
Jojo membuka pintu rumah. Dia langsung mencari keberadaan adik kembarnya, Anka. Beberapa hari terakhir ini Abi selalu menanyakan keadaan Anka padanya. Sahabatnya itu terus bertanya apakah Anka menceritakan sesuatu padanya. Pertanyaan Abi membuat Jojo curiga. Dia dan Anka selalu berbagi cerita, apapun itu. Bahkan ketika Anka jatuh cinta pada Abi, kembarannya itu juga menceritakannya. Anka juga menangis dalam pelukannya ketika mengetahui Abi tak membalas perasaannya.
Sejujurnya Jojo menaruh curiga pada sang adik. Sudah beberapa hari ini Anka nampak murung. Dia lebih senang menyendiri, bahkan tak pernah ada di rumah hampir seminggu ini. Entah kemana adiknya itu pergi. Jojo membuka pintu kamar tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Jojo terkejut melihat Anka tengah berdiri di depan cermin tanpa mengenakan atasan. Mengetahui kedatangan Jojo, Anka buru-buru memakai piyamanya. Jojo yang curiga segera mendekat pada Anka. Sekilas tadi dia melihat ada bercak kemerahan di dada adiknya.
“An.. kamu kenapa?”
“Ng.. ngga apa-apa.”
Anka memegang erat piyamanya yang belum sempat dikancingkan. Jojo semakin curiga, dia menarik tangan Anka, lalu menyingkap piyama yang dikenakannya. Mata Jojo membulat melihat begitu banyak bercak kemerahan yang ada di dada Anka. Jojo bukan lelaki polos, dia tahu dari mana tanda ini berasal. Dengan cepat dia menutup kembali piyama Anka lalu mengancingkannya saat melihat Anka tak nyaman.
“Siapa yang melakukan ini?”
“Ngga ada Jo.”
“Jangan bohong An. Aku tahu tanda apa ini? Bilang An!”
Bukannya menjawab, Anka malah menangis. Jojo menarik Anka ke dalam pelukannya lalu membawa menuju ranjang. Jojo membawa Anka duduk di tepi ranjang, begitu pula dengan dirinya.
“Bilang padaku An, siapa yang melakukannya? Apa kamu punya pacar?”
Anka hanya menggeleng. Dia memeluk pinggang Jojo lalu kembali menangis di dadanya. Jojo berusaha untuk tenang walaupun dadanya bergemuruh hebat. Apakah ini maksud pertanyaan Abi belakangan ini.
“A.. apa seseorang melecehkanmu?”
Jojo memejamkan matanya berharap ketakutannya tak terbukti. Tapi tangis Anka yang bertambah keras ditambah semakin erat pelukan di pinggangnya, Jojo yakin kalau prasangkanya benar adanya.
“Siapa An? Siapa yang melakukannya?”
“Kamu ngga perlu tahu Jo,” jawab Anka di sela-sela tangisnya.
Jojo menguraikan pelukannya. Dipegangnya kedua bahu Anka kemudian memandang wajah adik kembarnya itu lekat-lekat.
“Jawab An, siapa yang melakukannya? Aku akan membuatnya bertanggung jawab.”
Anka menundukkan kepalanya. Tangisnya semakin menjadi. Dapat terlihat raut putus asa di wajah cantik perempuan itu. Jojo mengguncang bahu Anka hingga kembarannya itu kembali melihat padanya.
“Jawab An! Siapa dia?”
“A..bi..” lirih Anka.
Jojo seperti tersambar petir mendengarnya. Seketika pegangannya terlepas. Jojo berdiri dari duduknya, dia berjalan mondar-mandir seraya meremat rambutnya dengan kasar. Tak percaya kalau sahabat baiknya sendiri yang telah menodai adik kembarnya. Jojo kembali mendekati Anka kemudian berjongkok di depannya.
“Benar Abi yang melakukannya An?”
Anka hanya mengangguk lemah tanpa berani melihat ke arah sang kakak. Jojo jatuh terduduk di lantai. Separuh nyawanya seperti melayang-layang di udara. Ingin menyangkalnya, namun kesaksian Anka tak bisa diabaikannya.
“Aku akan bicara pada Abi. Aku akan membuatnya bertanggung jawab padamu.”
“Jangan,” Anka mencekal tangan Jojo.
“An, dia udah perk*sa kamu. Dia harus bertanggung jawab padamu.”
“Aku ngga mau. Aku ngga butuh pertanggungjawabannya. Aku mohon lupakan ini.”
“Ngga bisa An. Bagaimana kalau kamu hamil?”
“Aku akan menanggungnya sendiri.”
“Aaaghhh..”
Jojo meremat rambutnya frustrasi. Bagaimana mungkin Anka bisa sebodoh ini melepaskan Abi begitu saja dari tanggung jawabnya. Jojo mengepalkan tangannya lalu memukuli lantai kamar, melampiaskan semua kemarahannya. Dari semua orang kenapa harus Abi pelakunya. Anka menghambur ke arah Jojo lalu memeluknya.
“Maafkan aku Jo. Aku mohon lupakan semuanya. Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh dirimu untuk melewati semua ini,” Jojo membalas pelukan Anka, keduanya berpelukan sambil menangis.
Keesokan paginya, Ronald sudah menunggu kedua anaknya di meja makan. Dia ingin memberitahukan rencananya untuk pindah ke Singapura. Semenjak kepergian istrinya, ibu Jojo dan Anka setahun lalu, Ronald berniat kembali ke kampung halamannya. Dia ingin memulai hidup baru di sana sambil mengelola perusahaan warisan sang kakek bersama adiknya.
Jojo keluar dari kamar kemudian bergabung dengan Ronald di meja makan. Hubungan Ronald dengan kedua anak sambungnya ini memang cukup baik. dia menyayangi Jojo dan Anka seperti anak sendiri. Dia berniat memenuhi amanat sang istri di akhir hayatnya merawat Jojo dan Anka.
“Jo.. sebenarnya ada yang ingin papa bicarakan sama kalian.”
“Soal apa pa?”
__ADS_1
“Papi berniat kembali ke Singapura. Om Richard membutuhkan bantuan papa mengurus perusahaan opa. Papa harap kamu juga Anka bisa ikut bersama. Tolong bantu papa mengurus perusahaan. Apa kamu mau?”
“Aku terserah Anka aja. Kalau Anka mau ikut, aku juga ikut.”
“Anka mana?”
“Masih di kamarnya mungkin.”
“Coba kamu panggil.”
Jojo beranjak dari duduknya lalu naik ke lantai atas di mana kamar Anka berada. Dia mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada jawaban. Jojo membuka pintu kamar namun tak menemukan keberadaan sang adik di sana. Dia lalu menuju ke kamar mandi, mengetuk-ngetuk pintu tapi tak ada jawaban.
Tiba-tiba perasaan Jojo tak enak, dia membuka pintu tapi ternyata terkunci. Jojo menggedor-gedor pintu sambil berteriak memanggil nama Anka. Mendengar teriakan Jojo, Ronald bergegas menuju kamar Anka.
“Ada apa Jo?”
“Pa.. Anka kayanya di dalam.”
Jojo mundur beberapa langkah lalu dengan sekuat tenaga menendang pintu kamar mandi. percobaan pertama gagal. Ronald ikut membantu, keduanya mendendang pintu bersamaan.
BRAK!!
Pintu terbuka seketika. Jojo menerobos masuk ke dalam. Matanya membulat pemandangan mengerikan di depannya.
“ANKA!!!”
Jojo dengan cepat menuju Anka yang tengah berendam di bath tub. Tangan kirinya menjuntai terkulai di sisi bak dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya. Jojo menyambar handuk kecil kemudian membalut pergelangan tangan Anka, untuk mennghambat pendarahan. Ronald yang melihat keadaan putri tirinya juga shock, dia masuk ke dalam bath tub lalu menarik tubuh Anka ke dalam pelukannya.
“Anka! Jangan tinggalkan papa, Anka! Sadar Anka. Anka!”
“ANKA!!!”
Jojo terbangun dari tidurnya dengan nafas tersengal. Setelah sekian mimpi buruk itu kembali datang dalam tidurnya. Jojo terdiam sejenak lalu beranjak dari tempat tidur hendak menuju ke dapur. Diteguknya segelas air dingin untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
“Abi... lo harus membayar semua dosa-dosa lo!”
PRANG!!
“Halo. Segera jalankan rencana selanjutnya.”
☘️☘️☘️
Semilir angin terasa di permukaan kulit Jojo yang sejak tiga puluh menit lalu masih betah berada di makam Anka. Jojo duduk bersila di samping makan Anka, tangannya terus mencabuti beberapa rumput liar yang tumbuh di atasnya. Setiap bulan dia selalu mengirimkan uang pada penjaga kuburan untuk membersihkan merawat makam Anka dan kedua orang tuanya.
“An.. apa benar kalau Abi yang telah memperk*samu? Kenapa sampai sekarang dia tak mau mengakuinya. Cih bahkan dia meminta bukti padaku.”
Sejak pertemuannya dengan Abi dan pembicaraannya dengan Cakra dua hari lalu, dia sedikit bimbang dengan kebenaran yang selama ini diyakininya. Melihat sorot mata Abi yang dengan yakin menyangkal tuduhannya, berikut dengan alibi yang Cakra berikan. Jujur saja Jojo sedikit meragu.
Seorang pria bertubuh tegap datang menghampiri Jojo. Dia adalah salah satu anak buah Jojo yang diminta mencari bukti tentang Abi yang telah memperkosa adiknya. Pria itu ikut duduk di samping Jojo.
“Apa yang kamu dapat?”
“Nihil bos. Hari itu Abi memang sempat pergi dari kantor selama dua jam tapi ngga ada yang tahu kemana dia pergi. Karena sudah cukup lama juga, kami kesulitan melacak jejaknya.”
“Abi itu cerdik, dia pasti sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Sudahlah, lebih baik kamu segera jalankan rencana kita selanjutnya. Besok gadis itu harus sudah ada di tanganku, mengerti?”
“Siap bos.”
Pria itu bangkit kemudian pergi meninggalkan Jojo yang masih ingin berlama-lama di makam sang adik. Jojo memandangi nisan yang tertera nama Anka di sana.
“Jalanku semakin dekat untuk membalaskan dendamku An. Tunggulah sebentar lagi, setelah kupastikan Abi membayar semua yang dilakukannya, aku akan menyusulmu.”
☘️☘️☘️
Sekar sibuk memilih bunga yang akan digunakan untuk dekorasi resepsi pernikahannya nanti. Sebenarnya sudah ada WO yang mengurus semua, namun gadis itu bersikeras ingin ikut serta dalam prosesnya. Dia ingin memastikan semua hal yang berkaitan dengan pernikahannya benar-benar sesuai keinginannya.
Sejatinya hari ini Rayi akan menemaninya memilih bunga, tapi entah mengapa kekasih Anfa itu belum juga terlihat batang hidungnya. Sejam yang lalu, Rayi mengabarkan sudah dalam perjalanan. Ponsel Sekar bergetar, sebuah pesan dari Rayi masuk yang mengatakan tidak bisa datang karena mendadak ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
Sekar menghembuskan nafas kesal, akhirnya dia memutuskan melakukannya sendiri. Setelah memilih bunga yang diinginkannya, Sekar memutuskan untuk langsung pulang saja. Cakra tadi sudah mewanti-wanti agar dirinya tidak terlalu lama berada di luar rumah.
Sekar keluar dari toko florist. Tangannya sibuk memesan taksi online untuk membawanya pulang. Cakra tidak bisa menjemputnya karena harus bertemu dengan klien yang kemarin sempat tertunda karena urusan Jojo. Sekar melihat ke kanan dan kiri, mencari tempat yang cocok untuk dirinya menunggu pesanan taksinya.
Matanya kemudian tertuju pada kedai es krim yang ada di seberang jalan. Setelah mengirimkan pesan pada sang driver di mana dia menunggu, Sekar pun melangkahkan kakinya menyebrangi jalan. Sekar terkejut ketika mendengar teriakan seseorang memanggil namanya. Di saat bersamaan sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju ke arahnya.
__ADS_1
Sekar masih belum menyadari apa yang terjadi ketika seseorang menerjangnya. Tubuhnya terdorong ke belakang. Dengan cepat orang yang menabrak Sekar membalikkan tubuhnya hingga punggungnya membentur dinding di belakangnya. Terdengar teriakan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Mobil yang tadi berusaha menabrak Sekar langsung tancap gas. Pria yang tadi menyelamatkan Sekar menghubungi seseorang dengan ponselnya.
“Kejar mobil tadi yang berusaha menabrak Sekar. Cari tahu siapa yang menyuruhnya.”
Sekar yang masih belum sadar dari keterkejutannya perlahan mulai kembali kesadarannya setelah mendengar suara yang dikenalnya. Gadis itu membuka matanya lalu melihat pria yang telah menyelamatkan hidupnya.
“Bang Jojo..”
“Kamu ngga apa-apa?”
Sekar menganggukkan kepala seraya beringsut sedikit menjauh dari Jojo. Gadis itu cukup terkejut mengetahui orang yang telah menyelamatkan nyawanya adalah Jojo. Lamunan Sekar buyar saat ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak kenal. Jojo segera mengambil ponsel Sekar lalu menjawab panggilan. Pria itu menghampiri sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Maaf pak, pesanannya batal ya. Ini buat uang ganti ruginya.”
Jojo menyerahkan dua lembar seratus ribuan pada pria yang ternyata supir taksi online. Setelah itu dia kembali menghampiri Sekar yang masih terpaku di tempatnya.
“Kamu mau kemana?”
“Pulang.”
“Cakra ngga jemput kamu?”
“Bang Cakra lagi sibuk.”
“Ck.. ceroboh. Ayo abang antar pulang.”
Jojo melangkah menuju mobilnya yang terparkir beberapa meter dari kedai es krim. Saat menyadari tak ada pergerakan dari Sekar, Jojo kembali lalu menarik tangan gadis itu. Jojo membukakan pintu untuk Sekar. Mau tidak mau Sekar masuk ke dalam mobil. Jojo melajukan kendaraannya menuju rumah yang dulu menjadi rumah kedua baginya.
“Bang Jojo.. makasih udah selamatin aku.”
“Kalau nyebrang hati-hati Se. Dari dulu kamu tuh selalu aja ceroboh,” kesal Jojo.
“Iya bang.”
“Kalau abang ngga datang tepat waktu gimana coba? Cakra bisa nangis bombay lihat calon istrinya celaka. Abi juga pasti ngamuk, dia bakal ubek-ubek satu kota ini cari orang yang udah celakain kamu.”
Sekar terdiam, dia seolah terlempar ke masa lalu, di mana kakaknya, Cakra dan Jojo masih bersahabat akrab.
“Kenapa bang Jojo selamatin aku?”
“Kamu bego apa gimana sih? Kamu adiknya Abi, berarti adikku juga. Mana bisa aku diam lihat kamu celaka Se.”
Sekar melihat ke arah Jojo. Matanya berkaca-kaca, sungguh dia merindukan sosok Jojo yang seperti ini. Sejak dulu baik Cakra maupun Jojo selalu bersikap baik padanya. Bahkan kini di tengah perselisihannya dengan sang kakak, Jojo masih menunjukkan kepeduliannya.
“Kalau gitu, bisa ngga abang sama kak Abi berdamai?”
“Kalau dia mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf padaku, aku akan memaafkannya. Tapi sampai saat ini dia terus menyangkalnya.”
“Karena kak Abi ngga ngelakuinnya.”
“Anka ngga mungkin menuduhnya tanpa alasan Se.”
“Kalau gitu, bukankah lebih baik abang mencari alasannya lebih dulu sebelum membalaskan dendam abang?”
Jojo terdiam, kata-kata Sekar sukses menohok perasaannya. Suasana seketika menjadi hening. Mobil yang dikendarai Jojo memasuki kompleks perumahan yang dulu sering dikunjunginya. Dia menghentikan kendaraannya di depan rumah mewah yang sejak dulu tak berubah tampilannya.
“Sekali lagi makasih bang. Aku harap masalah abang dengan kak Abi cepat selesai. Aku merindukan bang Jojo yang dulu. Aku juga berharap abang bisa mendampingi bang Cakra saat pernikahan nanti. Salah satu alasan bang Cakra menunda pernikahan karena masih berharap bang Jojo bisa kembali bersama mereka.”
Sekar meraih tangan Jojo lalu mencium punggung tangannya. Tak lama gadis itu turun dari mobil. Jojo tercenung saat Sekar mencium punggung tangannya. Dulu dia selalu menggoda gadis itu. Setiap bertemu dengan Sekar, Jojo selalu menyodorkan tangannya meminta gadis itu mencium punggung tangannya.
Jojo menyandarkan kepalanya ke sandaran jok. Dia memang membenci Abi yang telah menodai adiknya, namun tak bisa dipungkiri rasa sayang pada sahabat dan orang-orang di sekitarnya masih ada. Dulu dia sempat berencana menyakiti Sekar demi membuat Abi menderita. Namun nyatanya itu hanya angannya belaka. Saat tadi melihat nyawa Sekar dalam bahaya, jantungnya serasa hampir copot.
Jojo membenturkan kepalanya ke sandaran jok beberapa kali. Mengapa upaya balas dendamnya semakin berat saja saat semuanya hampir menuju akhir. Ponsel Jojo berdering, menarik kesadaran pria itu. Melihat panggilan dari anak buahnya, dia dengan cepat menjawab panggilannya.
“Halo.”
“Bos.. umpan sudah siap.”
☘️☘️☘️
**Jojo masih ada rasa sayang ternyata sama sahabatnya.
Kira² siapa yang dijadikan umpan Jojo ya🤔**
__ADS_1