KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Calon Makmum


__ADS_3

“Bang Irvin nyebelin!”


“Nyebelin kenapa? Kamu lagi PMS ya, ngomel-ngomel mulu.”


“Abang nyebelin. Kemarin-kemarin bilang suka sama aku, minta dikasih kesempatan, ngajak nikah, ngajak kencan, ngajak nonton sampe ngajak ngangon komodo tapi cuma di bibir aja, lip service doang. Dasar tukang PHP!!”


Anya menyentak kakinya kencang kemudian meninggalkan Irvin. Baru saja tangannya hendak menggerakkan handle pintu, tubuh gadis itu dipeluk Irvin dari belakang. Kedua tangan Irvin melingkari bahu Anya.


“Aku ngga PHP, aku serius mau nikah sama kamu. Aku cuma mau ngangon komodo sama kamu. Tapi kamunya selalu nolak, aku bisa apa.”


“Ya abang usaha dong. Masa baru ditolak sekali aja udah nyerah. Abang tuh beneran ngga sih suka sama aku, atau cuma coba-coba.”


“Pilih calon istri kok coba-coba. Ya aku serius dong, sayang.”


Dada Anya berdesir ketika Irvin menyebutkan kata sayang di telinganya. Irvin melepaskan pelukannya lalu menarik tangan Anya kembali ke sofa. Keduanya kembali duduk berdampingan.


“Aku serius mau nikah sama kamu, Nya. Kamu sendiri gimana?” Irvin menggenggam erat tangan Anya seraya menatap netranya dalam.


“Aku mau bang, tapi aku kan mau beresin kuliah dulu. Aku emang mau nikah muda kaya Al, tapi minimal beresin kuliah dulu,” Anya menundukkan kepalanya.


“Kalau jawaban kamu jelas, aku mau kok nunggu kamu sampai beres kuliah.”


“Serius bang?” Anya mengangkat kepalanya.


“Serius.”


“Tapi abang jangan deket-deket lagi ya sama yang mau jadiin abang manajer hati, sama si libur tlah tiba juga jangan.”


“Siapa libur tlah tiba?”


“Tuh yang tadi dateng kasih laporan.”


“Tasya?”


“Iya, yang nyanyi libur tlah tiba.”


Tawa Irvin langsung terdengar. Dia benar-benar harus mengakui kesomplakan gadis yang dicintainya ini. Ada saja komentar nyeleneh yang keluar dari mulutnya. Dengan gemas Irvin mengusak puncak kepala Anya.


“Kamu tau dari mana namanya Tasya?”


“Lah itu di name tagnya ngejeblak namanya Tasya libur tlah tiba.”


“Hahahaha…”


“Bang.. aku numpang tidur boleh ngga?”


“Boleh asal jangan sampe iler kamu nempel di sofa ya.”


“Ish..”


Irvin mengambil bantal sofa kemudian menggeser duduknya sampai di ujung. Diletakkan bantal di atas pahanya kemudian menepuk bantal tersebut, meminta Anya untuk berbaring. Gadis itu segera merebahkan kepalanya di atas bantal. Beberapa kali dia menguap.


“Kamu kaya ngantuk gitu. Abis begadang ya.”


“Ngga, bang. Udah dua hari ini, aku ngga bisa tidur.”


“Kenapa?”


“Kaya ada yang ngikutin aku tapi ngga kelihatan wujudnya.”


“Bukannya kamu bisa lihat penampakan ya?”


“Yang ini belum lihatin wujudnya, bang. Lebih serem bang, aku cuma bisa ngerasain dia, hawanya tuh panas banget dan kayanya jahat, bang. Aku kebangun pas lagi tidur waktu ngerasa ada yang sentuh aku. Lenganku tiba-tiba terasa panas bang, nih sampe merah begini.”


Anya menyingkap lengan blousenya. Di lengan sebelah tangan nampak warna kemerahan, bentuknya seperti bekas pegangan jari tangan. Irvin memperhatikan sejenak tanda merah itu.


“Kamu udah bilang sama papi?"


“Belum, bang. Aku ngga mau buat mereka khawatir. Apalagi sekarang lagi sibuk-sibuknya ngurus nikahan bang Aric.”


“Mudah-mudahan ngga ada apa-apa, ya. Sekarang kamu tidur aja, abang temenin.”


Kepala Anya mengangguk pelan. Gadis itu mulai memejamkan matanya seraya menarik tangan Irvin lalu menggenggamnya erat. Tangan Irvin yang menganggur, dipakai untuk mengusap puncak kepala Anya dengan gerakan pelan. Tak butuh waktu lama untuk gadis itu tertidur.


Perlahan Irvin bangun seraya memindahkan bantal ke sofa. Pria itu kemudian mengambil jas yang tergantung di kapstok lalu menyelimuti tubuh Anya dengannya. Irvin kembali ke meja kerjanya dan meneruskan pekerjaan yang tersisa.


☘️☘️☘️


Keramaian nampak di hotel Yudhistira. Lalu lalang kru film serta beberapa artis pendukung yang berkumpul di beberapa titik berbaur dengan pengunjung hotel. Barra yang baru saja datang, sesaat hanya memperhatikan kesibukan di depan matanya. Baru kali ini PH nya memproduksi drama seri. Lokasinya bertempat di hotel Yudhistira karena cerita yang diangkat tentang seluk beluk dunia perhotelan yang tentu saja dibumbui drama percintaan.


Kakinya kemudian melangkah menuju restoran yang letaknya ada di samping kanan lobi. Sudut matanya menangkap Hanna yang tengah berbincang dengan beberapa orang. Pria itu melangkahkan kakinya menuju arah restoran, bermaksud untuk mengisi perutnya karena waktu telah menunjukkan jam makan siang. Baru saja dia memasuki restoran, ketika seseorang menabraknya.


Gadis muda yang menabraknya tak lain adalah Sita, teman dari Anya yang diberi tugas untuk membantu Barra. Dia sengaja menabrakkan diri dengan kencang hingga tubuhnya oleng, Barra segera menangkap tubuh itu agar tidak jatuh ke lantai. Adegan mereka saat ini persis seperti adegan di film-film, tangan Barra menahan punggung Sita dan kedua mata mereka saling menatap.


Hanna yang berada tak jauh dari tempat mereka tentu saja teralihkan perhatiannya pada mereka. Gadis itu menatap tak suka saat melihat posisi Barra dengan Sita yang begitu dekat. Apalagi keduanya sempat beradu tatap selama beberapa detik sebelum akhirnya Barra membantu Sita berdiri.


“Makasih ya, kak Barra,” ujar Sita.

__ADS_1


“Kamu tahu saya?”


“Iya dong, kak. Aku kan penggemar kak Barra. Jujur aja, aku daftar di agency J&J Entertainment salah satu alasannya biar dekat sama kak Barra. Oh iya kenalin, nama aku Sita.”


Sita mengulurkan tangannya ke arah Barra yang langsung dibalas olehnya. Mengingat apa yang dikatakan Anya tadi, pria itu pun mulai mengikuti alur yang dimainkan oleh Sita. Sejenak Barra menilai gadis di depannya. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, hanya badannya sedikit montok. Kulitnya kuning langsat dan ada gingsul yang terlihat ketika dia tersenyum.


“Kak Barra ke sini mau lihat jalannya syuting ya?”


“Iya. Kamu ada jadwal syuting?”


“Ada kak, tapi masih tiga jam lagi. Aku salah lihat jadwal syuting.”


“Terus kamu mau pulang dulu?”


“Ngga kak. Mau nunggu aja, capek bolak balik, mana laper hehehe..”


“Ya udah kalau gitu temenin aku makan. Kebetulan aku belum makan siang,” tawar Barra.


“Beneran kak? Kok aku jadi ngga enak kalau nolak hehehe..”


Barra tersenyum, pantas saja dia berteman dengan Anya, ternyata keduanya sama somplaknya. Barra menggandeng tangan Sita menuju salah satu meja yang letaknya tak begitu jauh dari meja Hanna. Pria itu berpura-pura tidak melihat Hanna, dia menyamarkannya dengan mengarahkan pandangannya hanya pada Sita.


Mata Hanna tak berhenti mengawasi kedua orang tersebut. Konsentrasinya sedikit terganggu karena terusik dengan kehadiran Barra dan Sita. Yang lebih menyebalkan pria itu bahkan tidak menyadari keberadaannya. Tiba-tiba saja Hanna merasa takut kalau perasaan Barra akan beralih pada gadis itu. Apalagi gadis yang tengah bersama Barra juga berparas manis dan nampaknya Barra nyaman berbicara dengannya.


“Jadi bagaimana bu Hanna?” pertanyaan kliennya membuyarkan lamunan Hanna.


“Oh.. Eh.. pada dasarnya saya tidak keberatan dengan poin yang bapak sebutkan tadi. Tapi masih ada beberapa yang harus ditambah. Kalau bapak tidak keberatan, perjanjiannya direvisi lebih dulu, nanti sekretaris saya yang akan menyusunnya. Bagaimana?”


“Boleh.. saya tunggu hasilnya secepatnya.”


“Iya pak.”


Pembicaraannya terhenti ketika seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Hanna kembali mengarahkan pandangannya pada Barra dan Sita. Keduanya sedang membaca buku menu, sesekali nampak Sita bertanya tentang menu yang tertera. Gadis itu mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Barra, membuat Hanna bertambah gerah.


“Kak Barra.. ini menunya kayanya enak deh. Bikin panas dan cemburu,” Sita berkata pelan sambil terkikik.


“Maksudnya?”


“Itu kak Hanna udah mulai kebakaran bulu ketek kayanya.”


“Hahaha.. bisa aja kamu.”


Barra tak kuasa menahan tawanya. Tangannya bergerak mengusak puncak kepala Sita. Kedua orang itu terus saja memainkan perannya, sedang tak jauh dari mereka, Hanna tengah dilanda api cemburu. Kalau tidak ingat sedang bersama klien penting, mungkin dia sudah menghampiri Barra dan mengusir gadis yang bersamanya.


Pembicaraan Barra dan Sita terus berlanjut. Sesekali terdengar tawa mereka menghiasi perbincangan hangat keduanya. Barra cukup menikmati kebersamaan dengan Sita. Pembawaan gadis itu yang hampir sama dengan Anya, membuatnya merasa nyaman dan tentu saja semakin membuat aktingnya terlihat natural.


“Iya kak, kalau di depan kamera. Tapi kalau live sih sering.”


“Maksudnya kaya sekarang gini? Emang klien kamu banyak ya?”


“Ya ampun aku kesannya artis spesialis bikin cemburu hihihi. Bukan kak, aku kadang suka bantuin pacar aku kalau dia ada tugas dan butuh orang buat akting.”


“Pacar kamu sutradara?”


“Bukan kak. Pacarku tuh anggota tim keamanan keluarga Hikmat.”


“Hah??? Siapa?”


“Mas Dion hehehe…”


“Astaga. Kamu pacarnya Dion?”


Sita hanya menganggukkan kepalanya saja. Pertama kali dia melihat Dion ketika pria itu membantu Anya saat mobilnya mogok. Sita yang kebetulan ikut bersama Anya langsung berkenalan dengannya. Sikap Dion yang dingin dan pribadinya yang pendiam membuat Sita sulit untuk mendekatinya. Sampai akhirnya jalan terbuka untuknya ketika Jamal yang menyamar di kampus membutuhkan seseorang untuk sebuah tugas. Dia mengajukan diri untuk itu sampai akhirnya bisa dekat dengan Dion. Baru sebulan yang lalu mereka resmi berpacaran.


“Namanya jodoh ya, ngga bisa ditebak,” seru Barra setelah mendengar cerita Sita.


“Iya kak. Kaya jodoh kakak yang udah ngga enak diem. Kayanya kalau tamunya udah pergi, aku bakalan kena semprot hihihi.”


“Ngga mungkin juga. Hanna bukan perempuan seperti itu. Lagian aku juga belum tahu pasti perasaan dia.”


“Dia suka sama kakak. Berapa kali dia ngelirik aku, kalo matanya bisa ngomong, pasti bilang ‘jauhi calon jodoh gue!’ hahaha..”


“Bisa ae kang seblak.”


Lagi perhatian Hanna teralihkan saat mendengar tawa Barra dan Sita. Ingin rasanya dia mengusir kliennya yang belum juga menyelesaikan makan siangnya. Hanna sendiri nampak tak berselera menghabiskan makanannya. Dadanya terasa penuh dengan kecemburuan. Dia ingin secepatnya menghampiri mereka dan menanyakan siapa gadis itu sebenarnya.


Akhirnya penantian Hanna berakhir. Kedua klien yang bersamanya undur diri setelah menyelesaikan makan siang mereka. Hal tersebut langsung dimanfaatkan Hanna untuk menghampiri Barra. Tanpa permisi, gadis itu langsung menarik kursi di sana. Barra pura-pura terkejut melihat kedatangan Hanna.


“Eh.. Han.. kapan datang?”


“Sebelum abang sampe, aku udah duluan di sini,” jawab Hanna ketus.


Hanna memperhatikan Sita tanpa berkedip. Wajahnya yang biasa terlihat ramah, tidak kali ini. Tak ada lagi senyum manis yang menghias di sana, hanya tatapan penuh intimidasi, namun Sita nampak tak acuh. Dia terus meneruskan makannya.


“Ini siapa bang?” tanya Hanna.


“Kenalin kak, aku Sita,” Sita mengulurkan tangannya ke arah Hanna dan hanya dibalas asal oleh gadis itu.

__ADS_1


“Aku calon makmumnya kak Barra,” ucap Sita lagi dan sukses membuat Hanna terkejut.


“Apa??”


“Hehehe.. impianku kak, jadi calon makmumnya kak Barra. Kan kak Barra jomblo, aku juga jomblo, jadi ngga salah kan kak?” Sita mengerling ke arah Barra yang hanya dibalas senyuman saja oleh pria itu. Hati Hanna semakin panas mendengarnya, apalagi tidak ada penyangkalan sama sekali dari Barra.


“Maaf Sita, kamu udah selesai kan makannya? Kamu bisa pergi dulu ngga? Aku mau bicara serius sama bang Barra.”


“Ngomong apa kak? Aku boleh tahu ngga?” jawab Sita santai.


“Ngga! Emang kamu siapa mau ikutan ngobrol,” kesal Hanna.


“Kan aku udah bilang tadi. Aku calon makmumnya.”


“Baru calon, bisa juga ditolak. Udah sana pergi,” usir Hanna.


“Iya.. iya.. galak amat sih. Kak Barra, makasih ya buat makan siangnya. Aku pergi dulu. Jangan lupa kasih jawaban ke aku ya kak, jangan digantung. Aku kan bukan gantungan. Pokoknya kalau kak Barra terima aku, aku bakalan bikin hidup kakak berwarna dan bahagia pastinya. Dan bilangin sama kakak ini, jangan galak-galak, nanti jadi perawan tua dan ngga laku-laku loh.”


Hanna mendelik ke arah Sita, dan gadis itu membalas dengan menujurkan lidah ke arah Hanna. Barra tak kuasa menahan senyumnya. Hatinya cukup bahagia melihat reaksi Hanna, benarkah gadis itu tengah merasakan cemburu padanya. Sepeninggal Sita, Hanna menatap serius ke arah Barra.


“Dia siapa bang?”


“Salah satu talent di agency. Dia jadi artis pendukung di drama seri yang aku produksi. Kebetulan syutingnya di sini. Aku ke sini buat mantau jalannya syuting. Kamu sama siapa ke sini?”


“Aku habis ketemu sama klien. Abang kenapa ngga ada kabar selama beberapa hari? Abang sengaja ngehindarin aku?”


“Iya. Aku sudah mulai harus membiasakan diri untuk menjaga jarak dari kamu. Kalau sampai pernikahan Fathan dan Azra, kamu masih belum kasih jawaban. Berarti aku harus siap mundur.”


“Kok gitu sih, bang. Dulu abang bilang, kasih kebebasan waktu buat aku berpikir.”


“Iya, dulu aku pikir itu yang terbaik. Tapi setelah aku pikir-pikir, sebenarnya bukan masalah seberapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk memberi keputusan soal lamaranku. Tapi seberapa yakin kamu sama aku. Semakin lamanya kamu kasih jawaban, semakin aku berpikir mungkin kamu memang belum yakin sama aku. Di hatimu masih ada Toza dan aku ngga mau memaksakan hatimu buatku.”


“Terus abang mau terima Sita gitu?”


“Kenapa ngga, Han? Dia anaknya baik. Walau belum ada rasa cinta untuknya, tapi aku yakin cepat atau lambat perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya. Dan perasaanku padamu akan memudar oleh waktu. Maaf Han.. aku harus pergi. Sepertinya syuting sudah dimulai.”


Tanpa menunggu jawaban Hanna, Barra beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar restoran. Dia melakukan seperti apa yang dikatakan Sita tadi. Walau hatinya tak tega melihat wajah sedih Hanna, tapi dia memang harus melakukan ini. Kalau memang setelah ini hati Hanna masih gamang, mungkin dia benar-benar harus melepaskan gadis itu dan mencari tambatan hati lain.


Sepeninggal Barra, Hanna hanya tergugu di tempatnya. Perkataan Barra begitu menohok perasaannya. Ada rasa sakit ketika mendengar Barra hendak berpaling ke gadis lain. Rasanya tak rela melihat pria yang mencintainya dan menaruh harapan padanya memutuskan untuk pergi.


☘️☘️☘️


Hanna terjengit ketika Rayi menepuk pundaknya pelan. Melihat kedatangan mamanya, Hanna segera memeluk wanita itu. Sudah dua hari ini, hati Hanna dilanda kegalauan. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Barra di restoran, pria itu benar-benar tak pernah menghubunginya lagi. Biasanya dia selalu rajin mengirimkan pesan hanya untuk bertanya hal receh. Tapi sekarang, satu pesan pun tak ada yang masuk darinya.


“Kamu kenapa Han? Kok galau terus dari kemarin.”


“Bang Barra, mi..”


“Barra kenapa?”


“Dia kaya ngehindarin aku, mi.”


“Ya wajar sih. Siapa juga yang ngga nyesek digantung hampir dua bulan. Apa yang kamu lakukan itu ngga baik. Barra itu laki-laki baik, dia serius dan punya itikad baik menikahimu, tapi kamu malah gantungin dia gara-gara mantan kamu.”


Rayi memang tahu tentang perjalanan cinta sang anak, karena Hanna selalu terbuka padanya. Begitu pula soal lamaran Barra dan kebingungan Hanna saat tiba-tiba Tozaki datang dan ingin kembali padanya. Pria itu siap berkomitmen dengan Hanna. Sebagai orang tua, Rayi berusaha bersikap bijak dengan tidak terlalu mengatur kehidupan anaknya, dia hanya mengarahkan saja kalau sang anak membutuhkan masukan.


Perihal Barra yang masih digantung Hanna, sudah dia dengar dari banyak orang. Salah satunya adalah Adinda. Sahabatnya itu kerap menanyakan perihal perasaan Hanna pada Barra. Dia tak tega melihat anaknya terus menerus dibuat dalam situasi yang tak pasti. Kalau memang Hanna tak menerima Barra, Adinda sudah menyiapkan seorang gadis yang akan dikenalkan pada anaknya itu.


“Sebenarnya apa sih yang bikin kamu galau. Dilihat dari segi manapun, Barra itu lebih dari Toza. Dan yang terpenting, dia lebih mampu membimbingmu, bisa menjadi imam untukmu. Itu yang terpenting. Kamu pernah bilang pengen punya suami seperti pipi. Sekarang kamu pikirkan, diantara Barra danToza. Siapa yang lebih mendekati kepribadian pipimu, Barra apa Toza? Jangan sampai kamu kehilangan pria baik hanya karena sisa perasaan pada sang mantan.”


Rayi tak mau terlalu banyak berbicara. Dia segera keluar dari kamar sang anak, membiarkannya memikirkan apa yang dikatakannya tadi. Sebenarnya dia dan Anfa bisa saja langsung menjodohkan Hanna dan Barra, tapi mereka tidak mau melakukan itu. Jika memang Hanna dan Barra berjodoh, biarkanlah mereka menemukan jalan sendiri untuk bersatu. Sebagai orang tua, mereka hanya bisa mengarahkan dan mendoakan saja.


Perasaan Hanna semakin tak menentu begitu mendengar ucapan sang mama. Sebenarnya gadis itu pun hampir setiap hari melakukan shalat istikharah, dan semakin ke sini hatinya sudah tahu siapa yang akan menjadi pillihannya. Namun entah mengapa dia masih enggan menarik satu kakinya dan tetap membiarkan keduanya berada di dua perahu.


☘️☘️☘️


Perhatian Barra langsung tertuju pada Hanna yang tengah berbicara dengan Tozaki di dekat tangga, begitu kakinya melangkah masuk ke gedung Ocean Corporation. Dia memang sengaja datang menemui Anfa untuk membicarakan kontrak pekerjaan. Harusnya Jojo yang datang, namun karena ayahnya sibuk dengan pernikahan Naya yang akan digelar tiga hari lagi, terpaksa dia yang menggantikan.


Hati Barra memanas saat melihat Hanna tengah berpelukan dengan Tozaki. Dia semakin yakin kalau Hanna benar-benar telah memilih mandor Romusha itu dari pada dirinya. Dengan cepat Barra memutar tubuhnya, bermaksud untuk pergi. Sayang, kehadirannya tertangkap oleh Hanna. Gadis itu memanggil namanya seraya berlari kecil ke arahnya.


“Bang.. mau kemana?”


“Balik ke kantor, ada berkas yang ketinggalan.”


“Bang.. sebentar. Bisa kita bicara?”


Ingin rasanya Barra menolak karena sudah tahu apa yang akan dibicarakan gadis itu. Tapi rasanya dia seperti pengecut saja kalau menghindarinya. Dengan langkah berat, Barra memutar tubuhnya menghadap Hanna. Nampak gadis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Tubuh Barra semakin lemas saat Hanna menyerahkan kotak beluduru yang dulu diberikan olehnya.


“Bang.. ini..”


☘️☘️☘️


**Selamat Hari Raya Idul Adha, Mohon Maaf Lahir Batin🙏


Kemarin mamake sengaja ngga up takut molor seperti hari Sabtu kemarin. Mamake up dari shubuh baru nongol siang menjelang sore🤧 mudah²an review kali ini cepet ya. Akhir² ini sering dibikin bengek sama si anu yg sukses bikin mood ambyar.


Buat yang baca My Hot Guys, dimohon jangan nabung bab ya. Kemarin malam mamake up bab baru. In Syaa Allah malam ini juga up. Makasih🙏😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2