
Gean memandangi gedung pencakar langit di depannya. Tak menyangka hanya satu hari berselang dirinya mengirimkan lamaran via e-mail, dia sudah dipanggil untuk wawancara kerja. Dengan langkah mantap dia memasuki gedung kemudian menghampiri meja resepsionis.
“Pagi mba,” sapanya ramah.
“Pagi.”
“Saya mau bertemu dengan bapak Cakrawala Dunia.”
“Sudah buat janji sebelumnya?”
“Sudah mba. Saya ada wawancara kerja hari ini dengan beliau.”
Resepsionis itu mengangguk lalu mengantar Gean menuju lift. Dengan kartu identitasnya dia membantu Gean memijit angka 19 di tombol lift. Setelah itu dia keluar meninggalkan Gean menuju lantai teratas di gedung ini.
TING
Pintu lift terbuka. Dengan langkah pelan Gean keluar dari lift. Lagi-lagi dia bertemu dengan petugas resepsionis di lantai ini. Dia menghampiri resepsionis berjenis kelamin laki-laki itu.
“Pagi.. saya mau bertemu dengan bapak Cakrawala Dunia.”
“Sudah buat janji?”
“Sudah pak.”
“Ok sebentar.”
Resepsionis itu mengangkat teleponnya. Setelah berbicara sebentar, dia mengantarkan Gean menuju ruangan Cakra. Diketuknya ruangan dengan pintu coklat tersebut. Terdengar suara Cakra dari dalam mempersilahkan masuk. Dengan gerakan tangan resepsionis itu mempersilahkan Gean masuk.
“Selamat pagi pak.”
Sapa Gean ketika masuk ke dalam ruangan. Cakra dan Sekar yang tengah berdiskusi masalah pekerjaan langsung menoleh ke arah Gean. Sekar bangun dari duduknya kemudian mempersilahkan Gean untuk duduk. Dirinya lalu kembali ke mejanya.
Cakra memandangi Gean yang duduk berhadapan dengannya. Sekilas wajah Gean mirip dengan Nina. Jadi ini alasan Abi menerima Gean bekerja di perusahaan. Sepertinya sahabatnya itu berniat menyelidiki apakah Gean adalah Anfa.
“Namamu Gean Ardiasnyah. Usia 22 tahun dan baru lulus tahun ini, benar?”
“Benar pak.”
“Kamu punya pengalaman kerja sebelumnya?”
“Beberapa kali saya pernah bekerja part time sebagai panitia rakernas beberapa partai besar pak. Selebihnya hanya mengurus acara seminar atau training di kampus.”
“Berarti kamu sudah terbiasa dengan pekerjaan manajerial dan administrasi.”
“Sedikit-sedikit pak.”
“Ok, karena kamu adalah rekomendasi langsung dari pak Abimanyu, saya menerimamu. Mulai besok kamu akan bekerja dengan saya selama dua minggu. Setelah itu kamu akan dialihkan menjadi staf khusus pak Abi. Tugasmu membantu sekretaris pak Abi menyelesaikan semua tugasnya.”
“Jadi, saya diterima bekerja pak?”
“Iya. Besok saya siapkan surat perjanjian kerja untukmu dan langsung bekerja di bawah bimbingan saya. Yang harus kamu tahu, pak Abi itu tipe perfeksionis, dia tak menolerir kesalahan sekecil apapun. Jadi sebisa mungkin dalam melakukan pekerjaan, kamu harus zero mistake. Kalau tidak, harus bersiap menerima semprotan darinya. Apa kamu siap?”
“In Syaa Allah siap pak.”
“Ok.. saya tunggu kamu besok.”
“Baik pak, terima kasih.”
Gean menjabat tangan Cakra dengan erat. Dia menganggukkan kepalanya pada Cakra juga Sekar sebelum keluar dari ruangan. Wajahnya dipenuhi oleh senyuman. Sepertinya dia harus berterima kasih pada kekasihnya itu. Berkat Rayi, Abi bersedia memberikan pekerjaan padanya.
☘️☘️☘️
Rayi mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Berulang kali dia melihat jam di tangannya, satu menit lagi adalah waktu janji temunya dengan Abi. Dia sengaja datang lebih cepat agar tidak terkena semburan pria itu. Entah ada hal penting apa Abi mendadak ingin bertemu dengannya. Mudah-mudahan saja pria itu tidak bermaksud mengganti konsep pernikahan yang sudah mulai dikerjakan olehnya.
Tepat satu menit kemudian Abi datang. Tanpa banyak bicara pria itu langsung duduk di hadapan Rayi. Seperti biasa, wajah Abi terlihat datar dan tanpa ekspresi. Rayi baru saja akan membuka mulutnya ketika tangan Abi terangkat, dia memilih menjawab panggilan di ponselnya dulu. Selesai berbicara, dia kembali melihat ke arah Rayi.
__ADS_1
“Ada apa kak Abi mau ketemu dengan saya?”
“Sudah berapa lama kamu mengenal Gean?”
“Gean? Saya kenal sejak SMA. Saya teman sekolahnya terus kita kuliah di kampus yang sama juga.”
“Kamu mengenal keluarganya?”
“Iya. Kenapa sih kak?”
“Ngga usah nanya, tinggal jawab aja.”
Rayi menyebikkan bibirnya. Dia sudah seperti tersangka saja yang diberondong berbagai pertanyaan oleh penyidik.
“Apa Gean pernah membicarakan tentang Anfa?”
“Anfa? Siapa dia?”
Abi menghembuskan nafasnya, gadis di hadapannya ini malah menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan lagi.
“Kamu beneran ngga tahu Anfa? Kamu pernah main ke rumahnya ngga?”
“Ke rumah Gean? Seringlah.. tapi aku ngga pernah dengar nama Anfa. Gean itu anak tunggal. Siapa sih Anfa? Jangan bikin aku kepo deh kak.”
“Berarti kamu ngga cukup penting buat Gean sampai dia ngga pernah cerita soal Anfa.”
Kening Rayi berkerut, bertahun-tahun mengenal Gean, tak pernah sekalipun pacarnya itu menyebut nama Anfa. Lamunan Rayi buyar saat pelayan datang mengantarkan pesanan. Diseruputnya minuman dingin pesanannya untuk membasahi kerongkongannya yang kering.
“Saya mau kamu ambilkan rambut Gean untuk saya.”
Uhuk.. uhuk..
Rayi tersedak minumannya sendiri ketika mendengar ucapan Abi. Beberapa kali gadis itu terbatuk.
“Hah? Apa kak?”
“Buat apa kak?”
“Kamu ngga perlu tahu. Kamu mau apa tidak?”
Rayi mendengus kesal. Laki-laki di depannya ini selalu saja bersikap seenak jidat padanya. Dihempaskan punggungnya ke sandaran kursi sambil melipat tangan di depan dada.
“Jelaskan dulu untuk apa. Kalau tidak saya ngga mau melakukannya,” tantang Rayi.
“Ok kalau kamu ngga mau. Hari ini juga saya akan mengganti WO untuk mengurus pernikahan saya.”
Rayi terlonjak dari duduknya mendengar ucapan Abi. Segera ditahannya pria yang baru saja hendak pergi dari hadapannya.
“Ngga bisa gitu dong kak. Persiapan pernikahan sudah berjalan 50 persen.”
“Suka-suka saya dong.”
“Ok.. ok.. saya akan ambilkan rambut Gean. Kapan kak Abi butuhnya?”
“Besok. Antarkan ke kantor saya. Langsung berikan pada saya, tanpa perantara, mengerti?”
“Iya. Tapi kasih tahu dong kak buat apa.”
“Ngga usah kepo. Kamu tahu kalau kepo bisa membuatmu jadi perawan tua? Besok saya sudah terima rambut Gean. Ini buat bayar minuman kamu.”
Abi mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan lalu meletakkannya di atas meja. Setelah itu dia segera pergi meninggalkan Rayi dengan sejuta kekesalannya.
“Huh tinggal bilang tolong apa susahnya. Dia yang butuh tapi pake ngancem segala. Tapi lumayan nih,” Rayi mengambil uang yang tadi diletakkan oleh Abi. Dia tersenyum senang, harga minuman yang dipesannya kurang dari lima puluh ribu.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Kedatangan Abi disambut wajah cemberut Nina. Karena harus bertemu dengan Rayi, dia telat setengah jam datang ke butik Madam Lee untuk fitting baju. Rahma menatap kesal pada anaknya itu.
“Kamu kemana dulu sih?” sembur Rahma begitu Abi masuk ke dalam butik.
“Maaf ma, tadi ada urusan dulu sebentar.”
“Udah cepetan sana fitting baju.”
Rahma mendorong Abi juga Nina untuk segera mencoba pakaian pengantinnya. Keduanya masuk ke ruang ganti yang berbeda. Sepuluh menit kemudian Abi keluar mengenakan tuxedo berwarna hitam, membuatnya terlihat gagah. Tak lama berselang Nina keluar mengenakan gaun pengantin yang menjuntai sampai menutupi kakinya.
Mata Abi melotot melihat gaun yang dikenakan Nina. Bagian atas gaun dibuat off shoulder sehingga memperlihatkan bahunya sampai ke batas dada.
“Apa-apaan ini? Ganti!!”
“Bi..”
“Ma.. aku ngga suka ya Nina pake gaun kaya gini. Pokoknya ganti!”
Rahma menganggukkan kepalanya pada Madam Lee. Desainer itu memberi isyarat pada anak buahnya. Nina dituntun masuk ke ruang ganti. Beberapa menit kemudian Nina kembali keluar. Kali ini gaun yang dikenakannya tertutup di bagian depan namun bagian belakang terbuka hingga mengekspos punggung mulusnya.
“Ganti!!”
“Astaga Abi!”
“Lihat punggungnya kebuka gitu ma, pokoknya ganti!”
Lagi-lagi Nina masuk ke ruang ganti. Gadis itu menggerutu kesal. Bukan hal mudah berganti gaun berkali-kali. Dengan langkah kesal dia keluar dari ruang ganti. Kali ini tubuhnya sudah terbalut gaun dengan model kemben di bagian atasnya.
“Apa-apaan ini!! Awas aja kamu pakai gaun model kaya gitu,” ancam Abi pada Nina.
“Terus mau kamu yang gimana Bi,” gemas Rahma.
“Buatin aja tuxedo buat dia. Ngga usah pake gaun.”
“Mas Abi! Aku mau kelihatan cantik, kalau pake tuxedo kaya kamu, aku lebih mirip anggota Man in Black tau!!” Nina yang sedari tadi diam mulai membuka suaranya.
Madam Lee beranjak dari tempatnya. Tak lama dia kembali dengan buku sketsa dan pensil di tangannya. Dia menghampiri Abi.
“Nak Abi maunya gaun yang seperti apa? Coba katakan, biar tante gambarkan untukmu.”
“Aku ngga mau gaun yang terbuka. Bagian atas harus menutupi sampai bagian leher, tangannya juga harus panjang. Bagian bawah dibuat melebar, supaya dia bisa berjalan dengan nyaman. Panjang gaun harus menutupi kakinya. Jangan menggunakan bahan yang transparan.”
Madam Lee segera menggambar sesuai dengan keingian Abi. Tangan lihainya dengan cepat mendesain gaun sesuai keinginan calon mempelai yang banyak protes. Setelah selesai dia memperlihatkannya pada Abi. Pria itu mengangguk puas.
“Gaun baru akan segera dibuat. Tiga hari lagi Nina sudah bisa mencobanya.”
“Terima kasih madam. Mohon maafkan anak saya.”
“Ngga apa-apa jeng Rahma. Sepertinya Abi sangat mencintai Nina.”
Madam Lee melirik ke arah Abi. Pria itu tak menanggapi, dia masuk ke dalam ruang ganti untuk melepaskan tuxedonya. Begitu pula dengan Nina. Tak lama keduanya keluar lalu bergabung dengan Rahma dan madam Lee.
“Tiga hari lagi ya Nin, gaun kamu sudah siap.”
“Terima kasih madam.”
Ketiganya kemudian berpamitan pada madam Lee lalu keluar bersama dari butik kenamaan tersebut. Nina pulang ke rumah bersama Rahma, sedang Abi kembali ke kantor. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaan, supaya bisa mengambil cuti untuk bulan madu nantinya.
☘️☘️☘️
**Abi mau resepsi apa mau berburu alien pake tuxedo hitam kembaran Ama Nina🤦
Abi, cowok nyebelin tapi ganteng dan bucin akut sama Nina**
__ADS_1
Nina, cewek somplak tapi sukses bikin mas Abi klepek²