
Cakra baru saja memarkirkan mobilnya bertepatan dengan masuknya Honda Civic ke area parkir perkantoran Metro East. Mengenali sang pemilik mobil, Cakra memilih menunggu di dekat mobilnya. Tak lama Jojo turun dari dalam mobil tadi kemudian menghampiri Cakra.
“Tumben pagi-pagi dah nongol di mari.”
“Gue mau ajuin proposal buat film baru gue. Si Abi bisanya ketemu pagi katanya.”
“Jangan bilang kalau film Oh My Kunti. Dia kaga bakalan mau sponsorin.”
“Bukan. Ini film baru, gue baca skenarionya oke sih. Tapi ada pelakor-pelakornya gitu deh.”
“Jiaaahh lo mau bikin film layangan terbang apa layangan sobek? Hahaha..”
Jojo ikutan tertawa mendengar judul film yang dipelesetkan oleh sahabatnya itu. Film yang akhir-akhir ini viral dan selalu mengundang amarah, airmata dan juga kekepoan emak-emak. Bilang sebel tapi ditonton juga.
Keduanya segera melangkah menuju pintu masuk gedung yang hanya berjarak beberapa meter saja. ketika mendekati pintu masuk, terlihat seorang gadis cantik bertubuh mungil dengan rambut kuncir kuda baru saja keluar dari gedung tersebut. Cakra dan Jojo langsung mengenalinya, siapa lagi kalau bukan si gadis blewah.
“Ble.. ngapain kamu di sini?” tanya Cakra begitu sampai di dekat Adinda.
“Eh akang yang waktu jadi juri ya? Ble apaan kang?”
“Blewah hahaha..”
Adinda memanyunkan bibirnya. Cakra masih saja tergelak, berbeda dengan Jojo yang melihatnya dengan tatapan tak suka.
“Kamu ngikutin saya?” tanya Jojo ketus.
“Ngga om.”
“Terus ngapain kamu ke sini? Heran di mana-mana ada aja.”
“Aku abis nganterin pesanan nasi uduk, om. Kebetulan tetanggaku kerja di kantor ini dan pesan nasi uduk buat teman-temannya. Akang sama om mau beli nasi uduk? Enak loh, buatanku sendiri.”
“Duh maaf ya, saya udah sarapan,” jawab Cakra.
“Ngga doyan!” ketus Jojo.
“Ok Ble.. kita masuk dulu ya.”
Cakra mengusak puncak kepala Adinda kemudian berjalan menuju pintu masuk diikuti Jojo yang tak sedikit pun melihat ke arah gadis itu. Adinda tersenyum kecut, jujur dia merasa sedih diperlakukan begitu ketus oleh Jojo. Dia berjalan menuju meja security yang berada di depan pintu masuk untuk mengambil dagangannya yang dititipkan di sana.
Sementara itu, dari arah gerbang kantor nampak sebuah mobil sport mewah masuk dan langsung mengambil tempat parkir di area yang telah disediakan untuknya. Abi turun dari mobil dengan wajah kusut. Sejak kemarin Nina merengek ingin minum jus mangga buatan Adinda, sedang dirinya tidak tahu kemana harus mencarinya. Semalam pria itu sempat mendatangi tempat Adinda berjualan bunga tapi tak menemukannya.
Langkahnya terhenti ketika melihat sosok Adinda berada di dekat meja security. Untuk beberapa saat bos Metro East itu terdiam untuk memastikan apakah sosok gadis yang dilihatnya adalah orang yang dicarinya semalam. Kemudian dengan langkah lebar dia mendekati Adinda.
“Hey.. kamu.”
Adinda menoleh, matanya membelalak melihat Abi berada di depannya dengan pakaian rapih. Sungguh dirinya tak menyangka bisa bertemu dengan pria yang senang menyentil keningnya tapi memberikan bayaran setelahnya.
“Eh.. aa yang suka nyentil ya?”
Sadar keceplosan, Adinda menutup mulut dengan sebelah tangan dan tangan yang satu lagi dipakai untuk menutupi keningnya. Abi mengernyitkan keningnya melihat tingkah gadis di depannya.
“Kamu ngapain di sini? jualan jus juga?”
“Ngga a. Aku jualan nasi uduk sekarang, tetanggaku yang kerja di sini tadi pesan.”
“Ck.. jangan panggil aa, berasa aa Gym.”
“Apa atuh? Kakak?”
Tadinya Abi hendak melarangnya juga memanggil kakak, tapi begitu mengingat kalau dirinya membutuhkan gadis itu, dia hanya menganggukkan kepala saja.
“Kamu masih jualan jus ngga? Istri saya pengen jus yang kamu jual kemarin.”
“Ngga kak. Mangga di kebon teman saya udah habis dipanen semua, aku ngga kebagian lagi deh. Kalau beli di tempat lain harganya lebih mahal, jadinya aku belum jualan jus lagi. Kalau istrinya kakak mau, aku bisa buatin kok. Tapi aku belanja bahannya dulu.”
“Hmm.. boleh. Siapa nama kamu?”
“Adinda Puspita Muharani, kak.”
“Ok Pus, saya minta nomer hp kamu.”
“Jangan panggil Pus, panggil Dinda aja kak. Berasa kucing dipanggil Pus.”
“Suka-suka sayalah. Berasa Brama Kumbara manggil Dinda. Berapa nomer wa kamu?”
Abi mengeluarkan ponselnya, hendak mencatat nomor Adinda. Gadis itu terdiam sejenak, setengah ragu dia mengeluarkan ponselnya. Sebuah ponsel jadul yang dulu pernah menjadi handphone sejuta umat.
“Aku ngga punya no wa kak. Aku cuma punya hp jadul hehe,” Adinda menggoyang-goyangkan ponselnya di depan Abi.
“Astaga masih ada ponsel jadul kaya gitu?”
“Masih kak hehehe..”
“Ya udah, berapa nomernya?”
Adinda dengan cepat menyebutkan nomor ponselnya. Abi segera memasukkannya ke dalam ponsel lalu menghubungi ponsel gadis itu. Ponsel Adinda seketika berdering, nada suaranya persis seperti dering ponsel kang Mus di serial Preman Pensiun.
__ADS_1
“Nanti kalau jusnya udah beres, kamu kasih tau.”
“Siap kak.”
“Eh iya, kamu tahu ngga nasi TO itu apa?”
“Oh itu nasi tutug oncom kak.”
“Kamu tahu belinya di mana? Istri saya lagi ngidam pengen makan nasi TO.”
“Ngga usah beli kak, aku juga bisa buatnya. Mau sekalian aku buatin? Dulu Enin jualan nasi TO, jadi aku tau cara bikinnya.”
“Hmm.. boleh. Atau gini aja, kamu buatnya di rumah saya aja.”
Abi melambaikan tangan ke salah satu security kemudian memintanya memanggilkan salah seorang supir kantor. Tak berapa lama seorang pria bertubuh gempal datang menghampiri Abi.
“Ada apa pak Abi?”
“Tolong antar anak ini ke rumah saya. Pus.. kamu nanti diantar bapak ini ke rumah saya.”
“Iya kak. Tapi aku harus jualan ini dulu kak, sayang masih ada 20 bungkus lagi. Terus aku juga harus belanja bahannya dulu.”
Abi mengikuti arah tangan Adinda yang menunjuk dua buah kantong plastik putih. Di dalamnya terlihat ada bungkusan dari kertas nasi.
“Itu kamu jualan apa?”
“Nasi uduk kak.”
“Berapa harganya?”
“Tujuh ribu kak.”
“Pak Abdi!”
Abi kembali memanggil security yang sedang stand by di mejanya. Dengan bergegas pria tersebut menghampiri atasannya.
“Itu ada nasi uduk, tolong bagikan pada pegawai yang belum sarapan.”
“Siap pak.”
Dengan cepat security yang bernama Abdi itu mengambil dua katong plastik putih yang tergeletak di lantai. Setelah meletakkan dua bungkus di atas mejanya. Pria itu masuk ke dalam gedung untuk membagikan nasi tersebut. Abi mengambil dompetnya lalu mengeluarkan lima lemar seratus ribuan dan memberikannya pada Adinda.
“Ini buat bayar nasi uduk sama buat beli bahan jus dan nasi TO, cukup kan?”
“Bukan cukup lagi kak, kelebihan ini mah.”
“Lebihnya buat kamu. Udah sana pergi, jangan sampai anak saya ileran nanti karena ngga kesampaian keinginan mamanya.”
Adinda menaruh tangannya di atas kening seperti sedang menghormat. Abi segera berlalu memasuki lobi kantor. Sang supir yang diminta mengantar Adinda langsung memandu gadis itu ke mobilnya. Dengan langkah penuh semangat, Adinda berjalan mengikuti pria gemuk itu. Hatinya bersyukur kembali dipertemukan dengan Abi. Setiap bertemu dengan pria itu, dia selalu kejatuhan rejeki nomplok.
☘️☘️☘️
Abi masuk ke ruangan kerjanya. Nampak Jojo tengah duduk santai di sofa. Pria itu meletakkan tas kerja di atas meja, disusul dengan membuka jasnya lalu menggantungnya di capstok. Setelah itu dia mendekati Jojo kemudian menjatuhkan bokongnya di sofa.
“Ada apa mau ketemu gue pagi-pagi? Penting banget kayanya.”
“Gue mau ngasih proposal penawaran. Kali aja lo minat jadi sponsor film gue.”
“Film kunti itu? Ogah.”
“Ck.. bukan. Coba baca aja dulu. Kalau menurut gue temanya sih menarik dan menjual banget. Pasti laku di pasaran.”
Abi mengambil proposal yang dibawa Jojo lalu mulai membacanya. Dia langsung membaca sinopsis film yang akan dibuat.
“Ck.. ngga ada ide lain yang anti mainstream gitu? Masalah pelakor mulu, ngga bosen apa? Seneng banget sih bikin film yang bikin cewek nangis bombay.”
“Ya kan emang lagi viral tema pelakor dan pebinor.”
“Ngga usah ikutan latah bikin film begituan lah. Mending lo bikin film action atau petualangan gitu. Lo eksplor keindahan negara kita lewat film elo. Misalnya film bertema survival, karena kecelakaan, beberapa orang terdampar di pulau asing. Mereka harus bertahan hidup di tengah pulau yang masih belum tersentuh peradaban. Berhadapan dengan hewan buas atau suku primitif penghuni pulau itu, kayanya lebih menarik. Di Indonesia masih banyak pulau yang belum tersentuh, sekalian buat promosi wisata kita.”
“Tapi lo tau sendiri, SDM kita masih belum mampu buat film seperti itu sekelas Hollywood.”
“Ya lo gaet sutradaranya dari luar lah. Tapi jangan lupa, minta dia juga merekrut crew dari sini. Biar SDM kita belajar dari dia, begitu juga dengan editornya. Buat film jangan nanggung, jangan asal jadi. Research dulu, matengin skenarionya. Pilih lokasi yang benar-benar cocok dan pake aktor yang berkualitas juga, jangan model si ulet bulu.”
Tawa Jojo bergema di sekeliling ruangan begitu Abi menyinggung si ulet bulu alias Syakira yang kalau berbicara selalu men**sah seperti orang yang kepedesan makan seblak level 10. Puas tertawa, dia kembali serius menanggapi ucapannya sahabatnya itu. Ide yang dilontarkan Abi cukup menarik untuknya.
“Ide lo menarik. Bakal gue pertimbangin. BTW lo beneran ngga mau sponsorin film ini?”
“Ngga! Cari sponsor lain aja.”
“Ah elah.. ada masukan ngga gue cari sponsor ke mana?”
“Coba ke Genta Group. Mereka lagi gencar promo produk yang baru diluncurkan, pasti mereka mau jadi sponsor. Tapi inget, kemas sebaik mungkin jangan sampe keliatan lo ngiklanin produknya di film itu.”
“Okelah bos.”
“Udah?”
__ADS_1
“Masih ada.”
“Apalagi?”
“Bisa tanyain ke bi Ita atau bi Sari, ada yang mau kerja ngga, teman, tetangga atau saudaranya? Gue butuh orang buat bersihin apartemen, nyuci, nyetrika baju sama masakin buat gue. Asisten yang dulu udah kerja di tempat lain.”
“Hmm.. tar gue tanyain.”
“Secepatnya ya bro.”
“Ok.”
“Thanks. Gue cabut dulu.”
Jojo berdiri kemudian keluar dari ruangan. Di luar dia berpapasan dengan Ruby. Wanita yang pernah menjadi sekutunya untuk menghancurkan Abi. Jojo tak menyangka Ruby masih bekerja menjadi sekretaris Abi. Jojo menghampiri Ruby, ada perasaan bersalah menyusupi hatinya.
“Bisa kita bicara?” tanya Jojo.
“Ke ruanganku aja.”
Ruby membuka pintu ruangan dan tetap membiarkannya terbuka. Dia lalu mempersilahkan Jojo duduk. Wanita itu menuju ke balik meja lalu duduk berhadapan dengan Jojo.
“Ada apa Mano? Atau aku harus panggil Jojo aja mulai sekarang?”
“Hmm.. panggil aja Jojo, aku benci nama Mano.”
“Ada apa?”
“Aku cuma mau minta maaf karena sudah melibatkanmu pada pembalasan dendamku. Dendam yang salah tepatnya.”
Jojo tersenyum miris mengingat kebodohannya dulu. Betapa dia menggebu-gebu ingin membalaskan dendam Anka pada sahabatnya. Sampai dirinya memperalat Ruby agar mau membantunya membalaskan dendam. Bahkan dia juga membuat Ruby menyerahkan kesuciannya.
Kebenciannya pada Fahira dilampiaskan pada wanita di depannya ini. Bukan hanya sekali mereka bercinta, tapi setiap kali pria itu menginginkannya, pasti Ruby yang akan diminta untuk menuntaskan hasratnya. Dia juga tak pernah bermain lembut saat menggauli Ruby.
“Kenapa kamu memperalatku?”
“Karena aku membutuhkanmu untuk membalaskan dendam Anka, adik kembarku.”
“Fahira... apa kamu membencinya?”
“Ya.. aku sangat membencinya. Wanita itu rela melakukan apapun demi uang dan ambisinya. Dia bahkan bersedia tidur dengan papa tiriku dan memerasnya untuk menutup mulut atas rahasia gelapnya.”
Ruby memejamkan matanya. Hatinya bertambah pedih mendengar kenyataan tentang sang kakak. Tak disangka kakak yang begitu disayangi dan dipujanya ternyata begitu licik dan haus akan harta.
“Aku juga minta maaf karena sudah... menidurimu.”
“Apa kamu meniduriku karena dendam yang kamu rasakan pada kakakku?”
“Ya,” jawab Jojo pelan seraya menundukkan kepalanya. Begitu banyak rasa malu yang menghantam dadanya hingga tak mampu bersitatap dengan Ruby.
“Ternyata selama ini aku hanya bonekamu saja,” Ruby tertawa sumbang.
“Aku juga minta maaf. Kecelakaan yang menimpa kakakmu adalah perbuatan papaku.”
Ruby kembali tertawa kali ini diiringi deraian airmata. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya mengusap buliran bening yang membasahi pipinya. Jojo mengangkat kepalanya, memberanikan menatap wajah Ruby.
“Maaf.. sekali lagi aku minta maaf. Aku tahu kalau aku ngga layak mendapatkan maaf darimu. Tapi aku tidak akan berhenti meminta maaf. Aku harap setelah ini kamu akan hidup bahagia. Suamimu orang baik, jadilah istri yang baik untuknya. Jangan ikuti jejak kakakmu. Kamu lebih baik darinya.”
Jojo berdiri dari duduknya. Dia tak ingin memaksakan Ruby memaafkannya saat ini juga. Cukup banyak kesalahan yang dilakukannya pada adik dari Fahira itu. Saat kakinya hampir mencapai pintu, terdengar suara Ruby.
“Saat kamu menolongku dulu, memberiku makan dan tempat tinggal, apa kamu sudah mengetahui siapa diriku?”
Jojo menghentikan langkahnya kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ruby. Sejenak dia terkenang pertemuannya dengan Ruby. Saat itu Ruby hampir menjadi gelandangan setelah kehilangan semua uang dan barang berharganya ketika baru tiba di Singapura untuk mengadu nasib. Dia juga yang menyelematkan wanita itu saat hampir dilecehkan oleh pria hidung belang.
“Aku benar-benar tulus menolongmu saat itu. Dirimu mengingatkanku pada Anka. Namun perasaan tulusku berubah saat aku tahu kalau kamu adalah adik dari Fahira.”
“Terima kasih atas kejujuranmu dan terima kasih sudah menyelamatkanku saat itu. Kamu juga harus hidup dengan baik. Maafkan kalau kakakku pernah menyakitimu. Aku memutuskan untuk berdamai dengan keadaan dan memaafkanmu. Tapi mungkin hubungan kita akan lebih baik jika tidak saling mengenal lagi.”
Jojo mengangguk pelan, kemudian membalikkan badannya lagi. Di dekat pintu dia berpapasan dengan Agung yang ternyata datang beberapa saat yang lalu dan mendengarkan percakapan mereka. Tak ada pembicaraan antara kedua lelaki itu, hanya sorot mata yang saling memandang. Jojo berlalu meninggalkan Agung yang masuk ke ruangan istrinya.
Melihat kedatangan Agung, Ruby berdiri kemudian berjalan menghampiri Agung. Dipeluknya erat pinggang sang suami, berusaha mendapatkan ketenangan darinya. Agung memeluk punggung Ruby seraya mengusapnya pelan.
“Aku udah benar kan mas melakukan itu?”
“Iya. Memaafkan adalah jalan terbaik dari pada memelihara benci dan dendam.”
“Tolong kuatkan aku mas.”
“Aku selalu di sampingmu.”
Ruby mengeratkan pelukannya. Dari semua hal buruk yang menimpanya dan kenyataan pahit yang diketahuinya, dia bersyukur Tuhan masih memberi kebaikan untuknya. Memiliki suami yang mencintainya dan membimbingnya menjadi lebih baik lagi.
☘️☘️☘️
**Tuntas juga ya masalah Jojo dengan Ruby.
Hmm.. kira² Jojo kenapa ya kok jadi ketus sama si Blewah?
__ADS_1
Ini dia visual Adinda alias Pus alias Blewah versi mamake**.