitu aja ngambek. Ayo.”
__ADS_1
Viren menarik tangan Alisha menuju mobilnya. Hari ini memang Alisha sengaja tidak membawa mobil agar Viren bisa mengantarnya pulang. Dia akan mengikuti saran Anya untuk bersikap lebih aktif. Kalau mengharapkan Viren yang berinisiatif sama saja mengharap salju turun di Bandung, begitu kata Anya.
Suara merdu Charlotte Lawrence terdengar dari audio mobil Viren. Tanpa sadar Alisha ikut menyanyikan lagu tersebut. Viren langsung menolehkan kepalanya saat mendengar suara Alisha. Dia baru tahu kalau anak bungsu Juna itu memiliki suara yang merdu, tak kalah dengan Anya hanya berbeda tipe suara saja. Suara Anya memiliki nada tinggi dan powerfull, cocok menyanyikan lagu yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Sedang suara Alisha terdengar lebih renyah dan ringan, cocok menyanyikan lagu-lagu pop berirama ceria.
“Suara kamu bagus,” puji Viren yang justru membuat Alisha berhenti menyanyi.
“Kok berhenti? Terusin dong.”
“Ngga ah, malu.”
“Barusan nyanyi ngga malu.”
“Khilaf hihihi..”
“Kapan-kapan ikut manggung bareng kita, ya.”
“Ngga ah. Malu bang.”
“Ngapain malu, suara kamu bagus. Artis yang suaranya pas-pasan malah cenderung ngga enak masih pede aja tuh keluarin album.”
“Mereka kan artis, bang. Aku bukan.”
“Emang harus jadi artis dulu buat nunjukin bakat?”
“Ngga juga sih.”
“Nyanyinya duet sama Nan kalau malu sendiri.”
“Apalagi duet sama Nan, bisa ngakak mulu akunya. Lihat muka Nan tuh, aku ngga pernah bisa serius dan konsentrasi. Tuh anak kan tukang pengacau suasana.”
Alisha tertawa mendengar ucapannya sendiri. Gadis itu memang pernah beberapa kali berduet bersama Kenan saat karaokean di rumah. Hasilnya bukan bagus malah amburadul, karena di tengah jalan pemuda itu seenak jidatnya mengganti genre lagu, kadang dangdut, koplo atau seriosa.
“Sablengnya si Nan emang ngga ada obatnya.”
“Aku kasihan sama yang jadi pasangannya nanti.”
“Harus sedia inhaler biar ngga bengek.”
“Hahaha..”
Tawa keduanya terdengar. Seketika suasana kaku berubah cair ketika mereka membicarakan Kenan. Sepertinya telinga pemuda itu akan gatal-gatal atau panas karena terus dijadikan topik pembicaraan.
Setengah jam kemudian mereka tiba di mall. Alisha langsung mengajak Viren menuju lantai teratas pusat perbelanjaan ini. Tempat di mana arena bermain berada. Suasana di gamespace tidak seramai di akhir pekan dan Alisha menyukainya. Dia segera mengisi saldo kartu bermainnya dan mulai menjelajahi semua permainan di sana.
Saat Alisha sibuk mencoba semua permainan, Viren hanya mengikuti gadis itu saja. Dia sudah seperti pengasuh yang menemani anak asuhnya bermain. Alisha sendiri tak mau susah-susah mengajak pria itu bermain, karena sia-sia saja hanya menguras energi.
Ketika tengah memperhatikan Alisha yang sedang bermain basket. Sudut mata Viren menangkap Reymond yang juga berada di arena bermain. Pria itu hanya duduk di salah satu permainan balap motor, sedang matanya terus memperhatikan Alisha. Jelas sekali kalau dia memang mengikuti Alisha.
Terdengar sorakan Alisha saat gadis itu baru saja selesai menciptakan rekor baru. Dia meloncat-loncat kegirangan, karena baru kali ini skornya menembus angka 300. Viren mendekat lalu mengusap keringat di kening Alisha dengan tangannya. Sontak gadis itu terkejut dan hanya mampu berdiri mematung saja mendapat perlakuan seperti itu dari Viren.
“Udah dulu mainnya, kita cari minum. Kamunya juga udah keringetan kaya gini.”
Alisha masih belum tersadar ketika Viren menarik tangannya keluar dari gamespace. Viren melirik sekilas ke tempat Reymond berada. Sesuai dugaan, pria itu segera beranjak dari tempatnya ketika melihat Alisha keluar. Sambil terus menggenggam tangan Alisha, Viren membawa gadis itu menuju booth yang menjual minuman dingin.
“Mba.. Thai tea nya dua ya,” ujar Alisha pada penjual minuman itu.
Tak butuh waktu lama untuk mereka mendapatkan pesanan karena memang hanya mereka yang datang membeli. Sambil menyeruput minuman Viren mengajak Alisha menuju bioskop. Reymond masih terus mengikuti keduanya. Pria itu masih belum percaya kalau ada hubungan khusus antara kedua orang yang diikutinya.
Di lobi bioskop, Viren dan Alisha berkeliling melihat deretan poster film yang tayang hari ini. Alisha bingung Viren tiba-tiba mengajaknya ke bioskop. Agenda menonton tidak ada dalam rencananya hari ini. Tak jauh beda, Viren juga bingung mau menonton film apa. Sialnya Reymond terus mengikuti kemana langkahnya pergi.
Viren terus mengajak Alisha menyusuri deretan poster film. Di bagian paling ujung, tepat di mana tidak ada pengunjung Viren berhenti. Keduanya memandangi poster sebuah film horror yang masih berlabel coming soon. Dari sudut matanya, Viren masih menangkap sosok Reymond berdiri tak jauh darinya. Pria itu juga berpura-pura tengah melihat poster film.
Saat sedang membaca nama pemain dalam film horror tersebut, Alisha dikejutkan dengan gerakan tangan Viren yang tiba-tiba saja memeluk bahunya dari belakang. Karuan saja hal tersebut membuat jantung sang gadis berdetak tak karuan. Dengan menahan malu, Viren mencoba bertahan dengan posisinya sekarang. Dia sengaja melakukan itu untuk mengusir Reymond. Untung saja rencananya berhasil. Reymond bergegas pergi setelah melihat adegan itu.
“Filmnya ngga ada yang rame. Pulang yuk.”
Viren melepaskan pelukannya, lalu menggandeng tangan Alisha. Keduanya berjalan keluar bioskop. Alisha terus mengikuti langkah Viren tanpa mengatakan apapun. Kesadarannya masih belum kembali akibat pelukan tadi. Suasana di antara mereka seketika menjadi canggung dan itu terus bertahan sampai mereka kembali ke mobil.
Tak ada pembicaraan sama sekali dalam perjalanan pulang. Viren memilih terus menatap ke depan, seolah tengah berkonsentrasi menyetir. Itu dilakukan untuk menutupi rasa malunya karena tindakannya tadi. Pun Alisha yang hanya menundukkan kepalanya. Sikap hangat Viren tadi langsung berganti dengan sikap dinginnya sekarang membuat gadis itu bingung mengartikan semua tingkah Viren.
“Al..” panggil Viren setelah mobil yang dikendarainya sampai di depan rumah Juna.
“Aku minta maaf soal yang tadi. Aku udah lancang peluk kamu. Sebenarnya waktu di mall kita diikuti Reymond, laki-laki yang bersama Lisda tempo hari. Dia sepertinya punya niat ngga baik sama kamu. Makanya aku bersikap seperti tadi, seolah-olah kita itu pasangan biar dia ngga ganggu kamu lagi.”
“Oh.. gitu bang. Makasih ya, udah nemenin aku main dan ngelindungin aku dari Reymond.”
“Sama-sama, Al. makasih juga udah bantuin tadi.”
Alisha hanya menganggukkan kepalanya. Setelah melepaskan sabuk pengaman, gadis itu segera turun. Tanpa melihat ke belakang lagi, Alisha bergegas masuk ke dalam rumah. Perasaan senang sekaligus kecewa menghantamnya bersamaan. Dia kecewa karena Viren melakukannya hanya demi menyingkirkan Reymond. Tapi dia juga senang Viren sepeduli itu padanya.
Jangan geer, Al. Dia peduli sama elo ngga lebih karena elo anak ayah Juna, sahabat dari papanya bang Vir. Tapi gue kan jadi baper, bang.. aaa… tau ah…
Alisha terus bermonolog dalam hatinya sambil melangkahkan kaki menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Sesampainya di kamar, gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Jatuh cinta memang merepotkan, apalagi jika perasaan itu hinggap di orang yang susah ditebak seperti Viren. Terdengar helaan nafas Alisha yang berat. Cinta pertamanya masih belum bisa ditebak akan seperti apa akhirnya. Membuat dirinya galau tingkat dewa.
☘️☘️☘️
Buat semua doanya di kolom komentar, aamiin. Semoga laptopnya cepet sembuh, semoga bisa beli laptop baru🤲
Dan ssmoga yang baca ngga berkurang terus, aamiin...
Untuk yang masih setia, makasih banyak😘😘😘
__ADS_1