KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Salipan Tanpa Sen


__ADS_3

Hampir seminggu lamanya Ravin tidak pulang ke rumah. Banyaknya pekerjaan di hotel, membuat pria itu lebih memilih tinggal di hotel. Bahkan untuk membantu Freya mempersiapkan pernikahan yang hanya tersisa delapan hari lagi, dia harus mencuri-curi waktu. Ravin melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Kening Ravin mengernyit melihat beberapa kotak hantaran di atas meja yang ada di ruang tengah. Tidak pulang ke rumah beberapa hari sepertinya membuatnya ketinggalan berita besar. Pria itu lalu duduk di samping sang mama yang tengah merapihkan kotak-kotak tersebut.


“Itu kotak buat apaan ma?”


“Kotak hantaran pernikahan kamu. Lupa kamu kalau minggu depan mau ketemu penghulu?” kesal Rindu.


“Oh iya, ma. Hehehe.. ya maaf.”


“Makanya jangan kerjaan mulu yang diurus. Awas kamu kalau udah nikah, jangan mikirin kerjaan terus, kasihan Freya kalau dianggurin.”


“Iya, ma.”


“Nanti kalau udah nikah, Freya masih kerja?”


“Ngga ma. Rencananya dia mau lanjut S2.”


“Bagus deh.”


“Aku mandi dulu ya, ma.”


Ravin mencium pipi Rindu kemudian naik ke lantai dua, menuju kamarnya. Sebelum masuk, sekilas dia mengintip ke kamar Viren yang pintunya terbuka. Nampak adiknya itu tengah berkutat dengan laptopnya.


“Udah di rumah masih kerja aja, lo,” tegur Ravin.


“Terpaksa. Tau sendiri papa kaya gimana. Lagian besok gue mau cuti.”


“Gaya lo, baru kerja sebulan udah minta cuti aja.”


“Ada masalah mendesak.”


“Apaan?”


“Kepo banget lo, jadi orang.”


Ravin memutar tubuhnya kemudian masuk ke dalam kamarnya. Berbicara dengan Viren membuatnya kesal, adiknya itu selalu sukses membuat tensi darahnya naik. Sesampainya di kamar, Ravin segera membuka pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setengah jam kemudian, pria itu selesai dengan aktivitas mandinya. Baru saja kakinya keluar dari kamar mandi, terdengar ponselnya berdering. Melihat sang calon istri yang melakukan panggilan video, dengan cepat Ravin menjawab panggilan. Seketika wajah Freya memenuhi layar ponsel.


“Abaaaang!” Freya berteriak seraya memalingkan wajahnya. Gadis itu terkejut melihat calon suaminya masih bertelanjang dada.


“Apa, Yang,” sahut Ravin santai.


“Itu iih pake baju dulu.”


“Kelamaan. Ada apa?”


“Abang pulang apa nginep di hotel lagi?”


“Di rumah, Yang. Nih, lihat.”


Ravin mengganti tampilan kamera depan menjadi kamera belakang, kemudian memperlihatkan isi kamarnya. Lalu pria itu kembali mengganti tampilan kamera lagi. Diletakkan kamera di atas meja dengan posisi berdiri, kemudian mengambil pakaian dari dalam lemari. Freya hanya memperhatikan saja kekasihnya itu yang tengah memakai kaos.


“Yang, jangan ngintip ya, abang mau pake celana dulu.”


“Matiin aja dulu. Aku telepon lagi nanti.”


“Jangan. Sebentar kok, kamu jangan ngintip, nanti kepengen," kekeh Ravin.


Freya langsung membalikkan tubuhnya membelakangi kamera, sementara Ravin dengan cepat memakai celananya. Setelah tubuhnya terbalut pakaian lengkap, dia menghempaskan diri ke kasur dengan ponsel berada dalam genggamannya.


“Bang.. besok kita kerja setengah hari aja. Bukan kita aja sih, Ez juga. Bang Ken, bang Aric, bang Barra. Pokoknya, semua diundang ke rumah ayah Juna.”


“Emang mau ada acara apa?”


“Emang papa sama mama belum kasih tau? Besok kan Viren mau ngelamar Al.”


“APA???!!”


Ravin sampai terlonjak dari posisi tidurnya begitu mendengar kabar dari sang kekasih. Pantas saja sang adik meminta cuti. Hatinya dongkol, untuk hal sepenting ini tidak ada yang mengabarkan padanya.


“Yang.. nanti abang telepon lagi, ya.”


“Iya, bang.”


Setelah mengakhiri panggilan, Ravin bergegas keluar kamar. Dia langsung masuk ke kamar Viren tanpa mengetuk pintu. Adiknya itu masih belum selesai dengan pekerjaannya dan mengabaikan kedatangan Ravin.


“Lo keterlaluan ya, Vir. Lo besok mau ngelamar, Al tapi ngga kasih tau gue. Mama sama papa juga sama aja. Kalian anggap gue apa?”


“Salah sendiri kenapa lo ngga pulang-pulang, udah kaya bang Toyib aja,” jawab Viren santai tanpa melihat ke arah Ravin.


“Lo kan bisa telepon gue! Ternyata selama ini gue ngga pernah dianggap jadi bagian hidup lo, ya. Keterlaluan lo!”


Sambil membanting pintu dengan kencang, Ravin keluar dari kamar sang adik. Rindu yang terkejut mendengar suara bantingan pintu, bergegas naik ke lantai atas. Baru saja dia tiba di atas, Ravin sudah keluar dari kamarnya, bersiap untuk pergi.


“Vin, kamu mau kemana?” tanya Rindu bingung.


“Ke hotel, ma.”


“Kamu kenapa lebih senang tidur di hotel dari pada di rumah?”


“Karena aku ngga dianggap juga di rumah ini."


“Maksud kamu apa sih?”


“Besok Viren mau ngelamar Al. Tapi aku justru tahu kabar ini dari Frey, bukan dari mama, papa apalagi Vir. Kalian seolah nganggap aku ngga penting, atau memang aku ngga penting ya ma.”


“Ravin!!”


Suara berat Kevin terdengar, menginterupsi pembicaraan ibu dan anak itu. Dengan raut wajah tak suka, Kevin mendekati anak sulungnya itu. Viren yang mendengar kegaduhan, segera keluar dari kamar.

__ADS_1


“Vin, bukan seperti itu, nak. Kami memang akan membicarakan masalah lamaran Viren sama kamu hari ini.”


“Kenapa baru sekarang, ma? Kenapa ngga kemarin-kemarin?”


“Karena keputusan lamarannya juga baru tadi siang, bang,” jawab Viren.


“Sorry, bang. Gue bukannya ngga mau kasih tau, bukan juga nganggap lo ngga penting. Tapi emang keputusan lamaran baru tadi siang.”


“Kenapa mendadak? Jangan-jangan lo udah kasih DP ya ke Al.”


Dengan kesal Viren menendang bokong kakaknya yang asal bicara. Rindu juga mencubit pinggang anaknya ini sampai meringis kesakitan. Dengan gerakan kepala, Kevin meminta semua turun. Mereka kemudian berkumpul di ruang keluarga. Viren pun mulai bercerita perihal rencana lamaran yang terkesan mendadak itu.


“Rencananya gue mau ngelamar Al habis abang sama yang lain nikah. Tapi ternyata, kondisinya ngga memungkinkan. Reymond makin gencar deketin Al, dan gue juga terlalu sibuk di kantor, jadi om Juna sama papa mutusin memajukan waktu lamaran.”


“Emang Septa sama yang lain kemana? Emangnya mereka ngga bisa jagain Al, apa?”


“Mereka pasti bisa jagain, Al. Tapi om Juna ngga mau ambil resiko. Dia takut kecolongan lagi soal Al. Makanya kita ambil keputusan kaya gini. Sorry, bang.”


“Ya kalau alasannya jelas gini kan enak. Gue kaget aja lo mau ngelamar Al ngga bilang-bilang sama gue.”


“Thanks, bang.”


Ravin hanya menganggukkan kepalanya saja. Amarah yang tadi sempat menguasainya, kini sudah hilang. Justru kini dia menerka-nerka bagaimana reaksi Barra. Kalau pria itu tahu, dirinya mendapat tikungan tajam dari Viren. Tanpa sadar Ravin malah menyunggingkan senyuman, membayangkan Barra yang nangis guling-guling. Kemungkinan besar Al akan menerima lamaran Viren, sedangkan Barra masih menunggu keputusan Hanna yang tanpa batas waktu.


“Kenapa lo senyum-senyum kaya orang gila,” tegur Viren.


“Gue ngebayangin aja gimana reaksi Barra kalau disalip ama elo, hahahaha…”


Viren ikut tertawa mendengar komentar sang kakak. Rindu pun tak bisa menahan senyumnya. Karakter Barra hampir sama dengan Jojo, pasti akan ada kehebohan esok hari saat pria itu menyaksikan acara lamaran Viren.


☘️☘️☘️


Selepas shalat Jum’at, kediaman Juna mulai didatangi keluarga dekat juga sahabat. Selain para orang tua, anak-anak pun sudah berkumpul. Mereka terkejut saat mendengar Viren akan melamar Alisha. Tak ada angin, tak ada hujan, pria yang lekat dengan julukan chiler dan es balok itu tiba-tiba melamar Alisha.


Semua sudah berkumpul untuk menyaksikan acara lamaran. Beberapa kali mereka melihat ke arah lantai atas, bertanya-tanya mengapa Alisha belum juga turun. Sementara itu Viren dengan didampingi Kevin sudah duduk tenang di sana. Tak lama Septa dan Duta memasuki ruang tengah seraya menggotong meja berukuran kecil lalu menaruhnya di tengah. Tak lupa mereka melatakkan enam buah bantal duduk di sana.


Juna bersama ketua RT setempat memasuki ruangan diikuti dua orang pria berpakaian layaknya pegawai negeri sipil. Salah seorang dari mereka menempati bantal duduk yang tadi disiapkan. Berturut-turut menyusul Juna, Viren, pak RT dan juga Jojo. Aric, Barra dan Fathan mulai merasa curiga melihat situasi di depan mereka.


Belum hilang rasa penasaran mereka, tiba-tiba saja pria yang berpakaian PNS itu memerintahkan Juna untuk memulai acara. Dengan mantap pria itu menggenggam tangan Viren yang duduk di hadapannya.


“Bismillahirrahmanirrahiim.. ananda Virendra Adhitama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Alisha Maheswari Hikmat binti Perwira Arjuna Hikmat dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Alisha Maheswari Hikmat binti Perwira Arjuna Hikmat dengan mas kawin tersebut, tunai!”


“Bagaimana para saksi, sah?”


“SAH!” tegas Barra dan pak RT.


Tak seperti pernikahan Kenzie yang begitu mempelai pria selesai mengucapkan ijab kabul langsung terdengar teriakan dan celotehan, kali ini hanya kesunyian yang ada. Aric dan Fathan hanya terbengong saja. Pernikahan mereka yang hanya tinggal menghitung hari disalip begitu saja oleh Viren. Begitu pula dengan Barra, nasibnya semakin mengenaskan saja. Belum juga Hanna mengangkat gantungan atas lamarannya, tiba-tiba Viren langsung tancap gas menyalipnya. Bukan lamaran tapi langsung membayar tunai. Ravin yang memang sudah mengetahui kalau acara hari ini bukan hanya lamaran tapi langsung akad nikah terlihat santai. Dia malah sibuk mengabadikan hari sakral sang adik dengan kameranya.


Pandangan semua orang yang ada di ruang tengah langsung beralih ke arah tangga begitu mendengar suara langkah menuruni anak tangga. Alisha muncul dengan mengenakan kebaya berwarna putih gading. Gadis itu diapit oleh Azra juga Anya. Nadia segera menyambut anak bungsunya itu lalu mendudukkannya di sisi Viren.


Dada Alisha berdegup kencang ketika bersitatap dengan Viren. Dia tak percaya kalau pria yang dicintainya kini sudah sah menjadi suaminya. Kemarin ayahnya hanya mengatakan kalau Viren akan melamarnya namun ternyata pria itu langsung memberi label halal padanya.


Sang penghulu kemudia meminta kedua mempelai menandatangani buku pernikahan. Ravin terus mengarahkan kamera pada pasangan pengantin. Dia juga mengarahkan pasangan tersebut berfoto seraya memamerkan buku nikah serta cincin pernikahan. Sekali lagi dia mengarahkan Viren berfoto seraya merangkul bahu Alisha dan terakhir meminta pria itu mencium keningnya.


Wajah Alisha kembali memerah begitu mendapatkan ciuman di kening untuk kedua kalinya. Usai berfoto, keduanya mendengarkan tausyiah singkat dari penghulu tentang hak dan kewajiban suami istri. Acara dilanjut dengan pemberian wejangan dari orang tua. Alisha memeluk erat Juna, sang ayah akhirnya mengabulkan keinginannya untuk menikah muda.


“Al, sayangnya ayah. Sekarang kamu sudah menjadi istri, orang yang bertanggung jawab atas dirimu mulai sekarang adalah Viren, suamimu. Jalani pernikahan kalian dengan baik, ingatlah selalu akan kewajibanmu sebagai istri. Ayah akan selalu mendoakanmu.”


“Terima kasih ayah,” suara Alisha terdengar tercekat. Juna melepaskan pelukan di tubuh sang anak lalu beralih pada menantunya.


“Viren.. terima kasih untuk semua yang kamu lakukan untuk Al. Ayah titip anak bungsu ayah padamu. Perlakukan dia dengan baik dan lemah lembut. Sayangi dia seperti kami menyayanginya.”


“Iya, ayah.”


Juna memeluk menantunya ini sebentar. Alisha kemudian menuju ke arah Nadia. Gadis itu tak kuasa mengatakan apapun pada wanita yang telah melahirkannya, selain menangis dalam pelukannya. Mata Nadia juga ikut berkaca-kaca. Hatinya yang sempat cemas sang anak tak bisa lepas dari traumanya, kini sudah memiliki pendamping yang baik, anak dari sahabat baiknya.


“Jangan menangis sayang. Ini adalah hari bahagiamu. Lihatlah, Allah sudah memberikan jodoh seperti yang kamu inginkan. Mama percaya dia akan menjagamu dengan baik. Jadilah istri yang solehah, baktimu pada suami yang akan mengantarkan ayah dan bunda ke surga.”


“Aamiin.. Iya, ma.”


Masih dengan Alisha dalam pelukannya, Nadia menarik Viren ke dekatnya lalu memeluk pria itu. Viren yang biasanya terlihat tanpa ekspresi, juga ikut terharu berada dalam pelukan Nadia, terlebih ketika wanita itu membisikkan kata-kata yang menyentuh hatinya.


“Titip Alisha.. tolong gantikan kami untuk menjaga dan membimbingnya. Dia permata hati mama. Mama percayakan dia padamu.”


“Iya, ma.”


Setelah terlepas dari pelukan dari Nadia, pasangan pengantin menuju ke arah Rindu. Dengan airmata kebahagiaan, wanita itu memeluk anak dan menantunya. Dia membisikkan doa-doa terbaik untuk pasangan pengantin tersebut kemudian mencium kening mereka bergantian. Lalu keduanya menuju Kevin. Tanpa banyak bicara, Kevin langsung memeluk Alisha.


“Anak papa… terima kasih sudah mau menjadi anak papa. Viren, kamu harus menjaga Al dengan baik.”


“Iya, pa.”


“Papa..”


Alisha berjalan menuju Abi yang berdiri di samping Juna. Pria itu membuka lebar tangannya, membiarkan Alisha masuk ke dalam pelukannya. Airmata gadis itu kembali mengalir, kedua tangannya memeluk pinggang Abi erat.


“Papa.. Al udah dapet suami yang seperti papa, kan?”


“Iya, sayang. Viren adalah suami yang kamu butuhkan.”


“Abang Viren seperti papa kan?” Alisha kembali bertanya.


“Iya sayang, tapi tetep gantengan papa,” Abi terkekeh setelahnya. Kevin langsung mendelik ke arah sahabatnya itu yang sebentar lagi juga akan menjadi besannya.


“Iya Al, Viren emang mirip sama papa kamu itu. Sama-sama ngga enak kalau ngomong,” celetuk Jojo yang langsung disambut gelak tawa.


“Sama juga kaya bapaknya noh,” lanjut Cakra.


“Tapi ngga perlu dijebak kaya bapaknya juga. Anaknya selangkah lebih maju,” timpal Juna. Kembali gelak tawa terdengar.


Usai menemui para tetua, kini Alisha menghampiri kakak kembarnya. Tak menyangka dia harus melewati kedua kakaknya sekaligus, menikah lebih dulu. Azra menyambut sang adik kemudian memeluknya. Begitu pula dengan Ezra, tangannya terlentang merangkum tubuh kedua adiknya.

__ADS_1


“Makasih kak Az, kak Ez, udah ijinin aku nikah duluan. Maaf..”


“Ngga ada yang harus dimaafkan. Lagian seminggu lagi kakak juga nyusul,” sahut Azra.


“Kakak senang, akhirnya kamu bisa bersama dengan laki-laki yang kamu sayangi,” sambung Ezra.


Lain Alisha, lain Viren. Pria itu mendekati Ravin lalu memeluknya erat. Kakaknya itu bersikap legowo mempersilahkan sang adik menikah lebih dulu. Begitu selesai memeluk Ravin, Aric segera menarik Viren lalu dengan kesal menjitak kepala pria itu disusul oleh Fathan dan Barra.


“Dasar tukang tikung. Lo ngga tau seperti apa perjuangan gue dapet tanggal pernikahan?” kesal Aric.


“Kita yang susah-susah rebutan tanggal, elo seenaknya aja nyalip. Mana ngga pake sen lagi,” sembur Fathan.


“Dasar kang es balok keliling, lo bikin posisi gue tambah ngenes aja,” Barra ikut menjitak kepala Viren.


“Heleh.. nentuin tanggal pake hompimpah ama suit aja. Lebay lo pada,” celetuk Kenzie.


“Tetap aja perjuangan itu. Harusnya si Viren ambil antrian dulu, minimal ikutan gambreng lah,” sewot Aric.


“Yaelah bang, lebay amat. Seminggu lagi juga kalian nyusul. Apa kabar yang onoh, udah digantung, disalip juga. Kalau luka tuh, belum sembuh udah ditimpa luka baru, ujung-ujungnya jadi borok huahahaha…”


Kenan memegangi perutnya sambil terus mengeluarkan tawanya. Begitu pula dengan Ravin, akhirnya dia bisa melihat ekspresi Barra, yang sedari kemarin dibayangkan. Viren sang pelaku penyalipan juga ikut terpingkal. Senang sekaligus puas bisa menyalip tiga calon pengantin sekaligus.


Tidak peduli dengan kekekian calon pengantin yang disalip atau protesan Barra, Irvin pelan-pelan mendekati Anya yang berdiri di dekat meja makan. Hubungan keduanya memang semakin dekat akhir-akhir ini, namun Anya masih belum menjawab lamarannya.


“Nya.. kapan kita nyusul Viren?” tanya Irvin pelan sesampainya di dekat Anya.


“Dih.. abang ngarep.”


“Masih ada sisa waktu seminggu, Nya. Gimana kalau kita nikahnya Kamis depan. Dijamin tuh tiga calon pengantin bakalan kejang-kejang. Apalagi bang Barra, bisa-bisa dia masuk IGD hahahaha…”


“Ish abang kalo ngomong suka bener,” Anya terkikik geli.


“Nya..”


“Apa?”


“Nikah yuk.”


“Aku belum beres kuliah bang. Nanti deh satu atau dua tahun lagi.”


“Ya udah, kencan yuk, besok.”


“Ngga mau.”


“Ya ampun diajak nikah ngga mau, diajak kencan juga ngga mau. Kalau diajak ngangon komodo mau ngga?”


“Abang aja sono, aku sih ogah hahaha..”


“Ya udah deh, aku cari cewek yang mau kencan ama aku aja.”


Irvin segera pergi meninggalkan pujaan hatinya. Anya melihat sejenak ke arah Irvin lalu mengangkat bahunya. Alih-alih mengejar Irvin, dia malah menghampiri Alisha untuk memberikan selamat pada sepupunya itu.


Saat yang lain tengah menikmati hidangan, Barra menghampiri Hanna yang duduk di teras. Dia mendudukkan diri di samping gadis pujaannya itu. Hanna melemparkan senyuman pada Barra.


“Viren keterlaluan ya,” celetuk Barra.


“Keterlaluan kenapa bang?”


“Bisa-bisanya dia nyalip tiga calon pengantin sekaligus.”


Hanna tak kuasa menahan tawanya. Topik tikungan tajam Viren masih menghiasi perbincangan di siang ini. Barra melihat ke arah Hanna, hatinya semakin tak menentu melihat senyuman cantik gadis itu. Dirinya semakin tak rela jika harus menyerahkan pujaan hatinya pada mandor Romusha.


“Han.. apa kamu sudah ada keputusan?” akhirnya Barra memberanikan diri untuk bertanya.


“Maaf bang. Jujur, aku masih belum berpikir untuk menikah dalam waktu dekat. Aku masih nyaman dengan status pertemanan kita, begitu juga dengan Toza.”


“Aku kesannya maksa ya,” Barra tersenyum getir.


“Ngga kok, bang.”


“Aku juga minta maaf kalau ternyata ngga bisa menunggu terlalu lama. Kalau setelah pernikahan Fathan, kamu masih belum bisa memberikan jawaban, aku anggap itu penolakan darimu.”


Barra memegang tangan Hanna sebentar, kemudian pria tu beranjak dari duduknya. Dia kembali berkumpul dengan para sahabatnya. Hanna tertegun begitu ditinggalkan Barra, perasaannya langsung tak enak begitu mendengar Barra mengatakan hal tersebut. Gadis itu memandangi Barra yang tengah bergurau dengan sahabat-sahabatnya.


☘️☘️☘️


Malam harinya, pasangan pengantin baru sudah masuk ke dalam kamar. Mulai malam ini dan seterusnya, Viren akan tinggal di kediaman Juna. Setelah menikah nanti, Azra akan ikut tinggal di rumah orang tua Fathan, sedang Ezra sudah memiliki rumah sendiri yang baru dibelinya sebulan lalu. Rencananya setelah menikah, dia akan mengajak sang istri tinggal terpisah untuk memulai hidup mandiri. Jadi, Juna meminta Viren dan Alisha tetap tinggal bersamanya.


Alisha berdiri di depan jendela kamarnya yang belum tertutup. Sejenak dia masih memandangi bulan purnama yang sinarnya begitu terang malam ini. Sesekali dia melirik Viren yang masih sibuk dengan ponselnya, entah apa yang dilakukan suaminya itu. Tangan Alisha kemudian bergerak menutup daun jendela dan menggeser gorden hingga menutupi kaca. Namun setelahnya, Alisha masih bertahan di tempatnya.


Usai mengirimkan beberapa berkas e-mail melalui ponselnya, Viren meletakkan benda pipih itu di atas nakas kemudian menghampiri Alisha. Sejujurnya pria itu merasa canggung berduaan di kamar dengan sang istri, makanya dia memilih mengurus pekerjaan yang sebenarnya masih bisa dikerjakan nanti.


“Al..”


“Iya bang,” Alisha membalikkan tubuhnya menghadap Viren.


“Belum ngantuk?”


“Belum bang. Emmm… aku boleh nanya sesuatu ngga, bang?”


“Nanya apa?”


“Abang kenapa tiba-tiba nikahin aku?”


☘️☘️☘️


**Jawaban si kang es balok keliling apa ya?


Mohon maaf kemarin ngga bisa up karena habis me time bareng anak yang nagih terus pengen refreshing. Alhamdulillah setemah refreshing mood mamake buat ngetik KPA udah balik lagi sehabis anjlok gara² level turun. Mudah²an ngga ada kendala lagi sampai cerita ini berakhir. Buat yang masih setia, sarangbeo eh sarangheo😂😘


Pasangan pengantin baru**


__ADS_1


__ADS_2