
“Saya terima nikah dan kawinnya Pipit Andriani binti Deden Ramdhan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 20 gram dibayar tunai!”
Lutut Sekar lemas mendengar kalimat ijab yang terdengar lantang sampai ke teras rumah. Gadis itu hanya terpaku di tempatnya tanpa memiliki keberanian untuk masuk. Teddy, Juna, Abi, Nina serta Nadia langsung masuk ke dalam. Kedatangan mereka yang sudah ditunggu langsung disambut oleh Deden.
“Maaf kami terlambat.”
“Selamat datang pak Teddy. Maaf kami harus memulai acara sebelum bapak datang.”
“Tidak apa-apa, yang penting kedua mempelai sudah selamat.”
Teddy menghampiri kedua pengantin kemudian memberi selamat disusul oleh anak-anak dan menantunya. Rahma yang masih belum masuk, menyeret tangan Sekar untuk masuk ke dalam. Pasrah, Sekar mengikuti langkah Rahma sambil menundukkan kepalanya.
Terdengar Rahma mengucapkan selamat pada pasangan pengantin. Lalu wanita itu mendorong tubuh Sekar agar mendekat pada pengantin untuk mengucapkan selamat. Dengan berat hati Sekar mengangkat kepalanya, netranya bertemu dengan manik Pipit yang memancarkan kebahagiaan. Sungguh hati Sekar seperti diiris sembilu.
“Selamat ya Pit.”
“Iya makasih teh. Makasih ya udah mau dateng.”
Pipit memeluk Sekar lalu bercipika-cipiki. Sekar mengurai pelukan Pipit seraya melemparkan senyum penuh luka. Kemudian dia mendekat ke arah mempelai pria. Gadis itu kembali menundukkan kepalanya. Sekuat mungkin dia menahan airmata yang sudah menggantung di pelupuk matanya. Sekar menarik nafas panjang lalu
“Selamat ya bang Cak...”
Kalimat Sekar menggantung begitu saja ketika melihat pria yang berdiri di sisi Pipit bukanlah Cakra, melainkan pria lain yang tak dikenalnya. Spontan dia menoleh pada Pipit.
“Kenapa teh? Kok kaget gitu? Ini suamiku akang Yanuar.”
“Ka.. kamu bukannya nikah sama bang Cakra?”
Pertanyaan Sekar tentu saja mengundang tawa yang lain termasuk pasangan pengantin. Tini yang berada di dekat mereka segera menghampiri. Dia merangkul bahu Sekar.
“Bukan atuh neng. Cakra sama Pipit mah sepupuan. Ini suaminya Pipit, namanya Yanuar. Dia guru di MTS juga TPA, biasa dipanggil di sini ustadz Yanuar.”
Wajah Sekar langsung memerah. Sontak dia melihat ke arah Abi. Kakaknya itu hanya mengangkat bahunya tak acuh. Ingin rasanya dia mencekik kakaknya itu. Sia-sia saja airmata yang dia tumpahkan beberapa hari ini. Ternyata dirinya hanya menangisi pepesan kosong saja.
“Bang Cakranya mana bi?”
“Tuh di belakang. Kayanya lagi makan, dia bilang laper tadi.”
Sekar bergegas menuju ke ruangan lain yang dibatasi oleh tirai. Nampak Cakra sedang duduk anteng menikmati aneka kue basah. Sekar berdiri mematung di depan pria itu, tanpa sadar matanya kembali berkaca-kaca. Menyadari kedatangan Sekar, Cakra memanggilnya.
“Se.. sini,” Cakra melambaikan tangannya lalu menepuk kursi kosong di sebelahnya. Sekar mendekati Cakra lalu duduk di dekatnya.
“Udah makan belum? Nih kue basahnya enak loh. Buatan emak-emak di sini,” Cakra menyodorkan kue lumpur pada gadis itu.
“Bang Cakra jahat! Nyebelin hiks.. hiks..”
Sekar memukuli lengan Cakra hingga lelaki itu mengaduh kesakitan. Cakra menangkap tangan Sekar agar gadis itu berhenti memukulinya. Dia terkejut melihat airmata yang mengalir di pipi Sekar. Diusapnya buliran bening itu dengan ibu jarinya.
“Jangan nangis Se.”
“Abang jahat hiks.. aku kira abang yang nikah.”
“Lagian kamu bukannya nanya main tuduh aja.”
“Kata kak Abi, abang mau nikah sama Pipit soalnya papa bang Cakra udah janji sama mang Deden.”
“Iya papaku emang udah janji sama mang Deden. Tapi bukan janji nikahin aku sama Pipit. Janji biayain nikahannya Pipit. Lagian kamu tahu sendiri siapa perempuan yang aku cinta dari dulu sampai sekarang.”
Sekar memalingkan wajahnya yang merona mendengar ucapan cinta Cakra seraya menghapus airmatanya. Cakra tersenyum, akhirnya gadis yang ditunggunya bertahun-tahun mau membuka hati padanya.
“Se.. nikah yuk.”
“Ish ngga romantis banget sih ngelamarnya.”
Cakra terkekeh pelan. Dia melihat ke sekeliling lalu menyambar bunga dalam vas yang ada di atas kulkas. Pria itu berlutut di depan Sekar seraya menyerahkan bunga tersebut.
“Sekar Maeswari Hikmat, will you marry me?”
“Ish masa ngelamar pake bunga jadi-jadian.”
“Hahahaha...”
Cakra berdiri kemudian meletakkan kembali bunga ke dalam vas. Dia merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan kotak kecil berwarna merah. Diambilnya cincin yang sudah disiapkan jauh hari untuk wanita pujaannya ini. Lagi, Cakra berlutut di hadapan Sekar. Diraihnya tangan Sekar lalu dimasukkan cincin itu ke jari manis Sekar.
“Marry me..”
Sekar hanya menganggukkan kepalanya seraya melemparkan senyuman semanis madu. Cakra mencium punggung tangan Sekar cukup lama. Kemudian kembali ke tempatnya duduk di sisi Sekar.
__ADS_1
“Kamu pasti belum makan kan. Coba deh ini aaa...”
Sekar membuka mulutnya, Cakra menyuapkan kue lumpur ke dalamnya. Sekar menggigit kue tersebut. Benar saja, rasa kue itu hampir sama seperti di toko langganannya. Dia lalu melihat deretan aneka kue basah yang tertata di atas meja. Semua kue yang tersaji adalah kesukaannya.
“Ini kue basahnya kesukaan aku semua.”
“Iya.. aku sengaja pesan kue basah kesukaan kamu.”
“Kok gitu, kan yang nikah Pipit masa pesen kuenya kesukaan aku.”
“Kan sekalian aku ngelamar kamu. Eh ma.. cobain kuenya ma,” Sekar menolehkan kepalanya ke arah kanan tapi tiba-tiba
CUP
Cakra mencium pipi Sekar, membuat gadis itu terjengit. Dia menatap galak ke arah lelaki di sampingnya ini. Lalu tangannya bergerak mencubit perut pria itu.
“Aaauu sakit Se.”
“Itu hukuman udah berani cium aku.”
“Dikit doang Se.. cuma di pipi aja.”
“Ngga boleh! Belum halal tau.”
“Ah Abi aja nyosor Nina sebelum halal,” Cakra membela diri.
“Ya yang jelek jangan diikutin dong bang.”
“Iya.. iya.. jangan marah dong cantik,” Cakra menjawil hidung Sekar.
Sedang asik bersenda gurau, kedua orang tua Sekar bersama kakak dan kakak iparnya datang bergabung. Sekar yang masih dongkol karena dikerjai Abi memandang pria itu dengan sengit. Tapi bukan Abi kalau terintimidasi oleh pandangan Sekar. Dengan santai dia mencomot lemper lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
“Kak Abi neyebelin! Kerjaannya nge-prank orang aja.”
“Tahu lo.. kasihan kan ayang gue sampe nangis bombay.”
Sekar melotot mendengar ucapan enteng Cakra. Langsung capitan mautnya mendarat di lengan pria itu.
“Cieee... yang udah nerima bang Cak uhuk..” celetuk Nina.
“Mama dapet mantu lagi nih,” sambar Nadia.
Sekar menyembunyikan wajahnya di balik punggung Cakra. Wajahnya sudah merah merona seperti udang rebus. Namun bukannya berhenti, kakak dan kakak iparnya malah tambah semangat meledek.
“Lo harus terima kasih sama gue Cak. Kalau ngga gitu, mana mau tuh anak ngaku. Lo juga jadi cowok lambat banget kaya siput.”
“Emangnya gue elo, kerjanya modusin si Nina mulu. Pura-pura belum bisa jalan, bilang aja minta dipegang-pegang sama Nina,” balas Cakra tak mau kalah.
“Mulut lo minta disumpel pampers bekas kayanya. Sopan lo! Gue calon kakak ipar nih.”
“Ya Allah berikan hamba kesabaran punya kakak ipar nyebelin kaya dia,” Cakra mengangkat kedua tangannya layaknya orang yang tengah berdoa.
“Sudah-sudah ribut terus kalian ini. Inget ini pesta orang lain. Cakra kapan kamu mau nikahin Sekar?”
“Bulan depan ma. Pas Sekar ulang tahun ke 21, kita nikah ya,” Cakra melihat ke arah Sekar.
“Ngga kecepatan bang? Ngga nunggu aku beres kuliah?”
“No.. no.. no.. lebih cepat lebih baik karena Cakra harus cepet pegang perusahaan yang di Jepang. Kasihan Yamada pusing ngurusin semua sendirian karena papa kamu belum mau ke sana lagi sebelum dapet cucu,” Rahma melirik pada kedua anak lelakinya.
“Kalau mereka ngga sanggup kasih mama sama papa kasih cucu dalam waktu dekat. Aku siap kok.”
Sekar memukul lengan Cakra dengan keras. Pria itu seenaknya saja mengeluarkan kata-kata yang akan memancing ledekan pada dirinya. Tapi Cakra hanya tersenyum saja, dia merangkul bahu Sekar.
“Boleh ya ma, rangkul doang.”
“Asal jangan sampe adek gue diantup tawon aja kaya Nina,” cetus Juna yang langsung dibalas pelototan oleh Abi.
Pembicaraan mereka teralihkan ketika mendengar suara musik dari arah panggung yang ada di depan rumah. Organ tunggal yang disewa oleh mang Deden mulai memainkan musik dangdut koplo.
“Buset si mamang kaga salah nih. Menantunya ustadz hiburannya dangdut, Ciamis digoyang!”
Semua yang seruangan dengan Cakra langsung tergelak mendengar celotehan pria itu. Sekar pun tak bisa menahan tawanya. Dipandanginya wajah Cakra yang duduk di sampingnya. Sungguh dirinya bersyukur ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan padanya mendapatkan pria sebaik Cakra untuk mendampingi dirinya.
☘️☘️☘️
Selepas ashar Teddy beserta keluarga pamit pada Deden. Mereka akan kembali ke Bandung, begitu pula dengan Cakra. Dia tak enak terlalu lama meninggalkan kantor di saat pekerjaan mereka menumpuk. Selain itu dia juga harus segera menyiapkan pernikahannya. Mang Deden sudah berjanji akan membantunya. Dua minggu menjelang pernikahan, mereka sekeluarga akan ke Bandung.
__ADS_1
Kali ini Sekar ikut bersama Cakra. Pasangan kekasih yang baru saja memulai hubungannya tentunya ingin menghabiskan waktu berdua saja. Sepanjang jalan wajah Cakra tak henti menyunggingkan senyuman. Tangannya juga tak melepas Sekar dari genggamannya. Sesekali dia mendaratkan kecupan di punggung tangan gadis itu.
“Nanti konsep nikahnya mau kaya apa Yang?”
“Mama maunya konsep tradisonal Sunda lengkap dengan upacara adatnya. Aku foto pre wed-nya pengen kaya yang diusulin Rayi tapi ngga dipake kak Abi.”
“Ngga mau ah. Masa foto pre wed kita sama kaya pak Kamal sama bi Murni.”
Sekar terkikik geli, teringat melihat hasil foto pre wed pegawai di rumahnya. Suasana, properti, pencahayaan sudah sangat mendukung, sayang model pre wed tidak sesuai harapan.
“Eh.. kok Anfa ngga ikut sih?” tanya Cakra.
“Tadinya udah mau ikut, tapi ngga jadi. Neneknya Rayi meninggal katanya. Makanya besok kita semua mau takziah ke sana.”
“Innalillahi wa inna lillahi rojiun.”
Ponsel Sekar bergetar, sebuah pesan masuk dari sahabatnya Rindu. Sekar segera membuka pesan tersebut.
To Se :
Se.. sorry nih, uang yang gue mau pinjem bisa transfer sekarang ke rekening abah gue?
To Rin :
Ok.. gue minta noreknya aja.
Tak lama pesan kembali masuk ke ponselnya. Sekar segera menyimpan nomor rekening. Gadis itu membuka aplikasi mobile banking-nya. Namun dia tercenung karena tak bisa langsung mengirim sejumlah uang yang dibutuhkan sahabatnya.
“Kenapa Se?”
“Ini bang, Rindu kan mau pinjem uang buat abahnya garap kebon lagi. Dia butuh 100 juta sekalian buat bayar utang ke tetangganya. Tapi aku cuma bisa transfer 25 aja. Aku lupa kalau limit transfer per hari cuma segitu.”
“Nih, tambah dari punya abang aja.”
Cakra memberikan ponselnya. Sekar mengambil ponsel tersebut lalu membuka aplikasi mobile banking-nya. Setelah memasukkan nomor rekening dan nominal transfer, muncul perintah untuk memasukkan kode pin.
“Pin nya berapa bang?”
“Ulang tahun kamu.”
“Ish aku jadi terhura. Segitu cintanya abang sama aku.”
“Baru tahu kamu Se? Kemana aja ngga nyadar soal perasaanku hmm.”
Sekar mencubit pelan lengan Cakra kemudian melanjutkan transaksi perbankannya. Tak lupa dia mengabarkan kalau sisanya besok akan ditransfer karena terhalang limit.
“Abang beneran bakal ke Jepang sesudah kita nikah?”
“Ya ngga langsung sih. Abang nunggu Anfa siap abang tinggal. Ya mungkin awal-awalnya bakal bolak balik dulu lah.”
“Aku ditinggal dong.”
“Kamu ikut aja, biar sekalian belajar ngelola perusahaan. Itu kan perusahaan untuk kamu sayang.”
“Tapi aku kan masih kuliah bang. Sayang dong kalau ambil cuti.”
“Nanti kita atur-atur waktunya ya.”
“Makasih ya bang.”
“Untuk?”
“Sabar nunggu aku sampai sekarang.”
“Karena kamu pantas buat ditunggu Se.”
“Ish gombal mulu.”
Cakra tergelak, tangannya terulur mengusak puncak kepala kekasihnya ini. Gombalan-gombalan receh terus keluar dari mulut Cakra. Tak jarang membuat pipi Sekar merona atau menghasilkan jurus capit kepiting.
Perjalanan terus berlanjut diselingi perbincangan ringan mereka. Hujan yang mengguyur menambah kesan romantis sepasang kekasih ini. Dunia serasa milik berdua, penghuni lain hanya diperbolehkan ngontrak di rumah petak sederhana saja.
☘️☘️☘️
**Wah ternyata para readers pinter ya ngga kena prank mamake🤣
Demi kalian mamake spesial double up hari ini. Mak takut aja disumpahin jempolnya cantengan, nanti ngga bisa kejar deadline.
__ADS_1
See you tomorrow.. yg kangen sama bang Ke dan Kang Pur, pantengin besok ya**.