KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Aku Atau Istrimu?


__ADS_3

Setelah menghabiskan lima hari di Lombok, pasangan pengantin baru kembali ke habitatnya. Kedatangan Abi dan Nina disambut suka cita oleh Rahma. Wanita itu berharap akan ada kabar baik dari keduanya. Dirinya sudah tak sabar ingin menimang cucu. Nadia belum ada tanda-tanda akan hamil, karenanya Rahma berharap Nina bisa memberinya kabar baik.


“Bagaimana bulan madunya sayang?”


Rahma merangkul Nina lalu keduanya duduk di sofa. Abi mengekori dari belakang kemudian ikut duduk di sofa. Juna, Nadia, Anfa juga Teddy sedari tadi memang sudah berada di sana. Keempatnya sedang berbincang santai saat Abi dan Nina tiba.


“Seru ma.. apalagi waktu berkunjung ke Narmada. Tapi aku ngalamin kejadian serem loh ma waktu di resort.”


“Serem gimana?”


“Aku lihat kunti di kamar,” suara Nina berubah pelan, mungkin takut kunti yang dilihatnya mengikuti sampai ke Bandung.


“Ah masa sih mama ngga percaya.”


“Bener ma.. kejadiannya pas malem-malem mati lampu.”


Rahma mengernyitkan keningnya. Dia sering kali menginap di resort tersebut dan tidak pernah menemukan hal ganjil di sana. Lalu matanya melirik pada Abi, gerak tubuh anak keduanya itu terlihat mencurigakan.


“Kunti beneran apa kunti jadi-jadian?” tanya Rahma seraya melirik pada Abi.


“Ish mana ada kunti jadi-jadian ma. Lagian siapa juga yang iseng jadi kunti malem-malem.”


“Kayanya gara-gara abis nonton horor ma, makanya Nina ngehalu lihat kunti.”


Jawab Abi berusaha menghilangkan kecurigaan Rahma. Bahaya kalau sang mama sampai membongkar kebohongannya. Bisa-bisa Nina tidak akan memberikan jatah adik kecilnya berkunjung.


“Iya juga kali ya.”


Nina memilih mempercayai argumen suaminya, dari pada dia harus terus terkenang peristiwa menyeramkan tersebut. Abi tersenyum lega mendengarnya. Namun raut wajahnya itu tertangkap oleh Juna.


“Yakin Nin kalau itu kunti beneran? Kalau...”


“Kak.. ini aku bawain oleh-oleh buat kalian. Kain songket, mutiara sama madu asli sumbawa,” Abi buru-buru memotong ucapan Juna sebelum kakaknya itu membongkar rahasianya.


Nadia dengan senang hati menerima oleh-oleh dari Abi. Dia memang senang mengoleksi perhiasan dari mutiara. Matanya berbinar melihat satu set perhiasan dari mutiara, juga beberapa lembar kain songket yang cantik.


“Makasih ya Bi, Nin.”


“Sama-sama kak. Ini buat Rayi, kamu aja yang kasih ya Fa,” Nina memberikan dua paper bag pada Anfa.


“Makasih kak.”


“Sayang.. ayo ke kamar. Kamu pasti cape,” ajak Abi.


“Duluan aja mas. Aku mau kasih oleh-oleh dulu ke Sekar. Sekarnya di mana ma?”


“Ada di kamarnya.”


Nina bangun lalu segera menuju lantai atas. Diketuknya pintu kamar Sekar yang tertutup rapat. Setelah mendengar jawaban dari sang empu kamar, Nina pun masuk ke dalamnya. Tampak Sekar sedang berbaring malas di kasurnya sambil memainkan ponsel. Nina mendekat lalu duduk di sini ranjang. Sekar langsung bangun lalu duduk berhadapan dengan kakak iparnya.


“Nih, oleh-oleh buat kamu sama teman-teman kamu.”


“Wah makasih ya kak.”


Dengan senang hati Sekar menerima empat buah paper bag dari Nina. Kemudian wanita itu memberikan satu buah lagi paper bag pada Sekar.


“Yang ini buat bang Cakra. Titip ya di kamu, kalo mas Abi pasti males disuruh bawa.”


“Oke kak.”


“Kakak balik dulu ke kamar ya. Cape banget, mau istirahat.”


“Met istirahat kakakku cuyunk.”

__ADS_1


Nina tersenyum kemudian keluar dari kamar. Sekar memandangi paper bag yang berisi oleh-oleh untuk Cakra. Setelah pembicaraan terakhir mereka, Cakra membuktikan ucapannya. Dia tak lagi berusaha mendekati Sekar. Sudah tak ada lagi rayuan receh yang keluar dari mulutnya. Bahkan ponsel Sekar sepi dari chat-nya. Biasanya ada saja pesan yang dikirimkan pria itu dari mulai bangun tidur sampai mau tidur lagi.


Sekar menghela nafas panjang. Dalam hatinya serasa hampa, seperti ada yang hilang. Ternyata selama ini dirinya sudah terbiasa dengan sosok Cakra. Senyumannya, gombalan recehnya, pernyataan cintanya, dan semua tentangnya. Tapi kini Cakra berubah, pria itu seperti tengah menjaga jarak dengannya. Diam-diam Sekar merindukan kebersamaannya dengan Cakra.


☘️☘️☘️


Abi bersama Beno memasuki rumah yang dijadikan markas tim keamanan keluarga Hikmat. Keduanya langsung menuju lantai atas lalu masuk ke dalam ruangan yang dijadikan kantor oleh Beno. Saat ini Beno memang telah diangkat menjadi kepala tim keamanan, menggantikan kepala tim terdahulu yang telah pensiun.


Di sana seorang pria telah menunggu kedatangan mereka. Abi langsung duduk di belakang meja kerja Beno. Pria yang telah menunggunya, menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan.


“Bagaimana Ruby?” tanya Abi tanpa basa-basi.


“Sejauh ini masih aman mas. Saya juga sudah menyadap ponselnya. Tapi sampai saat ini dia belum menghubungi sekutunya. Dia masih beraktivitas seperti biasa.”


“Kenapa kamu menikahinya? Itu bukan bagian dari rencana kita. Seharusnya kamu hanya berpura-pura membantunya kabur, membuatnya mempercayaimu. Apa kamu jatuh cinta padanya?”


Pria yang ternyata adalah Agung mengusap tengkuknya. Wajahnya sedikit merona karena tebakan sang bos benar adanya. Rencana matang yang disusun Abi untuk membuat Ruby masuk jebakannya, sampai melibatkan mami Elis, mucikari terkenal yang disegani di kota Bandung harus menyimpang dari skenario karena perasaan Agung.


“Maaf mas kalau saya sudah bersikap tidak profesional. Tapi saya janji akan mengawasi Ruby dengan baik. Dengan menikahinya bukankah lebih baik, jadi saya bisa mengawasinya tanpa dia merasa curiga.”


“Tapi kamu tahu dia musuhku. Apa kamu yakin akan tetap berada di sisiku? Jika suatu saat kamu harus memilih siapa yang akan kamu bela, apa keputusanmu? Aku atau istrimu? Kalau kamu memilih istrimu berarti kamu akan berhadapan denganku. Dan aku tidak akan segan-segan menghabisimu jika kita bertemu sebagai musuh, walaupun kamu adalah pengawal terbaik dan kepercayaan keluargaku.”


“Mas tidak usah khawatir. Saya tetap akan memegang teguh janji saya. Selamanya keluarga Hikmat adalah prioritas utama saya.”


“Sambungkan sadapan hp Ruby ke hp bang Beno.”


“Baik mas.”


Abi mengeluarkan amplop putih dari saku dalam jasnya lalu memberikannya pada Agung. Dengan wajah tak mengerti Agung menerima amplop tersebut lalu membukanya. Matanya membelalak melihat isi amplop adalah selembar cek dengan nominal dua ratus juta rupiah.


“Itu hadiah pernikahan dariku. Pindahlah ke rumah yang lebih bagus.”


“Terima kasih mas. Tapi untuk sementara, kami tetap akan tinggal di sana. Hitung-hitung untuk mendidik istri saya.”


Abi menyunggingkan senyum tipis, sepertinya Agung akan bisa menaklukkan Ruby. Dia berharap Agung bisa mengurungkan niat jahat wanita itu. Agung beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Beno. Dia segera menyambungkan ponsel Ruby ke ponsel Beno.


“Tidak ada.”


“Kalau begitu saya permisi.”


Abi menganggukkan kepalanya. Agung segera keluar dari ruangan tersebut. Kini Beno yang mendekat, pria itu duduk berhadapan dengan Abi.


“Begini mas, ada teman saya yang membutuhkan pekerjaan. Namanya Panca.”


“Apa keahliannya?”


“Dia mekanik mas.”


“Hmm.. tempatkan saja dia di bengkel kantor.”


“Mas tidak mau tahu latar belakangnya?”


“Dia teman abang kan? Aku percaya kalau abang merekomendasikan, berarti dia orang yang bisa dipercaya.”


“Terima kasih mas.”


Abi menganggukkan kepalanya. Dia berdiri kemudian melangkah pergi. Waktu masih menunjukkan pukul tiga sore, namun tak ada niatan untuk kembali ke kantor. Abi memilih pulang ke rumah. Seharian ini dia merindukan sang istri.


☘️☘️☘️


Abi melangkah masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah nampak sepi. Juna dan Nadia sudah pindah, mereka turut memboyong Murni juga Kamal ke rumahnya. Sekar dan Anfa belum pulang dari kantor, Teddy dan Rahma pun sedang liburan ke puncak. Abi langsung menuju kamarnya.


Nina terkejut melihat sang suami sudah pulang kerja. Disambutnya Abi dengan mencium punggung tangannya. Kemudian membantu melepaskan jas yang membalut tubuhnya. Abi mencium pipi Nina.

__ADS_1


“Kangen sayang,” bisiknya.


“Baru pisah berapa jam juga, lebay.”


“Adikku juga kangen katanya,” bisik Abi dengan suara sensual membuat Nina merinding.


“Apaan sih mas. Udah sana mandi dulu, bau tau.”


Nina mendorong tubuh Abi sampai ke depan kamar mandi. Sebelum Nina meninggalkannya, pria itu segera menarik lengan sang istri.


“Mandi bareng yuk.”


“Aku udah mandi mas. Cepet sana mandi.”


Abi memanyunkan bibirnya kemudian masuk ke kamar mandi. Dilepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Kemudian segera menuju shower. Abi menyugar rambutnya yang terkena guyuran air. Saat tangannya meraih botol shampo di dekat shower ternyata isinya sudah kosong. Abi segera beranjak menuju pintu. Dibukanya sedikit pintu kamar mandi.


“Sayang...” tak ada sahutan dari Nina.


“Sayang!”


Abi meninggikan nada suaranya. Nina yang sedang berada di walk in closet bergegas menghampiri begitu mendengar sang suami memanggilnya.


“Apa mas?”


“Shamponya habis.”


“Oh iya aku lupa, bentar.”


Nina bergegas menuju walk in closet. Tadi dia baru saja membeli perlengkapan mandi dan belum sempat dimasukkan ke lemari yang ada di bawah meja wastafel. Nina mengambil botol shampo lalu kembali ke kamar mandi.


“Mas ini shamponya.”


Tak ada jawaban dari dalam. Nina masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya terbuka. Saat dirinya sudah di dalam, pintu kamar mandi tertutup. Abi yang tadi berdiri di belakang pintu yang melakukannya. Nina membalikkan tubuhnya.


“Mas ini shamponya.”


“Kamu sengaja ya?”


“Ng.. ngga.. aku emang lupa ganti botol shamponya.”


Abi berjalan mendekat, refleks Nina berjalan mundur. Dia berusaha mengalihkan pandangannya dari tubuh Abi yang polos. Walaupun mereka telah sering bercinta, namun Nina masih cukup malu melihat tubuh sang suami yang tak tertutup apapun. Sekilas Nina melihat milik Abi yang mulai menegang.


Abi terus merangsek maju dan Nina terus mundur. Tanpa sadar wanita itu berjalan mundur ke arah shower dan kini punggungnya sudah menyentuh dinding kamar mandi. Abi segera mengurung Nina dengan kedua tangan berada di sisi kanan dan kiri sang istri.


“Kamu mau ikut mandi lagi?”


“Ng.. ngga..”


“Kamu ngapain di sini?”


“Kan mas yang bikin aku jadi ke sini.”


“Masa? Aku kan cuma mau ke shower, mau ngelanjutin mandi. Kamu aja yang geer. Atau kamu beneran modus ya, mancing-mancing mas.”


“Mana ada.”


Nina berusaha untuk pergi namun Abi malah menarik pinggangnya hingga tubuh mereka tak berjarak. Belum hilang keterkejutan Nina, Abi sudah me**mat bibirnya. Abi terus me**mat dan memagut bibir istrinya walau masih belum ada balasan. Abi tak menyerah, dia mulai meraba titik-titik sensitif tubuh Nina sambil memperdalam ciumannya.


Nina menyerah, dia mulai membalas ciuman suaminya. Abi menurunkan tali resleting dress Nina kemudian melepaskannya. Satu per satu pakaian yang melekat di tubuh sang istri berhasil dilepaskan hingga tubuh keduanya sama-sama polos. Abi menggendong Nina kemudian merapatkan punggung sang istri ke dinding. Bibirnya mulai menciumi leher, bahu dan dada Nina.


Aktivitas sepasang suami istri membuat suhu ruangan di kamar mandi berubah menjadi panas. Suara de**han Nina dan erangan Abi menggema ke seluruh ruangan. Di bawah guyuran shower keduanya saling melepaskan dan memuaskan hasrat masing-masing. Tubuh Nina terkulai lemas setelah Abi menyemburkan cairan hangat miliknya.


☘️☘️☘️

__ADS_1


**Abi udah nikah masih aja modus.


Jempol gatel pengen up di sela² deadline🤭**


__ADS_2