KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Pasangan Fenomenal


__ADS_3

Abah berdiri, dipandanginya wajah sang istri dengan tatapan sendu. Kemudian membalikkan tubuhnya. Rindu jadi serba salah, dia melihat ambu yang terlihat begitu sedih.


“Biar aku aja abah yang gantiin teh Rindu,” ucap Ranti yang tiba-tiba datang.


“Ngga bisa neng. Kamu masih sekolah, mamanya Kevin ngga akan mau menerimamu.”


“Neng yang akan bicara sama tante Delia, neng ngga mau lihat abah di penjara. Kalau teh Rindu ngga mau, neng ikhlas berkorban buat abah.”


Abah menggeleng lalu memeluk anak bungsunya sebentar kemudian mengurai pelukannya. Dia kembali melangkah, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, tangannya memegang dada sebelah kirinya.


“Abah!” pekik Ranti.


“Abah ya Allah kunaon abah?” Ambu segera berlari menghampiri suaminya.


“Abah ngga apa-apa,” abah terlihat mengerang menahan rasa sakit di dadanya. Rindu menghambur ke arah abah lalu memeluknya.


“Abah.. maafin Rindu. Iya Rindu mau nikah sama bang Kevin.”


“Ngga usah neng, kalau kamu ngga mau abah ngga akan memaksa. Hutang itu tanggung jawab abah, ngga seharusnya abah mengorbankanmu demi membayar hutang. Biar abah yang menanggungnya.”


“Ngga bah, Rindu mau nikah sama bang Kevin. Asal abah tetap sehat dan ngga dipenjara.”


“Benar neng? Kamu ikhlas neng?”


“Iya bah.”


“Alhamdulillah.”


Abah memeluk Rindu erat. Dia melihat ke arah sang istri lalu mengedipkan matanya. Ambu mengangkat kedua jempolnya, Ranti dan Rano pun bertos ria tanpa sepengetahuan Rindu yang masih berada dalam dekapan abah.


“Bagaimana? Apa sudah siap? Penghulunya sudah datang,” terdengar suara Delia.


“Iya bu, sudah siap.”


Ambu perlahan menghapus airmata Rindu dengan tisu lalu membawanya masuk. Saat yang bersamaan keluarga Hikmat datang. Sekar langsung menghambur ke arah Rindu. Dipeluknya erat sahabatnya itu.


“Ya ampun Rin, selamat ya. Lo udah kaya angkot aja nikung gue. Gue yang ngerencanain nikah, lo duluan yang ijab kabul.”


“Rese lo!”


Sekar tergelak lalu merangkul sahabatnya masuk ke dalam. Mata Rindu langsung tertuju pada dua pemuda yang tengah asik menikmati hidangan. Entah sejak kapan duo curut itu sudah ada di kediaman Kevin.


“Dix, Rit, kapan lo nyampe sini?” tanya Rindu.


“Udah dari pagi keles. Gue diminta kak Juna bantu-bantu di sini.”


“Udah tar aja wawancaranya. Sekarang akad nikah aja dulu, noh calon suamu lo udah siap.”


Sekar menunjuk ke arah Kevin yang sedang menuruni tangga. Dada Rindu berdebar hebat melihat sosok Kevin yang terbalut beskep berwarna putih. Entah mengapa si kulkas berjalan itu terlihat begitu tampan hari ini.


Kevin terus berjalan menuju meja akad. Langkahnya terhenti begitu melihat Rindu yang berdiri tak jauh dari sana. Pria itu tertegun memandangi Rindu yang terlihat berbeda. Dadanya berdesir melihat gadis yang sering diledeknya itu begitu cantik dalam balutan kebaya pengantin berwarna putih.


“Ehem!! Nanti aja lihat-lihatannya, sekarang akad aja dulu.”


Ucapan Devan membuyarkan lamunan Kevin. Pria itu merangkul adiknya menuju meja akad lalu duduk berhadapan dengan abah Rindu. Sekar mendudukkan Rindu di samping Kevin, lalu Anya menaruh kain putih di atas kepala kedua pengantin.


“Sudah siap?” tanya sang penghulu.


Abah hanya mengangguk. Setelah memeriksa kesiapan dokumen, sang penghulu memberi tanda abah untuk memulai akad. Abah menggenggam erat tangan Kevin.


“Ananda Ujang Kevin Sanjaya..”


Rindu sontak melihat ke arah Kevin, ternyata huruf U di depan nama Kevin benar-benar berarti Ujang, seperti tebakannya dahulu. Gadis itu menutup mulut untuk menahan tawanya yang hampir meledak. Kevin mendelik ke arah Rindu.


“Ujang...” Rindu berkata pelan sambil terkikik geli.


“Diem Kang!”


“Eh kumaha ieu teh panganten kalakah ngobrol,” ucap abah kesal.


“Maaf bah,” jawab Kevin. Abah pun mengulangi kalimatnya.


“Ananda Ujang Kevin Sanjaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Rindu Purnama binti Rahman Hidayatullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan dan kawinnya Kangen eh Rindu..”


“Euuh.. kumaha ieu teh.. Rindu Purnama sanes Kangen,” protes abah. Ayah dari Rindu itu mengulang kembali kalimatnya.


“Ananda Ujang Kevin Sanjaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Rindu Purnama binti Rahman Hidayatullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Kangen...”


“Astaghfirullah eta Kangen saha sih?” ucap abah dengan kesal.


Delia dengan kesal menghampiri sang anak lalu menjewer telinganya, Kevin meringis kesakitan. Juna dan Sekar yang tahu asal muasal kata kangen pun tak bisa menahan tawanya. Begitu pula dengan Radix dan Gurit.


“Pak Kevin ambil nafas dalam-dalam, tenangin diri. Silahkan minum dulu.”


Anya datang membawakan segelas air untuk sang adik. Walau tak haus Kevin meminum air tersebut. Sebenarnya dia bukan gugup, hanya saja lidahnya sudah terbiasa memanggil Rindu dengan sebutan Kangen.

__ADS_1


“Sudah bisa dimulai lagi?”


Baik abah maupun Kevin mengangguk. Kevin menarik nafas dalam-dalam. Otaknya terus mengingatkan dirinya akan nama Rindu, berharap kali ini lidahnya tak berkhianat lagi. Abah kembali menggenggam tangan Kevin.


“Ananda Ujang Kevin Sanjaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Rindu Purnama binti Rahman Hidayatullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Rindu Purnama binti Rahman Hidayatullah dengan mas kawin tersebut tunai!”


“Bagaimana para saksi, sah?”


“SAH!!!”


“Alhamdulillah,” ucap abah, hatinya lega, prosesi akad nikah yang sempat gagal gara-gara kangen selesai sudah.


Semua yang hadir turut mengucapkan syukur seraya mengusapkan wajah dengan kedua tangan. Akhirnya drama ijab kabul yang diwarnai keseleonya lidah Kevin menyebutkan nama Rindu selesai juga. Rona bahagia nampak menghiasi wajah Delia. Anak bungsunya kini telah menikah.


Kevin dan Rindu mengubah posisi duduknya menjadi berhadapan. Pria itu mengambil cincin dari dalam kotak lalu menyelipkan ke jari manis Rindu. Sial, cincin berhenti di pertengahan jari, terganjal oleh tulang jari manis Rindu. Tadi pagi mendadak penjual emas langganan Delia datang setelah mendapat telepon untuk membawakan beberapa cincin pernikahan. Karena tak tahu ukuran jari Rindu, Kevin memilih ukuran yang paling kecil. Ternyata pilihannya salah, jari Rindu tak sekecil perkiraannya.


“Aduh sakit bang!” pekik Rindu ketika Kevin memaksakan cincin untuk masuk.


“Jari kamu gede banget sih.”


“Bukan jarinya yang salah, cincinnya yang kekecilan, aduh sakit bang.” protes Rindu.


“Berisik!”


“Ampun deh nikahnya si Kevin drama banget. Dasar pasangan fenomenal,” bisik Jojo yang disambut kekehan Cakra.


Kevin mendorong dengan paksa cincin hingga akhirnya berhasil masuk ke jari manisnya. Rindu mengibas-ngibaskan tangannya kemudian meniup jarinya yang terasa nyeri.


“Buruan pasangin cincin!” seru Kevin.


“Iya kaga sabaran banget sih.”


Rindu mengambil cincin dari kotak lalu memasangkannya ke jari manis Kevin dengan sukses. Tentu saja karena Kevin telah mencoba cincin itu sebelumnya.


“Cium tangannya akang Kevin, neng,” titah ambu.


Rindu meraih tangan Kevin lalu mencium punggung tangannya. Kevin memegang bahu Rindu lalu mendaratkan ciuman di keningnya. Jantung Rindu dag dig dug tak karuan saat bibir Kevin menyentuh keningnya.


“Cium bibirnya Kev,” seru Juna.


“Ngga!!”


“Ogah!!” jawab kedua pengantin bersamaan yang langsung disambut gelak tawa lainnya.


Petugas KUA meminta kedua pengantin untuk menandatangani buku nikah. Setelah itu, acara dilajut dengan pemberian wejangan dari para orang tua. Dengan sungguh-sungguh pasangan itu mendengarkan nasehat-nasehat bijak seputar kehidupan rumah tangga.


Kevin menghampiri Juna yang tengah menikmati hidangan bersama dengan Nadia. Pria itu duduk di samping atasan sekaligus sahabatnya itu. Juna tak berhenti mengulum senyum ketika melihat sahabatnya. Usulannya pada Delia untuk memaksa Kevin menikah dengan Rindu benar-benar diwujudkan oleh wanita itu. Bersama ketiga kakak Kevin, mereka menyusun drama untuk memaksa pria itu menikah.


“Selamet ya Vin, ternyata jodoh lo ngga jauh.”


“Apaan sih lo. Kalau bukan karena nyokap, males banget gue nikahin tuh anak.”


“Jangan gitu Vin, tar kamu bucin loh,” sambar Nadia yang hanya dijawab dengan decakan saja.


“Mau gue ajarin ngga caranya bobol gawang yang baik dan benar?” Juna menaik turunkan alisnya. Dirinya senang sekali menggoda pria dingin itu.


“Yang begituan ngga usah diajarin udah ada dalam insting setiap laki-laki.”


Jawaban Kevin disambut gelak tawa Juna. Kevin hanya menggelengkan kepalanya saja, sahabat sekaligus atasannya ini berubah menjadi pria mesum semenjak menikah. Untung saja dirinya kuat iman hingga tak terpancing melakukan hal-hal yang boleh dilakukan oleh pasangan halal.


“Lo gue kasih libur seminggu buat bulan madu. Kerjaan lo sementara biar dihandle sama Darian. Besok juga sekretaris baru lo mulai kerja.”


“Gue ambil cutinya nanti aja pas resepsi di kampungnya si Kangen.”


“Astaga Vin, itu istri lo sekarang, masih aja manggil dia kangen.”


“Biarin, lidah gue udah terbiasa manggil dia kangen.”


“Panggilan kesayangan itu,” celetuk Nadia. Kevin hanya berdecak saja menanggapi ledekan Nadia.


“BTW sekretaris baru gue dari divisi mana?”


“Pegawai baru itu. manager HRD bilang pegawai lama ngga ada yang mau jadi sekretaris elo. Awas lo, baik-baik sama sekretaris baru lo nanti, jangan dibikin kabur lagi. Namanya Vita.”


“Tukeran aja deh, Darian sama gue, si Vita sama elo.”


“Enak aja! Awas lo berani nuker-nuker sekretaris suami gue,” sembur Nadia.


Kevin hanya tersenyum kecut. Sesungguhnya dia malas mempunyai sekretaris perempuan yang biasanya kerjanya tidak sesuai ekspektasinya, kecuali Rindu. Harus diakui pekerjaan Rindu sangat memuaskan, ditambah gadis itu kuat mental menghadapi sikap dingin dan juteknya.


Sementara itu di teras,, Abi dan Nina tengah menikmati hidangan. Cakra dan Jojo yang baru mengambil makanan langsung bergabung. Jojo hanya mendengus sebal melihat Abi yang sok romantis menyuapi Nina. Mendadak jiwa jomblonya meronta melihat kemesraan mereka.


“Ngga nyangka gue bisa disalip gini ama si Kevin, set dah dasar penikung andal,” seru Cakra.


“Nikungnya di tikungan tajam sambil gass poll,” lanjut Jojo.


“Harusnya hari ini gue yang nikah.”

__ADS_1


“Sapa suruh lo nunda pernikahan,” celetuk Abi.


“Nih gara-gara si kunyuk satu. Coba dia ngga bikin masalah, gue kan ngga perlu nunda pernikahan.”


“Undur lamaan dikit Cak, nikahan elo sampe gue punya pasangan juga, tar kita nikahnya barengan. Mejeng di pelaminannya juga barengan.”


“Ogah lo kira Upin Ipin,” Jojo tergelak melihat wajah keki Cakra. Sedang Abi masih asik menyuapi sang istri. Dia tak mempedulikan perdebatan unfaedah kedua sahabatnya itu.


“Eh lo bilang si Syakira dateng mulu ke kantor lo minta dilolosin audisi?”


“Iya, tiap hari dia dateng bawain gue sama pak Fandy makanan. Tuh si bohay pinter juga masaknya, masakannya enak-enak.”


“Terus lo terima tuh si Syakira?” Cakra mulai penasaran.


“Iya.”


“Cih murahan banget lo, disogok pake makanan aja mau,” ledek Abi.


Jojo mendelik kesal ke arah sahabatnya itu. Sepertinya satu hari tidak mengeluarkan kata-kata yang membuat telinga sakit bisa menyebabkan badan Abi kaligata.


“Siapa Syakira?” Nina yang sedari tadi hanya menyimak, mulai kepo.


“Itu yang pernah ikut audisi buat produksi film perdana si Jojo. Gayanya udah kaya ulet bulu. Tuh si Jojo sampe ngiler ngelihat body-nya apalagi pas denger suaranya yang men**sah,” jelas Abi panjang lebar.


“Eh gue masih normal ya makanya reaksinya kaya gitu,” Jojo membela diri.


“Eh terus si Syakira lo terima jadi pemeran Aisyah?”


“Ya kaga lah, mana ada kunti genit model dia hahaha. Gue terima karena gue dapet klien yang butuh model buat iklan obat panu, makanya gue terima tuh si Syakira.”


“Hahahaha..”


Tawa Abi dan Cakra pecah mendengarnya. Keduanya tak bisa membayangkan Syakira menjadi model iklan obat panu dengan suara men**sah dan gayanya yang seperti ulat bulu.


“Seneng banget ya bang Jojo kerja di agency artis, tiap hari bisa cuci mata,” celetuk Nina.


“Bener banget tuh Nin, mana sekretarisnya cantik bin seksi, betah dia pasti di kantor lama-lama.”


“Eh gue ngga doyan ya model si Nirmala. Noh si Abi yang udah dipegang-pegang lama sama Nirmala. Gimana rasanya genggaman tangan Nirmala?”


Mata Abi melotot ke arah Jojo yang mencoba membangkitkan amarah macan betina. Mata Nina langsung memicing ke arah suaminya. Aura horor langsung terbaca di wajah bumil itu. jojo dan Cakra hanya mesem-mesem, sebentar lagi mereka akan menyaksikan drama pertengkaran pasutri.


“Oh gitu ya mas.. jadi kemarin nemenin bang Jojo ke kantornya alasan doang. Gimana rasanya dipegang-pegang Nirmala? Enak? Bagian mana yang dipegang hah? Awas aja kalau tuh cewek berani pegang rudal mas. Itu hak paten cuma punya aku aja!”


“Ngga sayang, jangan dengerin si Jojo. Dia itu sirik aja karena kelamaan ngga laku. Kamu tahu kan mas ngga suka sama perempuan mana pun sekalin kamu. Apalagi bentar lagi bakal ada calon anak kita.”


Abi mengusap perut Nina lalu menciumnya penuh kelembutan. Hati Nina langsung luluh melihat kelembutan Abi padanya. Jojo dan Cakra memperagakan ekspresi hendak muntah melihat kelebayan sahabatnya itu.


“Beneran si beruang kutub udah bertransformasi jadi marmut,” Jojo menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Mas..”


“Apa? Kamu mau makan apa?”


“Hmm.. aku mau..”


Nina mendekatkan mulutnya di telinga Abi lalu membisikkan sesuatu, mata Abi membelalak mendengarnya. Kemudian dia juga membisikkan sesuatu di telinga sang istri. Nina mengangguk senang. Abi melihat ke arah Jojo.


“Paan?”


“Jo.. Nina lagi ngidam.”


“Terus?”


“Dia pengen lihat lo nyanyi dangdut katanya?”


“Eh buset.”


“Hahahaha,” tawa Cakra meledak.


“Ogah.. ini akal-akalan lo doang kan Bi.”


“Beneran ini maunya Nina. Buruan sana nyanyi, gue ngga mau ya anak gue ileran gara-gara elo ngga mau nurutin maunya dia.”


Jojo menggaruk kepalanya yang tak gatal. Diliriknya Nina yang menatapnya dengan tatapan sendu. Persis seperti anak kucing yang minta makan. Dia melihat ke arah Cakra yang hanya dibalas dengan mengangkat bahu saja.


“Haaaiiisshhh.. dosa apa gue. Bentar gue panggil partner duet dulu ya.”


Jojo berdiri dari duduknya lalu beranjak menjauh dari kedua sahabatnya. Terlihat pria itu berbicara di telepon dengan seseorang. Selesai berbicara, Jojo seperti mengirimkan sesuatu di ponselnya, lalu dia kembali ke tempatnya semula.


“Tunggu bentar ya Nin, partner duet gue lagi dalam perjalanan.”


☘️☘️☘️


**Astaga Abah, Kangen itu anakmu loh🤣


Kira² siapa ya temen duetnya Jojo🤔


Buat yg pengen nikung bang Ke, maaf ya sekarang doi udah sah jadi suaminya Kang Pur😂

__ADS_1


Udah ah gigi mamake kering nulis part ini**.



__ADS_2