
Mobil yang dikendarai Kenzie berhenti di depan kediaman Jojo. Rumah berlantai dua itu nampak sepi. Jelas sekali kalau para penghuninya belum ada yang kembali. Jojo dan Adinda juga tengah berada di Singapura. Mereka diundang menghadiri pernikahan anak dari Charlie, cucu Richard.
Kenzie membantu Nara turun dari mobil kemudian membimbingnya memasuki halaman rumah. Dian, sang asisten rumah tangga mereka datang membukakan pintu. Dia cukup terkejut melihat kaki Nara yang pincang.
“Ya ampun non, kenapa kakinya?”
“Cuma keseleo bi.”
“Tolong bantu Nara ya, bi. Ra, aku pulang dulu.”
“Iya bang, makasih.”
Hanya anggukan yang diberikan Kenzie. Setelah berpamintan pria itu bergegas kembali ke mobilnya. Dian membantu memapah Nara naik ke lantai dua. Pelan-pelan gadis itu menapaki anak tangga satu per satu. Sesampainya Nara di kamar, Dian langsung kembali ke bawah.
Nara berjalan ke arah ranjang kemudian mendudukkan diri di lantai. Semenjak keluar dari gedung hotel, kepalanya tak pernah berhenti memikirkan kata-kata yang dilontarkan Cheryl tadi. Ucapan Cheryl yang menuduhnya bukan anak kandung Jojo begitu melukai perasaannya. Perlahan buliran bening yang sedari tadi ditahannya meluncur dengan deras dari kedua matanya.
Kendaraan Kenzie baru saja keluar dari kompleks perumahan ketika dia memutuskan untuk kembali ke kediaman Jojo. Ternyata saat turun tadi, Nara lupa membawa serta tasnya. Setelah memarkirkan kendaraannya, Kenzie bergegas memasuki kediaman Jojo. Dian terkejut melihat Kenzie yang kembali datang.
“Nara mana bi?”
“Di kamarnya.”
“Ini tasnya ketinggalan.”
“Oh, sini biar bibi kasihkan.”
“Biar sama saya aja, bolehkan saya ke kamar Nara?”
“Boleh den.”
Dian mempersilahkan Kenzie untuk masuk. Wanita paruh baya itu memang sudah lama mengenal sahabat anak majikannya. Kenzie terus berjalan menuju tangga kemudian menaikinya. Pria itu berhenti di depan kamar Nara. Namun Kenzie menahan ketukannya ketika mendengar suara isak dari dalam kamar.
Dengan gerakan pelan dia membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Kenzie tertegun melihat Nara yang tengah menangis sesenggukan di sisi bawah ranjangnya. Kepala gadis itu terbenam di atas kasur. Punggungnya bergetar seiring dengan isakannya yang terdengar begitu pilu.
Perlahan Kenzie berjalan mendekat lalu duduk di sisi Nara. Ditariknya bahu Nara lalu membawa ke dalam pelukannya. Tak ada penolakan dari gadis itu. Nara hanya ingin melepaskan seluruh rasa sesak yang sedari tadi menghimpit dadanya. Kenzie pun tak bertanya atau mengeluarkan sepatah kata pun. Dia membiarkan gadis itu menumpahkan semua kesedihannya.
Nara sadar kalau pria yang tengah bersamanya dan memeluknya adalah Kenzie. Sebulan bekerja bersama pria itu, membuatnya hafal dengan aroma parfum yang digunakan. Otaknya menyuruhnya berhenti menangis dan melepaskan diri dari pelukan Kenzie. Namun hatinya tak kuasa melakukannya. Berada dalam pelukan pria itu sedikit banyak dapat menenangkan perasaannya.
Setelah cukup lama menangis, akhirnya Nara melepaskan diri dari pelukan Kenzie. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya. Malu rasanya Kenzie melihatnya dalam keadaan terpuruk seperti ini. Kenzie menangkup wajah Nara lalu mendongakkan kepala gadis itu ke arahnya. Jarinya mengusap wajah Nara yang masih bersimbah airmata.
“Kamu kenapa? Apa kakimu masih sakit?”
Nara menggeleng pelan. Matanya menatap ke arah Kenzie yang masih melihat ke arahnya. Sejenak dia terpana melihat tatapan Kenzie yang begitu lembut dan hangat. Hal tersebut membuatnya bertambah nyaman bersama lelaki itu.
“A..ak..u boleh minta tolong bang?”
“Apa?”
“A..a.. aku mau te..s DNA.”
“Tes DNA?” Kenzie nampak bingung.
“A..aku ma..u tes DNA. A..pa aku benar anak papa.”
“Kamu ngomong apa Ra? Kamu itu anak om Jo dan tante Dinda.”
“Tapi ngga mungkin menutup kemungkinan kalau aku bukan anak mereka kan bang?”
“Astaghfirullahaladziim..”
Nara kembali menangis. Racun yang disebar Cheryl sukses menjalari otak gadis itu. Kenzie mendekap Nara. Otaknya mulai berpikir, menerka apa yang sudah menimpa gadis ini hingga membuatnya berpikir ngawur seperti ini.
“Kamu anak kandung papa dan mamamu. Adik dari Barra, saudara kembar Naya dan kakak dari Dila. Apa perlu aku panggil papa dan mamaku untuk membuktikan semua ucapanku?”
Tak ada jawaban dari Nara, gadis itu masih menangis dalam pelukan Kenzie. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Ada rasa sakit di sudut hatinya melihat Nara yang seperti ini. Biasanya gadis itu selalu terlihat ceria. Tangan Nara bergerak memeluk pinggang Kenzie. Airmata masih deras bercucuran dari kedua matanya, membasahi kemeja yang dikenakan Kenzie.
Pelukan di pinggang Kenzie mengendur. Setelah lelah menangis, Nara tertidur dalam pelukan pria itu. Pelan-pelan Kenzie mengurai pelukannya lalu memindahkan gadis itu ke atas kasur. Ditariknya selimut lalu menutupi tubuh Nara sampai sebatas dada. Dipandanginya sejenak wajah Nara sebelum akhirnya pria itu keluar dari kamar.
Kenzie terkejut begitu melihat Barra sudah berada di depan kamar Nara. Dengan gerakan kepala, sang sahabat itu mengajaknya ke balkon. Barra menumpukan kedua tangannya di pagar balkon sedang matanya menatap lurus ke arah depan. Kenzie berdiri di sampingnya seraya memasukkan kedua tangan ke saku celananya.
“Apa Nara selalu seperti ini?” Kenzie membuka pembicaraan.
“Seperti apa? Menangis diam-diam maksud lo?”
“Hmm..”
Barra menghela nafas panjang. Dia membalikkan tubuhnya kemudian menyandarkan pinggangnya ke pagar balkon. Kini pria itu bertatap wajah dengan sahabatnya. Terlihat ada banyak pertanyaan di wajah Kenzie.
“Nara... dia pasti mendengar hal yang membuat hatinya sakit. Dia selalu seperti itu. Ketika ada hal yang membebani pikirannya atau menyakiti hatinya dia selalu berusaha terlihat tegar, menghadapi semua dengan senyuman tapi menangis diam-diam di kamar. Berapa kali gue coba datang dan bertanya, tapi dia selalu bungkam dan bilang kalau semua baik-baik aja. Kadang sebagai kakak, gue ngerasa ngga berguna sama sekali.”
Barra menundukkan wajahnya, bukan hanya kedua orang tuanya yang menyadari perilaku Nara, tapi dirinya juga. Namun adiknya itu selalu bisa menyembunyikan semua luka hatinya dengan rapat. Sekuat apapun Barra berusaha untuk masuk, Nara tak pernah membiarkannya.
“Jujur gue kaget Nara bisa lepas ngeluarin perasaannya sama elo. Biasanya dia ngga begitu. Kadang gue pura-pura ngga tahu kalau dia lagi nangis karena gue ngga mau ganggu dia ngelepas semua beban di hatinya. Kalau dia ngga bisa cerita, setidaknya dengan menangis bisa bikin perasaannya sedikit plong. Thanks Ken, lo udah ada di sampingnya, hal yang ngga bisa gue lakuin.”
Kenzie menganggukkan kepalanya pelan. Pria itu terdiam sejenak, nampak ada yang dipikirkannya. Walau sudah kenal lama dengan Nara, namun sebelumnya pria ini tak terlalu akrab dengannya. Hanya Barra saja yang dikenalnya dengan baik. Sedang Nara maupun Naya berteman baik dengan adiknya, Freya. Kenzie cukup terkejut mendengar cerita Barra, ternyata di balik keceriaan gadis itu ada luka yang tak terlihat.
“Gue pulang dulu. Bilang sama Nara, besok dia ngga usah masuk kantor.”
“Ok. Sekali lagi, makasih Ken.”
“No problem.”
Barra mengantar Kenzie sampai ke bawah. Mata Barra terus memperhatikan Kenzie yang tengah memasuki mobil. Tak lama mobil sport yang dikendarai sahabatnya itu mulai bergerak menjauhi kediamannya.
Penasaran dengan apa yang menimpa Nara, Kenzie menepikan kendaraannya. Dia mengambil ponselnya lalu mulai menghubungi sahabatnya. Tak butuh waktu lama untuk Ravin menjawab panggilannya.
“Halo.”
“Vin.. gue minta rekaman CCTV di ballroom pas acara tadi. CCTV yang mengarah ke meja yang gue tempatin aja.”
“Ok, besok pagi gue kirim.”
“Ok, thanks.”
Kenzie mengakhiri panggilannya. Kemudian jarinya mencari nomor Fathan. Kembali pria itu" melakukan panggilan. Dia harus menunggu beberapa saat sampai sahabat sekaligus asistennya menjawab panggilan.
“Halo.”
“Besok informasi soal Lucky udah gue terima.”
“Iya.”
“Besok lo yang handle urusan kantor.”
“Lo mau kemana?"
“Ngga usah kepo.”
__ADS_1
Kenzie langsung memutuskan panggilannya. Bisa dipastikan di seberang sana Fathan tengah menggerutu kesal. Pria itu lalu melajukan kendaraannya lagi.
Dua puluh menit berselang, Kenzie sampai di kediamannya. Pria itu berjalan memasuki rumah orang tuanya. Langkahnya terhenti ketika Abi memanggilnya. Kedua orang tuanya masih terjaga. Atau sepertinya mereka sengaja menunggu kepulangannya. Kenzie mendekat lalu mendudukkan diri di depan Abi dan Nina.
“Gimana acaranya?” tanya Abi.
“Lancar.”
“Kamu ke sana sama siapa?”
“Nara.”
Abi hanya manggut-manggut saja, padahal dalam hatinya senang melihat kedekatan sang anak dengan Nara. Tadi Azra memberinya laporan kalau Kenzie membawa Nara ke butik dan memintanya mendandani gadis itu.
“Gimana pekerjaan Nara?”
“So far so good (sejauh ini baik).”
“Nara memang pintar. Om Jo cerita kalau anak itu sering membantu pekerjaannya. Ngga tahu kenapa dia ngga mau kerja di kantor papanya.”
“Mungkin dia ngga mau dibandingin sama Naya.”
Nina melirik sekilas ke arah suaminya. Diam-diam wanita itu tersenyum mendengar jawaban sang anak. Kenzie bukan tipe orang yang peduli atau mau ikut campur dengan urusan orang lain. Tapi jika dia melakukannya, maka ada hal yang menarik perhatiannya.
“Sebenarnya ada yang mau papa dan mama bicarakan. Ngga ada maksud apa-apa, kami hanya ingin tahu pendapatmu saja.”
“Soal apa pa?”
“Om Jo sempat bilang sama papa mau menjodohkanmu dengan Nara. Bagaimana menurutmu?”
Abi dapat menangkap ekspresi terkejut dari sang anak. Tapi hanya sesaat, selanjutnya seperti biasa, anaknya ini akan kembali menunjukkan wajah tanpa ekspresinya.
“Kalau menurut papa dan mama bagaimana?”
“Kalau tanya papa dan mama, ya kami senang dengan usulan om Jo. Nara itu anak yang baik, pintar, ceria dan sepertinya cocok denganmu. Tapi kami ngga mau memaksa. Ini hanya usulan aja, kamu boleh menolaknya kalau ngga setuju. Karena nantinya yang akan menjani pernikahan itu kalian berdua. Jadi keputusan juga ada di tanganmu.”
“Apa Nara setuju?”
“Papa belum tahu.”
“Kalau Nara setuju, aku juga setuju.”
“Serius?” tanya Nina.
“Iya ma.”
“Kenapa? Karena kamu suka Nara juga ya?” selidik Nina.
Nina terus memperhatikan wajah anaknya. Sebisa mungkin Kenzie mempertahankan wajah dingin dan tanpa ekspresinya. Abi juga diam-diam memperhatikan bahasa tubuh sang anak.
“Seperti yang papa bilang, Nara itu anak yang baik, pintar dan ceria walau kadang nyebelin, bawel dan bikin naik darah. Tapi kalau menurut papa dan mama dia perempuan yang cocok buatku, ya aku ikut aja. Aku percaya pilihan mama dan papa ngga pernah salah.”
“Yakin sama jawaban kamu? Papa simpan dan kunci jawaban kamu, jangan menyesal nantinya.”
“Ck.. emangnya jawaban kuis apa pake dikunci segala.”
“Ok fix kalau gitu. Begitu om Jo pulang dari Singapura, kami akan melamar Nara untukmu.”
“Secepat itu?”
“Kenapa? Hal baik itu harus disegerakan.”
“Ngga usah ma, silahkan aja teruskan sesuai rencana papa.”
“Bener?”
“Iya, seperti kata papa, hal baik harus disegerakan. Aku ke kamar dulu, cape.”
Kenzie mengangkat tubuhnya dari sofa lalu berjalan menuju lantai dua. Segurat senyum tipis mengembang di wajahnya. Nina terus memperhatikan punggung sang anak yang bergerak menjauh.
“Ken.. bener-bener mirip kamu mas.”
“Apanya?”
“Semuanya. Dinginnya, juteknya, kejamnya sampai gengsinya juga nurunin kamu. Apa susahnya bilang kalau dia juga suka sama Nara makanya setuju dengan perjodohan ini, pake ngumpet di belakang kita.”
“Namanya juga Ken.”
“Iya keturunan asli dari Satria Abimanyu Hikmat, no kaleng-kaleng,” sindir Nina.
“Hahaha.. tapi kamu suka kan, hmm..”
Abi menangkup wajah Nina lalu mendaratkan ciuman di bibir istrinya itu. Nina membalas ciuman suaminya. Untuk sesaat pasangan itu asik beradu bibir di tengah ruangan yang sepi itu. Walau sudah berumur namun kemesraan keduanya tak pernah luntur termakan usia.
☘️☘️☘️
Kenzie baru saja akan menjalankan kendaraannya ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Melihat sang pengirim pesan adalah Ravin, bisa dipastikan kalau sahabatnya itu mengirimkan rekaman cctv yang dimintanya semalam.
Jari Kenzie mengusap layar ponsel kemudian memainkan video yang terkirim. Ada lima video yang dikirim Ravin. Pria itu memeriksanya satu per satu. Di video kelima akhirnya Kenzie menemukan apa yang dicarinya. Tangannya lalu bergerak melakukan panggilan pada Fathan.
“Halo."
“Untuk peluncuran produk terbaru kita, siapa brand ambassador yang dipilih?”
“Lo lupa? Si Cheryl, anaknya bu Sinta, owner Inner Beauty”
“Dia udah tanda tangan kontrak?”
“Belum sih, rencananya siang ini. Kenapa?”
“Batalin, cari model lain aja.”
“Gila lo. Apa alasannya? Bisa disemprot gue sama pak Abi, dia kan udah tahu dan setuju soal Cheryl.”
“Cari model lain! Metro East ngga butuh model yang low attitude kaya dia. Soal bokap, biar gue yang urus. Pokoknya batalin kontraknya!”
Terdengar helaan nafas Fathan dari seberang. Keputusan mendadak Kenzie, tentu saja menambah pekerjaannya. Dia harus kembali mencari brand ambassador untuk produk terbaru yang akan dikeluarkan Metro East dalam waktu cepat karena waktu peluncuran hanya tinggal dua minggu lagi.
“Soal Lucky udah dapet?”
“Sekarang gue kirim via e-mail, dan sebelum lo minta, gue juga udah kirim soal Veruca.”
“Satu lagi, cari informasi sedetilnya tentang Chika. Apa dia pernah melakukan kesalahan fatal atau apapun itu.”
“Ngapain lo mau tau soal Chika? Biasanya ngga peduli. Atau udah ada benih-benih cinta nih,” goda Fathan.
“Sejak kapan lo jadi bawel? Gue minta informasi soal Chika hari ini juga.”
__ADS_1
“Iya.. iya.. dasar naga kutub.”
Kenzie langsung memutuskan panggilan. Tak berapa lama sebuah e-mail masuk ke ponselnya. Dengan cepat dia membuka surat elektronik kiriman sahabatnya. Dibacanya dengan teliti semua informasi yang berkaitan dengan Lucky juga Veruca. Segurat senyum tipis tercetak di wajahnya, dua tikus got sudah ada dalam genggamannya. Hanya tinggal menunggu informasi tambahan dari Aric. Pria itu kemudian melajukan kendaraannya.
Barra kembali keluar dari dalam mobil ketika melihat mobil Kenzie berhenti di depan rumahnya. Kenzie turun lalu mendekat ke arah Barra. Dari dalam rumah, Nara keluar dengan mengenakan pakaian kerjanya. Gadis itu terkejut melihat sang atasan datang ke rumahnya sepagi ini.
“Lo ngga bilang sama Nara kalau gue suruh libur dulu?”
“Udah.. tapi si Nara aja yang ngeyel. Katanya ada proposal penting yang harus dia buat. Makanya tetep pengen masuk kerja.”
Kenzie berdecak kesal mendengar jawaban Barra. Dia melihat ke arah Nara yang tengah berjalan ke arahnya. Cara berjalan gadis itu pun masih terlihat sedikit pincang. Nara mempercepat langkahnya agar cepat sampai di depan Kenzie.
“Abang ngapain ke sini?”
“Kamu mau kemana udah rapih?” Kenzie malah balas bertanya.
“Kerjalah.”
“Aku kan udah titip pesen sama Barra kalau kamu libur hari ini.”
“Disangkanya informasi hoax tuh. Udah marahin aja bos, anak buah ngeyel kaya gitu. Bawa masuk lagi ke dalam sambil dijewer kupingnya kalau perlu,” Barra malah memanasi.
Nara melotot ke arah sang kakak. Namun Barra hanya mengendikkan bahunya lalu masuk ke dalam mobil. Tak lama kendaraan roda empat itu melaju pergi. Terdengar teriakan Nara ketika Kenzie menarik telinganya kemudian membawanya masuk ke dalam rumah. Di dekat pintu mereka berpapasan dengan Naya. Kenzie melepaskan jeweran di telinga Nara.
“Bang Ken ngapain ke sini?”
“Yang pasti bukan ketemu kamu.”
Tanpa mempedulikan Naya, Kenzie masuk ke dalam seraya menarik tangan Nara. Sambil menghentakkan kaki, Naya melangkah keluar. Akhir-akhir ini Kenzie selalu memperlihatkan sikap ketus dan dingin padanya. Di dalam mereka berpapasan dengan Dilara. Seperti halnya Naya, gadis itu juga terkejut melihat kehadiran Kenzie di rumahnya sepagi ini.
“Bang Ken ngap...”
“Ngga usah kepo!”
Belum sempat Dilara menyelesaikan kalimatnya, Kenzie langsung menyambar dan membuat gadis itu mengatupkan mulutnya. Dengan cepat Dilara keluar dari rumah. Di antara generasi penerus Hikmat, dia memang paling segan dan takut pada Kenzie. Sikap pria itu berbanding terbalik dengan Ezra yang ramah dan lebih banyak tersenyum.
“Ambil laptop kamu, kita kerjain proposal yang kubilang kemarin.”
“Siap bos.”
Nara bergegas naik ke lantai dua untuk mengambil ponselnya. Terdengar teriakan Kenzie memintanya berhati-hati. Gadis itu melambatkan jalannya karena tak mau kembali terkena semprotan sang atasan. Tak berapa lama Nara kembali dengan laptop di tangannya. Baik Kenzie maupun Nara memutuskan duduk di lantai di ruang tengah.
Mereka langsung tenggelam dalam pekerjaan. Nara bertugas mengetik apa yang Kenzie katakan. Terkadang mereka berdiskusi sebentar sebelum memutuskan hal apa yang akan dimasukkan ke dalam proposal. Keduanya nampak kompak dan dapat bekerja sama dengan baik.
Pukul sebelas kurang lima menit, mereka telah merampungkan pekerjaan. Kenzie merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan otot-otot punggungnya. Nara pun nampak menepuk-nepuk bahunya yang terasa pegal.
“Bang.. bentar lagi jam makan siang. Abang makan di sini aja ya. Aku masakin.”
“Ngga usah, kamu kan lagi sakit.”
“Yang sakit kakiku. Aku kan masak pake tangan bukan kaki.”
Tak mempedulikan larangan Kenzie, Nara bangun dari duduknya lalu melangkah menuju dapur. Asisten rumah tangga yang menangani urusan dapur sedang pulang kampung, ditambah tak ada yang makan di rumah, maka tak ada hidangan apapun di rumah.
Nara membuka kulkas lalu mengeluarkan fillet ayam, brokoli, bawang bombay, tempe dan daun bawang. Gadis itu mulai meracik bahan-bahan tersebut.
Bosan menunggu, Kenzie memutuskan melihat Nara ke dapur. Dia berdiri dengan penyandarkan pinggangnya ke kitchen set sambil bersedekap. Matanya terus memperhatikan Nara yang tengah mengiris fillet ayam juga tempe.
“Perlu aku bantu ngga?"
“Ngga usah. Kata Nan, masakan abang tuh horor rasanya. Aku takut makananku nanti terkontaminasi rasanya kalau abang ikutan masak.”
PLETAK
Sebuah sentilan mendarat di kening Nara, sontak gadis itu mengusap keningnya yang terasa panas. Gadis itu memajukan bibirnya beberapa senti, dengan gemas Kenzie menarik bibirnya. Nara memukul lengan Kenzie. Dia lalu sedikit menjauh dari Kenzie, pria itu hanya mengganggu pekerjaannya saja.
Empat puluh lima menit kemudian, masakan Nara sudah siap di meja makan. Chicken teriyaki, cah brokoli dan tempe mendoan tersedia di sana. Nara mengambilkan nasi untuk Kenzie kemudian menambahkan ketiga lauk tersebut ke piring.
“Gimana? Enak ngga bang?”
Kenzie mengagguk-anggukkan kepalanya. Harus diakui kalau masakan Nara memang lezat. Rasa masakannya hampir sebanding dengan masakan sang mama. Nara tersenyum senang melihat Kenzie memakan makanannya dengan lahap.
“Bang.. makasih ya buat yang semalem. Maaf kalau aku udah bikin kemeja abang basah,” ucap Nara usai makan siang mereka.
“Hmm.. kemeja aku basah bukan karena airmata kamu aja, tapi sama ingus kamu juga.”
“Abang iihh.. nyebelin banget.”
“Emang bener. Tuh kemeja sampe harus direndem pake air dari tujuh sumur buat hilangin bakteri sama virusnya. Aaawww..”
Kenzie menjerit saat Nara mencubit lengannya. Pria itu mengusap lengannya yang nampak memerah. Wajah sang pelaku tak menunjukkan penyesalan, bahkan terlihat kesal. Kenzie malah terkekeh melihat kekesalan Nara. Menurutnya itu lebih baik dari pada melihat gadis itu menangis.
Keduanya tak membahas lagi tentang kejadian semalam. Kenzie sengaja diam karena tak ingin membuat Nara kembali sedih. Sedang Nara tak ada keberanian membahasnya. Dia sudab cukup malu Kenzie melihatnya begitu terpuruk semalam.
Dering ponsel Kenzie membuyarkan lamunan keduanya. Melihat nama Fathan yang memanggil, pria itu segera menjawab panggilannya.
“Halo.”
“Ken.. lo disuruh bokap ke kantor sekarang. Soal pembatalan kontrak Cheryl, tuh cewek ngadu sama bokap lo.”
“Gue ke kantor sekarang.”
Kenzie berdiri dari duduknya lalu bersiap untuk pergi. Nara ikutan berdiri kemudian mengantar Kenzie sampai ke teras rumah. Kenzie membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Nara.
“Besok kamu bisa ke kantor?”
“Bisa bang.”
“Jangan lupa dibawa file yang tadi kita buat. Sama bawain makan siang buat aku.”
“Dingin dong bang makanannya kalau aku bawa dari pagi.”
“Kamu ke kantornya abis jam makan siang. Pagi sampai siang aku ada urusan di luar.”
“Oh.. ok. Abang mau dimasakin apa?”
“Apa aja, asal enak kaya tadi.”
“Siap bang.”
“Aku pergi dulu.”
Kenzie mengusak puncak kepala Nara lalu masuk ke dalam mobil. Nara memandangi mobil Kenzie sampai hilang dari pandangannya. Gadis itu lalu masuk ke dalam rumah dengan senyum tak hilang dari wajahnya. Kejadian semalam hingga siang ini sukses membuat hatinya berbunga-bunga.
☘️☘️☘️
**Cieee ada yang mau lamaran nih😁
__ADS_1
Setelah beristirahat sehari penuh, mamake kembali nih. Moga kalian terhibur ya🤗**