
“Om Jojo, ada apa ke sini malem-malem?”
“Ehem!! I.. itu, mau nengok enin kamu. Tadinya aku mau besok nengoknya tapi si Abi maksa nyuruh aku lihat enin malam ini juga, katanya sih permintaan Nina. Aku bisa apa coba kalau dia udah bilang permintaan ibu hamil. Aku ngga mau dituduh jadi penyebab anaknya ileran.”
“Tapi barusan kak Nina habis telepon aku nanyain kabar enin. Kak Nina ngga bilang apa-apa tuh.”
“Emang kamu bisa tahu kapan orang hamil bakalan ngidam? Ngga kan? Aah Nina rese nih, bentar aku telepon Abi dulu.”
Jojo meraih ponselnya kemudian menghubungi sang sahabat. Dalam hati Jojo berharap sahabat durjananya itu tak menjawab panggilannya. Namun sepertinya keinginan pria jomblo itu tak menjadi kenyataan.
“Halo.”
“Halo Bi.. lo gimana sih? Tadi bilangnya Nina ngidam nyuruh gue nengok neneknya Muh malam ini. Tapi tadi katanya Nina udah telpon si Muh.”
“Eh.. lo kalau kangen sama si Pus bilang aja, ngga usah bawa-bawa calon anak gue. Modus aja hidup lo!!”
KLIK
Abi langsung memutus panggilannya. Jojo mendengus kesal, Abi memang tidak bisa diajak kerjasama. Semoga saja Adinda tidak mendengar ucapan sahabat somplaknya itu. Jojo memasukkan ponsel ke saku celananya lalu melihat ke arah Adinda.
“Enin udah tidur?”
“Belum sih, ayo kalau mau nengok.”
Adinda mempersilahkan Jojo untuk masuk. Kemudian gadis itu masuk ke kamar untuk memberitahu sang nenek. Beberapa saat kemudian enin keluar bersama dengan Adinda. Jojo berdiri dari duduknya lalu mencium punggung tangan wanita tua itu.
“Bagaimana enin kondisinya? Dokter bilang apa?”
“Alhamdulillah, hanya saja sesaknya masih ada.”
“Kata dokter di rumah harus sedia tabung oksigen sama maskernya. Takutnya mendadak enin sesak nafas,” lanjut Adinda.
“Ya udah, besok kita beli.”
“Ngga usah om. Tadi kang Radix udah beliin.”
Jojo mengalihkan pandangannya ke arah lain. Telinga dan hatinya panas, lagi-lagi bocah itu mencuri start darinya. Sepertinya Jojo harus bergerak lebih cepat lagi sebelum keduluan oleh selebriti dadakan itu.
KRIUK
Tiba-tiba saja terdengar suara dari dalam perut Jojo. Pasukan cacing di perutnya tengah berdemo karena belum menerima asupan gizi. Enin dan Adinda saling berpandangan, sedang Jojo jangan ditanya betapa malunya dia saat ini.
“Om belum makan?”
“Belum.”
“Kan udah aku bilang di kulkas ada gepuk, tinggal goreng aja.”
“Ngga ada nasinya.”
“Emang berasnya abis? Perasaan baru beli.”
“Mungkin nak Jojo ngga mau makan sendiri, Din. Aduh maaf ya nak Jojo, di rumah tidak ada makanan. Dinda, kamu temani Jojo makan di luar gih. Kasihan nanti bisa kena maag kalau telat makan.”
“Tapi enin nanti sendiri.”
“Emangnya enin anak kecil yang takut ditinggal sendiri. Sudah sana ganti baju dulu.”
Dengan sangat terpaksa Dinda masuk ke dalam kamar. Jojo bersorak dalam hati, sungguh dia sangat berterima kasih pada enin yang tahu apa yang diinginkannya. Dia tak perlu susah payah mencari alasan mengajak Adinda makan di luar.
Enin tersenyum tipis melihat Jojo, sebagai orang yang telah kenyang makan asam garam kehidupan, wanita itu tahu kalau pria di hadapannya memendam perasaan pada sang cucu.
Adinda keluar dari kamar. Tubuhnya terbalut celana jeans dan sweater merah jambu. Seperti biasa, rambutnya dikuncir kuda. Membuat wajah baby face-nya bertambah imut. Jojo berdiri kemudian berpamitan pada enin. Bersama dengan Adinda, dia keluar dari rumah.
“Mau makan apa om?”
“Pengen makan nasi goreng.”
“Yang deket pasar enak tuh om.”
“Aku mau beli di tempat langgananku aja. Rasanya udah terjamin.”
“Di mana?”
“Pasteur.”
“Jauh om. Mending di sini aja yang deket.”
“Kan kita naik mobil Muh, bukannya jalan kaki.”
Jojo tak mendengarkan protesan gadis itu. Dengan cepat dia membuka pintu mobil lalu mendorong tubuh Adinda masuk ke dalam mobil. Setengah berlari Jojo mengitari badan mobil lalu masuk ke dalamnya.
Jojo mengarahkan mobilnya menuju arah Pasteur. Sebenarnya dia asal saja menyebutkan lokasi tempat penjual nasi goreng yang hendak ditujunya. Pria itu sengaja mengambil lokasi yang cukup jauh dari kediaman Adinda. Jojo terkekeh dalam hati, akal bulusnya bekerja dengan baik malam ini.
Kendaraan Jojo mulai memasuki daerah Pasteur. Dia menurunkan kecepatannya, berpura-pura melihat ke bahu jalan, mencari tukang nasi goreng khayalannya. Saat mobilnya melintasi deretan penjual kaki lima dan melihat spot kosong di tengahnya, Jojo menghentikan mobilnya sejenak.
“Hadeuh ngga jualan lagi.”
“Tuh kan, si om dibilangin yang deket aja malah ngeyel pengen ke sini. Terus sekarang gimana? Udah berhenti aja di tukang nasgor mana aja deh. Di mana-mana rasa nasgor mah sama aja.”
“Udah ngga minat makan nasgor.”
“Terus?”
“Kita ke punclut aja. Aku mau makan nasi merah.”
Tanpa menunggu jawaban Adinda, Jojo kembali menjalankan kendaraannya. Dia memutar balik mobilnya di dekat lampu merah. Kendaraan roda empatnya itu terus bergulir membelah jalanan kota Bandung. Tak butuh waktu lama, mereka sampai di daerah punclut. Jojo menghentikan kendaraannya di depan warung makanan yang berjejer di sepanjang jalan.
__ADS_1
Setelah memarkirkan kendaraannya, Jojo mengajak Adinda masuk ke salah satu warung makan. Dia menuju etalase yang memajang aneka menu. Pilihannya jatuh pada ayam bakar, lalapan, tahu dan tempe goreng serta tak lupa nasi merah.
“Kamu mau makan apa?”
“Aku udah makan om.”
"Makan lagi! Aku ngga mau makan sendiri."
“Aku pesen pisang bakar keju aja.”
Jojo memesankan pisang keju bakar juga jeruk hangat untuk Adinda. Kemudian dia mengajak gadis itu naik ke atas. Karena bukan akhir pekan, suasana warung makan ini tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung saja di bagian atas ini. Jojo mengajak duduk di tempat yang menghadap ke pemandangan kota.
Adinda melayangkan pandangannya ke arah kanan. Dari ketinggian, tampak kelap kelip lampu di kejauhan yang berasal dari perumahan penduduk dan juga gedung pencakar langit. Walau pun seumur hidup tinggal di Bandung, namun ini kali pertama Adinda menginjakkan kakinya di tempat ini. Dia hanya mendengar keindahan punclut di waktu malam dari teman-teman sekolahnya saja.
“Kamu sering ke sini, Muh?”
“Ini yang pertama om. Aku mana sempet jalan-jalan ke tempat kaya gini. Punya uang buat makan aja udah bersyukur.”
Jojo memandang penuh haru pada gadis di depannya. Dia sudah salah menuduh Adinda seperti Fahira yang hanya memanfaatkan dirinya juga sahabatnya.
“Berarti aku orang pertama yang ngajak kamu ke sini. Kamu senang?”
“Senang sih om. Tapi dalam bayangan aku, aku ke sini sama pacar sambil boncengan naik motor. Bukan sama om-om.”
“APA???”
“Hehehe.. becanda om, jangan marah.”
Adinda melemparkan cengiran khasnya seraya mengangkat dua jari tangannya. Jojo mendengus kesal mendengar kata om-om keluar dari mulut gadis itu. Dia merasa seperti lelaki tua yang mengajak gadis muda berkencan. Padahal usianya belum setua itu, bahkan belum mencapai tiga puluh tahun.
“Maksud kamu, kamu lebih seneng ke sini sama Radix gitu? Dibonceng naik motor sama dia, iya?”
“Ya kira-kira gitu deh om, hehehe.. peace.”
Adinda tersenyum kecil, memamerkan sederetan gigi putihnya. Tanpa gadis itu sadari ucapan polosnya barusan telah melukai harga diri Jojo dan membuat hati pria itu panas bukan kepalang.
Seorang pelayan datang mengantarkan makanan yang tadi dipilih oleh Jojo. Lauk pauk yang dipilihnya telah dihangatkan kembali lengkap dengan sebakul kecil nasi merah beserta lalapan dan sambal. Pelayan lain datang membawakan pesanan Adinda beserta minumannya.
“Ayo om makan, mumpung masih anget.”
“Udah ngga nafsu!”
“Iih.. si om mah ambekan. Makan.. jangan bilang minta disuapin.”
“Boleh.”
Jojo mendengus kesal. Dia berdiri dari duduknya kemudian menuju wastafel untuk mencuci tangan. Selesai itu dia duduk bersila di samping Adinda dan mulai memakan makan malam yang terlambat. Adinda juga memakan pisang bakar keju pesanannya.
“Muh.. kamu ngga ada niat kuliah?” tanya Jojo di sela-sela makannya.
“Ada sih om. Tapi belum punya biaya.”
“Kalau kuliah kamu rencana mau ambil jurusan apa?”
“Aku kan suka masak om. Aku pengen kuliah jurusan tata boga. Cita-citaku buka restoran atau cafe gitu.”
“Hmm.. nanti ajaran baru kamu daftar aja di kampus yang kamu mau. Aku yang bakal biayain kuliah kamu.”
Uhuk.. uhuk..
Adinda tersedak makanannya sendiri. Gadis itu terbatuk beberapa saat. Jojo bergegas mencuci tangannya kemudian menepuk-nepuk punggung Adinda. Disodorkan gelas berisi teh hangat tawar padanya.
“Makannya pelan-pelan, Muh.”
“Abis om ngagetin sih.”
“Kapan aku ngagetin kamu?”
“Itu pas bilang mau biayain aku kuliah. Aku kaget om.”
“Kenapa kaget? Emang aku ngomongnya kaya kamu teriak blewah?”
“Om, orang pertama yang bilang mau biayain kuliah aku. Om kandungku sendiri ngga peduli aku sama enin makan apa ngga.”
“Aku bukan om kamu. Aku tuh masih muda, ganteng lagi. Om kamu pasti udah tua, perutnya buncit, kumisnya baplang.”
“Tuanya bener, tapi gendut sama kumis baplangnya ngga. Badannya kurus, mungkin tekanan batin karena istrinya galak, hihihi...”
Jojo ikut terkekeh mendengar ucapan Adinda. Tangannya bergerak mengusak puncak kepala gadis itu. Adinda menoleh ke arah Jojo, dia tertegun melihat sikap Jojo yang belakangan ini melunak padanya.
“Aku serius soal ucapanku tadi. Pikirkan aja kamu mau kuliah di mana. Soal biaya aku yang bakal nanggung sampai kamu lulus.”
“Beneran om? No PHP?”
“Bener.”
“Makasih om.. makasih.”
Saking senangnya Adinda memeluk pinggang Jojo. Seketika jantung pria itu berdegup tak karuan. Menyadari sikapnya yang tak pantas, Adinda segera menarik tubuhnya tepat di saat Jojo hendak membalas pelukannya. Tangan Jojo tergantung di udara.
“Maaf om.. maaf.. saking senengnya hehehe..”
__ADS_1
“Ehem!! Iya ngga apa-apa. Tapi inget, biar pun seneng kamu jangan pernah peluk laki-laki sembarangan, apalagi Radix.”
“Iya om iya. Eh, om udah lihat IG-nya kang Radix belum? Sekarang kang Radix udah jadi selebgram loh. Fotonya juga ganteng-ganteng.”
Adinda mengeluarkan ponselnya kemudian membuka aplikasi IG. Dengan antusias dia memperlihatkan deretan foto Radix yang mendapat jutaan like dari followersnya. Jojo merebut ponsel dari tangan Adinda.
“Aku beliin kamu hp biar aku gampang hubungi kamu, biar kamu bisa searching resep menu makanan yang aku mau. Bukan buat kepoin IG-nya si kutil tyrex.”
“Siapa kutil tyrex?”
“Itu si Radix alias si upil dino,” Jojo menyebutkan semua julukan sang sahabat pada Radix, rival terberatnya saat ini.
“Ish om Jojo jahat banget. Masa orang seganteng kang Radix disebut kutil tyrex sama upil dino sih.”
“Kamu suka sama si kutil tyrex?”
“Ya sukalah om. Kan kang Radix itu baik orangnya, humoris juga. Pokoknya bikin betah kalau ngobrol lama-lama sama dia. Terus...”
Jojo langsung beranjak dari duduknya kemudian melenggang meninggalkan Adinda. Telinganya tak sanggup mendengar lebih banyak lagi pujian untuk sahabat dari Sekar itu. Melihat Jojo yang pergi begitu saja, Adinda bergegas menyusulnya. Dia benar-benar tak habis pikir kenapa Jojo selalu marah kalau mendengar dirinya menyebut nama Radix.
Setelah membayar makanannya, Jojo bergegas masuk ke dalam mobil. Buru-buru Adinda ikut masuk ke dalam mobil. Bisa bahaya kalau Jojo meninggalkannya di sini. Gadis itu melirik ke arah Jojo yang masih menekuk wajahnya.
“Om..”
“Apa?”
“Jangan marah. Kalau om ngga ikhlas, ambil lagi aja hp nya om.”
Adinda menyodorkan ponsel di tangannya ke arah Jojo, membuat pria itu urung menyalakan mesin mobilnya. Dia menarik nafas panjang sebelum melihat ke arah gadis itu. Amarahnya seketika redup melihat wajah sendu Adinda.
“Aku ngga marah. Simpan hp itu. Aku beliin buat kamu dan aku ikhlas. Aku cuma ngga suka kamu terlalu merhatiin Radix. Aku takut kamu patah hati nantinya.”
“Patah hati? Maksud om apa?”
“Kamu bilang kamu suka sama Radix. Aku takut kamu terlalu berharap sama dia dan ujung-ujungnya sakit hati.”
“Mmmpphhh.. hahahaha..”
Adinda tertawa lepas mendengar ucapan Jojo. Gadis itu sampai menyusut genangan air di sudut matanya karena tak bisa berhenti tertawa. Jojo menatap bingung ke arah Adinda. Refleks dia mengarahkan punggung tangannya ke kening Adinda.
“Apa sih om,” Adinda menepis tangan Jojo.
“Kamu kenapa ketawa mulu? Aku jadi takut kamu ketempelen kunti di pohon sana.”
Jojo menunjuk sebuah pohon besar di depan mereka. Adinda mengikuti gerakan tangan Jojo, seketika dia terlonjak dari duduknya kemudian mendekat ke arah Jojo. Dipeluknya lengan kekar pria itu.
“Kamu kenapa?”
“Jangan nyebut-nyebut kunti, om. Nanti kalau dia denger terus ngikutin kita gimana?”
Adinda menjawab dengan suara setengah berbisik. Jojo tertawa geli dalam hati. Dia menikmati pelukan Adinda di lengannya. Didekatkan mulutnya ke telinga Adinda.
“Kamu percaya ngga kalau aku bilang aku itu indigo?”
“Masa? Om beneran bisa lihat hantu?”
Jojo mengangguk sambil menahan tawa. Adinda memandang takut-takut ke sekeliling. Dia semakin mengeratkan pelukannya di lengan Jojo. Ingin rasanya Jojo terbahak, tapi sebisa mungkin ditahannya.
“Om lihat ada penampakan ngga di sini?”
“Menurut kamu kenapa tadi aku nanya kamu tiba-tiba ketawa? Karena aku lihat kuntilanak lagi gelayutan di pohon itu.”
“Iiih sereeeemm oom.. ayo pulang.”
Adinda membenamkan wajahnya ke lengan Jojo. Pelukannya semakin erat saja. Jojo menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Tangannya bergerak menekan tombol start kemudian perlahan melajukan kendaraannya. Adinda masih bergeming dari tempatnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Adinda terus menempel pada Jojo. Tanpa sadar gadis itu jatuh tertidur. Kepalanya menyandar di lengan Jojo. Pria itu terpaksa menyetir dengan sebelah tangan karena tak ingin membangunkan Adinda.
Jojo menghentikan kendaraannya di depan gang masuk ke rumah kontrakan Adinda. Diliriknya gadis itu yang masih tertidur nyenyak. Jojo mendekatkan wajahnya kemudian mencium pelan puncak kepala Adinda. Tak cukup sekali, Jojo mendaratkan kembali ciumannya membuat sang gadis terusik dari tidurnya.
“Enngggg... udah sampe om?”
Adinda membuka matanya perlahan kemudian memandang berkeliling sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia melepaskan pelukan di tangan Jojo lalu mengusap wajahnya pelan. Jojo menggerakkan lengannya yang terasa kebas.
“Om.. anterin aku pulang ya.”
“Iya, ayo.”
Adinda turun dari dalam mobil disusul oleh Jojo. Gadis itu menunggu Jojo sampai ke dekatnya baru kemudian berjalan memasuki gang. Adinda menundukkan kepalanya, tak berani melihat jalan yang nampak sepi. Jojo meraih bahu Adinda kemudian merangkulnya. Membiarkan gadis itu membenamkan wajahnya ke dada bidangnya. Setelah lima menit berjalan, keduanya sampai di kediaman Adinda.
“Makasih ya Muh, udah nemenin aku makan.”
“Iya om.”
“Besok kamu bisa ke apartemen?”
“Bisa om.”
“Aku tunggu ya. Udah sana masuk.”
Jojo mengusak puncak kepala Adinda. Gadis itu menganggukkan kepalanya kemudian masuk ke dalam rumah. Sepeninggal Adinda, Jojo segera meninggalkan rumah kecil itu. Hatinya berbunga-bunga telah melewatkan malam indah bersama gadis yang sejak beberapa hari lalu selalu berseliweran di kepalanya.
☘️☘️☘️
**Jojo ketularan Abi nih, kerjaannya modus Mulu. Si Muh sadar ngga ya sama perasaan Jojo?
Hai.... mamake mau promo lagi nih. Mampir yuk ke karya terbaru mamake. The Nick's Life. Ketik aja judulnya di kolom pencarian. Ceritanya ngga kalah seru kok, makasih😘😘**
__ADS_1