KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Pembasmi Hama


__ADS_3

Rindu keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sudah lebih segar, area bawahnya juga sudah tidak terlalu sakit. Dia harus mengacungkan jempol pada mama mertuanya, karena pandai meracik jamu.


Rindu memandangi tubuhnya yang hanya terbalut handuk di cermin. Tangannya meraba beberapa tanda merah di lehernya akibat ulah Kevin. Dia tersipu malu saat mengingat adegan intim mereka tadi. Kevin yang biasa bersikap dingin ternyata begitu buas saat di ranjang. Belum lagi saat mengingat suaminya mengucapkan cinta padanya, Rindu benar-benar dibuat melayang.


Rindu melihat sekeliling kamar yang sudah rapih. Bajunya yang berserakan di lantai sudah tidak ada. Seprai pun telah diganti dengan yang baru. Lalu mata Rindu tertuju pada ponsel Kevin yang tergeletak di atas nakas.


“Iiihh.. abang pasti lupa bawa hpnya. Hmm.. aku anterin aja kali ya ke kantor, sekalian aku pengen lihat si Vita,” gumam Rindu.


Rindu membuka lemari, diambilnya sebuah dress selutut warna biru navy. Warna dress begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Dipolesnya wajah dengan make up tipis, lalu menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Dia mengambil tas selempang lalu memasukkan dompet, ponselnya dan ponsel Kevin. Sambil bernyanyi kecil Rindu keluar dari kamar.


Rindu duduk di teras menunggu pesanan taksi onlinenya tiba. Dia sengaja tidak menggunakan ojek motor karena bagiannya bawahnya masih sedikit linu kalau duduk di motor. Tak lama pesanan taksinya datang. Setelah berpamitan dengan bi Ipah, Rindu bergegas naik ke dalam kendaraan roda empat tersebut.


☘️☘️☘️


Kevin menoleh saat sebuah tepukan mendarat di bahunya. Juna ternyata sudah berada di belakangnya. Mereka langsung masuk ke dalam lift begitu pintunya terbuka. Juna baru saja selesai melakukan pertemuan dengan salah satu kliennya. Dia cukup terkejut melihat Kevin berada di kantor.


“Ngapain ke kantor? Aku kan udah kasih ijin cuti sampai beres resepsi.”


“Tadi Vita telepon, katanya ada berkas yang harus ditanda tangan.”


“Kan udah semua dialihkan. Pekerjaanmu dihandle sama Darian. Tapi khusus untuk Dream Pasific, Abi yang bakal handle.”


“CEO nya banyak tingkah.”


“Makanya aku kirim Abi. Kalau kamu yang handle pasti bakalan ribut kaya waktu itu. Tapi kalau Abi, mereka ngga akan berkutik.”


“Ada gunanya juga otak licik sama sikap kejamnya Abi.”


Baik Juna maupu Kevin terkekeh. Juna kerap meminta bantuan Abi jika berhadapan dengan klien yang sering menyusahkan. Adiknya itu selalu punya cara untuk menaklukkan klien-klien yang menyebalkan.


“Udah pulang sana. Kekepin si Rindu hahaha...”


“Tanggung udah di sini.”


“Tanggung itu kalau lagi olahraga di kasur ada yang ketok-ketok pintu hahaha... eh bilang ke mama aku minta jamunya.”


“Ck.. bener kan ini semua kerjaan mama.”


“Hahaha... sok ngeluh padahal bahagia. Kalau mama ngga ikut campur kapan kamu mau jebol gawang Rindu. Akhirnya si kulkas berjalan udah ngga perjaka lagi Eh tapi tadi ngga salah masuk lubang kan? Hahaha..”


Kevin hanya mendengus kesal mendengar ledekan sahabat sekaligus atasannya ini. Juna tak bisa berhenti tertawa, rasanya senang sekali mengganggu asistennya yang terkenal dingin dan cuek serta irit bicara.


Sementara itu di ruangan Kevin, Darian tengah berbicara serius dengan Vita. Laki-laki berusia 25 tahun itu berdiri di depan meja Vita dengan kedua tangan berada di pinggang. Matanya menatap tajam pada gadis di depannya.


“Vit.. ngapain kamu hubungi pak Kevin ke kantor? Semua pekerjaan pak Kevin udah aku handle, termasuk berkas yang harus ditanda tanganinya.”


“Ya maaf aku ngga tau.”


“Ngga tau atau pura-pura ngga tau? Denger ya, aku rekomendasiin kamu kerja di sini atas permintaan kakak kamu. Jadi kamu harus kerja yang bener, jangan macem-macem. Aku ngga mau kehilangan muka di hadapan pak Juna sama pak Kevin gara-gara kamu.”


“Aku ngga macem-macem kok.”


“Tapi sikap kamu udah bikin aku curiga. Awas aja jangan coba-coba godain pak Kevin.”


“Emang kenapa? Kalau pak Kevin naksir aku gimana?”


“Denger ya pak Kevin sudah punya...”


“Sugar baby? Aku tahu si Rindu Rindu itu kan? Cih.. aku heran kok mau ya pak Kevin sama perempuan model dia.”


“Jaga omongan kamu ya Vit. Rindu itu sahabatnya Sekar, adiknya pak Juna. Jangan cari masalah, kerja yang bener!”


Percakapan keduanya terhenti ketika pintu ruangan terbuka. Kevin masuk ke dalam ruangan lalu mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Darian segera menghampiri Kevin, begitu pula dengan Vita.


“Pak Kevin, maaf sudah membuat bapak datang ke kantor. Sepertinya Vita melakukan kesalahan, semua pekerjaan bapak akan menjadi tanggung jawab saya sampai dua minggu ke depan,” ujar Darian.

__ADS_1


Kevin melihat ke arah Vita dengan sorot mata tajam. Gadis itu menundukkan pandangannya. Hatinya ketar-ketir juga melihat wajah Kevin yang tidak bersahabat. Kevin memberi tanda pada Darian untuk keluar dari ruangan. Pria itu bergegas keluar. Kini hanya tinggal Kevin dan Vita saja.


“Mana berkas yang harus saya tanda tangani?”


“Maaf pak.. sudah dihandle oleh pak Darian.”


BRAK!!!


Kevin menggebrak meja dengan keras membuat Vita terkesiap. Dia semakin menundukkan kepalanya. Rasanya tak sanggup melihat wajah Kevin yang seperti hendak memakannya.


“Dasar tidak becus kerja! Harusnya kamu konfirmasi dulu sebelum menyuruh saya ke sini!!”


“Ma.. maaf pak. Sekali lagi saya minta maaf.”


“Kembali ke tempatmu!!”


Vita bergegas kembali ke mejanya. Kevin menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi seraya memijit pelipisnya. Kepalanya mendadak pening, melihat Vita benar-benar membuatnya naik darah. Belum lagi wajah Rindu yang selalu melintas di pelupuk matanya, membuat Kevin semakin tak karuan.


Vita keluar dari ruangan saat Darian menelponnya untuk datang ke ruangannya. Gadis itu bergegas keluar. Setelah mendapatkan berkas yang harus dikerjakannya, Vita bermaksud kembali ke ruangannya. Namun saat di dekat ruangan Kevin, dia berpapasan dengan Rindu yang baru datang.


“Ngapain ke sini? Ngga lihat apa sekarang belum waktunya makan siang?” sembur Vita.


“Ih suka-suka gue lah. Kepo banget hidup lo,” Rindu hendak masuk namun lengannya dicekal oleh Vita.


“Ini kantor ya. Sugar baby kaya elo tuh ngga pantes ada di sini. Sana pergi!”


“EHEM!!!”


Vita terjengit ketika mendengar deheman keras. Kevin berdiri di depan pintu menatap tajam ke arahnya. Rindu segera menghampiri Kevin.


“Ngapain ke sini?”


“Mau anterin hp. Hp abang ketinggalan tadi.”


“Ayo..” Kevin menggandeng tangan Rindu. Saat melintas di depan Vita, Kevin menghentikan langkahnya.


Vita terhenyak mendengar ucapan Kevin. Rindu menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Puas sekali dia melihat wajah Vita yang shock mendengar kenyataan tentang hubungannya dengan Kevin.


☘️☘️☘️


Semua pegawai yang tengah berada di lobi langsung menundukkan kepalanya saat Abi memasuki gedung Blue Sky. Pria itu diminta Juna membantu melakukan negosiasi dengan Dream Pasific menggantikan Kevin. Dia memang sudah terbiasa menangani klien yang menyebalkan. Abi segera masuk ke lift khusus petinggi untuk mencapai lantai 20, tempat di mana ruangan Kevin dan kakaknya berada.


Kedatangan Abi langsung disambut oleh Darian. Pria itu membukakan pintu ruangan untuk Abi. Tanpa banyak bicara Abi masuk lalu duduk di belakang meja kerja Kevin. Vita yang telah diberitahu tentang kedatangan Abi bergegas menghampirinya. Sejenak dia tertegun melihat wajah tampan di depannya.


“Selamat datang pak Abi. perkenalkan saya Vita, saya yang akan membantu bapak selama berada di sini.”


Vita menyunggingkan senyum manisnya pada Abi. Kekecewaannya mengetahui kenyataan kalau Kevin sudah menikah dengan mantan sahabatnya, sedikit terobati melihat Abi yang juga sama tampannya. Abi melihat ke arah Vita dengan wajah datarnya. Dia melihat gadis itu dari atas sampai bawah.


“Kamu sekretaris baru Kevin?”


“Iya pak.”


Ya ampun suaranya pak Abi seksi banget sih.


“Selama saya bekerja di sini, saya ngga mau lihat kamu pakai pakaian seperti ini. Kenakan celana panjang, jangan rok pendek, mengerti!!”


“Iya pak, mengerti,” lagi Vita melayangkan senyum manisnya.


“Dan saya ngga butuh senyum kamu tapi kinerja kamu! Kembali sana!”


Hati Vita mendadak ciut mendengar ucapan Abi. Ternyata pria tampan itu tak kalah ketus dari Kevin. Dengan perasaan kecewa, Vita kembali ke mejanya. Baru beberapa menit Vita duduk, Abi sudah memanggilnya lagi. Buru-buru gadis itu menghampiri.


“Ada apa pak?”


“Laporan ini kamu yang buat?”

__ADS_1


“Iya pak.”


“Apa Kevin tidak mengajarimu bagaimana membuat laporan yang benar? Kerjakan lagi!!”


Abi melemparkan berkas ke atas meja, Vita segera mengambilnya lalu kembali ke mejanya. Tak berapa lama dia kembali lalu menyerahkan hasil revisinya. Abi membacanya sebentar, lalu melemparkan kembali berkas ke meja.


“Masih salah!! Kamu tahu ngga sih dasar penulisan laporan?!”


“Maaf pak, salah saya di mana?”


Abi melihat sekilas Vita sebentar, lalu mengangkat gagang telepon di dekatnya. Dia menghubungi Darian, meminta pria itu datang ke ruangan. Tak berselang lama Darian masuk ke dalam ruangan.


“Ada apa pak Abi?”


“Ajari dia bagaimana menulis laporan yang baik dan benar. Saya kasih waktu lima belas menit. Dan ini, revisi semua laporan ini. Jangan pulang sebelum kamu selesai merevisinya. Kalau tidak selesai juga, saya tunggu surat pengunduran diri kamu!”


Abi bangun dari duduknya lalu keluar dari ruangan. Dia bermaksud menemui Juna, kakaknya. Vita menghembuskan nafas panjang. Ternyata Abi jauh lebih menyeramkan dibanding Kevin. Matanya memandang ke arah tumpukan berkas. Bakal sampai tengah malam dia mengerjakannya.


“Vit, aku kan udah kasih contohnya seperti apa, kenapa masih salah sih.”


“Maaf kak, tadi aku ngga fokus.”


“Makanya fokus Vit, kalau kamu masih mau bertahan di sini. Pak Kevin keras orangnya, tapi dia masih mau memberikan satu kesempatan kalau kita melakukan kesalahan. Beda dengan pak Abi, dia itu ngga menolerir kesalahan. Kerja sama dia harus zero mistake. Selain itu dia ngga punya belas kasihan, kinerja yang ngga sesuai dengan kriterianya bakal langsung ditendang.”


“Dia sampai kapan di sini kak?”


“Sampai proyek dengan Dream Pasific selesai.”


Vita terdiam sebentar. Kerjasama dengan Dream Pasific adalah proyek besar. Artinya akan cukup lama Abi berada di sini. Bisa-bisa pria itu akan menjadi atasannya sampai Kevin kembali dari cutinya. Vita tak bisa membayangkan dirinya bekerja di bawah tekanan Abi. Bukan hanya kata-katanya yang ketus, tapi sikap dan caranya melihat pun sangat menyeramkan. Vita merasa tak cukup kuat mental bekerja bersama Abi.


“Kak.. aku boleh pindah divisi ngga? Aku ngga sanggup kerja dengan pak Abi.”


“Kamu yakin? Ada posisi kosong sih di divisi marketing, tapi bagian admin. Kamu mau? Kalau mau nanti aku bilang ke pak Juna.”


“Iya ngga apa-apa kak, dari pada aku dipecat, meding aku pindah divisi aja deh.”


“Ya udah. Tapi kamu kerjain dulu ini.”


“Iya kak.”


Darian keluar dari ruangan lalu menuju ruangan Juna. Dia melaporkan kalau Vita meminta pindah divisi. Juna pun mengabulkannya. Untuk sementara Darian akan menghandle pekerjaan Kevin, sambil mencari sekretaris baru untuk Kevin. Setelah melapor, Darian kembali ke ruangannya, meninggalkan Juna dan Abi yang tengah berbincang.


“Jadi gimana Bi, soal Dream Pasific?”


“Gampang itu kak, aku udah punya sesuatu yang buat mereka mati kutu. Trik kaya gini udah biasa mereka lakukan untuk mendapatkan keuntungan lebih dari partner kerjanya. Tapi tenang aja, mereka ngga akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.”


“Iyalah aku percaya sama kamu. By the way makasih udah buat si Vita minta pindah divisi. Kalau ngga, aku bakalan puasa terus. Nadia marah gara-gara Sekar ngadu soal Vita. Aku dibilang miara uler belang yang bisa merusak rumah tangga Kevin sama Rindu. Ditambah dia ketakutan kalau Vita ikutan godain aku. Pusing aku, sekarang Nadia posesif banget. Lagian mana aku tahu kalau si Vita itu mantan sahabat Rindu yang tukang tikung.”


“Hahahaha... masa si Kevin ngga bisa nyingkirin si Vita.”


“Si Vita belum melakukan kesalahan fatal, makanya dia belum bisa nendang Vita.”


“Ck.. kebanyakan prosedur. Sekarang lihat, si Vita ngga perlu ditendang, dia sendiri yang minta pindah divisi.”


“Ya kan emang kamu ahlinya membasmi hama hahaha..”


“Aku balik ke kantor lagi. Gara-gara si Vita, kerjaanku ketunda.”


Abi berdiri lalu melangkah keluar dari ruangan. Juna tersenyum senang karena sang adik berhasil melempar Vita keluar dari posisinya sebagai sekretaris Kevin. Dia sudah tak sabar untuk pulang ke rumah meminta sang istri mencabut larangan berkunjung ke gua lembabnya.


☘️☘️☘️


🤣🤣🤣 **Si Vita dikira bakal dapet mangsa baru, ngga taunya singa kelaparan🤣🤣


Emang cocok mulut bon cabe jadi pembasmi hama🤣

__ADS_1


Yang pernah nanya sadis mana Abi sama Kevin udah tahu kan jawabannya😂


Hari sampai tiga hari ke depan, mamake cuma bisa up 1x karena ada kesibukan di RL, mohon maaf ya. Setelah urusan beres, In Syaa Allah bakalan up 2x lagi. Makasih semua🤗**


__ADS_2