
Ruang kerja CEO Blue Sky yang biasanya hanya dihuni oleh Juna, kini didatangi empat sahabatnya. Dia sengaja meminta adik dan para sahabatnya bertemu untuk membicarakan masalah Alisha. Ucapan anak bungsunya semalam cukup membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Tak ada angin tak ada hujan, sang anak tiba-tiba meminta menikah. Yang lebih membingungkan, Alisha sendiri tak punya calon atau laki-laki yang disukainya.
Abi sendiri sudah bisa menebak tujuan Juna mengumpulkan mereka. Niatnya membicarakan perihal Alisha pada sang kakak belum kesampaian karena kesibukannya akhir-akhir ini. Ternyata bukan cuma empat pria somplak yang hadir di pertemuan dadakan ini, tapi Juna memanggil Anfa juga. Setelah semua orang yang dipanggilnya berkumpul, Juna memulai pembicaraan.
“Maaf ya, aku tiba-tiba manggil kalian ke sini. Aku butuh saran kalian.”
“Soal apa?” tanya Cakra.
“Al.. semalam dia kembali mimpi buruk soal penculikan dulu. Kayanya traumanya masih belum hilang. Ditambah semalam ada pemadaman listrik, dia jadi histeris.”
“Tapi Al ngga apa-apa kan?” tanya Cakra cemas.
“Alhamdulillah dia ngga apa-apa. Tapi dia minta sesuatu yang bikin aku pusing.”
“Apa?” tanya Jojo penasaran.
“Dia minta nikah.”
“HAH??!!”
Semua orang kecuali Abi terperangah mendengan jawaban Juna. Jojo sampai mengorek telinganya, takut kalau dirinya salah mendengar. Cakra dan Anfa melongo saja, tak menyangka keponakan manis mereka ingin segera menikah. Sedang Kevin tetap dengan wajah datarnya. Dia hanya menunggu saja cerita Juna selanjutnya.
“Itu yang pertama. Yang kedua bikin aku pusing, dia kan ngga punya calon. Jangankan calon, punya cowok yang dia sukai juga ngga. Dan yang bikin tambah pusing, dia minta suaminya yang modelan si Abi,” Juna menepuk keningnya.
Semua pandangan langsung menoleh ke arah Abi. Dengan cuek pria itu mengendikkan bahunya. Bukan salahnya jika Alisha menginginkan suami yang seperti dirinya. Gadis itu mungkin membutuhkan sosok yang dominan, kuat dan mampu menjaganya dari mara bahaya. Dan yang terpenting menyayanginya dengan tulus.
“Kok bisa si Al pengen yang model Abi?” celetuk Jojo.
“Kaya ngga ada figur lain aja. Gue gitu,” sahut Kevin.
“Hahahaha... kalau Al dapet suami model elo, bukannya merasa terlindungi tapi yang ada tuh anak berubah jadi hulk saking sebelnya,” jawaban Jojo langsung membuat yang lain terpingkal.
Juna yang tengah pusing tak ayal ikut tertawa mendengarnya. Tak bisa dibayangkan dirinya mempunyai menantu model Kevin. Bisa jadi Nadia langsung kejang-kejang. Berbeda dengan Anfa, pria itu nampak tercenung. Pikirannya sibuk mencatat daftar nama orang-orang yang bisa dijadikan bakal calon suami Alisha.
“Untuk sementara, kandidatnya ada Barra, Viren, Irvin sama Revan,” seru Anfa.
“Barra diskip aja, dia kan udah sama Hanna.”
“Emang yakin bang, kalau Hanna mau sama Barra? Kan masih pedekate, bisa diterima, bisa juga ditolak.”
Kata-kata Anfa walau diucapkan dengan nada suara pelan dan tenang, namun tetap menusuk di telinga Jojo. Tapi itu justru terdengar seperti kelitikan di tubuh Kevin, tawa pria itu langsung pecah begitu saja. Jojo mendelik kesal ke arah sahabatnya itu.
“Bahagia banget lo Vin. Anak lo si Viren juga dicoret aja dari daftar, lo sama Viren kan kelakuannya udah kaya pinang dibelah kampak,” sewot Jojo.
“Kalau Revan ngga deh kayanya. Mana mau si Al sama cowok petakilan model dia,” seru Cakra.
“Bener.. kelakuannya persis Radix waktu muda. Masih mending Irvin,” sambung Abi.
“Nah iya, mending Irvin. Umurnya juga di atas Al, lebih dewasa dibanding Revan,” timpal Anfa.
“Udahlah dari pada pusing mending bikin audisi aja. Judul audisinya Alisha mencari cinta. Bagus ngga?” celetuk Jojo.
“Lo pikir lagi cari pemeran film, nyet,” kesal Cakra yang hanya dibalas kekehan dari Jojo.
“Coba kakak ajak ngobrol lagi Alnya. Siapa tahu dia udah punya calon gitu tapi malu bilangnya.”
Juna hanya mengangguk saja mendengar usulan sang adik. Permintaan anak bungsunya cukup membuat kepalanya pusing. Apalagi usia Alisha masih terbilang muda, baru 20 tahun. Rasanya dia belum rela melepas anak bungsunya itu menikah. Tapi dia akan mencoba usulan Anfa. Dia akan berbicara dengan Radix untuk mencari tahu apakah Irvin sudah mempunyai calon.
☘️☘️☘️
Di sebuah cafe bergaya milenial, dua orang pengunjung nampak tengah duduk berbincang di sebuah meja yang letaknya tepat di depan jendela besar yang menghadap ke arah jalan. Veruca dan Lucky nampak serius membicarakan rencana yang akan Lucky jalankan.
“Gue butuh bantuan elo, Ve.”
“Takut gue. Kemarin salah satu haters bayaran gue ditangkep polisi. Kenzie ngajuin tuntutan, dan sekarang dia lagi ditahan di polsek. Untung gue berhasil suap dia jadi ngga sampe nyebut nama gue.”
“Tenang aja, lo cuma ngalihin perhatian aja. Lo pancing anak buahnya Kenzie ke tempat lain. Biar gue bisa bawa Nara ke lokasi yang udah gue pilih.”
“Lo serius mau nyulik Nara?”
“Iyalah. Gue udah punya banyak orang bayaran.”
“Kalo si Kenzie ngamuk bahaya lo.”
“Udah gue pikirin. Gue udah punya rencana bagus. Gue juga punya dua sekutu baru buat bantu ngelancarin rencana gue.”
“Siapa?”
“Emaknya Chika. Dia kesel ama Kenzie, jadi gue bujuk dia buat bales dendam ke Kenzie karena udah ngerjain Chika. Sasarannya bukan Kenzie, tapi adeknya, Kenan. Tante Astri udah kasih gue uang buat nyewa preman buat bikin bonyok si Kenan. Pasti si Kenzie bakalan ngurusin adeknya dan pengawasan sama Nara bakal longgar.”
“Tapi kalau tuh preman sampe ketangkep gimana?”
“Tenang aja. Mereka taunya tante Astri yang sewa jasa mereka. Jadi kalau ada apa-apa tante Astri yang kena, bukan gue.”
Veruca hanya manggut-manggut saja mendengar ucapan partnernya itu. Dalam hati dia memuji keberanian Lucky yang nekad berhadapan dengan Kenzie. Sepertinya pria itu tergiur bonus besar yang dijanjikan oleh sang bos. Selain itu, keinginannya mencicipi Nara juga salah satu dorongan terbesarnya melangkah sejauh ini.
“Satu lagi siapa?”
“Mela.”
“Siapa Mela?”
__ADS_1
“Mela itu temennya Alisha, adeknya Ezra. Si Naya kan pernah cerita kalau Alisha pernah diculik, nah gue cari tahu tuh soal penculikan itu. Pelakunya itu salah satu pengusaha lawan bisnisnya Juna. Setelah kejadian itu, usahanya bangkrut, pengusaha itu cacat, sebelah matanya ngga bisa melihat lagi akibat pendarahan hebat. Kabarnya Juna yang melakukan itu, dia memukuli penculik anaknya habis-habisan.”
“Serius? Orang kalem model pak Juna?”
“Biasanya yang tenang itu lebih sadis. Nah balik ke si Mela. Tuh anak masih dendam sama keluarga Hikmat, terutama sama Juna. Makanya dia mau bales dengan cara mencelakai Alisha. Dia mau culik Alisha lagi terus dijual ke luar negeri buat dijadiin pel*cur.”
“Setahu gue, Alisah itu jago bela diri. Pasti susah nyulik dia.”
“Sejago dan sekuat-kuatnya, dia tetap cewek. Apalagi kalau lawannya bukan cuma satu. Gue udah siapin 20 orang buat nangkep tuh cewek.”
“Kapan lo mau jalanin rencana ini?”
“Nanti gue kasih tau waktunya. Yang pasti serangan akan dilakukan serentak, biar perhatian mereka terpecah. Dengan begitu gue bisa nyulik Nara dengan lancar. Dan elo, bantu ngecoh orang-orang yang jaga Nara. Kalau rencana gue berhasil, lo juga kecipratan bonusnya.”
“Ok deh, gue bantu.”
Lucky tersenyum senang. Pria itu terlihat begitu percaya diri. Dia yakin rencana yang sudah disusun secara matang akan berhasil. Tangannya meraih gelas berisi minuman bersoda lalu menyeruputnya hingga habis setengah.
“Si Naya mana? Katanya dia yang minta kita ke sini?” tanya Lucky.
“Tadi dia wa katanya terlambat soalnya masih ada meeting. Gue mau cepet beresin soal ini, males gue lama-lama sama si Naya. Dasar anak manja, tukang ngeluh, maunya disanjung-sanjung, eneg gue lama-lama.”
“Kan elo dan para pasukan lo yang udah bikin dia lapar sanjungan.”
“Iya juga sih.”
Veruca mengambil sepotong french fries lalu menyuapkannya. Matanya menangkap kendaraan Naya yang berbelok masuk ke cafe. Perempuan itu menghembuskan nafas panjang melihat orang yang ditunggunya sudah datang. Dari mejanya Veruca terus memperhatikan Naya yang turun dari mobil kemudian bergegas masuk ke dalam cafe.
“Hai.. sorry ya gue telat,” seru Naya sesampainya di dekat meja.
“Ya ngga apa-apa. Udah beres meetingnya?”
“Hmm.. udah pesen makanan belum?”
“Lo ngga lihat?”
“Mau pesen lagi ngga? Gue lagi pengen yang manis-manis nih.”
“Gue mau banana split deh,” seru Veruca.
“Gue minta tambah samosa aja,” sahut Lucky.
Naya melambaikan tangannya. Salah satu pelayan menghampirinya kemudian mencatat pesanannya. Lucky terlihat memberi kode pada Veruca. Mereka berusaha mendapatkan info tambahan dari gadis itu untuk lebih memperlancar rencana mereka.
“Nay.. Kenzie sama Nara kapan nikahnya?”
“Dua minggu lagi. Kenapa emang?”
“Ngga,” Naya menggeleng seraya menampakkan wajah sedih.
“Nay.. sepupunya Aric yang namanya Alisha itu udah punya pacar belum?” tanya Lucky.
“Setahu gue sih belum. Emang kenapa?”
“Ngga, nanya aja. Padahal cantik, tapi kok masih jomblo.”
“Mana ada cowok yang mau sama cewek galak kaya dia.”
“Masa?”
“Hmm.. dia tuh dikasih julukan hulk. Soalnya garang banget kalau udah marah apalagi kalo sama orang yang macem-macem sama dia. Makanya di antara keluarga Hikmat yang cewek, dia yang ngga pernah dikawal karena bisa jaga diri sendiri.”
Lucky hanya manggut-manggut saja. Namun dalam hatinya bersorak senang bisa mendapatkan informasi tambahan dari Naya. Usahanya menculik Alisha sepertinya akan semakin mudah kalau gadis itu berpergian tanpa pengawalan. Apalagi dia sudah tahu perangkat keamanan apa saja yang dimiliki anggota keluarga Hikmat. Tentu saja info itu dia dapat dari Jamal dan Septa.
Seorang pelayan datang memberikan pesanan Naya. Pelayan pria itu meletakkan milkshake coklat di hadapan Naya, banana split di depan Veruca dan memberikan samosa pada Lucky. Setelahnya pelayan tersebut kembali ke posnya semula.
Didorong rasa haus, Naya langsung menyeruput milkshake miliknya. Veruca juga melahap banana split pesanannya. Sedang Lucky, dua potong samosa sudah sukses masuk ke dalam perutnya. Pembicaraan di antara ketiganya terus berlangsung. Veruca kembali menceritakan pada Naya saat dirinya melihat Aric tengah bersama perempuan lain. Walau kesal, Naya tetap berusaha menahan diri dan mendengarkan semua bualan sahabatnya itu.
Di tengah-tengah pembicaraan, tiba-tiba Veruca merasakan perutnya terasa melilit. Sambil meringis menahan sesuatu yang hendak keluar dari area belakangnya, gadis itu bergegas menuju kamar mandi. Tak lama Lucky menyusul, sama seperti Veruca, pria itu juga merasakan sakit di perutnya.
“Kalian kenapa sih?” tanya Naya bingung.
“Sakit perut gue Nay,” jawab Veruca, sudah tiga kali dia bolak-balik ke toilet.
“Gue cabut duluan ya Nay. Perut gue juga sakit,” seru Lucky.
Tanpa menunggu jawaban Naya, Lucky bergegas menuju mobilnya. Begitu pula dengan Veruca, dengan cepat dia menyambar tasnya kemudian menyusul Lucky. Namun belum sempat masuk ke dalam mobil, keduanya kembali berlari menuju toilet. Panggilan alam terus menerus memaksa mereka keluar masuk toilet.
Dengan tenang Naya menyeruput milkshake-nya. Dia memang meminta pelayan cafe memasukkan serbuk pencahar ke dalam makanan Veruca dan Lucky. Tidak banyak yang dimasukkan, namun bisa membuat mereka bolak-balik ke toilet sampai tujuh kali. Ini baru pembalasan pertama yang dilakukan gadis itu. Selanjutnya, dia akan memastikan kedua orang tersebut menyesal telah mengenalnya.
☘️☘️☘️
Suasana ramai nampak di sebuah ruko yang ada di daerah Riau. Nampak beberapa mobil dan motor terparkir di depan ruko tersebut. Ruko dua lantai ini telah dirubah Kenan menjadi studio musik pribadi. Tempat dirinya beserta para sahabatnya berlatih musik.
Bukan hanya studio musik, Kenan baru saja menambah studio rekaman di sana. Kedua ruangan itu berada di lantai dua. Sedang bagian bawah disulap menjadi area nongkrong untuk dia dan teman-temannya. Sebuah sofa yang bisa dijadikan tempat tidur ditempatkan di depan sebuah layar datar sebesar 60 inchi. Tak lupa Kenan juga menyiapkan perangkat untuk bermain game. Jika suntuk berlatih, biasanya mereka melepaskan penat dengan bermain game.
Sebuah dapur mini dilengkapi kompor listrik dan peralatan masak seadanya juga kulkas berukuran sedang ada di sana. Ruko ini adalah hadiah yang diberikan Abi padanya saat Kenan berhasil meraih gelar juara umum di sekolah menengah atas. Selain menyabet gelar juara umum, dia juga mendapat gelar lulusan terbaik se-Jawa Barat.
Anak bungsu Abi ini memang berotak encer. Namun pemuda itu menolak mengikuti jenjang akselerasi seperti kakaknya karena ingin menikmati masa muda bersama sahabat-sahabatnya. Prinsipnya antara belajar dan bersenang-senang itu harus seimbang.
Enam pria berwajah tampan tengah duduk santai di ruang bawah ruko. Kenzie mengajak semua sahabatnya berkumpul di sana untuk membicarakan perihal Veruca dan Lucky. Aric baru saja mendapatkan informasi tambahan tentang mereka. Semuanya mendengarkan dengan seksama penuturan Aric.
__ADS_1
“Jadi, Veruca tuh bukan nama sebenernya?” tanya Ravin.
“Iya. Nama aslinya Lorena Septia.”
“Buset Lorena, kaya nama bis AKAP hahahaha...” celetuk Barra.
“Jangan-jangan partnernya si Lucky bukan nama aslinya juga,” sambung Ezra.
“Emang bukan. Nama aslinya Handoko Atmodjo.”
“Gue kira namanya Luragung hahaha..” sambar Barra.
“Budiman,” sambung Ezra.
“Prima Jasa,” sahut Ravin.
“Kramat Jati,” lanjut Fathan.
“Damri..”
Semua tergelak mendengar jawaban Kenzie, apalagi pria itu mengtakannya dengan wajah tanpa ekspresi. Aric pun tak dapat menahan tawanya mendengar para sahabatnya menyebutkan semua nama bus antar kota antar propinsi.
“Terus lo udah dapet haters yang suka bully si Nara?” kali ini Barra mulai serius.
“Udah. Aslinya tuh cuma ada 10. Sisanya cuma akun palsu yang dibuat 1 orang. Mereka semua udah dimasukin ke keranjang belanjaan, tinggal dibawa ke kasir. Satu orang malah udah nginep di polsek.”
“Dapet diskon ngga?”
“Diskon ngga cuma dapet promo aja, buy one get one thousand.”
“Hahaha..”
Gelak tawa kembali terdengar di antara mereka. Kenan beserta para sahabatnya yang baru selesai berlatih, segera turun ke bawah begitu mendengar kegaduhan di sana. Mereka langsung bergabung dengan para seniornya dan ikut mendengarkan pembicaraan. Walau tak terlalu mengerti apa yang dikatakan, Revan dan Haikal manggut-manggut saja biar tidak disebut kudet.
☘️☘️☘️
Dua buah mobil berhenti di sebuah tempat yang sepi. Lucky turun dari mobilnya bersama dengan Septa. Sementara dari mobil yang lainnya, Jamal dan Toni keluar dengan Duta. Wajah Duta dipenuhi lebam dan juga darah. Jamal, Toni dan beberapa anak buahnya yang melakukannya. Duta melihat nyalang ke arah Septa.
“Dasar pengkhianat!!” geram Duta.
Pria itu tak menyangka, rekan se-timnya yang dipilih Dendi untuk menyusup ke dalam komplotan Lucky ternyata membelot pada pria itu. Saat sedang mengintai aktivitas Lucky, dia dibekuk oleh Jamal juga Toni.
“Dasar tidak tahu balas budi! Apa kamu lupa kalau pak Abi yang sudah memungutmu dari jalan. Cuih!!” Duta meludah tepat di bawah kaki Septa.
“Memang pak Abi yang sudah memungutku di jalan. Tapi dia adalah dalang yang membuat diriku terluntang-lantung di jalanan. Dia sudah membuang orang tuaku ke daerah terpencil hanya karena satu kesalahan. Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini untuk membalaskan dendamku. Aku akan membuatnya menderita dengan menyingkirkan satu per satu orang yang disayanginya. Aku juga akan menyingkirkan orang-orang kepercayaannya. Dimulai dari kamu!!”
Dengan cepat Septa mengambil pistol dari saku celananya. Kemudian tanpa aba-aba dan tanpa ampun, pria itu langsung menembakkan timah panas ke tubuh pria di hadapannya ini.
DORR
DORR
DORR
Tiga buah tembakan beruntun mengenai tubuh Duta. Darah segar mengalir dari balik kaos yang dikenakannya. Perlahan tubuh Duta ambruk ke aspal. Lucky menahan nafas melihat adegan di depannya. Dia bergidik melihat wajah Septa yang tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali setelah menghilangkan nyawa mantan rekan satu timnya.
“Aksi penyerangan besok akan dijalankan sesuai rencana,” ucap Septa membuyarkan lamunan Lucky.
“I.. Iya.. kita bertemu di tempat biasa besok.”
“Kenzie.. jangan menyentuhnya. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Aku ingin melihat Abimanyu Hikmat hancur saat melihat putra kesayangannya mati.”
Lucky hanya menganggukkan kepalanya saja. Dirinya tak menyangka usaha Abi menyusupkan orang ke dalam lingkarannya justru berbuah boomerang. Dia bersyukur, orang yang dipilih Dendi ternyata orang yang memiliki dendam kesumat pada CEO Metro East itu. Hal ini semakin membuatnya yakin kalau rencananya akan berhasil.
Lamunan pria itu terhenti ketika terdengar suara mesin mobil menyala. Melihat ketiga anak buahnya sudah masuk ke dalam mobil, pria itu pun bergegas naik ke mobilnya. Tak lama kedua kendaraan itu bergerak meninggalkan tubuh Duta yang terkapar bersimbah darah.
☘️☘️☘️
Jojo - Kevin kapan kalian akurnya🤦 Untung ngga besanan, coba kalo jadi besan, wess ambyaarrr🤣🤣🤣
😱😱😱 Duta😭😭😭
**Yang masih suka lupa anak²nya para tokoh di KPA, nih mamake kasih lagi.
Abi : Kenzie, Freya, Kenan
Juna : Ezra, Azra, Alisha
Cakra : Aric, Lavanya
Kevin : Ravin, Viren
Jojo : Barra, Nayara, Naraya, Dilara
Anfa : Hanna, Haikal
Radix : Irvin, Revan, Olivia, Katrina
Gurit : Akmal, Emily, Jihan
Agung : Fathan**
__ADS_1