
“Assalamu’alaikum.”
Nadia yang tengah menyiapkan makan malam menolehkan kepalanya. Senyumnya mengembang begitu melihat Wira yang datang. Bergegas dia menghampiri Wira kemudian mencium punggung tangannya.
“Bapak kenapa ngga bilang mau datang? Kan bisa dijemput.”
“Biar kejutan aja.”
“Bapak sama siapa ke sini.”
“Dengan ibumu.”
Nadia langsung terdiam. Dari arah depan muncul Ratih. Wanita itu menghampiri Nadia kemudian menarik anak tirinya itu ke dalam pelukannya. Juna yang baru keluar dari ruang kerjanya terkejut melihat kedatangan Wira dan Ratih.
“Maafkan ibu, Nadia. Maaf sudah begitu jahat padamu, ibu menyesal.”
Ratih menangis dalam pelukan Nadia. Nadia yang awalnya hanya diam, kini membalas pelukan Ratih. Tak lama kemudian kedua wanita itu mengurai pelukannya. Ratih mengusap perut Nadia yang belum terlalu menonjol.
“Berapa usia kandunganmu?”
“Jalan tiga bulan ma.”
“Alhamdulillah, mudah-mudahan sehat terus. Kamu ada mual?”
“Sudah mulai berkurang, bu.”
“Syukurlah. Selama ibu di sini, kamu boleh minta dimasakkan apapun oleh ibu.”
“Iya bu, terima kasih.”
Ratih kemudian menoleh ke arah Juna yang telah berada di samping sang istri. Digenggamnya erat kedua tangan sang menantu. Matanya menatap dalam ke arah pria tampan itu.
“Maafkan ibu ya nak Juna.”
“Lupakan saja bu. Kita mulai lebaran baru dari sekarang.”
“Gimana kalau kita makan dulu?” tawar Nadia.
“Iya pak, bu. Barang-barangnya biar dibawakan bi Murni ke kamar.”
Wira hanya mengangguk kemudian merangkul bahu Ratih, mereka berjalan menuju meja makan. Bi Murni yang telah menata semua makanan di meja segera mengambil barang-barang mertua majikannya itu kemudian membawanya ke kamar tamu.
☘️☘️☘️
Nadia membenarkan letak dasi suaminya kemudian menepuk dadanya pelan. Juna memeluk pinggang Nadia yang mulai melebar kemudian mencium kening sang istri dengan mesra. Ingin rasanya dia tak pergi ke kantor hari ini, tapi apa daya, ada meeting penting yang harus dihadirinya.
“Aku males banget ke kantor hari ini. Perasaanku ngga tenang ninggalin kamu di rumah sama ibu.”
“In Syaa Allah aku baik-baik aja mas. Sepertinya ibu juga sudah berubah. Mas tenang aja ya.”
“Kalau ada apa-apa, cepat hubungi mas.”
“Iya mas.”
Juna mencium bibir Nadia sekilas kemudian keluar dari kamar seraya memeluk pinggang sang istri. Di meja makan, nampak Wira sudah duduk di sana tanpa didampingi oleh Ratih. Juna menarik kursi di dekat Wira untuk Nadia kemudian menarik kursi lain untuknya.
“Ibu mana pak?”
“Ibumu masih di kamar, katanya lagi ngga enak badan. Mungkin masuk angin.”
“Nadia lihat ibu dulu ya.”
“Nanti saja, ibumu masih tidur. Lebih baik kamu sarapan dulu, kasihan cucu bapak nanti kelaparan.”
Nadia tersenyum mendengar ucapan Wira. Dia meraih mangkok berisi salad buah lalu mulai memakannya. Sebelum makan nasi, Nadia memang selalu mengkonsumsi salad buah lebih dulu untuk mengurangi rasa mualnya.
“Bapak mau kemana? Pagi-pagi sudah rapih.”
“Bapak mau lihat rumah kita, Nad. Katanya ada yang mau ngontrak.”
“Biar aku antar pak,” cetus Juna.
“Apa ngga merepotkan Jun?”
“Ngga pa.”
“Ya sudah. Terima kasih.”
Juna menganggukkan kepalanya. Mereka kembali meneruskan sarapannya. Sesekali Wira bertanya tentang kehamilan Nadia. Pria paruh baya itu sangat senang akan segera mempunyai seorang cucu, penerus darah dagingnya.
Usai sarapan Nadia beranjak menuju ruang kerja Juna untuk mengambilkan tas kerja suaminya. Wira juga kembali ke kamarnya untuk berpamitan dengan Ratih. Sementara itu, Juna memilih ke dapur untuk menemui bi Murni.
“Bi.. saya titip Nadia. Tolong awasi bu Ratih, jangan sampai dia melakukan sesuatu pada Nadia.”
__ADS_1
“Iya mas Juna tenang aja.”
“Kalau ada hal mencurigakan, cepat hubungi saya.”
“Iya mas Juna.”
Juna menangguk kemudian meninggalkan dapur. Dia depan rumah, Nadia sudah menunggu dengan tas kerja di tangannya. Juna meraih tas kerja tersebut seraya mendaratkan ciuman di kening sang istri. Nadia mencium punggung tangan Juna juga Wira. Tak lama kedua pria yang sangat disayanginya itu masuk ke dalam mobil, kemudian pergi meninggalkannya.
Sudah hampir dua jam lamanya suami dan bapaknya pergi, namun Ratih masih belum keluar dari kamar. Karena cemas, Nadia memutuskan untuk melihat sang ibu. Dia mengetuk pintu kamar. Karena tak kunjung ada jawaban, Nadia memutuskan masuk ke dalam kamar.
Nampak Ratih tengah berbaring dengan setengah badannya tertutupi selimut. Nadia mendekat ke arah ranjang kemudian berjongkok di dekat ibu tirinya itu. Dengan gerakan pelan, Nadia mengguncang pundak Ratih.
“Bu.. bangun bu. Ayo sarapan dulu. Bu..”
Ratih bergeming, wanita itu masih setia menutup matanya. Tangan Nadia bergerak ke arah kening lalu menempelkan telapak tangannya di sana. Tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan tepisan tangan Ratih.
“Jangan menyentuhku!!”
“Bu..”
“Jangan menyentuhku!!”
Nadia terhenyak melihat sorot mata Ratih yang penuh kebencian padanya. Belum lagi dengan nada suaranya yang meninggi. Dengan kasar wanita itu menyibakkan selimutnya kemudian menurunkan kakinya. Saat berdiri tangannya mendorong pundak Nadia yang masih berjongkok. Sontak tubuh Nadia terjengkang ke belakang. Kemudian tanpa merasa bersalah, wanita itu keluar dari kamar.
Terdengar lenguhan kecil Nadia saat merasakan perutnya sedikit sakit akibat terjengkang tadi. Sambil berpegangan pada sisi ranjang, dia berusaha untuk bangun. Nadia mengatur nafasnya sebentar sebelum keluar dari kamar dengan langkah tertatih. Dia berusaha menenangkan diri dan bermaksud beristirahat di kamar. Dokter sudah mewanti-wantinya untuk menjaga kehamilan karena kandungannya lemah.
Baru saja Nadia akan masuk ke dalam kamar, tiba-tiba bi Murni memanggilnya. Wanita itu mengingatkan Nadia kalau belum meminum susu hamilnya. Mau tak mau, Nadia beranjak menuju meja makan. Di sana nampak Ratih tengah menikmati sarapannya. Nadia menarik kursi di dekat Ratih kemudian meminum susu hamilnya sampai habis.
Ratih memperhatikan bi Murni yang sedang membereskan makanan di meja. Saat asisten rumah tangga itu berlalu ke dapur, Ratih segera berdiri lalu mencekal erat tangan Nadia yang hendak pergi.
“Lepas bu.”
“Kenapa? Kamu takut sama ibu?”
“Ada apa sebenarnya dengan ibu?”
“Aku baik-baik saja. Kamu pikir aku benar-benar mengucapkan semua hal tak penting itu padamu kemarin? Aku masih membencimu. Aku berharap kamu akan kehilangan anak dalam kandunganmu seperti aku dulu. Supaya kamu bisa merasakan penderitaan yang aku rasakan. Aku juga mengutukmu tidak akan pernah memiliki keturunan lagi setelahnya.”
Ratih menghempaskan tangan Nadia dengan kasar, kemudian bergegas pergi menuju kamarnya. Nadia terhenyak mendengar semua ucapan Ratih. Tangannya memegangi perutnya yang tiba-tiba saja terasa sakit.
Bi Murni yang berada di dapur bergegas kembali ke ruang makan begitu menyadari kalau Nadia hanya berdua saja dengan Ratih. Mata wanita paruh baya itu membulat sempurna ketika melihat darah mengalir dari sela-sela kaki Nadia.
“Ya Allah.. mba Nadia!!”
☘️☘️☘️
“Non, bibi telepon bu Rahma ya.”
“Jangan bi.”
“Atau telpon den Cakra.”
“Jangan juga bi. Nanti saja kalau aku sudah periksa ke dokter dan sudah ada bukti kalau aku benar hamil, baru aku akan bilang.”
“Ya sudah, bibi mau bilang ke pak Jaya untuk menyiapkam mobil.”
“Tapi jangan bilang kita mau ke rumah sakit. Nanti pak Jaya ngadu ke kak Abi.”
Bi Parmi hanya menganggukkan kepalanya saja. Wanita itu bergegas keluar kamar untuk menemui Jaya. Pria itu adalah salah satu tim keamaan keluarga Hikmat. Dia ditugaskan Abi untuk menjaga kediaman Sekar dan tentu saja harus melaporkan semua yang terjadi pada Abi atau Juna.
Perlahan Sekar bangun lalu berganti pakaian. Bi Parmi kembali masuk untuk membantunya. Tak lama keduanya telah siap untuk pergi. Jaya membukakan pintu untuk keduanya kemudian masuk ke dalam mobil.
“Kita mau kemana mba Sekar?”
“Ke rumah sakit Harapan.”
“Mba Sekar sakit?” Jaya menolehkan kepalanya ke kursi belakang.
“Cuma mau kontrol aja pak. Tapi jangan bilang sama kak Abi atau kak Juna ya.”
“Tapi mba, nanti mas Abi sama mas Juna marah.”
“Ngga akan pak, tenang aja. Ayo jalan pak. Oh ya tolong ac-nya matiin, jendelanya dibuka aja.”
Jaya hanya mengangguk. Pria itu menghidupkan mesin mobil kemudian menekan pedal gas. Perlahan kendaraan roda empat itu mulai berjalan. Sekar menyandarkan punggungnya ke jok mobil seraya memejamkan matanya. Semilir angin yang masuk melalui jendela mobil membuat rasa mual wanita itu sedikit berkurang.
Lima belas menit kemudian mereka telah tiba di rumah sakit Harapan. Rumah sakit yang selalu menjadi rujukan keluarganya jika berobat. Bi Parmi menuntun Sekar memasuki lobi rumah sakit kemudian menuju lantai dua, tempat di mana ruangan praktek dokter kandungan berada.
Tak perlu menunggu lama, suster yang bertugas memanggil nama Sekar. Bersama dengan bi Parmi, wanita itu masuk ke ruang praktek. Setelah berbicara sebentar dengan dokter, Sekar diarahkan untuk berbaring di atas blankar. Suster mengusapkan gel di perut Sekar dan dokter wanita itu mulai menggerakkan probe di atasnya.
Mata Sekar berkaca-kaca ketika dokter menunjuk titik kecil hitam yang merupakan bakal calon anaknya. Impiannya memiliki buah hati akhirnya menjadi kenyataan. Namun sayang, bukan Cakra yang mendampinginya bertemu dengan dokter kandungan untuk pertama kali, melainkan bi Parmi.
Setelah menerima sedikit wejangan tentang kehamilan dan resep yang harus ditebus, Sekar beserta bi Parmi keluar dari ruang praktek. Mereka segera menuju apotik yang berada di lantai dasar.
__ADS_1
“Se..”
Sekar terjengit ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya memanggil namanya. Dari arah kanannya muncul Rahma. Dengan langkah lebar, Rahma menghampiri sang putri.
“Se.. kamu ngapain di sini?”
“Mama sendiri ngapain di sini?” bukannya menjawab, Sekar malah balik bertanya.
“Nadia, Se..”
"Kak Nadia kenapa?"
“Nadia pendarahan.”
“Hah?? Sekarang gimana keadaan kak Nadia?”
“Masih ditangani di ruang tindakan.”
“Ya udah ayo ma, kita ke sana.”
Rahma segera menggandeng Sekar ke ruang tindakan, diikuti bi Parmi dari belakang. Di ruang tunggu, nampak Juna tengah duduk menunduk dengan kedua tangan memegang kepalanya. Di sampingnya Wira juga duduk dengan wajah cemas. Sekar segera menghampiri sang kakak.
“Kak.. gimana kak Nadia?”
Juna mengangkat kepalanya kemudian menggeleng pelan. Sekar langsung memeluk sang kakak yang tampak cemas. Tak lama Abi juga Nina sampai di sana.
“Ada apa? Kenapa Nadia?”
Belum sempat pertanyaan Abi terjawab, dari arah ruang tindakan, dua orang suster mendorong blankar yang berisikan Nadia. Di belakangnya, dokter Tamara yang menangani Nadia menghampiri keluarga Hikmat.
“Dokter, bagaimana keadaan istri saya?”
“Keadaan bu Nadia baik-baik saja tapi maaf kami tidak bisa menyelamatkan bayi kalian.”
Juna terhenyak mendengarnya. Abi langsung menangkap tubuh Juna yang limbung. Dengan langkah gontai pria itu mengikuti blankar yang membawa sang istri menuju ruang perawatan VVIP. Abi terus mendampingi Juna yang nampak terpukul. Demikian juga dengan Wira, pria paruh baya itu tak kalah sedihnya dengan Juna begitu mendengar calon cucunya tak bisa diselamatkan.
Juna duduk di samping bed, seraya memegangi tangan Nadia. Sedang yang lainnya duduk menunggu di sofa. Teddy yang tadi menggantikan Juna untuk meeting, baru saja datang. Pria itu langsung bergabung dengan yang lainnya di sofa.
“Bagaimana keadaan Nadia?”
“Dia keguguran pa,” jawab Abi.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Apa yang terjadi? Bukannya kemarin kandungannya masih baik-baik saja?”
“Mama juga ngga tahu pa.”
Wira terdiam, entah kenapa dia merasa kalau Ratih ada hubungannya dengan apa yang terjadi dengan Nadia. Bahkan wanita itu tak mengantar Nadia ke rumah sakit. pria itu segera berdiri, dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah berpamitan, Wira bergegas pulang ke rumah Juna.
“Se.. kamu tahu dari mana kalau Nadia keguguran?” tanya Abi.
“Mama ketemu dia tadi di sini. Oh iya, kamu belum jawab pertanyaan mama. Kamu ada apa ke sini? Kamu sakit?”
“Oh.. iya ma. Perutku sering kembung dan mual, tadi aku periksa ke dokter. Katanya sih maag, mungkin karena telat makan.”
Bi Parmi sontak memandang ke arah Sekar. Dia bingung kenapa Sekar tidak mengatakan tentang kehamilannya. Sekar segera menggelengkan kepalanya pada wanita paruh baya itu tanda untuk menutup mulut.
“Ya udah kamu pulang aja, istirahat sana,” cetus Abi.
“Iya Se.. mending kamu pulang. Di sini ada mama dan papa. Nina juga pulang, kamu ngga boleh terlalu capek.”
“Iya ma.”
Abi membantu Nina berdiri. Meginjak usai tujuh bulan, kandungan Nina sudah semakin membesar. Begitu pula dengan bi Parmi, dia membantu Sekar untuk bangun. Dituntunnya ibu hamil itu keluar dari ruangan.
Abi mengantarkan Sekar sampai ke depan pintu mobil. Dengan sigap, Jaya membukakan pintu untuk majikannya. Setelah memastikan Sekar sudah naik ke mobil, Abi dan Nina segera menuju ke mobilnya.
“Non.. kenapa ngga bilang soal kehamilan non?” tanya bi Parmi begitu mobil yang dikendarai mereka sudah meluncur. Jaya yang terkejut melihat ke arah Sekar dari kaca spion tengah.
“Gimana aku kasih kabar soal kehamilanku bi, kalau kak Nadia baru aja kehilangan bayinya.”
“Sabar ya non.”
“Pak Jaya tolong jangan beritahu kak Abi juga kak Juna soal kehamilanku. Biar nanti aku yang mengatakannya kalau situasi sudah tenang.”
“Iya mba.”
Jaya menganggukkan kepalanya. Sebagai bawahan tentu saja dia harus mengikuti semua perintah tuannya. Dia terpaksa mengikuti keinginan Sekar karena mengerti juga situasi tak mengenakkan yang tengah menimpa Juna.
☘️☘️☘️
**Haaiii... akhirnya bisa up lagi. Kemarin kondisi mamake drop lagi, jadi ngga bisa up. Minta doanya aja ya, biar cepat sembuh dan beraktivitas seperti biasa.
Buat readers semua juga jaga kesehatan ya. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, aamiin**...
__ADS_1