
“Karena Rayi tahu, mana yang harus dibela mana yang bukan.”
Semua yang ada di sana terkejut mendengar suara Abi. Raut wajah Rayi mulai tegang. Dia buru-buru bangun dari duduknya kemudian menghampiri Abi.
“Kak.. maaf...”
“Ngga apa-apa Ray. Kamu dicari Mrs. Anne, sudah waktunya ganti baju.”
“Oh iya kak.”
Rayi memilih pergi dari tempat itu karena waktu sudah semakin mendekati acara resepsi. Nina bangun dari duduknya lalu menghampiri sang suami yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Mata Jenar terus memandangi wajah tampan Abi. Lelaki itu memiliki aura yang begitu kuat sekaligus menggoda.
“Kamu ngga apa-apa sayang?”
“Ngga mas, aku cuma bertukar pikiran saja dengan mereka. Oh iya, kenalkan ini mbah putri, tante Rahayu dan tante Retno."
Abi mengedarkan pandangannya seraya menganggukkan kepalanya saat melihat ke arah orang yang diperkenalkan istrinya.
"Dan yang itu Jenar, sepupu dari Rayi. Jenar mau kenalan katanya sama kamu, mas.”
Dengan tanpa malu Jenar tersenyum saat Nina menunjuk ke arahnya. Dia berdiri, bermaksud menghampiri Abi untuk berkenalan. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar jawaban pria itu.
“Ck.. ngga penting.”
Nina sebisa mungkin menahan diri untuk tertawa mendengar ucapan suaminya, apalagi ketika melihat wajah Jenar yang memerah. Gadis itu kembali duduk ke tempatnya dengan kesal.
“Apa kabar bu Astuti? Ibu sehat?” sapa Abi.
“Se.. sehat.”
Melihat gelagat sang suami yang mencurigakan, Nina berinisiatif mengajak mbah putri pergi dari sana dengan alasan ingin memperkenalkannya pada anggota keluarga Hikmat yang lain. Wanita tua itu setuju kemudian ikut bersama Nina. Sepeninggal sang istri, dengan santai Abi menarik kursi yang tadi diduduki Nina kemudian mendaratkan bokongnya di sana.
“Apa ibu puas dengan mahar yang diberikan Anfa?”
“Pu.. puas.”
Rahayu melirik ke arah sang adik yang nampak gugup saat berbicara dengan Abi. Entah mengapa, dia juga ikut merasakan ketegangan saat berhadapan dengan pria itu. Setali tiga uang, Retno pun merasakan hal yang sama. Bahkan Jenar yang tadi ingin menggodanya mendadak ciut nyalinya melihat wajah dan sikap dingin pria itu.
“Sekarang kita sudah menjadi keluarga. Saya harap ibu bisa mendukung hubungan Anfa dan Rayi. Mereka masih muda dan pasti memerlukan bimbingan dari para orang tua. Saya harap sebagai orang tua, ibu bisa bersikap bijak dan memberikan nasehat yang berguna untuk mereka. Saya juga berharap pada anda.”
Abi melihat ke arah Rahayu. Mendadak tenggorokan Rahayu terasa tercekat melihat bagaimana Abi memandangnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Astuti juga Rahayu.
“Saya sempat mendengar kabar tak mengenakkan menjelang pernikahan mereka kemarin. Walau saya diam, bukan berarti saya tidak tahu apa yang kalian lakukan. Saya ingatkan sekali lagi, walau kalian sekarang adalah bagian keluarga kami, tapi saya tidak akan segan-segan bertindak jika kalian berulah lagi. Ibu masih ingat kan ucapan saya waktu itu? Jadi, sebelum melakukan tindakan yang merugikan, ingat saja pulau terpencil dan rumah sakit jiwa yang sudah saya siapkan.”
Tanpa menunggu jawaban dari Astuti, Abi beranjak dari duduknya kemudian pergi meninggalkan semua yang di sana. Rahayu langsung meneguk habis air putih miliknya. Ternyata benar yang dikatakan sang adik, Abi itu sudah seperti singa, sang raja hutan. Bukan hanya kata-katanya yang menusuk, tapi sikap dan caranya melihat membuat siapapun yang berhadapan dengan pria itu bergidik. Dia mengangguk ketika mendengar gumaman Jenar.
“Ganteng.. tapi menakutkan.”
“Mbak Yu, jangan macam-macam ya. Baru denger omongannya, wes ngeri aku,” timpal Retno.
“Yang sabar yo, As. Manut ae lah karo keluarga Anfa,” sahut Rahayu. Astuti hanya mampu mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
☘️☘️☘️
Tepat pukul tujuh malam, pesta resepsi digelar. Satu per satu tamu undangan mulai berdatangan. Pasangan pengantin beserta kedua orang tua masing-masing sudah berada di atas pelaminan. Mereka siap menyambut para tamu yang tengah mengantri naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat.
Astuti semakin dibuat tercengang melihat banyak tamu penting yang datang. Mulai dari pejabat, tokoh politik, pengusaha ternama sampai artis ibu kota juga turut hadir. Rahma memang sengaja mengundang mereka semua. Selain untuk memperkenalkan Anfa, juga untuk memperlihatkan sampai di mana eksistensi mereka. Itu demi membuat Astuti tidak menganggap remeh anaknya lagi.
Jika pada pernikahan ketiga anaknya, Rahma menyerahkan sepenuhnya pada anak-anaknya untuk memilih tamu yang diundang. Tapi untuk pernikahan Anfa, Rahma memilih turun tangan. Teddy pun tidak melarang bahkan mendukung apa yang dilakukan istrinya. Begitu pula dengan ketiga anaknya.
Selain Astuti, Rahayu juga Retno mengalami keterkejutan yang sama. Mulut mereka menganga melihat orang-orang yang biasanya hanya terlihat di layar kaca. Kini berseliweran di depan mata mereka. Keduanya duduk di pojokan sambil memindai dan mengomentari tamu yang datang.
“Itu Muharani Purnama, yang desainer terkenal itu,” ucap Retno.
“Klo itu bu Anna, istri dari pengusaha batu bara terkenal yang sering nyumbang di acara-acara amal,” sahut Rahayu.
“Oh my God, itu Ara sama Elang, artis muda yang lagi naik daun. Ternyata aslinya lebih cantik dan ganteng,” Retno terus memandangi pasangan yang tengah viral di televisi dan media sosial tersebut.
“Kalau itu siapa?”
Rahayu menunjuk pada seorang wanita dengan penampilan cetar membahana. Mulai dari pakaian, tas dan sepatu yang dikenakannya adalah produk limited edition. Wanita yang sudah kelihatan matang itu berjalan menuju pelaminan. Di belakangnya, seorang lelaki tampan berusia tiga puluhan mengikuti langkah wanita tersebut.
“Itu Rina, janda tajir melintir. Suaminya meninggal, ninggalin harta buanyak banget. Dia cuma punya anak satu, namanya Rafka. Kalau nda salah sudah kelas 3 SMA. Nah yang di belakang, hot duda yang lagi jadi inceran banyak perempuan, namanya Ramles. Katanya sih mereka ada hubungan.”
“Kamu apal gosip juga Ret.”
“Yo jelaslah, Retno gitu loh.”
“Tapi koyone lebih tua perempuannya.”
__ADS_1
“Iyo, beda sepuluh tahun kalau nda salah.”
Rahayu hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Tak biasanya kedua wanita itu terlihat begitu kompak. Biasanya mereka lebih sering terlibat perdebatan. Tapi kali ini keduanya nampak kompak. Mata mereka tak lepas memperhatikan para tamu yang datang.
Sementara itu, Jenar tengah bersama tunangannya, Danar. Pria itu baru saja datang ke resepsi pernikahan sepupu Jenar. Keduanya berjalan menuju pelaminan. Mereka terpaksa mengantri, karena banyaknya tamu yang ingin memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin. Danar memperhatikan Anfa yang tengah bersalaman dengan para tamu.
“Eh itu Anfa yang sering kamu ceritain?”
“Iya, emangnya kenapa?”
“Kalau pak Anfa, aku taulah.”
“Pak?”
“Iya. Dia itu kan asisten pak Abimanyu, CEO Metro East. Perusahaan itu ada kerjasama dengan perusahaan tempatku kerja. Dan yang bertanggung jawab untuk kerjasama itu pak Anfa. Beruntung banget sepupu kamu bisa nikah orang nomer dua di Metro East.”
Jenar cukup sebal mendengar komentar tunangannya. Kini level Rayi berada jauh di atasnya. Biasanya dia selalu membanggakan kekasihnya yang bekerja di salah satu perusahaan besar. Namun nyatanya posisi Danar tak setinggi Anfa.
“Terus kalau CEO nya kamu kenal ngga?”
“Pak Abimanyu? Kenal ngga tapi tahu sepak terjangnya. Selain pintar, dia juga terkenal sadis dan kejam. Kalau ada yang berani ganggu dia atau keluarganya, dijamin ngga bakalan selamet. Terakhir aku dengar ada rekan bisnisnya yang berbuat curang, dihukumnya gila-gilan. Sampe dibuang ke pedalaman Thailand.”
Jenar menelan ludahnya kelat mendengar sepak terjang Abi. Baru mendengarnya saja sudah membuatnya ketar-ketir. Gadis itu otomatis mundur dan putar balik, tak ingin coba-coba menggoda pria tersebut.
Di salah satu meja, nampak Sekar tengah duduk bersama para sahabatnya. Dia baru saja mendengar cerita dari Nina saat berbicara dengan keluarga Rayi. Kesal dengan perlakuan Rahayu pada kakak iparnya, ibu hamil itu berencana membalasnya. Dia berbisik pada Gurit. Sahabatnya itu hanya menggangguk-anggukkan kepalanya saja. Kemudian dia berdiri sambil mengajak Syakira.
Gurit mengambilkan minuman untuk kekasihnya kemudian mengajak duduk terpisah dari para sahabatnya dengan alasan ada hal ingin dibicarakan. Keduanya menuju kursi di mana Rahayu dan Retno berada. Saat melewati kedua wanita tersebut, dengan sengaja Gurit menyenggol lengan kekasihnya hingga minuman di tangan Syakira tumpah membasahi baju Rahayu.
“Aduh! Hati-hati dong kalau jalan,” sentak Rahayu sambil mengibas-ngibaskan air yang membasahi pakaiannya.
“Aduuuuhhhh maaaffhhh nggaaahh syengaajaaahhh,” jawab Syakira.
Rahayu juga Retno cukup terkejut mendengar gaya bicara perempuan di depan mereka. Gurit berinisiatif mengambilkan tisu lalu memberikannya pada Rahayu.
“Aduh maafin pacar saya ya bu.”
“Iyaaaahhh akyuuuhhh khaannhh nggaaahh syengaajaaahhh.”
Retno sampai ternganga mendengar suara Syakira. Bahkan gadis itu terus saja berbicara meminta maaf sambil membantu Rahayu membersihkan bajunya.
“Iniiihhh udaaahhhh bersiiihhhh yaaahhh tanteeehhh. Syekaliiihhh lagiihh akhyuuhh mintaaahhh maaaffhh. Jangaannhh maraaahhh yaaah tanteeehhh.”
Gurit berusaha menahan tawanya. Dia segera membawa Syakira pergi menjauh. Rahayu membuka tasnya kemudian mengambil inhaler dari dalamnya. Gara-gara mendengar gaya Syakira bicara, penyakit asmanya kambuh seketika.
Sementara itu di bagian lain, Abi juga tengah berkumpul bersama para sahabatnya sambil menggendong Kenzie yang sudah bangun. Adinda yang biasanya bergabung bersama Sekar dan gerombolannya, kini memilih ikut berkumpul dengan sahabat suaminya. Alasannya tentu saja agar bisa melihat Kenzie.
“Bi.. bini gue mau gendong baby Ken bentar. Kali aja abis gendong Ken, dia langsung ketularan hamil.”
Wajah Adinda berbinar begitu mendengar ucapan suaminya. Tangannya terentang hendak mengambil Kenzie namun Abi belum mau memberikan anaknya itu. Dia malah memandangi Adinda yang masih merentangkan tangannya.
“Emang nih bocil bisa gendong anak gue?”
“Buset mulut lo, pengen gue lakban ya,” sewot Jojo.
“Ish kak Abi, aku kan bocil yang udah bisa bikin bocil juga,” jawab Adinda.
“Kasihan gue ama bini lo. Sejak nikah sama elo, otaknya jadi kurang se-ons,” ledek Abi yang langsung mendapat pelototan dari Jojo.
“Kasih aja Bi. Tar si blewah nangis guling-guling, terus ujung-ujungnya si Jojo ngga dikasih jatah malem. Tambah merana kan cebongnya si Jojo hahaha,” timpal Cakra.
“B*ngke lo semua,” rutuk Jojo.
Melihat Adinda yang begitu ingin menggendong Kenzie, Nina mengambil anaknya dari tangan Abi. Kemudian pelan-pelan menaruhnya dalam gendongan Adinda. Istri dari Jojo itu nampak senang, beberapa kali Adinda mengoceh tak jelas, mengajak bayi dalam gendongannya bicara.
“Awas jangan nyebut blewah, tar sawan si Kenzie,” celetuk Cakra.
“Bisa dilempar ke planet saturnus sama si beruang kutub,” lanjut Kevin.
“Berisik lo pada!” ketus Jojo.
Jojo mendekati Adinda. Dia ikut mengajak Kenzie bicara, seraya tangannya mengusap perut sang istri. Yang lain hanya memutar bola matanya, jengah melihat kelakuan sok romantis Jojo.
“Sabar ya sayang... cebongku masih hibernasi untuk sementara. Doakan mereka ngga tertidur dan masuk tepat sasaran begitu keluar dari sarangnya.”
Semua tertawa mendengar Juna mendubbing suara hati Jojo yang tengah mengusap perut istrinya. Pemuda itu memandang kesal pada pada sahabat durjananya. Tiba-tiba Kenzie menangis, mengejutkan Adinda yang tengah menggendongnya. Nina bergegas mengambil sang buah hati yang seperti menginginkan asupan susu segar langsung dari sumbernya.
“Ck.. anak gue nangis kan gara-gara lihat muka lo,” celetuk Abi pada Jojo.
“Anak lo nangis pengen n*nen PEA,” sungut Jojo.
__ADS_1
“Aku ke kamar dulu mas.”
“Aku ikut.”
Nina menganggukkan kepalanya saat sang suami berinisiatif mengantarnya ke kamar. Abi mengambil tas Nina dari atas meja kemudian menyusul langkah sang istri yang sudah lebih dulu pergi. Sayup-sayup terdengar teriakan para sahabatnya.
“Jangan ikut nyusu lo,” seru Cakra.
“Emaknya juga belum bisa digarap,” sambung Jojo.
“Cari tante Lux!” sahut Juna.
“Jepit aja di pintu!” lanjut Kevin yang langsung disambut gelak tawa lainnya. Abi menulikan telinganya dan terus berjalan meninggalkan ballroom.
☘️☘️☘️
Pesta resepsi usai sudah. Para tamu sudah kembali pulang. Hanya tinggal keluarga inti saja yang masih berada di dalam ballroom. Anfa menuntun Rayi turun dari pelaminan, kemudian menghampiri para orang tua yang tengah berkumpul di satu meja.
“Sudah kalian langsung aja ke kamar. Istirahat, pasti kalian cape,” titah Rahma.
“Iya ma, kita pamit ke kamar duluan.”
Anfa dan Rayi menyalami semua yang ada di sana kemudian beranjak pergi. Kini hanya tinggal Rahma, Teddy, Wisnu juga Astuti. Nenek Rayi sudah masuk ke kamar yang telah disiapkan bersama dengan Rahayu.
“Pak Wisnu dan bu As juga silahkan kalau mau ke kamar,” ucap Rahma.
“Iya bu. Maaf loh sudah merepotkan, sampai menyewa kamar segala. Padahal kami bisa tidur di rumah.”
“Merepotkan apa, kan sama besan sendiri,” jawab Teddy.
“Iya, ngga merepotkan kok. Besok pagi kita sarapan bersama ya.”
“Kalau besok Anfa dan Rayi langsung pulang atau gimana?” tanya Astuti.
“Sepertinya langsung pulang. Mereka baru pergi bulan madu, minggu depan.”
“Oalah kita belum menyiapkan kamar buat mereka, pak.”
“Maaf bu As. Mungkin ini terdengar egois. Kalau tidak keberatan, saya menginginkan Anfa dan Rayi tinggal bersama kami. Baru saja saya berkumpul bersama dengan Anfa dan masih belum rela untuk berpisah. Lagi pula rumah yang kami tempati, sudah kami alihkan atas nama Anfa. Jadi saya harap bu As ngga keberatan.”
“Oh ya rapopo, bu Rahma. Monggo.”
Lain di bibir, lain di hati. Sebenarnya Astuti berharap anak dan menantunya bisa tinggal bersamanya. Namun dia juga tak berani membantah keinginan Rahma. Lagi pula Anfa sudah mendapatkan rumah yang selama ini menjadi kediaman pasangan suami istri itu. Tentu saja wanita itu senang, anaknya mendapat rumah mewah di kawasan elit.
Karena tak ada lagi yang perlu dibicarakan, keempat orang tersebut segera meninggalkan ballroom. Mereka menuju kamarnya masing-masing. Astuti berharap sang besan menyiapkan kamar suite room untuknya.
☘️☘️☘️
Rayi menatap penampilannya di cermin. Entah ide siapa, tapi pakaian yang terdapat di dalam lemari hanyalah dua helai lingerie berbahan tipis dan transparan. Gadis itu tentu saja malu jika Anfa melihatnya berpakaian seseksi ini. Terdengar ketukan di pintu disusul suara Anfa yang memanggil namanya. Sudah setengah jam lebih memang, Rayi berada di kamar mandi.
Rayi menyambar bath robe yang tergantung di kapstok, kemudian menutupi tubuhnya yang terbalut lingerie dengan handuk kimono itu. Perlahan dia membuka pintu, terlihat Anfa tengah duduk di kasur dengan punggung menempel di headboard ranjang. Matanya yang tengah meihat ke layar datar di depannya langsung teralih begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka.
“Ray.. kamu kenapa pakai bath robe?”
“Hmm.. bajunya..”
“Bajunya kenapa? Lupa ambil? Bentar aku ambilin.”
“Eh jangan! Ngga usah.”
Anfa menghentikan gerakannya mendengar larangan Rayi. Perlahan Rayi mendekat ke arah ranjang lalu duduk di sisinya. Jantungnya sedari tadi tak henti bertalu-talu. Rasa grogi langsung menyergapnya saat hanya berdua saja dengan Anfa di dalam kamar. Anfa beringsut mendekatkan tubuhnya ke arah sang istri.
“Hmm.. Fa.. tidur yuk.”
“Hah?? Kamu mau langsung Ray? Emang ngga cape?”
“Ish apaan sih kamu.”
Rayi memukuli lengan Anfa. suaminya itu malah menggodanya dan itu sukses membuat dirinya bertambah grogi. Anfa terkekeh melihat pipi Rayi yang merona. Sejatinya pria itu juga merasa gugup. Oleh karenanya dia mengalihkan kegugupannya lewat candaan.
“Ray..”
“Hmm..”
Anfa memandangi wajah cantik istrinya. perlahan dia mendekatkan dirinya. Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. bahkan Rayi dapat merasakan hembusan nafas suaminya. Jantungnya semakin berdebar kencang. Anfa semakin mendekatkan wajahnya dan....
☘️☘️☘️
Dan .. pabila esok datang kembali, seperti sedia kan, di mana sedia kala saat kutancapkan duri.
__ADS_1
Aduh mamake ngga tahu harus komen aja. Nih mata udah sepet soalnya. Mamake tidur dulu ya, papay😴😴😴