
Suara de**han dan deru nafas bersahutan terdengar di Junior Suite room salah satu hotel bintang empat. Sepasang pengantin baru sedari check in belum juga menghentikan aktivitas panasnya. Mereka masih asik bergulat di atas ranjang berukuran king size. Bahkan tubuh keduanya sudah lembab oleh keringat.
Rindu memeluk erat punggung Kevin saat gelombang hangat kembali menghantamnya untuk yang ke sekian kali. Sejak keluar dari kantor, Kevin tak langsung membawa sang istri pulang ke rumah. Pria itu memutuskan untuk menyewa kamar hotel yang letaknya tak terlalu jauh dari kantornya, untuk menuntaskan hasratnya yang sempat tertunda gara-gara ulah Vita.
Kevin menciumi wajah sang istri, dilanjut dengan memberikan gigitan-gigitan kecil di telinganya. Tangannya juga terus meremat bulatan kenyal layaknya squishy. Ulah Kevin tentu saja berhasil memancing kembali hasrat Rindu. Disambarnya bibir Kevin, lum**an dan pagutan langsung terjadi di antara keduanya.
Kevin membalikkan tubuh Rindu. Kali ini dia ingin bermain dengan gaya yang berbeda. Awalnya Rindu sedikit takut, tapi sentuhan Kevin dapat menenangkannya lagi. Tak lama terdengar pekikan kecilnya saat Kevin memasukinya dari belakang. Pinggul pria itu bergoyang maju mundur, memberikan sensasi lain pada sang istri.
Lenguhan dan de**han Rindu tak henti terdengar. Tangan Kevin terulur ke depan lalu memainkan bukit kembar istrinya. Rindu semakin tak karuan dibuatnya. Suaminya itu terus menggerakkan pinggulnya. Wajah Kevin menempel pada punggung Rindu yang lembab seraya menciumnya.
“Abaaang.. aku..”
Kevin tahu kalau sebentar lagi sang istri akan sampai di puncaknya. Dia pun ingin segera menyusul. Pria itu mempercepat gerakannya, hentakannya juga semakin kuat dan dalam. Racauan Rindu mulai terdengar seiring dengan pergerakan suaminya yang semakin membuatnya melayang. Tak lama lenguhan panjangnya terdengar saat dirinya kembali mencapai pelepasan. Berikutnya terdengar geraman Kevin ketika akhirnya dia meraih kepuasannya. Tubuh keduanya ambruk di atas kasur.
Kevin membalikkan tubuh Rindu menghadap ke arahnya. Tubuh wanita itu sudah tak bertenaga lagi, tulang-tulangnya pun terasa lepas dari tubuhnya. Permainan suaminya kali ini sungguh membuatnya terkulai lemas. Kevin mengusap kening sang istri yang dibasahi keringat lalu menjatuhkan kecupan di sana.
“Love you Bee...”
Rindu hanya mampu menatap Kevin lalu mengedipkan kedua matanya. Kevin menarik Rindu dalam pelukannya. Dia tahu wanitanya ini sudah lelah dengan pergulatan mereka yang cukup lama. Rindu menelusupkan kepalanya ke dada sang suami, tak lama terdengar hembusan nafasnya yang teratur. Dirinya sudah masuk ke alam mimpi. Begitu pula dengan Kevin, kini dia bisa tidur dengan nyenyak setelah menuntaskan hasratnya.
☘️☘️☘️
Malam ini, semua anggota keluarga Kevin berkumpul di kediaman orang tuanya. Delia meminta semuanya ikut makan malam yang sudah dipersiapkan olehnya. Syukuran Kevin menjebol gawang Rindu katanya pada ketiga anaknya yang lain. Hanya pasangan pengantin baru yang tidak tahu maksud diadakannya acara makan malam ini.
Para wanita tak henti melihat pada Rindu. Gadis yang telah resmi melepas gelar per*w*nnya hari ini tak menyadari empat pasang mata yang terus menatap ke arahnya, tepatnya ke bagian leher. Sepertinya Rindu lupa kalau Kevin telah memberikan banyak stempel di sana.
Sedang para pria menatap Kevin dengan ******* senyum di wajahnya. Mereka tak menyangka, Kevin yang biasanya terlihat dingin bisa juga buas di atas ranjang. Ivan bahkan tak bisa menahan tawanya setiap melihat wajah sang adik.
“Vin.. kamu udah mulai cuti?” tanya Devan.
“Udah mas.”
“Pantes tuh stempel udah pindah tempat hahahaha,” Ivan tak bisa menahan tawanya lagi.
Uhuk.. Uhuk..
Rindu yang tengah asik makan langsung tersedak. Dia baru sadar kalau di lehernya banyak sekali kiss mark yang ditinggalkan suaminya di sana. Kevin menyodorkan segelas air putih padanya yang langsung disambarnya. Sementara itu tangan Kevin mengusap-usap punggungnya.
“Selama cuti kalian ada rencana kemana?” papa yang sedari tadi diam mulai membuka suaranya.
“Bulan madu.”
“Cieeee... si kulkas dua pintu tahu juga bulan madu,” ledek Anya.
“Rencananya mau kemana?”
“Belum tahu, terserah Rindu aja. Kamu mau kemana Bee?”
“Oh my God, Bee? Aseek.. udah dapet lubang sekarang ganti ya panggilannya.”
Kevin langsung melotot pada Anya yang berbicara tanpa saringan. Untung saja anak-anak mereka tak ada yang ikut makan bersama di meja makan. Mereka lebih senang makan di ruang keluarga sambil menonton kartun kesayangan. Wajah Rindu, jangan ditanya lagi bagaimana warnanya.
“Ayo Bee.. udah selesai makannya kan? Jangan kelamaan di sini nanti bisa kena infeksi telinga.”
“Hahahaha.. sa ae dasar penguin!” sahut Anya.
Rindu berpamitan pada kedua mertua juga para kakak ipar sebelum mengikuti sang suami beranjak ke kamar mereka. Delia tersenyum bahagia melihat kebersamaan dan kemesraan anak bungsunya dengan menantunya. Tak sia-sia kemarin dia bangun pukul dua dini hari untuk menyiapkan jamu spesial belah duren.
Kevin membuka pintu kamar, dia terus berjalan menuju pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon. Dengan sekali tarikan, dibukanya pintu tersebut. Pria itu lalu berdiri di balkon sambil menikmati udara malam. Rindu datang menghampiri lalu berdiri di sampingnya. Kevin meraih bahu Rindu lalu membawa ke dalam pelukannya.
“Bee.. kamu mau bulan madu kemana?”
“Hmm... kemana ya? Kalau ke Bali gimana bang?”
“Terlalu biasa. Jangan terlalu jauh juga Bee.. kan kita harus ke Tasik buat resepsi di sana. Kemarin abah udah wanti-wanti kita harus tinggal agak lamaan di sana.”
“Terus enaknya kemana bang?”
“Ke bonbin aja, sekalian ketemu sama saudara-saudara kamu.”
“Abaaaaanng.. nyebelin banget!!”
Kevin terkekeh, senang sekali menggoda istrinya ini. Hobinya sejak dulu saat mereka masih berpredikat sebagai bos dan sekretaris. Rindu memeluk pinggang Kevin, semenjak penyatuan mereka, Rindu tak sungkan untuk menyentuh suaminya atau bermanja-manja padanya. Kevin juga tak menolaknya.
__ADS_1
“Bang.. jalan-jalan yuk.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Kemana?”
“Ke Kiara Park yuk, lihat air mancur di sana.”
“Hmm.. boleh. Ayo.”
Senyum mengembang di wajah Rindu. Dengan cepat dia mengambil cardigan untuk membungkus tubuhnya yang hanya terbalut kaos V-neck. Kevin juga memakai sweater untuk melapisi tubuhnya. Cuaca kota Bandung malam ini mencapai 20 derajat celcius. Suhu yang cukup dingin untuk negara tropis seperti Indonesia.
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Kevin memasuki area parkir Kiara Park. Salah satu tempat wisata di Bandung yang banyak dikunjungi kawula muda atau keluarga.
Rindu turun dari mobil, wajahnya terlihat bahagia. biasanya dia datang ke sini dengan ketiga sahabat somplaknya. Tapi kini dia datang bersama kekasih halalnya. Berjalan-jalan mengelilingi taman sambil melihat pertunjukkan kembang api merupakan salah satu kencan impiannya. Lamunannya buyar ketika Kevin meraih tangannya. Sambil bergandengan tangan keduanya menyusuri jalan setapak. Mereka menuju tempat pertunjukkan kembang api yang akan dimulai sebentar lagi.
Sudah banyak pengunjung yang memadati tempat berlangsungnya pertunjukkan kembang api. Tak lama pendaran cahaya warna warni terlihat seiring dengan gerakan air mancur mengikuti irama lagu yang dimainkan. Banyak pengunjung yang datang mengabadikannya dengan kamera ponsel.
Rindu berusaha untuk menerobos kerumunan pengunjung. Dengan postur tubuhnya yang kecil, sulit baginya melihat pertunjukkan air mancur di tengah kerumunan banyak orang. Matanya hanya bisa menangkap puncak air mancur saja. Kevin melirik sang istri yang tengah melompat agar bisa melihat air mancur secara keseluruhan.
“Makanya jadi orang jangan pendek-pendek. Susah kan kalau begini.”
“Abang mah, bukannya bantuin malah ngeledekin.”
“Mau naik ke pundak kaya anak itu?” Kevin menunjuk seorang anak yang tengah duduk di atas pundak sang ayah.
“Ngga mau, kaya anak kecil aja.”
“Kamu kan emang kecil, sejenis hobit.”
“Aku anak kecil yang udah bisa bikin anak, tau.”
Kevin hanya terkekeh. Dia berpindah berdiri di depan Rindu lalu menjongkokkan badannya. Rindu hanya terpaku melihat sang suami.
“Ayo naik. Abang gendong ala Oshin.”
Rindu tersipu malu. Dia naik ke punggung Kevin lalu melingkarkan tangannya di leher kokoh suaminya. Berada di gendongan tubuh Kevin yang tinggi, tentu saja membuat Rindu bisa melihat pertunjukkan air mancur. Dia mengambil ponselnya lalu merekam pertunjukkan tersebut. Tak lupa dia juga merekam wajah sang suami yang seperti biasa hanya terlihat datar saja.
“Abang haus ngga? Aku beli minum dulu ya.”
“Abang aja yang beli. Kamu tunggu di sini.”
“Makasih Bayang..”
“Apaan Bayang?”
“Abang sayang hihihi..”
“Sama-sama Kang Bee..”
“Ish masih ada aja sebutan Kang.”
Kevin hanya mengendikkan bahunya. Dia berdiri untuk membelikan minum sang istri, tangannya mengusak puncak kepala Rindu sebelum pergi menuju kedai minuman. Mata Rindu terus mengikuti pergerakan suaminya. sampai sebuah suara mengalihkan perhatiannya.
“Rin..”
Rindu menoleh ke samping kirinya. Terlihat Hendra, mantan kekasihnya tengah berdiri tak jauh darinya. Pemuda itu segera menghampiri Rindu lalu duduk di sebelahnya. Rindu cukup terkejut bertemu dengan pemuda itu.
“Sendiri aja?” tanya Rindu cuek.
“Iya. Aku suntuk, jadi jalan-jalan ke sini. Aku udah putus sama Vita.”
“Wow.. turut berduka cita ya.”
“Kamu mau balikan lagi ngga Rin? Aku mau mulai serius sama kamu.”
“Kamu ngigo ya Hen? Kamu yang selingkuhin aku terus mutusin aku. Sekarang kamu mau kita pacaran lagi? Mimpi!”
“Kamu ngga usah bohong Rin. Kamu masih cinta kan sama aku, makanya sampai saat ini kamu masih aja jomblo. Dari pada kamu jadi piaraan om-om mending balikan lagi sama aku. Aku juga ngga masalah kok kalau kamu udah ngga pera**n lagi.”
“Hahaha...”
__ADS_1
Bukannya marah, Rindu malah terbahak mendengar ucapan Hendra. Ucapan Hendra yang mengandung kepedean tingkat tinggi yang membuatnya tak bisa menahan tawanya. Hendra memandangi Rindu yang masih tertawa. Dirinya tak habis pikir kenapa dulu dirinya bisa tergoda oleh Vita dan meninggalkan gadis semanis dan sebaik Rindu.
“Rin.. gimana? Kita balikan lagi ya.”
“Udah ngigonya? Kamu tuh pede banget sih jadi cowok. Alasanku jadi jomblo setelah putus dari kamu karena aku ngga mau salah pilih lagi. Dan sekarang aku udah dapet laki-laki yang lebih segalanya dari kamu. Dan dia juga ngga mata keranjang kaya kamu.”
“Maksudnya om-om yang waktu itu? Kamu beneran mau sama dia? Dia itu lebih pantas jadi om kamu dari pada pacar.”
“Memang ada masalah dengan saya sampai kamu bilang saya ngga pantas untuk dia?”
Baik Rindu maupun Hendra terkejut ketika sebuah suara menginterupsi perbincangan mereka. Rindu langsung bangun lalu berdiri di samping Kevin seraya menggamit lengannya dengan mesra.
“Hen, kenalin ini bang Kevin, suamiku.”
“Su.. suami kamu?”
“Hmm.. S-U-A-M-I, bukan sugar daddy seperti yang kamu dan Vita tuduhkan. Dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Dia jauh lebih baik dari laki-laki pengkhianat seperti kamu. Ayo bang, tempat ini udah ngga menarik lagi semenjak ada si kutu kupret.”
Rindu menarik lengan Kevin agar menjauh dari Hendra. Pemuda itu hanya melongo melihat Rindu pergi bersama dengan Kevin. Tapi tak lama dia menundukkan pandangannya ketika Kevin melihatnya dengan wajah datar dan tatapan horornya. Dari sudut matanya Hendra menatap kepergian Rindu bersama suaminya. Ada penyesalan menelusup dalam hatinya. Kenapa setelah menjadi milik orang lain, Rindu terlihat lebih cantik dan menarik.
Rindu langsung mengajak Kevin pulang karena malam sudah larut. Keduanya segera masuk ke dalam mobil. Tak ada pembicaraan selama dalam perjalanan. Kevin hanya menatap lurus ke depan tak mempedulikan Rindu yang sedari tadi mencuri pandang padanya.
Kevin menghentikan kendaraan di halaman rumahnya. Keduanya masih dalam mode diam. Setelah menarik rem tangan dan mematikan mesin, Kevin tak langsung turun. Dia membuka sabuk pengaman lalu menyandarkan punggung ke jok mobil.
“Abang marah sama aku?”
“Ngga..”
“Kok diem aja dari tadi.”
“Terus kamu maunya gimana? Abang joged-joged gitu?”
“Ya ngga gitu. Abis abang diem aja. Aku kan jadi takut.”
“Emang kamu melakukan kesalahan sampai takut begitu?”
“Ngga..”
Kevin menghela nafasnya seraya memijit pangkal hidungnya. Sesungguhnya dia cemburu melihat kebersamaan Rindu dengan Hendra tadi. Pria itu kesal kenapa Rindu tak langsung pergi begitu melihat Hendra, tapi malah asik berbincang dengannya.
“Abang...”
“Kamu masih suka sama Hendra?”
“Ngga bang.”
“Tapi kayanya kamu seneng banget ketemu sama dia. Sampe ketawa-ketawa malah.”
Diam-diam Rindu tersenyum, hatinya bersorak, ternyata suaminya yang dingin seperti freezer kulkas dua pintu bisa merasakan cemburu juga. Dia sengaja diam tak menanggapi ucapan sang suami. Ingin melihat sampai sejauh mana Kevin menunjukkan rasa cemburunya.
“Kenapa diam? Berarti benar kan kalau kamu senang ketemu dia.”
“Iya aku seneng ketemu dia.”
Kevin mengalihkan pandangannya pada Rindu. Ditatapnya lekat-lekat wanita yang kini telah memenuhi relung hatinya. Dirinya bertambah panas mendengar jawaban dari bibir tipis itu. Kevin mencondongkan tubuhnya ke arah Rindu, membuka sabuk pengaman yang masih melilit tubuh istrinya lalu menarik pinggang Rindu hingga tubuh mereka tak berjarak.
“Katakan sekali lagi!”
“Aku seneng ketemu Hendra, karena.... aku bisa tau kalau abang cemburu. Cemburu kan tanda cinta. Berarti abang beneran cinta sama aku. Di hati ini udah ngga ada lagi nama Hendra sejak dia selingkuh sama Vita. Sekarang satu-satunya orang yang aku cinta itu abang, suami sahku yang dingin, jutek, kaya kulkas du... mmmpphhhh.”
Kevin langsung membungkam bibir tipis Rindu, mel**atnya dengan rakus. Lidahnya masuk menerobos rongga mulut sang istri lalu mengabsen semua isi di dalamnya. Rindu memukul dada Kevin saat mulai kehabisan oksigen. Kevin melepaskan tautan bibirnya.
“Abang mau bunuh aku ya,” protes Rindu dengan nafas tersengal.
“Ngga.. abang cuma mau wujudin salah satu kencan impian kamu. Berciuman di mobil."
Senyum Rindu terbit mendengarnya. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya. Kevin meraih tengkuk Rindu kemudian kembali me**mat bibir tipis yang terkadang tak berhenti mengoceh. Rindu membalas ciuman sang suami tak kalah mesra. Kevin menarik tubuh Rindu hingga duduk di pangkuannya. Keduanya kembali melanjutkan pertautan bibir mereka.
☘️☘️☘️
**Haaaaiii... maaf ya hari ini telat up nya. Semalam ada musibah, salah satu keluarga ayah meninggal dunia.
Besok juga mamake ngga janji bisa up karena ada acara penting. Spesial hari ini mamake usahakan up di tengah kesibukan, keletihan dan rasa kantuk yang mendera demi kalian semua..
__ADS_1
Selamat berakhir pekan ya😘😘😘**