
“Rayi Aisyahrani.. will you marry me?”
Rayi hanya mampu terdiam mendengar kalimat yang keluar dari mulut Anfa. Matanya mulai berembun, keinginannya dilamar oleh sang kekasih akhirnya menjadi kenyataan. Bahkan Anfa melamarnya di hadapan banyak orang.
“Ray.. jawab dong, aku pegel ini,” ucap Anfa dengan suara pelan.
Rayi hampir saja tertawa mendengar ucapan Anfa. Bisa-bisanya di saat romantis ini, sang kekasih mengucapkan kata-kata yang menggelitik. Rayi menarik nafas panjang sejenak, baru kemudian memberikan jawaban.
“Yes I will.”
Senyum Anfa terbit. Pemuda itu langsung berdiri kemudian menyematkan cincin bertahtakan berlian berukuran kecil ke jari manis Rayi. Gemuruh tepuk tangan para tamu undangan langsung terdengar begitu Anfa memakaikan cincin. Rayi tak dapat menahan rasa haru sekaligus bahagia yang datang bersamaan. Gadis itu menghambur dalam pelukan Anfa. Di deretan tamu, banyak gadis yang patah hati melihat kemesraan pasangan tersebut.
Teddy tersenyum melihat kebahagiaan Anfa dan Rayi. Tak sia-sia istrinya merencanakan ini semua. Mulai dari menggelar acara Gala Dinner, sampai acara lamaran di hadapan orang banyak. Semua Rahma lakukan untuk memberi pelajaran pada Astuti. Ketiga pria tampan yang masih berada di atas panggung juga turut bahagia melihat Anfa akhirnya bisa melamar kekasihnya.
“Ngga nyangka Anfa bisa romantis juga,” celetuk Juna.
“Ide aku keren kan,” sahut Cakra bangga.
“Pantes, norak, lebay,” seru Abi.
“Dari pada elo, ngelamar Nina pulang dari kuburan,” balas Cakra.
“Nah elo, ngelamar aja mesti gue prank dulu si Sekar,” Abi tak mau kalah.
“Sssttt... ribut mulu. Di antara kalian, cuma aku yang normal proses lamarannya,” Juna menengahi.
“Dih amnesia, lupa kalau jadi pengantin pengganti,” ledek Abi.
“Mana maharnya patungan,” sambung Cakra yang langsung disusul kekehan keduanya. Juna hanya menggelengkan kepalanya saja. Percuma berhadapan dengan dua orang somplak.
Sementara itu, Astuti senang bukan kepalang melihat Anfa melamar anaknya. Wanita itu seakan lupa kalau sebelumnya menentang habis-habisan hubungan mereka. Dengan bangga, dia menoleh ke arah wanita di sebelahnya.
“Lihat dan dengar baik-baik, itu anak saya yang habis dilamar Anfa. Dia itu calon istri Muhammad Anfa Hikmat, bukan kacungnya. Ingat itu baik-baik. Dan buat kamu, berhenti berharap sama Anfa, jangan coba-coba jadi pelakor!”
Pasangan ibu dan anak itu segera pergi meninggalkan Astuti. Wisnu yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan sang istri, mulai berkomentar.
“Bangganya bu. Kemarin aja nolak Anfa mentah-mentah, sampai mau jodohin Rayi sama pria beristri.”
“Berisik!”
Acara lamaran selesai sudah, Teddy beserta anak-anaknya turun dari panggung. Sambil menggandeng Rayi, Anfa berjalan menghampiri Wisnu juga Astuti. Wajah kedua orang tua Rayi terlihat begitu bahagia menyambut kedatangan mereka.
“Om.. tante.. maaf kalau saya lancang sudah melamar Rayi tanpa memberitahu kalian,” ucap Anfa.
“Nda apa-apa nak Anfa. Bapak justru bahagia, akhirnya kalian akan segera menikah,” Wisnu menepuk pundak Anfa.
“Dan soal syarat yang tante minta, In Syaa Allah saya akan memenuhi semua secepatnya.”
“Eh.. nda usah, waktu itu tante cuma bercanda. Pengen tahu seberapa seriusnya kamu ingin menikahi Rayi.”
Rayi memutar bola matanya mendengar ucapan sang mama. Namun kemudian tertawa melihat Wisnu yang menirukan ucapan sang istri tanpa suara dengan mimik meledek. Anfa pun berusaha keras menahan tawanya. Tiba-tiba datang seseorang menghampiri mereka.
“Mas Anfa, direktur PT. Cahaya Mentari minta bertemu. Apa bisa mas?”
“Boleh mas. Sebentar lagi saya ke sana.”
Dendi menganggukkan kepalanya tanda hormat kemudian berlalu pergi. Wisnu, Rayi, terutama Astuti terkejut melihat pria yang baru saja melapor pada Anfa. Pasalnya mereka mengenali Dendi sebagai Pandu yang diinginkan Astuti menjadi calon menantunya.
“I.. itu tadi siapa?” tanya Astuti.
“Oh itu salah satu tim keamanan keluarga Hikmat.”
“Namanya Pandu bukan?” tanya Wisnu.
“Bukan, om. Namanya Dendi. Oh iya, waktu itu om pernah nanya soal Pandu Sukma, bos PT. Nirwana Exim. Maaf saya agak terlambat dapat informasinya. Itu, laki-laki di sana yang namanya Pandu Sukma.”
Anfa menunjuk ke arah seorang pria berumur empat puluh tahun. Tubuhnya sedikit berisi dan rambutnya ikal. Di sebelahnya berdiri seorang wanita yang diyakini sebagai istrinya. Astuti mengerjap-ngerjapkan matanya, rasanya masih belum percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
“Maaf om, tante, saya permisi sebentar. Ray.. kamu mau ikut?”
Rayi menganggukkan kepalanya. Anfa meraih tangan Rayi kemudian melangkah menuju tamu yang tengah menunggunya. Tubuh Astuti sedikit limbung, dengan sigap Wisnu memegang istrinya kemudian mendudukkannya di kursi.
“Ibu kenapa?”
“Kepala ibu pusing pak. Dada ibu juga sesak.”
“Sebentar bapak ambilkan minum dulu.”
Wisnu bergegas menuju meja prasmanan untuk mengambilkan minum. Astuti duduk menyender sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kenyataan beruntun yang diketahuinya malam ini membuatnya terkejut setengah mati. Ditambah dengan mendengar kata-kata Rahma, cukup membuatnya shock.
Astuti kembali dibuat terkejut ketika melihat Abi berjalan ke arahnya. Ingin rasanya Astuti segera pergi, namun apa daya, tubuhnya masih terasa lemas. Dia hanya bisa pasrah saat Abi mendekat. Pria itu berdiri di depannya, tatapannya sudah seperti sembilu yang menancap ke jantungnya.
“Saya tahu kalau anda yang sudah membuat istri saya menangis tempo hari. Satu-satunya alasan kenapa saya diam, karena anda adalah ibu dari Rayi. Tapi kalau sekali lagi saya mendengar anda menghina istri atau adik ipar saya, maka saya tidak akan tinggal diam lagi. Ibu boleh pilih, tinggal di pulau terpencil tanpa keluarga atau mendekam di rumah sakit jiwa. Ingat baik-baik!”
Abi segera berlalu setelah berhasil membuat jantung Astuti hampir bergeser dari tempatnya. Wisnu yang datang sambil membawa segelas air, terkejut melihat wajah sang istri yang begitu pucat.
“Ya Allah, muka ibu pucat gini. Ibu sakit? Kita pulang saja ya.”
Astuti hanya menganggukkan kepalanya saja, karena tubuhnya sudah terlalu lemas. Mulutnya kelu dan tak bisa mengeluarkn sepatah kata pun. Wisnu segera menghubungi Rayi. Tak lama anak gadisnya itu datang bersama Anfa.
“Kenapa pa?”
“Bapak sama ibu mau pulang duluan. Sepertinya ibumu sakit.”
__ADS_1
“Saya akan siapkan mobil untuk mengantar.”
Anfa segera menghubungi seseorang, kemudian memandu Wisnu juga Astuti keluar dari ballroom. Astuti yang sudah tidak bertenaga, dipapah oleh Wisnu juga Rayi. Tepat di depan lobi, sebuah mobil sudah menunggu. Anfa membukakan pintu, kemudian Astuti disusul oleh Wisnu naik ke dalamnya. Tak lama kendaraan itu pun melaju pergi.
Ternyata kejutan demi kejutan terus dialami Astuti. Orang yang mengendarai mobil ternyata adalah Dendi. Sadar terus diperhatikan oleh Astuti, saat mobil berhenti di lampu merah, Dendi sedikit memutar tubuhnya ke arah belakang.
“Ibu Rahma dan semua keluarga Hikmat sudah tahu apa yang ibu perbuat pada mas Anfa juga ibu Nina. Ibu Rahma memang mengutus saya untuk memberikan pelajaran pada ibu dan juga menguji mba Rayi. Ternyata mba Rayi dapat lolos dengan mudah, dan saya harap ibu bisa mengambil pelajaran dari kejadian kemarin. Jangan pernah menilai orang hanya dari penampilan luar saja. Ke depannya harap ibu berhati-hati, karena saya akan terus mengawasi ibu.”
Dendi kembali menghadapkan tubuhnya ke arah depan. Kakinya menekan pedal gas begitu lampu telah berubah hijau. Wisnu merangkul tubuh sang istri yang terlihat lunglai. Dia juga cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan Dendi. Dalam hatinya berjanji akan terus mengawasi dan membimbing sang istri agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
☘️☘️☘️
Setelah mobil yang membawa orang tua Rayi pergi, Anfa tak langsung masuk ke dalam ballroom. Dia mengajak Rayi berjalan-jalan di seputar hotel. Sambil bergandengan tangan, mereka berjalan menyusuri bagian luar hotel hingga akhirnya berhenti di area kolam renang.
Suasana lampu yang temaram membuat suasana di sekita kolam terasa syahdu. Anfa menyandarkan punggungnya ke dinding sedang Rayi berdiri di depannya dengan posisi membelakangi. Kepala Rayi menyandar ke dada Anfa dan tangan pemuda itu melingkari perut sang kekasih.
“Fa.. makasih ya, akhirnya impian aku terwujud. Kamu melamarku dengan cara romantis.”
“Kamu bahagia Ray?”
“Bahagia.. pake banget.”
Anfa mengeratkan pelukannya kemudian meletakkan dagunya di bahu Rayi. Tangan Rayi memegangi tangan sang kekasih yang bertumpu di atas perutnya.
“Kamu mau mas kawin apa?”
“Apa aja, asal bermanfaat dan ngga memberatkan.”
“Hmm.. apa ya.. kalau beras bermanfaat tapi berat ngangkatnya. Gimana kalau daster aja? Bermanfaat dan tidak memberatkan kalau cuma sekodi.”
Mendengar ucapan absurd kekasihnya, Rayi menepuk tangan Anfa cukup kencang. Pemuda itu malah tergelak. Rayi membalikkan tubuhnya, keduanya kini berdiri berhadapan yang hanya berjarak beberapa senti saja.
“Atas nama mama, aku minta maaf kalau sudah menyakiti hatimu juga kak Nina. Terima kasih kamu masih mau menerimaku.”
“Ngga ada alasan untuk melepaskanmu, Ray. I love you.”
“Love you too.”
Anfa memegang pipi Rayi kemudian membenamkan bibirnya. Keduanya terhanyut dalam ciuman lembut nan mesra. Anfa mengakhiri ciumannya kemudian menarik Rayi ke dalam pelukannya.
Lain di luar, lain di dalam. Suasana ballroom Arjuna hotel masih ramai dipenuhi tamu undangan. Mereka saling bercengkerama untuk menjalin hubungan dan memperluas jaringan bisnis. Para pengusaha muda yang baru saja merintis usaha, senang bisa bergabung di asosiasi ini dan berharap dapat membantu bisnis mereka nanti.
Di salah satu meja, empat orang sahabat duduk bersama sambil menikmati makanan juga mengobrol. Personil mereka bertambah dengan kehadiran pasangan duo curut, Nabila dan Syakira. Adinda juga memilih bergabung dengan mereka karena mereka hampir seumuran.
“Itu tadi Anfa romantis banget pas ngelamar Rayi,” tukas Rindu.
“Ide suami gue tuh,” jawab Sekar bangga.
“Kalian berdua kapan nyusul?”
“Sama.. gue juga mau nabung dulu,” sambar Gurit.
“Dipptaaahhh.. aakkhuuuhh maauuhhh syalaaadhh buaaahhh.”
“Bentar ya.”
Gurit bangun dari duduknya untuk mengambilkan permintaan sang kekasih. Radix ikut bangun juga untuk mengambil cemilan lain. Kini tinggal para wanita yang ada di sana. Sekar juga Rindu memanfaatkan situasi ini untuk mengorek informasi dari kekasih sahabatnya.
“Bil.. menurut kamu gimana Radix?” Rindu memulai aksinya sebagai seorang wartawan.
“Baik.. dia juga ceria, dia mood booster buat aku. Ngga pake jaim-jaiman juga, apa adanya dan aku suka.”
“Kalian ada rencana nikah kan?”
“Ya adalah, tapi ngga dalam waktu dekat. Aku sama dia masih mau beresin kuliah plus merintis karir dulu.”
“Dan yang harus kamu ingat, Radix itu anak sulung. Jadi nanti kamu jangan marah kalau Radix harus ikut bertanggung jawab sama kedua adiknya.”
“Iya aku ngerti kok. Aku juga udah dikenalin sama keluarganya. Adik-adiknya juga deket sama aku.”
“Syukur deh, aku titip Radix ya Bil,” seru Sekar.
Sekar bahagia mendengar Nabila yang mengerti kondisi akan Radix. Sahabatnya itu memang berasal dari keluarga sederhana. Dan Radix pasti akan dijadikan tumpuan orang tuanya agar bisa membantu mengurus dua adiknya yang semuanya perempuan.
“Kalau kamu, apa yang kamu suka dari Gurit?” kini Rindu bertanya pada Syakira.
“Diptaaahhh ituuuhh lucuuuuhhh.”
“Topeng monyet kali lucu,” sahut Sekar.
“Daannhh syelaaluuhh bhikiinnhh aakkhuuhh merinduuuhhh.”
“Nama gue tuh Rindu,” sambar Rindu.
Syakira melihat kesal ke arah Sekar dan Rindu. Mereka yang bertanya tapi mereka juga yang memotong ucapannya. Kedua ibu hamil itu hanya terkikik geli melihat reaksi Syakira.
“Kapan rencana nikah sama Gurit? Dia itu anak bungsu, kakaknya udah pada nikah semua,” jelas Sekar.
“Iyaaahhh akhhuuuhh taauuhhh kookkhh. Akkhuuhh siihhh tergaanttuungghh Diptaaahhh ajaaahhh. Maauuhh cepeetthh haayuuuhh maauuhh ditundaahh duluuhh jugaahh gaaah apaah-apaaah.”
Sekar, Rindu, Adinda juga Nabila sama-sama menahan nafasnya ketika mendengar syakira berbicara. Walau kata-kata yang diucapkannya tidak terlalu banyak tapi terasa panjang dan lama.
“Kamu beneran cinta ama Gurit? Atau jangan-jangan masih ngarep bang Jo.”
__ADS_1
Adinda sontak melihat ke arah Sekar ketika nama suaminya disebut. Nampak ketidaksukaan sekaligus cemburu saat mendengarnya. Syakira juga cukup terkejut mendengar pertanyaan Sekar. Dia melirik ke arah Adinda yang melihatnya dengan wajah siap perang.
“Akkuuhh cintaaahhh Diptaaahhh. Kaloohh masshh Jooohhh udaaaahh adaah phawaanghh nyaaahhh. Akkuuhh takhuutthh kaaloohh isytrinyaaahh udaahh bilaaanghh bleewaaahhhhh,” Syakira menyebut kata blewah dengan nada mendesah.
“Bukan begitu cara bilangnya. Tapi gini... BLEWAHH!!!”
Adinda mengeluarkan gaya hardcorenya ketika menyebut kata blewah sambil menggerakkan kepalanya. Walau sudah beberapa kali mendengar namun tetap saja Syakira terkejut mendengarnya. Dia memegangi dada saking terkejutnya. Sedang Sekar, Rindu dan Nabila tak bisa menahan tawanya.
Di meja lain, lima pria tampan plus dua wanita cantik juga tengah tenggelam dalam obrolan seru. Topiknya siapa lagi jika bukan Anfa yang baru saja melamar kekasihnya di hadapan banyak orang.
“Di antara kita, emang Anfa doang yang normal. Pacaran terus ngelamar pake gaya romantis,” ucap Cakra.
“Gue normal,” sahut Abi dengan percaya dirinya.
“Normal dari mana? Pura-pura masih lumpuh biar Nina ngga pergi terus ngelamarnya pake alasan menang taruhan segala, udah gitu abis pulang dari kuburan pula,” ledek Cakra.
“Huahahaha.. kaga nyangka gue, ternyata perjuangan lo dapetin Nina sampe segitunya,” sela Jojo.
“Itu bukti kalau gue cinta mati sama Nina. Dan itu normal menurut gue,” jawab Abi santai seraya mengusap perut buncit istrinya.
“Kalau menurut dia normal, Cak. Dia kan manusia limited edition,” sambung Juna.
Gelak tawa kembali terdengar. Nina pun tak bisa menahan tawanya. Teringat kembali awal-awal hubungannya dengan Abi. Manusia jutek dengan sikap dingin seperti kutub utara akhirnya bisa mencair juga dan berubah menjadi marmut imut jika di hadapannya.
“Tapi yang fenomenal tuh kak Juna sama Nadia. Pake acara drama pengantin pengganti segala, dah kaya judul novel hahaha...”
“Jangan salah Cak. Itu bisa jadi bahan cerita buat anak cucu kita nanti,” sahut Nadia.
“Kalian bertiga bisa menikah dengan pasangan masing-masing atas jasa gue,” ucap Abi jumawa sambil menunjuk ke arah Juna, Cakra dan Jojo.
“Cuma gue yang butuh bantuan lo,” sahut Kevin.
“Mama Delia punya banyak cara buat bikin anaknya si kulkas dua pintu nikah,” balas Abi.
“Udah gitu akadnya sampe diulang-ulang bhuahahaha,” Jojo tertawa puas.
“Dan jangan lupa racikan jamu mama Delia yang bikin si Kevin jebol gawang Rindu hahaha,” Juna tertawa puas.
Kevin hanya berdecih saja mendengar olokan para sahabatnya. Memang benar, tanpa otak licik sang mama, bisa jadi sampai saat ini dia masih berstatus jomblo abadi.
“Tapi gue yakin bakal ada pasangan yang lebih fenomenal lagi,” seru Jojo.
“Siapa?”
“Tuh.”
Jojo menunjuk ke arah Gurit juga Syakira. Semua yang ada di meja melihat ke arah pasangan tersebut. Dan mereka menyetujui ucapan Jojo.
“Kebayang ngga kalo pas akad nikah, si Gurit ijab kabulnya pake suara men**sah hahaha,” Cakra tak bisa menahan tawa mendengar ucapannya sendiri.
“Penghulunya langsung sesak nafas,” sambar Jojo.
“Ngga usah mikirin Gurit. Pikirin aja dulu si Pus yang belum melendung. Beneran kayanya cebong lo lagi demo,” kini bola panas bergulir ke arah Jojo.
“Julukan boleh casanova tapi cebongnya kopong semua,” sambung Kevin.
“Bukan kopong tapi tuh cebong belum dipasang gps makanya nyasar mulu,” lanjut Juna.
“Titiknya coba diperjelas Jo, biar ngga salah alamat,” timpal Cakra.
“Dasar sahabat durjana lo semua,” kesal Jojo.
“Perlu gue mintain jamu sama nyokap gue?”
“Kaga usah! Lihat aja ya, akhir bulan nanti si Dinda pasti isi,” ucap Jojo yakin.
“Isi apa?” tanya Cakra.
“Air galon,” celetuk Nina yang kembali mengundang gelak tawa.
Jojo hanya mampu menggelengkan kepalanya mendengar komentar para sahabatnya yang minim akhlak semua. Nadia sampai menyusut air di sudut matanya karena tak bisa berhenti tertawa.
Di tengah-tengah kegembiraan, tiba-tiba saja Nina merasakan rasa sakit di perutnya. Dia mencekal tangan sang suami guna mengalihkan rasa sakitnya. Melihat perubahan mimik wajah sang istri, sontak Abi terkejut.
“Sayang kamu kenapa?”
“Ssshhh.. sakit mas.. aaauuuwww,” Nina memegangi perutnya yang terasa sakit dan terus menjalar sampai ke inti tubuhnya.
“Jangan-jangan Nina kontraksi, Bi,” ucap Nadia.
Mendengar ucapan Nadia, bukan hanya Abi tapi semua yang ada di sana langsung panik. Cakra bergegas keluar untuk menyiapkan mobil. Nadia buru-buru menghampiri Rahma juga Teddy. Abi membantu Nina untuk berdiri, namun karena istrinya itu sudah tidak kuat berjalan, dia langsung membopongnya.
Jojo dan Kevin berinisiatif membuka jalan untuk calon papa itu. Semua tamu yang ada di sana cukup terkejut melihat Abi yang berjalan cepat sambil membopong sang istri. Sekar, Rindu juga Adinda bergegas mengikuti pria itu. Rahma dan Teddy pun segera meninggalkan acara tanpa berpamitan terlebih dulu.
Anfa dan Rayi yang baru saja akan memasuki ballroom, memutar kembali tubuh mereka begitu melihat Abi dan yang lainnya. Keduanya bergegas menyusul pergi. Radix dan Gurit juga tak ketinggalan, bersama pasangannya mereka juga mengikuti yang lainnya menuju rumah sakit.
☘️☘️☘️
**Wah Nina mau lahiran nih...
Siap² ya beruang kutub bakal punya anak. Ada yg bisa nebak ngga anaknya bakal dikasih nama apa???
Sambil mikirin nama anaknya Abi & Nina, yuk intip novel anak bujang online-ku, Rama Ramles. Buat yang suka genre perjodohan, cuss langsung aja kepoin. Jangan lupa tinggalkan jejak sesudahnya ya. Hatur tengkyu semua🙏😘😘😘**
__ADS_1