
“Saya terima nikah dan kawinnya Zahra Aulia binti Sandi Putra dengan mas kawin tersebut tunai!”
Ucapan lantang Kenan menjawab ijab yang yang dilontarkan Sandi Putra langsung disambut dengan kata Sah dari Jojo dan Kevin disertai semua yang menyaksikan ikrar janji suci tersebut. Dia nampak lega, hubungannya dengan Zahra kini telah resmi sebagai suami istri.
Pria itu langsung menolehkan kepalanya ke samping saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Dengan kepala tertunduk, Zahra berjalan menuju meja akad didampingi oleh Nita dan Mentari. Wanita baru berani mengangkat kepalanya saat telah duduk bersandingan dengan Kenan.
Dengan gerakan lembut, Kenan meraih tangan Zahra kemudian menyematkan cincin pernikahan yang terbuat dari emas putih ke jari manisnya. Senyum Zahra mengembang melihat benda bulat itu melingkari jarinya. Kemudian dia juga menyematkan cincin dengan model yang sama ke jari manis Kenan.
Kenan merengkuh bahu Zahra lalu mendaratkan ciuman di kening sesaat setelah Zahra mencium punggung tangannya. Dada Zahra berdesir saat bibir Kenan menyentuh keningnya. Selama masih menyandang status tunangan, Kenan memang belum pernah menciumnya. Ini adalah yang pertama untuknya.
Kedua pengantin kemudian berpose seraya memamerkan cincin pernikahan yang baru saja dikenakan, dilanjut dengan memperlihatkan dokumen pernikahan yang baru saja ditanda tangani. Senyum kebahagiaan mengembang di wajah keduanya. Sambil menggenggam tangan sang istri, Kenan mendengarkan tausyiah yang diberikan penghulu tentang hukum pernikahan.
Selesai itu, kini pasangan pengantin bersiap untuk menerima nasehat dari para orang tua. Abi, Nina, Nita, Darmawan dan Sandi duduk di kursi yang telah disediakan. Satu per satu pasangan pengantin mendatangi para tetua. Pertama mereka mendekati Nita, lalu duduk bersimpuh di hadapannya.
“Zahra, Kenan, mama doakan yang terbaik untuk kalian. Semoga rumah tangga kalian sakinah, mawaddah, warohmah. Dikaruniai anak-anak yang soleh dan solehah.”
“Aamiin..” jawab Kenan dan Zahra bersamaan.
Zahra menegakkan tubuhnya kemudian memeluk Nita dengan erat. Tangisnya seketika pecah dalam dekapan sang bunda. Pun dengan Nita yang tak dapat menahan airmatanya. Untuk beberapa saat kedua wanita itu berpelukan, sampai akhirnya Nita mengurai pelukannya. Kenan meminta tisu kemudian menghapus airmata di wajah sang istri.
“Kenan.. mama titip Zahra padamu. Dia sudah terlalu banyak menderita, mama percaya kamu akan bisa membahagiakannya. Zahra, sekarang Kenan adalah imammu. Kewajibanmu sekarang adalah berbakti pada suamimu. Jadilah istri yang baik dan ibu yang baik bagi anak-anak kalian kelak.”
“Iya, ma,” jawab Zahra di sela-sela isaknya. Selesai mendengarkan nasehat Nita, pasangan itu beralih pada Darmawan. Pria bersahaja itu hanya memberikan nasehat singkatnya.
“Papa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Jika kalian memiliki masalah dan butuh pendapat atau nasehat, jangan sungkan-sungkan datang pada papa.”
“Iya, pa,” jawab Zahra dan Kenan bersamaan.
Kini keduanya menghadap pada Sandi. Beberapa kali pria itu menghapus airmata yang membasahi pipinya. Anak yang selama ini disia-siakannya masih mau menemuinya untuk mendapatkan wejangan darinya. Direngkuhnya tubuh Zahra kemudian dipeluknya beberapa saat.
“Maafkan papa, nak. Selama ini papa belum bisa menjadi ayah yang baik dan bisa kamu banggakan. Papa harap penderitaan yang papa berikan padamu bisa tergantikan dengan kebahagiaan yang berkali lipat dari suamimu.”
“Aamiin,” lirih Zahra.
“Kenan.. papa titip Zahra. Tolong bahagiakan dia, berikan apa yang tak pernah papa berikan padanya. Tolong bahagiakan dia,” suara Sandi terdengar tercekat, rasa haru kembali menghantamnya.
“In Syaa Allah, pa.”
Selajutnya pasangan pengantin menuju pada Nina. Kenan langsung menghambur dalam pelukan sang mama. Pria itu tak bisa menahan tangisnya saat berada dalam dekapan Nina.
“Mama.. maaf kalau Nan belum bisa menjadi anak yang berbakti untuk mama. Tolong doakan Nan, ma.”
“Mama akan selalu mendoakanmu. Mama percaya kamu bisa menjadi imam yang baik untuk istri dan anak-anakmu kelak. Jangan lupakan shalat, jangan turuti emosi jika sedang bermasalah, perlakukan istrimu dengan baik dan lemah lembut. Posisinya di sampingmu, bukan di atas apalagi di bawah.”
“Iya, ma,” Kenan mengurai pelukannya, memberikan kesempatan pada sang istri menerima wejangan.
“Zahra.. terma kasih sudah datang melengkapi kehidupan anak mama. Rukun-rukunlah kalian dalam membina biduk rumah tangga. Saling percaya, saling menyayangi, saling menghargai, itu yang harus selalu kalian ingat.”
“Iya, ma.”
Nina mencium kening Zahra kemudian melepaskan menantunya itu untuk menemui sang suami. Abi segera menyambut anak dan menantunya. Kenan memeluk erat sang ayah. Pria yang selalu mengajarkan bagaimana menjadi lelaki sejati baik melalui kata-kata maupun sikap.
“Nan.. papa tidak akan banyak berbicara. Selama ini kamu sudah melihat langsung apa yang harus kamu lakukan sebagai suami. Apa yang papa dan kakakmu tunjukkan adalah pelajaran untukmu. Begitu pula dengan para pamanmu. Ambilah hal baik dari mereka sebagai pelajaran.”
“Iya, pa.”
“Zahra, selamat datang di keluarga kami. Mulai sekarang kamu sudah resmi menjadi bagian keluarga Hikmat. Bukan hanya Nan, tapi kami semua siap menjadi pelindungmu. Semoga kehidupan kalian senantiasa dilimpahi kebahagiaan dan keberkahan.”
“Aamiin.. terima kasih, pa.”
Selesai mendapatkan wejangan dari orang tua kedua belah pihak, pasangan pengantin kembali mendapatkan wejangan berturut-turut dari para tetua lain yang turut hadir menyaksikan janji suci mereka. Terakhir, mereka menemui Syakira. Wanita itu memeluk Kenan dan Zahra bergantian.
“Syelaamaatthh yaahhh unthuukkh khaliaannhh berduaaahh. Bahagiaahh syelaaluuhh, syemogaahh saamaawaahh."
“Iya tante, makasih,” jawab keduanya bersamaan. Kenan sebisa mungkin menahan tawanya. Pria itu memang selalu tertawa jika mendengar ibu dari Jihan itu berbicara. Dia buru-buru mengajak Zahra menemui Kenzie.
“Nan.. mulai sekarang satu tanggung jawab besar sudah ada di pundakmu. Bersikaplah lebih dewasa lagi. Berhenti bermain-main dan harus tahu mana yang menjadi prioritasmu sekarang.”
“Iya, bang. Makasih.”
“Zahra, sekarang aku juga kakakmu. Jangan sungkan-sungkan kalau butuh sesuatu. Aku dan Nara pasti akan membantu.”
“Iya, bang. Makasih.”
Kenan memeluk sang kakak dengan erat. Kakak yang juga terasa seperti sahabat baginya. Nara yang berdiri di samping Kenzie, mengusak puncak kepala adik iparnya ini. Dia juga memeluk Zahra yang kini sudah resmi menjadi saudara iparnya. Lepas dari Kenzie, Kenan menghampiri Freya yang berdiri tak jauh dari sana.
__ADS_1
Kenan berdiri dengan lututnya kemudian memeluk pinggang Freya. Kepalanya terbenam di perut Freya yang sudah membuncit. Diciumnya beberapa kali perut sang kakak, dan baru menghentikan aksinya ketika mendengar deheman Ravin. Pria itu berdiri lalu memeluk Freya.
“Doain aku ya, kak.”
“Pasti, Nan. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”
“Kalau bang Ravin macem-macem bilang aja, kak. Tar biar gue hajar. Aaaaa…”
Terdengar teriakan Kenan ketika Ravin menjewer telinganya. Freya mengurai pelukannya. Tangannya mengusap airmata yang mengalir seraya tersenyum. Kenan melihat keki pada kakak iparnya sambil mengusap telinganya yang terkena jeweran.
“Kaga usah ngurusin gue. Urusin aja bini lo,” Ravin menjeda sejenak ucapannya. Dia mendekati Kenan lalu berbisik di telinganya.
“Kira-kira lo udah siap belum jebol gawang Zahra? Awas jangan salah masuk.”
“Buset, bang!”
“Yakin nih, kalau reaksinya model gini pembicaraan ngga jauh dari seputar kasur,” celetuk Barra.
“Kasih jurusnya nanti aja, Vin. Kasihan tar dia udah travelotak duluan,” Aric.
“Tul.. jangan sampe dia sang* duluan,” Ezra.
“Berabe tar main ama tante Giv,” Fathan.
“Emang beneran udah tau jurusnya?” Irvin.
“Yakin ngga yakin sih gue ama tuh anak,” Viren.
“Inget Nan, banyak kerja bukan banyak bicara,” celetukan Kenzie langsung mendapat sambutan gelak tawa dari yang lain.
Wajah Zahra memerah mendengar pembicaraan yang menjurus kemesuman. Wanita itu hanya mampu menundukkan kepala, menyembunyikan rona merah di wajahnya. Kenan mendelik sebal pada kakak, sepupu dan sahabatnya. Revan dan Haikal yang belum berpengalaman hanya mampu menertawakannya saja.
Usai acara yang mengharu biru, Nina mempersilahkan semua yang hadir untuk mencicipi hidangan yang sudah tersedia. Masing-masing segera mengambil tempat yang nyaman untuk mencicipi hidangan. Halaman resort terbaru yang dibangun oleh The Ocean dipilih Kenan untuk menggelar acara akad sekaligus resepsi pernikahannya.
☘️☘️☘️
Zahra telah selesai berganti pakaian dan menunaikan ibadah shalat dzuhur. Wedding organization yang mengurus pernikahannya, mempersilahkan wanita itu untuk beristirahat lebih dulu. Selepas ashar, dia baru akan dirias untuk perhelatan resepsi malam nanti. Zahra bangun dari duduknya ketika mendengar suara bel.
Wajah Kenan muncul dari balik pintu, sesaat setelah Zahra membukanya. Suaminya itu juga telah selesai berganti pakaian santai. Kenan melangkahkan kaki memasuki kamar yang digunakan untuk merias pengantin seraya merangkul istrinya.
“Yang.. haus nih. Ada minum ngga?” tanya Kenan.
Zahra berjalan menuju mini bar kemudian membukanya. Tangannya kemudian meraih minuman kaleng dingin yang tersedia di sana lalu memberikannya pada Kenan. Saat akan beranjak, tiba-tiba Kenan memeluk bahunya dari belakang.
“I love you,” bisik Kenan di telinga Zahra.
“Love you too.”
“Akhirnya kita bisa sampai ke titik ini.”
“Iya.”
Kenan melepaskan pelukannya kemudian membalikkan tubuh Zahra menghadapnya. Dibukanya minuman kaleng bersoda itu lalu meneguknya sampai habis setengah. Dia memberikan minuman itu pada Zahra dan hanya diminum sedikit olehnya. Minuman kaleng yang hanya tersisa sedikit itu diletakkan Kenan di atas nakas.
“Kamu ngantuk ngga?” tanya Kenan seraya membelai rambut Zahra.
“Ngga sih. Cuma pengen istirahat aja.”
Sejenak Kenan menatap netra sang istri lekat-lekat. Perlahan wajahnya mendekat dan dalam hitungan detik bibir keduanya menyatu. Untuk sesaat mereka hanya saling menempelkan bibir saja. Tak berapa lama kemudian Kenan mulai memberanikan diri mel*mat lembut bibir ranum istrinya.
Mata Zahra terpejam menikmati pertautan bibir yang baru saja dirasakannya. Tangannya mencengkeram erat kaos yang dikenakan Kenan. Sedikit demi sedikit wanita itu mulai membalas ciuman Kenan. Pertautan bibir mereka terus berlangsung, Kenan mengikuti instingnya dengan terus memperdalam lum*tannya. Tangannya pun mulai bergerak meraba bagian tubuh sang istri.
Sebuah des*han lolos dari bibir Zahra, ketika bibir Kenan sudah berpindah ke leher jenjangnya. Melihat tak ada penolakan dari sang istri, Kenan semakin liar memainkan bibir dan lidahnya, menelusuri kulit mulus itu. Dan tangannya mulai berani meremat bongkahan kenyal di bagian depan Zahra.
Suasana panas semakin tercipta di antara mereka. Sambil tak berhenti melakukan aksinya, Kenan menggiring Zahra menuju ranjang dan perlahan merebahkan tubuh istrinya itu di kasur berukuran king size tersebut. Pria itu menegakkan tubuhnya sejenak untuk melepaskan kaos yang melekat di tubuhnya. Zahra menggigit bibir bawahnya melihat tubuh tegap suaminya.
Zahra mulai tak enak diam ketika Kenan sudah memperluas area sentuhannya. Bahkan dress yang membalut tubuhnya sudah terlepas dan hanya menyisakan kain berenda yang membalut bagian atas dan bawahnya. Dada Kenan berdebar kencang melihat pemandangan indah di bawahnya. Niatnya yang hanya ingin mencium, kini sudah berganti dengan hasrat untuk segera bisa mencicipi tubuh istri sahnya itu.
Dalam hitungan menit, mereka telah dalam keadaan polos. Kesadaran keduanya berhamburan entah kemana, dan hanya ada sorot mata penuh gairah yang terpancar. Kenan bersiap untuk memasuki sang istri untuk pertama kalinya. Perlahan namun pasti benda tumpul miliknya mulai masuk menerobos pertahanan Zahra. Milik wanita itu yang berharga telah sepenuhnya menjadi milik sang suami diiringi dengan lelehan airmata dan rembesan cairan hangat di sela-sela kakinya.
Kenan berhenti sejenak untuk memberikan waktu pada sang istri mengambil nafas dan terbiasa akan miliknya. Setelah itu dia mulai menggerakkan pinggulnya. Des*han, lenguhan dan erangan disertai peluh mengiringi percintaan pertama mereka. Kenan terus menggerakkan tubuhnya sampai mereka berhasil menggapai surga dunia.
☘️☘️☘️
Zahra duduk di tepi ranjang dengan wajah cemberut. Karena Kenan yang tidak bisa menahan diri, kini dirinya kesulitan untuk berjalan disebabkan rasa perih dan linu di bagian bawahnya. Kenan yang sudah terlihat gagah dan tampan dalam balutan tuxedo, berjongkok di depan sang istri.
__ADS_1
“Masih sakit?”
“Iya.”
“Ngga bisa jalan?”
“Sakit. Kamu sih…”
“Maaf, Yang. Terus gimana? Mau aku gendong?”
“Malu.”
“Lah terus gimana? Masa kita ngga jadi mejeng? Apa kamu mau papa Sandi sama tante Elle aja yang gantiin kita?”
“Ngaco,” Zahra menepuk pelan lengan suaminya. Kenan hanya terkekeh saja. Pembicaraan keduanya terinterupsi ketika pintu kamar terbuka. Nina masuk untuk menyusul anak dan menantunya yang masih belum keluar kamar, padahal acara resepsi sebentar lagi akan dimulai.
“Ya ampun nih anak bukannya turun malah masih di sini.”
“Bentar ma, ini Zahra masih sakit.”
“Kamu sakit?” Nina menempelkan punggung tangan ke kening menantunya.
“Bukan yang itu, ma. Yang ini,” Kenan menunjuk bagian bawah sang istri membuat wajah Zahra bersemu merah.
“Sakit kenapa?”
Awalnya Nina bingung, namun tak lama kemudian dia menyadari kemana arah pembicaraan sang anak. Refleks dia memukul lengan anak bungsunya itu. Kenan meringis kesakitan seraya mengusap lengannya.
“Kamu tuh, ngga bisa nahan apa sampe malem. Udah tau mau mejeng di pelaminan. Dasar, bapak sama anak sama aja,” kelutus Nina.
“Ya gimana ma, udah kejadian. Udah dong jangan marah mulu. Kasih solusi napa.”
“Gendong Zahranya.”
“Malu ma,” celetuk Zahra.
“Malu mana, digendong Nan atau jalan ngegang?”
Zahra langsung menutup mulutnya. Matanya langsung melihat pada sang suami yang tengah menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Ayo cepet.”
Kenan berdiri kemudian membopong tubuh Zahra. Tangan Zahra berpegangan erat ke leher suaminya. Nina berjalan di belakang setelah Kenan lebih dulu keluar dari kamar. Selama di dalam lift, Kenan tak menurunkan sang istri dari gendongannya sampai akhirnya tiba di lantai dasar. Pria itu terus berjalan menuju halaman belakang resort yang telah disulap menjadi tempat resepsi.
Zahra menelusupkan wajahnya ke dada sang suami begitu mulai memasuki area tempat resepsi. Karuan saja aksi pengantin baru itu menarik perhatian semua yang ada di sana. Kenan segera menuju ke panggung pelaminan dan mendudukkan Zahra di kursi, dia pun ikut menyusul duduk di sebelahnya.
“Zahra kenapa?” tanya Abi pada Nina.
“Anakmu, mas. Sama kaya mas, ngga bisa nahan sampe malem.”
Abi terdiam sejenak, namun sedetik kemudian tawanya meledak. Kenan yang tahu penyebab sang papa tertawa, tak berani menolehkan kepala pada pria itu. Dia memilih merapihkan gaun Zahra yang sedikit berantakan.
Tepat jam tujuh malam, acara resepsi dimulai. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Teman-teman Zahra dan Kenan, rekan bisnis Abi, Darmawan dan juga rekan kerja Sandi tumpah ruah jadi satu dan bergiliran memberikan ucapan selamat. The Myth yang tidak didampingi Kenan sebagai sang vocalis, tetap tampil memberikan hiburan dengan Aric dan Ezra yang menjadi vocalis secara bergantian.
Saat pembawa acara menghentikan sejenak para undangan yang hendak memberikan ucapan selamat, Kenan memanfaatkan hal tersebut untuk turun dari panggung pelaminan lalu menuju para sahabatnya. Setelah berbincang sebentar, dia kembali ke pelaminan dengan membawa dua buah mic.
“Selamat malam semuanya. Pada kali ini ijinkan kami mempersembahkan sebuah lagu untuk kalian semua. Lagu ini merupakan gambaran keinginan akan kisah cinta kami nantinya. Musik..”
Usai Kenan memberikan sambutan singkatnya, The Myth mulai memainkan musik. Sebuah alunan nada berirama slow terdengar. Kenan dan Zahra berdiri seraya memegang mic masing-masing. Keduanya saling bertatapan dengan mesra.
“My love, there’s only you in my life. The only thing that’s right,” Kenan.
“My first love, you’re every breath that I take. You’re every step I make,” Zahra.
Keduanya lanjut menyanyikan lagu lawas milik Lionel Richie dan Diane Ross tersebut sambil berpegangan tangan dan saling menatap. Semua yang hadir ikut terhanyut mendengarkan suara merdu mereka menyanyikan bait-bait lagu bertema cinta abadi tersebut.
“Oh, and love oh, love. I'll be that fool for you I'm sure. You know I don't mind. Oh, you know I don't mind. And, yes. You'll be the only one. 'Cause no one can deny. This love I have inside. And I'll give it all to you. My love, my love, my love. My endless love.”
Kenan dan Zahra mengakhiri duet apik mereka. Sebuah kecupan diberikan Kenan ke kening Zahra dan seiring dengan itu gemuruh tepuk tangan terdengar. Kenan memberikan mic pada pembawa acara kemudian kembali duduk di pelaminan. Para tamu undangan yang hendak memberikan ucapan selamat dipersilahkan kembali.
Usai mengingi pasangan pengantin bernyanyi, Haikal segera menuju meja yang menyediakan minuman untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Tinggal beberapa meter lagi dia sampai ke tempat yang dituju, tiba-tiba tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seseorang hingga membuat clutch bag di tangan gadis itu terjatuh.
BLUK
☘️☘️☘️
__ADS_1
Hai²... Maaf ya rencana tamat tinggal satu episode terakhir, ternyata oh ternyata melebihi 3000 kata dan harus dipenggal jadi dua bagian.
Aku ngga mau banyak komen, masih melow menjelang akhir KPA🤧