KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Malaikat Penyelamat


__ADS_3

Tubuh mungil Adinda gemetar saat dirinya dipaksa turun dari mobil van yang tadi membawanya pergi. Tadi Rika menyekapnya di suatu tempat dan kini mereka telah berada di depan sebuah klub malam kenamaan di kota Bandung.


“Ta.. tante.. ngapain kita ke sini?”


“Itu tempat tinggal barumu sayang. Di sana kamu bisa menghasilkan banyak uang dan kamu tidak akan hidup susah lagi.”


“Ngga... Dinda ngga mau!”


Adinda mencoba kabur namun dua pria berbadan tegap kembali menangkapnya. Keduanya menyeret Adinda masuk ke dalam klub diikuti Rika dari belakang. Mereka terus menyeret gadis itu masuk ke dalam sebuah ruangan. Seorang wanita paruh baya berdandan menor tengah duduk di sofa.


“Jadi dia gadis yang mau kamu jual padaku?” tanya wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah mami Elis.


“Iya mi. Namanya Adinda, cantik kan? Saya jamin seratus persen dia juga masih per*wan.”


“Kamu tantenya kan? Kenapa tega sekali menjual keponakanmu sendiri.”


“Dia keponakan suamiku. Lagi pula suamiku juga membencinya. Baginya anak ini cuma anak pembawa sial. Tapi menurutku dia anak pembawa rejeki. Berapa mami mau membayarnya?”


Mami Elis menelisik Adinda dari atas sampai bawah. Cantik, itu yang ada di benaknya. Wajahnya juga sangat komersil, mirip bintang K-Pop. Dia hanya tinggal memolesnya sedikit dan memberinya pelajaran bagaimana cara memuaskan pelanggan maka bisa dipastikan banyak pria yang mengantri menginginkannya.


“50 juta!”


Mata Rika membelalak mendengar jumlah yang ditawarkan wanita itu. Seumur hidup Rika belum pernah memegang uang sebesar itu. Tentu saja itu nominal yang cukup besar baginya. Dengan cepat dia menganggukkan kepalanya.


Mami elis berdiri kemudian berjalan menuju meja kerjanya. Dibukanya laci yang terletak di bagian bawah meja lalu mengeluarkan amplop coklat berisikan uang yang tadi disebutkannya. Wanita itu menyodorkan amplop tersebut ke arah Rika yang langsung disambar cepat olehnya.


“Terima kasih mami Elis. Senang berbisnis dengan mami.”


Rika keluar ruangan dengan senyum bahagia tanpa mempedulikan teriakan Adinda yang terus memanggilnya. Dua pria yang merupakan anak buah mami Elis mendudukan Adinda di sofa. Mereka tetap berjaga di dekat gadis itu.


“Malam ini kamu mulai bekerja. Pelanggan setiaku menginginkan pelayanan seorang per*wan. Dan kamu adalah pilihan tepat.”


“Jangan bu.. tolong lepasin saya bu.”


“Kamu itu tambang emasku sayang. Tenang saja, setiap yang datang ke sini pertama kali pasti akan bersikap seperti dirimu. Tapi lama-lama mereka menikmatinya juga.”


Adinda menggelengkan kepalanya kuat. Airmatanya mulai bercucuran. Hidup sungguh tak berpihak padanya. Setelah kehilangan enin, kini gadis itu masuk ke kandang harimau. Jikalau boleh memilih, Adinda ingin menyusul enin saja.


☘️☘️☘️


Sebuah honda civic berhenti di depan klub. Dengan sembarang pria itu memarkir mobilnya lalu menuju pintu masuk klub. Setelah mendapat kabar kalau Adinda dibawa ke klub, Jojo langsung menyusul. Namun dirinya ditahan oleh dua orang yang berjaga di depan pintu masuk klub.


“Minggir!! Saya mau masuk!!”


“Jam buka masih setengah jam lagi. Silahkan menunggu di luar.”


Jojo tak menanggapi ucapan pria itu. Dia langsung saja memberikan bogemnya hingga pria itu terjatuh. Terkejut melihat temannya dihajar, pria yang satu lagi segera membantu. Perkelahian pun segera terjadi. Dengan mudah Jojo dapat mengalahkan dua pria itu. Dia segera masuk ke dalam klub.


Sesampainya di dalam Jojo kembali disambut oleh penjaga yang kali jumlahnya tidak sedikit. Ada sekitar lima orang yang mengepungnya. Perkelahian tidak seimbang pun segera terjadi. Dua penjaga yang tadi berhasil dikalahkan Jojo ikut bergabung. Total ada tujuh orang yang mengeroyoknya kini.


Awalnya Jojo masih bisa mengimbagi, namun lama-lama dirinya keteteran juga. Saat dirinya lengah sebuah pukulan mendarat di wajahnya disusul tendangan yang mengenai perutnya. Jojo jatuh terhempas, sudut bibirnya terluka dan mengeluarkan darah. Seorang pria menghampirinya dengan membawa sebilah balok di tangannya. Kedua tangan pria itu terangkat hendak mengayunkan balok ke arah Jojo.


BUGH


Sebuah tendangan menghantam tangan pria itu hingga balok di tangannya terlepas. Jojo menoleh ke arah orang yang telah menolongnya, ternyata Agung dan Beno yang datang. Dari belakang mereka muncul beberapa orang yang merupakan anak buah Agung. Tanpa menunggu aba-aba dari atasannya, mereka semua bergerak menghajar para penjaga. Agung menghampiri Jojo dan membantunya berdiri.


“Maaf saya datang terlambat,” ucap Agung.


“Terima kasih sudah datang membantu.”


“Ayo kita temui mami Elis.”


Agung memandu Jojo menuju ruangan mami Elis yang ada di lantai dua. Lagi-lagi di sana mereka harus berhadapan dengan pengawal mucikari itu. Namun baik Agung maupun Jojo dapat mengatasinya dengan mudah.


BRAK!!


Jojo membuka pintu ruangan dengan kasar. Dengan cepat dia menghajar dua pengawal yang tengah menjaga Adinda. Mami Elis dibuat terkejut melihat kedatangan Jojo. Apalagi ketika melihat anak buahnya berhasil dikalahkan olehnya.


“Om Jojo!!”


Adinda segera menghambur ke arah Jojo. Dipeluknya tubuh pria yang begitu dinantikannya. Jojo mendekap erat Adinda, dalam hatinya bersyukur dapat menemukan gadis itu tepat waktu.

__ADS_1


“Siapa kamu?!!”


“Ngga penting siapa saya. Tapi saya ke sini mau menjemputnya.”


“Saya sudah membelinya! Gadis itu milik saya!!”


“Sebaiknya serahkan gadis itu padanya, mami Elis.”


Terdengar suara Agung ketika pria itu memasuki ruangan. Elis terkejut melihat kedatangan Agung. Terlebih di belakangnya menyusul masuk Beno. Siapa yang tak kenal pria yang terkenal dengan kebuasannya itu.


“Kenapa kalian mengganggu bisnis saya? Apa salah saya? Tante gadis itu yang menjualnya pada saya.”


“Gadis itu adalah calon istri pak Jojo. Dan pak Jojo adalah sahabat dari pak Abi. Sampai di sini apakah anda sudah mengerti?” jawab Beno.


Mata Elis membelalak mendengar nama Abi disebut. Anak kedua dari Teddy Hikmat itu hampir saja membuat usahanya gulung tikar dan mendekam di penjara. Bahkan dia hampir dibuang ke pulau terpencil kalau tidak cepat-cepat menuruti keinginannya. Kini bisa-bisanya dia kembali berurusan dengan pria kejam itu.


“Silahkan bawa gadis itu pergi,” ujar mami Elis dengan suara pelan.


“Berapa kamu membayarnya?” tanya Jojo.


“50 juta.”


“Lusa, datang ke kantorku di J & J Entertainment aku akan membayarnya dua kali lipat.”


Jojo merangkul bahu Adinda, membawa gadis itu keluar dari klub. Agung dan Beno pun ikut keluar karena urusan telah selesai. Di luar Jojo bertemu dengan Ruby yang ternyata ikut bersama suaminya.


“Terima kasih sekali lagi atas bantuan kalian,” ucap Jojo pada Beno juga Agung.


“Ngga usah sungkan mas Jojo.”


“Bisa tolong cari tahu siapa dalang dibalik semua ini? Saya yakin kalau tantenya hanya orang suruhan saja. Mungkin kalian bisa mulai dari pemilik kontrakan.”


“Baik mas Jojo.”


Jojo menganggukkan kepalanya kemudian membawa Adinda ke mobilnya. Namun tiba-tiba gadis itu jatuh pingsan. Dengan sigap Jojo menangkap tubuh Adinda.


“Biar saya yang menyetir.”


Agung mengambil kunci mobil Jojo kemudian membukakan pintu belakang. Jojo meletakkan tubuh Adinda di jok kemudian dia menyusul naik. Agung masuk lalu duduk di belakang kemudi. Ruby juga ikut masuk bersamanya. Tak lama kendaraan roda empat itu bergerak.


☘️☘️☘️


Beberapa menit kemudian dokter keluar dari kamar Jojo. Pria itu segera menghampiri dokter yang usianya hampir setengah abad.


“Bagaimana dok keadaannya?”


“Dia cuma shock. Kondisinya lemah karena tidak ada asupan saja. Selebihnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Biarkan dia beristirahat dan jangan lupa berikan vitamin penambah stamina.”


“Terima kasih dok.”


Dokter itu mengangguk kemudian pamit pergi. Agung mengantarkan sang dokter sampai ke depan pintu. Jojo mengetuk pintu kamar kemudian masuk ke dalamnya. Ruby baru saja selesai mengganti pakaian Adinda.


“Makasih By,” ucap Jojo.


“Sama-sama. Aku buatkan bubur dulu untuk Dinda.”


Jojo mengangguk saja. Dia berjalan mendekat kemudian duduk di sisi ranjang dengan posisi menghadap Adinda yang duduk menyender pada headboard ranjang. Dipandanginya wajah Adinda yang nampak pucat. Matanya juga terlihat bengkak karena terlalu banyak menangis.


“Kamu ngga apa-apa?”


Adinda hanya mengangguk. Tanpa dapat ditahan airmatanya kembali mengalir. Melihat kedatangan Jojo tadi di klub, Adinda benar-benar bersyukur. Akhirnya Tuhan membalas doa-doanya dan mengirimkan malaikat penyelamat untuknya.


“Enin.. om.. hiks.. enin.. hiks..”


“Iya, aku udah tahu. Maaf aku datang terlambat,” Jojo mengusap airmata Adinda.


“Kenapa kamu ngga langsung menghubungiku?”


“Aku takut hiks.. mengganggu om hiks.. om juga pasti sibuk di sana.”


“Harusnya kamu menghubungiku. Ngga peduli sesibuk apapun, aku pasti akan datang. Karena kamu prioritasku saat ini.”

__ADS_1


Adinda memandangi Jojo lama, mencoba mencerna apa yang dikatakan pria itu barusan. Jojo merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


“Mulai sekarang aku yang akan menjagamu. Kamu tidak usah takut. Kamu tidak sendirian. Ada aku.”


Airmata Adinda kembali mengalir mendengarnya. Tangannya memeluk punggung lebar pria itu. Jojo mengeratkan pelukannya. Kini dirinya telah benar-benar yakin telah jatuh hati pada gadis dalam pelukannya.


Sementara itu di dapur, Ruby terdiam memandangi beras di hadapannya. Dia berjanji akan membuatkan bubur tapi bingung bagaimana caranya. Tanpa disadari Agung sudah berada di belakangnya.


“Ada yang aneh dengan berasnya?”


Ruby terlonjak mendengar suara Agung. Sontak wanita itu berbalik menghadap sang suami yang tengah melihatnya dengan tatapan meledek. Pria itu tahu betul kalau sang istri tengah kebingungan bagaimana membuat bubur.


“Biasa aja lihatnya mas,” kesal Ruby, Agung hanya terkekeh.


“Kamu itu bukan pesulap, yang cuma dilihatin aja tuh beras langsung berubah jadi bubur.”


“Ish..”


Agung meraih tangan Ruby lalu menariknya keluar dari dapur. Pria itu terus membawa sang istri sampai di depan pintu apartemen.


“Mas mau kemana? Aku janji sama Jojo mau buatin bubur buat Dinda.”


“Kelamaan kalau buat, mending beli aja. Tuh di seberang mas lihat ada tukang bubur. Lagian belum tentu rasa bubur buatan kamu enak. Kasihan Dinda, lagi sakit malah tambah sakit kalau makan bubur buatanmu yang rasanya ngga karuan.”


Ruby membulatkan matanya mendengar ungkapan jujur sang suami. Dengan wajah cemberut dia mengikuti langkah Agung keluar dari apartemen.


☘️☘️☘️


Semalaman Jojo tak bisa meninggalkan Adinda. Setiap tertidur gadis itu selalu berakhir dengan bermimpi buruk. Beberapa kali gadis itu terbangun, berteriak histeris atau menangis. Jojo memutuskan menggelar kasur lipat di lantai, berjaga-jaga kalau Adinda kembali bermimpi buruk. Pintu kamar pun dibiarkan tetap terbuka olehnya.


Bukan hanya Jojo yang harus berjaga. Agung juga diminta Abi untuk mengawasi Jojo dan Adinda. Terpaksa dia dan istrinya menginap di apartemen sahabat atasannya. Pria itu menjadi satpam dadakan dan tidur di depan kamar Jojo. Sedang Ruby tidur di kamar lain.


Pukul setengah enam pagi Adinda terbangun. Bergegas dia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Belum pernah dirinya bangun sesiang ini. Selesai shalat dia membereskan kamar, termasuk membereskan kasur lipat yang digunakan Jojo semalam. Setelah itu keluar dari kamar.


Adinda terpaku di tempatnya melihat dua pria dewasa tengah berkutat di dapur lengkap dengan celemeknya. Sedang Ruby duduk di kursi makan memperhatikan mereka. Gadis itu berjalan menuju dapur untuk melihat langsung apa yang dilakukan kedua pria itu. Nampak Agung tengah membuat capcay dan Jojo membuat ayam mentega.


“Om Jojo bisa masak?”


Pertanyaan Adinda sukses mengejutkan kedua pria yang tengah serius dengan masakannya. Jojo mengambil sedikit kuah ayam mentega kemudian memberikan pada gadis itu untuk mencicipinya. Begitu juga dengan Agung. Adinda mengangkat kedua jempolnya karena masakan keduanya lumayan enak. Dia pun bantu menyiapkan makanan di meja.


“Kak Ruby ngga ikutan masak?” tanya Adinda di sela-sela sarapan mereka.


“Dia mana bisa. Masak telor ceplok aja gosong,” jawab Agung yang langsung dihadiahi cubitan dari sang istri.


Jojo tersenyum tipis melihat interaksi Ruby dan Agung. Keduanya nampak bahagia dan saling mencintai. Jojo tahu pada dasarnya Ruby adalah perempuan baik. Hanya karena hasutannya, wanita itu berubah menjadi perempuan licik yang dipenuhi dendam. Kini dia bersyukur Ruby telah kembali pada sosoknya dahulu.


Lamunan Jojo buyar saat terdengar dering ponsel Agung. Pria itu beranjak sedikit menjauh dari meja makan. Jojo memperhatikan gerak-gerik Agung. Sepertinya pria itu tengah menerima laporan dari anak buahnya. Jojo beranjak dari duduknya lalu menghampiri Agung.


“Ada perkembangan?”


“Hmm.. pelakunya sudah tertangkap. Mereka semua sudah dibawa ke markas.”


“Siapa saja?”


“Rika, tantenya Dinda. Endang, pemilik rumah kontrakan dan satu lagi dalang dibalik semuanya.”


“Siapa?”


“Lihat saja sendiri. Aku yakin kamu akan sangat terkejut.”


☘️☘️☘️


**Hmm.. kira² apa reaksi Jojo pas tahu Luna yang jadi dalangnya?


Hai readers... kemarin ada yg usul kenapa ngga numpuk bab terus baru up jangan satu² up nya tiap hari.


Begini ya... sebagai othor yang sudah dikontrak NT, kami punya kewajiban buat up setiap hari min 1 bab. Kalau kami harus numpuk bab dulu baru up maka penghitungan NT di bab sebelumnya akan hilang dan performa kami dianggap jelek ujung²nya level novel kami diturunkan. Level novel itu berpengaruh pada pendapatan kami.


Jadi kita saling pengertian aja. Kami sebagai othor juga ingin merasakan hasil dari kerja keras kami dan kami juga tetap memenuhi kewajiban menyapa redears setia dengan up setiap hari.


Terima kasih buat sarannya tapi sayang mamake ngga bisa memenuhinya karena ada syarat yang harus mamake penuhi juga sebagai othor kontrak NT. Semoga paham ya🙏

__ADS_1


BTW nih visual om Jojo pas lagi nyelamatin neng Blewah alias Muh😉**



__ADS_2