
Beberapa jam sebelum kecelakaan
“Dila!”
Dilara menghentikan langkahnya ketika mendengar suara temannya memanggil. Yuni, teman sekelasnya datang menghampiri, disusul oleh Yogi dan Intan.
“Dil.. kita diundang ke ultahnya Genta.”
“Di mana?”
“Blue Moon.”
“Itu kan klub malam.”
“Iya, itu klub orang tuanya. Makanya dia ngerayain di sana. Cuma rayain ultah doang, ngga akan minum-minum,” Yuni mencoba meyakinkan.
“Ok deh.”
“Kita nebeng mobil kamu, ya. Mobil si buluk lagi di bengkel,” Yuni mengarahkan pandangannya pada Yogi.
Dilara hanya menganggukkan kepalanya. Dia kemudian berjalan menuju parkiran mobil diikuti yang lainnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Sebentar lagi waktu perayaan ultah Genta dimulai, dan mereka memutuskan langsung menuju Blue Moon.
Saat akan masuk ke dalam mobil, ponsel Dilara berdering. Terdengar helaan nafas gadis itu saat melihat nama pemanggil. Sudah beberapa hari ini Hanum selalu menghubungi dan mengajak bertemu. Setiap bertemu, dia hanya membahas perihal Ezra saja, membuat perasaan Dilara semakin galau. Terlebih tak ada kabar dari Ezra setelah pria itu berangkat ke Phuket.
“Halo..” akhirnya Dilara memutuskan untuk menjawab panggilan.
“Halo, Dila.. bisa kita bertemu?”
“Aduh.. maaf kak. Aku ada acara, temanku lagi ulang tahun.”
“Sebentar aja, Dil. Penting buat aku, please.”
“Gimana ya, kak.”
“Please Dila.. aku tunggu di Crown café ya.”
Tanpa menunggu jawaban dari Dilara, Hanum segera mengakhiri panggilannya. Dilara termenung, hatinya bimbang antara mengikuti kemauan wanita itu atau mengabaikannya. Gadis itu terjengit ketika mendengar panggilan Yogi.
“Dil.. ayo.”
“Eh iya.”
Dilara memasukkan ponsel ke dalam tas kemudian masuk ke mobilnya. Yogi memilih duduk di samping kursi pengemudi, sedang Yuni dan Intan duduk di kursi belakang. Dilara menyalakan mesin dan menjalankan kendaraannya keluar dari area kampus.
Sepanjang perjalanan Dilara masih terus memikirkan ajakan Hanum untuk bertemu. Di sebuah perempatan, dia mengambil arah ke kiri. Yogi tentu saja terkejut, karena Dilara mengambil arah yang berbeda dari klub Blue Moon.
“Eh kok belok kiri? Ke Blue Moon ke kanan, Dil.”
Dilara tak mempedulikan ucapan temannya itu. Dia terus melajukan kendaraan menuju Crown café. Gadis itu memutuskan untuk menemui Hanum. Kali ini Dilara akan bersikap tegas dan tidak akan membiarkan mantan dari Ezra itu membuat hatinya galau terus menerus.
Yogi melihat pada Yuni dan Intan, namun kedua temannya itu hanya mengangkat bahunya. Keduanya juga tak mengerti mengapa tiba-tiba Dilara mengubah arah tujuan. Tak berapa lama Mazda 3 berwarna putih itu berhenti di depan Crown café. Dilara melepaskan sabuk pengamannya seraya melihat pada ketiga temannya.
“Gue ada urusan dulu di sini.”
“Lama ngga?” tanya Yogi.
“Ngga tau juga. Kalian duluan aja, nanti gue nyusul.”
“Bentar gue pesen taksi online dulu,” Intan mengeluarkan ponselnya.
“Ngga usah, bawa aja mobil gue. Tapi kalau gue ngga jadi nyusul, besok lo bawa mobil gue ke kampus ya, Gi,” Dilara melihat pada Yogi.
“Yakin Dil?”
“Iya. Have fun ya. Salam buat Genta. Bye..”
Dilara turun dari mobilnya, begitu pula dengan Yogi. Pria itu mendudukkan diri di belakang kemudian memakai sabuk pengamannya. Sebelum menjalankan kendaraan, dia melihat ke arah kekasihnya yang duduk di belakang.
“Yang, pindah ke depan. Berasa supir gue.”
“Iya, sayang.”
“Kumat… berasa obat nyamuk elektrik gue,” sungut Yuni yang hanya dibalas kekehan Yogi.
Intan berpindah duduk di depan tanpa keluar dari mobil. Gadis itu memakai sit belt setelah berhasil mendaratkan bokongnya di jok mobil. Yogi segera menjalankan kendaraan milik Dilara tersebut.
Mata Dilara langsung tertuju pada Hanum yang mengambil tempat di meja dekat taman. Café belum banyak didatangi pengunjung, jadi tidak sulit baginya untuk menemukan keberadaan Hanum. Dia melangkahkan kaki menuju meja kemudian menarik kursi di depan wanita tersebut.
“Makasih ya, Dil. Kamu mau minum apa?”
“Nanti aja. Kakak mau bicara apa?” tanya Dilara to the point.
“Aku ingin mendapatkan Ezra lagi.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin memberitahumu.”
“Kakak pasti sudah tahu soal aku dan kak Ezra.”
“Iya.”
Dilara tersenyum tipis. Kecurigaannya pada Hanum benar adanya. Dari sekian banyak orang yang dekat dengan Ezra, hanya dirinya yang selalu diajak berbicara tentang pria itu. Hanum sengaja menjatuhkan mentalnya dengan cerita indah masa lalu mereka.
“Apa kakak sudah mengatakannya pada kak Ezra?”
“Belum. Aku menunggunya sampai pulang dari Phuket.”
__ADS_1
“Kakak tahu di mana dia sekarang?”
“Tentu saja. Dia berpamitan padaku sebelum pergi ke sana. Kemarin juga kami masih saling bertukar kabar. Apa dia tidak mengatakan apa-apa padamu?”
Dilara nampak kesal mendegar penuturan Hanum. Ternyata sikap wanita di hadapannya tidak semanis wajahnya. Dia hampir tertipu dengan kisah sedih wanita tersebut. Nyatanya Hanum memang berniat merebut Ezra darinya.
“Harusnya kakak cukup tahu diri dan tidak melakukan ini. Aku dan kak Ezra sudah menjalin hubungan. Kami juga berencana menikah setelah aku selesai kuliah. Aku harap kakak tidak menjadi orang ketiga dalam hubungan kami.”
“Kenapa? Apa kamu takut kalau Ezra kembali padaku?”
“Apa kakak pikir kak Ez akan kembali padamu? Kakak sendiri yang memilih putus dan meninggalkan dirinya. Bahkan kakak juga menutup akses darinya. Apa kakak tahu bagaimana terlukanya kak Ez saat itu? Dulu kakak yang melukai dan meninggalkannya, sekarang dengan tanpa beban kakak ingin kembali padanya. Egosi sekali.”
“Kamu tahu apa yang menyebabkan aku meninggalkannya. Bukan karena orang ketiga, tapi karena penyakitku.”
“Itu bukan alasan. Kak Ez sudah mengatakan keinginannya untuk terus mendampingi kakak sampai kakak sembuh. Tapi kakak malah mendorongnya menjauh, itu semua karena kakak seorang pengecut. Jadi jangan salahkan dirinya jika membuka hatinya untuk perempuan lain. Perempuan yang lebih menghargai perasaannya, dibanding kakak.”
Hanum nampak kesal mendengar penuturan Dilara. Sungguh dirinya tak menyangka gadis di hadapannya ini berani membalikkan kata-katanya. Dikiranya Dilara hanya gadis polos yang tak berani mengutarakan pendapat apalagi membalas kata-katanya.
“Wow.. ternyata ucapanmu tak sepolos wajahmu,” sindir Hanum.
“Aku hanya berusaha melindungi apa yang menjadi milikku.”
“Baiklah kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi. Kita akan bersaing secara sehat untuk mendapatkan Ezra.
“Silahkan.”
Hanum menyeruput minumannya sampai habis, setelahnya meninggalkan Dilara di sana seorang diri. Sepeninggal Hanum, Dilara masih terpaku di tempatnya. Ketegarannya seketika runtuh, hatinya mulai gamang, ketakutan melanda. Takut kalau ternyata Ezra masih mencintai Hanum dan memilih kembali padanya.
Dilara segera beranjak keluar dari café. Tangannya melambai pada angkot yang tengah melintas. Untuk menghilangkan kegalauan hatinya, dia bermaksud mengunjungi tempat yang bisa membuatnya melepaskan beban di hatinya.
☘️☘️☘️
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Yogi, Intan dan Yuni nampak keluar dari Blue Moon dengan tubuh sedikit sempoyongan. Mereka baru saja selesai menikmati pesta ulang tahun Genta. Maksud hati tak ingin mencicipi minuman beralkohol, namun bujukan Genta dan yang lainnya tak bisa ditolak. Alhasil ketiganya mencicipi minuman tersebut dan berakhir dalam keadaan setengah mabuk.
Yogi mengarahkan kunci di tangannya pada mobil berjenis sedan milik Dilara. Yuni langsung masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang. Kepalanya sudah cukup berat, padahal hanya meminum dua sloki saja. Yogi dan Intan yang masih cukup sadar juga segera masuk ke dalam mobil.
“Gi.. yakin lo masih bisa nyetir?” tanya Yuni begitu Yogi menyalakan mesin mobil.
“Tenang aja.”
“Awas jangan ngebut.”
“Tenang aja bibeh. Yayang gue tuh sembalap hebat,” Intan menoleh pada Yuni seraya mengangkat jempolnya.
Mesin mobil menyala dan tak lama roda kendaraan mulai bergulir. Tangan Intan bergerak menyalakan audio mobil. Seketika irama menghentak langsung terdengar. Gadis itu menggoyangkan kepalanya mengikuti irama musik. Yogi mulai terbawa suasana, dia pun melakukan hal yang sama.
“Whooo…. Goyang, Yang!” seru Yogi. Tanpa sadar pria itu menginjak pedal gas lebih dalam dan kecepatan mobil bertambah.
“Gi.. jangan ngebut, elah…” protes Yuni.
“Ayaaangg…”
“Woiii… perhatiin jalan, kampret!!” umpat Yuni.
Yogi mengakhiri ciumannya lalu kembali memperhatikan jalan. Tapi tak lama kemudian, dia kembali mel*mat bibir Intan. Tak dipedulikannya protesan dari kursi belakang. Pria itu tak bisa melepaskan diri dari sang kekasih. Pegangan di setir pun menjadi tak stabil. Mobil yang dikendarainya mulai bergerak zigzag.
Yogi semakin tak bisa mengendalikan jalannya mobil. Beberapa kali kendaraan roda empat tersebut melenceng ke jalur sebelah. Saat melewati tikungan, mobil kembali melenceng ke jalur sebelah dan dari arah berlawanan muncul sebuah mobil box melaju dengan kecepatan tinggi. Terkejut dengan sinar lampu yang muncul tiba-tiba, Yogi mencoba menghindar, namun terlambat. Tanpa dapat ditahan benturan keras pun terjadi.
Mobil sedan berwarna putih itu berhantaman keras dengan mobil box dan terpental beberapa meter ke belakang. Tubuh Yuni yang tak terpasang sabuk pengaman, terdorong ke samping dan kepalanya membentur kaca jendela dengan keras. Tubuhnya terbanting ke kanan dan kiri saat mobil terguling beberapa kali, sampai akhirnya berhenti dengan posisi terbalik.
☘️☘️☘️
Dilara berjalan keluar dari studio bersama dengan penonton lain usai melihat pertunjukkan film. Demi menghalau pikirannya yang kalut, dia memilih menghabiskan waktu di mall. Usai menghabiskan energi di arena permainan, gadis itu lanjut menonton film di bioskop sendirian saja.
Suasana sekitar mall sudah mulai sepi karena waktu sudah pukul setengah sepuluh malam. Dilara berjalan menuju mini market yang ada di seberang mall. Dia bermaksud memesan taksi online sambil menunggu di sana. Gadis itu terkejut melihat ponselnya yang mati. Sudah sejak sore gadgetnya memang kehabisan batre dan dia lupa untuk mengisi daya.
Dilara mengambil charger dari dalam tas lalu menyambungkan pada saklar yang ada di dekat mejanya. Jarinya kemudian menyalakan daya ponsel. Begitu ponsel menyala, dia terkejut mendapati banyaknya panggilan tak terjawab dari mamanya juga Barra. Namun yang membuatnya heran adalah panggilan tak terjawab dari Viren.
Baru saja akan menghubungi Adinda, Dilara dikejutkan dengan deringan ponselnya. Nama Genta tertera di layar ponsel. Dengan cepat gadis itu menjawab panggilannya.
“Halo, Ta..”
“Dil.. lo di mana?”
“Gue.. lagi di Cihampelas. Sorry ya, gue ngga bisa datang ke ultah elo. Yogi sama yang lain masih di sana?”
“Lo belum denger kabar? Yogi sama yang lain kecelakaan di jalan Siliwangi.”
“Hah??”
“Lo susah banget dihubungi. Mereka dibawa ke rumah sakit Permata Harapan.”
“Batre hp habis. Gue ke sana sekarang.”
Baru saja panggilan Genta berakhir. Sebuah panggilan lain masuk, kali ini Barra yang menghubunginya.
“Halo..”
“Dek.. kamu di mana?”
“Aku di Cihampelas, bang. Di depan Andhara Mall.”
“Tunggu di situ, abang jemput.”
“Iya, bang.”
Hati Dilara kembali cemas mendengar teman-temannya mengalami kecelakaan. Beberapa kali gadis itu meremat tangannya. Ketakutan mulai menyergapnya, takut terjadi sesuatu pada ketiga temannya itu.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Barra berhenti di depan mini market. Dengan cepat Dilara membereskan barang-barangnya lalu berlari mendekati mobil yang kakak.
“Kamu kenapa susah dihubungi?” tanya Barra begitu sang adik masuk ke dalam mobil.
“Maaf bang, hp ku habis batre.”
“Mama hampir pingsan dengar kamu kecelakaan.”
“Itu temanku, bang.”
“Mana kita tahu! Sekarang kita susul mama sama papa ke rumah sakit.”
“Iya, bang.”
Barra segera menjalankan kendaraannya. Sebenarnya dia kesal pada sang adik yang sudah membuat semua keluarga dilanda kecemasan. Namun dia juga bersyukur ternyata tidak terjadi sesuatu padanya.
Sesampainya di rumah sakit, Dilara langsung menghambur keluar dari dalam mobil. Dia segera masuk ke dalam IGD. Di sana nampak Adinda tengah berdiri di samping Jojo, mendengarkan penjelasan polisi yang sedang menjelaskan kronologi kecelakaan.
“Mama…” panggil Dilara.
“Dila… ya Allah.. kamu ngga apa-apa, nak.”
Adinda langsung memeluk anak bungsunya itu. Wanita itu bersyukur sang anak tidak berada di dalam mobilnya. Jojo menghampiri Dilara kemudian ikut memeluknya. Dari arah pintu masuk, muncul Barra dan Kenzie yang juga baru tiba.
“Kamu kemana saja?” tanya Jojo dengan nada suara sedikit kesal.
“Maaf pa,” cicit Dilara.
“Dengan saudari Dilara?” petugas polisi yang mengurus kecelakaan segera menginterupsi pertemuan keluarga itu.
“I.. iya, pak. Teman saya bagaimana? Kenapa mereka bisa kecelakaan?”
“Kami masih menyelidikinya. Bagaimana mobilmu bisa dikendarai oleh temanmu?”
“Awalnya kita mau pergi bersama ke acara ulang tahun teman. Tapi mendadak saya ada urusan. Kami berpisah di Crown café. Saya yang meminta Yogi membawa mobil saya.”
“Jam berapa itu?”
“Sekitar jam lima kurang, pak.”
“Kamu di sana sampai malam?”
“Ngga, pak. Saya ngga lama di sana. Habis dari café saya ke Andhara mall dan baru keluar setelah nonton bioskop.”
“Di mana pesta ulang tahun temanmu?”
“Di klub Blue Moon.”
“Siapa saja temanmu yang pergi bersama?”
“Yogi, Intan dan Yuni.”
“Apa kamu bisa menghubungi keluarganya?”
“Bisa, pak.”
Dilara mengambil ponselnya kemudian segera menghubungi orang tua ketiga temannya. Begitu pula dengan sang petugas, dia segera menghubungi anak buahnya untuk mengecek cctv di lokasi-lokasi yang tadi disebutkan oleh Dilara. Perhatian mereka teralihkan begitu dokter yang menangani korban kecelakaan keluar dari bilik pemeriksaan. Nampak blankar yang membawa Yuni didorong menuju ruangan lain.
“Dokter, bagaimana keadaan korban?” tanya Jojo.
“Salah seorang korban mengalami cedera parah di bagian kepala. Kami harus segera mengoperasinya. Apakah ada keluarganya?”
“Tolong operasi saja, dok. Saya yang akan bertanggung jawab.”
“Baiklah.”
“Bagaimana dengan teman saya yang lainnya, dok?” tanya Dilara.
“Masih dalam penanganan. Luka mereka juga cukup serius. Silahkan bapak lengkapi administrasi lebih dulu. Saya permisi.”
Seorang perawat menghampiri Jojo dan meminta pria itu melengkapi berkas administrasi. Dilara terduduk di kursi tunggu, ditemani oleh Adinda. Mendengar cerita Dilara, Kenzie segera menghubungi Duta untuk membantu menyelidiki perihal kecelakaan.
☘️☘️☘️
Pagi menjelang, semalaman Dilara memilih menunggu di rumah sakit untuk mengetahui perkembangan teman-temannya. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya, kenapa memberikan mobilnya begitu saja pada Yogi. Jika dia ikut bersama, mungkin kecelakaan tidak akan terjadi. Hatinya semakin risau mengetahui kondisi Yuni yang kritis.
Yogi dan Intan sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Walau keduanya mengalami cedera serius, namun kondisinya sudah stabil. Berbeda dengan Yuni yang masih berada di ruang ICU selepas operasi.
Dilara duduk menunggu di dekat ruang ICU. Bersama dengannya juga duduk menunggu keluarga dari Yuni. Ibunda Yuni selalu melihat tajam ke arahnya, seolah-olah menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa sang anak.
Di tengah kebisuan, mereka semua dikejutkan saat melihat beberapa suster masuk ke dalam ruang ICU, tak lama dokter yang mengoperasi dan merawat Yuni ikut masuk ke dalam ruang perawatan intesif tersebut. Ibunda Yuni berlari mendekati ke pintu masuk ICU. Wanita itu mulai menangis mengetahui para petugas medis tengah membantu Yuni, yang kondisinya tiba-tiba drop.
Wanita paruh baya itu menangis dalam pelukan suaminya. Dilara ikut cemas melihat pergerakan suster yang keluar masuk membawa peralatan medis. Hatinya terus berdoa akan keselamatan temannya itu.
Sepuluh menit berlalu, dan tak berapa lama kemudian dokter yang mengoperasi Yuni keluar dari ruang ICU. Dia segera menghampiri kedua orang tua Yuni. Raut kesedihan nampak di wajah dokter tersebut.
“Bagaimana anak saya, dok?” tanya ibunda Yuni.
“Maaf, bu. Kondisi anak ibu menurun drastis. Kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya.”
“TIDAK!!! DOKTER BOHONG!! YUNIKU MASIH HIDUP! SELAMATKAN YUNIKU! SELAMATKAN DIA!!”
Wanita itu berteriak seraya mencengkeram jas sneli yang dikenakan dokter tersebut. Dilara menutup mulut dengan kedua tangannya. Tangisnya seketika pecah mendengar nyawa temannya tak bisa diselamatkan. Ayah Yuni mencoba menenangkan istrinya itu dan membawanya sedikit menjauh dari sang dokter.
Masih diliputi kesedihan dan kemarahan, ibunda Yuni menghampiri Dilara yang masih terpaku di tempatnya. Gadis itu masih terisak sendirian. Dengan sorot mata penuh amarah, ibunda Yuni mendekat seraya mengangkat tangannya dan
PLAK!!!
__ADS_1
☘️☘️☘️
Rencananya aku libur up hari ini, tapi demi kalian, aku up. Liburnya diundur besok ya😉