
Hai readers... gimana kabarnya. Mamake kangen nih sama kalian semua. Setelah hiatus selama 2 hari, I'm Back... Rencananya kemarin sore mamake mau up. Tapi ayah sakit, jd proses penulisannya sedikit tertunda. Terima kasih buat kalian semua yang masih setia menunggu kelanjutan kisah ini. In Syaa Allah mamake akan meneruskan cerita ini sampai selesai.
Happy Reading Gaaaaeeesss
********************************************
Rahma memutuskan untuk membuat syukuran kecil-kecilan atas kehamilan Sekar. Siang harinya akan digelar pengajian untuk mendoakan Sekar atas kehamilannya, keselamatan Nina menjelang hari kelahiran dan juga mendoakan Nadia agar segera diberikan momongan lagi. Sedang malam harinya dia menyiapkan makan malam untuk seluruh anggota keluarga dan sahabat anak-anaknya.
Sekar diminta menginap di rumah selama seminggu, agar Rahma bisa memanjakan sang putri yang tengah hamil muda. Cakra juga tidak keberatan akan hal itu. Setidaknya dirinya akan tenang meninggalkan sang istri jika bekerja. Pria itu sudah mulai aktif mengelola perusahaan baru yang merupakan merger dari perusahaan di Jepang.
Usai pengajian, tiga wanita cantik tengah berkumpul di ruang tengah. Ketiganya asik menonton drama Korea yang tengah on going di negaranya. Sesekali terdengar pujian dari mulut mereka akan tokoh utama di drama tersebut. Selain tampan, sang aktor juga memiliki kemampuan akting yang baik.
Nina sedari tadi tak berhenti mengemil. Ada saja makanan yang masuk ke mulutnya. Mulai dari makanan berat sampai cemilan. Ditambah dengan jus dan milkshake. Kini, Nina tengah asik memakan bakso. Nadia mengingatkan Nina agar tidak terlalu banyak sambal. Namun ibu hamil itu tak mengindahkannya.
Sekar meletakkan mangkok baso di atas meja. Baru saja dua suap, dia sudah merasa mual. Kemudian ponselnya berdering, senyum tercetak di wajahnya ketika melihat panggilan masuk dari Cakra. Wanita itu beranjak menjauh dari ruang tengah, agar lebih leluasa berbicara dengan sang suami.
Mulut Nina tak berhenti mendesis menahan rasa pedas yang membuat bibirnya panas. Disambarnya gelas berisi air putih lalu meneguknya sampai habis. Lalu dia beranjak menuju dapur. Dibukanya pintu kulkas kemudian mengambil puding dari dalamnya, berharap rasa pedas akan berkurang setelah memakannya.
Kini di ruang tengah, hanya ada Nadia saja. Wanita itu masih khusyu memandangi wajah Yoo Seung Ho, pemeran utama pria di drama ini. Bahkan saking tertariknya Nadia pada oppa Korea berwajah tampan ini, Juna sempat dibuat cemburu olehnya. Keasikan Nadia terganggung ketika mendengar suara Nina. Dengan cepat dia menghampiri adik iparnya yang tengah meringis seraya memegangi perutnya.
“Nina.. kamu kenapa?”
“Sakit kak, perutku sakit.”
Nina memegangi perutnya, membuat Nadia menjadi panik. Seketika dia terbayang saat harus kehilangan bayinya.
“Ka.. kamu mau melahirkan Nin?”
“Hah?”
Nadia yang panik tak memperhatikan raut wajah Nina yang nampak kebingungan. Dia malah sibuk mencari ponselnya. Sementara itu Nina yang sudah tak kuat, bergegas menuju kamar.
Nadia menempelkan ponsel ke telinganya. Dengan tak mau diam, dia menunggu panggilannya dijawab oleh Abi. Satu panggilan terabaikan, Nadia tak putus asa, dia kembali menghubungi sahabat sekaligus adik iparnya itu. Dan akhirnya Abi menjawab panggilannya.
“Halo Bi.. Bi.. Nina Bi..”
“Nina kenapa?” mendengar suara panik Nadia, Abi di seberang sana ikutan cemas.
“Nina mau melahirkan Bi?”
“Hah? Masa sih, kan baru delapan bulan.”
“Ya mana kutahu.”
“Aku pulang sekarang.”
Abi memutuskan panggilannya. Nadia kemudian menghubungi bi Ita, meminta wanita paruh baya itu mengantarkan tas beserta keperluan bayi ke rumah Teddy. Lalu dia bergegas ke depan, meminta pak Kamal menyiapkan mobil.
Nina keluar dari kamar mandi. Perutnya sudah terasa baikan setelah mengeluarkannya. Gara-gara bakso pedas yang dimakannya tadi, perutnya mulas. Ibu hamil itu keluar dari kamar, dia bermaksud melanjutkan tontonannya. Nina melongo melihat Nadia dan Sekar tengah sibuk menyiapkan keperluan lahiran.
“Kalian lagi ngapain?”
Nina memandangi beberapa pakaian bayi yang dibelinya sudah tertata rapih di dalam tas. Demikian juga dengan diapres, peralatan dan perlengkapan mandi bayi.
“Ini mau dibawa kemana?” tanya Nina.
“Ke rumah sakit,” jawab Nadia tanpa melihat ke arah Nina.
“Ngapain ke rumah sakit?”
“Kan kamu mau lahi...ran.”
Nadia memandangi Nina yang terlihat biasa saja. Bahkan wanita itu tengah asik menikmati camilan yang tersisa di atas meja. Begitu juga dengan Sekar, padahal info yang didapat dari Nadia, Nina akan segera melahirkan.
“Loh.. kak Nina ngga apa-apa?” Katanya tadi mules perutnya, kontraksi kan?”
“Aku mules, sakit perut gara-gara makan bakso kepedesan tadi.”
“Hah? Mules sakit perut? Bukan mau melahirkan?” Nadia tampak terkejut.
“Iya, kenapa emang?” Nina menyuapkan potongan kroket kentang ke dalam mulutnya.
“Waduh...”
Nadia terlihat panik. Dia terlanjur menghubungi Abi dan mengatakan Nina akan segera melahirkan. Belum hilang kepanikannya, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah yang disusul kemudian dengan teriakan Abi memanggil nama Nina. Nadia segera kabur dari ruang tengah untuk mencari tempat bersembunyi. Namun melihat Abi sudah memasuki rumah, Nadia memilih masuk ke kolong meja makan untuk bersembunyi.
“Sayang.. kamu kenapa? Beneran mau ngelahirin? Kan baru delapan bulan?”
Abi memeriksa keadaan Nina, wajahnya nampak panik. Sedangkan yang dikhawatirkan masih asik memakan camilannya. Sekar yang masih bingung hanya diam menyimak saja. Rahma yang baru pulang menengok tetangga yang sakit cukup terkejut mendengar ucapan Abi.
“Nina kenapa?”
“Tadi kata Nadia, Nina mau melahirkan,” jelas Abi.
“Udah mulai kontraksi?”
__ADS_1
“Ngga ma. Barusan perutku emang sakit, tapi mules gara-gara makan baso kepedesan tadi. Kak Nadia ngira aku mau melahirkan.”
Abi terkejut mendengar penuturan istrinya. Matanya langsung berkeliling mencari keberadaan Nadia. Gara-gara informasi palsunya, dia meninggalkan klien penting begitu saja dan menyetir seperti orang gila agar secepatnya tiba di rumah.
“Dasar tukang hoax, Nadia!!”
“Kenapa sama Nadia?” terdengar suara Juna yang baru datang. Pria itu juga mendapat panggilan yang sama dari istrinya.
“Itu kak, kak Nadia nyangka kak Nina mau ngelahirin terus langsung nelpon kak Abi.”
“Dia juga nelpon kakak. Emangnya Nina ngga jadi ngelahirin.”
“Sakit perut aja kak, abis makan baso pedes,” Nina memamerkan cengiran khasnya.
“Nadia!! Mana tuh orang, pasti ngumpet tuh abis kasih informasi hoax. Bikin orang pontang-panting pulang ke rumah,” gerutu Abi.
Juna hanya mengulas senyum tipis. Pria itu langsung berkeliling mencari keberadaan istrinya. Saat tiba di ruang makan, matanya menangkap jari kaki tersembul dari bawah meja makan. Juna berjongkok kemudian menyibakkan taplak meja yang menjuntai dan menemukan keberadaan istrinya di sana.
“Sayang.. lagi apa kamu?”
“Mas Juna... tolong mas, aku susah mau keluar ini.”
“Hahaha...”
Juna menarik tangan sang istri kemudian membawanya keluar dari kolong meja. Dengan susah payah Nadia berdiri. Kakinya sudah kesemutan karena berjongkok terlalu lama. Juna merangkul Nadia menuju ruang tengah. Wanita itu langsung bersembunyi di belakang punggung suaminya ketika melihat Abi.
“Nah penyebar hoax nongol juga,” ketus Abi.
“Sorry Bi.. panik tadi, peace ya.”
Nadia masih bersembunyi di belakang Juna, hanya dua jarinya saja yang nongol dan mengarah ke arah adik iparnya itu. Abi hanya melengos kesal.
“Bener-bener sukses bikin jantungan tau ngga!”
“Ck.. kan Nadia udah minta maaf.”
Nina menepuk pundak Abi, membuat pria itu menoleh ke arah sang istri. Nina menyuapkan dulu potongan terakhir kroket kentang ke dalam mulutnya sebelum berbicara. Setelah makanan itu berhasil ditelannya, barulah ibu hamil itu berbicara.
“Mas.. mulai sekarang harus panggil kak Nadia lebih sopan. Kan itu kakak iparnya mas.”
“Betul Nin, emang adek ngga ada akhlak dia,” sambar Juna.
“Males,” sahut Abi.
“Pokoknya aku mau denger mas Abi manggil nuna sama kak Nadia.”
“Iya. Nuna dari bahasa Korea, itu panggilan adik laki-laki buat kakak perempuan. Coba panggil mas, nuna gitu.”
“Ngga mau!”
“Ayo mas, si utun yang mau denger.”
Nina mengusap perutnya seraya mengedipkan mata ala puppy eyes. Abi menghela nafasnya, kalau sudah menyangkut sang bayi dan melihat wajah sang istri yang menggemaskan, Abi tak berdaya untuk menolaknya.
“Ayo mas,” desak Nina.
“Nuna,” panggil Abi pelan.
“Yang kenceng mas.”
“Nuna!”
Semua yang ada di ruangan berusaha menahan tawanya mendengar Abi memanggil Nadia dengan sebutan Nuna. Dengan kesal, Abi menarik tangan sang istri menuju kamarnya. Sepeninggal Abi, tawa mereka pecah seketika.
☘️☘️☘️
Malam harinya, satu per satu para sahabat hadir dengan membawa pasangannya masing-masing. Seperti biasa, acara makan malam digelar di taman belakang dengan konsep lesehan. Duo curut pun ikut datang, kali ini mereka datang dengan status baru tentunya. Radix yang telah move on dari Adinda, datang bersama Nabila. Mereka terlibat cinta lokasi selama proses syuting. Demikian pula dengan Gurit yang datang bersama Syakira.
Semua yang hadir cukup terkejut melihat penampilan Syakira. Biasanya wanita itu selalu berpakaian seksi yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Kali ini Syakira hanya mengenakan celana jeans dengan blouse model cold shoulder. Make up-nya pun tak secetar biasanya. Sepertinya Gurit berhasil mengubah Syakira sedikit demi sedikit.
Keempat orang tersebut memasuki halaman belakang. Mereka duduk di samping Sekar. Kini semua orang tengah menunggu, apakah gaya bicara Syakira ada perubahan. Bahkan kelima sahabat somplak sampai bertaruh. Jojo, Juna dan Cakra percaya kalau nada bicara Syakira ikut berubah, tapi Abi dan Kevin tidak percaya.
“Syelaamaathh malaammhh syemuaaahhh.”
Cakra, Juna dan Jojo menepuk keningnya, ternyata tebakan mereka salah. Abi dan Kevin bertos ria, analisis mereka membuktikan kalau Gurit belum cukup mampu membuat Syakira tak men**sah lagi saat berbicara.
“Malam Syaki,” jawab Nina.
“Iniihhh tehhh adaahhh syukuraaannhh appaaahh siiiihhh?”
“Syukuraannhh apaaahh ajaaaaahhh,” jawab Rindu yang langsung mendapat jeweran dari Kevin. Kulkas dua pintu itu tak rela sang istri ikutan men**sah ala ulet bulu.
“Syukuran kehamilan Sekar. Kan tadi aku udah bilang,” jawab Gurit.
“Oohhh iyaaahh, luppaaahhh Diptaahhh.”
__ADS_1
“Udah-udah, ayo kita mulai makan aja."
Rahma segera mengajak semua untuk makan malam begitu melihat Abi hendak membuka mulutnya. Bisa panjang urusannya kalau sang anak berbicara, karena pasti akan disusul oleh Juna dan ketiga sahabatnya yang otaknya selalu bergeser jika sedang berkumpul.
Selama makan malam, semua orang sibuk dengan pasangannya masing-masing. Para pria yang sudah menikah, makan sambil menyuapi pasangannya. Berbeda dengan Gurit, Syakira menyuapi kekasihnya itu dengan telaten. Radix hanya memandang jengah ke arah pasangan itu, dalam hati dia menggerutu, lebay.
Usai makan malam, mereka tak langsung pulang, melainkan berkumpul sambil bercengkerama. Pembicaraan terbagi dalam tiga kelompok. Abi dan para sahabat memilih berkumpul di gazeebo. Para wanita tetap di tempatnya, berbincang sambil mengemil. Anfa, Radix dan Gurit sedikit menjauh dari para wanita. Mereka juga ada pembicaraan tersendiri. Sedang Teddy dan Rahma memilih berbincang di ruang tengah sambil menunggu tamu yang akan datang.
“Gue kira si Syaki udah tobat ngomong men**sah hahahaha,” celetuk Anfa.
“Angkat tangan gue. Men**sahnya dia ternyata sudah mendarah daging, turunan juga dari nenek moyangnya,” jelas Gurit.
“Seriusan lo? Baru tahu gue kalau ngomong men**sah itu turunan hahaha,” sambung Radix.
“Kan gue udah pernah dibawa ke rumahnya. Ternyata emaknya juga kalau ngomong sama kaya si Syaki.”
“Itu bapaknya Syaki gimana ya.”
“Manteng mulu. Buktinya anaknya bererot, tujuh bersaudara.”
“Buset.. kayanya setiap emaknya ngomong, bapaknya langsung on ya.”
Ketiga pemuda itu tergelak membayangkan bagaimana reaksi bapak Syakira saat mendengar istrinya berbicara.
“Lo sendiri gimana Fa, kapan nikah ama Rayi?”
“Hadeuh taulah.. di kantor gue sibuk banget, kuliah juga lagi banyak tugas, Rayi ngomel mulu minta cepet-cepet dihalalin.”
“Ya udah nikah aja sih,” usul Gurit.
“Belum boleh sama kak Abi. Kalau kuliah gue udah beres baru boleh.”
“Wah kalau beruang kutub yang kasih ultimatum, gue mah angkat tangan deh.”
Ketiganya kembali tergelak. Sosok Abi memang sangat dominan, bukan hanya di lingkungan keluarga dan para sahabat saja, tapi juga sampai ke para sahabat Sekar. Baik Gurit, Radix dan Rindu segan terhadap pria itu.
Pembicaraan seru juga tengah terjadi di kalangan pria dewasa yang telah melepas masa lajangnya. Abi dan Kevin terus menceritakan bagaimana penderitaan mereka menghadapi ibu hamil. Tentu saja hal tersebut membuat Cakra sedikit ketar-ketir.
“Kak Juna mendingan bulan madu lagi aja, biar cepat isi lagi si Nadia,” usul Abi.
“Nanti aja, kalau sekarang rugi, belum bisa digarap.”
Ucapan Juna disambut gelak tawa yang lain. Cakra melirik ke arah Abi, dengan isyarat mata dia mengarahkan sahabatnya itu melihat ke arah Jojo. Mengerti akan kode Cakra, Abi mengubah topik pembicaraan pada Jojo.
“Jo.. si Pus belum isi?” Abi memulai bola panasnya.
“Belum lah. Baru juga nikah sebulan lebih, santuy aja.”
“Si Kevin baru sebulan nikah, udah langsung isi. Kalah lo sama bujangan tulen,” ledek Cakra.
“Cebongnya si Jojo lagi demo karena dulu keseringan dibuang ke sarung. Sekarang udah punya wadah yang bener, mereka bikin aksi mogok berkembang jadi embrio.”
“Hahahaha..”
Gelak tawa yang lain sontak terdengar begitu Juna selesai berbicara. Jojo memandang kesal pada kakak sahabatnya itu. Walau terkesan kalem tapi mulut Juna juga tak kalah menyebalkan dibanding sang adik.
“Perlu gue kasih jurus jitu ngga?” seru Kevin.
“Sorry ya, di antara kalian gue yang khatam duluan soal perang di kasur.”
“Percuma khatam duluan kalau cebongnya tinggal ampas doang, kaga ada isinya,” sambar Cakra.
Keempat pria itu kembali tertawa. Saking kencangnya membuat para wanita menoleh ke arah mereka. Sebenarnya pembicaraan di antara para wanita pun tak kalah seru. Mereka mencecar Syakira juga Nabila tentang kekasih mereka.
“Bil.. gimana Radix? Romantis ngga?”
“Ya gitu deh. Radix mah pemalu gitu.”
“Masa sih? Setahu gue dia malu-maluin,” cetus Sekar yang dibenarkan oleh Rindu.
“Klo Gurit gimana?” kini giliran Nina yang bertanya. Ibu hamil itu memang penasaran dengan pasangan baru ini.
“Diptaaahhh tuuuhhh rhomaantissshhh looohhh. Khalaaauu kheteemuuhhh syelaaluuhh bawaaahhhh bungaaaahhhh buaaathh akkuuuuhhh.”
“Sumpah ya, gue pegel denger lo ngomong,” celetuk Sekar.
“Se... nyebut but.. but.. but..” seru Nadia seraya menahan tawa.
Kompak Nina, Sekar dan Rindu langsung mengetuk kening mereka dan karpet bergantian sambil mengucapkan amit-amit jabang bayi. Mereka takut kualat dan berdampak pada anak-anak mereka.
Pembicaraan terus berlanjut di antara ketiga kubu tersebut. Tanpa mereka sadari, tamu yang ditunggu Teddy dan Rahma telah datang. setelah berbicara sebentar dengan Teddy, tamu tersebut menuju halaman belakang, untuk menyapa seseorang yang dikenalnya.
“Selamat malam semua..”
☘️☘️☘️
__ADS_1
Siapa yang datang tuh????