
Sebuah sapuan hangat menerpa pipi halus Nina. Perlahan gadis cantik itu membuka matanya. Segurat senyum mengembang di wajahnya ketika netranya menangkap wajah tampan di depannya. Abi duduk di sisi ranjang dengan ibu jarinya mengusap pipi Nina.
“Mas..”
“Tidurmu nyenyak?”
“Hmm.. jam berapa ini?”
“Jam setengah delapan sayang.”
“Hah..”
Nina terlonjak dari tidurnya sampai Abi kaget dibuatnya. Wajahnya terlihat panik, lalu dia melihat ke arah Abi yang sudah rapih terbalut pakaian kerja.
“Mas.. maaf aku kesiangan. Aku ngga nyiapin pakaian kerjamu.”
“Ngga apa-apa. Kamu lebih baik istirahat aja. Mau aku bawakan sarapan ke sini?”
“Ngga mas. Aku mau sarapan bareng mas aja. Aku mandi dulu ya mas.”
Nina baru saja akan bangun namun kembali terduduk ketika merasakan sakit di bagian perutnya. Dipeganginya perut yang terasa melilit.
“Kamu kenapa Nin? Perutmu sakit? Apa kemarin Dika memukul perutmu?”
“Ngga mas.. perutku sakit karena lagi datang bulan aja.”
“Ooh..” Abi dapat bernafas lega.
Nina mencoba berdiri lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi. Abi segera membopong tubuh Nina membuat gadis itu memekik pelan karena terkejut. Abi menurunkan Nina di kamar mandi.
“Mau aku mandiin?”
Nina melotot ke arah Abi yang hanya dibalas kekehan dari mulutnya. Dia keluar dari kamar mandi seraya mengusak rambut kekasihnya itu. Dibukanya lemari pakaian lalu mengeluarkan pakaian untuk Nina. Tanpa malu dia mengambilkan pakaian d*lam milik Nina lalu menaruhnya di atas kasur. Abi mendudukkan diri di sisi ranjang sambil mengirimkan pesan pada seseorang.
Tanpa dia sadari sedari tadi Rahma memperhatikan gerak-geriknya. Wanita itu segera berlalu ketika melihat Abi hendak keluar dari kamar Nina. Rahma berjalan menuju ruang makan, tangannya mengusap sudut matanya yang berair.
“Kenapa ma?” tegur Teddy yang melihat mata istrinya berkaca-kaca.
“Abi pa.. Abi kita sudah kembali. Dia sudah menjadi Abi yang dulu, mama bahagia pa.”
Teddy merengkuh bahu sang istri lalu mendekapnya. Dia tahu betul bagaimana perasaan sang istri ketika melihat Abi terpuruk. Walau wanita itu selalu terlihat tegar, namun dibalik itu Rahma merasakan kesedihan yang teramat dalam.
Teddy mengurai pelukannya ketika melihat Juna dan Nadia memasuki ruang makan, disusul Sekar di belakangnya. Rahma mendekati Juna, ditangkupkan kedua tangannya ke wajah putra sulungnya itu.
“Juna.. terima kasih sudah membawa Nina ke rumah ini. Kehadiran Nina sudah membawa Abi kembali. Terima kasih sayang.”
“Abi adikku ma. Aku akan melakukan apapun untuk membuatnya pulih.”
Juna memeluk Rahma. Sekar yang ada di belakang mereka ikutan memeluk Juna dari belakang. Dia juga merasa bersyukur kakak keduanya bisa tersenyum kembali dan bersemangat menjalani hidup seperti dulu.
“Ada apa ini? Pagi-pagi udah berpelukan kaya teletubbies aja.”
Terdengar suara Abi menginterupsi keharuan ibu dan anak. Tangan Abi tampak memeluk pinggang Nina sambil berjalan menuju ruang makan.
“Kamu sudah baikan Nin?”
Rahma menyambut calon menantunya ini. Gantian, kini dia yang merangkul Nina lalu membawanya ke meja makan.
“Alhamdulillah udah ma.”
Abi menarik kursi untuk Nina kemudian menarik kursi di sebelahnya. Yang lain juga sudah duduk di tempatnya masing-masing. Semua bersiap untuk sarapan. Bi Sari sudah menyiapkan aneka makanan untuk sarapan kali ini.
“Bi.. apa kamu sudah menyiapkan pengganti Cakra?” terdengar suara Teddy membuka percakapan di sela-sela sarapan mereka.
“Sudah pa.. Tapi mungkin masih butuh waktu untuk mengajarinya.”
“Satu tahun cukup?”
“Dua tahun pa. Aku minta dia mengambil gelar master dulu.”
“Ok.. dua tahun.”
“Emang bang Cakra mau kemana pa?” tanya Sekar.
“Mau ke pelaminan,” sahut Juna.
“Sama siapa?”
“Sama kamu,” sambar Abi.
“Ogah.”
__ADS_1
Terdengar gelak tawa yang lain mendengar jawaban Sekar. Teddy dan Rahma sudah berencana mempercayakan perusahaan di Jepang pada Cakra. Bagi mereka, tak ada orang yang lebih tepat membantu Sekar mengurus perusahaan di sana selain Cakra. Terlepas apakah Cakra akan menikah dengan Sekar atau tidak. Juna dan Abi juga tidak keberatan dengan itu.
“Kamu juga kapan akan mencari pengganti Nadia? Kalau dia sibuk terus di kantor, kapan kalian akan punya momongan.”
“Ini masih tahap seleksi ma. Agak sulit juga soalnya Nadia maunya sekrertaris laki-laki. Kalau perempuan harus yang umurnya di atas 40 tahun.”
Nadia mencubit pinggang suaminya. Wajahnya nampak bersemu merah menahan malu mendapat tatapan menggoda dari mama mertuanya.
“Pokoknya cepet cari sekretaris pengganti. Mama udah ngga sabar mau nimang cucu.”
“Tenang aja ma. Kalau soal itu tiap malam juga usaha. Bener ngga Yang?”
Lagi-lagi wajah Nadia memerah. Ingin rasanya dia menghilang saja dari hadapan semua orang. Pagi-pagi suaminya sukses membuat wajahnya memerah seperti udang rebus dua kali berturut-turut.
“Yang rajin kak usahanya. Jangan sampai kesalip sama aku,” celetuk Abi.
Uhuk.. uhuk..
Nina langsung tersedak mendengarnya. Nadia mengulum senyum, kini giliran Nina yang menahan malu akibat ucapan frontal Abi.
“Halalin dulu baru buat cucu,” celetuk Rahma.
“Ya kan bentar lagi mau dihalalin ma. Atau sekarang aku bawa aja Nina ke BPOM biar dicap halal jidatnya,” seloroh Abi yang langsung dibalas pukulan Nina di lengannya.
“Hey.. Bi, kamu apakan karyawanku?”
Juna semalam menerima laporan dari Kevin kalau beberapa karyawan mengeluhkan tindakan Abi yang terlalu keras ketika menggantikannya saat berbulan madu. Bahkan ada beberapa karyawan yang jatuh sakit saking stressnya. Padahal Abi hanya seminggu menggantikan Juna, tapi efeknya sungguh luar biasa.
“Ck.. karyawan kakak tuh mental tempe semua. Baru dikerasin dikit aja langsung memble.”
“Kamu terlalu menekan mereka, Bi.”
“Ngga juga. Mereka aja yang terlalu lemah.”
“Se.. kamu betah magang di kantor dia?”
“Lumayan kak, walaupun rambutku hampir rontok karena jadwal deadline yang mepet dan tuntutan hasil sempurna dari CEO kejam itu,” Sekar menunjuk ke arah Abi.
Teddy dan Rahma hanya menggelengkan kepalanya saja melihat perdebatan anak-anaknya. Suasana di meja makan keluarga Hikmat memang tak pernah sepi. Ada saja hal yang mereka bicarakan selama makan.
Selesai sarapan, seperti biasa Nina mengantarkan Abi sampai ke depan mobilnya. Dibetulkannya dulu letak dasi yang sedikit miring. Abi memeluk pinggang Nina, matanya terus melihat ke wajah cantik calon istrinya.
“Iya mas.”
“Ada orang yang akan bertemu denganmu.”
“Siapa mas?”
“Nanti juga kamu tahu. Aku pergi dulu.”
“Iya mas, hati-hati.”
Nina meraih tangan Abi lalu mencium punggung tangannya. Hati Abi bergetar mendapat perlakuan begitu hormat dari Nina. Dahulu Fahira tak pernah melakukan itu sekali pun padanya. Abi mendaratkan kecupan di kening Nina. Kemudian masuk ke dalam mobil. Nina tetap berdiri di tempatnya sampai mobil yang dikendarai Abi menghilang, baru dia masuk ke dalam rumah.
☘️☘️☘️
Gean bergegas menuju rooftop gedung kantor begitu Cakra mengatakan Abi menunggunya di sana. Dia cukup terkejut mendengar Abi ingin bertemu dengannya di sana. Hatinya berdebar tak karuan. Pikirannya terus mengingat apakah dirinya melakukan kesalahan sampai pimpinan Metro East itu ingin berbicara empat mata dengannya.
Gean sampai di rooftop. Ini kali pertamanya menginjakkan kakinya di tempat tertinggi gedung kantor tempatnya bekerja. Ternyata rooftop ditata dengan baik. Tak heran banyak karyawan yang melepaskan penatnya di sini. Rooftop juga ditanami beberapa pohon agar tidak terlalu panas.
Pemuda itu mengedarkan pandangannya. Lalu matanya menangkap punggung kokoh di sudut sebelah kanannya. Abi berdiri membelakanginya dengan mata menatap lurus ke depan. Gean bergegas menghampiri Abi.
“Bapak memanggil saya?”
Abi membalikkan tubuhnya begitu mendengar suara Gean. Sejenak mata keduanya bertemu. Abi menyunggingkan senyum tipis melihat wajah tegang di depannya. Dia kembali menghadapkan tubuhnya ke arah depan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Gean berdiri di sampingnya, menunggu apapun yang keluar dari mulut atasannya itu.
“Apa kamu betah bekerja di sini?”
“Betah pak?”
“Apa Cakra mengajarimu dengan baik?”
“Iya pak. Pak Cakra mengajari saya banyak hal.”
“Hmm.. bagus. Apa dia terlalu keras padamu?”
“Ngga pak. Pak Cakra sangat baik malah.”
“Apa kamu sudah mendaftar untuk program mastermu?”
“Sudah pak. Saya memutuskan melanjutkan studi di kampus yang dulu.”
__ADS_1
Abi mengangguk pelan. Dia terdiam sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menceritakan soal Nina pada pemuda itu.
“Apa Sekar menyulitkanmu?”
“Ngga pak. Bu Sekar juga sangat baik pada saya.”
Abi terkekeh mendengar Gean menyematkan kata ibu di depan nama adik perempuannya itu.
“Jangan panggil ibu, umurnya dua tahun di bawahmu. Dia juga hanya pegawai magang saja di sini. Dia itu adik saya.”
“Oh bu.. eh maksud saya, Sekar, adalah adik pak Abi?”
Abi mengangguk. Dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Gean. Pemuda itu pun memutar tubuhnya agar berhadapan dengan bosnya itu.
“Apa orang tuamu masih ada?”
“Alhamdulillah masih ada pak.”
“Bagaimana mereka memanggilmu?”
“Maksud bapak bagaimana?”
“Bagaimana mereka memanggil namamu? Gean atau Anfa?”
Gean terkesiap mendengar pertanyaan Abi. Matanya membelalak menatap pria bertubuh jangkung di depannya. Bagaimana mungkin atasannya ini tahu tentang identitas dirinya yang telah terkubur lama. Mendadak terbersit kekhawatiran di hatinya, khawatir Abi akan menuntutnya karena menggunakan identitas palsu masuk ke perusahaannya.
“Kenapa diam?”
“Hmm.. ma.. maaf pak.. sa.. saya..”
“Atau saya ganti pertanyaannya. Kamu lebih suka dipanggil Gean atau Anfa?”
Gean kembali terdiam. Dia sungguh tak memahami situasi yang dialaminya kini. Mendadak kerongkongannya terasa kering. Pikirannya menerka-nerka siapa Abi sebenarnya, mengapa pria itu tahu soal dirinya.
“Kalau saya lebih suka memanggilmu Anfa. Karena namamu sama dengan nama adik dari perempuan yang saya cintai.”
“Ma.. maksud bapak apa? A.. apa bapak mengenal kakakku?”
“Apa kamu mempunyai kakak? Rayi bilang kamu anak tunggal.”
Gean terdiam seribu bahasa. Pikirannya benar-benar kacau saat ini dan dia juga belum sepenuhnya memahami situasi yang terjadi.
“17 tahun lalu, sepasang kakak beradik harus terpisah karena bencana tsunami yang melanda Aceh. Muhammad Anfa atau yang biasa dipanggil Anfa, diselamatkan oleh sepasang suami istri lalu ditempatkan di panti asuhan sebelum diadopsi oleh keluarga Danuardi. Mereka mempunyai anak tunggal bernama Gean Ardianysah.
Sepuluh tahun lalu, keduanya hanyut di sungai. Hanya satu yang bertahan hidup sedang satunya lagi meninggal dunia terbawa arus sungai sebelum akhirnya ditemukan tak bernyawa oleh warga setempat. Dan saat ini yang berdiri di hadapan saya adalah anak yang selamat waktu itu. Gean Ardiansyah alias Muhammad Anfa, benar begitu?”
Gean mundur beberapa langkah, kepalanya seperti berputar cepat. Hampir saja dia terjatuh kalau Abi tidak menarik tangannya. Abi memegang kedua bahu Gean alias Anfa. Ditatapnya lekat-lekat pemuda di hadapannya ini.
“Anfa.. kamu benar Anfa kan?”
Gean masih terdiam, dia menundukkan kepalanya. Abi mengguncang bahu Gean hingga pemuda itu melihat ke arahnya.
“Kamu Anfa, benar?”
Gean hanya mengangguk, tubuhnya bergetar menahan sesuatu yang menyeruak di dalam dadanya. Sudah bertahun-tahun dia mengharapkan seseorang memanggilnya dengan nama Anfa. Genangan air mulai nampak di pelupuk matanya.
“Anfa.. syukurlah aku bisa menemukanmu. Kakakmu selama ini terus mencarimu.”
“Kak Nina masih hidup?” suara Anfa tercekat menahan tangis.
“Hmm.. dia masih hidup dan sehat. Dia sangat merindukanmu dan ingin bertemu denganmu.”
“Kak Nina.. kak Nina..”
Anfa tak dapat menahan tangisnya lagi. Air matanya luruh begitu saja mendengar kakak yang begitu disayanginya ternyata masih hidup dan mencarinya. Abi memeluk Anfa, membiarkan pemuda itu menangis mengeluarkan beban di hatinya.
“Kamu mau menemui kakakmu?” Abi mengurai pelukannya lalu menatap Anfa.
“Iya, aku mau.”
“Ayo kita pergi temui kakakmu.”
“Terima kasih pak. Terima kasih.”
“Kakak. Panggil aku kakak. Mulai sekarang, aku kakakmu,” Abi menepuk pelan rahang Anfa seraya tersenyum.
Anfa hanya mengangguk. Dia masih belum bisa berbicara banyak. Dadanya masih terasa sesak dengan kebahagiaan yang hadir tanpa terduga. Abi merangkul Anfa kemudian membawa pemuda itu keluar dari rooftop.
☘️☘️☘️
Yeaaayy Anfa mau ketemu Nina. Rayi... siapkan mentalmu🤣
__ADS_1