KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Gean & Anfa


__ADS_3

Dua anak lelaki berusia sepuluh tahunan berjalan menyusuri aliran sungai. Kedua anak itu adalah Gean dan Anfa. Mereka sedang berkunjung ke kampung halaman ayah Gean di daerah Leuwiliang, Bogor. Suara gemericik air dan warnanya yang jernih menarik minat Gean untuk masuk ke sungai. Setiap berkunjung ke sini, Gean memang sering bermain dan mandi di sungai.


Anak yang bersama Gean adalah Anfa, adik Nina yang terpisah saat bencana tsunami. Dia diangkat anak oleh Danuardi dan istrinya Wina. Dikarenakan ada masalah dengan rahimnya, Wina divonis tidak bisa memiliki anak lagi. Akhirnya mereka memutuskan mengadopsi Anfa yang mereka temukan saat berkunjung ke salah satu panti asuhan. Kehadiran Anfa membuat Gean bahagia dan tidak lagi kesepian.


Semenjak peristiwa tsunami, Anfa mengalami trauma akan air. Dia takut ke tempat-tempat yang berhubungan dengan air seperti sungai, danau atau pantai. Bahkan dia juga tidak berani ke kolam renang.


“Fa.. ayo kita nyebur,” ajak Gean.


Anfa hanya menggelengkan kepalanya. Dia beringsut menjauh dari bibir sungai. Gean membuka sepatunya. Dia bersiap untuk masuk ke dalam sungai.


“Ge.. jangan.. lihat langitnya udah mendung. Takutnya di atas udah hujan nanti sungainya tambah deras,” Anfa mengingatkan.


“Bentar aja Fa. Nanti kita bakalan lama ngga datang ke sini lagi.”


Gean menaruh sepatunya di salah satu batu di pinggiran sungai. Kemudian dengan wajah sumringah anak itu masuk dan bermain air di sana. Gean merendam tubuhnya di salah satu genangan yang cukup dalam. Anfa hanya memperhatikan dari pinggiran dengan hati cemas. Dia memang selalu seperti itu jika berada di sungai.


Janji bermain sebentar, namun Gean malah asik berlama-lama di sana. Dia tak menyadari kalau debit air semakin naik dan alirannya semakin deras. Anfa yang sedari tadi hanya memperhatikan Gean mulai menyadari kalau arus air bertambah deras.


“Ge.. naik Ge.. airnya tambah deras!” teriak Anfa.


Gean yang masih asik bermain tak menghiraukan teriakan Anfa. Namun anak itu tak hentinya mengingatkan Gean. Terganggu dengan teriakan Anfa, Gean berdiri. Dilihatnya sekeliling, air yang tadinya hanya sebatas betis kini sudah sampai ke lutut. Alirannya pun bertambah deras.


“Ge! Buruan naik!!”


“Fa!! Tolongin Fa!! Airnya deras banget!!”


Posisi Gean yang berada di tengah sungai menyulitkan dirinya untuk menuju tepian karena derasnya air. Anfa mulai terlihat panik, dia menengok ke kanan dan kiri berharap menemukan orang yang bisa membantu, namun nihil. Tak ada siapa pun di sekitar mereka.


“Fa!! Tolong Fa!!”


Kembali terdengar teriakan Gean. Anfa menghirup oksigen banyak-banyak. Dia mencari sesuatu yang bisa membantu Gean. Tangannya lalu meraih ranting pohon yang tergeletak di dekat bebatuan. Dengan hati-hati Anfa berjalan menuju sungai. Dia mengulurkan ranting di tangannya pada Gean.


“Ge.. pegang!”


Gean menjulurkan tangannya meraih ranting di tangan Anfa. Karena posisinya cukup jauh, pelan-pelan Gean berjalan mendekat. Dia semakin takut ketika melihat bebatuan di sekitarnya sudah terendam air, yang artinya debit air semakin bertambah. Tangannya berhasil menangkap ranting. Dengan berpegangan pada ranting, Gean mencoba berjalan menyebrangi sungai.


Sedikit demi sedikit Gean mulai mendekati tepian. Anfa memegangi ranting dengan kedua tangannya. Kakinya yang satu ditempatkan di belakang batu agar bisa menahan dirinya. Saat jarak Gean hanya tinggal sedikit lagi, tiba-tiba saja salah satu kakinya memijak batuan yang licin hingga tergelincir. Tangannya menarik dengan kuat ranting hingga tubuh Anfa ikut masuk ke dalam sungai.


“Tolong!!!”


“Tolong!!!”


Terdengar teriakan dari Anfa juga Gean saat tubuh mereka terbawa arus sungai. Beberapa kali tubuh mereka terantuk bebatuan. Anfa menggapai-gapaikan tangannya mencoba meraih apapun yang bisa menahan tubuhnya. Tak jauh di depannya Anfa melihat sebuah pohon yang batangnya menjulur sampai ke sungai. Anfa menaikkan tangannya, berusaha menggapai dahan tersebut dan berhasil.


“Ge!!”


Anfa merentangkan tangannya ke arah Gean, dengan cepat Gean meraih tangan Anfa. Kedua anak itu mencoba bertahan di tengah derasnya sungai. Mereka kembali berteriak minta tolong, mencoba bersaing dengan kencangnya suara aliran air. Tangan kiri Anfa terus berusaha memegang dahan untuk menahan tubuhnya, sedang tangan kanannya memegang tangan Gean.


“Aaaagghhh...” teriak Anfa menahan sakit di kedua tangannya.


“Fa!!”


“Ge!! Pegang terus Ge!! Jangan lepas!!”


“Fa!! Aku ngga kuat Fa!!”


“Ge!! Jangan lepas Ge!! Ge!!!”

__ADS_1


Pegangan Gean di tangan Anfa semakin mengendur karena tubuhnya terus terhantam arus air. Perlahan pegangannya mulai terlepas.


“Ge!! Pegang terus Ge!!”


“Fa!! Tolong Fa!!”


Anfa terus berusaha menggenggam tangan Gean. Namun aliran yang semakin deras serta debit air yang terus bertambah membuat Gean tak bisa bertahan. Pegangannya di tangan Anfa terlepas.


“Anfa!!!”


“Gean!!!”


Gean terbangun dari tidurnya, tubuhnya bersimbah keringat. Terdengar nafasnya yang memburu. Gean meraih gelas yang ada di nakas dekat ranjangnya lalu meneguknya sampai habis. Disekanya keringat yang membasahi keningnya. Setelah sekian lama, Gean kembali mengalami mimpi buruk yang sering menghantuinya selama bertahun-tahun.


Gean beranjak dari kasur lalu menuju kamar mandi. Waktu menunjukkan pukul setengah empat. Dia memutuskan shalat tahajud disambung dengan tadarus sambil menunggu waktu shubuh tiba. Gean baru saja menyelesaikan bacaannya ketika adzan shubuh terdengar. Dia bangun lalu keluar dari kamarnya. Setiap shubuh Gean selalu menyempatkan shalat berjamaah di masjid.


☘️☘️☘️


Gean menyisir rambutnya di depan cermin. Tubuhnya sudah terbalut kemeja berwarna biru langit yang dipadankan dengan celana bahan berwarna biru dongker. Dirinya sudah bersiap berangkat ke kantor walau waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Gean keluar dari kamar lalu menuju meja makan. Di sana Wina sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya juga Danu. Gean menarik kursi di samping Danu yang tengah sibuk dengan ponselnya. Dia menyendokkan nasi goreng ke dalam piring lalu mulai memakannya. Wina datang menaruh secangkir kopi untuk suaminya lalu duduk berhadapan dengan Gean.


“Ge.. akhir minggu ini, keluarga pak Rahmat akan datang. Mereka akan membicarakan pernikahanmu dengan Monik.”


Gean menghentikan makannya. Ditatapnya Wina yang sedang menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Dia sungguh tak mengerti mengapa Wina bersikukuh menjodohkan dirinya dengan Monik. Sudah bukan rahasia lagi di daerah ini bagaimana sepak terjang Monik. Perempuan angkuh yang hobinya keluar masuk club malam. Bahkan hampir setiap malam dia berganti pasangan.


“Ma.. aku ngga mau menikah dengan Monik.”


Wina menaruh sendok di piring dengan cukup keras. Matanya menatap tajam ke arah Gean. Danu yang sedari tadi hanya sibuk dengan ponselnya mulai memperhatikan keduanya.


“Kenapa? Karena anak yang bernama Rayi itu?”


“Kalau begitu kembalikan Geanku! Kembalikan!!”


“Ma..” tegur Danu.


“Ma.. apa masih kurang apa yang kulakukan sampai sekarang? Sejak kecil sampai sekarang aku hidup dalam bayang-bayang Gean. Aku hidup dengan identitas Gean yang sudah tiada. Semua yang kulakukan apa yang Gean sukai, aku tidak pernah menjadi diriku sendiri. Apa itu masih kurang ma?”


“Ya.. itu masih kurang!! Seharusnya kamu tidak pernah hadir di antara kami!! Kalau kamu tidak ada, Geanku masih hidup!!”


“CUKUP!!!”


Suara menggelegar Danu menghentikan perdebatan Gean dan istrinya. Pria itu berdiri lalu membantu istrinya untuk bangun. Dia menatap tajam ke arah Gean.


“Selama ini kami sudah berbaik hati membesarkanmu. Maka balaslah semua pengorbanan kami dengan tetap menjadi Gean. Menikahlah dengan Monik jika kamu mau membayar kesalahanmu pada kami.”


Danu membawa istrinya masuk ke dalam kamar. Gean tak meneruskan sarapannya, n*fsu makannya hilang sudah. Disambarnya tas ransel di atas meja kemudian bergegas keluar rumah. Gean memacu motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah yang seperti neraka baginya.


Gean mengarahkan motornya menuju TPU Sirnaraga. Hari masih pagi, jadi dia memutuskan untuk mengunjungi makam Anfa sebelum ke kantor. Gean memarkirkan motornya di dekat pohon besar, kemudian melangkahkan kakinya menyusuri deretan makam. Dia berhenti di depan sebuah makam yang bertuliskan Muhammad Anfa.


Cukup lama Gean memandangi makam di depannya. Hatinya teriris melihat namanya yang tertera di sana. Semenjak kecelakaan di sungai yang merenggut nyawa Gean, hidup Anfa berubah seratus delapan puluh derajat. Danu dan Wina yang masih belum bisa menerima kenyataan anaknya telah meninggal dunia menyalahkan Anfa sebagai penyebab meninggalnya Gean.


Setelah jasad Gean ditemukan tak bernyawa oleh salah seorang penduduk, Wina dan Danu segera membawa Gean dan Anfa ke Bandung. Mereka mengatakan pada semua orang bahwa Anfa yang meninggal. Ketika Anfa masuk ke sekolah baru, Danu mendaftarkannya atas nama Gean. Rambut Anfa dibuat ikal dan diwarnai serupa dengan rambut Gean.


Bukan hanya itu, mereka juga memaksakan semua kebiasaan Gean pada Anfa. Semua makanan kesukaan Gean menjadi makanan kesukaan Anfa. Semua hobi Gean menjadi hobi Anfa. Bahkan Anfa dipaksa bisa berenang karena Gean suka berenang. Berulang kali Anfa sakit karena begitu trauma ketika berhadapan dengan air. Tapi Wina dan Danu tak peduli, mereka terus memaksa anak itu. Hingga akhirnya Anfa berhasil mengatasi trauma walau butuh waktu lama dan dengan proses yang tak mudah.


“Ge.. aku cape Ge.. mama sama papa sampai sekarang masih belum bisa menerima kepergian kamu. Sampai kapan aku harus terus hidup di bawah bayanganmu? Waktu itu kita berusaha bersama kan Ge? Kita tetap berusaha berpegangan tapi arus sungai yang deras memisahkan kita. Aku harus bagaimana Ge? Apa aku harus terus menjadi dirimu sampai ajal menjemput?”

__ADS_1


Seorang kuncen yang mengenali Gean segera mendekati pemuda itu. Pria berusia lima puluh tahunan ini sudah lama mengenal Gean. Bahkan dia juga yang menguburkan anak yang diketahuinya bernama Anfa. Sampai sekarang dirinya yang merawat makam tersebut.


“Nak Gean..”


“Eh pak Sani.”


Gean mencium punggung tangan pria itu. Kuncen yang bernama Sani itu selalu menjadi pendengar yang baik bagi Gean saat pemuda itu tengah galau.


“Ada masalah apa?”


“Ngga ada apa-apa pak. Lagi kangen aja sama Anfa.”


“Rapih sekali. Apa mau bekerja?”


“Iya pak. Alhamdulillah saya sudah diterima kerja di perusahaan besar.”


“Alhmadulillah.. jangan lupa traktirannya buat bapak.”


“Tenang aja pak.”


Terdengar tawa Sani. Dia merangkul bahu Gean kemudian mengajaknya ke saung tempatnya beristirahat saat menunggui makam di siang hari. Di saung sudah tersedia segelas kopi hitam yang telah habis setengahnya dan sepiring singkong rebus.


“Sarapan dulu.”


“Makasih pak. Sudah tadi di rumah.”


Gean mendudukkan bokongnya di saung yang terbuat dari anyaman bambu. Di sebelahnya Sani duduk menyandar ke tiang saung.


“Oh iya.. beberapa minggu lalu ada seorang perempuan muda yang mencari makam Anfa. Dia datang malam-malam dan minta ditunjukkan makam Anfa. Dia terus duduk di sana sambil menangis. Besoknya lagi dia datang bersama seorang laki-laki.”


DEG


Dada Gean bergemuruh mendengar cerita Sani. Dalam hati Gean bertanya-tanya apakah perempuan itu adalah Nina, kakak perempuannya. Walau saat terpisah dulu umurnya baru 5 tahun, namun Gean masih ingat kalau dia memiliki seorang kakak perempuan bernama Nina.


“Si.. siapa namanya pak?”


“Bapak tidak tahu.”


“Apa dia pernah ke sini lagi?”


“Belum.”


“Kalau dia ke sini, tolong kabari saya pak. Atau berikan nomer saya padanya. Bapak masih punya nomer hp saya kan?”


“Iya masih. Nanti kalau dia datang lagi, bapak akan kasih nomermu.”


“Makasih pak.”


Kak Nina... apa itu kamu kak? Aku kangen kakak. Ya Allah, kalau benar kakakku masih hidup. Tolong pertemukanku dengannya.


☘️☘️☘️


**So.. Gean itu Anfa apa bukan?


Buat readers semua, mamake ucapkan terima kasih karena sudah setia mengikuti kehaluan mamake dalam novel ini. Terima kasih juga buat dukungan dan komentar positifnya. Alhamdulillah novel ini masuk ranking 20 besar karya baru. Terima kasih semua buat dukungannya🙏🤗😘


Gean mau berangkat kerja dulu ya gaaaeesss**

__ADS_1



__ADS_2