
“Ananda Ravindra Arkana, saya nikahkan dan kawinkan engka dengan putri saya, Freya Anindira Hikmat binti satria Abimanyu Hikmat dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan satu set perhiasan seberat 50 gram dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Freya Anindira Hikmat binti Satria Abimanyu Hikmat dengan mas kawin tersebut tunai!”
“Bagaimana para saksi, sah?”
“SAH!”
Semua yang hadir menyaksikan acara akad nikah langsung mengucapkan hamdallah ketika akad berakhir sukses dan lancar. Ravin dapat menghembuskan nafas lega setelah berhasil mengucapkan kalimat sakral itu dalam satu hembusan nafas dan tanpa jeda. Kevin menepuk pundak anaknya ini dengan bangga. Kedua anaknya untung tak mengikuti jejaknya dahulu.
Kemudian tak berapa lama, sang pengantin wanita memasuki ruangan diapit oleh Nina dan Rindu. Mata Ravin tak berkedip melihat ke arah sang istri. Freya, wanita yang dicintainya sejak lama akhirnya kini telah sah menyandang status sebagai istrinya. Jantungnya berdegup kencang saat pujaan hatinya itu semakin mendekat ke arahnya.
Ravin berdiri menyambut kedatangan istrinya. Diraihnya tangan Freya kemudian mendudukkan di kursi. Viren menyerahkan kotak beludru berwarna merah pada Ravin. Tanpa menunggu lama, pria itu menyematkan cincin pernikahan ke jari Freya, begitu pula dengan sang pengantin wanita.
Usai menyematkan cincin, Freya meraih tangan Ravin lalu mencium punggung tangannya dengan takzim. Hati Ravin bergetar saat merasakan bibir Freya menyentuh kulit punggung tangannya. Sebuah ciuman yang berarti tanda bakti seorang istri pada suaminya, sepenuhnya menyadarkan pria itu kalau sekarang dirinyalah yang bertanggung jawab atas wanita tersebut.
Ravin meraih bahu Freya kemudian mendaratkan ciuman di kening gadis itu. Sebuah ciuman lembut yang menyiratkan kasih sayang sang suami pada istrinya. Kali ini giliran Freya yang mrasakan getaran. Walau ini bukan kali pertama Ravin menciumnya, namun ciuman kali terasa lebih berbeda dan lebih manis pastinya.
Setelah acara yang membuat jantung berdebar, kedua pengantin kemudian mendengarkan tausyiah dari sang penghulu, tentang hukum pernikahan, apa saja hak dan kewajiban suami istri dalam menjalani bahtera rumah tangga. Acara tausyiah yang tak terlalu lama itu, diakhiri dengan penandatanganan dokumen pernikahan. Sang fotografer yang didaulat mengabadikan momen sakral itu segera mengambil gambar-gambar pasangan pengantin.
Freya dan Ravin mendekati Nina, keduanya duduk bersimpuh di hadapan wanita itu. dengan kasih sayang Nina mengusap dan mencium puncak kepala mereka bergantian. Airmata kebahagiaan meluncur dari kedua matanya.
“Anak mama sekarang sudah besar, sudah menjadi seorang istri. Mama harap kamu bisa menjadi istri yang baik, istri yang patuh dan taat pada suamimu. Ravin.. mama titip Freya, mama percaya kamu bisa menjaganya dengan baik. Sayangi dia, jangan sakiti hatinya apalagi fisiknya. Tegurlah dengan kasih sayang kalau dia melakukan kesalahan.”
“Iya ma. In Syaa Allah aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuknya. Aku akan menjaganya seperti kalian menjaganya selama ini.”
Freya tak bisa mengatakan apapun, tenggorokannya serasa tercekat mendengarkan nasehat sang mama dan janji suaminya. Perlahan buliran bening juga mengalir membasahi pipinya. Gadis itu menangis di atas pangkuan Nina. Ravin meminta tisu kemudian menghapus airmata istrinya sebelum mereka menuju Abi.
Tangis Freya kembali pecah saat berhadapan dengan Abi. Pria itu turun dari duduknya kemudian memeluk sang anak. Untuk beberapa saat, anak dan ayah itu saling berpelukan, sebelum akhirnya Abi mengurai pelukannya.
“Jangan menangis, di hari bahagia ini kamu hanya boleh tersenyum. Anak gadis papa, permata hati papa, sekarang tanggung jawab papa sudah berpindah ke pundak Ravin. Jadilah istri yang baik, yang bisa menjadi surga untuk suamimu. Bersikaplah baik pada mertuamu, posisi mereka sama seperti mama dan papa, kamu wajib menghormatinya.”
“Iya, pa,” jawab Freya di sela-sela isaknya. Gadis itu masih berada dalam dekapan sang papa.
“Ravin.. papa titip anak papa yang manja ini. Papa harap kamu bisa membimbingnya lebih baik lagi. Tolong ijinkan mama dan papa sering-sering bertemu dengannya.”
“In Syaa Allah, aku akan menjaganya dengan baik. Kapan pun papa dan mama mau bertemu dengan Freya, aku pasti mengijinkannya.”
Abi menarik Ravin ke dalam pelukannya. Dipeluknya erat anak dan menantunya itu. Sebuah ciuman di puncak kepala diberikan pada anak dan menantunya itu sebelum melepas mereka menuju Rindu dan Kevin yang telah menunggu keduanya.
Rindu menyambut Freya dengan hangat. Beberapa saat wanita itu memeluk menantunya itu. Akhirnya dia bisa melihat anak sulungnya bersanding dengan wanita yang dicintainya sejak lama. Masih dalam keadaan memeluk Freya, wanita itu memberikan nasehatnya.
“Terima kasih sudah menerima Ravin sebagai suamimu. Bersabarlah dengannya, karena terkadang dia sering bersikap emosional. Mama doakan yang terbaik untuk kalian berdua.”
“Iya, ma. Terima kasih sudah merawat dan membesarkan lelaki hebat seperti bang Ravin dan merelakannya untukku.”
Rindu mengurai pelukannya kemudian mencium kening Freya. Gadis itu kemudian menuju Kevin yang sedari tadi hanya memperhatikan. Tanpa banyak kata, pria itu menarik Freya ke dalam pelukannya. Hatinya bersyukur mendapatkan menantu dari anak-anak sahabatnya. Kini hidupnya lengkap setelah memiliki dua anak lelaki dan dua anak perempuan.
Di samping mereka, Ravin juga masih berada dalam pelukan Rindu. Dukungan sang mama yang membuatnya bertahan dengan perasaan sepihaknya selama beberapa tahun hingga akhirnya sang wanita pujaan menerima cintanya. Rindu yang selalu membesarkan hatinya dan menyemangati dirinya.
“Sekarang kamu sudah mendapatkan wanita yang sangat kamu cintai sebagai istrimu. Perlakukan dia dengan baik. Jangan menyakiti hatinya, jangan pernah menduakannya, ingatlah perjuanganmu saat mendapatkan dirinya. Jadilah suami dan imam yang baik untuknya.”
“Iya, ma. Terima kasih untuk dukungan mama selama ini. Aku sayang mama.”
Ravin melepaskan pelukannya kemudian menuju Kevin yang masih memeluk istrinya. Dia pun ikut bergabung dalam pelukan sang ayah. Walau dalam keseharian Kevin tak banyak bicara, namun pria itu selalu memberikan contoh yang baik lewat perilaku dan sikapnya.
“Jadilah suami yang baik. Ingat, lelaki sejati tidak akan pernah melukai wanita, baik fisik maupun hatinya.”
“Iya, pa.”
“Frey, kalau Ravin macam-macam, bilang saja sama papa.”
“Iya, pa.”
Suasana haru pemberian nasehat dari orang tua terus berlanjut. Bergantian mereka menemui para tetua untuk menerima wejangan. Beberapa kali Ravin harus menyeka airmata istrinya yang kembali megalir ketika mendengarkan nasehat bijak dari paman dan bibinya.
“Abang..”
Freya mendekati Kenzie kemudian memeluknya. Rasa haru juga menyelimuti Kenzie, dipeluknya erat adik perempuannya ini. Adik yang sering diledeknya, sering dijahili kadang sering terkena semprotannya, namun begitu dia sangat menyayanginya. Freya memeluk erat pinggang Kenzie, kakak yang begitu bertanggung jawab padanya, yang mampu menggantikan sosok Abi di saat ayahnya sempat menghilang.
__ADS_1
“Vin.. gue titip adek gue. Ingat, begitu lo nyakitin dia, itu berarti lo berhadapan sama gue.”
“Tenang aja, bro. Gue nikahin dia untuk bikin dia bahagia, bukan menderita. Tapi sorry nih, gue ngga bisa panggil abang, lidah gue bakalan kram kayanya.”
Sebuah tepukan mendarat di kepala Ravin, sang pelaku sudah pasti Kenzie, si naga kutub yang sekarang sudah resmi menyandang gelar sebagai kakak iparnya. Ravin hanya terkekeh mendapat hadiah dari sang kakak ipar. Dia segera menarik Freya agar terlepas dari pelukan Kenzie.
“Jangan lama-lama meluk bini gue.”
“Gue kakaknya, monyong.”
“Tapi gue suaminya, kampret.”
“Haaisshh.. ini kakak sama adek ipar, belum apa-apa udah ribut. Minggir.. gue mau meluk kakak gue yang cantik.”
Kenan langsung menyela perdebatan kedua lelaki tersebut kemudian mengambil Freya dari tangan Ravin. Pemuda itu lalu memeluk Freya dengan erat. Walau kadang mereka kerap bertengkar, namun Kenan sangat menyayangi Freya. Mengetahui kini sang kakak tidak akan tinggal bersamanya lagi, tentu saja membuat pemuda itu sedih.
“Kak.. jangan lupain gue, ya. Biar kita tinggal jauhan, gue tetap adek lo yang menggemaskan, sering-sering ke rumah, sering-sering telepon atau chat gue. Jangan lupa kalau selesai shalat, abis doain suami, doain mama, papa, doain gue juga biar cepet nyusul nikah. Tapi nikahnya sama Zahra ya, jangan sama yang lain, inget ya.”
“Dih.. lo mah minta doa maksa.”
“Biarin, namanya juga usaha.”
Freya terkikik mendengar celotehan adiknya itu. Suasana yang semula mellow kini sudah mulai berubah arah. Setelah Kenan, saudara sepupunya yang lain serta para sahabat berturut-turut memberikan ucapan selamat dan doa, padanya juga Ravin.
“Vin, inget, belah durennya nanti abis resepi gue sama Azra. Lo juga, Ric,” celetuk Fathan.
“Dih ogah banget,” jawab Ravin.
“Udah nikah gue disalip, kalah hompimpah sama si Ravin, terus lo minta gue nunda malam pertama. Mimpi kali lo,” cerocos Aric.
“Jangan gitu, Than. Kasihanilah para ular cobra mereka yang mau nyoba sarang barunya. Lo yang terakhir buka segel, bukan berarti lo yang belakangan dapet keturunan. Cebong mereka kan masih amatiran, siapa tahu pada nyasar,” Barra tergelak mendengar ucapannya sendiri.
“Beuh udah ada suaranya dia. Mentang-mentang jemurannya udah diangkat sama Hanna,” celetuk Ravin.
“Tuhan berbaik hati sama kita-kita, kalau sampai dia jadi bujang lapuk, yakin kita juga yang repot,” sambung Aric.
“Woi Ric, lo sekarang mau jadi adek ipar gue, ya. Baek-baek lo ama gue.”
“Heleh ribet dah urusannya kaya gini.”
Gelak tawa langsung terdengar di antara para sahabat itu. Celotehan mereka berhasil merubah suasana haru biru menjadi pembicaraan absurd, saling berbalas sindiran dan ledekan terus terjadi sambil menikmati hidangan yang tersedia.
☘️☘️☘️
Malamnya, acara resepsi digelar. Para tamu undangan mulai berdatangan memenuhi ballroom Arjuna hotel. Resepsi kali ini merupakan resepsi pertama dari serangkaian resepsi yang digelar keluarga Hikmat. Selama tiga hari berturut-turut mereka mendatangi tempat yang sama, hanya pengantin dan pendamping pengantin yang berbeda.
Di atas pelaminan pasangan pengantin sudah bersiap untuk menerima ucapan selamat, didampingi oleh orang tua masing-masing. Abi dan Nina duduk di sebelah Ravin, sedang Kevin dan Rindu duduk di sebelah Freya. Mereka juga sudah siap untuk menerima ucapan selamat.
Di salah satu meja, Sekar duduk berkumpul dengan para sahabatnya, minus Rindu. Di sana ada Radix dengan Naysila, Gurit dengan Syakira serta Anfa dan Rayi. Hanya Sekar yang tidak didampingi pasangannya, karena Cakra berkumpul dengan para sahabatnya.
“Ngga kerasa ya, anak kita udah besar-besar. Abis Rindu, besok giliran Sekar yang mejeng. Tinggal kalian berdua yang belum ngalamin mejeng di pelaminan,” ujar Gurit seraya menunjuk ke arah Radix dan Anfa.
“Kalau gue sih udah jelas, abis nikahnya Azra, Barra mau ngelamar Hanna, tapi si Radix yang belum jelas. Kan Anya belum kasih lampu hijau, benar ngga Se?” Anfa melihat ke arah Sekar.
“Iya. Tuh anak mau beresin kuliah dulu.”
“Tenang aja, yang penting Irvin langsung ngga ditolak. Ngga kaya Hanna yang seneng gantung jemuran.”
Gelak tawa terdengar di antara mereka. Anfa hanya bisa iku tertawa, dia memang tak bisa menyangkal kebenaran akan anaknya yang menggantung lamaran Barra sampai dua bulan lamanya.
“Anak-anak tuh, beneran ya. Nikah udah kaya lari estafet aja, udah gitu nentuin tanggalnya pake hompipah lagi. Kebayang Fa, kalau mertua lo masih ada, jantungan kali ya,” Radix terkekeh.
“Itu hompimpah ide siapa sih?” tanya Rayi.
“Idenya Ken,” jawab Sekar.
“Pantes,” jawab Radix, Gurit, Rayi dan Anfa bersamaan disusul tawa mereka.
Naysila hanya diam menyimak saja percakapan sahabat suaminya. Sedang Syakira memang diminta Gurit untuk tidak banyak berbicara. Suara mendesah sang istri tetap tak lekang dimakan waktu.
__ADS_1
“Tapi nih pernikahan estafet unik loh,” celetuk Gurit.
“Unik gimana?”
“Tiap harinya tuh menyuguhkan tema yang berbeda. Kaya besok, yang mejeng di pelaminan tuh bang Cakra sama bang Jojo tambah elo, Se sama Dinda. Kalau film, pernikahan Aric sama Naya tuh genre romantis komedi. Kan bang Cakra sama bang Jojo tuh ceria bin kocak. Beda sama pernikahan Azra dan Fathan. Berhubung pendamping mempelai kalem kaya kak Juna sama bang Agung, genrenya drama keluarga yang adem tentram loh jinawi.”
“Nah terus kalau pernikahan sekarang genre apa?” tanya Sekar.
“Horor,” celetuk Radix yang langsung disambut gelak tawa yang lain. Kolaborasi Abi dan Kevin diyakini membuat suasana panggung pelaminan terasa mencekam. Anfa sampai menyusut sudut matanya yang berair karena tak berhenti tertawa.
Acara resepsi semakin meriah dengan hiburan para wedding singer. Zahra terkejut saat tahu, klien yang menyewa jasa band wedding singer tempatnya bernaung ternyata adalah keluarga Hikmat. Dan waktunya pun tiga hari berturut-turut. Gadis itu sampai rela menukar shift kerjanya karena bayaran yang diterima cukup besar. Kliennya membayar mereka tiga kali lipat dari tarif biasanya.
Sambil menunggu giliran naik ke panggung, mata Zahra berkeliling mencari keberadaan Kenan. Namun sampai gilirannya tiba, dia masih belum bisa menemukan sosok pemuda yang diam-diam sudah membuat hatinya merindu. Setelah berbicara dengan band pengiring, suara alunan musik pun terdengar. dengan mic di tangannya, Zahra bersiap mempedengarkan suara merdunya.
Di salah satu sudut ruangan, Kenan memperhatikan gadis pujaannya yang tengah menyanyikan lagu bertema cinta. Senyum nampak terkembang di wajahnya mengingat bagaimana tadi Zahra nampak tengah mencari-cari keberadaannya. Saat ini dia memang masih bermain tarik ulur dengan gadis itu, mengikuti petunjuk sang kakak.
Gemuruh tepuk tangan menyadarkan Kenan dari lamunannya. Kemudian terdengar suara MC memanggil bandnya untuk tampil. Dari arah berbeda, ketiga personil The Myth yang lain mulai menaiki panggung dan tak lama kemudian Kenan melangkahkan kakinya menuju panggung.
Dada Zahra berdebar melihat Kenan yang tengah bernyanyi. Sungguh dirinya begitu merindukan melihat wajah Kenan dan juga suara merdunya. Mata indahnya terus memperhatikan pemuda itu tanpa berkedip. Tak terasa The Myth sudah memainkan dua lagu. Dan saat akan menyanyikan lagu ketiga, Kenan memanggil teman duetnya.
“Lagu ketiga yang akan kami nyanyikan adalah request dari pengantin wanita yang cantik jelita alias kakakku tersayang. Di lagu ini, dia juga minta aku menyanyikannya secara duet. Buat teman duetku, nona Zahra, dipersilahkan naik ke atas pentas.”
Zahra terkejut saat Kenan memintanya naik ke atas panggung. Salah seorang temannya segera menarik gadis itu lalu mendorongnya naik ke panggung. Zahra begitu gugup begitu gugup ketika berhadapan dengan Kenan. Jantungnya langsung berdendang ria sebelum personil The Myth memainkan musiknya.
Lamunan gadis itu terhenti ketika Kenan membisikkan lagu yang harus dinyanyikan. Suara dan juga aroma tubuh Kenan seketika membuat konsentrasi Zahra buyar. Hampir saja saja gadis itu menjatuhkan mic, kalau Kenan tak buru-buru menangkapnya. Pemuda itu lalu melihat pada teman-temannya. Sejurus kemudian, mereka mulai memainkan musik.
Walau sempat dilanda kegugupan, namun akhirnya Zahra mulai dapat menguasai diri. Gadis itu segera hanyut dalam lagu yang dinyanyikannya bersama dengan Kenan. Dari arah panggung pelaminan, Freya melihat sang adik yang berduet dengan gadis pujaannya dengan tatapan bahagia.
“From this moment.. as long as I live, I will love you. I promise you this. There is nothing I wouldn’t give, from this moment,” Zahra berduet dengan Kenan.
“I will love you.. as long as I live,” Kenan bernyayi sambil memandang Zahra penuh cinta.
“From this moment.. on..” lagu ditutup dengan nyanyian mereka berdua.
Selepas menyanyikan lagu wajib saat pesta penikahan milik Shania Twain, Kenan bersiap menyanyikan lagu keempat yang dinyanyikan secara solo. Zahra segera turun dari panggung. Perasaannya sedikit kecewa karena Kenan bersikap biasa padanya. Dia hanya terlihat mesra saat berduet saja. Gadis itu meraba hatinya yang terasa berdenyut, kehilangan perhatian dan sikap manis Kenan ternyata membuatnya begitu bersedih. Seperti ada sesautu yang hilang dari hidupnya.
Sementara itu di atas panggung, pasangan pengantin tak henti menerima ucapan dari tamu yang datang. Salah satunya adalah Adel dan juga Remy yang datang bersamaan. Keduanya naik ke atas panggung bersama dan menghampiri pasangan pengantin dengan membawa luka di hatinya. Mau tak mau, suka tak suka mereka harus menerima kalau orang yang diinginkan menjadi pendamping hidup ternyata tak bisa dimiliki.
Adel lebih dulu mendekati Freya dan mengucapkan selamat. Walau sudah berusaha ikhlas menerima kenyataan, tetap saja dia tak bisa bersikap ramah. Wanita itu memberikan selamat tanpa ada senyum di wajahnya. Berbeda saat menyalami Ravin, senyum manisnya justru terbit.
“Selamat ya mas Ravin. Semoga bahagia. Kalau dia ngga bisa membahagiakanmu, ingat masih ada aku yang setia menunggumu,” ujar Adel tanpa malu-malu.
“Setia menunggu maksudnya apa? Ngga bisa move on atau ngga laku?” balas Freya kesal.
“Tenang aja Freya, kalau Ravin ngga setia, ada aku yang bakal gantiin dia,” celetuk Remy.
“Ngga usah ngarep ya,” tegas Freya.
Kedua orang yang baru saja mengucapkan selamat berhasil memancing kekesalan pasangan pengantin. Melihat ada yang tak beres dengan tamu yang mengucapkan selamat, Abi langsung berdiri, begitu pula dengan Kevin. Keduanya langsung mendekati pasangan pengantin.
"Ehem!!" deheman Abi membuat Adel dan Remy yang hendak melanjutkan ucapannya terhenti.
“Ravin! Kalau kamu masih bersikap manis pada dia, papa akan patahkan kakimu!” cetus Kevin.
“Dan kamu, berhenti mengganggu anak saya!” Abi menatap tajam pada Remy.
Wajah Adel dan Remy mendadak pucat. Tanpa mengatakan apapun lagi, keduanya bergegas turun dari panggung pelaminan. Abi kemudian melihat pada Ravin.
“Ke depannya papa ngga mau melihat hal seperti ini terjadi lagi. Kamu harus lebih tegas sebagai laki-laki, jangan biarkan perempuan lain mengganggu rumah tangga kalian!”
“Iya, pa. Maaf.”
“Frey.. kalau Ravin macam-macam, bilang sama papa,” ujar Kevin yang hanya dibalas anggukan Freya.
Kedua lelaki berwajah dingin itu kembali ke tempatnya masing-masing. Freya mengusap punggung Ravin. Karena ulah Adel, suaminya mendapat semprotan dari ayah dan ayah mertuanya. Ravin melemparkan senyuman, memberi tahu sang istri kalau dia baik-baik saja.
☘️☘️☘️
**Haii... mamake kambek. Setelah kesibukan acara ultah anak dan kondisi yang sempat ngedrop, akhirnya bisa juga menyapa kalian lagi. Terima kasih buat yang masih setia menunggu. Cuaca lagi ngga enak jadi bodi ikutan ngga enak, masih berperang melawan bapil🤧
__ADS_1
Maaf undangannya ngga disebar kata pasangan pengantin pake telepati aja undangannya😁**