
“Bang.. ini..”
“Iya, ngga apa-apa, Han. Aku ngerti kok. Makasih udah kasih aku kesempatan dekat sama kamu,” Barra mengambil kotak beludru itu lalu memasukkannya ke saku celananya.
“Bang.. bukan begitu. Aku..”
“Aku ngerti, Han. Udah, aku ngga apa-apa. Aku ikhlas, aku doakan kamu bahagia bersama Toza.”
“Bang.. bukan begitu…”
“Han.. aku ngerti kok. Udah ya, aku pergi dulu.”
“Abang bisa diem dulu ngga sih?!! Biarin aku selesai ngomong dulu!!”
Hanna berteriak kesal karena sedari tadi Barra terus saja memotong ucapannya. Melihat kekesalan gadis di depannya, akhirnya Barra mengalah. Pria itu diam, menunggu apa yang akan keluar dari mulut Hanna. Dia akan mendengarkan walau terasa sakit di telinga.
“Itu kotak kenapa abang masukin ke saku sih?”
“Kan kamu yang kembaliin.”
“Makanya dengerin dulu aku ngomong, jangan dipotong-potong. Maksud aku kembaliin kotak itu, supaya abang sendiri yang pakein cincin itu ke aku. Masa aku yang dilamar, aku sendiri yang pake cincin itu.”
“Maksudnya kamu gimana?”
“Ya ampun abaaaaang. Itu cincinnya pakein ke jari aku. Aku terima lamaran abang.”
“Bukannya kamu sama Toza? Tadi kan kalian pelukan.”
“Ngga bang. Barusan aku kasih jawaban ke dia kalau aku ngga bisa sama dia, karena aku milih abang. Dan dia cuma mau kasih pelukan terakhir, itu aja.”
Seperti orang bodoh, Barra malah terbengong mendengar penuturan Hanna. Kesadarannya kembali ketika Hanna melambaikan tangan ke depan wajahnya.
“Bang.. iih malah bengong.”
“Jadi… kamu milih abang?”
“Iyyaaaa,” gemas Hanna.
“YUHUUUUU… YESSS… WHOAAAA… HANNA TERIMA LAMARAN GUE, YESS.. YESS..”
Hanna terlonjak mendengar teriakan Barra yang diiringi dengan lompatan badan pria itu. Dia langsung menundukkan kepalanya begitu melihat beberapa orang yang melintas menatap ke arah mereka. Namun Barra tak mempedulikan semua itu. Dia masih bereuforia setelah mendengar jawaban Hanna. Dengan cepat diambilnya kotak beludru dari saku celananya. Dibukanya kotak tersebut lalu mengeluarkan isinya. Dengan wajah sumringah, dia menyematkan cincin di jari manis Hanna.
“Makasih ya Han, udah terima lamaranku.”
“Maafin aku ya, bang. Kalau terlalu lama buat abang nunggu. Dan makasih udah mau sabar dengan kegalonanku.”
“Ngga apa-apa, Han. Kamu memang layak untuk ditunggu. I love you, Hanna.”
Kebahagiaan Barra sudah tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Penantian panjangnya akhirnya berakhir sudah dan memberikan hasil yang manis. Dengan cepat pria itu menarik Hanna dalam pelukannya. Seperti halnya Barra, Hanna pun merasakan kebahagiaan yang sama. Dia tak mau kehilangan sosok pria seperti Barra. Seperti yang mamanya katakan, Barra memiliki semua kriteria yang diinginkannya untuk dijadikan suami. Tangan gadis itu melingkari pinggang Barra. Senyum manis mengembang di wajah cantiknya.
“Pipi kamu ada?” tanya Barra setelah mengurai pelukan mereka.
“Ada.”
“Anterin yuk. Aku mau ketemu pipi.”
“Mau ngapain?” tanya Hanna curiga.
“Nganterin berkas.”
“Katanya ketinggalan.”
“Ngga kok, ada.”
Barra berjalan menuju lift sambil menggandeng tangan Hanna. Tanpa mempedulikan tatapan semua orang, pria itu memasuki kotak besi bersama dengan wanita yang sekarang sudah resmi menjadi calon istrinya. Hanna melirik ke arah Barra, senyum nampak menghiasi wajah pria itu. Senyum yang beberapa hari terakhir ini tak dilihatnya. Dia baru menyadari betapa dirinya merindukan senyum manis itu.
“Besok aku mau ngelamar kamu,” ujar Barra.
“Bukannya keluarga abang lagi sibuk ya. Kan Naya mau nikah sama bang Aric.”
“Oh iya,” Barra menepuk keningnya.
“Abis pernikahan estafet aja, bang.”
“Enaknya sih hari Kamis nanti kita langsung nikah, Han. Biar tuh calon pengantin estafet kejang-kejang hahaha..”
“Ish abang. Tega gitu lihat bang Aric, bang Ravin sama bang Fathan masuk IGD hihihi..”
Hanna tak bisa menahan tawanya membayangkan para calon pengantin estafet harus kembali menerima salipan. Walau kelihatannya seru menyalip para calon pengantin tersebut, namun itu tidak bisa dilakukan. Pasti Anfa tidak akan setuju.
Sepasang kekasih baru itu keluar dari lift setelah sampai di lantai tempat ruangan Anfa berada. Darian yang kebetulan baru keluar dari ruangan bosnya langsung berdehem melihat pasangan yang sudah seperti truk gandeng. Hanna menundukkan kepalanya, tak berani melihat ke arah asisten sekaligus sepupu pipinya itu. Keduanya kemudian masuk ke dalam ruangan.
Pandangan Anfa langsung tertuju pada dua tangan yang saling menggenggam ketika Barra dan Hanna masuk ke dalam ruangan. Melihat arah pandang sang ayah, Hanna buru-buru melepaskan tautan tangan Barra.
“Om.. aku mau kasih berkas dari papa.”
Barra mengeluarkan berkas dari tas kerjanya kemudian memberikan pada Anfa. Pria itu mempersilahkan Barra untuk duduk di sofa. Hanna menundukkan kepalanya ketika Anfa terus melihat ke arahnya. Berkas yang tadi diberikan oleh Barra diletakkan begitu saja di meja.
“Kamu ngga ada kerjaan, Han?”
“A.. ada pak.”
“Terus ngapain di sini? Apa kamu takut Barra tersesat makanya sampai diantar ke sini?”
“Bu.. bukan gitu pak.”
“Maaf pak Anfa. Tadi saya yang minta diantar sama Hanna. Soalnya saya takut naik lift sendiri. Badan saya suka gemeteran,” jawab Barra asal yang disambut pelototan mata Hanna.
__ADS_1
“Oh.. saking gemetarannya sampe pegangan kaya truk gandeng.”
Barra hanya nyengir saja mendengar ledekan ayah dari calon istrinya. Dia belum berani menganggap Anfa calon mertua karena belum melamar secara resmi. Hanna semakin menundukkan kepalanya, dia masih belum tahu bagaimana reaksi sang ayah. Dulu, Anfa dengan tegas mengatakan tidak menyetujui Hanna berpacaran. Dia menjalin hubungan dengan Tozaki pun tanpa sepengetahuan Anfa.
“Barra.. om tunggu lamaran kamu setelah pernikahan Azra.”
Baik Barra maupun Hanna terkejut dengan perkataan Anfa. Kompak keduanya melihat ke arah pria itu. Anfa hanya membalas tatapan mereka dengan senyuman. Kelegaan nampak terlihat di wajah Hanna. Barra yang baru saja mendapat lampu hijau sudah pasti senang bukan kepalang mendengarnya.
“Siap, om,” jawabnya dengan suara tegas.
☘️☘️☘️
Dengan wajah tanpa ekspresi, Zahra memandangi Kenan yang tiba-tiba saja sudah muncul di depannya. Pria itu mendatangi dirinya di kampus usai jam kuliah. Beberapa teman Zahra yang mengenali Kenan langsung heboh. Namun pemuda itu nampak tak peduli. Sebelum sempat Zahra menanyakan maksud kedatangannya, Kenan sudah menarik tangan gadis itu. Di tempat yang cukup sepi, Kenan melepaskan pegangan tangannya lalu melihat ke arah Zahra.
“Za.. aku mau minta tolong.”
“Minta tolong apa?”
“Kakak iparku lagi ngidam.”
“Terus apa hubungannya denganku?”
“Dia mau lihat kita makan bareng. Bukan cuma foto, tapi dia pengen kita video call waktu makan bareng.”
“Ngga mau. Itu paling modus kamu doang.”
“Nih ya aku telepon kalo ngga percaya.”
Kenan mengambil ponsel dari saku dalam jaketnya kemudian segera menghubungi Nara. Dia sengaja melakukan panggilan dengan mode loud speak, supaya Zahra bisa mendengar percakapan mereka. Setelah tiga kali deringan, Nara menjawab panggilannya.
“Halo..”
“Halo kak.”
“Kenapa telepon? Aku mau video call, tar kamu bohong lagi.”
“Eh belum kak. Ini baru ketemu Zahra, tapi dia ngga percaya. Katanya aku cuma modus doang.”
“Makanya kamu jangan keseringan modus, Nan. Giliran beneran malah ngga percaya kan.”
Kenan hanya nyengir mendengar ucapan kakak iparnya. Memang benar dirinya sering kali melakukan modus operandi saat mendekati Zahra. Dan permintaan ibu hamil kali ini juga hasil modusnya. Namun dengan berbaik hati, kakak iparnya itu mau membantu.
“Zahra.. maaf ya mau ngerepotin. Aku emang lagi pengen lihat Kenan makan bareng sama perempuan. Mungkin calon keponakannya ini pengen lihat omnya ngga jomblo lagi. Mau kan?”
“Ya ampun kak, jomblonya jangan disebut napa.”
“Maaf kak Nara, aku ngga bisa. Minta tolong sama yang lain aja, kak.”
“Oh gitu ya. Ya udah ngga apa-apa,” nada Nara terdengar kecewa. Wanita itu langsung mengakhiri panggilannya.
“Za.. kamu tega banget sih. Ini permintaan ibu hamil, loh.”
“Kamu kenapa sih? Salah aku apa coba? Sejak kita jalan-jalan kamu jadi ketus sama aku. Pesanku cuma diread aja, panggilan aku juga ngga dijawab,” kesal Kenan. Zahra mengabaikan perkataan pemuda itu, dia memilih langsung pergi. Tak mau menyerah, Kenan segera mengejar Zahra.
“Za.. ayo dong bantu aku.”
“Ngga mau.”
“Please Za…” ucapan Kenan tehenti ketika ponselnya berdering.
“Mampos gue, lakinya nelepon,” gumam Kenan pelan. Pria itu lalu menjawab panggilannya.
“Halo.”
“NAAAN!! LO APAIN BINI GUE SAMPE NANGIS?!”
Kenan menjauhkan ponsel dari telinganya. Zahra sampai terkesiap mendengar suara kencang Kenzie. Bukan hanya Nara yang dilibatkan sandiwara modus, namun sang kakak juga dipaksa untuk terlibat. Sudah pasti ada andil Nara dalam memaksa Kenzie membantu adiknya.
“Ampun bang, tuh suara udah kaya toa masjid. Iye-iye gue lagi usaha, jangan marah-marah napa.”
“Gue ngga mau tau ya. Lo udah sanggup nurutin ngidamnya Nara. Kalo si Zahra ngga mau makan sama elo, gue datengin tuh anak sekarang. Gue bakal seret biar mau makan sama elo!!”
Tanpa menunggu jawaban Kenan, Kenzie segera mengakhiri panggilannya. Kenan lalu melihat pada Zahra. Dia yakin kalau gadis itu mendengar kata-kata Kenzie barusan. Wajah gadis itu masih terlihat terkejut.
“Kamu dengar sendiri kan, Za. Abangku kalo udah marah serem banget. Maklumlah dia bucin ama istrinya. Gini deh, kalau kamu mau makan bareng aku sambil video call sama kak Nara, aku janji ngga akan ganggu kamu lagi. Ini yang terakhir aku repotin kamu, gimana? Mau ya?”
Takut dengan ancaman Kenzie, akhirnya Zahra menganggukkan kepalanya. Tentu saja Kenan bersorak dalam hati. Setelah berhasil mengajak makan bareng Zahra. Langkah selanjutnya menjalankan rencana Freya, menjaga jarak dari Zahra. Membuat gadis itu merasa kehilangan dirinya baru mulai tancap gas lagi. Kenan sungguh berharap usahanya mendekati Zahra membuahkan hasil, karena perasaannya sudah terlanjur dalam pada gadis itu.
Kenan mengajak Zahra makan siang di café yang dekat dengan kampus. Tanpa malu, Zahra memesan beberapa makanan kesukaannya. Perutnya memang sudah lapar, apalagi jam tiga nanti dia harus ke rumah sakit. Harusnya hari ini adalah jadwal liburnya, tapi seorang temannya meminta berganti shift. Alhasil hari libur Zahra bergeser esok hari.
“Kakak ipar kamu hamil berapa minggu?”
“Baru enam minggu kayaknya, tapi banyak maunya. Anehnya tuh ngidamnya selalu berhubungan sama makanan. Baru kali ini aja agak beda, tapi tetep aja ujung-ujungnya makan juga.”
“Terus kenapa harus aku?”
“Ya kan kamu calon makmumnya aku,” jawab Kenan enteng, membuat Zahra tersedak. Buru-buru Kenan memberi minum gadis itu.
“By the way, kamu kenapa sih hindarin aku? Emangnya aku salah apa?”
“Kamu ngga salah, kok. Cuma akunya aja yang belum mau berhubungan dekat apalagi berkomitmen dengan laki-laki.”
“Kenapa?”
“Karena laki-laki itu ngga setia.”
Kenan terbengong mendengar ucapan Zahra. Otaknya langsung bekerja, menganalisis kenapa gadis di hadapannya sampai mengatakan hal tersebut. Kemungkinannya hanya satu, dia pasti sudah dikecewakan oleh laki-laki. Tapi setahunya Zahra tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun, Kenan berkesimpulan kekecewaan Zahra bisa jadi karena ayahnya.
__ADS_1
“Hanya karena satu orang ngga setia, jangan sampai kamu memvonis semua cowok ngga setia. Contohnya aku, aku setia loh.”
“Iya, setia pas lagi ngejarnya aja. Begitu udah dapet juga ditinggalin begitu lihat yang masih muda dan bening. Makanya banyak sinetron tentang orang ketiga, karena memang itu kenyataan yang banyak terjadi. Istrinya hamil, eh dianya malah selingkuh.”
Zahra seperti tengah melepaskan kekesalannya akan perbuatan papanya yang berselingkuh saat mamanya tengah mengandung Silva. Kandungan mamanya waktu itu menginjak usia tujuh bulan saat memergoki papanya yang tengah bercumbu dengan rekan kerjanya. Bukannya merasa bersalah, papanya malah bersikap kasar hingga mamanya pendarahan dan membuat sang adik lahir lebih cepat.
“Emang sih banyak cowok brengsek seperti itu, tapi ngga semua. Yang baik dan setia juga banyak. Contohnya papaku. Papa tuh cinta banget sama mama, jangankan selingkuh, ngasih ruang buat para cewek deketin dia aja ngga. Padahal nih banyak yang naksir papa. Maklum aja, selain mapan, papa kan ganteng kaya aku.”
Zahra hanya mendesis mendengar kenarsisan Kenan diakhir perkataannya. Pemuda itu hanya tersenyum saja menanggapi reaksi Zahra. Mendengar cerita Kenan, Zahra baru sadar siapa sebenarnya pria di hadapannya ini. Kenan adalah anak dari Abimanyu Hikmat, CEO Metro East. Kehidupan rumah tangganya memang tidak banyak terekspos media, namun dari kabar yang didengarnya pria itu memang tipikal setia.
“Makanya aku sama bang Ken tuh dapet warisan kesetiaan dari papaku. Bukan cuma aku atau kakakku, tapi semua cowok dari gen keluargaku keturunan setia semua loh. Jadi don’t judge a book by its cover. Kamu belum tahu kalau belum coba pacaran sama aku. Tak coba maka tak sayang.”
“Dih peribahasa dari mana itu?”
“Dari aku lah, yang ganteng ini.”
“Narsis..”
Sebuah senyuman kemudian menghiasi wajah Zahra, membuat hati Kenan tambah cenat-cenut. Pemuda itu lalu mengambil ponsel dan melakukan panggilan video dengan Nara. Dia berpindah duduk di samping Zahra, memperlihatkan kebersamaan mereka pada Nara.
Pembicaraan ringan langsung mengalir. Nara yang ramah dan supel membuat Zahra tak canggung ketika diajak berbicara olehnya. Namun pembicaraan dikejutkan dengan kedatangan Kenzie yang tiba-tiba. Pria itu duduk di samping sang istri kemudian mengecup bibir Nara tanpa mempedulikan kedua jomblo yang tengah berbicara dengan Nara.
Kenan langsung mengakhiri panggilan. Dia melihat ke arah Zahra yang wajahnya bersemu merah setelah melihat aksi Kenzie barusan. Beberapa kali gadis itu berdehem untuk mengusir kegugupannya. Kenan hanya cengar-cengir seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Hehehe.. maklumin aja ya, Za. Bang Ken emang suka ngga lihat tempat kalau bucin. Itulah virus keluargaku, Za. Kalau udah nyantol sama satu cewek langsung kena bucin.”
“Termasuk kamu?”
“Ya iyalah, termasuk aku. Kamu kan udah ngerasain kebucinan aku.”
Zahra memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tak sanggup melihat mata Kenan yang terus menatap ke arahnya. Dadanya selalu berdegup kencang jika beradu mata dengan Kenan. Zahra bukanlah gadis bodoh, dia tahu apa yang dirasakannya pada Kenan adalah benih-benih cinta yang mulai tumbuh. Namun traumanya akan perselingkuhan sang ayah membuat gadis itu selalu ragu untuk maju menyambut uluran tangan Kenan.
“Makasih ya, Za. Udah mau bantuin aku menuhin ngidamnya kak Nara. Tenang aja, aku bakalan tepatin janjiku, ngga ganggu kamu lagi. Aku duluan ya, harus fitting baju buat nikahan kakakku. Bye, Za.”
Kenan mengambil tas ranselnya lalu berjalan menuju kasir untuk membayar pesanan mereka. Walau tak rela berpisah, namun dia harus menjalankan rencana ini, demi bisa mendapatkan Zahra. Sebelum keluar dari café, Kenan melihat sekilas ke arah Zahra. Gadis itu masih duduk termenung di tempatnya.
☘️☘️☘️
Udara dingin yang berasal dari air conditioner langsung menerpa indra perasa Zahra. Gadis itu baru saja melangkahkan kakinya memasuki mall Andhara. Di hari liburnya, dia bermaksud membeli pakaian. Besok sampai dua hari ke depan, dia mendapat pekerjaan sebagai wedding singer. Namun gadis itu tak tahu kalau pernikahan itu adalah pernikahan yang digelar oleh keluarga Hikmat yang tak lain adalah keluarga Kenan.
Gadis itu berjalan menyusuri area tenant lalu memutuskan masuk ke departemen store dan menuju ke area yang khusus memajang pakaian wanita. Ketika sedang memilih-milih pakaian, tanpa sengaja dia melihat pasangan kekasih di sebelahnya. Melihat kemesraan keduanya, Zahra tiba-tiba saja teringat pada Kenan. Sesuai janjinya, pemuda itu tak lagi menghubunginya sejak kemarin setelah makan siang.
Zahra mengambil ponsel untuk memeriksanya. Ponselnya terlihat sepi, biasanya Kenan sudah mengirimkan belasan pesan padanya atau panggilan tak terjawab darinya. Sejenak gadis itu termenung, seperti ada yang hilang dalam hatinya. Padahal baru pesan dan telepon pria itu yang tak ada, bagaimana jika benar dia tak menunjukkan batang hidungnya lagi. Mood Zahra langsung turun saat mengingat ketiadaan Kenan. Semangatnya untuk membeli pakaian langsung lenyap begitu saja.
Kehilangan mood, Zahra memutuskan keluar dari departemen store, gadis itu berjalan asal mengelilingi mall. Di dekat sebuah butik yang menjual pakaian dari desain ternama, Zahra menangkap sosok Abi tengah berdiri di sana. Melihat Abi sedikit mengobati kerinduannya pada Kenan, karena pemuda itu memang begitu mirip dengan sang papa. Tak lama terlihat seorang wanita yang berusia sekitar empat puluh tahunan mendekati Abi.
“Pak Abi..”
Abi menolehkan wajahnya ke arah wanita itu. tak ada ekspresi apapun yang ditunjukkannya, hanya saja wanita yang tadi menyapanya melemparkan senyum menggoda.
“Kebetulan bertemu dengan pak Abi di sini. Bapak tidak keberatan kalau kita ke kedai kopi? Ada yang ingin saya bicarakan,” wanita itu berjalan mendekati Abi. Baru saja dia akan menyentuh tangan Abi ketika ketiba-tiba sebuah tangan mencekal pergelangan tangan wanita itu.
“Maaf tante.. saya keberatan tante pergi bareng om Abi.”
“Om?” tanya wanita itu pada gadis muda yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Gadis yang tak lain adalah Freya melihat tak suka pada wanita di depannya.
“Iya, om Abi.”
“Kamu keponakannya?”
“Bukan. Aku sugar baby-nya,” jawab Freya santai.
Mata wanita itu membelalak mendengar pengakuan Freya, begitu pula dengan Zahra yang memang berdiri tak jauh dari mereka, jadi bisa mendengar dengan jelas apa yang Freya katakan. Dalam hatinya merasa miris, Kenan yang begitu membanggakan kesetiaan papanya, ternyata pria itu sama brengseknya dengan sang ayah. Abi memijit keningnya melihat kelakuan putri tunggalnya itu.
“Kamu pasti bohong. Ngga mungkin pak Abi punya sugar baby.”
“Apanya yang ngga mungkin, tante. Om Abi itu biar sudah berumur tapi masih ganteng dan kuat. Dan yang pasti masih normal. Om Abi pasti lebih seneng sama aku yang masih muda, cantik dan punya bodi bagus. Ngaca tante, tante tuh ngga pantes sama om Abi. Dibanding istrinya, tante masih kalah jauh.”
Kesal mendengar celotehan Freya dan tak adanya penyangkalan dari Abi, wanita itu memilih pergi. Freya tersenyum senang berhasil mengusir ulet bulu yang mencoba menggoda papanya. Namun senyumnya hilang ketika mendapat sentilan di keningnya.
“Aduh!! sakit papa!” teriak Freya seraya mengusap keningnya yang terasa panas. Zahra yang hendak pergi, menolehkan kepalanya lagi. Dia kembali terkejut ketika Freya menyebut kata papa.
“Mana mama?”
“Mama masih fitting baju. Ish.. papa, sakit tau.”
“Lagian siapa suruh kamu ngaku-ngaku jadi sugar baby papa? Kalau gosipnya nyebar gimana?”
“Biarin aja. Kan kenyataannya papaku setia,” Freya memeluk lengan Abi lalu menyandarkan kepala di sana.
“Lagian aku cuma mau bantu papa aja. Demi mencegah papa berbuat dosa, aku rela jadi tameng.”
“Dosa apa?”
“Pasti mulut papa udah gatel kan pengen nyembur si tante tadi? Makanya aku langsung bertindak. Aku kan ngga mau malaikat Atid nyatet semburan bon cabe papa.”
Dengan kesal Abi menjitak kepala anaknya ini. Entah mengapa semua anaknya tidak ada yang beres kalau berucap. Apa salah dan dosaku Tuhan, begitu kira-kira suara hati Abi. Nina yang baru saja keluar dari butik segera menghampiri anak dan suaminya.
“Ada apa ini?”
“Ada ulet bulu, ma. Tapi tenang aja, aku udah usir tuh ulet bulu pake jurus Freya.”
“Jurus pelakor maksudnya?” seru Nina santai yang langsung disambut kekehan Abi dan cengiran Freya.
Zahra masih tergugu di tempatnya. Sesaat dia berprasangka buruk pada Abi ketika melihat akting Freya. Kini dia terlihat cemburu melihat keharmonisan keluarga itu. Melihat Freya yang begitu dekat dengan Abi, membuat hatinya menjerit, andai papanya bisa bersikap seperti itu padanya. Belum sempat Zahra beranjak, Freya telah menyadari keberadaan gadis itu.
“Zahra..”
__ADS_1
☘️☘️☘️
Kenan ngga nongol yang nongol malah keluarganya ya, Za😂